curcumin, endometriosis progresivity, cyclooxygenase2, prostaglandin e2, matrixmetalloproteinase 9
Correspondence: Jimmy Yanuar Annas, Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD
Dr Soetomo, Jl. Mayjen Prof dr Moestopo 6-8, Surabaya 60286, email:
[email protected]
PENDAHULUAN
Annas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis
119
Endometriosis adalah didapatkannya jaringan epitel
maupun stroma diluar rongga uterus dan menimbulkan
reaksi inflamasi kronis. Keluhan terbanyak endometriosis
diantaranya adalah nyeri panggul kronis, baik berupa
dysmenorhea maupun dyspareunia. Angka kejadian
endometriosis pada remaja dengan dysmenorhea cukup
tinggi, yakni 50 –80%. Endometriosis merupakan
penyakit yang progresif dan angka kekambuhannya tinggi
sehingga memerlu kan pengobatan jangka panjang. 1
Terapi endometriosis saat ini masih bersifat simptomatis
yang bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri.
Pemberian terapi hormonal seperti progestin, pil
kontrasepsi kombinasi, GnRH agonis dan Aromatase
inhibitor dapat mengurangi keluhan nyeri dan
progresivitas endometriosis. Na mun Obat tersebut
memiliki efek samping yang merugikan bila digunakan
dalam jangka panjang, selain itu pemberian obat
hormonal dapat menekan ovulasi sehingga sulit
digunakan bersamaan dengan penanganan infertilitas.1,2,3
Kurkumin merupakan pengobatan he rbal yang
mempunyai sifat anti inflamasi dan anti oksidan.
Kurkumin merupakan ekstrak curcuma longa yang
mempunyai khasiat anti Nuclear Factor Kappa B (NFkB)
yang telah banyak diamati khasiatnya untuk terapi
endometriosis.4 Kurkumin dengan dosis 240 mg/Kg BB
dapat menekan progresivitas endometriosis serta luas
implan lesi endometriosis di endometrium.5,6 Keuntungan
dari kurkumin ini adalah efek samping yang rendah serta
rentang dosis yang luas sehingga aman digunakan dalam
jangka panjang. 2,4 Selain itu kurk umin tidak menekan
ovulasi sehingga dapat digunakan bersama obat stiulasi
pada penanganan wanita endometriosis dan infertilitas.
Rustam E 2007 mendapatkan bahwa khasiat anti
inflamasi kurkumin pada mencit coba semakin meningkat
dari dosis 100mg/kg BB, 500mg/Kg BB dan 1000mg/ Kg
BB, serta tidak ditemukan efek samping. Belum ada data
berapa dosis kurkumin yang optimal yang dapat menekan
progresivitas endometriosis.
Endometriosis merupakan penyakit yang progresif dan
angka kekambuhannya tinggi, penyebabnya masih belum
jelas. Cairan peritoneum wanita endometriosis kaya akan
sitokin proinflamasi seperti TNFα mendukung
progresivitas endometriosis. Sarjana Wu dkk 2010
mendapatkan bahwa pada sel endometrium ektopik di lesi
endometriosis didapatkan peningkatan aktivitas
Cyclooxygenase-2 (COX-2) dan mengakibatkan ekspresi
Prostaglandin E2 tinggi. Peningkatan PGE2 ini dapat
memberikan umpan balik positif pada aktivitas NFkB
yang merupakan faktor transkripsi sitokin proinflamasi
dan Matrix Metalloproteinase terutama Matrix
metalloproteinase 9 (MMP -9) yang sangat berperan
terhadap implantasi sel endometrium ektopik di
peritoneum.4,7,8 Bulun E dkk 2009 mengatakan bahwa
PGE2 ini juga dapat menstimulasi aktivitas aromatisasi di
lesi endometriosis peritoneum sehingga terjadi
peningkatan kadar Estrogen lokal yang semakin
mendukung progresivitas endometriosis. Oleh karena itu
PGE2 dan MMP-9 ini diduga dapat menjadi target terapi
endometriosis dimasa depan. 7,9 Kami menduga bahwa
pemberian kurkumin dengan dosis 240mg/kg BB, 500
mg/kg BB dan 1000 mg/kg BB dapat memberikan khasiat
yang semakin baik dalam menekan ekspresi PGE2,
MMP-9 dan luas implan lesi endometriosis di peritoneum
mencit coba.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium
pada mencit coba dengan randomisasi secara buta
berganda. Hewan coba yang digunakan pada penelitian
ini adalah mus musculus. Penelitian ini dilakukan pada
bulan November 2012 hingga Januari 2013 di Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Kriteria
inklusi penelitian ini adalah mencit betina berusia 3 bulan
berat 30 gr, belum pernah kawin dan belum pernah
digunakan untuk penelitian. Kriteria eksklusi
diantara-nya mencit betina cacat
Mencit betina usia 3 bulan dengan berat 30g yang telah
diadaptasikan selama 1 minggu kemudian di induksi agar
terjadi endometriosis di peritoneum dengan cara:injeksi
siklosporin A 0,2cc secara intra muskuler pada hari 1,
injeksi ethynil estradiol 20.000 IU sebanyak 0,095cc pada
hari ke 1 dan 5, Hasil biopsi kerokan endometrium wanita
yang menjalani histerektomi di haluskan, ditambahkan
penicilin dan streptomicin kemudian diinjeksikan
sebanyak 0,1cc ke intraperitoneal. Mencit kemudian
dibagi menjadi 5 kelompok yaitu mencit A adalah mencit
yang mendapatkan plasebo selama 14 hari, mencit B
adalah mencit yang mendapat suplementasi kurkumin
dosis 240 mg/kg BB selama 14 hari, mencit C adalah
mencit yang mendapat suplementasi kurkumin dosis 500
mg/kg BB selama 14 hari, Mencit D adalah mencit yang
mendapat suplementasi kurkumin 1000 mg/kg BB selama
14 hari.
Mencit dikorbankan dengan cara dislokasio servikalis,
kemudian dilakukan pembedahan di perut untuk
melakukan evaluasi luas implan endometri os di
peritoneum dan pengecatan imunohistokimia untuk
evaluasi ekspresi PGE2 dan MMP -9. Gambaran
endometriosis diketahui dengan melihat adanya stroma
maupun jaringan endometrium pada pemeriksaan
mikroskop dengan pengecatan Hematoksilin Eosin (HE).
Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125
120
Pemeriksaan Ekspresi PGE2 dan MMP -9 dilihat dari
biopsi lesi yang paling hiperemi kemudian dievaluasi
dengan metoda Kaemmer dkk 2012 yakni melihat
prosentase perlapangan pada pemeriksaan mikroskop
pembesaran 400x kemudian dinilai dengan skor.
kemudian dinilai skor , 0 bila tidak da sel positif, 1 bila
luas 80%. Intensitas warna (B) dinilai 0 bila tidak ada reaksi
warna, 1 bila intensitas warna rendah, 2 intensitas warna
sedang, 3 intensitas warna kuat. Lalu Skala
Immunoreactive Score dihitung dengan AxB. Untuk
melihat normalitas data digunakan uji Kolmogorov
Smirnov. Bila data berdistribusi normal dilanjutkan
dengna uji Anova dan uji korelasi pearson. Bila data tidak
berdistribusi normal akan dilanjutkan dengan uji Mann
Whitney, Uji Kruskal wallis dan uji korelasi spearman.
Penelitian ini menggunakan tingkat kemaknaan sebesar
0,05.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di kandang
hewan coba dan Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya,
dengan sampel/mencit model endometriosis yang dapat
diolah sebagai data yang telah memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi hingga akhir penelitian adalah 28 ekor
mencit. Mencit model endometriosis tersebut terbagi
dalam 4 perlakuan yang terdiri dari : Mencit A (n=7),
Mencit B (n=7), Mencit C (n=7) serta Mencit D (n=7). 2
ekor mencit kami korbankan pada hari ke 13 untuk
membuktikan adanya pertumbuhan endometriosis
sebelum perlakuan, dan ternyata didapatkan pertumbuhan
endometriosis pada mencit tersebut. Hasil Uji
Kolmogorov Smirnov didapatkan bahwa variabel berat
hepar, berat ginjal, ekspresi MMP9 dan luas implan
endometriosis didapatkan nilai kemaknaan p > 0,005
yang artinya distribusinya normal sehingga uji
statistiknya menggunakan uji anova, sedangkan variabel
berat mencit, endometriosis dan ekspresi PGE2
didapatkan nilai kemaknaan P<0,005 yang artinya
distribusi tidak normal sehingga menggunakan uji
Kruskal Wallis.
Mencit model endometriosis
Pengecatan He matoxilin Eosin (HE) pada biopsi
peritonuem yang didapatkan kejadian endometriosis pada
Mencit A 7 ekor (100%), kemudian menurun pada Mencit
B 3 ekor (42,8%), Mencit C 2 ekor (28,5%) dan Mencit
D 1 ekor (1,4%) dan secara statistik perbedaan tersebut
signifikan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Peneliti memilih menggunakan metoda hewan coba
mencit model endometriosis heterolog. Keuntungan
hewan coba model heterolog adalah kita menggunakan
jaringan kerokan endometrium manusia, sehingga
struktur histopa tologis dan interaksi dengan sel
imunitasnya diharapkan menyerupai lesi endometriosis
yang sebenarnya. Selain itu, metoda heterolog ini lebih
efisien dari segi biaya. Hasil pada penelitian ini sesuai
dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan
metoda ser upa.5,10 Selain angka kejadian yang tinggi,
struktur histologis endometrium masih dapat
dipertahankan dengan baik. Metoda ini hampir sama
efektifnya seperti metoda Severe Combined
Immunodeficiency (SCID).11 Pemberian Siklosporin A
jangka pendek mampu menekan proliferasi dan aktivitas
sel Limfosit T, B dan Sel NK sehingga berinteraksi
dengan jaringan endometrium mirip seperti yang terjadi
pada lesi endometriosis manusia. Oleh karena lesi ini
disebut endometriosis-like lession . Pemberian
suplementasi kurkumin berbagai dosis ternyata dapat
memberikan respon penurunan kejadian endometriosis
pada mencit secara dose dependent. Hal ini kemungkinan
disebabkan karena kurkumin memiliki efek anti inflamasi
dan anti oksidan sehingga mampu menekan aktivitas
NFkB di perit oneum mencit model endometriosis, dan
efek
tersebut meningkat sesuai dosis kurkumin .4,6,5,12
Annas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis
121
Gambar 1. Kelenjar endometrium pada
dinding peritoneum mencit, disebut sebagai Endometriosis like lession Perbandingan khasiat berbagai dosis
kurkumin terhadap progresivitas endometriosis
Tabel 1. Perbandingan ekspresi PGE2 antar kelompok perlakuan
n Rata-rata Mean Rank Nilai Nilai Kemaknaan
Minimum Maksimum
Mencit A 7 5,14±1,95 20,36 4 8 0,003
Mencit D 7
2±0,58 6 1
3
Tabel 2. Perbandingan Ekspresi MMP-9 antar kelompok perlakuan
n Rata-rata Mean Nilai Nilai Kemaknaan
rank Minimum Maksimum
Mencit A 7 3,71±1,89 21,36 1 6 0,034
Mencit D 7
1,28±0,49 10,86
1 2
Tabel 3. Perbandingan luas implan endometriosis antar kelompok perlakukan
n Rata-rata Nilai Nilai Kemaknaan
(mm2) Minimum Maksimum
Mencit A 7 348,43±185,01 123 545 <0,0001
Mencit D 7
31,71±7,02 24 41
Tabel 4. Perbandingan kemaknaan luas implan
endometriosis antar kelompok perlakukan
(Tabel Tamhene)
Kelomopok
perlakuan
Kelompok
Pembanding
Perbedaan
rata rata
Kemaknaan
Mencit B 7 4,28±1,38 18 2 6
Mencit C 7 3,43±1,62 13,64 1 6
Mencit B 7 2,25±1,97 14,43 1 6
Mencit C 7 1,43±0,78 11,36 1 3
Mencit B 7 140,14±75,59 71 240
Mencit C 7 79,43±26,98 40 107
Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125
122
Mencit A Mencit B
Mencit C
Mencit D
208,29
269*
316*
0,141
0,048
0,024
Mencit B Mencit A
Mencit C
MencitD
208,29
60,71
108,43
0,141
0,404
0,052
Mencit C Mencit A 269* 0,048
Mencit B 60,71 0,404
Mencit D 0,017
(*= bermakna)
Lesi pada peritoneum yang telah terbukti endometriosis
like lession secara histopatologis kemudian dilakukan
pengecatan imunohistokimia untuk melihat ekspresi
PGE2 dan MMP -9 dan dihitung luas implan
endometriosis pada masing masing kelompok.
Rata-rata ek spresi PGE2 didapatkan perbedaan yang
menurun dari Mencit A, Mencit B, Mencit C dan Mencit
D dan setelah di uji statistik Kruskal Walis didapatkan
kemaknaan p<0,05 yang artinya signifikan. Mean rank
ekspresi PGE2 pada mencit D adalah yang paling tinggi
dibanding Mencit C, B dan A. Pada Mencit A didapatkan
skor intensitas ekspresi PGE2 yang kuat, Mencit B
menunjukkan skor yang sedang, mencit C menunjukan
skor yang ringan dan mencit D tak nampak sel
imunoreaktif (negatif). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Mencit A menunjukkan skor intensitas dan rerata ekspresi
PGE2 yang paling tinggi dibanding kelompok
perlakukan, hal ini sesuai dengan yang dikatakan Wu dkk
2010 bahwa lesi endometriosis di peritoneum memiliki
aktivitas COX2 yang tinggi. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh sitokin proinflamasi yang dikeluarkan
makrofag yang dapat menstimulasi COX2, namun selain
itu lesi endometriosis didapatkan ekspresi gen cox2 yang
tinggi sehingga lebih peka terhadap rangsangan.
Kurkumin yang mempunyai khasiat anti inflama si dan
anti NFkB mampu menekan pertumbuhan lesi
endometriosis di peritonium mencit model endometriosis.
Efek penekanan ini dicapai salah satunya melalui supresi
aktivitas NFkB di lesi endometriosis, kurkumin
menghambat aktivasi IkB kinase sehingga NFkB tet ap
dalam kondisi inaktif. Dengan khasiat anti NFkB ini maka
secara tidak langsung dapat menghambat peningkatan
protein lain yang berada dalam pengaruh ( downstream)
dari protein faktor transkripsi NFkB tersebut diantaranya
COX2, sitokin proinflamasi
dan MMP-9.13,14,15,16
Selain jalur penekanan melalui NFkB, kurkumin juga
menekan ekspresi PGE2 secara langsung melalui
penekanan COX2 pada tingkat molekuler yakni dengan
meregulasi COX2 dan LOX. COX2 adalah enzim yang
merubah asam arakhidonat menjadi Pr ostaglandin H2
yang merupakan protein inaktif yang siap dirubah
menjadi PGE2 (protein aktif), dengan dihambatnya
COX2 oleh kurkumin maka PGE2 akan menurun pula.
Demikian pula efek kurkumin terhadap 5 -LOX yang
merupaka enzim yang mengkatalisasi terbentuknya
Leukotrines (LT) yang sangat berperan terhadap
inflamasi. Respon khasiat kurkumin terhadap NFkB,
COX2 dan LOX ini ternyata meningkat sesuai
dosis.13,14,15,17 Hal ini terbukti pula pada penelitian ini,
seperti yang tampak pada Mencit B, C dan D, didapatkan
ekspresi PGE2 menurun secara signifikan sejalan dengan
meningkatnya dosis kurkumin. Dengan PGE2 yang
menurun diharapkan dapat menekan pula lingkar umpan
balik positif dengan sitokin proinflamasi dan aktivitas
aromatase sehingga dapat efektif menekan progr esifitas
endometriosis.
Rata-rata ekspresi MMP -9 didapatkan perbedaan yang
semakin menurun dari MencitA, B, C,D dan setelah di uji
secara statistik Kruskal Walis didapatkan kemaknaan
p<0,05 yang artinya signifikan. Mean rank ekspresi
MMP-9 pada Mencit D adalah yang paling tinggi
dibanding MencitC, B dan A. Pada Mencit A didapatkan
skor intensitas ekspresi PGE2 yang kuat, Mencit B
menunjukkan skor yang sedang, Mencit C menunjukan
skor yang ringan dan Mencit D tak nampak sel
imunoreaktif (negatif). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan
dosis kurkumin mampu menekan ekspresi MMP -9 yang
berfungsi untuk degradasi Ekstraseluler Matrix (ECM)
sehingga memudahkan sel endometrium ekotpik
melakukan implanasi di peri toneum model endo -
metriosis. Hal serupa juga didapatkan pada pengamatan
lesi endometriosis pada mencit model endometriosis yang
dilakukan oleh Swarnakar S dkk 2009, MMP -9 semakin
menurun sejalan dengan ditingkatkannya dosis kurkumin
yang diberikan secara intraperitoneal.
Aktivitas MMP -9 ini dipengaruhi oleh TIMP -1 dimana
pada lesi endometriosis peritoneum meningkat dibanding
sel endometrium eutopik. Peningkatan MMP -9 tersebut
memudahkan sel endometrium ektopi untuk berimplanasi
di peritoneum, hal ini bel um diketahui sebabnya.
Kurkumin menekan MMP -9 secara tidak langsung
melalui penekanan COX2, NFkB, sitokin
proinflamasi serta peningkatan TIMP-1.4,8
Mencit D Mencit A
Mencit B
Mencit C
108,43
41,71*
0,024
0,052
0,017
Annas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis
123
Rata-rata luas implan lesi endometriosis di peritoneum
didapatkan perbedaan yang semakin menurun dari Mencit
A, B, C dan D dan setelah di uji statistik Anova
didapatkan kemaknaan p<0,05 yang artinya signifikan.
Kemudian kami melakukan uji Post Hoc untuk
mengetahui suplementasi kurkumin dosis mana yang
mempunyai dampak penurunan yang paling efektif.
Sebelumnya, terlebih dahulu kami lakukan test
homogeneity of variances , ternyata didapatkan
kemaknaan <0,0001 artinya variabel tidak homogen,
sehingga pada uji Post Hoc menggunakan tabel dari
Tamhene. Dari tabel 4 didapatkan perbedaan kemaknaan
luas implan lesi end ometriosis di peritonium yang
semakin meningkat pada kelompok perlakuan,
kemaknaan antara Mencit A dengan Mencit D dalah yang
paling besar dibanding kemaknaan kelompok lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Mencit D atau dosis
kurkumin 1000 mg/kgBB memiliki da mpak yang paling
tinggi pada progresivitas endometriosis. Hal ini dapat
dilihat pada Tabel 3.
Penurunan luas implan lesi endometriosis ini sejalan
dengan peningkatan dosis kurkumin. Hal ini sesuai
dengan yang didapatkan oleh Rustam E 2007 yang
mengamati khasiat berbagai dosis kurkumin terhadap
edema pada tungkai tikus, dengan semakin tinggi dosis
kurkumin hingga 1000 mg/KgBB dapat menekan
pembentukan edema pada penelitian tersebut tanpa
menunjukkan adanya efek samping. Penurunan luas
implan endometriosis di peritoneum ini kemungkinan
disebabkan oleh dampak dari menurunnya ekspresi PGE2
dan MMP-9. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Tampak simpang baku standar dan nilai maksimum dan
minimum dari luas implan lesi endometriosis yang
tumpang tindih antar k elompok perlakuan dan kontrol.
Hal ini kemungkinan dikarenakan metoda untuk
mengukur luas implan lesi endometriosis di peritoneum
mencit model endometriosis ini menggunakan cara
manual yaitu dengan kertas skala. Belum ada metoda
yang tepat untuk mengukur l uas implan endometriosis
secara teliti. Kelemahan lain dari penelitian ini adalah
distribusi berat mencit saat mulai penelitian tidak normal
sehingga saat dilakukan uji normalitas didapatkan
perbedaan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan
karena cadangan mencit pada saat itu yang terbatas. Hal
ini dapat dilihat pada Tabel 3. Pada tabel 1,2 dan 3
didapatkan penurunan eskpresi PGE2, MMP -9 dan luas
implan lesi endometriosis yang sejalan dengan
peningkatan dosis kurkumin. Namun apakah penurunan
ekspresi PGE2 mempunyai pengaruh terhadap penurunan
ekspresi MMP-9 dan luas implan lesi endometriosis pada
mencit model endometriosis ini? Pada penelitian ini kami
melakukan uji korelasi spearman untuk mengetahui
pengaruh penurunan PGE2 dan MMP -9 terhadap
penurunan lua s implan endo -metriosis di peritoneum
mencit model endometriosis ini. Hal ini dapat dilihat pada
Tabel 5.
Adanya korelasi positif yang bermakna (p<0,05) antara
PGE2–MMP9, PGE2 –luas implan endometriosis dan
MMP9- Luas implan endometriosis, dengan keoefis ien
korelasi secara berturut turut, 0,532, 0, 561 dan 0,735.
Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.
Melalui uji korelasi Spearman kami dapatkan korelasi
positif antara PGE2 dan luas implan lesi endometriosis
yang bermakna secara statistic (r=0.532), ini a rtinya
perubahan PGE2 mempengaruhi perubahan pada luas
implan lesi endometriosis. Sarjana Wu dkk 2010
mengatakan bahwa aktivitas COX2 dan ekspresi PGE2
yang tinggi ini mempunyai dampak yang luas terhadap
progresivitas endometriosis. PGE2 yang dihasilkan ol eh
lesi endometriosis ini dapat menekan aktivitas scavenger
dari makrofag peritoneum melalui penekanan CD36 di
makrofag, akibatnya imunitas tubuh tidak mampu
mengeliminasi sel endometrium ektopik di peritoneum.
PGE2 juga mampu mempengaruhi aktivitas aromat ase
melalui steroidogenic factor 1 (sf-1) yang akhirnya terjadi
peningkatan estrogen lokal yang mampu mendukung
proliferasi dan survivablitiy dari sel endometrium
ektopik. (Bulun SE 2009)1,7,18,19
MMP-9 berperan dalam metastasis sel kanker, ternyata
pada endometriosis ekspresi MMP-9 ini juga tinggi. Pada
penelitian ini kami dapatkan korelasi positif yang
bermakna (r=0.735) antara penurunan ekspresi PGE2
dengan penurunan ekspresi MMP -9 pada lesi
endometriosis diperitonium. Ini arti nya COX2
mempengaruhi perubahan luas implan lesi endometriosis
salah satunya melalui jalur MMP-9, hal ini sesuai dengan
yang didapatkan oleh sarjana Itatsu K 2009 yang
mempelajari pengaruh COX2 terhadap MMP -9 pada
proses metastase cholangiocarcinoma, didug a COX2
melalui PGE2 meningkatkan MMP -9 melalui reseptor
EP2/4. NFkB yang teraktivasi terus menerus oleh sitokin
proinflamasi juga turut berperan dalam peningkatan
MMP-9.16,20
Dari tabel 5 juga tampak bahwa ternyata MMP -9 juga
mempunyai korel asi yang positif terhadap luas implan
Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125
124
28
,3±0,
1
4
lesi endometriosis. Hal ini mendukung bahwa MMP -9
ikut bertanggung jawab atas implantasi sel endometrium
ektopik di peritoneum. Collete T dkk 2007 mendapatkan
bahwa MMP -9 memang lazim didapatkan pada sel
endometrium eu topik wanita normal namun pada sel
endometrium ektopik wanita penderita endometriosis
ekspresi MMP -9 ini tinggi secara terus menerus tanpa
dipengaruhi siklus haid. Ada beberapa kemungkinan,
yang pertama kemungkinan ada pengaruh dari defisiensi
17β-hydroxysteroid dehydrogenase 2 pada endometriosis
sehingga terjadi konversi estradiol menjadi estrone
terganggu atau kemungkinan ke dua ada pengaruh dari
lingkungan peritoneum yang kaya akan sitokin
proinflamasi.1,8,18 Yang menarik dari penelitian ini adalah
koefisien korelasi ekspresi PGE2 dan luas implan lesi
endometriosis lebih besar dibanding koefisien korelasi
ekspresi MMP-9 dan luas implan lesi endometriosis, ini
berarti PGE2 lebih berpengaruh terhadap luas implan lesi
endometriosis dibanding MMP -9. Kemungkinan hal ini
dikarenakan PGE2 selain mempengaruhi luas implan lesi
endometriosis melalui MMP -9, juga dapat melalui
penekanan kemampuan scavenger makrofag peritoneum
sehingga sel endometrium semakin banyak makrofag
yang teraktivasi yang pada akhirnya justru m endukung
kelangsungan
endometriosis di peritoneum.1,19
Lingkungan cairan peritoneium yang tinggi akan sitokin
proinflamasi merupakan kondisi yang optimal bagi
pertumbuhan lesi endometriosis. Pada penelitian ini
membuktikan bahwa PGE2 mempunyai peran ya ng
cukup besar dalam progresivitas endometriosis dan
dengan pemberian kurkumin sebagai anti inflamasi dan
anti NFkB mampu menekan PGE2 yang diikuti dengan
penurunan MMP -9 dan luas implan lesi endometriosis.
Melihat peran PGE2 yang cukup besar pada patogene sis
endometriosis maka dapat digunakan sebagai target terapi
untuk menekan progresivitas endometriosis.1,7
Tabel 5. Kemaknaan dan koefisien korelasi PGE2,
MMP-9 dan luas implan endometriosis
Variabel Kemaknaan
(p)
Koefisian
korelasi (r)
PGE2 dan MMP-9 0,004 0,532
MMP9 dan Luas implan
endometriosis
0,002 0,561
PGE2 dan luas implan
endometriosis
<0,0001 0,735
Perbandingan efek samping pada mencit yang
diberi suplementasi berbagai dosis kurkumin
Kami melakukan pengamatan terhadap berat ginjal dan
hepar untuk evaluasi efek samping pemberian
suplementasi berbagai dosis kurkumin pada mencit model
endometriosis. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 6.
Setelah dilakukan uji statistik pada perbandingan b erat
hepar dan ginjal antar kelompok dosis kurkumin ternyata
tidak didapatkan perbedaan bermakna antar kelompok
dosis kurkumin dengan tingkat kemaknaan 0,55 dan
0,326. Hal ini menujukkan bahwa ditemukan efek
samping yang berbahaya antar kelompok perlakuan.
Swarnakar S dkk 2009 mendapatkan penurunan MMP -9
pada peritoneum mencit model endometriosis sejalan
dengan meningkatnya dosis kurkumin dari 16 mg/kg, 32
mg/kg dan 48 mg/kg yang diberikan secara
intraperitoneal. Rustam E dkk 2007 mendapatkan
perbaikan klinis yang sejalan ditingkatkannya dosis
kurkumin dari 100 mg/kg bb, 250 mg/kg bb, 500mg/kg
bb dan 1000 mg/kg bb tanpa ditemukan efek samping.
Dari data penelitian kami yang juga didukung oleh
penelitian lainnya, ternyata khasiat kurkumin ini sangat
tergantung dengan dosisnya ( dose dependent ). Selain
dipengaruhi dosis, bioaktivitas kurkumin juga
dipengaruhi oleh jenis kurkumin yang digunakan,
curcumin mix yang merupakan gabungan dari Cur, DMC
dan BDMC yan g masing -masing mempunyai efek anti
inflamasi mampu
bersinergi meningkatkan khasiatnya.21,22
Food and Drug Administration atau FDA telah
menyatakan bahwa kurkumin merupakan obat alternatif
yang cukup aman baik bagi hewan coba maupun manusia.
National T oxicity Program (NTP) melakukan
pengamatan terhadap efek samping kurkumin pada
hewan coba yang diberi makan kurkumin dengan
berbagai dosis mulai dari 50 mg/kgbb hingga
2600mg/kgbb selama 13 minggu atau 2 tahun ternyata
tidak didapatkan kematian yang diseba bkan oleh
pemberian kurkumin. Efek samping yang didapatkan
biasanya berupa peningkatan berat hepar, ginjal, dan
perubahan warna feses dan bulu.21,22 Pada penelitian kami
tidak ditemukan adanya perubahan berat hepar, ginjal dan
Tabel 6. Perbandingan berat hepar dan ginjal antar kelompok perlakukan
n Mencit A Mencit B Mencit C Mencit D Kemaknaan
Ginjal(gr) 28 0,2±0,13 0,19±0,021 0,19±0,035 0,16±0,21 0,55
Hepar(gr) 1,54±0,23 1,57±0,21 1,51±0,28 0,326
Annas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis
125
perubahan warna. Hal ini kemungkinan karena pemberian
kurkumin hanya selama 14 hari atau 2 minggu saja.
SIMPULAN
Pada penelitian ini kami dapatkan perbedaan ekspresi
PGE2, ekspresi MMP -9 dan luas implan endometriosis
yang semakin rendah pada mencit model endometriosis
yang mendapa t plasebo, suplementasi kurkumin dosis
240 mg/kg BB, 500 mg/kg BB, dan 1000 mg/kg BB.
Didapatkan korelasi positif yang bermakna antara
ekspresi PGE2, ekspresi MMP -9 dan luas implan
endometriosis diperitoneum. Pemberiam suplementasi
kurkumin dosis 240 mg/kg BB, 500 mg/kg BB dan 1000
mg/kg BB selama 14 hari tidak ditemukan perbedaan efek
samping yang bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
1. Speroff L, Fritz MA. Endometriosis, Clinical
gynecology and infertility. 8th Eds. 2011. p. 122247.
2. Vigano P, Parazzini F, Somigliana E, Vercellini P.
Endometriosis: epidomiology & aetiological factors.
Best practices & research clinical obstetrics &
Ginecology. 2004;18(2):177-200.
3. Surrey ES. Medical therapy for endometriosis: an
overview in Toladi T ad vances and controversy of
endometriosis. Marcel Dekker inc. 2004. p. 167-81.
4. Swarnakar S, Paul S. Curcumin arrests endometriosis
by downregulation of Matrix Metalloproteinase 9
activity. Indian journal of biochemistry &
Biophysics. 2009;46:59-65.
5. Saadi A , Hendarto H. Perbandingan khasiat
kurkumin dengan medroxy progesteron acetate
(MPA) terhadap ekpresi VEGF dan luas implan
endometriosis (studi eksperimental mencit model
endometriosis). 2010.
6. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi,
Widjiati. Pengaru h curcumin terhadap ekspresi
VEGF dan luas implan endometriosis. Penelitian
Dept/SMF Kebidanan dan penyakit kandungan FK
Unair, RSUD Dr Soetomo Surabaya. 2009.
7. Wu M, Lu C, Chuang P, Tsai S. Prostaglandin E2:
The master of endometriosis? Experimental Biology
and Medicine. 2010;235:668-77.
8. Collete T, Maheux R, Mailloux J, Akoum A.
Increased expression of matrix Metalloproteinase -9
in the eutopic endometrial tissue of women with
endometriosis. Human reproduction. 2006;21(12):
3059-67.
9. Bulun SE MD. Mechanisme of Endometriosis. The
New England Journal of Medicine. 2009;360:26879.
10. Vika SP, Hendarto H, Suhartono DS. Pengaruh
pemberian siklosporin A sebagai penurun jumlah
limfosit serum terhadap terjadinya implant
endometriosis pada mencit. Penelitian Dept/SMF
Kebidanan dan kandungan FK Unair RSUD Dr
Soetomo Surabaya. 2006.
11. Grummer R. Animal Model in Endometriosis
Research. Human reproduction. 2006;12(5):641-49.
12. Rustam E, Atmasari I, Yanwirasti. Efek anti
inflamasi ekstrak etanol kunyit (Curcuma domestica
val) pada tikus putih galur wistar. Jurnal sains dan
teknologi farmasi. 2007;12(2):112-5.
13. Shishodia S, Singh T, Chaturvedi MM. Modulation
of transcription factor by curcumin in The molecular
targets and therapeutic uses of curcumin in health
and disease. Springer. 2006:127-47.
14. Menon S. Anti oxidant and anti inflamatory
properties of Curcumin in The molecular targets and
therapeutic uses of curcumin in health and disease.
Springer. 2006:127-147.
15. Rao C. Regulation of COX and LOX by curcumin in
The molecular t argets and therapeutic uses of
curcumin in health and disease. Springer. 2006:127 -
47.
16. Gonzales R, Langendonckt AV, Defrere S, Lousse
JP, Colette S, Devoto L, Donnez J. Involvement of
Nuclear factor kB pathway in the pathogenesis of
endometriosis. Fertility sterility. 2010;5:34-45.
17. Murakami M, Nakatani Y, Tanioka T, Kudo I.
Prostaglandin E Synthase. Prostaglandin & Other
lipid mediators. 2002;8(69):383-99.
18. Bulun SE, Utsonomiya H, Lin Z, Cheng Y, Pavone
ME, Tokunaga H, Elena T, Attar E, Gurates B, Milad
MP, Confino E, Su E, Reiestard S, Xue Q.
Steroidogenic Factor -1 and Endometriosis.
Molecular and Cellular Endocrinology. 2009:104-8.
19. Taylor RN, Lebovic I. Endometriosis in Yen &
Jaffe's Reproduc tive endocrinology: Physiology,
patophysiology and clinical management. Sixth
edition. Saunders. 2009. p. 577-95.
20. Itatsu K, Sasaki M, Yamaguchi J, Ohira S, Ishikawa
A, Ikeda H, Sato Y, Harada K, Zen Y, Sato H, Ohta
T, Nagino M, Nimura Y, Nakanuma Y.
Cyclooxygenase 2 is Involved in the up regulation of
matrix metalloproteinase 9 in Cholangiocarcinoma
induced by Tumor Necrosis Factor Alpha. The
American Journal of pathology. 2009;174(3):829-41.
21. Sandur SK, Pandey MK, Sung B, Ahn KS,
Murakami A, Sethi G, Limt rakul P, Badmaev V,
Aggarwal B. Curcumin Demethoxycurcumin,
Bisdemethoxycurcumin, Tetrahydrocurcumin and
turmerones differentially regulate anti inflamatory
and anti proliferative response through a ROS
independent mechanism. Carcinogenesis. 2007;28
(8):1765-73.
Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125
126
22. Aggarwal BB, Harikumar KB. Potential therapeutic
effect of curcumin, the anti inflammatory agent,
against neurodegenerative, cardiovascular,
pulmonary, metabolic, autoimmune and neoplastic
disease. The International Journal of Biochemistry &
Cell Biology. 2009;41:40-56.