curcumin, endometriosis, oocyte maturation, fertilization result
Correspondence: Hendy Hendarto, Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, RSUD Dr.
Soetomo, Jl Mayjen Prof Moestopo 6-8, Surabaya 60268, email :
[email protected].
PENDAHULUAN
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang
sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi dengan
memberikan keluhan nyeri dan infertilitas sehingga
menyebabkan penurunan kualitas hidup. Endometriosis
ditandai dengan adanya jaring an seperti endometrium
berada diluar kavum uteri yang akan menginduksi
reaksi inflamasi kronis .1 Walaupun patogenesis masih
diperdebatkan terutama pada stadium minimal dan
ringan, endometriosis akan menyebabkan infertilitas
yang sulit diatasi. Hal ini terb ukti pada penelitian
Barnhart yang mendapatkan bahwa angka kehamilan
dengan fertilisasi in vitro pada pasien endometriosi
Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 2 Mei - Agustus 2014 : 53-57
54
lebih rendah dibandingkan dengan pasien infertilitas
karena faktor tuba. Pada penelitian tersebut didapatkan
juga bahwa angka fertilis asi, angka implantasi dan
jumlah oosit yang didapat pada pasien endometriosis
saat fertilsasi in vit ro lebih rendah secara bermakn a.2,3
Penatalaksanaan endometriosis dapat dilakukan melalui
beberapa cara, yatu terapi medisinalis, bedah, dan
Medically Assis ted Reproduction, yang dapat berupa
inseminasi intra uteri atau fertilisasi in vitro .4,5 Hughes
dkk menyimpulkan bahwa terapi medisinalis dengan
menggunakan obat hormon misal pil kontrasepsi,
Danzol dan GnRH agonist untuk supresi ovarium pada
pasien endome triosis dengan infertilitas ternyata tidak
efektif.6 Disamping tidak efektif, terapi medisinalis
dengan obat hormon membuat suasana hipoestrogen dan
tidak terjadi ovulasi. Suasana hipoestrogen
menyebabkan pemberian terapi medisinalis menjadi
sangat terbata s karena supresi ovarium jangka panjang
akan mengurangi masa tulang hingga berisiko terjadi
osteoporosis.7 Karena itu mendapatkan strategi alternatif
terapi medisinalis yang ideal untuk endometriosis perlu
dipikirkan.
Curcumin, kandungan penting dari curc uminoid suatu
herbal turmeric, mempunyai sejarah panjang sebagai
obat tradional yang mempunyai potensi anti proliferasi,
anti inflamasi dan anti oksidan .8 Terdapat sedikit data
tentang penggunaan Curcumin untuk menekan
perkembangan penyakit endometriosis, salah satu
adalah Swarnakar dan Paul melaporkan khasiat anti
endometriosis pada Curcumin melalui jalur MMP -9,
sedangkan Jana mendapatkan Curcumin dosis 48 mg/kg
bb akan menekan aktivitas MMP -2 melalui peningkatan
ekspresi TIMP-2.9,10
Pada penelitian kami sebelumnya telah dibuktikan
bahwa curcumin mampu memeperbaiki folikulogenesis
abnormal pada mencit model endometriosis melalui
perubahan ekspresi Growth Differentiation Factor -9
(GDF-9) dan KitLigand ,11 namun sampai saat ini
khasiat Curcumin pada oosit dan hasil fertilisasi masih
belum ada. Tujuan dari penelitian ini adalah
mempelajari pengaruh suplementasi kurkumin terhadap
maturasi oosit yang meliputi bentuk Germinal Vesicle
(GV), Germinal Vesicle Break Down (GVBD),
Metaphase-1 dan Metaphse -2 serta hasil fertilsasi
berupa gambaran Polar bodi 2 pada ovarium hewan
coba model endometriosis yang dilakukan fertilisasi in
vitro.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental
laboratorium dengan desain random secara buta ganda.
Populasi pad a penelitian ini adalah mencit coba (mus
musculus) unit hewan coba laboratorium. Untuk
membuat model endometriosis, mencit disuntik
siklosporin A 10 mg/kg/hari IM pada paha mencit.
Selanjutnya dilakukan penyuntikan jaringan endo -
metrium wanita pada mencit secara membuta pada
rongga peritoneum dengan perlahan selama 60 detik.
Jaringan endometrium diambil dari bahan uterus tumor
jinak, yang disimpan di PBS (phosphate buffered
saline). Dilakukan washing 2 x dengan alat sentrifugal
dengan putaran 2500 rpm. Supe rnatan dibuang
kemudian ditambahkan PBS, penicillin 200 IU/ml dan
streptomisin 200 μgr/ml. diambil dengan syringe 3 ml
jaringan basah endometrium. Dosis yang diberikan pada
mencit adalah 0,1 ml. Berikutnya dilakukan pemberian
estrogen 5,4 μgr IM pada femur pada hari 1 dan 5
setelah perlakuan penyuntikan endometrium wanita.
Pada hari ke 14 diharapkan telah menjadi mencit model
endometriosis.
Pada stimulasi ovarium dengan PMSG dan hCG mencit
model endometriosis disuntik PMSG 5 IU, 48 jam
kemudian disuntik hC G 5 IU dan mencit langsung di
kumpulkan dengan mencit pejantan vasektomi. Setelah
17 jam dilakukan pemeriksaan vaginal plug, jika positif
dilakukan pembilasan. Uterus dipreparir dan tuba falopii
diangkat dilakukan pembilasan dengan PBS. Tuba
falopii dileta kkan di cawan petri untu8k dilakukan
panen (flushing) sel telur dibawah mikroskop inverted
dengan merobek kantong fertilisasi. Dengan metode
pewarnaan Aceto Orcein 1% dilakukan penilaian
maturasi oosit stadium: Germinal Vesicle (GV),
Germinal Vesicle Break Down (GVBD), Metafase I dan
Metafase II.
Pada fertilisasi in vitro, sel telur yang sudah dikoleksi
dicuci dengan medium PBS 3 kali, kemudian dicuci
dengan medium M16 sebanyak 3 kali. Selanjutnya sel
telur dipindahkan didalam medium M16 drop.
Spermatozoa yang sudah dipreparasi dimasukan ke
dalam medium drop yang ber isi sel telur dengan dosis
200.000. Selanjutnya diinkubasi dalam inkubator CO2
5% selama 24 jam. Kemudian diamati jumlah zigot
yang terbentuk.
Pemeriksaan viabilitas embrio dilakukan dengan
pengamatan dibawah mikroskop untuk melihat adanya
Polar Bodi 2 atau tidak. Adanya Polar Bodi 2
menunjukkan telah terjadi proses fertilisasi pada oosit
oleh sperma, yang sekaligus untuk penelitian ini
menunjukkan viabilitas embrio yang baik. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan April sampai Oktober 2010 di
Laboratorium Fertilisasi In Vitro Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Kelaikan etik
penelitian ini didapatkan pada Komisi Etik Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya
Hendarto et al. : Suplementasi Kurkumin untuk Perbaikan Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi in vitro
55
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sampel yang digunakan adalah 76 ekor mencit yang
telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian
ini melihat hasil perbaikan folikulogenesis karena
suplementasi kurkumin terhadap jumlah dan maturasi
ovum serta viabilitas em brio hasil fertilisasi in vitro.
Pada tabel 1 tampak jumlah kumulatif ovum pada tiap
lapang pandang mikroskop pembesaran 40x, hasilnya
ada perbedaan yang bermakna rerata jumlah ovum
antara kelompok kurkumin dan kelompok plasebo.
Tabel 1. Perbedaan jumlah ovum antara kelompok
kurkumin dan kelompok plasebo
Rerata jumlah ovum
Perlakuan (Kurkumin) 15,42 ± 3,17
p < 0,0001
Kontrol (Plasebo) 8,21 ± 2,82
Pada penelitian ini dievaluasi juga gambaran maturasi
ovum yang terdiri dari GV, GVBD, Metafase I dan
Metafase II pada kelompok perlakukan kurkumin
dibandingkan dengan kelompok plasebo. Jumlah
gambaran maturasi GV didapat dari kumulatif ovum
yang telah melalui proses pengecatan aceto -orsein 1%
pada tiap lapang pandang mikroskop pembesaran 400x,
didapatkan rata-rata jumlah ovum GV pada kelompok
kurkumin 3,37 ± 1,34 lebih rendah dibanding kelompok
plasebo 8,21 ± 2,82. Dengan p < 0,001 yang berarti ada
perbedaan yang bermakna rerata jumlah gambaran
maturasi GV antara kelompok kurkumin dan kelompok
plasebo
Tabel 2. Perbedaan maturasi ovum berupa GV antara
kelompok kurkumin dan kelompok plasebo
Rerata maturasi ovum berupa GV
Perlakuan (kurkumin) 3,37 ± 1,34
p < 0,0001
Kontrol (plasebo) 8,21 ± 2,82
Jumlah gambaran maturasi GVBD pada kelompok
kurkumin didapatkan median jumlah ovum 1 (0 -6) lebih
tinggi dibanding kelompok plasebo yang tidak
ditemukan ovum GVBD. Dengan harga p < 0,0001
berarti ada perbedaan bermakna gambaran maturasi
ovum GVBD antara kelompok kurkumin dibanding
kelompok plasebo.
Jumlah gam baran maturasi Metafase I didapatkan
median jumlah ovum pada kelompok kurkumin 5 (2 -7)
lebih tinggi dibanding kelompok plasebo yang tidak
ditemukan ovum Metafase I . Dengan harga p < 0,05
berarti ada perbedaan bermakna gambaran maturasi
ovum MI antara kelom pok kurkumin dibanding
kelompok plasebo.
Tabel 3. Perbedaan maturasi ovum berupa GVBD antara
kelompok kurkumin dan kelompok placebo
Median maturasi ovum
berupa GVBD
Perlakuan (kurkumin) 1 (0 – 6)
p < 0,0001
Kontrol (plasebo) 0 (0)
Tabel 4. Perbedaan maturasi ovum berupa Metafase I
antara kelompok kurkumin dan kelompok
placebo
Median maturasi ovum berupa M I
Perlakuan (kurkumin) 5 (2 – 7)
p = 0,001
Kontrol (plasebo) 0 (0)
Gambaran maturasi ovum Metafase II didapatkan
median jumlah pada ke lompok kurkumin 6 (2 -8) lebih
tinggi dibanding kelompok plasebo yang tidak
ditemukan ovum Metafase II.
Tabel 5. Perbedaan maturasi ovum berupa Metafase II
antara kelompok kurkumin dan kelompok
placebo.
Median maturasi ovum berupa M II
Perlakuan (kurkumin) 6 (2 – 8)
p = 0,001
Kontrol (plasebo) 0 (0)
Dengan harga p < 0,05 berarti ada perbedaan bermakna
gambaran maturasi ovum M II antara kelompok
kurkumin dibanding kelompok plasebo.
Rerata jumlah Polar Bodi 2 pada kelompok kurkumin
adalah 15,26±3,2 1 sedangkan pada kelompok plasebo
5,57±3,18 dengan p = 0,000 berati terdapat perbedaan
bermakna rerata jumlah Polar Bodi antara kelompok
perlakukan kurkumin dan plasebo. Suplementasi
kurkumin yang mempunyai potensi anti -inflamasi dan
anti-oksidan pada pene litian ini akan memperbaiki
folikulogenesis melalui penghambatan proses apoptosis
sel granulosa. Hal ini dapat dibuktikan bahwa
suplementasi kurkumin selama 14 hari ternyata
Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 2 Mei - Agustus 2014 : 53-57
56
menghasilkan jumlah ovum yang lebih banyak saat
dilakukan stimulasi ovarium diband ingkan dengan
pemberian plasebo. Makin banyak banyak jumlah ovum
pada program FIV diharapkan akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya kehamilan. Pada kelompok
kurkumin didapatkan ovum dengan tingkat maturasi
GVBD (11,3%) dan metafase I (29,7%) menandakan
bahwa siklus sel meiosis telah dimulai kembali.
Tabel 6. Perbedaan rerata hasil ferilisasi dengan
gambaran Polar Bodi 2 antara kelompok
perlakuan kurkumin dan kelompok plasebo
Rerata Hasil Fertilsasi
(Polar Bodi 2)
Perlakuan (Kurkumin) 15,26 ± 3,21
Kontrol (Plasebo) 5,57 ± 3,18
Didapatkannya ovum dengan tingkat maturasi Metafase
II tidak 100% pada kelompok kurkumin menandakan
bahwa meiosis telah berjalan kembali tetapi masih
tertahan kembali oleh karena suatu sebab. Kami
menduga TNF -α turut berperan atas terjadinya
penurunan cadangan cyclin B dalam oosit, sehingga
siklus sel terganggu dan pada oosit siklus sel terhenti
sebelum metafase II. Kami duga, kumulus sel granulosa
penderita endometriosis tidak mampu menyalurkan
signal Ca2+ ke dalam oosit sehingga tidak terjadi
regresi gap junction, hal ini mungkin peran dari
banyaknya apoptosis yang terjadi pada sel granulosa.
Akibat tidak optimalnya signal Ca 2+ yang berasal dari
sel granulosa penderita endometriosis menyebabkan
meiosis tertah an sehingga tampak dari hasil penelitian
ini tingkat maturasi ovum pada mencit model
endometriosis di kelompok plasebo semuanya berhenti
pada maturasi tingkat GV. Pada kelompok yang
mendapat suplementasi kurkumin terdapat perbaikan
pada apoptosis sel granu losa sehingga meiosis bisa
berjalan kembali walaupun masih belum sepenuhnya
normal. Diduga kuat bahwa kurkumin dapat mencegah
apoptosis sel granulosa dan menurunkan pr otein kinase
A, sehingga MPF dapat teraktivasi dan proses
pembelahan meiosis dimulai kembali.
Pengamatan hasil fertilisasi in vitro dilakukan dengan
cara melihat gambaran Polar Body 2. Bila terlihat
gambaran Polar Body 2 berarti telah terjadi fertilisasi
ovum oleh sperma, yang pada penelitian ini dianggap
telah terjadi embrio dengan viabilita s yang baik. Polar
Body adalah sel yang terdapat didalam ovum, yang
merupakan hasil dari proses oogenesis dan meiosis.
Pada penelitian ini telah dibuktikan bahwa rerata jumlah
gambaran Polar Body 2 pada mencit model
endometriosis yang diberi suplementasi k urkumin lebih
banyak, yang berarti menghasilkan lebih banyak embrio
dengan viabilitas yang lebih baik dibandingkan diberi
plasebo pada fertilisasi in vitro.
SIMPULAN
Pada akhirnya dengan berakhirnya penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa suplementasi k urkumin pada
endometriosis akan memperbaiki maturasi oosit pada
stimulasi ovarium dan pada fertilisasi in vitro akan
menghasilkan embrio dengan viabilitas yang lebih baik.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini dibiayai oleh DIPA Universitas Airlangga
Tahun Anggaran 2010,
DAFTAR PUSTAKA
1. Kennedy S, Bergqvist A, Chapron C, D'Hooghe T,
Dunselman G, Greb R, Hummelshoj L, Prentice A,
Saridogan et al. ESHRE guideline for the diagnosis
and treatment of endometriosis. Hum Reprod 2005;
20:2698–2704.
2. Barnhart K, D unsmoor-Su R, Coutifaris C. Effect
of endometriosis on in vitro fertilization. Fertil
Steril 2002;77:1148–55.
3. ASRM. Endometriosis and infertility: a committee
opinion, The Practice Committee of the American
Society for Reproductive Medicine. Fertil Steril
2012;98:591–8
4. ESHRE Endometriosis Guideline Development
Group. Management of women with endometriosis,
Guideline of the European Society of Human
Reproduction and Embryology. September 2013
5. Zegers-Hochschild F, Adamson GD, de Mouzon J,
Ishihara O, Mansour R, Nygren K, Sullivan E, van
der Poel S, The International Committee for
Monitoring Assisted Reproductive Technology
(ICMART) and World Health Organization (WHO)
Revised Glossary on ART Terminology, 2009.
Hum Reprod 2009; 24:2683–2687
6. Hughes E, Brown J, Co llins JJ, Farquhar C,
Fedorkow DM and Vandekerckhove P. Ovulation
suppression for endometriosis for women with
subfertility. Cochrane Database Syst Rev 2007
7. Nasu K, Nishida M, Ueda T, Yuge A, TakaiN,
NaraharaN. Application of Nuclear -kB inhibitor
BAY11-7085 for the treatment of endometriosis: an
in vitro study.American Journal Physiologyof
Endocrinology and Metabolism 2007, 293: 16-23.
8. Akram M, Shahab -Uddin, Ahmed A, Usmanghani
K, Hannan A, Mohiuddin E M. Asif S. Curcuma
Hendarto et al. : Suplementasi Kurkumin untuk Perbaikan Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi in vitro
57
longa and curcumin: a review article . Rom. J. Biol.
– Plant Biol., 2010, 55, 2: 65–70
9. Swarnakar S, Paul S. Curcumin arrests
endometriosis by downregulation of matrix
metalloproteinase-9 activity. Indian J Biochem
Biophys. 2009, 46(1):59-65.
10. Jana S, Rudra DS, Paul S, Snehasikta S. Curcumin
delays endometriosis development by inhibiting
MMP-2 activity. Indian J Biochem Biophys 2012,
49(5):342-8
11. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi,
Widjiati. Pengaruh curcumin terhadap ekspresi
VEGF dan luas implant endometriosis. Penelitian
departemen/SMF Kebidanan dan Penyakit
Kandungan FK Unair /RSUD dr Soetomo
Surabaya, 2009.