{"paper_id":"a66cfe98-fe67-4189-af33-26b0869c67cb","body_text":"Hendarto et al. : Suplementasi Kurkumin untuk Perbaikan Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi in vitro\n53\nSuplementasi Kurkumin untuk Perbaikan Maturasi Oosit dan Hasil\nFertilisasi in vitro pada Mencit Model Endometriosis\nHendarto H1, Widjiati2, Johari S1\n1Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran\n2Laboratorium Fertilisasi In Vitro, Fakultas Kedokteran Hewan\nUniversitas Airlangga, Surabaya\nABSTRAK\nEndometriosis didefinisikan sebagai adanya jaringan seperti endometrium di luar rahim, yang menginduksi reaksi inflamasi kron is.\nHasil pengobatan endometriosis terutama pada infertilitas tetap tida k memuaskan dengan tingkat kehamilan yang rendah.\nCurcumin, yang berpotensi anti -oksidan dan anti -inflamasi, berperan memperbaiki gangguan folikulogenesis. Namun peran\nkurkumin pada oosit dan embrio masih belum jelas. Tujuan dari penelitian ini adalah untu k mengevaluasi apakah kurkumin\nberperan pada maturasi oosit dan hasil fertilisasi in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium\nmenggunakan hewan coba. Endometriosis diinduksi dengan pemberian siklosporin A, jaringan endometrium manusia oestradiol\npada 76 ekor tikus. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok: kurkumin dan suplemen plasebo. Stimulasi ovarium dilakukan\ndengan menggunakan PMSG dan hCG untuk mengevaluasi pematangan oosit dengan menganalisis GV, GVBD, metafase 1 dan\nmetafase 2. Fertilisasi in vitro dilakukan untuk mengklarifikasi polar body 2 sebagai evaluasi hasil fertilisasi. Data diband ingkan\ndengan student t -test. Jumlah ovum rata-rata kelompok kurkumin (15,42 ±  3,17) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan\nkelompok plasebo (8,21 ±  2,82) (p < 0,0001). Maturasi oosit termasuk GV, GVBD, metaphase I Dan II metafase lebih baik, terutama\ntingginya jumlah metafase II pematangan (37,2%) pada kelompok kurkumin. Hasil fertilisasi invitro pada kelompok kurkumin ( 15,26\n±  3,21) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok plasebo (5,57 ±  3,18) (p = 0,000). Simpulan, pada percobaan\ntikus endometriosis, suplemen kurkumin dapat meningkatkan maturasi oosit dan hasil fertilisasi. (MOG 2014;22:53-57)\nKata kunci: curcumin, endometriosis, maturasi oosit, hasil fertilisasi\nABSTRACT\nEndometriosis is defined as the presence of endometrial -like tissue outside the uterus, which induces a chronic inflammatory\nreaction. The outcome of endometriosis treatment espe cially in infertility remain unsatisfied with low pregnancy rate. Curcumin, a\npotent anti-oxidant and anti-inflammation turmeric, had role on improvement of folliculogenesis disturbace but the role of curcumin\non oocyte and embryo still unclear. The purpos e of this study was to evaluate whether curcumin had role on oocyte maturation and\nfertilization result in invitro fertilization. This was an animal laboratory experimental study. Endometriosis was induced by\nadministration of cyclosporine A, human endomet rium tissue and ethynil estradiol in 76 mice. Study subject was divided into 2\ngroups : curcumin and placebo supplementation. Ovarian stimulation was conducted using PMSG and hCG to evaluate oocyte\nmaturation by analyzing GV, GVBD, metaphase 1 and metaphas e 2. In vitro fertilization was performed to clarify II polar body as\nfertilization result evaluation. Data were compared by student t -test. The mean ovum number of curcumin group (15 .42 ±  3.17) was\nsignificantly higher than those of placebo group (8 .21 ± 2.82) (p < 0 .0001). Oocyte maturation including GV, GVBD, metaphase I\ndan metaphase II was better, especially the high number of metaphase II maturation (37.2 %) on curcumin group. Fertilization result\nof invitro fertilization on curcumin group (15 .26 ±  3.21) was significantly higher than those of placebo group (5 .57 ±  3.18)\n(p=0.000). In conclusion, on experimental endometriosis in mice, curcumin supplementation may improve oocyte maturation and\nfertilization result. (MOG 2014;22:53-57)\nKeywords: curcumin, endometriosis, oocyte maturation, fertilization result\nCorrespondence: Hendy Hendarto, Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, RSUD Dr.\nSoetomo, Jl Mayjen Prof Moestopo 6-8, Surabaya 60268, email : hndhendy@yahoo.com.\nPENDAHULUAN\nEndometriosis merupakan penyakit ginekologi yang\nsering dijumpai pada perempuan usia reproduksi dengan\nmemberikan keluhan nyeri dan infertilitas sehingga\nmenyebabkan penurunan kualitas hidup. Endometriosis\nditandai dengan adanya jaring an seperti endometrium\nberada diluar kavum uteri yang akan menginduksi\nreaksi inflamasi kronis .1 Walaupun patogenesis masih\ndiperdebatkan terutama pada stadium minimal dan\nringan, endometriosis akan menyebabkan infertilitas\nyang sulit diatasi. Hal ini terb ukti pada penelitian\nBarnhart yang mendapatkan bahwa angka kehamilan\ndengan fertilisasi in vitro pada pasien endometriosi\n\nMajalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 2 Mei - Agustus 2014 : 53-57\n54\nlebih rendah dibandingkan dengan pasien infertilitas\nkarena faktor tuba. Pada penelitian tersebut didapatkan\njuga bahwa angka fertilis asi, angka implantasi dan\njumlah oosit yang didapat pada pasien endometriosis\nsaat fertilsasi in vit ro lebih rendah secara bermakn a.2,3\nPenatalaksanaan endometriosis dapat dilakukan melalui\nbeberapa cara, yatu terapi medisinalis, bedah, dan\nMedically Assis ted Reproduction, yang dapat berupa\ninseminasi intra uteri atau fertilisasi in vitro .4,5 Hughes\ndkk menyimpulkan bahwa terapi medisinalis dengan\nmenggunakan obat hormon misal pil kontrasepsi,\nDanzol dan GnRH agonist untuk supresi ovarium pada\npasien endome triosis dengan infertilitas ternyata tidak\nefektif.6 Disamping tidak efektif, terapi medisinalis\ndengan obat hormon membuat suasana hipoestrogen dan\ntidak terjadi ovulasi. Suasana hipoestrogen\nmenyebabkan pemberian terapi medisinalis menjadi\nsangat terbata s karena supresi ovarium jangka panjang\nakan mengurangi masa tulang hingga berisiko terjadi\nosteoporosis.7 Karena itu mendapatkan strategi alternatif\nterapi medisinalis yang ideal untuk endometriosis perlu\ndipikirkan.\nCurcumin, kandungan penting dari curc uminoid suatu\nherbal turmeric, mempunyai sejarah panjang sebagai\nobat tradional yang mempunyai potensi anti proliferasi,\nanti inflamasi dan anti oksidan .8 Terdapat sedikit data\ntentang penggunaan Curcumin untuk menekan\nperkembangan penyakit endometriosis, salah satu\nadalah Swarnakar dan Paul melaporkan khasiat anti\nendometriosis pada Curcumin melalui jalur MMP -9,\nsedangkan Jana mendapatkan Curcumin dosis 48 mg/kg\nbb akan menekan aktivitas MMP -2 melalui peningkatan\nekspresi TIMP-2.9,10\nPada penelitian kami sebelumnya telah dibuktikan\nbahwa curcumin mampu memeperbaiki folikulogenesis\nabnormal pada mencit model endometriosis melalui\nperubahan ekspresi Growth Differentiation Factor -9\n(GDF-9) dan KitLigand ,11 namun sampai saat ini\nkhasiat Curcumin pada oosit dan hasil fertilisasi masih\nbelum ada. Tujuan dari penelitian ini adalah\nmempelajari pengaruh suplementasi kurkumin terhadap\nmaturasi oosit yang meliputi bentuk Germinal Vesicle\n(GV), Germinal Vesicle Break Down (GVBD),\nMetaphase-1 dan Metaphse -2 serta hasil fertilsasi\nberupa gambaran Polar bodi 2 pada ovarium hewan\ncoba model endometriosis yang dilakukan fertilisasi in\nvitro.\nBAHAN DAN METODE\nPenelitian ini merupakan penelitian eksperimental\nlaboratorium dengan desain random secara buta ganda.\nPopulasi pad a penelitian ini adalah mencit coba (mus\nmusculus) unit hewan coba laboratorium. Untuk\nmembuat model endometriosis, mencit disuntik\nsiklosporin A 10 mg/kg/hari IM pada paha mencit.\nSelanjutnya dilakukan penyuntikan jaringan endo -\nmetrium wanita pada mencit secara membuta pada\nrongga peritoneum dengan perlahan selama 60 detik.\nJaringan endometrium diambil dari bahan uterus tumor\njinak, yang disimpan di PBS (phosphate buffered\nsaline). Dilakukan washing 2 x dengan alat sentrifugal\ndengan putaran 2500 rpm. Supe rnatan dibuang\nkemudian ditambahkan PBS, penicillin 200 IU/ml dan\nstreptomisin 200 μgr/ml. diambil dengan syringe 3 ml\njaringan basah endometrium. Dosis yang diberikan pada\nmencit adalah 0,1 ml. Berikutnya dilakukan pemberian\nestrogen 5,4 μgr IM pada femur pada hari 1 dan 5\nsetelah perlakuan penyuntikan endometrium wanita.\nPada hari ke 14 diharapkan telah menjadi mencit model\nendometriosis.\nPada stimulasi ovarium dengan PMSG dan hCG mencit\nmodel endometriosis disuntik PMSG 5 IU, 48 jam\nkemudian disuntik hC G 5 IU dan mencit langsung di\nkumpulkan dengan mencit pejantan vasektomi. Setelah\n17 jam dilakukan pemeriksaan vaginal plug, jika positif\ndilakukan pembilasan. Uterus dipreparir dan tuba falopii\ndiangkat dilakukan pembilasan dengan PBS. Tuba\nfalopii dileta kkan di cawan petri untu8k dilakukan\npanen (flushing) sel telur dibawah mikroskop inverted\ndengan merobek kantong fertilisasi. Dengan metode\npewarnaan Aceto Orcein 1% dilakukan penilaian\nmaturasi oosit stadium: Germinal Vesicle (GV),\nGerminal Vesicle Break Down (GVBD), Metafase I dan\nMetafase II.\nPada fertilisasi in vitro, sel telur yang sudah dikoleksi\ndicuci dengan medium PBS 3 kali, kemudian dicuci\ndengan medium M16 sebanyak 3 kali. Selanjutnya sel\ntelur dipindahkan didalam medium M16 drop.\nSpermatozoa yang sudah dipreparasi dimasukan ke\ndalam medium drop yang ber isi sel telur dengan dosis\n200.000. Selanjutnya diinkubasi dalam inkubator CO2\n5% selama 24 jam. Kemudian diamati jumlah zigot\nyang terbentuk.\nPemeriksaan viabilitas embrio dilakukan dengan\npengamatan dibawah mikroskop untuk melihat adanya\nPolar Bodi 2 atau tidak. Adanya Polar Bodi 2\nmenunjukkan telah terjadi proses fertilisasi pada oosit\noleh sperma, yang sekaligus untuk penelitian ini\nmenunjukkan viabilitas embrio yang baik. Penelitian ini\ndilaksanakan pada bulan April sampai Oktober 2010 di\nLaboratorium Fertilisasi In Vitro Fakultas Kedokteran\nHewan Universitas Airlangga Surabaya. Kelaikan etik\npenelitian ini didapatkan pada Komisi Etik Fakultas\nKedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya\n\nHendarto et al. : Suplementasi Kurkumin untuk Perbaikan Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi in vitro\n55\nHASIL DAN PEMBAHASAN\nSampel yang digunakan adalah 76 ekor mencit yang\ntelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian\nini melihat hasil perbaikan folikulogenesis karena\nsuplementasi kurkumin terhadap jumlah dan maturasi\novum serta viabilitas em brio hasil fertilisasi in vitro.\nPada tabel 1 tampak jumlah kumulatif ovum pada tiap\nlapang pandang mikroskop pembesaran 40x, hasilnya\nada perbedaan yang bermakna rerata jumlah ovum\nantara kelompok kurkumin dan kelompok plasebo.\nTabel 1. Perbedaan jumlah ovum antara kelompok\nkurkumin dan kelompok plasebo\nRerata jumlah ovum\nPerlakuan (Kurkumin) 15,42 ± 3,17\np < 0,0001\nKontrol (Plasebo) 8,21 ± 2,82\nPada penelitian ini dievaluasi juga gambaran maturasi\novum yang terdiri dari GV, GVBD, Metafase I dan\nMetafase II pada kelompok perlakukan kurkumin\ndibandingkan dengan kelompok plasebo. Jumlah\ngambaran maturasi GV didapat dari kumulatif ovum\nyang telah melalui proses pengecatan aceto -orsein 1%\npada tiap lapang pandang mikroskop pembesaran 400x,\ndidapatkan rata-rata jumlah ovum GV pada kelompok\nkurkumin 3,37 ± 1,34 lebih rendah dibanding kelompok\nplasebo 8,21 ± 2,82. Dengan p < 0,001 yang berarti ada\nperbedaan yang bermakna rerata jumlah gambaran\nmaturasi GV antara kelompok kurkumin dan kelompok\nplasebo\nTabel 2. Perbedaan maturasi ovum berupa GV antara\nkelompok kurkumin dan kelompok plasebo\nRerata maturasi ovum berupa GV\nPerlakuan (kurkumin) 3,37 ± 1,34\np < 0,0001\nKontrol (plasebo) 8,21 ± 2,82\nJumlah gambaran maturasi GVBD pada kelompok\nkurkumin didapatkan median jumlah ovum 1 (0 -6) lebih\ntinggi dibanding kelompok plasebo yang tidak\nditemukan ovum GVBD. Dengan harga p < 0,0001\nberarti ada perbedaan bermakna gambaran maturasi\novum GVBD antara kelompok kurkumin dibanding\nkelompok plasebo.\nJumlah gam baran maturasi Metafase I didapatkan\nmedian jumlah ovum pada kelompok kurkumin 5 (2 -7)\nlebih tinggi dibanding kelompok plasebo yang tidak\nditemukan ovum Metafase I . Dengan harga p < 0,05\nberarti ada perbedaan bermakna gambaran maturasi\novum MI antara kelom pok kurkumin dibanding\nkelompok plasebo.\nTabel 3. Perbedaan maturasi ovum berupa GVBD antara\nkelompok kurkumin dan kelompok placebo\nMedian maturasi ovum\nberupa GVBD\nPerlakuan (kurkumin) 1 (0 – 6)\np < 0,0001\nKontrol (plasebo) 0 (0)\nTabel 4. Perbedaan maturasi ovum berupa Metafase I\nantara kelompok kurkumin dan kelompok\nplacebo\nMedian maturasi ovum berupa M I\nPerlakuan (kurkumin) 5 (2 – 7)\np = 0,001\nKontrol (plasebo) 0 (0)\nGambaran maturasi ovum Metafase II didapatkan\nmedian jumlah pada ke lompok kurkumin 6 (2 -8) lebih\ntinggi dibanding kelompok plasebo yang tidak\nditemukan ovum Metafase II.\nTabel 5. Perbedaan maturasi ovum berupa Metafase II\nantara kelompok kurkumin dan kelompok\nplacebo.\nMedian maturasi ovum berupa M II\nPerlakuan (kurkumin) 6 (2 – 8)\np = 0,001\nKontrol (plasebo) 0 (0)\nDengan harga p < 0,05 berarti ada perbedaan bermakna\ngambaran maturasi ovum M II antara kelompok\nkurkumin dibanding kelompok plasebo.\nRerata jumlah Polar Bodi 2 pada kelompok kurkumin\nadalah 15,26±3,2 1 sedangkan pada kelompok plasebo\n5,57±3,18 dengan p = 0,000 berati terdapat perbedaan\nbermakna rerata jumlah Polar Bodi antara kelompok\nperlakukan kurkumin dan plasebo. Suplementasi\nkurkumin yang mempunyai potensi anti -inflamasi dan\nanti-oksidan pada pene litian ini akan memperbaiki\nfolikulogenesis melalui penghambatan proses apoptosis\nsel granulosa. Hal ini dapat dibuktikan bahwa\nsuplementasi kurkumin selama 14 hari ternyata\n\nMajalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 2 Mei - Agustus 2014 : 53-57\n56\nmenghasilkan jumlah ovum yang lebih banyak saat\ndilakukan stimulasi ovarium diband ingkan dengan\npemberian plasebo. Makin banyak banyak jumlah ovum\npada program FIV diharapkan akan meningkatkan\nkemungkinan terjadinya kehamilan. Pada kelompok\nkurkumin didapatkan ovum dengan tingkat maturasi\nGVBD (11,3%) dan metafase I (29,7%) menandakan\nbahwa siklus sel meiosis telah dimulai kembali.\nTabel 6. Perbedaan rerata hasil ferilisasi dengan\ngambaran Polar Bodi 2 antara  kelompok\nperlakuan kurkumin dan kelompok plasebo\nRerata Hasil Fertilsasi\n(Polar Bodi 2)\nPerlakuan (Kurkumin) 15,26 ± 3,21\nKontrol (Plasebo) 5,57 ± 3,18\nDidapatkannya ovum dengan tingkat maturasi Metafase\nII tidak 100% pada kelompok kurkumin menandakan\nbahwa meiosis telah berjalan kembali tetapi masih\ntertahan kembali oleh karena suatu sebab. Kami\nmenduga TNF -α turut berperan atas terjadinya\npenurunan cadangan cyclin B dalam oosit, sehingga\nsiklus sel terganggu dan pada oosit siklus sel terhenti\nsebelum metafase II. Kami duga, kumulus sel granulosa\npenderita endometriosis tidak mampu menyalurkan\nsignal Ca2+ ke dalam oosit sehingga tidak terjadi\nregresi gap junction, hal ini mungkin peran dari\nbanyaknya apoptosis yang terjadi pada sel granulosa.\nAkibat tidak optimalnya signal Ca 2+ yang berasal dari\nsel granulosa penderita endometriosis menyebabkan\nmeiosis tertah an sehingga tampak dari hasil penelitian\nini tingkat maturasi ovum pada mencit model\nendometriosis di kelompok plasebo semuanya berhenti\npada maturasi tingkat GV. Pada kelompok yang\nmendapat suplementasi kurkumin terdapat perbaikan\npada apoptosis sel granu losa sehingga meiosis bisa\nberjalan kembali walaupun masih belum sepenuhnya\nnormal. Diduga kuat bahwa kurkumin dapat mencegah\napoptosis sel granulosa dan menurunkan pr otein kinase\nA, sehingga MPF dapat teraktivasi dan proses\npembelahan meiosis dimulai kembali.\nPengamatan hasil fertilisasi in vitro dilakukan dengan\ncara melihat gambaran Polar Body 2. Bila terlihat\ngambaran Polar Body 2 berarti telah terjadi fertilisasi\novum oleh sperma, yang pada penelitian ini dianggap\ntelah terjadi embrio dengan viabilita s yang baik. Polar\nBody adalah sel yang terdapat didalam ovum, yang\nmerupakan hasil dari proses oogenesis dan meiosis.\nPada penelitian ini telah dibuktikan bahwa rerata jumlah\ngambaran Polar Body 2 pada mencit model\nendometriosis yang diberi suplementasi k urkumin lebih\nbanyak, yang berarti menghasilkan lebih banyak embrio\ndengan viabilitas yang lebih baik dibandingkan diberi\nplasebo pada fertilisasi in vitro.\nSIMPULAN\nPada akhirnya dengan berakhirnya penelitian ini dapat\ndisimpulkan bahwa suplementasi k urkumin pada\nendometriosis akan memperbaiki maturasi oosit pada\nstimulasi ovarium dan pada fertilisasi in vitro akan\nmenghasilkan embrio dengan viabilitas yang lebih baik.\nUCAPAN TERIMA KASIH\nPenelitian ini dibiayai oleh DIPA Universitas Airlangga\nTahun Anggaran 2010,\nDAFTAR PUSTAKA\n1. Kennedy S, Bergqvist A, Chapron C, D'Hooghe T,\nDunselman G, Greb R, Hummelshoj L, Prentice A,\nSaridogan et al. ESHRE guideline for the diagnosis\nand treatment of endometriosis. Hum Reprod 2005;\n20:2698–2704.\n2. Barnhart K, D unsmoor-Su R, Coutifaris C. Effect\nof endometriosis on in vitro fertilization. Fertil\nSteril 2002;77:1148–55.\n3. ASRM. Endometriosis and infertility: a committee\nopinion, The Practice Committee of the American\nSociety for Reproductive Medicine. Fertil Steril\n2012;98:591–8\n4. ESHRE Endometriosis Guideline Development\nGroup. Management of women with endometriosis,\nGuideline of the European Society of Human\nReproduction and Embryology. September 2013\n5. Zegers-Hochschild F, Adamson GD, de Mouzon J,\nIshihara O, Mansour R, Nygren K, Sullivan E, van\nder Poel S, The International Committee for\nMonitoring Assisted Reproductive Technology\n(ICMART) and World Health Organization (WHO)\nRevised Glossary on ART Terminology, 2009.\nHum Reprod 2009; 24:2683–2687\n6. Hughes E, Brown J, Co llins JJ, Farquhar C,\nFedorkow DM and Vandekerckhove P. Ovulation\nsuppression for endometriosis for women with\nsubfertility. Cochrane Database Syst Rev 2007\n7. Nasu K, Nishida M, Ueda T, Yuge A, TakaiN,\nNaraharaN. Application of Nuclear -kB inhibitor\nBAY11-7085 for the treatment of endometriosis: an\nin vitro study.American Journal Physiologyof\nEndocrinology and Metabolism 2007, 293: 16-23.\n8. Akram M, Shahab -Uddin, Ahmed A, Usmanghani\nK, Hannan A, Mohiuddin E M. Asif S. Curcuma\n\nHendarto et al. : Suplementasi Kurkumin untuk Perbaikan Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi in vitro\n57\nlonga and curcumin: a review article . Rom. J. Biol.\n– Plant Biol., 2010, 55, 2: 65–70\n9. Swarnakar S, Paul S. Curcumin arrests\nendometriosis by downregulation of matrix\nmetalloproteinase-9 activity. Indian J Biochem\nBiophys. 2009, 46(1):59-65.\n10. Jana S, Rudra DS, Paul S, Snehasikta S. Curcumin\ndelays endometriosis development by inhibiting\nMMP-2 activity. Indian J Biochem Biophys 2012,\n49(5):342-8\n11. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi,\nWidjiati. Pengaruh curcumin terhadap ekspresi\nVEGF dan luas implant endometriosis. Penelitian\ndepartemen/SMF Kebidanan dan Penyakit\nKandungan FK Unair /RSUD dr Soetomo\nSurabaya, 2009.","source_license":"CC0","license_restricted":false}