GAMBARAN ENDOMETRIOSIS DI LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2010-2013
dissertation
OA: green
CC0
⤵ 1 in-corpus citation
Abstract
Pendahuluan: Endometriosis merupakan penyakit jinak ginekologi yang bisa
\nberkembang menjadi keganasan, berkaitan dengan infertilitas dan menurunkan
\nkualitas hidup penderita. Diagnosis berdasarkan klinis saja tidak bisa dilakukan,
\nkarena gejala klinis dan lokasi anatomi yang beragam. Penelitian ini dilakukan
\nuntuk mengetahui gambaran endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi
\nRSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2010-2013.
\nMetode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan jumlah sampel
\n33 orang. Data usia, riwayat paritas, lokasi anatomi, dan gejala klinis pasien
\ndidapatkan dari data di laboratorium patologi anatomi dan rekam medis pasien.
\nData dikelompokkan, kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel.
\nHasil: Dari 33 sampel, 21 (64%) adalah usia reproduktif dan sebagian besar
\nnulipara, 33 (100%) ditemukan di organ genitalia interna dengan 27 (82%)
\nditemukan di ovarium, selain itu juga ditemukan 6 (18%) di luar organ genital.
\nGejala klinis yang paling banyak ditemukan adalah dismenorea yaitu 23 (70%).
\nKesimpulan: Endometriosis ditemukan terutama pada usia reproduktif dan
\nnulipara. Lokasi anatomi paling banyak adalah di organ genitalia interna, terutama
\ndi ovarium. Gejala klinis paling sering adalah nyeri, terutama dismenorea.
\nDimanapun lokasi anatomi ditemukan endometriosis, selalu dengan gejala klinis
\nnyeri, sedangkan bengkak diperut, PUD dan infertilitas hanya sering ditemukan di
\norgan genitalia interna.
\nKata Kunci: Endometriosis, Patologi, Gejala Klinis.
Full text
84,989 characters
· extracted from
oa-pdf
· 6 sections
· click to expand
Abstract
DESCRIPTION OF ENDOMETRIOSIS CASE IN LABORATORY OF
ANATOMICAL PATHOLOGY DR. M. DJAMIL HOSPITAL PADANG
FROM 2010 TO 2013
By :
Kenny Cantika Abadi
Introduction
Endometriosis is benign gynecologic disease which can be
developed into malignancy, associated to infertility and will reduce patients’
quality of life. It’s difficult to diagnosed based on clinical appearance only,
because anatomical locations and clinical symptoms are varied. This study was
performed to find out the description of endometriosis in the Laboratory of
Anatomical Pathology Dr. M. Djamil Hospital Padang from 2010 to 2013.
Method
This is retrospective descriptive study and has 33 samples. Data of age,
parity history, anatomical location, and clinical symptom is collected from
laboratory of anatomical pathology and medical record of patients. T he data was
grouped then processed and presented in tabular form.
Result
Out of 33 samples, 21 (64%) in reproductive age, the most of them were
nulliparous, all of samples were found in internal genital organ which 27 (82%0
found in ovarium, additionally it also found in out of genital organ 6 (18%). The
most clinical symptom that found was dysmenorrhoea in 23 (70%).
Conclusions
Endometriosis predominantly in reproductive age and nulliparous.
The disease most located in internal genital organ especially in ovarium. The
most of clinical symptoms is pain, especially dysmenorrhoea. Where ever it found,
pain is always be the most symptom, meanwhile abdominal swelling,
dysfunctional uterine bleeding and infertility often just found in internal genital
organ.
Key Word: Endometriosis, Pathology, Symptoms.
v
ABSTRAK
GAMBARAN ENDOMETRIOSIS DI LABORATORIUM PATOLOGI
ANATOMI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2010-2013
Oleh :
Kenny Cantika Abadi
Pendahuluan: Endometriosis merupakan penyakit jinak ginekologi yang bisa
berkembang menjadi keganasan, berkaitan dengan infertilitas dan menurunkan
kualitas hidup penderita. Diagnosis berdasarkan klinis saja tidak bisa dilakukan,
karena gejala klinis dan lokasi anatomi yang beragam. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui gambaran endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi
RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2010-2013.
Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan jumlah sampel
33 orang. Data usia, riwayat paritas, lokasi anatomi, dan gejala klinis pasien
didapatkan dari data di laboratorium patologi anatomi dan reka m medis pasien.
Data dikelompokkan, kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel.
Hasil: Dari 33 sampel, 21 (64%) adalah usia reproduktif dan sebagian besar
nulipara, 33 (100%) ditemukan di organ genitalia interna dengan 27 (82%)
ditemukan di ovarium, selain itu juga ditemukan 6 (18%) di luar organ genital.
Gejala klinis yang paling banyak ditemukan adalah dismenorea yaitu 23 (70%).
Kesimpulan: Endometriosis ditemukan terutama pada usia reproduktif dan
nulipara. Lokasi anatomi paling banyak adalah di organ genitalia interna, terutama
di ovarium. Gejala klinis paling sering adalah nyeri, terutama dismenorea.
Dimanapun lokasi anatomi ditemukan endometriosis, selalu dengan gejala klinis
nyeri, sedangkan bengkak diperut, PUD dan infertilitas hanya sering ditemukan di
organ genitalia interna.
Kata Kunci: Endometriosis, Patologi, Gejala Klinis.
vi
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar i
Abstract
iv
Abstrak v
Daftar Isi vi
Daftar Tabel ix
Daftar Gambar x
Daftar Singkatan xi
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan Penelitian 5
1.4 Manfaat Penelitian 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1 Definisi 6
2.2 Epidemiologi 6
2.3 Etiopatogenesis 7
2.4 Faktor Risiko 10
2.5 Klasifikasi dan Lokasi Anatomi 10
2.5.1 Klasifikasi 10
2.5.2 Lokasi Anatomi 13
2.6 Gejala Klinis 14
vii
2.7 Hubungan Gejala Klinis dengan Lokasi Anatomi 18
2.8 Diagnosis Banding 19
2.9 Diagnosis 20
2.10 Prognosis 27
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 29
3.1 Jenis Penelitian 29
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian 29
3.3 Populasi dan Sampel 29
3.3.1 Populasi 29
3.3.2 Sampel 29
3.4 Definisi Operasional 30
3.5 Instrumen Penelitian 32
3.6 Prosedur Pengumpulan Data 32
3.7 Proses Pengolahan Data 32
3.8 Analisis dan Penyajian Data 33
3.8.1 Analisis Univariat 33
3.8.3 Penyajian Data 33
BAB 4 HASIL PENELITIAN 34
4.1 Deskripsi Umum Penelitian 34
4.2 Hasil Analisis Univariat 34
4.2.1 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Usia 34
4.2.2 Distribusi Endometriosis Berdasar Riwayat Paritas 35
viii
4.2.3 Distribusi Endometriosis Berdasar Lokasi Anatomi 36
4.2.4 Gambaran Endometriosis Berdasarkan Gejala Klinis 36
4.2.5 Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan 37
Lokasi Anatomi
BAB 5 PEMBAHASAN 38
5.1 Karakteristik Penderita 38
5.2 Lokasi Anatomi 39
5.3 Gejala Klinis 40
BAB 6 PENUTUP 45
6.1 Kesimpulan 45
6.2 Saran 45
DAFTAR PUSTAKA 47
LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1: Distribusi Frekuensi Lokasi Anatomi Endometriosis 14
Tabel 2.2 : Distribusi Frekuensi Gejala pada 500 Wanita Endometriosis 18
Tabel 2.3 : Gejala Klinis Berdasarkan Lokasi Implan Endometriosis 19
Tabel 2.4 : Karakteristik Histologi Implan Endmetriosis dan Gambaran 26
Laparaskopinya
Tabel 2.5 : Pemeriksaan Histologi dari Implan Atipik 26
Tabel 4.1 : Distribusi Endometriosis Berdasarkan Usia 34
Tabel 4.2 : Distribusi Endometriosis Berdasarkan Riwayat Paritas 35
Tabel 4.3 : Distribusi Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi 36
Tabel 4.4 : Gambaran Endometriosis Berdasarkan Gejala Klinis 37
Tabel 4.5 : Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan 37
Lokasi Anatomi
x
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 : Klasifikasi endometriosis menurut American Society 12
For Reproductive Medicine yang telah di revisi pada
Tahun 1997
Gambar 2.2 : Stadium Endometriosis 13
Gambar 2.3 : Lokasi Anatomi ditemukan Endometriosis 14
Gambar 2.4 : Gambaran Histologi Endometriosis 23
xi
DAFTAR SINGKATAN
CA 125 = Cancer Antigen 125
CA 19-9 = Cancer Antigen 19-9
C3 = Complement-3
IgA = Immunoglobulin A
IgG = Immunoglobulin G
IgM = Immunoglobulin M
IL-6 = Interleukine-6
MRI = Magnetic Resonance Imaging
NK = Natural Killer
OAINS = Obat Anti Inflamasi Non Steroid
PUD = Perdarahan Uterus Disfungsional
TNF- = Tumor Necrotizing Factor-
USG = Ultrasonography
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Endometriosis adalah jaringan endometrium (kelenjar dan stroma) yang
terdapat di luar kavum uteri seperti organ -organ genitalia interna termasuk
ovarium (endometrioma) , myometrium (adenomiosis) atau dapat juga di tempat
lain seperti vesika urinaria, usus, peritoneum, paru, umbilikus, bahkan dapat
ditemui di mata dan otak (Baziad, 2003; Ceyhan, 2008). Endometriosis
merupakan salah satu penyakit jinak ginekologi yang akhir -akhir ini banyak
mendapat perhatian para ahli (Nurcahyo, 2010). Penyakit ini masih banyak
menimbulkan masalah sejak dipublikasikan pertama kali pada tahun 1800 hingga
sekarang (Berek dan Novack’s, 2007). Hal tersebut disebabkan oleh gejala klinis,
diagnosis, pengobatan dan patog enesis yang belum jelas sehingga dikatakan
sebagai The Disease of Theory. Meskipun endometriosis bersifat jinak, akan tetapi
dampak klinis yang ditimbulkannya cukup serius, yaitu meningkatnya infertilitas,
nyeri panggul kronis, dan risiko menjadi ganas (Nurcahyo, 2010).
Endometriosis sangat sering terjadi dalam ovarium, ligamentum latum,
permukaan peritoneum dari kavum douglas termasuk ligamentum uterosakral,
serviks posterior, dan dalam septum rektovagina. Meskipun terdapat variasi
tempat yang besar, 60% p asien dengan endometriosis mempunyai keterlibatan
ovarium. Sumber lain menyebutkan tempat biasa yang banyak ditemukan
endometriosis yaitu di ovarium, tuba fallopi, round ligament , dan peritoneum
pelvis. Sedangkan usus, dinding vesica urinaria, umbilikus dan luka laparatomi
2
merupakan tempat biasa namun sedikit ditemukan. Keterlibatan nodus limfe, paru,
dan pleura sangat jarang ditemukan (Hacker dan Moore, 2007).
Endometriosis masih respon terhadap stimulas i hormonal, ditandai dengan
jaringan tersebut berubah sesuai dengan siklusnya . Endometriosis akan
berproliferasi, bersekresi, dan meluruh sesuai dengan siklus menstruasi. Peluruhan
dan perdarahan memicu terbentuknya adhesi fibrosa dan akumulasi dari pigmen
hemosiderin (Hoffman et al., 2012). Sebukan jaringan endometrium abnormal ini
memicu reaksi peradangan menahun (Jacob et al. , 2009). Robert S. Schenken
(2008) menyebutkan di dalam buku Danforth's Obstetrics and Gynecology bahwa
obstruksi dan perlengketan (adhesion) menjadi salah satu mekanisme yang
menyebabkan infertilitas pada wanita dengan endometriosis. Diperkirakan 25 -
50% dari wanita infertil mengalami endometriosis dan 30-50% dari wanita dengan
endometriosis mengalami infertilitas (Schenken, 2008).
Endometriosis tidak hanya berhubungan dengan infertilitas, namun juga
dapat berkembang kearah keganasan. Endometriosis memang tidak dapat disebut
sebagai kondisi premaligna, tetapi data epidemiologi, histopatologi, dan
molekuler memberi kesan endometriosis m empunyai potensi untuk menjadi
ganas. Simpson pada tahun 1925 pertama kali melaporkan bahwa endometriosis
dapat berubah menjadi ganas (Nurcahyo, 2010).
Beberapa data dan penelitian menjelaskan hubungan endometrioma
dengan kejadian kanker ovarium. Data National Swedish Cancer (2006)
menyatakan adanya peningkatan risiko terjadinya karsinoma ovarium sebesar 2,5
kali pada wanita endometriosis yang melakukan follow up diatas 10 tahun. Ness
juga menyatakan wanita yang terkena karsinoma ovarium 1,7 kali dengan riwayat
3
endometriosis. Sedangkan Brinton menyatakan adanya risiko keganasan ovarium
pada wanita endometriosis sebesar 4 kali setelah dilakukan follow up selama 10
tahun (Nurcahyo, 2010). P ada pemeriksaan penanda tumor CA125 ditemukan
meningkat sehingga se makin mendukung penjelasan diatas. Oleh karena itu
dibutuhkan penegakkan diagnosis yang cepat pada endometriosis (Hoffman et al.,
2012).
Temuan klinis pada endome triosis dapat berupa dismenorea (paling
sering), perdarahan abnormal, diskezia (nyeri saat bua ng air besar), penyumbatan
dan perdarahan intestinal, meningkatnya kejadian kehamilan ektopik, infertilitas,
dispareunia, kista coklat ovarium dan pembesaran ovarium (Hoffman et al. ,
2012). Temuan klinis yang bermacam -macam ini juga merupakan gejala pada
penyakit lain, hal ini menyebabkan endometriosis susah ditegakkan dengan
berdasar pada gejala klinis saja.
Diperkirakan lebih dari 70 juta perempuan dan gadis di seluruh dunia
menderita endomet riosis. Di A merika Serikat diperkirakan 5 -10% wanita usia
reproduksi mengalami endometriosis. Data lain menunjukkan bahwa
endometriosis mengenai wanita usia reproduksi sekitar 6 -10% dan 30 -45%
mengenai wanita dengan infertilitas (Oepomo, 2007). Endometriosis tercatat pada
sekitar 20% dari laparatomi ginekologi dan setengah dari kasus ini merupakan
penemuan yang tidak terduga (Hacker dan Moore, 2007).
Data penderita endometriosis di Indonesia belum diketahui secara pasti.
Namun, angka kejadian dari rumah sakit di Indone sia, di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Dr. Moewardi pada tahun 2001 melalui bedah ginekolo gi
ditemukan endometriosis berkisar 13,6% ; di RSUD Dr. Sutomo angka kejadian
4
endometriosis kelompok infertilitas berdasarkan penelitian yang dilakukan
Samsulhadi (199 4) yaitu 37,2% dan di RS Dr. Cipto Mangun Kusumo angka
kejadian endometriosis pada kelompok infertilitas berdasarkan peneliti an Yakob
(1998) berkisar 69,5% (Oepomo, 2007).
Sumatera Barat adalah salah satu provinsi yang belum memiliki data
mengenai gambaran endometriosis. Belum ada data pasti dari endometr iosis yang
ada di Sumater a Barat. Rumah Sakit Dr. M. Djamil merupakan Rumah Sakit
Umum Pusat (RSUP) yang ada di Sumatera Barat. Oleh karena itu data di RSUP
Dr. M. Djamil bisa menjadi gambaran endometriosis di Sumatera Barat.
Berdasarkan keterangan diatas, banyak hal yang menjadikan endometriosis
penting dalam ginekologi , diantaranya adalah gejala klinis dan lokasi anatomi
yang beragam sehingga sulit terdiagnosis, membutuhkan pemeriksaan laparaskopi
atau lap aratomi dan pemeriksaan histopatolog i, endometriosis berkaitan dengan
infertilitas, endometriosis bisa berkembang kearah kanker dan dapat menurunkan
kualitas hidup penderita (Hacker dan Moore , 2007; Oepomo, 2007). Oleh karena
itu penulis tertarik untuk mel akukan peneliti an mengenai ―Gambaran
Endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. M.Djamil Padang
Tahun 2010-2013‖.
1.2 Rumusan Masalah
―Bagaimana Gambaran Endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP
Dr. M.Djamil Padang Tahun 2010-2013?‖
5
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan Umum :
Mengetahui bagaimana Gambaran Endometriosis di Laboratorium Patologi
Anatomi RSUP Dr. M.Djamil Padang Tahun 2010-2013.
Tujuan Khusus:
1. Mengetahui distribusi endometriosis berdasarkan usia.
2. Mengetahui distribusi endometriosis berdasarkan riwayat paritas.
3. Mengetahui distribusi endometriosis berdasarkan lokasi anatomi.
4. Mengetahui gambaran endometriosis berdasarkan gejala klinis.
5. Mengetahui gambaran gejala klinis endometriosis berdasarkan lokasi anatomi.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti dalam melaksanakan
tugas selanjutnya.
2. Memberi sumbangan dalam pengeta huan tentang gambaran endometriosis di
RSUP. Dr. M.Djamil Padang.
3. Hasil penelitian diharapkan bisa digunakan sebagai data dasar kasus
endometriosis di Sumatera Barat.
6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Pengertian endometriosis menurut Kamus Kedokteran Dorland adalah
suatu keadaan dengan jaringa n yang mengandung stroma dan kelenjar
endometrium khas terdapat secara abnormal pada berbagai tempat di dalam
rongga panggul atau daerah lain pada tubuh ( Dorland, 2006). Menurut Drife
dan Magowan (2004) definisi endometriosis adalah ditemukannya jaringan
yang mengandung stroma dan kelenjar endometrium fungsional di luar kavum
uteri.
2.2 Epidemiologi
Endometriosis merupaka n penyakit progresif ginekologi yang sering
ditemukan pada wanita remaja dan usia reproduksi (15–44 tahun). Diagnosis
ditegakkan biasanya pada usia reproduktif yaitu 25 -29 tahun. (Jacoeb dan
Hadisaputra, 2009). Prevalensi pasti dari endometriosis masih belum
diketahui, karena dibutuhkan laparaskopi, laparatomi, dan histopatologi untuk
memastikan diagnosis. Namun demikian diperkirakan ada 3 -10% dari wanita
usia produktif yang mengalami endometriosis. Dua puluh lima persen sampai
tiga puluh lima persen dari jumlah tersebut ditemukan pada wanita infertil.
Endometriosis ditemukan pada 1 -2% wanita yang mengalami
sterilisasi atau pengembalian sterilisasi, 10% dari op erasi histerektomi, 16-
31% dari laparaskopi, dan 53% dari remaja dengan keluhan nyeri pelvis berat
(DeCherney et al , 2007) . Selain itu, Memardeh (2003) juga mendapatkan
7
bahwa endometriosis ditemukan pada 1 –2% penderita yang menjalani
sterilisasi, 10 % h isterektomi dan 16 –38 % pada laparaskopi (Andriana dan
Arsana, 2003). Endometriosis merupakan diagnosis g uinekologi yang paling
sering ditemukan pada pasien rawat inap di rumah sakit terutama usia 15 -44
tahun yaitu sekitar 6% dari semua pasien rawat inap (DeCherney et al., 2007).
Evers mendapatkan angka kejadian endometriosis ini pada 60–80%
penderita dismenore a, 30 –50% penderita nyeri perut, 25 –40% penderita
dispareunia, 30 –40% pasang an suami istri yang infertil , dan 10 –20% pada
penderita dengan siklus menstruasi yang kacau . Endometriosis tidak terbatas
pada nullipara, karena endometriosis juga sering ditemukan pada wanita
dengan infertilitas sekunder. Angka kejadian maksimum adalah se lama usia
30-40 tahun. Diagnosis umumnya agak terlambat ditegakkan pada mereka
yang datang dengan infertilitas daripada nyeri (Jacoeb dan Hadisaputra, 2009).
2.3 Etiopatogenesis
Mekanisme terjadinya endometriosis belum dapat diketahui secara
pasti. Namun beberpa teori telah dikemukakan dan dipercaya sebagai
mekanisme dasar endometriosis. Beberapa teori tersebut antara lain:
a) Teori Menstruasi Retrograde dan Implantasi
Teori ini dikemukakan oleh Sampson pada tahun 1927, dijelaskan
bahwa endometriosis terjadi karena darah menstruasi mengalir balik melalui
tuba ke dalam rongga pelvis (retrograde). Darah yang berbalik ke rongga
peritoneum diketahui mampu berimplantasi pada permukaan peritoneum dan
merangsang metaplasia peritoneum yang kemudian akan merangsang
angiogenesis. Hal ini dibuktikan dengan lesi endometriosis sering dijumpai
8
pada daerah yang meningkat vaskularisasinya. Kondisi hiperperistaltik dan
disperistaltik uterus yang terjadi pada wanita dengan endometriosis akan
meningkatkan peristiwa ini (Hoffman et al., 2012).
Dewasa ini, teori Sampson tidak lagi menjadi teori utama, karena teori
ini tidak dapat menjelaskan keada an endometriosis di luar pelvis. Teori yang
menguatkan bahwa teori Sampson tidak dapat lagi diterima adalah telah
ditemukan bahwa partikel endometrium yang memasuki rongga peritoneal
akan diserang dan dihancurkan oleh proses imunnologi yang masih belum
dapat diteliti. Selain itu, teori m enstruasi retrograde tidak dapat menjelaskan
mekanisme terjadinya endometriosis di organ -organ lain, sehingga
endometriosis dipercaya memiliki beberapa patogenesis lain (Hoffman et al.,
2012).
b) Teori Emboli Limfatik dan Vaskuler
Teori ini dapat menjelaskan mekanisme terjadinya endometriosis di
daerah luar pelvis. Daerah retroperitoneal memiliki banyak sirkulasi limfatik.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa pada 29 % wanita yang menderita
endometriosis ditemukan nodul limfa pada pelvis. Hal ini dapat menjadi s alah
satu dasar teori akan endometriosis yang terjadi di luar pelvis, contohnya di
paru. Selain itu, penyebaran adenokarsinom a melalui jalur limfatik
mendukung teori endometriosis bisa menyebar melalui jalur limfatik
(Hoffman et al., 2012).
c) Teori Metaplasia Selomik
Teori metaplasia ini dikemukakan oleh Robert Meyer yang
menyatakan bahwa endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel -sel
9
epitel yang berasal dari sel epitel selomik pluripoten dapat
mempertahankan hidupnya di daerah pelvis, sehingga terbentuk jaringan
endometriosis. Teori ini didukung oleh penelitian -penelitian yang dapat
menerangkan terjadinya pertumbuhan endometriosis di toraks, umbilikus
dan vulva (Hoffman et al., 2012).
d) Teori Imunologik dan Genetik
Didalam buku Williams Gynecology (2012) diterangkan bahwa
gangguan imunitas terjadi pada wanita yang menderita endometriosis.
Dmowski dkk. mendapatkan adanya kegagalan dalam sistem pengumpulan
dan pembuangan zat-zat sisa saat menstruasi oleh makrofag dan fungsi sel
NK (Natural Killer) yang menurun pada endometrio sis. Beberapa
penelitian menemukan peningkatan IgA, IgG dan IgM dalam serum
peritoneal penderita endometriosis.
Selain itu k adar C3 (Complement-3) juga berfluktuasi, tetapi
meningkat di dalam serum pada en dometriosis yan g lebih berat.
Complement-3 merupakan komplemen yang memegang kunci penting
untuk berawalnya kaskade proses imunologis tubuh. Komplemen ini
dipakai oleh antibodi untuk proses penghancuran dinding sel sehingga
merusak sel. Kadar C3 yang tinggi di dalam seru m menunjukkan
komplemen tersebut tidak dikonsumsi dalam proses imunologi dan proses
sitolisis tidak berlangsung. Hal ini yang menerangkan mengapa teori
Sampson tidak berlaku untuk semua wanita sehingga bisa menyababkan
endometriosis (Hoffman et al., 2012).
10
2.4 Faktor Risiko
Berdasarkan beberapa sumber, dapat disimpulkan r esiko tinggi
terjadinya endometriosis ditemukan pada :
a) Wanita yang ibu atau saudara perempuannya menderita
endometriosis (Mounsey et al., 2006 ; Hoffman et al., 2012)
b) Wanita usia produktif yaitu 15 –44 tahun (Jacoeb dan Hadisaputra,
2009)
c) Wanita dengan siklus menstruasi kurang dari 28 hari atau siklus
menstruasi 28-34 hari (Mounsey et al., 2006)
d) Usia menars yang lebih awal dari normal (Limbong, 2012)
e) Lama waktu menstruasi kurang dari 6 hari atau lebih dari 6 hari
(Mounsey et al., 2006)
f) Adanya orgasme ketika menstruasi (Limbong, 2012)
g) Terpapar toksin dari lingkungan (Hoffman et al., 2012)
h) Defek Anatomi (Hoffman et al., 2012)
i) Mengkonsumsi alkohol (Mounsey et al., 2006)
j) Pernah mengkonsumi kontrasepsi oral (Mounsey et al., 2006)
2.5 Klasifikasi dan Lokasi Anatomi Endometriosis
2.5.1 Klasifikasi
Penentuan klasifikasi dan stadium endometriosis sangat penting
dilakukan untuk menerapkan cara pengobatan yang tepat dan untuk
evaluasi hasil pengobatan. Klasifikasi Endometriosis yang digunakan saat
ini adalah menurut American Society For Reproductive Medicine yang
telah di revisi pada tahun 1997 yang berbasis pada tipe, lokasi, tampilan,
11
kedalaman invasi lesi, penyebaran penyakit dan pe rlengketan. Klasifikasi
tersebut sebagai berikut :
a) Stadium I (minimal) 1–5
Implantasi terbatas dan tidak ada perlengketan
b) Stadium II (ringan) 6–15
Implantasi superfisial berkelompok dengan luas kurang dari 5 cm,
tersebar pada ovarium dan peritoneum. Tidak ada perlengketan yang
nyata.
c) Stadium III (sedang) 16–40
Implantasi superfisial dan dalam jumlah yang multipel. Terdapat
perlengketan peritubal dan periovarium.
d) Stadium IV (berat) >40
Implantasi superfisial dan dalam yang multipel, terdapat
endometrioma ovarium yang besar. Terdapat perlengketan yang yang
hebat.
12
Gambar.2.1 Klasifikasi endometriosis menurut American Society For Reproductive Medicine yang
telah di revisi pada tahun 1997 (Sumber : Hoffman LB, Schorage JO, Schaffer JI,
Halvorson LM, Bradshaw KD, Cunningham FG, 2012. Williams Gynecology. 2 nd
Edition. New York : McGraw-Hill Companies, 285)
13
Gambar.2.2 Stadium dari endometriosis (Sumber : DeCherney, AH, Nathan L, Goodwin, Murphy,
Laufer, Neri. 2007. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New
York : McGraw-Hill Companies, Chapt.43)
2.5.2 Lokasi Anatomi
Endometriosis bisa terjadi di mana saja dalam pelvis dan pada permukaan
peritoneal di luar pelvis . Paling umum, endometriosis ditemukan di daerah
panggul. Ovarium, peritoneum di bagian panggul, anterior dan posterior cul-de-
sac, dan ligamen uterosakral sering terlibat. Selain itu, septum rektovaginal,
ureter, dan kandung kemih. Kista coklat ovarium (endometrioma) adalah
manifestasi umum dari endometriosis. Endometriosis juga ditemukan di
perikardium, bekas luka bedah, dan pleura namun kasusnya jarang . Sebuah teori
patologi mengungkapkan bahwa endometriosis telah diidentifikasi pada semua
organ kecuali limpa (Hoffman et al., 2012).
14
Tabel.2.1 Distribusi Frekuensi Lokasi Anatomi Endometriosis
(Penelitian diambil dari 500 kasus, banyak wanita yang menunjukkan kasus keterlibatan multipel
lokasi anatomi)
Lokasi Persentase
Ligamentum Uterosakral 63 %
Permukaan Ovarium 56%
Endometrioma 19.5%
Fossa Ovarium 32.5%
Anterior Vesika Urinaria 21.5%
Cavum Douglas 18.5%
Ligamentum Latum 7.5%
Usus 5%
Tuba Fallopi 4%
Nodus Iskemik Tuba 3%
Uterus 4.5%
Sumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis, 3rd
Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 40
Gambar 2.3 Lokasi Anatomi Ditemukan Endometriosis (Sumber : Oats J, Suzanne A, 2010.
Fundamentals of Obstetrics and Gynaecology. 9th Edition, Philadelphia : Mosby Elsevier,
272)
2.6 Gejala Klinis
Gejala klinis pada endometriosis akan memuncak pada keadaan
premenstruasi, dan mereda setelah menstruasi selesai. Nyeri panggul adalah gejala
yang paling umum terjadi, gejala lain adalah dispareunia, dismenorea, nyeri pada
15
kandung kemih dan nyeri pada punggung bawah. Endometriosis muncul den gan
gejala yang tidak khas tetapi muncul sesuai siklus menstruasi. Misalnya, wanita
dengan endometriosis saluran kemih dapat menggambarkan infeksi saluran kemih
siklik dan hematuria; wanita dengan keterlibatan rektosigmoid mengeluhkan
hematoschezia siklik; dan lesi di pleura menunjukkan gejala pneumotoraks
menstruasi atau batuk berdarah (hemomptisis) (Hoffman et al., 2012).
a) Dismenorea
Nyeri siklik saat menstruasi umum ditemukan pada wanita dengan
endometriosis. Biasanya, dismenorea dimulai 24-48 jam sebelum menstruasi dan
kurang respon terhadap obat anti inflamasi non steroid (OAINS) dan kombinasi
kontrasepsi ora l. Nyeri pada dismenor ea dengan endometriosis ini lebih parah
dibandingkan dengan dimenorea primer. Selain itu , endometriosis yang sangat
invasif, yaitu endometriosis dengan invasi >5 mm di bawah permukaan peritoneal,
juga berhubungan dengan tingkat keparahan dismenorea (Chapron, 2003).
b) Dispareunia
Endometriosis terkait dispareunia yang paling sering berhubungan dengan
lokasinya di septum rektovaginal atau di ligamen uterosakral . Keterlibatan
ovarium jarang dihubungkan dengan dispareunia (Murphy, 2002). Nyeri tersebut
muncul karena ligamen uterosakral tegang s elama koitus (Fauconnier, 2002).
Endometriosis dicurigai jika dispareunia muncul pada orang yang telah bertahun-
tahun melakukan koitus namun sebelumnya tidak pernah mengeluhkan nyeri saat
koitus (Ferrero, 2005).
16
c) Nyeri pelvis
Nyeri pelvis sering ditemukan dengan kondisi nyeri yang tidak sesuai
dengan periode mestruasi atau aktifitas seksual, tetapi seringkali dirasakan terus -
menerus (kronik) pada pel vis. Nyeri pelvis dihubungkan d engan adanya
perlengketan dan ditemukannya jaringan parut pada pelvis. Penyebab pasti nyeri
masih belum jelas. Salah satu penyebabnya diduga karena adanya su bstansi
sitokin dan prostaglandin yang dihasilkan oleh implan endometriosis ke cairan
peritoneum (Giudice, 2010).
d) Nyeri punggung bawah
Endometriosis yang terjadi pada ligamen u terosakral dapat menghasilkan
nyeri yang menjalar hingga ke punggung bagian belakang. Nyeri dari uterus juga
dapat menjalar ke area tersebut.
e) Infertilitas
Endometriosis sangat erat kaitannya dengan infertilitas, dan diperkirakan
20% sampai 40% perempuan infertil menderita endometriosis (Speroff, 2005).
Pada endometriosis berat te rjadi distorsi dari anatomi panggul, perubahan bentuk
anatomi dari tuba falloppii dan dapat pula terjadi obstruksi dari tuba falloppii.
Pada endometriosis berat terbentuk endometrioma yang besar kadang berganda
yang merusak jaringan ovarium, secara mekanis mengganggu ovulasi dan
fertilisasi. Dengan kondisi seperti ini dengan mudah dapat dijelaskan bahwa
gangguan mekanis sangat berperan terhadap fungsi reproduksi. Endometriosis
ringan yang pada pengamatan dengan laparoskop tidak terjadi distorsi seperti pada
endometriosis berat tetapi dapat menimbulkan infertilitas (Oepomo, 2007).
17
Infertilitas yang berhubungan dengan endometriosis dapat dijelaskan
melalui mekanisme (Speroff, 2005) : (1) Distorsi anatomi dari adnexsa,
menghalangi atau mencegah penangkapan ovum sesudah ovulasi ; (2) Gangguan
pertumbuhan oosit atau embryogenesis dan; (3) Penurunan reseptivitas atau
kemampuan menerima endometrium.
Pada endometriosis yang ringan kemungkinan besar mekanisme infertilitas
disebabkan oleh : (1) gangguan pada implantasi; (2) defek imunologi dan; (3)
penurunan kualitas oosit karena terganggunya proses folikulogenesis.
f) Nyeri pada kandung kemih dan Disuria
Lesi superfisial pada kandung kemih biasanya asimtomatik. Lesi dapat
menyerang otot dan menimbulkan nyeri saat berkemi h, dan dysuria. Meskipun
keluhan ini tidak selalu muncul pada penderita endometriosis, namun kelu han
nyeri pada kandung kemih, di suria, dan urgensi pada wanita tetap menjadi gejala
pada wantia yang terkena endometriosis, terutama jika keluhan ini disertai hasil
kultur urin yang negatif.
g) Nyeri saat defekasi
Nyeri saat defekasi merupakan gejala yang paling jarang muncul
dibandingkan dengan gejala lain pada endometriosis. Biasanya gejala ini
mencerminkan adanya implan endometriosis di rektosigmoid. Gejala ini dapat
terjadi secara kronik, siklik, dan sering berhubungan juga dengan gejala seperti
konstipasi, diare, atau hematoschezia (Hoffman et al., 2012).
h) Penyumbatan Intestinal
Varras ( 2002) dalam buku Williams Gynecology menyebutkan bahwa
endometriosis bisa melibatkan usus kecil, sekum, apendiks atau kolon
18
rektosigmoid dan menyebabkan obstruksi usus dalam beberapa kasus (Hoffman et
al., 2012) . Meskipun endometriosis pada saluran pencernaan biasanya te rbatas
pada usus dinding subserosa dan muskularis propia, namun pada kasus yang berat
bisa melibatkan lapisan transmural . Hal ini menimbulkan gambaran klinis dan
gambaran radiologi yang sama dengan keganasan (Decker, 2004).
Tabel.2.2 Distribusi Frekuensi Gejala pada 500 Wanita Endometriosis
Gejala Persentase (%)
Dismenorea 60 – 80
Nyeri Pelvis 30 – 50
Infertilitas 30 – 40
Dispareunia 25 - 40
Menstruasi tidak teratur 10 – 20
Disuria/haematuria siklik 1 – 2
Dyschezia siklik 1 – 2
Perdarahan Rektum siklik <1
Sumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd
Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 10.
2.7 Hubungan Gejala Klinis dengan Lokasi Anatomi ditemukannya
Endometriosis
Hubungan gejala klinis yang muncul dengan lokasi anatomi ditemukannya
implan endometriosis secara pasti masih belum jelas mekanismenya. Namun
berdasarkan beberapa teori yang sudah dibahas diatas, gejala klinis yang muncul
bisa dihubungkan dengan lokasi anatomi ditemukannya implan endometriosis.
Namun Overton et al. (2007) dalam buku An Atlas of Endometriosis menyebutkan
bahwa tidak selalu lok asi anatomi yang ditemukan impla n endometriosis
menimbulkan keluhan di lokasi tersebut, hal itu bergantung kepada kedalaman
infiltrasi dari implan dan kearah mana pertumbuhan dari implan tersebut (Overton
19
et al., 2007). Tabel 2.3 menunjukkan hubungan gejal klinis pada pasien dengan
lokasi anatomi ditemukannya implan endometriosis.
Tabel.2.3 Gejala Klinis Berdasarkan Lokasi Implan Endometriosis
Lokasi Gejala Klinis
Saluran Reproduksi Dismenorea
Perut bawah dan Pelvis Nyeri
Dispareunia
Infertilitas
Menstruasi tidak teratur
Nyeri Pinggang
Saluran Pencernaan Tenesmus Siklik/ Perdarahan
Diare
Konstipasi
Saluran Kemih Hematuria Siklik/Nyeri
Penyumbatan Uretra
Luka Operasi, Umbilikus Nyeri Siklik dan Perdarahan
Paru-Paru Batuk Darah Siklik
Sumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis, 3rd
Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 10.
2.8 Diagnosis Banding
Berdasarkan geja la dan tanda klinis dari endomet riosis maka didap atkan
beberapa diagnosis banding yaitu :
a). Kelainan Ginekologi
Pelvic Inflammatory Disease , tubo-ovarian ab scess, salpingitis,
endometritis, perdarahan kista ovarium , torsio uteri , dismenorea primer,
degenerating leiomyoma.
20
b). Kelainan Non Ginekologi
Interstitial cystitis , infeksi traktus urinarius kronik, batu ginjal ,
inflammatory bowel disease, irritable bowel syndrome, divertikulitis, limfadenitis
mesenterikus, kelainan musculoskeletal.
2.9 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
a) Anamnesis
Keluhan utama pada endometriosis adalah nyeri . Nyeri pelvik
kronis yang disertai infertilitas juga merupakan masalah klinis utama pada
endometriosis. Endometrium pada organ tertentu akan menimbulkan efek
yang sesuai dengan fungsi organ tersebut, sehingga lokasi penyakit dapat
diduga. Riwayat dalam kelu arga sangat penting untuk ditanyakan karena
penyakit ini bersifat diwariskan. Kerabat jenjang pertama berisiko tujuh
kali lebih besar untuk mengalami hal serupa . Endometriosis juga lebih
mungkin berkembang pada saudara perempuan monozigot daripada
dizigot. Rambut dan nevus displastik telah diperlihatkan b erhubungan
dengan endometriosis (Limbong, 2012).
b) Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Endometriosis adalah penyakit yang sebagian besar ditemukan di
dalam rongga panggul. Oleh karena itu , sering tidak ada kelainan yang
ditemukan pada inspeksi. Kecuali pada endometriosis di bekas luka
episiotomi atau bekas luka operasi . Endometriosis jarang dapat
21
berkembang secara spontan pada daerah perineum atau perianal (Hoffman
et al., 2012).
Pemeriksaan dengan Spekulum
Pemeriksaan vagina dan leher rahim dengan spekulum sering
memberi kesan tidak ada tanda-tanda endometriosis. Kadang-kadang,
kebiruan atau merah (burn powder lesion ) dapat dilihat pada serviks atau
forniks posterior vagina. Lesi ini bisa lunak atau berdarah saat kontak.
Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa pemeriksaan spekulum
memperlihatkan lesi endometriosis pada 14% pasien yang didiagnosis
infiltrasi endometriosis (Chapron, 2003).
Pemeriksaan Bimanual
Palpasi or gan panggul sering me mperlihatkan kelainan anatomi
yang dicurigai endometriosis. Nodul yang lunak pada ligamen uterosakral
mencerminkan penyakit aktif di sepanjang ligamen. Sel ain itu, massa
adneksa kistik yang membesar dapat menunjukkan adanya endometrioma
ovarium. Pemeriksaan bimanual d apat me nunjukkan retroversi uterus,
uterus lembek yaitu dengan perabaan posterior cul-de-sac.
Meskipun palpasi organ panggul dapat membantu dalam diagnosis,
adanya nyeri panggul saat pemeriksaan lebih fokus dalam mendeteksi
endometriosis yaitu dengan sensitivitas 36-90% dan spesifisitas 32-92%
(Hoffman et al. , 2012 ). Sebagai contoh, Chapron dan rekan kerja nya
(2003) dalam Hoffman et al. (2012) mempalpasi nodul yang nyeri pada
43% pasien endometriosis.
22
b) Uji Laboratorium
Penanda Kanker antigen 125 (CA125) serum
Kanker antigen 125 (CA125) merupakan sebuah penentu antigen
pada glikoprotein, CA125 telah diidentifikasi pada beberapa jaringan
dewasa seperti epitel saluran tuba, endometrium, endoserviks, pleura, dan
peritoneum ( Hoffman et al ., 2012). Menurut Hornstein dalam buku
Williams Gynecology Kadar CA125 tinggi telah terbukti berkorelasi
positif dengan t ingkat keparahan endometriosis . Namun Mol menjelaskan
pemeriksaan CA125 memiliki sensitivitas yang buruk dalam mendeteksi
endometriosis ringan (Hoffman et al. , 2012). Penanda ini tampaknya
menjadi tes yang lebih baik dalam mendiagnosis endometriosis stadium III
dan IV.
Penanda lain
Kanker antigen 19 -9 (CA 19 -9) adalah penanda yang juga telah
terbukti berkorelasi positif dengan tingkat keparahan endometriosis
(Hoffman et al., 2012). Selain itu kadar interleukin-6 (IL-6) serum di atas
2 pg / mL juga dijadikan penanda dengan sensitivitas 90% dan spesifisitas
67%. Untuk membedakan mereka dengan endometriosis peritoneum atau
tidak, bisa digu nakan patokan kadar Tumor Necrotizing Factor - (TNF-)
pada cairan peritone al dengan kadar di atas 15 pg / mL , penanda ini
mempunyai sensitivitas 100% dan spesifisitas 89% (Bedaiwy, 2002).
23
c) Pencitraan Diagnostik
Pencitraan Diagnostik yang bisa dilakukan untuk melihat
endometriosis a dalah Ultrasonography (USG) dan Magnetic Resonance
Imaging (MRI) (Hoffman et al., 2012).
d) Laparaskopi Diagnostik
Laparoskopi diagnostik adalah metode utama yang digunakan
untuk mendiagnosis endometriosis (Kennedy, 2005). Temuan laparskopi
yang dilihat adalah lesi endometriosis yang terpisah , endomterioma, dan
terbentuknya perlengketan (adhesion) (Hoffman et al., 2012).
e) Pemeriksaan Patologi Anatomi
Inspeksi visual dengan laparoskopi biasanya adekuat untuk
mendiagnosis endometriosis tetapi konfirmasi histopatologi idealnya tetap
dilakukan. Diagnosis histologis ditegakkan apabila ditemukan kelenjar dan
stroma endometrium. Kelenjar dan stroma endometrium yang ditemukan
kadang disertai deposit hemosiderin dan fibromuskular (Murphy, 2002).
Gambaran histologi kelenjar, stroma, dan deposit hemosiderin dapat
dilihat pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Gambaran Histologi Endometriosis - Pada gambar terlihat adanya struktur kelenjar
dan stroma endometrium disertai deposit hemosiderin. (Sumber : Overton C, Davis C,
McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd Edition. United Kingdom :
UK Informa Ltd, 42)
24
Pemeriksaan patolog i anatomi dilakukan untuk melihat sedimen
secara makroskopik dan mikroskopik (histologi). Overton et al. (2007)
dalam buku An Atlas of Endometriosis mengatakan bahwa endometriosis
dikelompokkan berdasarkan bentuk maksrosk opik dan mikroskopiknya
menjadi :
1. Implan Klasik
Implan klasik adalah implan nodular ditandai dengan
berbagai tingkat fibrosis dan pi gmentasi, sehingga warna akan
bervariasi dari putih ke coklat atau hitam. Pewarnaan coklat dan
hitam disebabkan oleh jumlah h emosiderin. Pemeriksaan histologi
dari biopsi implan menunjukkan jaringan epitel ke lenjar dikelilingi
oleh stroma.
2. Implan Vesikular
Implan vesikuler berukuran kecil, dapat te rjadi secara
tunggal atau berkelompok. Ciri khas dari i mplan ini adalah adanya
vaskularisasi yang menonjol dan tamp ak berwarna merah .
Peritoneum sekitar juga dapat menunjukkan peningkatan
vaskularisasi. Histologi dari lesi menunjukkan adanya epitel
permukaan dan stroma endometrium yang hipervaskuler. Cairan
menumpuk di antara permukaan implan dan perito neum yang
melapisi, sehingga berbentu k seperti vesikel atau lepuhan. Selain
berwarna merah, i mplan vesikuler juga ditemukan berwarna putih.
Implan diduga merupakan tahap awal perkembangan implan
sebelum terjadi vaskularisasi dan perdarahan.
25
3. Implan Papular
Implan p apular adalah implan kecil, bisa dalam bentuk
tunggal atau berkelompok. Warna implan ini biasanya keputih -
putihan atau kadang -kadang kuning. Secara histologi, struktur
kelenjar kistik dengan stroma ditemukan tertutup dalam jaringan
subperitoneal. Peritoneum yang melapisi implan sering
hipervaskular, dan akumulasi hasil produk sekretori dalam struktur
kistik yang berisi cairan putih keruh atau kuning.
4. Implan Hemoragik
Implan hemoragik berkembang ketika implan memiliki
epitel permukaan yang ditutupi oleh stroma dengan pembuluh
darah yang banyak . Implan hemoragik adalah implan yang aktif.
Implan ini mengikuti semua fase pada siklus menstruasi.
5. Implan Nodular
Berbeda dengan implan klasik i mplan nodular t idak
memiliki epitel permukaan . K omponen implan respon terhadap
hormon, berproliferasi, mengalami vasodilatasi pembuluh darah
tetapi tidak mencapai aktivitas sekretori penuh. Tidak ad a
perdarahan pada fase menstruasi pada implan.
6. Implan Menyembuh (Healed Implant)
Implan sembuh masih mengandung sedikit kelenjar kistik
dan tidak ada stroma. Implan sembuh dikelilingi oleh jaringan ikat,
berbentuk nodular atau fibrosis pada daerah implant tersebut.
26
Penjelasan diatas dirangk um dalam t abel 2.3. Selain tipe implan yang
dijelaskan diatas, terdapat bentuk lain dari lesi endometriosis. Lesi ini
digolongkan sebagai implan atipik yang dijelaskan dalam tabel 2.4.
Tabel.2.4 Karakteristik Histologi Implan Endmetriosis dan Gambaran
Laparaskopinya
Tipe Histologi Gambaran Laparaskopi Komponen
Respon terhadap
Hormon
Bebas
(Free)
Hemoragik vesikel dan
lepuhan
epitel permukaan
kelenjar
proliferatif,
sekretorik,
dan stroma dan menstruasi
Tertutup
(Closed) papul dan nodul kelenjar dan stroma
proliferatif,
sekretorik,
tidak menstruasi
Menyembuh
(Healed)
nodul putih atau luka datar
fibrosis kelenjar saja tidak ada respon
Sumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd
Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 37.
Tabel.2.5 Pemeriksaan Histologi dari Implan Atipik
Jenis Implan Endometriotik elemen
Klasik 93%
White opacified 81%
Red flame-like 81%
Glandular 67%
Hipervaskularisasi 50%
Perlengketan dibawah ovarium 50%
Yellow-brown patches 47%
Circular peritoneal defects 45%
Sumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd
Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 38.
Endometriosis yang ditemui tidak sama bentuknya disetiap lokasi
anatomi, beberapa bentuk makroskopis endometriosis sesuai dengan lokasi
ditemukannya adalah (Limbong, 2012):
27
1. Endometriosis peritoneum
Lesi di peritoneum memiliki banyak vaskularisasi, sehingga
menimbulkan perdarahan saat menstrua si. Lesi yang aktif akan
menyebabkan timbulnya perdarahan kronik rek uren dan reaksi inflamasi
sehingga tumbuh jaringan fibrosis dan sembuh. Lesi berwarna merah dapat
berubah menjadi lesi berwarna hitam dan setelah itu lesi akan berubah
menjadi lesi putih yang memiliki sedikit vaskularisasi dan akan ditemukan
juga debris glandular.
2. Endometriosis ovarium (Endometrioma)
Pada Endometrioma dapat timbul kista yang berwarna coklat dan
sering te rjadi perlengketan dengan organ –organ lain, kemudian
membentuk konglome rasi. Endometrioma dapat berukuran >3cm dan
multilokus, juga dapat tampak seperti kista coklat karena penimbunan
darah dan debris ke dalam rongga kista.
3. Endometriosis nodular dalam
Pada endometriosis jenis ini, jaringan ektopik menginfiltrasi
septum rektovaginal atau struktur fibromuskuler pelvis seperti uterosakral
dan ligamentum utero -ovarium. Nodul -nodul dibentuk oleh hiperplasia
otot polos dan jaringan fibrosis di sekitar jaringa n yang menginfiltrasi.
Jaringan endometriosis akan tertutup sebagai nodul, dan tidak ada
perdarahan.
2.10 Prognosis
Pada kasus endometriosis, salah satu yang terpenting adalah
penderita harus diberikan konseling dan pengertian tentang penyakit yang
28
dideritanya secara tepat. Pasien harus diberi pengertian bahwa pengobatan
yang diberikan belum tentu dapat menyembuhkan. Operasi definitif tidak
dapat memberikan kesembuhan total, sekalipun resiko relaps (kambuh)
sangat rendah yaitu hanya 3%.
Resiko relaps lebih rendah dengan diberikannya terapi sulih hormon
estrogen. Setelah dilakukan operasi konse rvatif, tingkat kekambuhan
dilaporkan sangat bervariasi. Jumlah kasus yang terjadi rata - rata melebihi
10% dalam tiga tahun dan 35 % dalam lima tahun.
29
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan
mengambil data Laboratorium Patologi Anatomi dari pasien endometriosis
yang diperiksa di Laboratorium Patol ogi Anatomi RS UP D r. M Djamil
Padang periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2013.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Pengambilan data dan penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi
Anatomi RSUP Dr. M Djamil Padang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Juli 2014 - Oktober 2014.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua p asien endometriosis
yang berobat ke RSUP Dr. M Djamil Padang periode 1 Januari 2010 - 31
Desember 2013.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik
Total Sampling dimana sampel adalah semua pasien yang telah didiagnosis
secara histopatologi sebagai endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi
RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2013.
30
Menentukan sampel berdasarkan kriteria yang ditentukan sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi.
Semua pasien yang telah didiagnosis secara histopatologi sebagai
endometriosis di Laboratorium Patologi Anantomi RS UP D r. M Djamil
Padang.
b. Kriteria Ekslusi
Data pasien endometriosis yang tidak lengkap.
3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional penelitian ini meliputi :
1. Endometriosis
Endometriosis adalah suatu keadaan ditemukannya jaringan
yang mengandung stroma dan kelenjar endometrium fungsional di luar
kavum uteri ( Drife dan Magowan, 2004).
2. Usia
Definisi usia dalam penelitian ini adalah lamanya seorang
pasien mengalami kehid upan sejak lahir sampai saat dilakukan
pemeriksaan patologi anatomi. Pengukuran usia dilakukan dengan
menggunakan skala interval dan akan dikelompokkan menjadi:
a) Reproduktif, jika berusia 15- 44 tahun (Jacoeb dan Hadisaputra,
2009)
b) Menopause dan Postmenopause, jika berusia > 45 tahun (Kasdu,
2002; Spencer dan Brown, 2007)
31
3. Riwayat Paritas
Definisi riwayat paritas dalam penelitian ini adalah jumlah
persalinan bayi di atas 20 minggu atau lebih baik lahir hidup ataupun
meninggal yang pernah dialami pasien sebelumnya . Paritas
dikategorikan menjadi (Cunningham et al., 2013):
a. Nulipara, jika pasien belum pernah menyelesaikan kehamilan
melewati gestasi 20 minggu, pasien mungkin pernah atau belum
pernah hamil, pernah abortus spontan at au elektif, atau
mengalami kehamilan ektopik.
b. Primipara, jika pasien pernah satu kali melahirkan bayi yang
lahir hidup atau meninggal dengan perkiraan lama gestasi 20
minggu atau lebih.
c. Multipara: j ika pasien pernah melahirkan dua atau lebih bayi
hidup atau meninggal dengan perkiraan lama gestasi 20 minggu
atau lebih.
4. Lokasi Anatomi
Definisi lokasi anatomi dalam penelitian ini adalah tempat
ditemukan lesi endometriosis secara klinis dan terbukti dengan
pemeriksaan histopatologi. Skala yang digunakan adalah skala
nominal. Untuk memudahkan dalam menganalisis, lokasi anatomi
dikelompokkan berdasarkan :
a) organ genitalia interna uterus, tuba fallopi dan ovarium
(endometrioma)
b) organ genitalia eksterna vulva, vagina dan serviks
32
c) bukan organ genitalia perineum, peritoneum, usus, ureter,
vesika urinaria, rektum, cul-de-sac, ligamentum latum, round
ligament, kolon sigmoid, appendix, umbilikus, septum rektovagina,
dll.
5. Gejala Klinis
Definisi gejala klinis dalam penelitian ini adalah keluhan yang
muncul pad a pasien yang berkaitan dengan endometriosis. Gejala
klinis yang dilihat adalah berdasarkan pencatatan yang ada di status
pasien, seperti nyeri pelvis, dismenorea, dispareunia, diskezia, disuria,
infertilitas, penyumbatan intestinal, dll. Skala yang digunakan adalah
skala nominal.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan adalah lembar permintaan pemeriksaan
histopatologi dan hasil pemeriksaan histopatologi.
3.6 Prosedur Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berasal dari data sekunder. Data d iambil dari
buku hasil pemeriksaan Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. M. Djamil
Padang lalu dilakukan evakuasi, pencatatan, pengolahan dan analisis data.
3.7 Proses Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul akan di kelompokkan berdasarkan definisi
operasional yang sudah ditentukan. Setelah itu data dimasukkan ke dalam
master tabel penelitian, dilakukan pengecekan ulang data yang dimasukkan,
33
diolah secara manual, kemudian dilakukan pengecekkan ulang dari hasil yang
sudah didapatkan.
3.8 Analisis dan Penyajian Data
3.8.1 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian
ini untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase yang meliputi usia, lokasi
anatomi, gejala klinis, dan riwayat obstetri.
1.8.2 Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
34
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Umum Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RS UP Dr. M. Djamil Padang yang berlokasi di
Jalan Perintis Kemerdekaan. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan dari bulan
Agustus sampai September dipero leh 113 pasiena yang terdiagnos is secara klinis
sebagai endometriosis tetapi hanya 33 dari pasien tersebut yang terdiagnosis
secara patologi anatomi. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 33 sampel.
Semua data pada penelitian ini diambil dari data sekunder yaitu lembar
permintaan dan hasil p emeriksaan patologi anatomi serta catatan rekam medik
pasien yang terdiagnosis endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP
Dr. M. Djamil Padang.
4.2 Hasil Analisis Univariat
4.2.1 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Usia
Distribusi endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP. Dr. M.
Djamil Padang periode 2010-2013 berdasarkan usia, dapat dilihat pada tabel 4.1:
Tabel 4.1 Distribusi endometriosis berdasarkan usia
Kelompok Usia F %
Usia Reproduktif 21 64
Usia Menopause dan Post Menopause 12 36
Total 33 100
35
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa pasien endometriosis
banyak terdiagnosis pada usia reproduktif yaitu sebanyak 21 orang (64%), lebih
banyak dari pada usia menopause dan post menopause.
4.2.2 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Riwayat Paritas
Berdasarkan riwayat paritas, pasien endometriosis di Laboratorium
Patologi Anatomi RSUP. Dr. M. Djamil Padang periode 2010 -2013 terbanyak
adalah nulipara sebanyak 15 orang (46%). Data lengkap distribusi endometrioisis
berdasarkan riwayat paritas dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2 Distribusi endometriosis berdasarkan riwayat paritas
Riwayat Paritas f %
Nulipara 15 46
Primipara 7 21
Multipara
Tidak diketahui
7
4
21
12
Total 33 100
4.2.3 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi
Dari penelitian yang sudah dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi
RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2010 -2013 diketahui bahwa lokasi anatomi
terbanyak ditemukan endometriosis yaitu di organ genitalia interna sebanyak 33
kasus (100%). Organ genitalia in terna terbanyak ditemukan endometriosis yaitu
ovarium sebanyak 27 kasus (82%). Sementara itu endometriosis yang ditemukan
di luar organ genitalia sebanyak 6 kasus (18%) yaitu 1 kasus di kolon (3%), 3
kasus di omentum (9%), dan 2 kasus di apendiks (6%). Gambaran lengkap
36
distribusi endometriosis berdasarkan lokasi anatomi bisa dil ihat pada tabel 4.3
berikut:
Tabel 4.3 Distribusi endometriosis berdasarkan lokasi anatomi
Lokasi Anatomi f (n=33)* %
Organ genitalia interna
Uterus
Ovarium
Tuba
Servix
33
18
27
5
2
100
54
82
15
6
Organ genitalia
eksterna
0 0
Bukan organ genitalia
Kolon
Omentum
Apendiks
6
1
3
2
18
3
9
6
*sebagian besar sampel menunjukkan keterlibatan multipel lokasi anatomi
4.2.4 Gambaran Endometriosis Berdasarkan Gejala Klinis
Gambaran endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP. Dr.
M. Djamil Padang periode 2010 -2013 berdasarkan gejala klinis mendapatkan
hasil bahwa dari semua gejala klinis yang ditemukan, ada empat gejala klinis yang
paling sering ditemukan yaitu dismenorea sebanyak 23 orang (70%), bengkak di
perut sebanyak 14 orang (42%), infertilitas sebanyak 12 orang (36%) , dan
perdarahan uterus disfungsional sebanyak 12 orang (36%) . Semua gej ala klinis
yang ditemukan pada penelitian bisa dilihat pada tabel 4.4 berikut :
37
Tabel 4.4 Gambaran endometriosis berdasarkan gejala klinis
Gejala Klinis f (n=33) %
Nyeri
Dismenorea
Nyeri Pelvis
Dispareunia
23
4
2
70
12
6
Bengkak di perut 14 42
Infertilitas
Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD)
12
12
36
36
Inkontinensia urin (tipe urgensi)
Hematoschezia
1
1
3
3
4.2.5 Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan untuk melihat gambaran
gejala klinis berdasarkan lokasi anatomi ditemukan endometriosis, data
memperlihatkan nyeri adalah keluhan terbanyak endometriosis yang ditemukan di
organ genitalia interna dan di luar organ genitalia. Data penelitian menun jukkan
dari 33 kasus endometriosis di genitalia interna terdapat 25 kasus (76%) dengan
gejala klinis nyeri. Sedangkan semua kasus endometriosis yang ditemukan di luar
organ genitalia menunjukkan gejala klinis nyeri. Gambaran lengkap gejala klinis
berdasarkan lokasi anatomi ditemukan endometriosis pada penelitian ini bisa
dilihat pada tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi
Gejala Klinis
Lokasi Anatomi
Nyeri
n (%)
Bengkak
di perut
n (%)
Infertilitas
n (%)
Inkontinensia
urin
n (%)
Hematoschezia
n (%)
PUD
n (%)
Organ genitalia interna 25 (76) 14 (43) 12 (36) 1 (3) 1 (3) 12 (36)
Bukan organ genitalia 6 (33) 2 (11) 3 (17) 0 (0) 1 (6) 1 (6)
38
BAB 5
PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Penderita
Penelitian ini menemukan bahwa usia pasien endometriosis yang sudah
terkonfirmasi dengan pemeriksaan histo patologi di Laboratorium RSUP Dr. M.
Djamil Padang sebagian besar adalah usia reproduktif sebanyak 21 orang (64%).
Sedangkan pada usia menopause dan p ostmenopause ditemukan sebanyak 12
orang (36%). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Andriana dan W
Arsana (2003) yaitu 4 4,13% pasien endometriosis ditemukan pada usia berkisar
30-40 tahun dengan usia rata -rata 34,4 (tergolong usia reprodukt if). Hasanah
(2011) juga menemukan dari 60 responden yang mengalami endometriosis , 58
responden berusia 19 -45 tahun . Selain itu, penelitian Prima Mukti (2014) juga
mendapatkan kesimpulan yang sama yaitu 85,7% endometriosis pada usia 15 -45
tahun.
Berdasarkan teori endometriosis sering ditemukan pada wanita remaja dan
usia reproduktif yaitu 15 -44 tahun (Jacoeb dan Hadisaputra, 2009). Prevalensi
endometriosis yaitu 6% -10% atau menyerang 176 juta wanita usia reproduktif di
seluruh dunia (Giudice, 2010 ). Oepomo (2007) mengatakan bahwa perempuan
bisa mengalami endometriosis mulai dari perempuan tersebut mengalami menars,
berlanjut ke masa remaja, masa dewasa, makin berkembang pada usia reproduksi
(usia subur) dan terus berlanjut bahkan menetap sepanjang kehidupan perempuan.
Hal ini akan menyebabkan penurunan kualitas hi dupnya. Hasil penelitian ini
menunjukkan endometriosis pada wanita usia reproduktif akan berpengaruh lebih
besar terhadap kualitas hidup penderita tersebut. Oleh karena itu, penemuan kasus
39
secara dini akan mengurangi komplikasi serius agar tidak mempengaruhi kualitas
hidup penderita.
Selain usia, h asil penelitian ini juga menunjukkan 46% pasien adalah
nulipara. Berdasarkan hasil penelitian Darwis et a l. (2006) didapatkan bahwa
paritas rendah bisa meningkatkan resiko terjadinya endometriosis (Mukti, 2014).
Penelitian lain yang dilakukan Rajuddin dan Jacoeb (2008) juga sejalan dengan
hasil penelitian ini yaitu dari 32 k asus endometriosis yang ditemukan di uterus :
26 kasus (81,3%) adalah nulipara, 3 kasus (9,4%) adalah primipara, dan 3 kasus
(9,4%) adalah multipara. Hal yang menyebabkan mengapa riwayat paritas pasien
endometriosis sebagian besar nulipara adalah karena terganggunya fungsi
reproduksi mulai dari folikulogenesis di ov arium, ovulasi, fertilisasi, sampai
nidasi oleh karena endometriosis (Oepomo, 2007).
5.2 Lokasi Anatomi
Penelitian ini memperlihatkan distribusi endometriosis berdasarkan
lokasi anatomi yaitu di ovarium (82%), di uterus (54%), di tuba 15%, di servix
6% dan di organ selain genitalia (18%). Hasil p enelitian Andriana dan W
Arsana (2003) juga menunjukkan hasil yang sejalan yaitu di ovarium
(67,65%), di uterus (20,59%), di tuba (14,71%), dan selain di organ genitalia
(5,88%).
Kedua hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa endometriosis
paling banyak ditemukan di ovarium. Namun Emam (2003) dalam Andriana
dan W Arsana (2003) mendapatkan hasil : di uterus (adenomiosis) sebanyak
50 %, di ovarium 30 %, di peritoneum 10 % dan selebihnya di tuba, vagi na,
40
vesika urinaria dan rektum, kolon dan ligamentum. Perbedaan hasil
disebabkan oleh jumlah sampel yang berbeda.
Pada penelitian ini lokasi ditemukan endometriosis terbanyak adalah di
ovarium. Endometrioma dapat me nurunkan kualitas oosit karena
terganggunya folikulogenesis dan terbentuknya banyak badan apoptosis di
ovarium. Selain itu juga endometrioma yang semakin membesar akan menjadi
terpuntir. Hal ini menyebabkan rendahnya kemungkinan terjadi kehamilan
pada penderita (Oepomo, 2007).
5.3 Gejala Klinis
Hasil penelitian ini menunjukkan urutan gejala klinis dari yan g paling
banyak ditemukan yaitu 70% dismenorea, 46% bengkak di perut, 36%
infertilitas, 36% perdarahan uterus disfungsional (PUD), 12% nyeri pelvis, 6%
dispereunia, 3% hematoschezia, dan 3% inkontinensia urin ti pe urgensi. Jika
dibandingkan dengan penelitian Andriana dan W Arsana (2003) didapatkan
hasil yang hampir sama, yaitu 70,59% dismenorea, 23,53% benjolan di perut,
11,76% nyeri pelvis dan 20,58% perdarahan irregular. Demikian pula dengan
penelitian Overton et al. (2007) pada 500 wanita endometriosis dengan hasil:
dismenorea 60-80%, nyeri pelvis 30-50%, infertilitas 30-40%, dispareunia 25-
40%, menstruasi tidak teratur 10 -20%, disuria atau hematuria siklik 1 -2%,
diskezia siklik 1 -2%, dan perdarahan rektumsiklik <1%. Data RSCM tahun
2006-2010 menunjukkan gangguan yang dikeluhkan pasien endometriosis
yaitu nyeri pelvis kronik (87,5%), dismenorea (81%), infertilitas (33,7%),
nyeri punggung bawah (37,5%), dispareunia (20,9% ), konstipasi (13,9%),
disuria (6,9%) dan diskezia (4,6%) (Wiweko et al, 2013).
41
Oepomo (2007) menyatakan bahwa gejala klinis endometriosis yang
sering muncul dan menimbulkan masalah adalah nyeri, infertilitas dan
bengkak di perut. Sedangkan menurut Taylor et al. (2012) dan Kennedy et al.
(2005) dua permasalahan utama pasien endometriosis adalah nyeri dan
infertilitas. Penelitian ini juga menunjukkan hal yang sama, yaitu nyeri,
bengkak di perut, dan infertilitas menjadi gejala klinis terbanyak dari pasien
endometriosis.
Nyeri merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada
pasien endometriosis. Dari hasil penelitian ini ditemukan 3 macam nyeri :
dismenorea, dispareunia, dan nyeri pelvis . Penelitian Treolar ( 2002) yang
dikutip dari Samsulh adi (2003) menunjukkan presentase nyeri pada pasien
endometriosis yaitu dismenorea 90%, nyeri pelvis 74%, dan dispareunia 75%.
Dismenorea merupakan keluhan nyeri yang paling ser ing sekaligus gejala
klinis yang paling sering muncul pada pasien endometriosis. Hal ini j uga
ditemukan dalam hasil penelitian ini.
Dismenorea yang terjadi pada pasien endometriosis adalah nyeri
sebelum, selama, dan sesudah haid. Nyeri ini dapat hilang timbul, tetapi dapat
juga menetap atau s emakin lama semakin berat. Seringkali menggangu
aktivitas penderita mulai dari beberapa waktu sebelum, selama, dan sesudah
haid karena nyeri hebat, kadang disertai mual muntah, sakit kepala, dan sinkop
(Oepomo, 2007). Namun dalam penelitian ini tidak bisa dinilai der ajat nyeri
karena ketidaktersediaan data yang lengkap dalam rekam medik pasien.
Pada penelitian ini, gejala klinis nomor dua terbanyak adalah bengkak
di perut. Bengkak di perut pada pasien endometriosis banyak diakibatkan oleh
42
endometriosis di organ genitalia interna, terutama di ovarium (endometrioma).
Menurut Marcela G (2003) dalam Oepomo (2007) endometrioma dapat
berubah menjadi tumor ganas ovarii, dengan angka kejadian keganasan
berkisar 0,3%-1,6% dan jenis keganasan adalah endometrioid atau clear cell
carcinoma. Endometrioma yang besar atau berganda juga merusak jaringan
ovarium sehingga secara mekanis mengganggu ovulasi dan fertilisasi. Jadi
endometrioma tidak boleh diabaikan sampai menjadi besar dan menimbulkan
gangguan yang banyak.
Selain nyeri dan bengkak di perut , infertilitas juga banyak ditemukan
pada penelitian ini. Speroff (1999) dalam Oepomo (2007) mendapatkan 25 -
35% pasien infertil menderita endometriosis, sebaliknya 38,5 % penderita
endometriosis didapatkan infertil. Berdasarkan hasil pe nelitian S chenken
dalam Oepomo (2007) yaitu dari 25 -50% pasien infertil didapa tkan
endometriosis, dan 30 -50% pasien end ometriosis didapatkan infertilitas. Dari
data tersebut dan berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan banyak kejadian
infertilitas pada pasien endometriosis.
Infertilitas yang berhubungan dengan endometriosis dapat dijelaskan
melalui mekanisme : (1) Distorsi anatomi dari adnexsa, menghalangi atau
mencegah pen angkapan ovum sesudah ovulasi; (2) Gangguan pertumbuhan
oosit atau embryogenesis dan; (3) Penurunan reseptivitas atau kemampuan
menerima endometrium (Speroff, 2005) . Pada endometriosis yang ringan
kemungkinan besar mekanis me infertilitas disebabkan oleh : (1) gangguan
pada implantasi; (2) defek imunologi dan; (3) penurunan kualitas oos it karena
terganggunya proses folikulogenesis (Oepomo, 2007).
43
Jika dikelompokkan gejala klinis berdasarkan lokasi anatomi,
dimanapun lokasinya gejala klinis yang dikeluhan adalah nyeri, yaitu 76% di
organ genitalia interna dan 100% di luar organ genitalia . Hal tersebut karena
inflamasi pada lokasi terdapatnya implan endometriosis dan pada cairan
peritoneum penderita terjadi peningkatan leukosit serta faktor -faktor inflamasi
(Oepomo, 2007). Sedangkan bengkak di perut, perdarahan uterus
disfungsional (PUD), dan infertilitas paling banyak terjadi pada end ometriosis
di genitalia interna.
Overton et al. (2007) dalam buku An Atlas of Endometriosis
menyebutkan bahwa tidak selalu lokasi anatomi yang ditemukan implan
endometriosis menimbulkan keluhan di lokasi terse but, hal itu bergantung
kepada kedalaman infiltrasi dari implan dan kearah mana pertumbuhan dari
implan tersebut. Tetapi dari pemaparan yang disampaikan Overton (2007) bisa
disimpulkan bahwa gejala klinis endometriosis yang muncul akan khas pada
endometriosis di selain organ genitalia. Misalnya pada penelitian ini adalah
gejala klinis hematoschezia yang di temukan pada endometriosis di luar organ
genitalia.
Endometriosis semakin lama akan semakin berat, dampak klinis akan
lebih banyak dan kualitas hidup akan menurun. Jadi, endometriosis perlu
terdiagnosis cepat. Oleh karena itu, jik a ada pasien usia produktif dengan
riwayat paritas nulipara, mengeluhkan salah satu atau beberapa keluhan
seperti dismenorea yang berat setiap kali haid, nyeri pelvik kronik, ada
bengkak di perut, atau infertilitas, perlu dipikirkan kemungkinan
44
endometriosis dan dilakukan pemeriksaan lanjutan agar dapat diketahui dan
diterapi dengan cepat.
5.4 Keterbatasan penelitian
Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan sebagai berikut :
1. Penelitian ini hanya melihat diagnosis yang tertulis di lembaran hasil
pemeriksaan tanpa mempertimbangkan deskripsi hasil pengamatan
histopatologi yang juga tertera di lembaran hasil pemeriksaan . Sehingga
berpengaruh terhadap jumlah sampel dan hasil peneli tian. Dari penelitian
ditemukan perbedaan diagnosis yang disimpulkan dari beberapa hasil
pemeriksaan histopatologi responden yang memiliki deskripsi hasil
pengamatan histopatologi yang sama.
2. Tidak lengkapnya data responden sehingga banyak data responden yang
terekslusi sehingga mempengaruhi jumlah sampel dan hasil penelitian.
3. Desain penelitian retrospektif terbatas untuk melihat stadium dan jenis lesi
endometriosis karena tidak tercantumnya data tersebut pada lembar
pemeriksaan histopatologi dan rekam medik responden.
45
BAB 6
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pasien
endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. M. Djamil
Padang periode 2010-2013, penulis mendapatkan kesimpulan bahwa :
1. Penderita endometriosis paling banyak adalah usia reproduktif.
2. Riwayat paritas penderita endometriosis paling banyak riwayat adalah
nulipara.
3. Endometriosis banyak ditemukan di organ genitali a interna, terutama di
ovarium. Endometriosis di luar organ genitalia selalu disertai
endometriosis di organ genitalia interna.
4. Gejala klinis pada pasien paling banyak adalah nyeri, terutama
dismenorea.
5. Endometriosis yang ditemukan di organ genitalia interna ataupun di luar
organ genitalia selalu memperlihatkan gejala klinis nyeri, sedangkan
bengkak diperut, PUD dan infertilitas hanya sering ditemukan di organ
genitalia interna.
6.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, penulis ingin
menyampaikan beberapa saran :
1. Untuk penelitian selanjutnya, se baiknya peneliti tidak hanya melih at dari
diagnosis yang tertulis di lembaran hasil pemeriksaan histopatologi saja
46
tetapi juga mengkonfirmasi ulang pembacaan deskripsi di lembaran hasil
pemeriksaan histopatologi kepada satu orang ahli patologi.
2. Untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya dengan jumlah sampel yang lebih
banyak sehingga lebih didap atkan keberagaman data untuk hasil yang
lebih representatif.
3. Untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya juga dilihat stadium dan jenis lesi
endometriosis, serta hubungan endomet riosis dengan kejadian infertilitas
pada pasien tersebut. Penelitian ini terbatas un tuk melihat hal tersebut
karena ketidaklengkapan data yang tersedia, baik dari hasil pemeriksaan di
laboratorium patologi anatomi maupun rekam medik pasien. Oleh karena
itu sebaiknya dilakukan penelitian prospektif.
4. Untuk praktisi kedokteran, sebaiknya jika ada pasien usia reproduktif
dengan riwayat paritas nulipara, mengeluhkan salah satu atau beberapa
keluhan seperti dismenorea yang berat setiap kali haid, nyeri pelvik
kronik, ada bengkak di perut, atau infertilitas, perlu dipikirkan
kemungkinan endometriosis dan dilakuk an pemeriksaan lanjutan agar
endometriosis bisa diketahui dan diterapi lebih cepat.
47
DAFTAR PUSTAKA
Andriana K, W Arsana IW, 2003. Profil Penderita Endometriosis RS Dr. Saiful
Anwar Malang – Jawa Timur 2001 – 2003. Tesis. Malang.
American Society for Reproductive Medicine: Revised American Society for
Reproductive Medicine classification of endometriosis: 1996. Fertil Steril
67:817, 1997. Dalam Hoff man LB, Schorage JO et al. , 2012. Williams
Gynecology. 2nd Edition. New York : McGraw-Hill Companies, 285.
Bedaiwy MA, 2002. Prediction of endometriosis with serum and peritoneal fluid
markers: a prospective controlled trial. Human Reprod. 17(2):426-431.
Berek, JS, 2007. Berek & Novak’s Gynecology. 14 th Edition, Philadelphia :
Lippincott Williams & Wilkins, 1138-1156.
Berkley KJ, Rapkin AJ, Papka RE, 2005. The pains of endometriosis. Science
308:1587.
Brosens I, 2004. Endometriosis and the outcome of in vitro fertilization. Fertil
Steril 81:1198.
Chapron C, Fauconnier A, Dubuisson JB, et al. , 2003. Deep infiltrating
endometriosis: relation between severity of dysmenorrhoea and extent of
disease. Hum Reprod 18:760.
Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY, 2013.
Obstetri Williams. Ed 23. Volume 1. Jakarta : Penerbit Buku EGC, 203-
204.
Daftary GS, Taylor HS, 2004. EMX2 gene expression in the female reproductive
tract and aberrant expression in the endometrium of patients with
endometriosis. J Clin Endocrinol Metab 89:2390.
Darwis MA, Hassain, Sekkin A, 2006. Epidemiology and Risk Factors Associated
with Laparascopically Diagnosed Typical and Atypical Endometriosis
Among Egyptian Women. Departem ents of Obstetrics & Gynecology,
Assisut and Al-Azhar University.
DeCherney, AH, Nathan L, Goodwin, Murphy, Laufer , Neri, 2007. Current
Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New York
: McGraw-Hill Companies.
DeCherney, AH, Nathan L, Goodwin, Murphy, Laufer, Neri. 2007. Current
Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New York
: McGraw-Hill Companies, Chapter 43.
48
Decker D, Konig J, Wardelmann E, et al ., 2004. Terminal ileitis with sealed
perforation—a rare complication of intestinal endometriosis: case report
and short review of the literature. Arch. Gynecol Obstet 269:294.
Dorland WAN, 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Ed 31, Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Drife J, Magowan B, 2004. Clinical Obstetrics And Gynecology . Philadelphia:
Saunders.
Ekskanazi B, Wamer M, Bonsignore L, Olive D, Samuel S, Verceillini P, 2001.
Validation Study of Non Surgical Diagnosis of Endometriosis. Fertile
Steril; 76: 929-935.
Fauconnier A, Chapron C, Dubuisson JB, et al ., 2002. Relation between pain
symptoms and the anatomic location of deep infiltrating endometriosis.
Fertil Steril 78:719.
Ferrero S, Esposito F, Abbamonte LH, et al., 2005. Quality of sex life in women
with endometriosis and deep dyspareunia. Fertil Steril 83:573.
Giudice, LC, 2010. Clinical Practice Endometriosis Eng J Med. Avaialble from
http://www.health.am/gyneco/ more/endometriosis -prognosis/[accessed
July 15th 2014]
Giudice LC, Kao LC, 2004. Endometriosis. Lancet 364:1789.
Hacker, Neville F.; Moore, J. George, 2007. Esensial Obstetri dan Ginekologi.
Hasanah N, 2010. Gambaran Pengetahuan Remaja Putri tentang Endometriosis di
SMK Negeri 8 Medan Tahun 2010. Medan : Akademi kebidanan Bakti
Inang Persada.
Hoffman LB, Schorage JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD,
Cunningham FG, 2012. Williams Gynecology. 2 nd Edition. New York :
McGraw-Hill Companies.
Hoffman LB, Schorage JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD,
Cunningham FG, 2012. Will iams Gynecology. 2 nd Edition. New York :
McGraw-Hill Companies, 285.
Jacoeb TZ , Hadisaputra W, 2009. Penanganan Endometriosis Panduan Klinis dan
Algoritme, Sagung Seto; Jakarta, 108-110.
Jumhur M, 2011. Studi Perbedaan Ekspresi COX -2 antara Endomrtioma dan
Karsinoma Ovarii. Tesis. Surakarta : Universitas Sebelah Maret.
Kasdu, Dini. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta: Puspa
Swara.
49
Kennedy S, Bergqvist A, Chapron C, et al ., 2005. ESHRE guideline for the
diagnosis and treatment of endometriosis. Hum Reprod 20(10):2698.
Kumar V, Abbas AK, Fousto N, 2010. The Female Genital Tract. In Robin and
Cotran Pathologic Basis of Disease 8 th ed. Philadelphia : Elsevier
Saunders, 1005-1061.
Leyendecker G, Kunz G, Herbertz M, et al., 2004. Uterine peristaltic activity and
the development of endometriosis. Ann N Y Acad Sci 1034:338.
Lessey BA, 2000. Medical management of endometriosis and infertility. Dalam
Cahill DJ, 2002. The optimal medical management of infertility and minor
endometriosis. Human Reprod 17(5):1138.
Limbong, Vinanda MA, 2012. Profil Gambaran Endometriosis di RSUP H. Adam
Malik Periode 2008 -2011. Skripsi. Medan : Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
Matorras R, Rodriguez F, Pijoan JI et al., 2001. Women who are n ot exposed to
spermatozoa and infertile women have similar rates of stage I
endometriosis. Fertil Steril 76:923
Mounsey AL, Wilgus AS, David C, 2006. Diagnosis and Management of
Endometriosis. J Am Fam Physician 74:594-600, 601-602.
Mukti P, 2014. Faktor Risiko Kejadian Endometriosis. Dalam Unnes journal of
Public Health; 3 (3): 2-6.
Murphy AA, 2002. Clinical aspects of endometriosis. Dalam Hoffman LB,
Schorage JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD, Cunningham FG,
2012. Williams Gynecology. 2 nd Edition. New York : McGraw -Hill
Companies.
National Swedish Cancer, 2006. Peningkatan Risiko Kejadian Karsinoma
Ovarium Berhubungan dengan Kejadian Endometriosis. Dalam Nurcahyo,
Ronny Adhi, 2010. Studi Perbedaan Ekspresi BAX antara Endometriosis
Ovarii (Endometrioma) dengan Karsinoma Ovarii Serosum Berdiferensiasi
Baik. Tesis. Program Pendidikan Dokter Spesialis I Obstetri Ginekologi,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Nurcahyo, Ronny Adhi, 2010. Studi Perbedaan Ekspresi BAX antara
Endometriosis Ovarii (Endometrioma) dengan Karsinoma Ovarii Serosum
Berdiferensiasi Baik. Tesis. Program Pendidikan Dokter Spesialis I
Obstetri Ginekologi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Oats J, Suzanne A, 2010. Fundamentals of Obstetrics and Gynaecology. 9 th
Edition, Philadelphia : Mosby Elsevier.
50
Oats J, Suzanne A, 2010. Fundamentals of Obstetrics and Gynaecology. 9 th
Edition, Philadelphia : Mosby Elsevier, 272.
Oepomo, Tedjo D, 2007. Dampak Endometriosis Pada Kualitas Hidup Perempuan
dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Obstetri dan Ginekologi
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis,
3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd.
Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis,
3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 10.
Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis,
3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 40
Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis,
3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 42
Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endometriosis,
3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 38.
Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW, 2007. An Atlas of Endom etriosis,
3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 37.
Possover M, Chiantera V, 2007. Isolated infiltrative endometriosis ofsciatic nerve.
Available at www.possover.com/en/site/#toptenprocedures/endometriosis-
of-the-sciatic-nerve [accessed July 15th 2014]
Practice Committee of the American Society for R eproductive Medicine:
Endometriosis and infertility. Dalam DeCherney, Alan H.; Nathan M.D,
Lauren; Goodwin M.D, T.Murphy; Laufer M.D, Neri. 2007. Current
Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New York
: McGraw-Hill Companies.
Rajuddin, Jacoeb TZ, 2008. Penanganan Adenomiosis dengan Reseksi
Laparatomi. Dalam Majalah Obstetri Ginekologi Indonesia. Vol. 32, No. 1
(Edisi Januari) : 23-25.
Samsulhadi. 2003. Evaluasi standar pengobatan endometriosis dalam makalah
Simposium Endometriosis, KOGI XII, Yogyakarta, 4 – 9 Juli 2003.
Schenken, Robert S. 2008. Endometriosis dalam buku Danforth's Obstetrics and
Gynecology. Ed 10, Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
Schorge J, Nurwitz ER, 2008. At Glance Obstetri & Ginekologi. Ed 2, Jakarta :
Penerbit Erlangga.
51
Spencer R, Pcam B, 2007. Simple guide menopause. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Speroff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic
Endocrinology and Infertility. 7th ed. Philadelphia: Lippincott William &
Wilkin, pp 1103-1133.
Taylor RN, Hummelshoj L, Stratton P, Verceillini P, 2012. Pain and
Endometriosis : Etiology, Impact, and Therapeutics. Middle east fertile
Soc J: 1-4.
Treloar SA, Wicks J, Nyholt DR et al., 2005 Genomewide linkage study in 1,176
affected sister pair families identifies a significant susceptibility locus for
endometriosis on chromosome 10q26. Am J Hum Genet 77:365.
Vercellini P, Chapron C, Fedele L et al ., 2003. Evidence for asymmetric
distribution of sciatic nerve endometriosis. Obstet Gynecol 102:383.
Wiweko B, Puspita CG, Sumapraja K, et al., 2013. Medicinus Scientific Juornal
of Pharmaceutical Development and Medical Application. Vol. 26, No. 2
(Edition August): 4-7.
LAMPIRAN
MASTER TABEL PENELITIAN
NO Kode
Pasien
Alamat Usia Riwayat Paritas Lokasi Anatomi Gejala Klinis
Nulipara Primipara Multipara Ket Organ
Genitalia
Interna
Organ
Genitalia
Eksterna
Bukan
Organ
Genitalia
1
A Padang 45 ya ovarium,
uterus
omentum dismenorea, hematoschezia
2
B Padang 43 ya uterus,
ovarium
dismenorea
3
C Padang 43 tidak
diketah
ui
uterus,
ovarium
dismenorea, bengkak di perut,
infertilitas sekunder
4
D Solok 37 ya ovarium kolon infertilitas primer, dismenorea
5
E Jambi 52 ya uterus bengkak di perut
6
F Padang 53 ya ovarium perdarahan pervaginam,
menometroragia
7
G Sei.
Penuh
40 ya uterus,
ovarium,
tuba
omentum bengkak di perut, infertilitas
primer,disemnorea
8
H Padang 51 tidak
diketah
ui
uterus perdarahan pervaginam,
menometroragia
9
I Solok 24 ya menika
h 10
bulan
yll
ovarium bengkak di perut, dismenorea
10
J K.
Malinta
g
39 ya G1P0A
1H0
ovarium infertilitas primer, dismenorea,
bengkak di perut
11
K Solok 40 ya uterus,
tuba
appendix bengkak di perut, dismenorea
12
L Solok
Selatan
46 ya uterus,
ovarium
bengkak di perut, perdarahan
pervaginam, dismenorea
13
M 17 ya belum
menika
h
uterus,
ovarium
amenorea, akut abdomen
14
N Padang 37 ya ovarium,
uterus,
tuba
infertilitas primer, dismenorea,
anemia
15
O Padang 51 ya ovarium,
uterus
menometroragia
16
P Padang 27 ya ovarium bengkak di perut, infertilitas,
dismenorea
17
Q Padang 45 ya ovarium dismenorea, menometroragia,
inkontinensia urin, keputihan dan
gatal
18
R Muaro
Labuh
40 ya uterus dismenorea
19
S Padang 35 ya ovarium dismenorea, menometroragia, akut
abdomen,infertilitas
sekunder,perdarahan pervaginam,
gangguan siklus haid
20
T Jati
Koto
Pan
30 ya ovarium dispareunia, dismenorea, nyeri
pelvis
21
U Payaku
mbuh
48 ya uterus nyeri pelvis
22
V Jl.
Abdilah
Human
41 ya ovarium infertilitas primer
23
W Padang 41 ya ovarium omentum dismenorea, siklus tidak teratur
24
X padang 46 tidak
diketah
ui
uterus perdarahan pervaginam,dismenorea,
rasa penuh di perut bawah, bengkak
di perut
25
Y Padang 49 ya ovarium bengkak di perut,
26
Z Padang 46 ya uterus,
ovarium
menometroragia, bengkak di perut,
anemia
27
AA Padang 30 ya belum
menika
h
ovarium dismenorea, menometroragia,
bengkak di perut
28
BB Painan 30 ya uterus,
ovarium,
tuba
infertilitas primer, dismenorea
29
CC Padang 42 ya uterus,
ovarium,
tuba,
servix
dismenorea
30
DD Sitinjau 43 ya uterus,
ovarium,
servix
nyeri pelvis, dismenorea,
dispareunia, infertilitas primer
31
EE Padang
Panjang
30 ya ovarium bengkak di perut, menometroragia,
perdarahan pervaginam,
dismenorea, infertilitas primer
32
FF Jl. Arai
pinang
49 tidak
diketah
ui
ovarium nyeri pelvis, bengkak di perut
33
G G Padang 37 ya ovarium appendix dismenorea, infertilitas primer
Lampiran
CURICULUM VITAE
A. Identitas Diri
Nama Lengkap Kenny CantikaAbadi
Nama Panggilan Kenny
Tempat, Tgl Lahir Muaro Sijunjung, 25 Juni 1993
Alamat Asal Sijunjung,Sumatera Barat
Alamat Sekarang Jl. Minahasa 1 No.2, Jati, Padang, Sumatera Barat
Email [email protected]
Motto hidup Hidup sekali, bearti, lalu mati
Ayah Azwardi
Ibu Desmarni
Agama Islam
Kewarganegaraan Indonesia
B. RiwayatPendidikan :
1 TK Pertiwi Sijunjung 1998
2 SDN 20 Sijunjung 1999
3 SMPN 7 Sijunjung 2005
4 SMAN 1 Padang Panjang 2008
5 PendidikanDokter FK Unand 2011
C. RiwayatPrestasi
Akademik
1 NEM UAN tertinggi Tk.SLTP se-Kab.Sijunjung 2008
2 Siriraj Imunology and Microbiology International Competition 2013
(SIMIC 2013);Kompetisi Imunologi dan Microbiologi mahasiswa
kedokteran internasional di Bangkok
2013
3 Indonesian Medical Olympiad 2013 (IMO 2013) 2013
4 Mahasiswa Berprestasi I BEM FK Unand 2013
5 Siriraj Imunology Microbiology and Parasitology International
Competition 2014 (SIMPIC 2014);Kompetisi Imunologi dan
Microbiologi mahasiswa kedokteran internasional di Bangkok
2014
6 Mahasiswa Berprestasi II FK Unand 2014
7 Mahasiswa Berprestasi III Universitas Andalas 2014
8 Indonesian Medical Olympiad 2014 (IMO 2014) 2014
Non-Akademik
1 Duta Anak Sumbar (Peringatan Hari Remaja Nasional) 2010
2 Duta Anak Padang Panjang 2009
3 PIK Remaja Terbaik Tk. Sumbar 2010
4 Juara I Turnamen Basket Putri se-Kota Padang Panjang 2009
5 Juara I Vocal Group se-Kota Padang Panjang 2008
D. Riwayat Organisasi :
1 OSIS SMPN 7 Sijunjung Ketua Umum 2007-2008
2 OSIS SMAN 1 Padang Panjang Div. Olahraga 2010-2011
3 PIK Remaja SMA 1 Padang Panjang Ketua Umum 2010-2011
4 Forum Anak Daerah Padang Panjang Ketua Umum 2010-2011
5 FSKI BEM KM FK Unand Biro Kestari 2012-2013
6 UKM Jurnalistik BROCA BEM KM FK
Unand
Div. HRD 2012-2013
7 UKM Jurnalistik BROCA BEM KM FK
Unand
Pemimpin Umum 2013-2014
8 Anatomy Club BEM KM FK Unand Bendahara
(Vesikuz)
2012-2013
9 Badan Pers Nasional-ISMKI Div.Spektrum 2012-2013
10 Lembaga Perlindungan Anak Anggota 2013-sekarang
11 Asosiasi Pers Mahasiswa Sumbar Badan Pengawas
Organisasi
2013-2014
12 Dewan Pers BROCA BEM KM FK UNAND Ketua 2014-2015
Text is read by the "Ask this paper" AI Q&A widget below. Extraction quality varies by source — PMC NXML preserves structure cleanly, OA-HTML may include some navigation residue, and OA-PDF can have broken hyphenation. The publisher copy is the canonical version.
My notes (saved in your browser only)
Ask this paper
Answers must be backed by verbatim quotes from this paper's full text. Hallucinated quotes are dropped automatically; if no verbatim passage answers the question, we say so. How this works
Condition tags
Citation neighborhood (sparse)
Too few in-corpus citations on either side for a chart; here are the lists.
Cited by (1)
Cited by (1)
Source provenance
- openalex
- last seen: 2026-06-10T17:14:06.276822+00:00
License: CC0
· commercial use OK