{"paper_id":"888cab61-e99c-4967-8f63-25feb9b76ad5","body_text":"GAMBARAN ENDOMETRIOSIS DI LABORATORIUM PATOLOGI \nANATOMI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2010-2013 \n \nSKRIPSI \n \nDiajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai \npemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan \ngelar Sarjana Kedokteran \n \nOleh \n \nKENNY CANTIKA ABADI \nNo.BP. 1110313040 \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \nFAKULTAS KEDOKTERAN \nUNIVERSITAS ANDALAS \nPADANG \n2014 \n\n \n\n\n \n\n\ni \n \nKATA PENGANTAR \n \nPuji syukur atas semua rahmat, nikmat dan kasih sayang yang tiada henti \nAllah SWT berikan kepada kita, hamba -Nya. Shalawat beserta salam  penulis \ndoakan  untuk junjungan umat , Rasulullah  Muhammad SAW semoga selalu \nmenjadi panutan  kita menuju ke hidupan kekal di akhirat kelak. \nAlhamdulillahirabbil’alamin skripsi dengan  judul “Gambaran Endometriosis di \nLaboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2010 -\n2013” ini telah selesai dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar \nsarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran \nUniversitas Andalas. \nDalam penyusunan skripsi ini penulis mendapat banyak dukungan dari \nberbagai pihak, baik berupa bantuan, bimbingan, dukungan semangat dan doa. \nOleh karena itu dengan sepenuh hati penulis mengucapkan terima kasih kepada : \n1. Dr.dr.Masrul, MSc, Sp.GK selaku Dekan Fakultas Kedokteran \nUniversitas Andalas. \n2. dr. Noza Hilbertina, M.Biomed, SpPA selaku pembimbing I, terima \nkasih untuk waktu, ilmu, inspirasi, arahan dan motivasi Ibu. \n3. dr. Hardisman, MHID, DrPH (Med) selaku pembimbing II, \nterimakasih untuk waktu, ilmu, inspirasi, arahan dan motivasi Bapak. \n4. dr. Aswiyanti Asri, M.Si.Med, SpPA, dr. Syamel Muhammad, SpOG, \ndan dr. Nita Afriani, M.Biomed selaku penguji ya ng telah meluangkan \nwaktu, memberi saran dan perbaikan dalam penyusunan skripsi ini. \n\nii \n \n5. Azwardi (Papa)  tercinta yang tidak pernah lelah bekerja, mendidik, \nmenasehati, memotivasi dan mendidik anaknya hingga menjadi seperti \nsekarang. Desmarni (Mama) tercinta ya ng selalu  mendidik, \nmengarahkan, memberi pelajaran, menenagkan dan  mendoakan \nanaknya dengan sepenuh hati. Terimakasih pa, ma.. untuk kasih \nsayang yang tak pernah henti kalian berikan. \n6. Prof. Dr .Nuzulia Irawati, MS, Prof. Dr. dr. Delmi Sulastri, MS, \nSpGK, Prof. dr. Kamardi Thalut, SpB, Prof. dr. Fadil Oenzil, Phd, \nSp.GK, dr.Roslaily Rasyid, M.Biomed, dr. Rima Semiarti, MARS , dr. \nM. Hidayat, SpM, serta semua bapak -ibu dosen yang  tidak bisa \ndisebutkan satu per satu, terimakasih sudah memberikan ilmu, nasehat, \ninspirasi, semangat, pembelajaran dan arahan kepada penulis selama \nini. \n7. Untuk saudara  dan kakanda  tercinta Sesilia Desvita, SE, Anugerah \nSukma Agung, Harry Ramdhan, dan Revi Naldi, S.Ked terima kasih \nuntuk semua dukungan, motivasi, bantuan, ketenangan,  kasih sayang  \ndan doa yang diberikan. \n8. Keluarga besar staf RSUP Dr. M. Djamil Padang, terkhusus untuk \nbagian Diklit, Laboratorium Patologi Anatomi dibawah naungan \nLaboratorium Sentral, dan bagian R ekam Medik yang telah \nmemberikan izin penelitian dan membantu p enulis dalam penyusunan \nskripsi ini. \n9. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas \ncalon sejawat khususnya Neuro -11 (angkatan 2011) tercinta, sahabat -\n\niii \n \nsahabat dan saudara  tercinta (Fhany  El Shara , Dita  Maharani, Wiwi  \nHermy Putri, Intan Dwi Putri, Ulya Lathifa Sari , Farissah Izzati, Dwi \nRestiva Sari , Resty  Yomelia, Nurul  Aini Yudita , Zurayya  Fadila, \nAkmal Arif dan Oksa  Sukma Perdana ) , saudara -saudara di UKM \ntersayang BROCA, Anatomy Club, teman-teman SMP dan SMA \n(terkhusus untuk Aidii Safarah tercinta). Terimakasih untuk semangat,  \ndoa, dan kebersamaan selama ini. \n10. Serta semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. \nSemoga usaha, bimbingan, bantuan, dorongan, semangat, inspirasi, \nmotivasi, dan doa yang telah diberikan tidak sia -sia. Semoga Allah SWT \nmemberikan balasan yang berlipat ganda dan menjadikan kita manusia yang \nsebaik-baik manusia yaitu yang bermanfaat untuk sesama. \nPenulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh \nkarena itu, penulis mengharapkan kritik  dan saran yang bersifat membangun dari \nsemua pihak. Semoga skripsi ini bisa memberikan sumbangsih untuk pembaca \ndan bagi penulis sendiri. \n \nPadang, 18 November 2014 \n \n        Penulis \n \n \n \n\niv \n \nABSTRACT \n \nDESCRIPTION OF ENDOMETRIOSIS CASE IN  LABORATORY OF \nANATOMICAL PATHOLOGY  DR. M. DJAMIL HOSPITAL PADANG \nFROM 2010 TO 2013 \nBy : \nKenny Cantika Abadi \n \nIntroduction :  Endometriosis is benign gynecologic disease which can be \ndeveloped into malignancy, associated to infertility and will reduce patients’ \nquality of life. It’s difficult to diagnosed based on clinical appearance only, \nbecause anatomical locations and clinical symptoms are varied. This study was \nperformed to find out the description of endometriosis in the Laboratory of \nAnatomical Pathology Dr. M. Djamil Hospital Padang from 2010 to 2013. \nMethod: This is retrospective descriptive study and has 33 samples. Data of age, \nparity history, anatomical location, and clinical symptom is collected from \nlaboratory of anatomical pathology and medical record of patients. T he data was \ngrouped then processed and presented in tabular form. \nResult: Out of 33 samples, 21 (64%) in reproductive age, the most of them were \nnulliparous, all of samples were found in internal genital organ which 27 (82%0 \nfound in ovarium, additionally it also found in out of genital organ 6 (18%). The \nmost clinical symptom that found was dysmenorrhoea in 23 (70%). \nConclusions: Endometriosis predominantly in reproductive age and nulliparous. \nThe disease most located in internal genital organ especially in ovarium. The \nmost of clinical symptoms is pain, especially dysmenorrhoea. Where ever it found, \npain is always be the most symptom, meanwhile abdominal swelling, \ndysfunctional uterine bleeding and infertility often just found in internal genital \norgan. \nKey Word: Endometriosis, Pathology, Symptoms. \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n\nv \n \nABSTRAK \nGAMBARAN ENDOMETRIOSIS DI LABORATORIUM PATOLOGI \nANATOMI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2010-2013 \nOleh : \nKenny Cantika Abadi \n \nPendahuluan: Endometriosis merupakan penyakit jinak ginekologi yang bisa \nberkembang menjadi keganasan, berkaitan dengan infertilitas dan menurunkan \nkualitas hidup penderita. Diagnosis berdasarkan klinis saja tidak bisa dilakukan, \nkarena gejala klinis dan lokasi anatomi yang beragam. Penelitian ini dilakukan \nuntuk mengetahui gambaran endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi \nRSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2010-2013. \nMetode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan jumlah sampel \n33 orang. Data usia, riwayat paritas, lokasi anatomi, dan gejala klinis pasien \ndidapatkan dari data di laboratorium patologi anatomi dan reka m medis pasien. \nData dikelompokkan, kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel. \nHasil: Dari 33 sampel, 21 (64%) adalah usia reproduktif dan sebagian besar \nnulipara, 33 (100%) ditemukan di organ genitalia interna dengan 27 (82%) \nditemukan di ovarium, selain itu juga ditemukan 6 (18%) di luar organ genital. \nGejala klinis yang paling banyak ditemukan adalah dismenorea yaitu 23 (70%). \nKesimpulan: Endometriosis ditemukan terutama pada usia  reproduktif dan \nnulipara. Lokasi anatomi paling banyak adalah di organ genitalia interna, terutama \ndi ovarium. Gejala klinis paling sering adalah nyeri, terutama dismenorea. \nDimanapun lokasi anatomi ditemukan endometriosis, selalu dengan gejala klinis \nnyeri, sedangkan bengkak diperut, PUD dan infertilitas hanya sering ditemukan di \norgan genitalia interna. \nKata Kunci: Endometriosis, Patologi, Gejala Klinis. \n \n \n \n \n \n \n \n\nvi \n \nDAFTAR ISI \nHalaman \nKata Pengantar        i \nAbstract         iv \nAbstrak         v \nDaftar Isi          vi \nDaftar Tabel          ix \nDaftar Gambar         x \nDaftar Singkatan         xi \nBAB 1 PENDAHULUAN        1 \n1.1 Latar Belakang        1 \n1.2 Rumusan Masalah       4 \n1.3 Tujuan Penelitian        5 \n1.4 Manfaat Penelitian       5 \nBAB 2 TINJAUAN PUSTAKA       6 \n2.1 Definisi         6 \n2.2 Epidemiologi        6 \n2.3 Etiopatogenesis        7 \n2.4 Faktor Risiko        10 \n2.5 Klasifikasi dan Lokasi Anatomi      10 \n2.5.1 Klasifikasi       10 \n  2.5.2 Lokasi Anatomi       13 \n2.6 Gejala Klinis        14 \n\nvii \n \n2.7 Hubungan Gejala Klinis dengan Lokasi Anatomi 18 \n2.8 Diagnosis Banding       19 \n2.9 Diagnosis         20 \n2.10 Prognosis        27 \nBAB 3 METODOLOGI PENELITIAN      29 \n3.1 Jenis Penelitian        29 \n3.2 Waktu dan Tempat Penelitian      29 \n3.3 Populasi dan Sampel       29 \n  3.3.1 Populasi        29 \n  3.3.2 Sampel        29 \n3.4 Definisi Operasional       30 \n3.5 Instrumen Penelitian       32 \n3.6 Prosedur Pengumpulan Data      32 \n3.7 Proses Pengolahan Data       32 \n3.8 Analisis dan Penyajian Data      33 \n3.8.1 Analisis Univariat      33 \n3.8.3 Penyajian Data 33 \nBAB 4 HASIL PENELITIAN      34 \n4.1 Deskripsi Umum Penelitian     34 \n4.2 Hasil Analisis Univariat      34 \n4.2.1 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Usia  34 \n4.2.2 Distribusi Endometriosis Berdasar Riwayat Paritas 35 \n\nviii \n \n4.2.3 Distribusi Endometriosis Berdasar Lokasi Anatomi 36 \n4.2.4 Gambaran Endometriosis Berdasarkan Gejala Klinis 36 \n4.2.5 Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan 37 \nLokasi Anatomi       \nBAB 5 PEMBAHASAN       38 \n5.1 Karakteristik Penderita      38 \n5.2 Lokasi Anatomi       39 \n5.3 Gejala Klinis       40 \nBAB  6 PENUTUP        45 \n6.1 Kesimpulan       45 \n6.2 Saran        45 \nDAFTAR PUSTAKA        47 \nLAMPIRAN \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n\nix \n \nDAFTAR TABEL \n      Halaman \nTabel 2.1: Distribusi Frekuensi  Lokasi Anatomi Endometriosis   14 \nTabel 2.2 : Distribusi Frekuensi Gejala pada 500 Wanita Endometriosis  18 \nTabel 2.3 : Gejala Klinis Berdasarkan Lokasi Implan Endometriosis 19 \nTabel 2.4 : Karakteristik Histologi Implan Endmetriosis dan Gambaran  26 \nLaparaskopinya         \nTabel 2.5 : Pemeriksaan Histologi dari Implan Atipik    26 \nTabel 4.1 : Distribusi Endometriosis Berdasarkan Usia   34 \nTabel 4.2 : Distribusi Endometriosis Berdasarkan Riwayat Paritas  35 \nTabel 4.3 : Distribusi Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi  36 \nTabel 4.4 : Gambaran Endometriosis Berdasarkan Gejala Klinis  37 \nTabel 4.5 : Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan  37 \n Lokasi Anatomi        \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n\nx \n \nDAFTAR GAMBAR \n               Halaman \nGambar 2.1 : Klasifikasi endometriosis menurut American Society 12 \nFor Reproductive Medicine yang telah di revisi pada \nTahun 1997        \nGambar 2.2 : Stadium Endometriosis      13 \nGambar 2.3 : Lokasi Anatomi ditemukan Endometriosis    14 \nGambar 2.4 : Gambaran Histologi Endometriosis     23 \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n\nxi \n \nDAFTAR SINGKATAN \n \nCA 125 = Cancer Antigen 125 \nCA 19-9 = Cancer Antigen 19-9 \nC3  = Complement-3 \nIgA  = Immunoglobulin A \nIgG  = Immunoglobulin G \nIgM  = Immunoglobulin M \nIL-6  = Interleukine-6 \nMRI  = Magnetic Resonance Imaging \nNK  = Natural Killer \nOAINS = Obat Anti Inflamasi Non Steroid \nPUD  = Perdarahan Uterus Disfungsional \nTNF-  = Tumor Necrotizing Factor- \nUSG  = Ultrasonography \n \n \n \n \n \n \n\n \n1 \n \nBAB 1 \nPENDAHULUAN \n \n1.1 Latar Belakang \n \nEndometriosis adalah  jaringan endometrium  (kelenjar dan stroma)  yang \nterdapat di luar kavum uteri seperti organ -organ genitalia interna termasuk \novarium (endometrioma) , myometrium (adenomiosis)  atau dapat juga di tempat \nlain seperti vesika urinaria, usus, peritoneum, paru, umbilikus, bahkan dapat \nditemui di mata dan otak (Baziad,  2003; Ceyhan, 2008).  Endometriosis \nmerupakan salah satu penyakit jinak ginekologi yang akhir -akhir ini banyak \nmendapat perhatian para ahli  (Nurcahyo, 2010). Penyakit ini  masih banyak \nmenimbulkan masalah sejak dipublikasikan pertama kali pada tahun  1800 hingga \nsekarang (Berek dan Novack’s, 2007). Hal tersebut disebabkan oleh gejala klinis, \ndiagnosis, pengobatan dan patog enesis yang belum jelas sehingga dikatakan \nsebagai The Disease of Theory. Meskipun endometriosis bersifat jinak, akan tetapi \ndampak klinis yang ditimbulkannya cukup serius, yaitu meningkatnya infertilitas, \nnyeri panggul kronis, dan risiko menjadi ganas (Nurcahyo, 2010). \nEndometriosis sangat sering terjadi dalam ovarium, ligamentum latum, \npermukaan peritoneum dari kavum douglas termasuk ligamentum uterosakral, \nserviks posterior, dan dalam septum rektovagina. Meskipun terdapat variasi \ntempat yang besar, 60% p asien dengan endometriosis mempunyai keterlibatan \novarium. Sumber lain menyebutkan tempat biasa yang banyak  ditemukan \nendometriosis yaitu di ovarium, tuba fallopi, round ligament , dan peritoneum \npelvis. Sedangkan usus, dinding vesica urinaria, umbilikus dan luka laparatomi \n\n \n2 \n \nmerupakan tempat biasa namun sedikit ditemukan. Keterlibatan nodus limfe, paru, \ndan pleura sangat jarang ditemukan (Hacker dan Moore, 2007). \nEndometriosis masih respon terhadap stimulas i hormonal, ditandai dengan \njaringan tersebut  berubah sesuai dengan siklusnya . Endometriosis akan \nberproliferasi, bersekresi, dan meluruh sesuai dengan siklus menstruasi. Peluruhan \ndan perdarahan memicu terbentuknya adhesi fibrosa dan akumulasi dari pigmen  \nhemosiderin (Hoffman et al., 2012). Sebukan jaringan endometrium abnormal ini \nmemicu reaksi peradangan menahun (Jacob et al. , 2009). Robert S. Schenken \n(2008) menyebutkan di dalam buku Danforth's Obstetrics and Gynecology bahwa \nobstruksi dan perlengketan  (adhesion) menjadi salah satu mekanisme yang \nmenyebabkan infertilitas pada wanita dengan endometriosis. Diperkirakan 25 -\n50% dari wanita infertil mengalami endometriosis dan 30-50% dari wanita dengan \nendometriosis mengalami infertilitas (Schenken, 2008). \nEndometriosis tidak hanya berhubungan dengan infertilitas, namun juga \ndapat berkembang kearah keganasan. Endometriosis memang tidak dapat disebut \nsebagai kondisi premaligna, tetapi data epidemiologi, histopatologi, dan \nmolekuler memberi kesan endometriosis m empunyai potensi untuk menjadi \nganas. Simpson pada tahun 1925 pertama kali melaporkan bahwa endometriosis \ndapat berubah menjadi ganas (Nurcahyo, 2010). \nBeberapa data dan penelitian menjelaskan hubungan endometrioma \ndengan kejadian kanker ovarium. Data National Swedish Cancer  (2006) \nmenyatakan adanya peningkatan risiko terjadinya karsinoma ovarium sebesar 2,5 \nkali pada wanita endometriosis yang melakukan follow up diatas 10 tahun. Ness \njuga menyatakan wanita yang terkena karsinoma ovarium 1,7 kali dengan  riwayat \n\n \n3 \n \nendometriosis. Sedangkan Brinton menyatakan adanya risiko keganasan ovarium \npada wanita endometriosis sebesar 4 kali setelah dilakukan follow up selama 10 \ntahun (Nurcahyo, 2010). P ada pemeriksaan penanda tumor  CA125 ditemukan \nmeningkat sehingga se makin mendukung penjelasan diatas. Oleh karena itu \ndibutuhkan penegakkan diagnosis yang cepat pada endometriosis  (Hoffman et al., \n2012). \nTemuan klinis pada endome triosis dapat berupa dismenorea (paling \nsering), perdarahan abnormal, diskezia (nyeri saat bua ng air besar), penyumbatan  \ndan perdarahan intestinal, meningkatnya kejadian kehamilan ektopik, infertilitas, \ndispareunia, kista coklat ovarium dan pembesaran ovarium (Hoffman et al. , \n2012). Temuan klinis  yang bermacam -macam ini juga merupakan gejala pada \npenyakit lain, hal ini menyebabkan endometriosis susah ditegakkan dengan \nberdasar pada gejala klinis saja. \nDiperkirakan lebih dari 70 juta perempuan dan gadis di seluruh dunia \nmenderita endomet riosis. Di A merika Serikat diperkirakan 5 -10% wanita  usia \nreproduksi mengalami endometriosis. Data lain menunjukkan bahwa \nendometriosis mengenai wanita usia reproduksi  sekitar 6 -10% dan 30 -45% \nmengenai wanita dengan infertilitas (Oepomo, 2007). Endometriosis tercatat pada \nsekitar 20% dari laparatomi ginekologi dan setengah dari kasus ini merupakan  \npenemuan yang tidak terduga (Hacker dan Moore, 2007). \nData penderita endometriosis di Indonesia belum diketahui secara pasti. \nNamun, angka kejadian dari rumah sakit di Indone sia, di Rumah Sakit Umum \nDaerah (RSUD) Dr. Moewardi  pada tahun 2001 melalui bedah ginekolo gi \nditemukan endometriosis berkisar 13,6% ; di RSUD  Dr. Sutomo angka kejadian \n\n \n4 \n \nendometriosis kelompok infertilitas  berdasarkan penelitian yang dilakukan \nSamsulhadi (199 4) yaitu  37,2% dan di RS  Dr. Cipto Mangun Kusumo angka \nkejadian endometriosis pada kelompok infertilitas  berdasarkan peneliti an Yakob \n(1998) berkisar 69,5% (Oepomo, 2007). \nSumatera Barat adalah salah satu provinsi yang belum memiliki data \nmengenai gambaran endometriosis. Belum ada data pasti dari endometr iosis yang \nada di Sumater a Barat. Rumah Sakit Dr. M. Djamil merupakan Rumah Sakit \nUmum Pusat (RSUP) yang ada di Sumatera Barat. Oleh karena itu data di RSUP \nDr. M. Djamil bisa menjadi gambaran endometriosis di Sumatera Barat. \nBerdasarkan keterangan diatas, banyak hal yang menjadikan endometriosis \npenting dalam ginekologi , diantaranya adalah gejala klinis dan lokasi anatomi \nyang beragam sehingga sulit terdiagnosis, membutuhkan pemeriksaan laparaskopi \natau lap aratomi dan pemeriksaan histopatolog i, endometriosis  berkaitan dengan \ninfertilitas, endometriosis bisa berkembang kearah kanker dan dapat menurunkan \nkualitas hidup penderita (Hacker dan Moore , 2007; Oepomo, 2007). Oleh karena \nitu penulis tertarik untuk mel akukan peneliti an mengenai ―Gambaran  \nEndometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi  RSUP Dr. M.Djamil Padang \nTahun 2010-2013‖. \n1.2 Rumusan Masalah \n―Bagaimana Gambaran Endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi  RSUP \nDr. M.Djamil Padang Tahun 2010-2013?‖ \n \n \n\n \n5 \n \n1.3 Tujuan Penelitian \nTujuan Umum : \nMengetahui bagaimana Gambaran Endometriosis di Laboratorium Patologi \nAnatomi RSUP Dr. M.Djamil Padang Tahun 2010-2013. \nTujuan Khusus: \n1. Mengetahui distribusi endometriosis berdasarkan usia. \n2. Mengetahui distribusi endometriosis berdasarkan riwayat paritas. \n3. Mengetahui distribusi endometriosis berdasarkan lokasi anatomi. \n4. Mengetahui gambaran endometriosis berdasarkan gejala klinis. \n5. Mengetahui gambaran gejala klinis endometriosis berdasarkan lokasi anatomi. \n1.4 Manfaat Penelitian \n1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti dalam melaksanakan \ntugas selanjutnya. \n2. Memberi sumbangan dalam pengeta huan tentang gambaran  endometriosis di \nRSUP. Dr. M.Djamil Padang. \n3. Hasil penelitian diharapkan  bisa digunakan sebagai data dasar  kasus \nendometriosis di Sumatera Barat. \n \n \n \n \n \n \n \n\n \n6 \n \nBAB 2 \nTINJAUAN PUSTAKA \n \n2.1 Definisi \nPengertian endometriosis menurut Kamus Kedokteran Dorland adalah \nsuatu keadaan dengan jaringa n yang mengandung stroma dan kelenjar  \nendometrium khas terdapat secara abnormal pada berbagai tempat di dalam \nrongga panggul atau daerah lain pada tubuh ( Dorland, 2006). Menurut Drife \ndan Magowan (2004)  definisi endometriosis adalah ditemukannya jaringan \nyang mengandung stroma dan kelenjar endometrium fungsional di luar kavum \nuteri. \n2.2 Epidemiologi \nEndometriosis merupaka n penyakit progresif ginekologi  yang sering \nditemukan pada wanita remaja dan usia reproduksi  (15–44 tahun). Diagnosis \nditegakkan biasanya pada usia  reproduktif yaitu 25 -29 tahun.  (Jacoeb dan \nHadisaputra, 2009).  Prevalensi pasti dari endometriosis masih belum \ndiketahui, karena dibutuhkan laparaskopi, laparatomi, dan histopatologi untuk \nmemastikan diagnosis. Namun demikian  diperkirakan ada 3 -10% dari wanita \nusia produktif yang mengalami endometriosis.  Dua puluh lima persen sampai \ntiga puluh lima persen dari jumlah tersebut ditemukan pada wanita infertil. \nEndometriosis ditemukan pada 1 -2% wanita yang mengalami \nsterilisasi atau pengembalian sterilisasi, 10%  dari op erasi histerektomi, 16-\n31% dari laparaskopi, dan 53% dari remaja dengan keluhan nyeri pelvis berat  \n(DeCherney et al , 2007) . Selain itu, Memardeh (2003)  juga mendapatkan \n\n \n7 \n \nbahwa endometriosis ditemukan pada 1 –2% penderita yang menjalani \nsterilisasi, 10 % h isterektomi dan 16 –38 % pada laparaskopi (Andriana dan  \nArsana, 2003).  Endometriosis merupakan diagnosis g uinekologi yang paling  \nsering ditemukan pada pasien rawat inap di rumah sakit terutama usia 15 -44 \ntahun yaitu sekitar 6% dari semua pasien rawat inap (DeCherney et al., 2007). \nEvers mendapatkan angka kejadian endometriosis ini pada 60–80% \npenderita dismenore a, 30 –50% penderita nyeri perut, 25 –40% penderita \ndispareunia, 30 –40% pasang an suami istri yang infertil , dan 10 –20% pada \npenderita dengan siklus menstruasi yang kacau . Endometriosis tidak terbatas \npada nullipara, karena  endometriosis juga sering ditemukan  pada wanita \ndengan infertilitas  sekunder. Angka kejadian maksimum adalah se lama usia \n30-40 tahun.  Diagnosis umumnya agak terlambat ditegakkan pada mereka \nyang datang dengan infertilitas daripada nyeri (Jacoeb dan Hadisaputra, 2009). \n2.3 Etiopatogenesis \nMekanisme terjadinya endometriosis belum dapat diketahui secara \npasti. Namun beberpa teori telah dikemukakan dan dipercaya sebagai \nmekanisme dasar endometriosis. Beberapa teori tersebut antara lain: \na) Teori Menstruasi Retrograde dan Implantasi \nTeori ini dikemukakan oleh Sampson pada tahun 1927, dijelaskan \nbahwa endometriosis terjadi karena darah menstruasi mengalir balik melalui \ntuba ke dalam rongga pelvis (retrograde). Darah yang berbalik ke rongga \nperitoneum diketahui mampu berimplantasi pada permukaan peritoneum dan \nmerangsang metaplasia peritoneum yang kemudian akan  merangsang \nangiogenesis. Hal ini dibuktikan dengan lesi endometriosis sering dijumpai \n\n \n8 \n \npada daerah yang meningkat vaskularisasinya. Kondisi hiperperistaltik dan \ndisperistaltik uterus yang terjadi pada wanita dengan endometriosis akan \nmeningkatkan peristiwa ini (Hoffman et al., 2012). \nDewasa ini, teori Sampson tidak lagi menjadi teori utama, karena teori \nini tidak dapat menjelaskan keada an endometriosis di luar pelvis. Teori yang \nmenguatkan bahwa teori Sampson tidak dapat lagi diterima adalah telah \nditemukan bahwa partikel endometrium yang  memasuki rongga peritoneal \nakan diserang dan dihancurkan oleh proses imunnologi yang masih belum \ndapat diteliti. Selain itu, teori m enstruasi retrograde tidak dapat menjelaskan \nmekanisme terjadinya endometriosis di organ -organ lain, sehingga \nendometriosis dipercaya memiliki beberapa patogenesis lain  (Hoffman et al., \n2012). \nb) Teori Emboli Limfatik dan Vaskuler \nTeori ini dapat menjelaskan mekanisme terjadinya endometriosis di \ndaerah luar pelvis. Daerah retroperitoneal memiliki banyak sirkulasi limfatik. \nSuatu penelitian menunjukkan bahwa pada 29 % wanita yang menderita \nendometriosis ditemukan nodul limfa pada pelvis. Hal ini dapat menjadi s alah  \nsatu dasar teori akan endometriosis yang terjadi di luar pelvis, contohnya di \nparu. Selain itu, penyebaran adenokarsinom a melalui jalur limfatik \nmendukung teori endometriosis bisa menyebar melalui jalur limfatik \n(Hoffman et al., 2012). \nc) Teori Metaplasia Selomik \nTeori metaplasia ini dikemukakan oleh Robert Meyer yang \nmenyatakan bahwa endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel -sel \n\n \n9 \n \nepitel yang berasal dari sel epitel selomik pluripoten dapat \nmempertahankan hidupnya di daerah pelvis, sehingga  terbentuk jaringan \nendometriosis. Teori ini didukung oleh penelitian -penelitian yang dapat \nmenerangkan terjadinya pertumbuhan endometriosis di toraks, umbilikus \ndan vulva (Hoffman et al., 2012). \nd) Teori Imunologik dan Genetik \nDidalam buku Williams Gynecology (2012) diterangkan bahwa \ngangguan imunitas terjadi pada wanita yang menderita endometriosis. \nDmowski dkk. mendapatkan adanya kegagalan dalam sistem pengumpulan \ndan pembuangan zat-zat sisa saat menstruasi oleh makrofag dan fungsi sel \nNK (Natural Killer) yang menurun pada endometrio sis. Beberapa \npenelitian menemukan peningkatan IgA, IgG dan IgM dalam serum \nperitoneal penderita endometriosis. \nSelain itu k adar C3  (Complement-3) juga berfluktuasi, tetapi \nmeningkat di dalam serum pada en dometriosis yan g lebih berat. \nComplement-3 merupakan komplemen yang memegang kunci penting \nuntuk berawalnya kaskade proses imunologis tubuh. Komplemen ini \ndipakai oleh antibodi untuk proses penghancuran dinding sel sehingga \nmerusak sel. Kadar C3 yang tinggi di dalam seru m menunjukkan \nkomplemen tersebut tidak dikonsumsi dalam proses imunologi dan proses \nsitolisis tidak berlangsung. Hal ini yang menerangkan mengapa teori \nSampson tidak berlaku untuk semua wanita  sehingga bisa menyababkan \nendometriosis (Hoffman et al., 2012). \n \n\n \n10 \n \n2.4 Faktor Risiko \nBerdasarkan beberapa sumber, dapat disimpulkan r esiko tinggi \nterjadinya endometriosis ditemukan pada : \na) Wanita yang ibu atau saudara perempuannya menderita  \nendometriosis (Mounsey et al., 2006 ; Hoffman et al., 2012) \nb) Wanita usia produktif yaitu 15 –44 tahun (Jacoeb dan Hadisaputra, \n2009) \nc) Wanita dengan siklus menstruasi kurang  dari 28 hari atau siklus \nmenstruasi 28-34 hari (Mounsey et al., 2006) \nd) Usia menars yang lebih awal dari normal (Limbong, 2012) \ne) Lama waktu menstruasi  kurang dari 6 hari atau lebih dari 6 hari \n(Mounsey et al., 2006) \nf) Adanya orgasme ketika menstruasi (Limbong, 2012) \ng) Terpapar toksin dari lingkungan (Hoffman et al., 2012) \nh) Defek Anatomi (Hoffman et al., 2012) \ni) Mengkonsumsi alkohol (Mounsey et al., 2006) \nj) Pernah mengkonsumi kontrasepsi oral (Mounsey et al., 2006) \n2.5 Klasifikasi dan Lokasi Anatomi Endometriosis \n 2.5.1 Klasifikasi \n Penentuan klasifikasi dan stadium endometriosis sangat penting \ndilakukan untuk menerapkan cara pengobatan yang tepat dan untuk \nevaluasi hasil pengobatan. Klasifikasi Endometriosis yang digunakan saat \nini adalah menurut American Society For Reproductive Medicine  yang \ntelah di revisi pada tahun 1997  yang berbasis pada tipe, lokasi, tampilan, \n\n \n11 \n \nkedalaman invasi lesi, penyebaran penyakit dan pe rlengketan. Klasifikasi \ntersebut sebagai berikut : \na) Stadium I (minimal) 1–5 \nImplantasi terbatas dan tidak ada perlengketan \nb) Stadium II (ringan) 6–15 \nImplantasi superfisial berkelompok dengan luas kurang dari 5 cm,  \ntersebar pada ovarium dan peritoneum. Tidak  ada perlengketan yang \nnyata. \nc) Stadium III (sedang)  16–40 \nImplantasi superfisial dan dalam  jumlah yang multipel. Terdapat \nperlengketan peritubal dan periovarium. \nd) Stadium IV (berat) >40 \n Implantasi superfisial dan dalam yang multipel, terdapat \nendometrioma ovarium yang besar. Terdapat perlengketan yang yang \nhebat. \n\n \n12 \n \n \nGambar.2.1 Klasifikasi endometriosis menurut American Society For Reproductive Medicine yang \ntelah di revisi pada tahun 1997 (Sumber : Hoffman LB, Schorage JO, Schaffer JI, \nHalvorson LM, Bradshaw KD, Cunningham FG, 2012. Williams Gynecology. 2 nd \nEdition. New York : McGraw-Hill Companies, 285) \n\n\n \n13 \n \nGambar.2.2 Stadium dari endometriosis (Sumber : DeCherney, AH, Nathan L, Goodwin, Murphy, \nLaufer, Neri. 2007. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New \nYork : McGraw-Hill Companies, Chapt.43) \n2.5.2 Lokasi Anatomi \nEndometriosis bisa terjadi di mana saja dalam  pelvis dan pada permukaan \nperitoneal di luar pelvis . Paling umum, endometriosis ditemukan di daerah  \npanggul. Ovarium, peritoneum di bagian panggul, anterior dan posterior cul-de-\nsac, dan ligamen uterosakral sering terlibat. Selain itu,  septum rektovaginal, \nureter, dan kandung kemih. Kista coklat ovarium (endometrioma) adalah \nmanifestasi umum dari  endometriosis. Endometriosis juga ditemukan di  \nperikardium, bekas luka bedah, dan pleura namun kasusnya jarang . Sebuah teori \npatologi mengungkapkan bahwa  endometriosis telah diidentifikasi  pada semua  \norgan kecuali limpa (Hoffman et al., 2012). \n\n\n \n14 \n \nTabel.2.1 Distribusi Frekuensi  Lokasi Anatomi Endometriosis \n(Penelitian diambil dari 500 kasus, banyak wanita yang menunjukkan kasus keterlibatan multipel \nlokasi anatomi) \nLokasi Persentase \nLigamentum Uterosakral 63 % \nPermukaan Ovarium  56% \nEndometrioma 19.5% \nFossa Ovarium  32.5% \nAnterior Vesika Urinaria  21.5% \nCavum Douglas  18.5% \nLigamentum Latum 7.5% \nUsus 5% \nTuba Fallopi 4% \nNodus Iskemik Tuba 3% \nUterus 4.5% \nSumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, 3rd \nEdition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 40 \n \nGambar 2.3 Lokasi Anatomi Ditemukan Endometriosis (Sumber : Oats J, Suzanne A, 2010. \nFundamentals of Obstetrics and Gynaecology. 9th Edition, Philadelphia : Mosby Elsevier, \n272) \n2.6 Gejala Klinis \nGejala klinis pada endometriosis akan  memuncak pada keadaan \npremenstruasi, dan mereda setelah menstruasi selesai. Nyeri panggul adalah gejala \nyang paling umum terjadi, gejala lain adalah dispareunia, dismenorea, nyeri pada \n\n\n \n15 \n \nkandung kemih dan  nyeri pada punggung bawah. Endometriosis muncul den gan \ngejala yang tidak khas tetapi muncul sesuai siklus menstruasi. Misalnya, wanita \ndengan endometriosis saluran kemih dapat menggambarkan infeksi saluran kemih \nsiklik dan hematuria; wanita dengan keterlibatan rektosigmoid mengeluhkan \nhematoschezia siklik; dan lesi di pleura menunjukkan gejala pneumotoraks \nmenstruasi atau batuk berdarah (hemomptisis) (Hoffman et al., 2012). \na) Dismenorea \nNyeri siklik saat menstruasi umum ditemukan pada wanita dengan  \nendometriosis. Biasanya, dismenorea dimulai 24-48 jam sebelum menstruasi dan \nkurang respon terhadap obat anti inflamasi non steroid  (OAINS) dan kombinasi \nkontrasepsi ora l. Nyeri pada dismenor ea dengan endometriosis ini lebih parah  \ndibandingkan dengan  dimenorea primer. Selain itu , endometriosis yang sangat \ninvasif, yaitu endometriosis dengan invasi >5 mm di bawah permukaan peritoneal, \njuga berhubungan dengan tingkat keparahan dismenorea (Chapron, 2003). \nb) Dispareunia \nEndometriosis terkait dispareunia yang paling sering berhubungan dengan  \nlokasinya di  septum rektovaginal atau di ligamen uterosakral . Keterlibatan \novarium jarang dihubungkan dengan dispareunia (Murphy, 2002). Nyeri tersebut \nmuncul karena ligamen uterosakral  tegang s elama koitus (Fauconnier, 2002). \nEndometriosis dicurigai jika dispareunia muncul pada orang yang telah bertahun-\ntahun melakukan koitus namun sebelumnya tidak pernah mengeluhkan nyeri saat \nkoitus (Ferrero, 2005). \n \n \n\n \n16 \n \nc) Nyeri pelvis \nNyeri pelvis sering ditemukan dengan kondisi nyeri yang tidak sesuai \ndengan periode mestruasi atau aktifitas seksual, tetapi seringkali dirasakan terus -\nmenerus (kronik) pada pel vis. Nyeri pelvis dihubungkan d engan adanya \nperlengketan dan ditemukannya jaringan parut pada pelvis. Penyebab pasti nyeri \nmasih belum jelas. Salah satu penyebabnya diduga karena adanya su bstansi \nsitokin dan prostaglandin yang dihasilkan oleh implan endometriosis ke cairan \nperitoneum (Giudice, 2010).  \nd) Nyeri punggung bawah  \nEndometriosis yang terjadi pada ligamen u terosakral dapat menghasilkan \nnyeri yang menjalar hingga ke punggung bagian belakang. Nyeri dari uterus juga \ndapat menjalar ke area tersebut. \ne) Infertilitas  \nEndometriosis sangat erat kaitannya dengan infertilitas, dan  diperkirakan \n20% sampai 40% perempuan infertil menderita  endometriosis (Speroff, 2005). \nPada endometriosis berat te rjadi distorsi dari anatomi panggul, perubahan bentuk \nanatomi dari tuba  falloppii dan dapat pula terjadi obstruksi dari tuba falloppii. \nPada endometriosis berat terbentuk endometrioma yang besar kadang  berganda \nyang merusak jaringan ovarium, secara mekanis  mengganggu ovulasi dan \nfertilisasi. Dengan kondisi seperti ini dengan  mudah dapat dijelaskan bahwa \ngangguan mekanis sangat berperan  terhadap fungsi reproduksi. Endometriosis \nringan yang pada pengamatan dengan laparoskop tidak terjadi distorsi seperti pada \nendometriosis berat tetapi dapat menimbulkan infertilitas (Oepomo, 2007).  \n\n \n17 \n \nInfertilitas yang berhubungan dengan endometriosis dapat  dijelaskan \nmelalui mekanisme (Speroff, 2005) : (1) Distorsi anatomi dari adnexsa, \nmenghalangi atau mencegah penangkapan ovum sesudah ovulasi ; (2) Gangguan \npertumbuhan oosit atau embryogenesis dan; (3) Penurunan reseptivitas atau \nkemampuan menerima endometrium. \nPada endometriosis yang ringan kemungkinan besar mekanisme infertilitas \ndisebabkan oleh : (1) gangguan pada  implantasi; (2) defek imunologi dan; (3) \npenurunan kualitas oosit karena terganggunya proses folikulogenesis. \nf) Nyeri pada kandung kemih dan Disuria \nLesi superfisial pada kandung kemih biasanya asimtomatik. Lesi dapat \nmenyerang otot dan menimbulkan nyeri saat berkemi h, dan dysuria. Meskipun \nkeluhan ini tidak selalu muncul pada penderita endometriosis, namun kelu han \nnyeri pada kandung kemih, di suria, dan urgensi pada wanita tetap menjadi gejala \npada wantia yang terkena endometriosis, terutama jika keluhan ini disertai  hasil \nkultur urin yang negatif. \ng) Nyeri saat defekasi \nNyeri saat defekasi merupakan gejala yang paling jarang muncul \ndibandingkan dengan gejala lain pada endometriosis. Biasanya gejala ini \nmencerminkan adanya implan endometriosis di rektosigmoid. Gejala ini dapat \nterjadi secara kronik, siklik, dan sering berhubungan juga dengan gejala seperti \nkonstipasi, diare, atau hematoschezia (Hoffman et al., 2012). \nh) Penyumbatan Intestinal  \nVarras ( 2002) dalam buku Williams Gynecology  menyebutkan bahwa \nendometriosis bisa melibatkan usus kecil, sekum, apendiks atau kolon \n\n \n18 \n \nrektosigmoid dan menyebabkan obstruksi usus dalam beberapa kasus (Hoffman et \nal., 2012) . Meskipun endometriosis pada saluran pencernaan biasanya te rbatas \npada usus dinding subserosa dan muskularis propia, namun pada kasus yang berat \nbisa melibatkan lapisan transmural . Hal ini menimbulkan gambaran klinis dan \ngambaran radiologi yang sama dengan keganasan (Decker, 2004). \nTabel.2.2 Distribusi Frekuensi Gejala pada 500 Wanita Endometriosis \nGejala Persentase (%) \nDismenorea  60 – 80 \nNyeri Pelvis  30 – 50 \nInfertilitas  30 – 40 \nDispareunia  25 - 40  \nMenstruasi tidak teratur  10 – 20 \nDisuria/haematuria siklik  1 – 2 \nDyschezia siklik  1 – 2 \nPerdarahan Rektum siklik  <1 \nSumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd \nEdition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 10. \n \n2.7 Hubungan Gejala Klinis dengan Lokasi Anatomi ditemukannya \nEndometriosis \nHubungan gejala klinis yang muncul dengan lokasi anatomi ditemukannya \nimplan endometriosis secara pasti masih belum jelas mekanismenya. Namun \nberdasarkan beberapa teori yang sudah dibahas diatas, gejala klinis yang muncul \nbisa dihubungkan dengan lokasi anatomi ditemukannya implan endometriosis.  \nNamun Overton et al. (2007) dalam buku An Atlas of Endometriosis menyebutkan \nbahwa tidak selalu lok asi anatomi yang ditemukan impla n endometriosis \nmenimbulkan keluhan di lokasi tersebut, hal itu bergantung kepada kedalaman \ninfiltrasi dari implan dan kearah mana pertumbuhan dari implan tersebut (Overton \n\n \n19 \n \net al., 2007). Tabel 2.3 menunjukkan hubungan gejal klinis pada pasien dengan \nlokasi anatomi ditemukannya implan endometriosis. \nTabel.2.3 Gejala Klinis Berdasarkan Lokasi Implan Endometriosis \nLokasi Gejala Klinis \nSaluran Reproduksi Dismenorea \nPerut bawah dan Pelvis  Nyeri \n  Dispareunia \n  Infertilitas \n  Menstruasi tidak teratur \n  Nyeri Pinggang \nSaluran Pencernaan Tenesmus Siklik/ Perdarahan \n    Diare \n    Konstipasi \nSaluran Kemih Hematuria Siklik/Nyeri \n    Penyumbatan Uretra \nLuka Operasi, Umbilikus Nyeri Siklik dan Perdarahan \nParu-Paru Batuk Darah Siklik \nSumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, 3rd \nEdition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 10. \n \n2.8 Diagnosis Banding \nBerdasarkan geja la dan tanda klinis dari endomet riosis maka didap atkan \nbeberapa diagnosis banding yaitu : \na). Kelainan Ginekologi \nPelvic Inflammatory Disease , tubo-ovarian ab scess, salpingitis, \nendometritis, perdarahan kista ovarium , torsio uteri , dismenorea primer, \ndegenerating leiomyoma. \n \n \n \n\n \n20 \n \nb). Kelainan Non Ginekologi \nInterstitial cystitis , infeksi traktus urinarius kronik, batu ginjal , \ninflammatory bowel disease, irritable bowel syndrome, divertikulitis, limfadenitis \nmesenterikus, kelainan musculoskeletal. \n2.9 Diagnosis \nDiagnosis ditegakkan berdasarkan : \na) Anamnesis \nKeluhan utama pada endometriosis adalah nyeri . Nyeri pelvik \nkronis yang disertai infertilitas juga merupakan masalah klinis utama pada \nendometriosis. Endometrium pada organ tertentu akan menimbulkan efek \nyang sesuai dengan  fungsi organ tersebut, sehingga lokasi penyakit dapat \ndiduga. Riwayat dalam kelu arga sangat penting untuk ditanyakan karena \npenyakit ini  bersifat diwariskan. Kerabat jenjang pertama berisiko tujuh \nkali lebih besar untuk  mengalami hal serupa . Endometriosis juga lebih \nmungkin berkembang pada  saudara perempuan monozigot daripada \ndizigot. Rambut dan nevus displastik  telah diperlihatkan b erhubungan \ndengan endometriosis (Limbong, 2012). \nb) Pemeriksaan Fisik  \n Inspeksi \nEndometriosis adalah penyakit yang sebagian besar ditemukan di \ndalam rongga panggul. Oleh karena itu , sering tidak ada  kelainan yang \nditemukan pada inspeksi. Kecuali pada  endometriosis di bekas luka  \nepisiotomi atau bekas luka operasi . Endometriosis jarang dapat \n\n \n21 \n \nberkembang secara spontan pada daerah perineum atau perianal (Hoffman \net al., 2012). \n Pemeriksaan dengan Spekulum \nPemeriksaan vagina dan leher rahim  dengan spekulum sering \nmemberi kesan  tidak ada  tanda-tanda endometriosis. Kadang-kadang, \nkebiruan atau merah (burn powder lesion ) dapat dilihat pada serviks atau \nforniks posterior vagina. Lesi ini bisa lunak  atau berdarah saat kontak. \nSebuah studi baru-baru ini  menemukan bahwa  pemeriksaan spekulum \nmemperlihatkan lesi endometriosis pada 14% pasien yang didiagnosis \ninfiltrasi endometriosis (Chapron, 2003). \n Pemeriksaan Bimanual \nPalpasi or gan panggul sering me mperlihatkan kelainan anatomi \nyang dicurigai endometriosis. Nodul yang lunak pada ligamen uterosakral \nmencerminkan penyakit aktif  di sepanjang ligamen. Sel ain itu, massa \nadneksa kistik yang membesar dapat menunjukkan adanya  endometrioma \novarium. Pemeriksaan bimanual d apat me nunjukkan retroversi uterus, \nuterus lembek yaitu dengan perabaan posterior cul-de-sac. \nMeskipun palpasi organ panggul dapat membantu dalam diagnosis, \nadanya nyeri panggul saat pemeriksaan lebih  fokus dalam mendeteksi  \nendometriosis yaitu dengan sensitivitas  36-90% dan spesifisitas 32-92% \n(Hoffman et al. , 2012 ). Sebagai contoh,  Chapron dan rekan kerja nya \n(2003) dalam Hoffman et al.  (2012) mempalpasi nodul yang nyeri  pada \n43% pasien endometriosis. \n \n\n \n22 \n \nb) Uji Laboratorium \n Penanda Kanker antigen 125 (CA125) serum \nKanker antigen 125  (CA125) merupakan sebuah penentu antigen \npada glikoprotein, CA125 telah diidentifikasi pada beberapa jaringan \ndewasa seperti epitel saluran tuba, endometrium, endoserviks, pleura, dan \nperitoneum ( Hoffman et al ., 2012). Menurut Hornstein dalam buku \nWilliams Gynecology Kadar CA125 tinggi telah terbukti berkorelasi \npositif dengan t ingkat keparahan endometriosis . Namun Mol menjelaskan \npemeriksaan CA125 memiliki sensitivitas yang buruk dalam mendeteksi \nendometriosis ringan (Hoffman et al. , 2012).   Penanda ini tampaknya \nmenjadi tes yang lebih baik dalam mendiagnosis endometriosis stadium III \ndan IV. \n Penanda lain  \nKanker antigen 19 -9 (CA 19 -9) adalah penanda yang juga telah \nterbukti berkorelasi positif dengan tingkat keparahan endometriosis \n(Hoffman et al., 2012). Selain itu kadar interleukin-6 (IL-6) serum di atas \n2 pg / mL juga dijadikan penanda dengan sensitivitas 90% dan spesifisitas \n67%. Untuk membedakan mereka dengan endometriosis peritoneum atau \ntidak, bisa digu nakan patokan kadar Tumor Necrotizing Factor - (TNF-) \npada cairan peritone al dengan kadar  di atas 15 pg / mL , penanda ini \nmempunyai sensitivitas 100% dan spesifisitas 89% (Bedaiwy, 2002). \n \n \n \n\n \n23 \n \nc) Pencitraan Diagnostik \n  Pencitraan Diagnostik yang bisa dilakukan untuk melihat \nendometriosis a dalah Ultrasonography (USG) dan Magnetic Resonance \nImaging (MRI) (Hoffman et al., 2012). \nd) Laparaskopi Diagnostik \nLaparoskopi diagnostik adalah metode utama yang digunakan  \nuntuk mendiagnosis  endometriosis (Kennedy, 2005). Temuan laparskopi \nyang dilihat  adalah lesi endometriosis yang terpisah , endomterioma, dan \nterbentuknya perlengketan (adhesion) (Hoffman  et al., 2012). \ne)  Pemeriksaan Patologi Anatomi \nInspeksi visual dengan laparoskopi biasanya adekuat untuk \nmendiagnosis endometriosis tetapi konfirmasi histopatologi idealnya tetap \ndilakukan. Diagnosis histologis ditegakkan apabila ditemukan kelenjar dan \nstroma endometrium. Kelenjar dan stroma endometrium yang ditemukan \nkadang disertai deposit hemosiderin dan fibromuskular (Murphy, 2002). \nGambaran histologi kelenjar, stroma, dan deposit hemosiderin dapat \ndilihat pada Gambar 2.4. \n \nGambar 2.4 Gambaran Histologi Endometriosis - Pada gambar terlihat adanya struktur kelenjar \ndan stroma endometrium disertai deposit hemosiderin. (Sumber : Overton C, Davis C, \nMcMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd Edition. United Kingdom : \nUK Informa Ltd, 42) \n\n\n \n24 \n \nPemeriksaan patolog i anatomi dilakukan untuk melihat sedimen \nsecara makroskopik dan mikroskopik (histologi).  Overton et al.  (2007) \ndalam buku An Atlas of Endometriosis mengatakan bahwa endometriosis \ndikelompokkan berdasarkan bentuk maksrosk opik dan mikroskopiknya \nmenjadi : \n1. Implan Klasik \nImplan klasik adalah implan nodular ditandai dengan \nberbagai tingkat fibrosis dan pi gmentasi, sehingga warna akan  \nbervariasi dari putih ke coklat atau hitam. Pewarnaan coklat dan  \nhitam disebabkan oleh jumlah h emosiderin. Pemeriksaan histologi  \ndari biopsi implan menunjukkan jaringan epitel ke lenjar dikelilingi \noleh stroma. \n2. Implan Vesikular \nImplan vesikuler  berukuran kecil, dapat te rjadi secara \ntunggal atau berkelompok. Ciri khas dari i mplan ini adalah adanya \nvaskularisasi yang menonjol dan tamp ak berwarna merah . \nPeritoneum sekitar juga dapat menunjukkan peningkatan \nvaskularisasi. Histologi dari lesi menunjukkan adanya epitel \npermukaan dan stroma endometrium yang hipervaskuler. Cairan  \nmenumpuk di antara permukaan implan dan perito neum yang \nmelapisi, sehingga berbentu k seperti vesikel atau lepuhan.  Selain \nberwarna merah, i mplan vesikuler juga ditemukan berwarna  putih. \nImplan diduga merupakan tahap awal perkembangan implan \nsebelum terjadi vaskularisasi dan perdarahan. \n\n \n25 \n \n3. Implan Papular \nImplan p apular adalah implan kecil, bisa dalam bentuk \ntunggal atau berkelompok. Warna implan ini biasanya keputih -\nputihan atau kadang -kadang kuning. Secara histologi, struktur \nkelenjar kistik dengan stroma ditemukan tertutup dalam jaringan \nsubperitoneal. Peritoneum yang melapisi implan sering \nhipervaskular, dan akumulasi hasil produk sekretori dalam struktur \nkistik yang berisi cairan putih keruh atau kuning. \n4. Implan Hemoragik \nImplan hemoragik  berkembang ketika implan memiliki \nepitel permukaan yang ditutupi oleh stroma dengan pembuluh \ndarah yang banyak . Implan hemoragik adalah  implan yang aktif. \nImplan ini mengikuti semua fase pada siklus menstruasi. \n5. Implan Nodular \nBerbeda dengan implan klasik i mplan nodular t idak \nmemiliki epitel permukaan . K omponen implan respon terhadap \nhormon, berproliferasi, mengalami vasodilatasi pembuluh darah  \ntetapi tidak mencapai  aktivitas sekretori penuh. Tidak ad a \nperdarahan pada fase menstruasi pada implan. \n6. Implan Menyembuh (Healed Implant) \nImplan sembuh masih mengandung sedikit kelenjar kistik  \ndan tidak ada stroma. Implan sembuh dikelilingi oleh jaringan ikat, \nberbentuk nodular atau fibrosis pada daerah implant tersebut. \n\n \n26 \n \nPenjelasan diatas dirangk um dalam t abel 2.3. Selain tipe  implan yang \ndijelaskan diatas, terdapat bentuk lain dari lesi endometriosis. Lesi ini \ndigolongkan sebagai implan atipik yang dijelaskan dalam tabel 2.4. \nTabel.2.4 Karakteristik Histologi Implan Endmetriosis dan Gambaran \nLaparaskopinya \nTipe Histologi Gambaran Laparaskopi Komponen \nRespon terhadap \nHormon \nBebas \n(Free) \n \nHemoragik vesikel dan \nlepuhan \nepitel permukaan \nkelenjar \nproliferatif, \nsekretorik, \n        dan stroma dan menstruasi \nTertutup \n(Closed) papul dan nodul kelenjar dan stroma \nproliferatif, \nsekretorik, \n \n        tidak menstruasi \nMenyembuh \n(Healed)   \nnodul putih atau luka datar \nfibrosis kelenjar saja tidak ada respon \nSumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd \nEdition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 37. \n \nTabel.2.5 Pemeriksaan Histologi dari Implan Atipik \n \nJenis Implan Endometriotik elemen \nKlasik 93% \nWhite opacified 81% \nRed flame-like 81% \nGlandular 67% \nHipervaskularisasi 50% \nPerlengketan dibawah ovarium 50% \nYellow-brown patches 47% \nCircular peritoneal defects 45% \nSumber : Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, 3 rd \nEdition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 38. \n \nEndometriosis yang ditemui tidak sama bentuknya disetiap lokasi \nanatomi, beberapa bentuk makroskopis endometriosis sesuai dengan lokasi \nditemukannya adalah (Limbong, 2012): \n\n \n27 \n \n1. Endometriosis peritoneum \nLesi di peritoneum memiliki banyak vaskularisasi, sehingga \nmenimbulkan perdarahan saat menstrua si. Lesi yang aktif akan \nmenyebabkan timbulnya perdarahan kronik rek uren dan reaksi inflamasi \nsehingga tumbuh jaringan fibrosis dan sembuh. Lesi berwarna merah dapat \nberubah menjadi lesi berwarna hitam dan setelah itu lesi akan berubah \nmenjadi lesi putih yang memiliki sedikit vaskularisasi dan akan ditemukan \njuga debris glandular. \n2. Endometriosis ovarium (Endometrioma) \nPada Endometrioma dapat timbul kista yang berwarna coklat dan \nsering te rjadi perlengketan dengan organ –organ lain, kemudian \nmembentuk konglome rasi. Endometrioma dapat berukuran >3cm dan \nmultilokus, juga dapat tampak seperti kista coklat karena penimbunan \ndarah dan debris ke dalam rongga kista.  \n3. Endometriosis nodular dalam \nPada endometriosis jenis ini, jaringan ektopik menginfiltrasi \nseptum rektovaginal atau struktur fibromuskuler pelvis seperti uterosakral \ndan ligamentum utero -ovarium. Nodul -nodul dibentuk oleh hiperplasia \notot polos dan jaringan fibrosis di sekitar jaringa n yang menginfiltrasi. \nJaringan endometriosis akan tertutup sebagai nodul, dan tidak ada \nperdarahan. \n2.10  Prognosis  \nPada kasus endometriosis, salah satu yang terpenting adalah \npenderita harus diberikan konseling dan pengertian tentang penyakit yang \n\n \n28 \n \ndideritanya secara tepat. Pasien harus diberi pengertian bahwa pengobatan \nyang diberikan belum tentu dapat menyembuhkan. Operasi definitif tidak \ndapat memberikan kesembuhan total, sekalipun resiko  relaps (kambuh)  \nsangat rendah yaitu hanya 3%. \nResiko relaps lebih rendah dengan diberikannya terapi sulih hormon \nestrogen. Setelah dilakukan operasi konse rvatif, tingkat kekambuhan \ndilaporkan sangat bervariasi. Jumlah kasus yang terjadi rata - rata melebihi \n10% dalam tiga tahun dan 35 % dalam lima tahun. \n \n\n \n29 \n \nBAB 3 \nMETODE PENELITIAN \n \n3.1 Jenis Penelitian \nPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif  retrospektif dengan \nmengambil data Laboratorium Patologi Anatomi dari pasien endometriosis \nyang diperiksa di  Laboratorium Patol ogi Anatomi RS UP D r. M Djamil \nPadang periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2013. \n3.2 Waktu dan Tempat Penelitian \nPengambilan data dan penelitian  dilakukan di Laboratorium Patologi \nAnatomi RSUP Dr. M Djamil Padang. Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan \nJuli 2014 - Oktober 2014. \n3.3 Populasi dan Sampel \n 3.3.1 Populasi \n  Populasi dalam penelitian ini adalah semua p asien endometriosis \nyang berobat ke  RSUP Dr. M Djamil Padang periode  1 Januari 2010 - 31 \nDesember 2013. \n 3.3.2 Sampel \n  Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik \nTotal Sampling  dimana sampel adalah semua pasien yang  telah didiagnosis \nsecara histopatologi sebagai endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi \nRSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2013. \n\n \n30 \n \nMenentukan sampel berdasarkan kriteria yang ditentukan sebagai berikut: \na. Kriteria inklusi. \nSemua pasien yang telah didiagnosis secara histopatologi sebagai \nendometriosis di Laboratorium Patologi Anantomi RS UP D r. M Djamil \nPadang. \nb. Kriteria Ekslusi \nData pasien endometriosis yang tidak lengkap. \n3.4 Definisi Operasional \nDefinisi operasional penelitian ini meliputi : \n1. Endometriosis \nEndometriosis adalah  suatu keadaan ditemukannya jaringan \nyang mengandung stroma dan kelenjar endometrium fungsional di luar \nkavum uteri ( Drife dan Magowan, 2004). \n2. Usia \nDefinisi usia dalam penelitian ini adalah lamanya seorang \npasien mengalami kehid upan sejak lahir sampai saat dilakukan \npemeriksaan patologi anatomi. Pengukuran usia dilakukan dengan  \nmenggunakan skala interval dan akan dikelompokkan menjadi: \na) Reproduktif, jika berusia  15- 44 tahun (Jacoeb dan Hadisaputra, \n2009) \nb) Menopause dan Postmenopause, jika berusia  > 45 tahun  (Kasdu, \n2002; Spencer dan Brown, 2007) \n \n\n \n31 \n \n3. Riwayat Paritas \nDefinisi riwayat paritas dalam penelitian ini adalah jumlah \npersalinan bayi di atas 20 minggu  atau lebih baik lahir hidup ataupun \nmeninggal yang pernah dialami pasien sebelumnya . Paritas \ndikategorikan menjadi (Cunningham et al., 2013): \na. Nulipara, jika pasien belum pernah menyelesaikan kehamilan \nmelewati gestasi 20 minggu, pasien mungkin pernah atau belum \npernah hamil, pernah abortus spontan at au elektif, atau \nmengalami kehamilan ektopik. \nb. Primipara, jika pasien pernah satu kali melahirkan bayi yang \nlahir hidup atau meninggal dengan perkiraan lama gestasi 20 \nminggu atau lebih. \nc. Multipara: j ika pasien pernah melahirkan dua atau lebih bayi \nhidup atau meninggal dengan perkiraan lama gestasi 20 minggu \natau lebih. \n4. Lokasi Anatomi \nDefinisi lokasi anatomi dalam penelitian ini adalah tempat \nditemukan lesi endometriosis secara klinis dan terbukti dengan \npemeriksaan histopatologi. Skala yang digunakan adalah skala \nnominal. Untuk memudahkan dalam menganalisis, lokasi anatomi \ndikelompokkan berdasarkan : \na) organ genitalia interna  uterus, tuba fallopi dan ovarium  \n(endometrioma) \nb) organ genitalia eksterna  vulva, vagina dan serviks \n\n \n32 \n \nc) bukan organ genitalia   perineum, peritoneum, usus, ureter, \nvesika urinaria, rektum, cul-de-sac, ligamentum latum, round \nligament, kolon sigmoid, appendix, umbilikus, septum rektovagina, \ndll. \n5. Gejala Klinis \nDefinisi gejala klinis dalam penelitian ini adalah  keluhan yang \nmuncul pad a pasien yang berkaitan dengan  endometriosis. Gejala \nklinis yang dilihat adalah berdasarkan pencatatan yang ada di status \npasien, seperti nyeri pelvis, dismenorea, dispareunia, diskezia,  disuria, \ninfertilitas, penyumbatan intestinal, dll. Skala yang digunakan adalah \nskala nominal. \n3.5 Instrumen Penelitian \nInstrumen yang digunakan  adalah lembar permintaan pemeriksaan \nhistopatologi dan hasil pemeriksaan histopatologi. \n3.6 Prosedur Pengumpulan Data \nData yang dikumpulkan berasal dari data sekunder. Data d iambil dari \nbuku hasil pemeriksaan Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. M. Djamil \nPadang lalu dilakukan evakuasi, pencatatan, pengolahan dan analisis data. \n3.7 Proses Pengolahan Data \nData yang telah terkumpul akan di kelompokkan berdasarkan definisi \noperasional yang sudah ditentukan. Setelah itu data dimasukkan ke dalam \nmaster tabel penelitian, dilakukan pengecekan ulang  data yang dimasukkan, \n\n \n33 \n \ndiolah secara manual, kemudian dilakukan pengecekkan ulang dari hasil yang \nsudah didapatkan. \n3.8 Analisis dan Penyajian Data \n3.8.1    Analisis Univariat \nAnalisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian \nini untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase yang meliputi usia, lokasi \nanatomi, gejala klinis, dan riwayat obstetri. \n1.8.2 Penyajian Data \nData disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n\n \n34 \n \nBAB 4 \nHASIL PENELITIAN \n \n4.1 Deskripsi Umum Penelitian \nPenelitian ini dilakukan di RS UP Dr. M. Djamil Padang yang berlokasi di \nJalan Perintis Kemerdekaan. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan dari bulan \nAgustus sampai September dipero leh 113 pasiena yang terdiagnos is secara klinis \nsebagai endometriosis tetapi hanya 33 dari pasien tersebut yang terdiagnosis \nsecara patologi anatomi. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah  33 sampel. \nSemua data  pada penelitian ini  diambil dari data sekunder yaitu lembar \npermintaan dan hasil p emeriksaan patologi anatomi serta catatan rekam medik \npasien yang terdiagnosis endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP \nDr. M. Djamil Padang. \n4.2 Hasil Analisis Univariat \n4.2.1 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Usia \nDistribusi endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP. Dr. M. \nDjamil Padang periode 2010-2013 berdasarkan usia, dapat dilihat pada tabel 4.1: \nTabel 4.1 Distribusi endometriosis berdasarkan usia \nKelompok Usia     F % \nUsia Reproduktif  21 64 \nUsia Menopause dan Post Menopause  12 36 \nTotal 33 100 \n \n\n \n35 \n \nBerdasarkan tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa pasien endometriosis \nbanyak terdiagnosis pada usia reproduktif yaitu sebanyak 21 orang (64%), lebih \nbanyak dari pada usia menopause dan post menopause. \n4.2.2 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Riwayat Paritas \nBerdasarkan riwayat paritas, pasien endometriosis di Laboratorium \nPatologi Anatomi RSUP. Dr. M.  Djamil Padang periode 2010 -2013 terbanyak \nadalah nulipara sebanyak 15 orang (46%). Data lengkap distribusi endometrioisis \nberdasarkan riwayat paritas dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut : \nTabel 4.2 Distribusi endometriosis berdasarkan riwayat paritas \nRiwayat Paritas f % \nNulipara 15 46 \nPrimipara 7 21 \nMultipara \nTidak diketahui \n7 \n4 \n21 \n12 \nTotal 33 100 \n \n4.2.3 Distribusi Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi \nDari penelitian yang sudah dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi \nRSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2010 -2013 diketahui bahwa lokasi anatomi \nterbanyak ditemukan endometriosis yaitu di organ genitalia interna sebanyak 33 \nkasus (100%). Organ genitalia in terna terbanyak ditemukan endometriosis yaitu \novarium sebanyak 27 kasus (82%). Sementara itu endometriosis yang ditemukan \ndi luar  organ genitalia sebanyak 6 kasus (18%) yaitu 1 kasus di kolon (3%), 3 \nkasus di omentum (9%), dan 2 kasus di apendiks (6%).  Gambaran lengkap \n\n \n36 \n \ndistribusi endometriosis berdasarkan lokasi anatomi bisa dil ihat pada tabel 4.3  \nberikut: \nTabel 4.3 Distribusi endometriosis berdasarkan lokasi anatomi \nLokasi Anatomi f (n=33)* % \nOrgan genitalia interna \n           Uterus \n           Ovarium \n           Tuba \n           Servix \n33 \n18 \n27 \n5 \n2 \n100 \n54 \n82 \n15 \n6 \nOrgan genitalia \neksterna \n0 0 \nBukan organ genitalia \n           Kolon \n           Omentum \n           Apendiks \n6 \n1 \n3 \n2 \n18 \n3 \n9 \n6 \n*sebagian besar sampel menunjukkan keterlibatan multipel lokasi anatomi \n4.2.4 Gambaran Endometriosis Berdasarkan Gejala Klinis \nGambaran endometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP. Dr. \nM. Djamil Padang periode 2010 -2013 berdasarkan gejala klinis  mendapatkan \nhasil bahwa dari semua gejala klinis yang ditemukan, ada empat gejala klinis yang \npaling sering ditemukan yaitu dismenorea sebanyak 23 orang (70%), bengkak di \nperut sebanyak 14 orang (42%), infertilitas sebanyak 12 orang (36%) , dan \nperdarahan uterus disfungsional sebanyak 12 orang (36%) . Semua gej ala klinis \nyang ditemukan pada penelitian bisa dilihat pada tabel 4.4 berikut : \n \n \n \n \n \n\n \n37 \n \nTabel 4.4 Gambaran endometriosis berdasarkan gejala klinis \nGejala Klinis f (n=33) % \nNyeri \n         Dismenorea \n         Nyeri Pelvis \n         Dispareunia \n \n23 \n4 \n2 \n \n70 \n12 \n6 \nBengkak di perut 14 42 \nInfertilitas \nPerdarahan Uterus Disfungsional (PUD) \n12 \n12 \n36 \n36 \nInkontinensia urin (tipe urgensi) \nHematoschezia \n1 \n1 \n3 \n3 \n \n4.2.5 Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi \nBerdasarkan penelitian yang sudah dilakukan untuk melihat gambaran \ngejala klinis berdasarkan lokasi anatomi ditemukan endometriosis, data \nmemperlihatkan nyeri adalah keluhan terbanyak endometriosis yang ditemukan di \norgan genitalia interna dan di luar organ genitalia. Data penelitian menun jukkan \ndari 33 kasus endometriosis di genitalia interna terdapat 25 kasus (76%) dengan \ngejala klinis nyeri. Sedangkan semua kasus endometriosis yang ditemukan di luar \norgan genitalia menunjukkan gejala klinis nyeri. Gambaran lengkap gejala klinis \nberdasarkan lokasi anatomi ditemukan endometriosis pada penelitian ini bisa \ndilihat pada tabel 4.5 berikut : \nTabel 4.5 Gambaran Gejala Klinis Endometriosis Berdasarkan Lokasi Anatomi \n                   Gejala Klinis \n \n \nLokasi Anatomi \nNyeri \nn (%) \nBengkak \ndi perut \nn (%) \nInfertilitas \nn (%) \nInkontinensia \nurin \nn (%) \nHematoschezia \nn (%) \nPUD \nn (%) \nOrgan genitalia interna 25 (76) 14 (43) 12 (36) 1 (3) 1 (3) 12 (36) \nBukan organ genitalia 6 (33) 2 (11) 3 (17) 0 (0) 1 (6) 1 (6) \n \n \n\n \n38 \n \nBAB 5 \nPEMBAHASAN \n5.1 Karakteristik Penderita \nPenelitian ini menemukan bahwa usia pasien endometriosis yang sudah \nterkonfirmasi dengan pemeriksaan histo patologi di Laboratorium RSUP Dr. M. \nDjamil Padang sebagian besar adalah usia reproduktif sebanyak 21 orang (64%). \nSedangkan pada usia menopause dan p ostmenopause ditemukan sebanyak 12 \norang (36%). Hasil penelitian ini sesuai  dengan hasil penelitian Andriana dan W \nArsana (2003) yaitu 4 4,13% pasien endometriosis ditemukan pada usia berkisar \n30-40 tahun dengan usia rata -rata 34,4 (tergolong usia reprodukt if). Hasanah \n(2011) juga menemukan  dari 60 responden  yang mengalami endometriosis , 58 \nresponden berusia 19 -45 tahun . Selain itu, penelitian Prima Mukti (2014) juga \nmendapatkan kesimpulan yang sama yaitu 85,7% endometriosis pada usia 15 -45 \ntahun. \nBerdasarkan teori endometriosis sering ditemukan pada wanita remaja dan \nusia reproduktif  yaitu 15 -44 tahun (Jacoeb dan Hadisaputra, 2009). Prevalensi \nendometriosis yaitu 6% -10% atau menyerang 176 juta wanita usia reproduktif di \nseluruh dunia (Giudice, 2010 ). Oepomo (2007)  mengatakan bahwa perempuan \nbisa mengalami endometriosis mulai dari perempuan tersebut  mengalami menars, \nberlanjut ke masa remaja, masa dewasa, makin berkembang pada usia reproduksi \n(usia subur) dan terus berlanjut bahkan menetap sepanjang kehidupan perempuan. \nHal ini akan menyebabkan penurunan kualitas hi dupnya. Hasil penelitian ini \nmenunjukkan endometriosis pada wanita usia reproduktif akan berpengaruh lebih \nbesar terhadap kualitas hidup penderita tersebut. Oleh karena itu, penemuan kasus \n\n \n39 \n \nsecara dini akan mengurangi komplikasi serius agar tidak mempengaruhi kualitas \nhidup penderita. \nSelain usia, h asil penelitian ini juga menunjukkan 46% pasien  adalah \nnulipara. Berdasarkan hasil penelitian  Darwis et a l. (2006) didapatkan bahwa \nparitas rendah bisa meningkatkan resiko terjadinya endometriosis (Mukti, 2014).  \nPenelitian lain yang dilakukan Rajuddin dan Jacoeb (2008)  juga sejalan dengan \nhasil penelitian ini yaitu  dari 32 k asus endometriosis yang ditemukan di uterus : \n26 kasus (81,3%) adalah nulipara, 3 kasus (9,4%) adalah primipara, dan 3 kasus \n(9,4%) adalah multipara.  Hal yang menyebabkan mengapa riwayat paritas pasien \nendometriosis sebagian besar nulipara adalah karena  terganggunya fungsi \nreproduksi mulai dari folikulogenesis di ov arium, ovulasi, fertilisasi, sampai \nnidasi oleh karena endometriosis (Oepomo, 2007). \n5.2 Lokasi Anatomi \nPenelitian ini memperlihatkan distribusi endometriosis berdasarkan \nlokasi anatomi yaitu di ovarium (82%), di uterus (54%), di tuba 15%, di servix \n6% dan di organ selain genitalia (18%). Hasil p enelitian Andriana dan W \nArsana (2003)  juga menunjukkan hasil yang sejalan  yaitu di  ovarium \n(67,65%), di uterus (20,59%), di tuba (14,71%), dan selain di organ genitalia \n(5,88%).  \nKedua hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa endometriosis \npaling banyak ditemukan di ovarium. Namun  Emam (2003) dalam Andriana \ndan W Arsana (2003)  mendapatkan hasil : di uterus (adenomiosis) sebanyak \n50 %, di ovarium 30 %, di peritoneum 10 % dan selebihnya di tuba, vagi na, \n\n \n40 \n \nvesika urinaria dan rektum, kolon dan ligamentum.  Perbedaan hasil \ndisebabkan oleh jumlah sampel yang berbeda. \nPada penelitian ini lokasi ditemukan endometriosis terbanyak adalah di \novarium. Endometrioma dapat me nurunkan kualitas oosit karena \nterganggunya folikulogenesis dan terbentuknya banyak badan apoptosis di \novarium. Selain itu juga endometrioma yang semakin membesar akan menjadi \nterpuntir. Hal ini menyebabkan rendahnya kemungkinan terjadi kehamilan \npada penderita (Oepomo, 2007). \n5.3 Gejala Klinis \nHasil penelitian ini menunjukkan urutan gejala klinis dari yan g paling \nbanyak ditemukan yaitu 70% dismenorea, 46% bengkak di perut, 36% \ninfertilitas, 36% perdarahan uterus disfungsional (PUD), 12% nyeri pelvis, 6% \ndispereunia, 3% hematoschezia, dan 3% inkontinensia urin ti pe urgensi. Jika \ndibandingkan dengan penelitian Andriana dan  W Arsana (2003) didapatkan \nhasil yang hampir sama, yaitu 70,59% dismenorea, 23,53% benjolan di perut, \n11,76% nyeri pelvis dan 20,58% perdarahan irregular.  Demikian pula dengan \npenelitian Overton et al. (2007) pada 500 wanita endometriosis  dengan hasil: \ndismenorea 60-80%, nyeri pelvis 30-50%, infertilitas 30-40%, dispareunia 25-\n40%, menstruasi tidak teratur 10 -20%, disuria atau hematuria siklik 1 -2%, \ndiskezia siklik 1 -2%, dan perdarahan rektumsiklik <1%.  Data RSCM tahun \n2006-2010 menunjukkan  gangguan yang dikeluhkan pasien endometriosis \nyaitu nyeri pelvis kronik (87,5%), dismenorea (81%), infertilitas (33,7%), \nnyeri punggung bawah (37,5%), dispareunia (20,9% ), konstipasi (13,9%), \ndisuria (6,9%) dan diskezia (4,6%) (Wiweko et al, 2013). \n\n \n41 \n \nOepomo (2007) menyatakan bahwa gejala klinis endometriosis yang \nsering muncul dan menimbulkan masalah adalah nyeri, infertilitas dan \nbengkak di perut. Sedangkan menurut Taylor et al. (2012) dan Kennedy et al. \n(2005) dua permasalahan utama pasien endometriosis adalah nyeri dan \ninfertilitas. Penelitian ini juga menunjukkan hal yang sama, yaitu nyeri, \nbengkak di perut, dan infertilitas menjadi gejala klinis terbanyak dari pasien \nendometriosis. \nNyeri merupakan  gejala klinis yang paling sering ditemukan pada \npasien endometriosis. Dari hasil penelitian ini ditemukan 3 macam nyeri : \ndismenorea, dispareunia, dan nyeri pelvis . Penelitian Treolar ( 2002) yang \ndikutip dari Samsulh adi (2003) menunjukkan presentase nyeri pada pasien \nendometriosis yaitu dismenorea 90%, nyeri pelvis 74%, dan dispareunia 75%. \nDismenorea merupakan keluhan nyeri yang paling ser ing sekaligus gejala \nklinis yang paling sering muncul pada pasien endometriosis. Hal ini j uga \nditemukan dalam hasil penelitian ini. \nDismenorea yang terjadi pada pasien endometriosis adalah nyeri \nsebelum, selama, dan sesudah haid. Nyeri ini dapat hilang timbul, tetapi dapat \njuga menetap  atau s emakin lama  semakin berat. Seringkali menggangu \naktivitas penderita mulai dari  beberapa waktu sebelum, selama, dan sesudah \nhaid karena nyeri hebat, kadang disertai mual muntah, sakit kepala, dan sinkop \n(Oepomo, 2007). Namun dalam penelitian ini tidak bisa dinilai der ajat nyeri \nkarena ketidaktersediaan data yang lengkap dalam rekam medik pasien. \nPada penelitian ini, gejala klinis nomor dua terbanyak adalah bengkak \ndi perut. Bengkak di perut pada pasien endometriosis banyak diakibatkan oleh \n\n \n42 \n \nendometriosis di organ genitalia interna, terutama di ovarium (endometrioma). \nMenurut Marcela G (2003) dalam Oepomo (2007) endometrioma  dapat \nberubah menjadi tumor ganas ovarii, dengan angka kejadian  keganasan \nberkisar 0,3%-1,6% dan jenis keganasan adalah  endometrioid atau clear cell \ncarcinoma. Endometrioma yang besar atau  berganda juga merusak jaringan \novarium sehingga  secara mekanis mengganggu ovulasi dan  fertilisasi. Jadi \nendometrioma tidak boleh diabaikan sampai menjadi besar dan menimbulkan \ngangguan yang banyak. \nSelain nyeri dan bengkak di perut , infertilitas juga banyak ditemukan \npada penelitian ini. Speroff (1999) dalam Oepomo (2007)  mendapatkan 25 -\n35% pasien infertil menderita  endometriosis, sebaliknya 38,5 % penderita \nendometriosis didapatkan infertil.  Berdasarkan hasil pe nelitian S chenken \ndalam Oepomo (2007) yaitu dari 25 -50% pasien infertil didapa tkan \nendometriosis, dan 30 -50% pasien end ometriosis didapatkan infertilitas.  Dari \ndata tersebut dan berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan banyak kejadian \ninfertilitas pada pasien endometriosis. \nInfertilitas yang berhubungan dengan endometriosis dapat dijelaskan \nmelalui mekanisme  : (1) Distorsi anatomi dari adnexsa, menghalangi atau \nmencegah pen angkapan ovum sesudah ovulasi; (2) Gangguan pertumbuhan \noosit atau embryogenesis dan; (3) Penurunan reseptivitas atau kemampuan \nmenerima endometrium (Speroff, 2005) . Pada endometriosis yang ringan \nkemungkinan besar mekanis me infertilitas disebabkan oleh : (1) gangguan \npada implantasi; (2) defek imunologi dan; (3) penurunan kualitas oos it karena \nterganggunya proses folikulogenesis (Oepomo, 2007). \n\n \n43 \n \nJika dikelompokkan gejala klinis berdasarkan lokasi anatomi, \ndimanapun lokasinya gejala klinis yang dikeluhan adalah nyeri, yaitu 76% di \norgan genitalia interna dan 100% di  luar organ genitalia . Hal tersebut karena \ninflamasi pada lokasi terdapatnya implan endometriosis dan pada cairan \nperitoneum penderita terjadi peningkatan leukosit serta faktor -faktor inflamasi \n(Oepomo, 2007). Sedangkan bengkak di perut, perdarahan uterus \ndisfungsional (PUD), dan infertilitas paling banyak terjadi pada end ometriosis \ndi genitalia interna. \nOverton et al.  (2007) dalam buku An Atlas of Endometriosis  \nmenyebutkan bahwa tidak selalu lokasi anatomi yang ditemukan implan \nendometriosis menimbulkan keluhan di lokasi terse but, hal itu bergantung \nkepada kedalaman infiltrasi dari implan dan kearah mana pertumbuhan dari \nimplan tersebut. Tetapi dari pemaparan yang disampaikan Overton (2007) bisa \ndisimpulkan bahwa gejala klinis endometriosis yang muncul akan khas pada \nendometriosis di selain organ genitalia. Misalnya pada penelitian ini adalah \ngejala klinis hematoschezia yang di temukan pada endometriosis di luar organ  \ngenitalia. \nEndometriosis semakin lama akan semakin berat, dampak klinis akan \nlebih banyak  dan kualitas hidup akan  menurun. Jadi, endometriosis perlu \nterdiagnosis cepat. Oleh  karena itu, jik a ada pasien usia produktif dengan \nriwayat paritas nulipara, mengeluhkan salah satu atau beberapa keluhan \nseperti dismenorea yang berat setiap kali haid, nyeri pelvik kronik, ada \nbengkak di perut, atau infertilitas, perlu dipikirkan kemungkinan \n\n \n44 \n \nendometriosis dan dilakukan pemeriksaan lanjutan agar dapat diketahui dan \nditerapi dengan cepat. \n5.4 Keterbatasan penelitian \nPenelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan sebagai berikut : \n1. Penelitian ini hanya melihat diagnosis yang tertulis di lembaran hasil \npemeriksaan tanpa mempertimbangkan deskripsi hasil pengamatan \nhistopatologi yang juga tertera di lembaran hasil pemeriksaan . Sehingga \nberpengaruh terhadap jumlah sampel dan hasil peneli tian. Dari penelitian \nditemukan perbedaan diagnosis yang disimpulkan dari beberapa hasil \npemeriksaan histopatologi responden yang memiliki deskripsi hasil \npengamatan histopatologi yang sama. \n2. Tidak lengkapnya data responden sehingga banyak data responden yang \nterekslusi sehingga mempengaruhi jumlah sampel dan hasil penelitian. \n3. Desain penelitian retrospektif terbatas untuk melihat stadium dan jenis lesi \nendometriosis karena  tidak tercantumnya data tersebut pada lembar \npemeriksaan histopatologi dan rekam medik responden. \n \n \n \n \n \n \n \n\n \n45 \n \nBAB 6 \nPENUTUP \n \n6.1  Kesimpulan \nBerdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan  pada pasien \nendometriosis di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. M. Djamil \nPadang periode 2010-2013, penulis mendapatkan kesimpulan bahwa : \n1. Penderita endometriosis paling banyak adalah usia reproduktif. \n2. Riwayat paritas penderita endometriosis paling banyak riwayat adalah \nnulipara. \n3. Endometriosis banyak ditemukan di  organ genitali a interna, terutama di \novarium. Endometriosis di luar organ genitalia selalu disertai \nendometriosis di organ genitalia interna. \n4. Gejala klinis pada pasien paling banyak adalah nyeri, terutama \ndismenorea. \n5. Endometriosis yang ditemukan di  organ genitalia interna ataupun di luar \norgan genitalia  selalu memperlihatkan gejala klinis nyeri, sedangkan \nbengkak diperut, PUD dan infertilitas  hanya sering  ditemukan di organ \ngenitalia interna. \n6.2  Saran \nBerdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, penulis ingin \nmenyampaikan beberapa saran : \n1. Untuk penelitian selanjutnya, se baiknya peneliti tidak hanya melih at dari \ndiagnosis yang tertulis di lembaran hasil pemeriksaan  histopatologi saja  \n\n \n46 \n \ntetapi juga mengkonfirmasi ulang pembacaan deskripsi di lembaran hasil \npemeriksaan histopatologi kepada satu orang ahli patologi. \n2. Untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya dengan jumlah sampel yang lebih \nbanyak sehingga lebih didap atkan keberagaman data untuk hasil yang \nlebih representatif. \n3. Untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya juga dilihat stadium  dan jenis lesi \nendometriosis, serta hubungan endomet riosis dengan kejadian infertilitas \npada pasien tersebut. Penelitian ini terbatas un tuk melihat hal tersebut \nkarena ketidaklengkapan data yang tersedia, baik dari hasil pemeriksaan di \nlaboratorium patologi anatomi maupun rekam medik pasien. Oleh karena \nitu sebaiknya dilakukan penelitian prospektif. \n4. Untuk praktisi kedokteran, sebaiknya jika ada pasien usia reproduktif \ndengan riwayat paritas nulipara, mengeluhkan salah satu atau beberapa \nkeluhan seperti dismenorea yang berat setiap kali haid, nyeri pelvik \nkronik, ada bengkak di perut, atau infertilitas, perlu dipikirkan \nkemungkinan endometriosis dan dilakuk an pemeriksaan lanjutan agar  \nendometriosis bisa diketahui dan diterapi lebih cepat. \n \n \n \n \n \n \n\n \n47 \n \nDAFTAR PUSTAKA \n \nAndriana K, W Arsana IW, 2003. Profil Penderita Endometriosis RS  Dr. Saiful \nAnwar Malang – Jawa Timur 2001 – 2003. Tesis. Malang. \n \nAmerican Society for Reproductive Medicine: Revised American Society for \nReproductive Medicine classification of endometriosis: 1996. Fertil Steril \n67:817, 1997. Dalam Hoff man LB, Schorage JO et al. , 2012. Williams \nGynecology. 2nd Edition. New York : McGraw-Hill Companies, 285. \n \nBedaiwy MA, 2002. Prediction of endometriosis with serum and peritoneal fluid \nmarkers: a prospective controlled trial. Human Reprod. 17(2):426-431. \nBerek, JS, 2007. Berek & Novak’s Gynecology. 14 th Edition, Philadelphia : \nLippincott Williams & Wilkins, 1138-1156. \n \nBerkley KJ, Rapkin AJ, Papka RE, 2005. The pains of endometriosis. Science \n308:1587. \nBrosens I, 2004. Endometriosis and the outcome of in vitro fertilization. Fertil \nSteril 81:1198. \nChapron C, Fauconnier A, Dubuisson JB, et al. , 2003. Deep infiltrating \nendometriosis: relation between severity of dysmenorrhoea and extent of \ndisease. Hum Reprod 18:760. \nCunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY, 2013. \nObstetri Williams. Ed 23. Volume 1. Jakarta : Penerbit Buku EGC, 203-\n204. \nDaftary GS, Taylor HS, 2004. EMX2 gene expression in the female reproductive \ntract and aberrant expression in the endometrium of patients with \nendometriosis. J Clin Endocrinol Metab 89:2390. \n \nDarwis MA, Hassain, Sekkin A, 2006. Epidemiology and Risk Factors Associated \nwith Laparascopically Diagnosed Typical and Atypical Endometriosis \nAmong Egyptian Women. Departem ents of Obstetrics & Gynecology, \nAssisut and Al-Azhar University. \n \nDeCherney, AH, Nathan L, Goodwin, Murphy, Laufer , Neri, 2007. Current \nDiagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New York \n: McGraw-Hill Companies. \nDeCherney, AH, Nathan L,  Goodwin, Murphy, Laufer, Neri. 2007. Current \nDiagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New York \n: McGraw-Hill Companies, Chapter 43. \n\n \n48 \n \nDecker D, Konig J, Wardelmann E, et al ., 2004.  Terminal ileitis with sealed \nperforation—a rare complication of intestinal endometriosis: case report \nand short review of the literature. Arch. Gynecol Obstet 269:294. \nDorland WAN, 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Ed 31, Jakarta : Penerbit Buku \nKedokteran EGC. \n \nDrife J, Magowan B, 2004. Clinical Obstetrics And Gynecology . Philadelphia: \nSaunders. \n \nEkskanazi B, Wamer M, Bonsignore L, Olive D, Samuel S, Verceillini P, 2001. \nValidation Study of Non Surgical Diagnosis of Endometriosis. Fertile \nSteril; 76: 929-935. \n \nFauconnier A, Chapron C, Dubuisson JB, et al ., 2002. Relation between pain \nsymptoms and the anatomic location of deep infiltrating endometriosis. \nFertil Steril 78:719. \nFerrero S, Esposito F, Abbamonte LH, et al., 2005. Quality of sex life in women \nwith endometriosis and deep dyspareunia. Fertil Steril 83:573. \n \nGiudice, LC, 2010. Clinical Practice Endometriosis Eng J Med. Avaialble from \nhttp://www.health.am/gyneco/ more/endometriosis -prognosis/[accessed \nJuly 15th 2014] \n \nGiudice LC, Kao LC, 2004. Endometriosis. Lancet 364:1789. \n \nHacker, Neville F.; Moore, J. George, 2007. Esensial Obstetri dan Ginekologi. \n \nHasanah N, 2010. Gambaran Pengetahuan Remaja Putri tentang Endometriosis di \nSMK Negeri 8 Medan Tahun 2010. Medan : Akademi kebidanan Bakti \nInang Persada. \n \nHoffman LB, Schorage JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD, \nCunningham FG, 2012. Williams Gynecology. 2 nd Edition. New York : \nMcGraw-Hill Companies. \n \nHoffman LB, Schorage JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD, \nCunningham FG, 2012. Will iams Gynecology. 2 nd Edition. New York : \nMcGraw-Hill Companies, 285. \n \nJacoeb TZ , Hadisaputra W, 2009. Penanganan Endometriosis Panduan Klinis dan \nAlgoritme, Sagung Seto; Jakarta, 108-110. \n \nJumhur M, 2011. Studi Perbedaan Ekspresi COX -2 antara Endomrtioma dan \nKarsinoma Ovarii. Tesis. Surakarta : Universitas Sebelah Maret. \n \nKasdu, Dini. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta: Puspa \nSwara. \n\n \n49 \n \n \nKennedy S, Bergqvist A, Chapron C, et al ., 2005. ESHRE guideline for the \ndiagnosis and treatment of endometriosis. Hum Reprod 20(10):2698. \n \nKumar V, Abbas AK, Fousto N, 2010. The Female Genital Tract. In Robin and \nCotran Pathologic Basis of Disease 8 th ed. Philadelphia :  Elsevier \nSaunders, 1005-1061. \n \nLeyendecker G, Kunz G, Herbertz M, et al., 2004. Uterine peristaltic activity and \nthe development of endometriosis. Ann N Y Acad Sci 1034:338. \nLessey BA, 2000. Medical management of endometriosis and infertility. Dalam \nCahill DJ, 2002. The optimal medical management of infertility and minor \nendometriosis. Human Reprod 17(5):1138. \n \nLimbong, Vinanda MA, 2012. Profil Gambaran Endometriosis di RSUP H. Adam \nMalik Periode 2008 -2011. Skripsi. Medan : Fakultas Kedokteran \nUniversitas Sumatera Utara. \n \nMatorras R, Rodriguez F, Pijoan JI et al., 2001. Women who are n ot exposed to \nspermatozoa and infertile women have similar rates of stage I \nendometriosis. Fertil Steril 76:923 \n \nMounsey AL, Wilgus AS, David C, 2006. Diagnosis and Management of \nEndometriosis. J Am Fam Physician 74:594-600, 601-602. \n \nMukti P, 2014. Faktor  Risiko Kejadian Endometriosis. Dalam Unnes journal of \nPublic Health; 3 (3): 2-6. \n \nMurphy AA, 2002. Clinical aspects of endometriosis. Dalam Hoffman LB, \nSchorage JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD, Cunningham FG, \n2012. Williams Gynecology. 2 nd Edition. New York : McGraw -Hill \nCompanies. \n \nNational Swedish Cancer, 2006. Peningkatan Risiko Kejadian Karsinoma \nOvarium Berhubungan dengan Kejadian Endometriosis. Dalam Nurcahyo, \nRonny Adhi, 2010. Studi Perbedaan Ekspresi BAX antara Endometriosis \nOvarii (Endometrioma) dengan Karsinoma Ovarii Serosum Berdiferensiasi \nBaik. Tesis. Program Pendidikan Dokter Spesialis I Obstetri Ginekologi, \nUniversitas Sebelas Maret, Surakarta. \n \nNurcahyo, Ronny Adhi, 2010. Studi Perbedaan Ekspresi BAX antara \nEndometriosis Ovarii (Endometrioma) dengan Karsinoma Ovarii Serosum \nBerdiferensiasi Baik. Tesis. Program Pendidikan Dokter Spesialis I \nObstetri Ginekologi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. \n \nOats J, Suzanne A, 2010. Fundamentals of Obstetrics and Gynaecology. 9 th \nEdition, Philadelphia : Mosby Elsevier. \n\n \n50 \n \n \nOats J, Suzanne A, 2010. Fundamentals of Obstetrics and Gynaecology. 9 th \nEdition, Philadelphia : Mosby Elsevier, 272. \n \nOepomo, Tedjo D, 2007. Dampak Endometriosis Pada Kualitas Hidup Perempuan \ndalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Obstetri dan Ginekologi \nUniversitas Sebelas Maret, Surakarta. \n \nOverton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, \n3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd. \n \nOverton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of  Endometriosis, \n3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 10. \n \nOverton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, \n3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 40 \n \nOverton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, \n3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 42 \n \nOverton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endometriosis, \n3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 38. \n \nOverton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW,  2007. An Atlas of Endom etriosis, \n3rd Edition. United Kingdom : UK Informa Ltd, 37. \n \nPossover M, Chiantera V, 2007. Isolated infiltrative endometriosis ofsciatic nerve. \nAvailable at www.possover.com/en/site/#toptenprocedures/endometriosis-\nof-the-sciatic-nerve [accessed July 15th 2014] \nPractice Committee of the American Society for R eproductive Medicine: \nEndometriosis and infertility. Dalam DeCherney, Alan H.; Nathan M.D, \nLauren; Goodwin M.D, T.Murphy; Laufer M.D, Neri. 2007. Current \nDiagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology. 10 th Edition. New York \n: McGraw-Hill Companies. \n \nRajuddin, Jacoeb TZ, 2008. Penanganan Adenomiosis dengan Reseksi \nLaparatomi. Dalam Majalah Obstetri Ginekologi Indonesia. Vol. 32, No. 1 \n(Edisi Januari) : 23-25. \n \nSamsulhadi. 2003. Evaluasi standar pengobatan endometriosis dalam makalah \nSimposium Endometriosis, KOGI XII, Yogyakarta, 4 – 9 Juli 2003. \n \nSchenken, Robert S. 2008. Endometriosis dalam buku Danforth's Obstetrics and \nGynecology. Ed 10, Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. \n \nSchorge J, Nurwitz ER, 2008. At Glance Obstetri & Ginekologi. Ed 2, Jakarta : \nPenerbit Erlangga. \n\n \n51 \n \n \nSpencer R, Pcam B, 2007. Simple guide menopause. Jakarta: Penerbit  Erlangga. \n \nSperoff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic \nEndocrinology and Infertility. 7th ed. Philadelphia: Lippincott William & \nWilkin, pp 1103-1133. \n \nTaylor RN, Hummelshoj L, Stratton P, Verceillini P, 2012. Pain and \nEndometriosis : Etiology, Impact, and Therapeutics. Middle east fertile \nSoc J: 1-4. \nTreloar SA, Wicks J, Nyholt DR et al., 2005 Genomewide linkage study in 1,176 \naffected sister pair families identifies a significant susceptibility locus for \nendometriosis on chromosome 10q26. Am J Hum Genet 77:365. \n \nVercellini P, Chapron C, Fedele L et al ., 2003. Evidence for asymmetric \ndistribution of sciatic nerve endometriosis. Obstet Gynecol 102:383. \n \nWiweko B, Puspita CG, Sumapraja K, et al., 2013. Medicinus Scientific Juornal \nof Pharmaceutical Development and Medical Application. Vol. 26, No. 2 \n(Edition August): 4-7. \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n \n\nLAMPIRAN \n    \nMASTER TABEL PENELITIAN \n  \n    \n              \n NO Kode \nPasien \nAlamat Usia Riwayat Paritas Lokasi Anatomi Gejala Klinis \nNulipara Primipara Multipara Ket Organ \nGenitalia \nInterna \nOrgan \nGenitalia \nEksterna \nBukan \nOrgan \nGenitalia \n1 \nA Padang 45   ya     ovarium, \nuterus \n  omentum dismenorea, hematoschezia \n2 \nB Padang 43   ya     uterus, \novarium \n    dismenorea \n3 \nC Padang 43       tidak \ndiketah\nui \nuterus, \novarium \n    dismenorea, bengkak di perut, \ninfertilitas sekunder \n4 \nD Solok 37 ya       ovarium   kolon infertilitas primer, dismenorea \n5 \nE Jambi 52   ya     uterus     bengkak di perut \n6 \nF Padang 53     ya   ovarium     perdarahan pervaginam, \nmenometroragia \n\n7 \nG Sei. \nPenuh \n40 ya       uterus, \novarium, \ntuba \n  omentum bengkak di perut, infertilitas \nprimer,disemnorea \n8 \nH Padang 51       tidak \ndiketah\nui \nuterus     perdarahan pervaginam, \nmenometroragia \n9 \nI Solok 24 ya     menika\nh 10 \nbulan \nyll \novarium     bengkak di perut, dismenorea \n10 \nJ K. \nMalinta\ng \n39 ya     G1P0A\n1H0 \novarium     infertilitas primer, dismenorea, \nbengkak di perut \n11 \nK Solok 40     ya   uterus, \ntuba \n  appendix bengkak di perut, dismenorea \n12 \nL Solok \nSelatan \n46     ya   uterus, \novarium \n    bengkak di perut, perdarahan \npervaginam, dismenorea \n13 \nM   17 ya     belum \nmenika\nh \nuterus, \novarium \n    amenorea, akut abdomen \n14 \nN Padang 37 ya       ovarium, \nuterus, \ntuba \n    infertilitas primer, dismenorea, \nanemia \n15 \nO Padang 51     ya   ovarium, \nuterus \n    menometroragia \n16 \nP Padang 27 ya       ovarium     bengkak di perut, infertilitas, \ndismenorea \n\n17 \nQ Padang 45     ya   ovarium     dismenorea, menometroragia, \ninkontinensia urin, keputihan dan \ngatal \n18 \nR Muaro \nLabuh \n40 ya       uterus     dismenorea \n19 \nS Padang 35   ya     ovarium     dismenorea, menometroragia, akut \nabdomen,infertilitas \nsekunder,perdarahan pervaginam, \ngangguan siklus haid \n20 \nT Jati \nKoto \nPan \n30     ya   ovarium     dispareunia, dismenorea, nyeri \npelvis \n21 \nU Payaku\nmbuh \n48 ya       uterus     nyeri pelvis \n22 \nV Jl. \nAbdilah \nHuman \n41 ya       ovarium     infertilitas primer \n23 \nW Padang 41   ya     ovarium   omentum dismenorea, siklus tidak teratur \n24 \nX padang 46       tidak \ndiketah\nui \nuterus     perdarahan pervaginam,dismenorea, \nrasa penuh di perut bawah, bengkak \ndi perut \n25 \nY Padang 49     ya   ovarium     bengkak di perut,  \n26 \nZ Padang 46     ya   uterus, \novarium \n    menometroragia, bengkak di perut, \nanemia \n\n27 \nAA Padang 30 ya     belum \nmenika\nh \novarium     dismenorea, menometroragia, \nbengkak di perut \n28 \nBB Painan 30 ya       uterus, \novarium, \ntuba \n    infertilitas primer, dismenorea \n29 \nCC Padang 42   ya     uterus, \novarium, \ntuba, \nservix \n    dismenorea \n30 \nDD Sitinjau 43 ya       uterus, \novarium, \nservix \n    nyeri pelvis, dismenorea, \ndispareunia, infertilitas primer \n31 \nEE Padang \nPanjang \n30 ya       ovarium     bengkak di perut, menometroragia, \nperdarahan pervaginam, \ndismenorea, infertilitas primer \n32 \nFF Jl. Arai \npinang \n49       tidak \ndiketah\nui \novarium     nyeri pelvis, bengkak di perut \n33 \nG G Padang 37 ya       ovarium   appendix dismenorea, infertilitas primer \n \n\n \n\n\nLampiran \nCURICULUM VITAE \n \nA. Identitas Diri \n \nNama Lengkap Kenny CantikaAbadi \nNama Panggilan Kenny \nTempat, Tgl Lahir Muaro Sijunjung, 25 Juni 1993 \nAlamat Asal Sijunjung,Sumatera Barat \nAlamat Sekarang Jl. Minahasa 1 No.2, Jati, Padang, Sumatera Barat \nEmail  cantika.kenny@yahoo.com \nMotto hidup Hidup sekali, bearti, lalu mati \nAyah Azwardi \nIbu Desmarni \nAgama Islam \nKewarganegaraan Indonesia \n \nB. RiwayatPendidikan : \n \n1 TK Pertiwi Sijunjung 1998 \n2 SDN 20 Sijunjung 1999 \n3 SMPN 7 Sijunjung 2005 \n4 SMAN 1 Padang Panjang 2008 \n5 PendidikanDokter FK Unand 2011 \n \nC. RiwayatPrestasi \n \nAkademik \n1 NEM UAN tertinggi Tk.SLTP se-Kab.Sijunjung 2008 \n2 Siriraj Imunology and Microbiology International Competition 2013 \n(SIMIC 2013);Kompetisi Imunologi dan Microbiologi mahasiswa \nkedokteran internasional di Bangkok \n2013 \n3 Indonesian Medical Olympiad 2013 (IMO 2013) 2013 \n4 Mahasiswa Berprestasi I BEM FK Unand 2013 \n5 Siriraj Imunology Microbiology and Parasitology International \nCompetition 2014 (SIMPIC 2014);Kompetisi Imunologi dan \nMicrobiologi mahasiswa kedokteran internasional di Bangkok \n2014 \n\n6 Mahasiswa Berprestasi II FK Unand 2014 \n7 Mahasiswa Berprestasi III Universitas Andalas 2014 \n8 Indonesian Medical Olympiad 2014 (IMO 2014) 2014 \n  \nNon-Akademik \n \n1 Duta Anak Sumbar (Peringatan Hari Remaja Nasional) 2010 \n2 Duta Anak Padang Panjang 2009 \n3 PIK Remaja Terbaik Tk. Sumbar 2010 \n4 Juara I Turnamen Basket Putri se-Kota Padang Panjang 2009 \n5 Juara I Vocal Group se-Kota Padang Panjang 2008 \n \nD. Riwayat Organisasi : \n \n1 OSIS SMPN 7 Sijunjung Ketua Umum 2007-2008 \n2 OSIS SMAN 1 Padang Panjang Div. Olahraga 2010-2011 \n3 PIK Remaja SMA 1 Padang Panjang Ketua Umum 2010-2011 \n4 Forum Anak Daerah Padang Panjang Ketua Umum 2010-2011 \n5 FSKI BEM KM FK Unand Biro Kestari 2012-2013 \n6 UKM Jurnalistik BROCA BEM KM FK \nUnand \nDiv. HRD 2012-2013 \n7 UKM Jurnalistik BROCA BEM KM FK \nUnand \nPemimpin Umum 2013-2014 \n8 Anatomy Club BEM KM FK Unand Bendahara \n(Vesikuz) \n2012-2013 \n9 Badan Pers Nasional-ISMKI Div.Spektrum 2012-2013 \n10 Lembaga Perlindungan Anak Anggota 2013-sekarang \n11 Asosiasi Pers Mahasiswa Sumbar Badan Pengawas \nOrganisasi \n2013-2014 \n12 Dewan Pers BROCA BEM KM FK UNAND Ketua 2014-2015","source_license":"CC0","license_restricted":false}