Abstract
Kanker ovarium adalah kanker dengan kasus terbanyak ke-8 pada wanita di seluruh dunia. High grade serous carcinoma (HGSC) merupakan subtipe kanker ovarium dengan kasus dan tingkat kematian tertinggi dibanding tipe lainnya. Oleh karena itu diperlukan pendekatan melalui tindakan preventif dengan meninjau faktor risiko yang mendasari penyakit ini. Indeks massa tubuh dan paritas adalah faktor risiko kanker ovarium yang dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan paritas terhadap kanker ovarium subtipe high grade serous di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
\n\tPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang menggunakan data rekam medis pasien kanker epitel ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2021 hingga 2022 dengan sampel sebanyak 129 pasien. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Chi-square.
\n\tKarakteristik pasien kanker epitel ovarium pada umumnya berusia >50 tahun (55%), sudah menopause (65,9%), tidak obesitas (77,5%) dan merupakah wanita parous (76%). Hasil penelitian menyimpulkan tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan paritas terhadap kejadian kanker ovarium subtipe high grade serous di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
\nKanker ovarium adalah kanker dengan kasus terbanyak ke-8 pada wanita di seluruh dunia. High grade serous carcinoma (HGSC) merupakan subtipe kanker ovarium dengan kasus dan tingkat kematian tertinggi dibanding tipe lainnya. Oleh karena itu diperlukan pendekatan melalui tindakan preventif dengan meninjau faktor risiko yang mendasari penyakit ini. Indeks massa tubuh dan paritas adalah faktor risiko kanker ovarium yang dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan paritas terhadap kanker ovarium subtipe high grade serous di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
\n\tPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang menggunakan data rekam medis pasien kanker epitel ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2021 hingga 2022 dengan sampel sebanyak 129 pasien. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Chi-square.
\n\tKarakteristik pasien kanker epitel ovarium pada umumnya berusia >50 tahun (55%), sudah menopause (65,9%), tidak obesitas (77,5%) dan merupakah wanita parous (76%). Hasil penelitian menyimpulkan tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan paritas terhadap kejadian kanker ovarium subtipe high grade serous di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Full text
7,373 characters
· extracted from
oa-pdf
· click to expand
1
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker ovarium menempati peringkat ke-18 sebagai kanker dengan kasus
terbanyak di dunia dan kanker terbanyak ke-8 pada wanita. Tahun 2020 tercatat
kasus baru sebesar 313.959 kasus di seluruh dunia dan sekitar 14.896 kasus
ditemukan di Indonesia. Tingkat kejadian yang tinggi pada kanker ovarium diiringi
oleh angka mortalitas yang tak kalah tinggi, yaitu berdasarkan data tahun 2020,
tercatat 207.252 kematian diakibatkan oleh kanker ovarium di seluruh dunia dan
sebanyak 9.581 kematian diantaranya terjadi di Indonesia.1
High grade serous carcinoma (HGSC) merupakan subtipe paling banyak
dijumpai diantara seluruh jenis kanker ovarium. Subtipe ini juga memiliki angka
mortalitas tertinggi dibanding tipe lainnya.2 Sekitar 50-60% dari total keganasan di
ovarium adalah subtipe HGSC dan HGSC juga bertanggung jawab atas 70%
kematian akibat keganasan ovarium.3
Tingkat kematian yang tinggi pada penderita kanker ovarium secara umum
dan khususnya pada HGSC sejalan dengan keterlambatan diagnosis dan pengobatan
yang kurang efektif. Subtipe endometrioid, clear cell dan mucinous mayoritasnya
dideteksi pada stadium 1 dan 2, sementara untuk karsinoma serosa mayoritas
dideteksi saat telah memasuki stadium 3 dan 4.4 Sekitar 53% dari total kasus HGSC
dideteksi saat stadium 3 dan sebanyak 30% lainnya dideteksi pada stadium 4.5 Jika
ditinjau dari segi pengobatan, terapi lini pertama yang direkomendasikan pada
pasien HGSC adalah pembedahan cytoreductive dan platimum based
chemotheraphy.6 Pembedahan cytoreductive memiliki sensitivitas yang cukup
rendah untuk mendeteksi karsinomatosis dengan volume kecil, sehingga masih
diperlukan lagi eksplorasi bedah lanjutan.7 Platinum based chemotheraphy juga
memiliki kendala yang cukup serius bagi beberapa pasien, yaitu sekitar 85% pasien
akan cenderung mengalami kekambuhan dan berespon kurang baik terhadap
regimen terapi yang mengandung platinum secara bert uurut-turut serta belum
adanya regimen terapi baru yang dapat meningkatkan hasil pengobatan bagi pasien
yang resisten terhadap platinum based chemotheraphy.8
2
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Tingginya tingkat kejadian dan angka kematian akibat kanker ovarium,
khususnya dengan subtipe HGSC yang disertai dengan kurang efektifnya regimen
pengobatan terhadap penyembuhan, maka diperlukan solusi untuk mengatasi
masalah ini. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menurunkan angka kejadian
maupun angka kematian akibat penyakit ini, namun pada umumnya penelitian yang
dilakukan hanya berfokus kepada penemuan metode pengobatan baru yang lebih
efektif terhadap kanker yang sudah ada. Pada beberapa kondisi seperti keterbatasan
akses terhadap pengobatan, tentu saja hal ini belum bisa dijadikan solusi yang
efektif. Maka dari itu, disinilah tindakan preventif perlu dilakukan, salah satunya
dengan meninjau faktor risiko dari kanker ovarium.
Secara umum, faktor risiko kanker ovarium dapat dikelompokkan menjadi
3, yaitu faktor yang dapat dimodifikasi, faktor yang tidak dapat dimodifikasi, dan
faktor pelindung. Faktor yang dapat dimodifikasi contohnya adalah faktor gaya
hidup sebagai faktor yang secara langsung memengaruhi status gizi seseorang.
Faktor yang tidak dapat dimodifikasi yaitu faktor demografi usia, endometriosis,
usia menarche dan menopause, serta faktor genetik. Faktor pelindung adalah faktor-
faktor yang sifatnya menurunkan risiko terkena kanker ovarium seperti kehamilan,
paritas dan penggunaan kontrasepsi hormonal.9
Berdasarkan penelitian sebelumnya, sekitar sepertiga hingga dua perlima
dari seluruh kasus kanker yang terjadi dapat dihindari dengan mengurangi dan
menghilangkan faktor risiko pencetusnya.10 Oleh karena itu, dengan dilakukannya
penelitian terhadap hubungan antara kanker ovarium subtipe HGSC dengan faktor
risikonya, diharapkan dapat membantu kelompok-kelompok yang berisiko menjadi
lebih waspada dan mengarahkan mereka pada perilaku yang dapat menurunkan
risiko tersebut.
Penelitian ini berfokus pada dua faktor risiko dan etiologi paling umum
penyebab kanker ovarium yang keberadaannya dapat dimodifikasi dan tidak terkait
dengan faktor genetik, yaitu paritas dan status gizi yang dapat dinilai dari indeks
massa tubuh (IMT). Paritas dipilih karena dalam penelitian sebelumnya, salah
saatunya oleh Toufakis dkk.11 yang membandingkan antara wanita parous dengan
nullipara, terbukti bahwa terdapat penurunan risiko yang signifikan terhadap kanker
ovarium subtipe HGSC dibanding dengan subtipe lainnya pada wanita parous.11
3
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Indeks massa tubuh dipilih karena terdapat hubungan yang erat antara kanker
ovarium dengan peningkatan indeks massa tubuh, terutama wanita dengan
obesitas.12 Jika dilihat dari epidemiologi terbaru, angka kelebihan berat badan dan
obesitas pada wanita di Indonesia tergolong cukup tinggi mencapai angka 44.4%
dari total populasi.13 Penelitian ini diharapkan membantu memberikan informasi
tambahan dalam upaya pencegahan terjadinya kanker ovarium terutama subtipe
HGSC dengan pendekatan melalui faktor risiko, sehingga dengan diketahuinya
hubungan antara faktor risiko dan etiologi terkait angka kejadian dapat ditekan dan
mortalitas akan semakin menurun.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik (usia, status menopause, paritas dan indeks massa
tubuh) pasien kanker epitel ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang?
2. Bagaimana hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian HGSC di
RSUP Dr. M. Djamil Padang?
3. Bagaimana hubungan antara paritas dengan kejadian HGSC di RSUP Dr.
M. Djamil Padang?
1.3 Tujuan Penelitian
1. 3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dan paritas dengan
kejadian HGSC sebagai upaya preventif terhadap kanker ovarium dengan subtipe
HGSC.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui karakteristik (usia, status menopause, paritas dan indeks massa
tubuh) pasien kanker epitel ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
2. Mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian HGSC
di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
3. Mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian HGSC di RSUP Dr.
M. Djamil Padang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat terhadap Peneliti
Penelitian ini memberikan manfaat kepada peneliti berupa pengalaman
untuk terjun langsung dalam suatu penelitian. Peneliti juga berharap penelitian ini
4
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
dapat meningkatkan kemampuan peneliti dalam menulis karya ilmiah. Hasil
penelitian juga diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan
peneliti terkait hubungan faktor risiko indeks massa tubuh dan paritas terhadap
kejadian HGSC.
1.4.2 Manfaat terhadap Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literatur dan menjadi
landasan pada penelitian di masa mendatang. Hasil penelitian juga diharapkam
dapat memberikan informasi dan pembuktian tentang hubungan antara indeks
massa tubuh dan paritas terhadap kejadian HGSC.
1.4.3 Manfaat terhadap Masyarakat
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
hubungan antara faktor risiko terhadap tingkat kejadian kanker ovarium subtipe
high grade serous, sehingga diharapkan masyarakat dapat melakukan usaha
preventif melalui hubungan faktor risiko ini.
Text is read by the "Ask this paper" AI Q&A widget below.
Extraction quality varies by source — PMC NXML preserves structure
cleanly, OA-HTML may include some navigation residue, and OA-PDF can
have broken hyphenation. The publisher copy
is the canonical version.