{"paper_id":"5b1396cd-72ed-432b-a117-2079b5302a54","body_text":"1 \n \nFakultas Kedokteran Universitas Andalas \n \nBAB 1 \nPENDAHULUAN \n1.1 Latar Belakang \nKanker ovarium menempati peringkat ke-18 sebagai kanker dengan kasus \nterbanyak di dunia dan kanker terbanyak ke-8 pada wanita. Tahun 2020 tercatat \nkasus baru sebesar 313.959 kasus di seluruh dunia dan sekitar 14.896 kasus \nditemukan di Indonesia. Tingkat kejadian yang tinggi pada kanker ovarium diiringi \noleh angka mortalitas yang tak kalah tinggi, yaitu berdasarkan data tahun 2020, \ntercatat 207.252 kematian diakibatkan oleh kanker ovarium di seluruh dunia dan \nsebanyak 9.581 kematian diantaranya terjadi di Indonesia.1 \nHigh grade serous carcinoma (HGSC) merupakan subtipe paling banyak \ndijumpai diantara seluruh jenis kanker ovarium. Subtipe ini juga memiliki angka \nmortalitas tertinggi dibanding tipe lainnya.2 Sekitar 50-60% dari total keganasan di \novarium adalah subtipe HGSC dan HGSC juga bertanggung jawab atas 70% \nkematian akibat keganasan ovarium.3 \nTingkat kematian yang tinggi pada penderita kanker ovarium secara umum \ndan khususnya pada HGSC sejalan dengan keterlambatan diagnosis dan pengobatan \nyang kurang efektif. Subtipe endometrioid, clear cell dan mucinous mayoritasnya \ndideteksi pada stadium 1 dan 2, sementara untuk karsinoma serosa mayoritas \ndideteksi saat telah memasuki stadium 3 dan 4.4 Sekitar 53% dari total kasus HGSC \ndideteksi saat stadium 3 dan sebanyak 30% lainnya dideteksi pada stadium 4.5 Jika \nditinjau dari segi pengobatan, terapi lini pertama yang direkomendasikan pada \npasien HGSC adalah pembedahan cytoreductive dan platimum based \nchemotheraphy.6 Pembedahan cytoreductive memiliki sensitivitas yang cukup \nrendah untuk mendeteksi karsinomatosis dengan volume kecil, sehingga masih \ndiperlukan lagi eksplorasi bedah lanjutan.7 Platinum based chemotheraphy juga \nmemiliki kendala yang cukup serius bagi beberapa pasien, yaitu sekitar 85%  pasien \nakan cenderung mengalami kekambuhan dan berespon kurang baik terhadap \nregimen terapi yang mengandung platinum secara bert uurut-turut serta belum \nadanya regimen terapi baru yang dapat meningkatkan hasil pengobatan bagi pasien \nyang resisten terhadap platinum based chemotheraphy.8 \n\n \n2 \n \nFakultas Kedokteran Universitas Andalas \n \nTingginya tingkat kejadian dan angka kematian akibat kanker ovarium, \nkhususnya dengan subtipe HGSC yang disertai dengan kurang efektifnya regimen \npengobatan terhadap penyembuhan, maka diperlukan solusi untuk mengatasi \nmasalah ini. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menurunkan angka kejadian \nmaupun angka kematian akibat penyakit ini, namun pada umumnya penelitian yang \ndilakukan hanya berfokus kepada penemuan metode pengobatan baru yang lebih \nefektif terhadap kanker yang sudah ada. Pada beberapa kondisi seperti keterbatasan \nakses terhadap pengobatan, tentu saja hal ini belum bisa dijadikan solusi yang \nefektif. Maka dari itu, disinilah tindakan preventif perlu dilakukan, salah satunya \ndengan meninjau faktor risiko dari kanker ovarium. \nSecara umum, faktor risiko kanker ovarium dapat dikelompokkan menjadi \n3, yaitu faktor yang dapat dimodifikasi, faktor yang tidak dapat dimodifikasi, dan \nfaktor pelindung. Faktor yang dapat dimodifikasi contohnya adalah faktor gaya \nhidup sebagai faktor yang secara langsung memengaruhi status gizi seseorang. \nFaktor yang tidak dapat dimodifikasi yaitu faktor demografi usia, endometriosis, \nusia menarche dan menopause, serta faktor genetik. Faktor pelindung adalah faktor-\nfaktor yang sifatnya menurunkan risiko terkena kanker ovarium seperti kehamilan, \nparitas dan penggunaan kontrasepsi hormonal.9  \nBerdasarkan penelitian sebelumnya, sekitar sepertiga hingga dua perlima \ndari seluruh kasus kanker yang terjadi dapat dihindari dengan mengurangi dan \nmenghilangkan faktor risiko pencetusnya.10 Oleh karena itu, dengan dilakukannya \npenelitian terhadap hubungan antara kanker ovarium subtipe HGSC dengan faktor \nrisikonya, diharapkan dapat membantu kelompok-kelompok yang berisiko menjadi \nlebih waspada dan mengarahkan mereka pada perilaku yang dapat menurunkan \nrisiko tersebut. \nPenelitian ini berfokus pada dua faktor risiko dan etiologi paling umum \npenyebab kanker ovarium yang keberadaannya dapat dimodifikasi dan tidak terkait \ndengan faktor genetik, yaitu paritas dan status gizi yang dapat dinilai dari indeks \nmassa tubuh (IMT). Paritas dipilih karena dalam penelitian sebelumnya, salah \nsaatunya oleh Toufakis dkk.11 yang membandingkan antara wanita parous dengan \nnullipara, terbukti bahwa terdapat penurunan risiko yang signifikan terhadap kanker \novarium subtipe HGSC dibanding dengan subtipe lainnya pada wanita parous.11 \n\n \n3 \n \nFakultas Kedokteran Universitas Andalas \n \nIndeks massa tubuh dipilih karena terdapat hubungan yang erat antara kanker \novarium dengan peningkatan indeks massa tubuh, terutama wanita dengan \nobesitas.12 Jika dilihat dari epidemiologi terbaru, angka kelebihan berat badan dan \nobesitas pada wanita di Indonesia tergolong cukup tinggi mencapai angka 44.4% \ndari total populasi.13 Penelitian ini diharapkan membantu memberikan informasi \ntambahan dalam upaya pencegahan terjadinya kanker ovarium terutama subtipe \nHGSC dengan pendekatan melalui faktor risiko, sehingga dengan diketahuinya \nhubungan antara faktor risiko dan etiologi terkait angka kejadian dapat ditekan dan \nmortalitas akan semakin menurun. \n1.2 Rumusan Masalah \n1. Bagaimana karakteristik (usia, status menopause, paritas dan indeks massa \ntubuh) pasien kanker epitel ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang? \n2. Bagaimana hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian HGSC di \nRSUP Dr. M. Djamil Padang? \n3. Bagaimana hubungan antara paritas dengan kejadian HGSC di RSUP Dr. \nM. Djamil Padang? \n1.3 Tujuan Penelitian \n1. 3.1 Tujuan Umum \nMengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dan paritas dengan \nkejadian HGSC sebagai upaya preventif terhadap kanker ovarium dengan subtipe \nHGSC. \n1.3.2 Tujuan Khusus \n1. Mengetahui karakteristik (usia, status menopause, paritas dan indeks massa \ntubuh) pasien kanker epitel ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang. \n2. Mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian HGSC \ndi RSUP Dr. M. Djamil Padang. \n3. Mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian HGSC di RSUP Dr. \nM. Djamil Padang. \n1.4 Manfaat Penelitian \n1.4.1 Manfaat terhadap Peneliti \nPenelitian ini memberikan manfaat kepada peneliti berupa pengalaman \nuntuk terjun langsung dalam suatu penelitian. Peneliti juga berharap penelitian ini \n\n \n4 \n \nFakultas Kedokteran Universitas Andalas \n \ndapat meningkatkan kemampuan peneliti dalam menulis karya ilmiah. Hasil \npenelitian juga diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan \npeneliti terkait hubungan faktor risiko indeks massa tubuh dan paritas terhadap \nkejadian HGSC. \n1.4.2  Manfaat terhadap Ilmu Pengetahuan \nPenelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literatur dan menjadi \nlandasan pada penelitian di masa mendatang. Hasil penelitian juga diharapkam \ndapat memberikan informasi dan pembuktian tentang hubungan antara indeks \nmassa tubuh dan paritas terhadap kejadian HGSC. \n1.4.3 Manfaat terhadap Masyarakat \nHasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai \nhubungan antara faktor risiko terhadap tingkat kejadian kanker ovarium subtipe \nhigh grade serous, sehingga diharapkan masyarakat dapat melakukan usaha \npreventif melalui hubungan faktor risiko ini.","source_license":"CC0","license_restricted":false}