Hendy Hendarto
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang memberikan keluhan
nyeri dan infertilitas, sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi,
sulit disembuhkan dan pada gilirannya nanti dapat menyebabkan
penurunan kualitas hidup. Dampak penyakit endometriosis tidak hanya
menyebabkan masalah di bidang kesehatan saja, tetapi juga menimbulkan
beban berat di sisi sosioekonomi masyarakat. Dampak ekonomi yang
berat tersebut diduga salah satunya disebabkan karena penatalaksanaan
yang belum efektif efisien, yaitu lebih pada pengobatan mengatasi gejala
klinis tanpa terapi khusus pada penyebab endometriosis.
Pada perjalanannya penyakit endometriosis banyak memberikan masalah
dan kerugian tidak hanya bagi penderita, namun juga bagi dokter atau
tenaga medis yang menangani. Berbagai penelitian dasar dan terapan
di bidang endometriosis dilakukan sekaligus dipublikasi namun seakan
menambah daftar panjang masalah yang muncul sehingga diangkat
sebagai masalah pada buku ini yaitu sampai sejauh ini keterkaitan
pathogenesis yang belum terungkap dengan gejala klinis dan penanganan
endometriosis yang belum optimal menimbulkan kontroversi.
Oleh karena itu, pada buku ini dibahas tentang berbagai aspek
endometriosis baik dari segi keterkaitan teori patogenesis sampai klinis
praktis, diagnosis dan panduan penatalaksanaan endometriosis, dengan
harapan para pembaca mampu memahami dan mengatasi masalah dan
meminimalkan kontroversi endometriosis.
Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR
Airlangga University Press
Kampus C UNAIR - Mulyorejo, Surabaya 60115
T elp. (031) 5992246, 5992247, 5928591 Fax. (031) 5992248
E-mail:
[email protected]
SM74_Test
C4 M4 Y4 40% 80% B C M Y B C M Y 40% 80% B C M Y B C M Y 80% B C M Y B C M Y 40% 80% B C M Y
1
2
3
4
5
5
4
3
2
1
2
3
4
5
5
4
3
2
B C M Y 40% 80% B C M Y
1
2
3
4
5
5
4
3
2
1
2
3
4
5
5
4
3
2
B C M Y 40% 80% B4 C4 M4 Y4 MY CY CM B C M Y 40% 80% B C M Y CMY CMY B4 C4 M4 Y4 40% 80% B C M Y B C M Y 40% 80% B C M Y B C
34567891 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2
Prinect/FOGRA 4 Dipco 2.0 Format 74 © 2003 FOGRA/Heidelberger Druckmaschinen AG
CB
M Y
B
B
B
B
C
B
M
B
Y
B
BCB
M Y
CB
M Y
B
B
B
B
C
B
M
B
Y
B
BCB
M Y
AS
Back
AS
Front
BS
Back
BS
Front
PCM balance
050602_T_SM74
4321
Calibration
Black Datum
Calibration
Cyan Datum
Calibration
Magenta Datum
Calibration
Yellow Datum
ENDOMETRIOSIS
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
ENDOMETRIOSIS
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
ENDOMETRIOSIS
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
ENDOMETRIOSIS
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Dr. H. Hendy Hendarto, dr., Sp.OG(K)
Dari aspek teori sampai penanganan klinis
Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR
Airlangga University Press
© 2015 Airlangga University Press
AUP 600/14.570/05.15 (0.255)
Dilarang mengutip dan atau memperbanyak tanpa izin tertulis
dari Penerbit sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun,
baik cetak, fotoprint, mikrofilm dan sebagainya.
Cetakan pertama — 2015
Penerbit:
Airlangga University Press (AUP)
Kampus C Unair, Mulyorejo Surabaya 60115
Telp. (031) 5992246, 5992247 Fax. (031) 5992248
E-mail:
[email protected]
Dicetak oleh:
Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP)
(PNB 036/07.15/AUP-B2E)
Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Hendy Hendarto. Haji
Endometriosis dari aspek teori sampai penanganan
klinis / H. Hendy Hendarto. -- Surabaya: Airlangga
University Press (AUP), 2015.
xiv, 96 hlm.; 15,8 x 23 cm.
Bibliografi : hlm 87-91
Indeks.
ISBN 978-602-0820-04-0
1. Endometriosis I. Judul
618.1
15 16 17 18 19 / 9 8 7 6 5 4 3 2 1
Anggota IKAPI: 001/JTI/95
Anggota APPTI: 001/KTA/APPTI/X/2012
v
PRAKATA
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Agar dapat menyelesaikan suatu masalah, diperlukan kemampuan
untuk memahami masalah tersebut. Memahami masalah berarti mengetahui
dengan benar kenapa masalah tersebut terjadi, apa penyebab dan bagaimana
cara praktis mengatasi serta bagaimana antisipasi agar masalah tidak
berulang. Endometriosis merupakan masalah kesehatan di bidang ginekologi
yang cukup sulit diatasi. Perempuan usia reproduksi paling sering terkena
dengan keluhan nyeri dan infertilitas. Walaupun jarang menyebabkan
kematian namun bila endometriosis tidak ditangani dengan benar akan
menyebabkan penurunan kualitas hidup karena keluhan yang berlarut.
Patogenesis endometriosis belum terungkap jelas sehingga pengobatan
lebih ditujukan kepada keluhan, bukan kepada penyebab penyakit. Keadaan
tersebut menyebabkan endometriosis sulit sembuh, bahkan menimbulkan
kontroversi pada diagnosis, terapi dan hasil penanganan. Berbekal lebih
dari sepuluh tahun pengabdian melayani masyarakat disertai melakukan
pengamatan, penelitian, dan pendidikan di Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penulis mencoba mendokumentasikan dalam
sebuah buku. Buku ini berisi pemahaman, pengalaman, dan pemikiran
penulis dan beberapa nara sumber lain tentang endometriosis dari aspek
teori sampai penanganan klinis. Buku endometriosis ini ditujukan kepada
sejawat dokter, spesialis/subspesialis Obstetri-Ginekologi, praktisi kesehatan
dan kepada siapa pun yang tertarik agar mampu mengetahui dan memahami
penyakit endometriosis serta cara penanganannya.
Tentu buku ini jauh dari sempurna. Saran, koreksi dan kritik membangun
sangat diperlukan untuk penyempurnaan. Saya berharap buku ini dapat
membuka wawasan pembaca untuk mengenal dan menyelesaikan masalah
di masyarakat akibat penyakit endometriosis.
Surabaya, 6 Januari 2015
Hendy Hendarto
v
PRAKATA
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Agar dapat menyelesaikan suatu masalah, diperlukan kemampuan
untuk memahami masalah tersebut. Memahami masalah berarti mengetahui
dengan benar kenapa masalah tersebut terjadi, apa penyebab dan bagaimana
cara praktis mengatasi serta bagaimana antisipasi agar masalah tidak
berulang. Endometriosis merupakan masalah kesehatan di bidang ginekologi
yang cukup sulit diatasi. Perempuan usia reproduksi paling sering terkena
dengan keluhan nyeri dan infertilitas. Walaupun jarang menyebabkan
kematian namun bila endometriosis tidak ditangani dengan benar akan
menyebabkan penurunan kualitas hidup karena keluhan yang berlarut.
Patogenesis endometriosis belum terungkap jelas sehingga pengobatan
lebih ditujukan kepada keluhan, bukan kepada penyebab penyakit. Keadaan
tersebut menyebabkan endometriosis sulit sembuh, bahkan menimbulkan
kontroversi pada diagnosis, terapi dan hasil penanganan. Berbekal lebih
dari sepuluh tahun pengabdian melayani masyarakat disertai melakukan
pengamatan, penelitian, dan pendidikan di Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penulis mencoba mendokumentasikan dalam
sebuah buku. Buku ini berisi pemahaman, pengalaman, dan pemikiran
penulis dan beberapa nara sumber lain tentang endometriosis dari aspek
teori sampai penanganan klinis. Buku endometriosis ini ditujukan kepada
sejawat dokter, spesialis/subspesialis Obstetri-Ginekologi, praktisi kesehatan
dan kepada siapa pun yang tertarik agar mampu mengetahui dan memahami
penyakit endometriosis serta cara penanganannya.
Tentu buku ini jauh dari sempurna. Saran, koreksi dan kritik membangun
sangat diperlukan untuk penyempurnaan. Saya berharap buku ini dapat
membuka wawasan pembaca untuk mengenal dan menyelesaikan masalah
di masyarakat akibat penyakit endometriosis.
Surabaya, 6 Januari 2015
Hendy Hendarto
v
PRAKATA
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Agar dapat menyelesaikan suatu masalah, diperlukan kemampuan
untuk memahami masalah tersebut. Memahami masalah berarti mengetahui
dengan benar kenapa masalah tersebut terjadi, apa penyebab dan bagaimana
cara praktis mengatasi serta bagaimana antisipasi agar masalah tidak
berulang. Endometriosis merupakan masalah kesehatan di bidang ginekologi
yang cukup sulit diatasi. Perempuan usia reproduksi paling sering terkena
dengan keluhan nyeri dan infertilitas. Walaupun jarang menyebabkan
kematian namun bila endometriosis tidak ditangani dengan benar akan
menyebabkan penurunan kualitas hidup karena keluhan yang berlarut.
Patogenesis endometriosis belum terungkap jelas sehingga pengobatan
lebih ditujukan kepada keluhan, bukan kepada penyebab penyakit. Keadaan
tersebut menyebabkan endometriosis sulit sembuh, bahkan menimbulkan
kontroversi pada diagnosis, terapi dan hasil penanganan. Berbekal lebih
dari sepuluh tahun pengabdian melayani masyarakat disertai melakukan
pengamatan, penelitian, dan pendidikan di Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penulis mencoba mendokumentasikan dalam
sebuah buku. Buku ini berisi pemahaman, pengalaman, dan pemikiran
penulis dan beberapa nara sumber lain tentang endometriosis dari aspek
teori sampai penanganan klinis. Buku endometriosis ini ditujukan kepada
sejawat dokter, spesialis/subspesialis Obstetri-Ginekologi, praktisi kesehatan
dan kepada siapa pun yang tertarik agar mampu mengetahui dan memahami
penyakit endometriosis serta cara penanganannya.
Tentu buku ini jauh dari sempurna. Saran, koreksi dan kritik membangun
sangat diperlukan untuk penyempurnaan. Saya berharap buku ini dapat
membuka wawasan pembaca untuk mengenal dan menyelesaikan masalah
di masyarakat akibat penyakit endometriosis.
Surabaya, 6 Januari 2015
Hendy Hendarto
v
PRAKATA
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Agar dapat menyelesaikan suatu masalah, diperlukan kemampuan
untuk memahami masalah tersebut. Memahami masalah berarti mengetahui
dengan benar kenapa masalah tersebut terjadi, apa penyebab dan bagaimana
cara praktis mengatasi serta bagaimana antisipasi agar masalah tidak
berulang. Endometriosis merupakan masalah kesehatan di bidang ginekologi
yang cukup sulit diatasi. Perempuan usia reproduksi paling sering terkena
dengan keluhan nyeri dan infertilitas. Walaupun jarang menyebabkan
kematian namun bila endometriosis tidak ditangani dengan benar akan
menyebabkan penurunan kualitas hidup karena keluhan yang berlarut.
Patogenesis endometriosis belum terungkap jelas sehingga pengobatan
lebih ditujukan kepada keluhan, bukan kepada penyebab penyakit. Keadaan
tersebut menyebabkan endometriosis sulit sembuh, bahkan menimbulkan
kontroversi pada diagnosis, terapi dan hasil penanganan. Berbekal lebih
dari sepuluh tahun pengabdian melayani masyarakat disertai melakukan
pengamatan, penelitian, dan pendidikan di Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penulis mencoba mendokumentasikan dalam
sebuah buku. Buku ini berisi pemahaman, pengalaman, dan pemikiran
penulis dan beberapa nara sumber lain tentang endometriosis dari aspek
teori sampai penanganan klinis. Buku endometriosis ini ditujukan kepada
sejawat dokter, spesialis/subspesialis Obstetri-Ginekologi, praktisi kesehatan
dan kepada siapa pun yang tertarik agar mampu mengetahui dan memahami
penyakit endometriosis serta cara penanganannya.
Tentu buku ini jauh dari sempurna. Saran, koreksi dan kritik membangun
sangat diperlukan untuk penyempurnaan. Saya berharap buku ini dapat
membuka wawasan pembaca untuk mengenal dan menyelesaikan masalah
di masyarakat akibat penyakit endometriosis.
Surabaya, 6 Januari 2015
Hendy Hendarto
vii
DAFTAR ISI
Prakata .......................................................................................... v
Daftar Isi .......................................................................................... vii
Daftar Gambar .................................................................................. ix
Daftar Tabel ...................................................................................... xi
Daftar Singkatan ............................................................................... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................ 1
BAB 2 DEFINISI DAN PENGERTIAN .................................... 5
BAB 3 PREVALENSI ENDOMETRIOSIS ............................... 7
BAB 4 PATOGENESIS .............................................................. 9
Teori Aliran Balik Darah Haid (Retrograde Menstruation) . 9
Teori Metaplasia ................................................................ 11
Teori Hormon .................................................................... 12
Teori Inflamasi dan Stres Oksidatif .................................... 16
Teori Defek Sistem Imun .................................................... 17
Teori Genetik ..................................................................... 19
Teori Stem Cell .................................................................. 20
BAB 5 GEJALA KLINIS ............................................................ 23
BAB 6 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN NYERI 25
BAB 7 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN
INFERTILITAS ............................................................... 29
Perlekatan Organ Panggul ................................................ 29
Gangguan Folikulogenesis dan Fungsi Oosit ..................... 30
Gangguan Fungsi Sperma ................................................ 31
Penurunan Kualitas Embrio ............................................... 32
Gangguan Reseptivitas Endometrium ............................... 32
BAB 8 PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 35
Anamnesis ........................................................................ 36
Pemeriksaan Fisik dan Ginekologi .................................... 37
Laparoskopi untuk Diagnosis Endometriosis ..................... 38
USG Tansvagina untuk Diagnosis Kista Endometriosis ..... 40
vii
DAFTAR ISI
Prakata .......................................................................................... v
Daftar Isi .......................................................................................... vii
Daftar Gambar .................................................................................. ix
Daftar Tabel ...................................................................................... xi
Daftar Singkatan ............................................................................... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................ 1
BAB 2 DEFINISI DAN PENGERTIAN .................................... 5
BAB 3 PREVALENSI ENDOMETRIOSIS ............................... 7
BAB 4 PATOGENESIS .............................................................. 9
Teori Aliran Balik Darah Haid (Retrograde Menstruation) . 9
Teori Metaplasia ................................................................ 11
Teori Hormon .................................................................... 12
Teori Inflamasi dan Stres Oksidatif .................................... 16
Teori Defek Sistem Imun .................................................... 17
Teori Genetik ..................................................................... 19
Teori Stem Cell .................................................................. 20
BAB 5 GEJALA KLINIS ............................................................ 23
BAB 6 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN NYERI 25
BAB 7 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN
INFERTILITAS ............................................................... 29
Perlekatan Organ Panggul ................................................ 29
Gangguan Folikulogenesis dan Fungsi Oosit ..................... 30
Gangguan Fungsi Sperma ................................................ 31
Penurunan Kualitas Embrio ............................................... 32
Gangguan Reseptivitas Endometrium ............................... 32
BAB 8 PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 35
Anamnesis ........................................................................ 36
Pemeriksaan Fisik dan Ginekologi .................................... 37
Laparoskopi untuk Diagnosis Endometriosis ..................... 38
USG Tansvagina untuk Diagnosis Kista Endometriosis ..... 40
vii
DAFTAR ISI
Prakata .......................................................................................... v
Daftar Isi .......................................................................................... vii
Daftar Gambar .................................................................................. ix
Daftar Tabel ...................................................................................... xi
Daftar Singkatan ............................................................................... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................ 1
BAB 2 DEFINISI DAN PENGERTIAN .................................... 5
BAB 3 PREVALENSI ENDOMETRIOSIS ............................... 7
BAB 4 PATOGENESIS .............................................................. 9
Teori Aliran Balik Darah Haid (Retrograde Menstruation) . 9
Teori Metaplasia ................................................................ 11
Teori Hormon .................................................................... 12
Teori Inflamasi dan Stres Oksidatif .................................... 16
Teori Defek Sistem Imun .................................................... 17
Teori Genetik ..................................................................... 19
Teori Stem Cell .................................................................. 20
BAB 5 GEJALA KLINIS ............................................................ 23
BAB 6 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN NYERI 25
BAB 7 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN
INFERTILITAS ............................................................... 29
Perlekatan Organ Panggul ................................................ 29
Gangguan Folikulogenesis dan Fungsi Oosit ..................... 30
Gangguan Fungsi Sperma ................................................ 31
Penurunan Kualitas Embrio ............................................... 32
Gangguan Reseptivitas Endometrium ............................... 32
BAB 8 PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 35
Anamnesis ........................................................................ 36
Pemeriksaan Fisik dan Ginekologi .................................... 37
Laparoskopi untuk Diagnosis Endometriosis ..................... 38
USG Tansvagina untuk Diagnosis Kista Endometriosis ..... 40
vii
DAFTAR ISI
Prakata .......................................................................................... v
Daftar Isi .......................................................................................... vii
Daftar Gambar .................................................................................. ix
Daftar Tabel ...................................................................................... xi
Daftar Singkatan ............................................................................... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................ 1
BAB 2 DEFINISI DAN PENGERTIAN .................................... 5
BAB 3 PREVALENSI ENDOMETRIOSIS ............................... 7
BAB 4 PATOGENESIS .............................................................. 9
Teori Aliran Balik Darah Haid (Retrograde Menstruation) . 9
Teori Metaplasia ................................................................ 11
Teori Hormon .................................................................... 12
Teori Inflamasi dan Stres Oksidatif .................................... 16
Teori Defek Sistem Imun .................................................... 17
Teori Genetik ..................................................................... 19
Teori Stem Cell .................................................................. 20
BAB 5 GEJALA KLINIS ............................................................ 23
BAB 6 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN NYERI 25
BAB 7 HUBUNGAN ENDOMETRIOSIS DENGAN
INFERTILITAS ............................................................... 29
Perlekatan Organ Panggul ................................................ 29
Gangguan Folikulogenesis dan Fungsi Oosit ..................... 30
Gangguan Fungsi Sperma ................................................ 31
Penurunan Kualitas Embrio ............................................... 32
Gangguan Reseptivitas Endometrium ............................... 32
BAB 8 PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 35
Anamnesis ........................................................................ 36
Pemeriksaan Fisik dan Ginekologi .................................... 37
Laparoskopi untuk Diagnosis Endometriosis ..................... 38
USG Tansvagina untuk Diagnosis Kista Endometriosis ..... 40
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisviii
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) .............. 41
Penggunaan penanda tumor CA-125. .............................. 42
BAB 9 KLASIFIKASI ENDOMETRIOSIS .............................. 43
BAB 10 PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS .............. 47
Terapi Medis untuk Nyeri Endometriosis ........................... 48
Pil Kontrasepsi Kombinasi ........................................ 49
Progestogen.............................................................. 49
Danazol .................................................................... 50
Analog GnRH .......................................................... 51
Aromatase Inhibitor ................................................. 53
Analgetika ................................................................ 54
Terapi Empiris untuk Nyeri Endometriosis ................ 54
Terapi Bedah untuk Nyeri Endometriosis ......................... 55
Perbedaan Teknik Ablasi dan Eksisi .......................... 57
Terapi Bedah pada Kista Endometriosis ................... 58
Terapi Bedah pada Deep Infiltrating Endometriosis
(DIE) ...................................................................... 60
Interupsi Lintasan Saraf Panggul pada Nyeri
Endometriosis ........................................................... 61
Terapi Hormon Pra dan Pascabedah pada Endometriosis . 63
BAB 11 PENANGANAN INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 67
Expectant Management .................................................... 67
Terapi Medis pada Infertilitas karena Endometriosis .......... 68
Terapi Bedah pada Infertilitas karena Endometriosis ......... 69
Terapi Kombinasi pada Infertilitas karena Endometriosis ... 71
BAB 12 TERAPI MEDIS REPRODUKSI BERBANTU PADA
INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS ........... 73
Inseminasi Intra Uteri ........................................................ 74
Fertilisasi In Vitro pada Infertilitas karena Endometriosis ... 76
BAB 13 ALGORITMA PENANGANAN ENDOMETRIOSIS .. 81
Daftar Pustaka ................................................................................. 87
Indeks .......................................................................................... 93
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisviii
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) .............. 41
Penggunaan penanda tumor CA-125. .............................. 42
BAB 9 KLASIFIKASI ENDOMETRIOSIS .............................. 43
BAB 10 PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS .............. 47
Terapi Medis untuk Nyeri Endometriosis ........................... 48
Pil Kontrasepsi Kombinasi ........................................ 49
Progestogen.............................................................. 49
Danazol .................................................................... 50
Analog GnRH .......................................................... 51
Aromatase Inhibitor ................................................. 53
Analgetika ................................................................ 54
Terapi Empiris untuk Nyeri Endometriosis ................ 54
Terapi Bedah untuk Nyeri Endometriosis ......................... 55
Perbedaan Teknik Ablasi dan Eksisi .......................... 57
Terapi Bedah pada Kista Endometriosis ................... 58
Terapi Bedah pada Deep Infiltrating Endometriosis
(DIE) ...................................................................... 60
Interupsi Lintasan Saraf Panggul pada Nyeri
Endometriosis ........................................................... 61
Terapi Hormon Pra dan Pascabedah pada Endometriosis . 63
BAB 11 PENANGANAN INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 67
Expectant Management .................................................... 67
Terapi Medis pada Infertilitas karena Endometriosis .......... 68
Terapi Bedah pada Infertilitas karena Endometriosis ......... 69
Terapi Kombinasi pada Infertilitas karena Endometriosis ... 71
BAB 12 TERAPI MEDIS REPRODUKSI BERBANTU PADA
INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS ........... 73
Inseminasi Intra Uteri ........................................................ 74
Fertilisasi In Vitro pada Infertilitas karena Endometriosis ... 76
BAB 13 ALGORITMA PENANGANAN ENDOMETRIOSIS .. 81
Daftar Pustaka ................................................................................. 87
Indeks .......................................................................................... 93
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisviii
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) .............. 41
Penggunaan penanda tumor CA-125. .............................. 42
BAB 9 KLASIFIKASI ENDOMETRIOSIS .............................. 43
BAB 10 PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS .............. 47
Terapi Medis untuk Nyeri Endometriosis ........................... 48
Pil Kontrasepsi Kombinasi ........................................ 49
Progestogen.............................................................. 49
Danazol .................................................................... 50
Analog GnRH .......................................................... 51
Aromatase Inhibitor ................................................. 53
Analgetika ................................................................ 54
Terapi Empiris untuk Nyeri Endometriosis ................ 54
Terapi Bedah untuk Nyeri Endometriosis ......................... 55
Perbedaan Teknik Ablasi dan Eksisi .......................... 57
Terapi Bedah pada Kista Endometriosis ................... 58
Terapi Bedah pada Deep Infiltrating Endometriosis
(DIE) ...................................................................... 60
Interupsi Lintasan Saraf Panggul pada Nyeri
Endometriosis ........................................................... 61
Terapi Hormon Pra dan Pascabedah pada Endometriosis . 63
BAB 11 PENANGANAN INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 67
Expectant Management .................................................... 67
Terapi Medis pada Infertilitas karena Endometriosis .......... 68
Terapi Bedah pada Infertilitas karena Endometriosis ......... 69
Terapi Kombinasi pada Infertilitas karena Endometriosis ... 71
BAB 12 TERAPI MEDIS REPRODUKSI BERBANTU PADA
INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS ........... 73
Inseminasi Intra Uteri ........................................................ 74
Fertilisasi In Vitro pada Infertilitas karena Endometriosis ... 76
BAB 13 ALGORITMA PENANGANAN ENDOMETRIOSIS .. 81
Daftar Pustaka ................................................................................. 87
Indeks .......................................................................................... 93
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisviii
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) .............. 41
Penggunaan penanda tumor CA-125. .............................. 42
BAB 9 KLASIFIKASI ENDOMETRIOSIS .............................. 43
BAB 10 PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS .............. 47
Terapi Medis untuk Nyeri Endometriosis ........................... 48
Pil Kontrasepsi Kombinasi ........................................ 49
Progestogen.............................................................. 49
Danazol .................................................................... 50
Analog GnRH .......................................................... 51
Aromatase Inhibitor ................................................. 53
Analgetika ................................................................ 54
Terapi Empiris untuk Nyeri Endometriosis ................ 54
Terapi Bedah untuk Nyeri Endometriosis ......................... 55
Perbedaan Teknik Ablasi dan Eksisi .......................... 57
Terapi Bedah pada Kista Endometriosis ................... 58
Terapi Bedah pada Deep Infiltrating Endometriosis
(DIE) ...................................................................... 60
Interupsi Lintasan Saraf Panggul pada Nyeri
Endometriosis ........................................................... 61
Terapi Hormon Pra dan Pascabedah pada Endometriosis . 63
BAB 11 PENANGANAN INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS ........................................................ 67
Expectant Management .................................................... 67
Terapi Medis pada Infertilitas karena Endometriosis .......... 68
Terapi Bedah pada Infertilitas karena Endometriosis ......... 69
Terapi Kombinasi pada Infertilitas karena Endometriosis ... 71
BAB 12 TERAPI MEDIS REPRODUKSI BERBANTU PADA
INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS ........... 73
Inseminasi Intra Uteri ........................................................ 74
Fertilisasi In Vitro pada Infertilitas karena Endometriosis ... 76
BAB 13 ALGORITMA PENANGANAN ENDOMETRIOSIS .. 81
Daftar Pustaka ................................................................................. 87
Indeks .......................................................................................... 93
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok
perempuan yang telah dipublikasi. ........................... 8
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid (retrograde menstruation) 10
Gambar 4.2 Teori metaplasia ....................................................... 12
Gambar 4.3 Teori Hormon .......................................................... 13
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron ......................... 15
Gambar 4.5 Teori inflamasi ......................................................... 17
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. ........................................... 18
Gambar 4.7 Teori stem cell ........................................................... 20
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis ....................... 26
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada
endometriosis ........................................................... 31
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis ............... 33
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus
dan ovarium ............................................................. 39
Gambar 8.2 Kista endometriosis .................................................. 40
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI ......... 41
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM
1996 ......................................................................... 45
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis ............ 48
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH .................. 51
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri
endometriosis ........................................................... 56
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi ........................... 57
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista
endometriosis .......................................................... 59
Gambar 10.6 Lokasi LUNA dan PSN ............................................ 62
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri ................................................ 76
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro ...................... 77
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang belum menikah/usia remaja ..... 84
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok
perempuan yang telah dipublikasi. ........................... 8
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid (retrograde menstruation) 10
Gambar 4.2 Teori metaplasia ....................................................... 12
Gambar 4.3 Teori Hormon .......................................................... 13
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron ......................... 15
Gambar 4.5 Teori inflamasi ......................................................... 17
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. ........................................... 18
Gambar 4.7 Teori stem cell ........................................................... 20
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis ....................... 26
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada
endometriosis ........................................................... 31
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis ............... 33
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus
dan ovarium ............................................................. 39
Gambar 8.2 Kista endometriosis .................................................. 40
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI ......... 41
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM
1996 ......................................................................... 45
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis ............ 48
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH .................. 51
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri
endometriosis ........................................................... 56
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi ........................... 57
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista
endometriosis .......................................................... 59
Gambar 10.6 Lokasi LUNA dan PSN ............................................ 62
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri ................................................ 76
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro ...................... 77
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang belum menikah/usia remaja ..... 84
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok
perempuan yang telah dipublikasi. ........................... 8
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid (retrograde menstruation) 10
Gambar 4.2 Teori metaplasia ....................................................... 12
Gambar 4.3 Teori Hormon .......................................................... 13
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron ......................... 15
Gambar 4.5 Teori inflamasi ......................................................... 17
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. ........................................... 18
Gambar 4.7 Teori stem cell ........................................................... 20
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis ....................... 26
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada
endometriosis ........................................................... 31
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis ............... 33
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus
dan ovarium ............................................................. 39
Gambar 8.2 Kista endometriosis .................................................. 40
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI ......... 41
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM
1996 ......................................................................... 45
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis ............ 48
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH .................. 51
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri
endometriosis ........................................................... 56
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi ........................... 57
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista
endometriosis .......................................................... 59
Gambar 10.6 Lokasi LUNA dan PSN ............................................ 62
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri ................................................ 76
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro ...................... 77
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang belum menikah/usia remaja ..... 84
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok
perempuan yang telah dipublikasi. ........................... 8
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid (retrograde menstruation) 10
Gambar 4.2 Teori metaplasia ....................................................... 12
Gambar 4.3 Teori Hormon .......................................................... 13
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron ......................... 15
Gambar 4.5 Teori inflamasi ......................................................... 17
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. ........................................... 18
Gambar 4.7 Teori stem cell ........................................................... 20
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis ....................... 26
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada
endometriosis ........................................................... 31
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis ............... 33
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus
dan ovarium ............................................................. 39
Gambar 8.2 Kista endometriosis .................................................. 40
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI ......... 41
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM
1996 ......................................................................... 45
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis ............ 48
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH .................. 51
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri
endometriosis ........................................................... 56
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi ........................... 57
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista
endometriosis .......................................................... 59
Gambar 10.6 Lokasi LUNA dan PSN ............................................ 62
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri ................................................ 76
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro ...................... 77
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang belum menikah/usia remaja ..... 84
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisx
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang sudah menikah/belum ingin
punya anak dan usia perimenopause ....................... 85
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas
karena endometriosis ................................................ 86
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisx
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang sudah menikah/belum ingin
punya anak dan usia perimenopause ....................... 85
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas
karena endometriosis ................................................ 86
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisx
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang sudah menikah/belum ingin
punya anak dan usia perimenopause ....................... 85
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas
karena endometriosis ................................................ 86
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisx
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endometriosis
pada penderita yang sudah menikah/belum ingin
punya anak dan usia perimenopause ....................... 85
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas
karena endometriosis ................................................ 86
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis .......... 21
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis .................................................. 23
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung .................. 36
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis .................... 44
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri ........................................ 74
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro 77
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis .......... 21
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis .................................................. 23
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung .................. 36
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis .................... 44
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri ........................................ 74
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro 77
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis .......... 21
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis .................................................. 23
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung .................. 36
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis .................... 44
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri ........................................ 74
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro 77
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis .......... 21
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis .................................................. 23
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung .................. 36
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis .................... 44
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri ........................................ 74
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro 77
xiii
DAFTAR SINGKATAN
AFC : Antral Follicle Count
AFS : American Fertility Society
AI : Aromatase Inhibitor
AMH : Anti Mullerian Hormone
ASRM : American Society for Reproductive Medicine
CA-125 : Cancer Antigen-125
CI : Confidence Interval
CO2 : Carbon dioxide
COX-2 : Cyclooxygenase-2
Co-Act : Coactivator
DIE : Deep Infiltrating Endometriosis
DNA : Deoxyribonucleic Acid
E1 : Estron
E2 : Estradiol
ESHRE : European Society forHuman Reproduction and
Embriology
FIV : Fertilisasi in vitro
FSH : Follicle Stimulating Hormone
GDF-9 : Growth Differentiation Factor-9
GDG : Guideline Development Groups
GPP : Good Practice Point
hCG : human Chorionic Gonadotropin
HIFERI : Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi
hMG : human Menopausal Gonadotropin
17β-HSD : 17 β hidroksisteroid dehidrogenase
ICAM-1 : Intercellular Adhesion Molecule-1
ICSI : Intracytoplasmic Sperm Injection
IIU : Inseminasi Intra Uteri
IL : Interleukin
KIE : Komunikasi Informasi Edukasi
KS : Klomifen Sitrat
LFA : Lymphocyte Function-associated Antigen
LH : Luteinizing Hormone
xiii
DAFTAR SINGKATAN
AFC : Antral Follicle Count
AFS : American Fertility Society
AI : Aromatase Inhibitor
AMH : Anti Mullerian Hormone
ASRM : American Society for Reproductive Medicine
CA-125 : Cancer Antigen-125
CI : Confidence Interval
CO2 : Carbon dioxide
COX-2 : Cyclooxygenase-2
Co-Act : Coactivator
DIE : Deep Infiltrating Endometriosis
DNA : Deoxyribonucleic Acid
E1 : Estron
E2 : Estradiol
ESHRE : European Society forHuman Reproduction and
Embriology
FIV : Fertilisasi in vitro
FSH : Follicle Stimulating Hormone
GDF-9 : Growth Differentiation Factor-9
GDG : Guideline Development Groups
GPP : Good Practice Point
hCG : human Chorionic Gonadotropin
HIFERI : Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi
hMG : human Menopausal Gonadotropin
17β-HSD : 17 β hidroksisteroid dehidrogenase
ICAM-1 : Intercellular Adhesion Molecule-1
ICSI : Intracytoplasmic Sperm Injection
IIU : Inseminasi Intra Uteri
IL : Interleukin
KIE : Komunikasi Informasi Edukasi
KS : Klomifen Sitrat
LFA : Lymphocyte Function-associated Antigen
LH : Luteinizing Hormone
xiii
DAFTAR SINGKATAN
AFC : Antral Follicle Count
AFS : American Fertility Society
AI : Aromatase Inhibitor
AMH : Anti Mullerian Hormone
ASRM : American Society for Reproductive Medicine
CA-125 : Cancer Antigen-125
CI : Confidence Interval
CO2 : Carbon dioxide
COX-2 : Cyclooxygenase-2
Co-Act : Coactivator
DIE : Deep Infiltrating Endometriosis
DNA : Deoxyribonucleic Acid
E1 : Estron
E2 : Estradiol
ESHRE : European Society forHuman Reproduction and
Embriology
FIV : Fertilisasi in vitro
FSH : Follicle Stimulating Hormone
GDF-9 : Growth Differentiation Factor-9
GDG : Guideline Development Groups
GPP : Good Practice Point
hCG : human Chorionic Gonadotropin
HIFERI : Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi
hMG : human Menopausal Gonadotropin
17β-HSD : 17 β hidroksisteroid dehidrogenase
ICAM-1 : Intercellular Adhesion Molecule-1
ICSI : Intracytoplasmic Sperm Injection
IIU : Inseminasi Intra Uteri
IL : Interleukin
KIE : Komunikasi Informasi Edukasi
KS : Klomifen Sitrat
LFA : Lymphocyte Function-associated Antigen
LH : Luteinizing Hormone
xiii
DAFTAR SINGKATAN
AFC : Antral Follicle Count
AFS : American Fertility Society
AI : Aromatase Inhibitor
AMH : Anti Mullerian Hormone
ASRM : American Society for Reproductive Medicine
CA-125 : Cancer Antigen-125
CI : Confidence Interval
CO2 : Carbon dioxide
COX-2 : Cyclooxygenase-2
Co-Act : Coactivator
DIE : Deep Infiltrating Endometriosis
DNA : Deoxyribonucleic Acid
E1 : Estron
E2 : Estradiol
ESHRE : European Society forHuman Reproduction and
Embriology
FIV : Fertilisasi in vitro
FSH : Follicle Stimulating Hormone
GDF-9 : Growth Differentiation Factor-9
GDG : Guideline Development Groups
GPP : Good Practice Point
hCG : human Chorionic Gonadotropin
HIFERI : Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi
hMG : human Menopausal Gonadotropin
17β-HSD : 17 β hidroksisteroid dehidrogenase
ICAM-1 : Intercellular Adhesion Molecule-1
ICSI : Intracytoplasmic Sperm Injection
IIU : Inseminasi Intra Uteri
IL : Interleukin
KIE : Komunikasi Informasi Edukasi
KS : Klomifen Sitrat
LFA : Lymphocyte Function-associated Antigen
LH : Luteinizing Hormone
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisxiv
LNG-IUS : Levonorgestrel-releasing Intrauterine System
LUNA : Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation
MAR : Medically Assisted Reproduction
MCP-1 : Monocyte Chemotactic Protein-1
MIF : Macrophage Migration Inhibitory Factor
MMP : Matrix Metalioproteinase
MPA : Medroksi Progesterone Asetat
MRI : Magnetic Resonance Imaging
NGF : Nerve Growth Factor
NK : Natural Killer
NNT : Number Needed to Treat
NSAID : Non Steroid Anti Inflammation Drug
OPU : Ovum pick-up
OR : Odds Ratio
PGE-2 : Prostaglandin-E2
PKK : Pil Kontrasepsi Kombinasi
2Pn : 2 Pronuclei
PSN : Presacral Neurectomy
RANTES : Regulated on Activation Normal T Cell Expressed and
Secreted
RCOG : Royal College Obstetric Gynecology
RCT : Randomized Clinical Trial
RE : Reseptor Estrogen
RNA : Ribonucleic Acid
ROS : Reactive Oxygen Species
RP : Reseptor Progesteron
RR : Relative Risk
SSP : Sistem Saraf Pusat
TAH-BSO : Total Abdominal Histerektomi-Bilateral Salping-
ooforektomi
TNF-α : Tumor Necrosis Factor- α
TRB : Teknologi Reproduksi Berbantu
USG : Ultrasonography
VEGF : Vascular Endothelial Growth Factor
WHO : World Health Organization
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisxiv
LNG-IUS : Levonorgestrel-releasing Intrauterine System
LUNA : Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation
MAR : Medically Assisted Reproduction
MCP-1 : Monocyte Chemotactic Protein-1
MIF : Macrophage Migration Inhibitory Factor
MMP : Matrix Metalioproteinase
MPA : Medroksi Progesterone Asetat
MRI : Magnetic Resonance Imaging
NGF : Nerve Growth Factor
NK : Natural Killer
NNT : Number Needed to Treat
NSAID : Non Steroid Anti Inflammation Drug
OPU : Ovum pick-up
OR : Odds Ratio
PGE-2 : Prostaglandin-E2
PKK : Pil Kontrasepsi Kombinasi
2Pn : 2 Pronuclei
PSN : Presacral Neurectomy
RANTES : Regulated on Activation Normal T Cell Expressed and
Secreted
RCOG : Royal College Obstetric Gynecology
RCT : Randomized Clinical Trial
RE : Reseptor Estrogen
RNA : Ribonucleic Acid
ROS : Reactive Oxygen Species
RP : Reseptor Progesteron
RR : Relative Risk
SSP : Sistem Saraf Pusat
TAH-BSO : Total Abdominal Histerektomi-Bilateral Salping-
ooforektomi
TNF-α : Tumor Necrosis Factor- α
TRB : Teknologi Reproduksi Berbantu
USG : Ultrasonography
VEGF : Vascular Endothelial Growth Factor
WHO : World Health Organization
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisxiv
LNG-IUS : Levonorgestrel-releasing Intrauterine System
LUNA : Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation
MAR : Medically Assisted Reproduction
MCP-1 : Monocyte Chemotactic Protein-1
MIF : Macrophage Migration Inhibitory Factor
MMP : Matrix Metalioproteinase
MPA : Medroksi Progesterone Asetat
MRI : Magnetic Resonance Imaging
NGF : Nerve Growth Factor
NK : Natural Killer
NNT : Number Needed to Treat
NSAID : Non Steroid Anti Inflammation Drug
OPU : Ovum pick-up
OR : Odds Ratio
PGE-2 : Prostaglandin-E2
PKK : Pil Kontrasepsi Kombinasi
2Pn : 2 Pronuclei
PSN : Presacral Neurectomy
RANTES : Regulated on Activation Normal T Cell Expressed and
Secreted
RCOG : Royal College Obstetric Gynecology
RCT : Randomized Clinical Trial
RE : Reseptor Estrogen
RNA : Ribonucleic Acid
ROS : Reactive Oxygen Species
RP : Reseptor Progesteron
RR : Relative Risk
SSP : Sistem Saraf Pusat
TAH-BSO : Total Abdominal Histerektomi-Bilateral Salping-
ooforektomi
TNF-α : Tumor Necrosis Factor- α
TRB : Teknologi Reproduksi Berbantu
USG : Ultrasonography
VEGF : Vascular Endothelial Growth Factor
WHO : World Health Organization
ENDOMETRIOSIS dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinisxiv
LNG-IUS : Levonorgestrel-releasing Intrauterine System
LUNA : Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation
MAR : Medically Assisted Reproduction
MCP-1 : Monocyte Chemotactic Protein-1
MIF : Macrophage Migration Inhibitory Factor
MMP : Matrix Metalioproteinase
MPA : Medroksi Progesterone Asetat
MRI : Magnetic Resonance Imaging
NGF : Nerve Growth Factor
NK : Natural Killer
NNT : Number Needed to Treat
NSAID : Non Steroid Anti Inflammation Drug
OPU : Ovum pick-up
OR : Odds Ratio
PGE-2 : Prostaglandin-E2
PKK : Pil Kontrasepsi Kombinasi
2Pn : 2 Pronuclei
PSN : Presacral Neurectomy
RANTES : Regulated on Activation Normal T Cell Expressed and
Secreted
RCOG : Royal College Obstetric Gynecology
RCT : Randomized Clinical Trial
RE : Reseptor Estrogen
RNA : Ribonucleic Acid
ROS : Reactive Oxygen Species
RP : Reseptor Progesteron
RR : Relative Risk
SSP : Sistem Saraf Pusat
TAH-BSO : Total Abdominal Histerektomi-Bilateral Salping-
ooforektomi
TNF-α : Tumor Necrosis Factor- α
TRB : Teknologi Reproduksi Berbantu
USG : Ultrasonography
VEGF : Vascular Endothelial Growth Factor
WHO : World Health Organization
1
Pendahuluan
1
Tujuan:
Setelah membaca materi tulisan buku ini pembaca diharapkan mengenal dan
memahami berbagai aspek penyakit endometriosis dari teori patogenesis sampai
gejala klinis, diagnosis, dan penanganan klinis.
Nyeri dan infertilitas adalah dua gejala klinis yang menjadi keluhan
utama penderita endometriosis. Kedua keluhan tersebut saling terkait dan
bila tidak ditangani dengan baik akan sangat merugikan penderita. Apabila
dihubungkan dengan gangguan organ reproduksi perempuan, sejauh
ini masih banyak yang belum terungkap pada kedua keluhan tersebut.
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang memberikan keluhan
nyeri dan infertilitas, sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi, sulit
disembuhkan dan pada gilirannya nanti dapat menyebabkan penurunan
kualitas hidup (1,2). Berdasarkan pengamatan penulis di Klinik Fertilitas
Graha Amerta bila keluhan nyeri dan infertilitas muncul bersama akan
menyebabkan penanganan endometriosis menjadi lebih sulit karena target
pengobatan yang berbeda. Pengobatan nyeri yang adekuat akan menekan
fertilitas penderita sehingga prioritas terapi menjadi bermasalah.
Dampak penyakit endometriosis tidak hanya menyebabkan masalah
di bidang kesehatan saja, tetapi juga menimbulkan beban berat di sisi sosio-
ekonomi masyarakat. Telah dihitung beban ekonomi akibat penatalaksaan
endometriosis di Eropa berkisar 0,8 juta hingga 12,5 miliar euro per tahun,
menyamai biaya akibat penyakit kronis diabetes melitus. Data studi endo-
1
Pendahuluan
1
Tujuan:
Setelah membaca materi tulisan buku ini pembaca diharapkan mengenal dan
memahami berbagai aspek penyakit endometriosis dari teori patogenesis sampai
gejala klinis, diagnosis, dan penanganan klinis.
Nyeri dan infertilitas adalah dua gejala klinis yang menjadi keluhan
utama penderita endometriosis. Kedua keluhan tersebut saling terkait dan
bila tidak ditangani dengan baik akan sangat merugikan penderita. Apabila
dihubungkan dengan gangguan organ reproduksi perempuan, sejauh
ini masih banyak yang belum terungkap pada kedua keluhan tersebut.
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang memberikan keluhan
nyeri dan infertilitas, sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi, sulit
disembuhkan dan pada gilirannya nanti dapat menyebabkan penurunan
kualitas hidup (1,2). Berdasarkan pengamatan penulis di Klinik Fertilitas
Graha Amerta bila keluhan nyeri dan infertilitas muncul bersama akan
menyebabkan penanganan endometriosis menjadi lebih sulit karena target
pengobatan yang berbeda. Pengobatan nyeri yang adekuat akan menekan
fertilitas penderita sehingga prioritas terapi menjadi bermasalah.
Dampak penyakit endometriosis tidak hanya menyebabkan masalah
di bidang kesehatan saja, tetapi juga menimbulkan beban berat di sisi sosio-
ekonomi masyarakat. Telah dihitung beban ekonomi akibat penatalaksaan
endometriosis di Eropa berkisar 0,8 juta hingga 12,5 miliar euro per tahun,
menyamai biaya akibat penyakit kronis diabetes melitus. Data studi endo-
1
Pendahuluan
1
Tujuan:
Setelah membaca materi tulisan buku ini pembaca diharapkan mengenal dan
memahami berbagai aspek penyakit endometriosis dari teori patogenesis sampai
gejala klinis, diagnosis, dan penanganan klinis.
Nyeri dan infertilitas adalah dua gejala klinis yang menjadi keluhan
utama penderita endometriosis. Kedua keluhan tersebut saling terkait dan
bila tidak ditangani dengan baik akan sangat merugikan penderita. Apabila
dihubungkan dengan gangguan organ reproduksi perempuan, sejauh
ini masih banyak yang belum terungkap pada kedua keluhan tersebut.
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang memberikan keluhan
nyeri dan infertilitas, sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi, sulit
disembuhkan dan pada gilirannya nanti dapat menyebabkan penurunan
kualitas hidup (1,2). Berdasarkan pengamatan penulis di Klinik Fertilitas
Graha Amerta bila keluhan nyeri dan infertilitas muncul bersama akan
menyebabkan penanganan endometriosis menjadi lebih sulit karena target
pengobatan yang berbeda. Pengobatan nyeri yang adekuat akan menekan
fertilitas penderita sehingga prioritas terapi menjadi bermasalah.
Dampak penyakit endometriosis tidak hanya menyebabkan masalah
di bidang kesehatan saja, tetapi juga menimbulkan beban berat di sisi sosio-
ekonomi masyarakat. Telah dihitung beban ekonomi akibat penatalaksaan
endometriosis di Eropa berkisar 0,8 juta hingga 12,5 miliar euro per tahun,
menyamai biaya akibat penyakit kronis diabetes melitus. Data studi endo-
1
Pendahuluan
1
Tujuan:
Setelah membaca materi tulisan buku ini pembaca diharapkan mengenal dan
memahami berbagai aspek penyakit endometriosis dari teori patogenesis sampai
gejala klinis, diagnosis, dan penanganan klinis.
Nyeri dan infertilitas adalah dua gejala klinis yang menjadi keluhan
utama penderita endometriosis. Kedua keluhan tersebut saling terkait dan
bila tidak ditangani dengan baik akan sangat merugikan penderita. Apabila
dihubungkan dengan gangguan organ reproduksi perempuan, sejauh
ini masih banyak yang belum terungkap pada kedua keluhan tersebut.
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang memberikan keluhan
nyeri dan infertilitas, sering dijumpai pada perempuan usia reproduksi, sulit
disembuhkan dan pada gilirannya nanti dapat menyebabkan penurunan
kualitas hidup (1,2). Berdasarkan pengamatan penulis di Klinik Fertilitas
Graha Amerta bila keluhan nyeri dan infertilitas muncul bersama akan
menyebabkan penanganan endometriosis menjadi lebih sulit karena target
pengobatan yang berbeda. Pengobatan nyeri yang adekuat akan menekan
fertilitas penderita sehingga prioritas terapi menjadi bermasalah.
Dampak penyakit endometriosis tidak hanya menyebabkan masalah
di bidang kesehatan saja, tetapi juga menimbulkan beban berat di sisi sosio-
ekonomi masyarakat. Telah dihitung beban ekonomi akibat penatalaksaan
endometriosis di Eropa berkisar 0,8 juta hingga 12,5 miliar euro per tahun,
menyamai biaya akibat penyakit kronis diabetes melitus. Data studi endo-
ENDOMETRIOSIS2
cost menyebutkan biaya akibat endometriosis setiap penderita per tahun
adalah 9,579 euro dengan perincian rerata 6,298 euro untuk produktivitas
kerja yang hilang dan 3,113 euro untuk biaya perawatan langsung, berarti
biaya produktivitas kerja yang hilang akibat keluhan endometriosis dua kali
biaya perawatan (3).
Dampak ekonomi yang berat tersebut diduga salah satu disebabkan
karena penatalaksanaan yang belum efektif efisien, yaitu lebih pada
pengobatan mengatasi gejala klinis tanpa terapi khusus pada penyebab
endometriosis. Keadaan merugikan di atas disebabkan patogenesis
endometriosis belum jelas terungkap, banyak terori telah disampaikan
tetapi belum ada satupun penyebab pasti disepakati. Penegakan diagnosis
endometriosis menjadi sulit, perlu waktu lama dan dibutuhkan konfirmasi
dengan cara diagnosis lain. Kepastian diagnosis melalui beberapa tahap, mulai
cara sederhana dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sampai dengan
penggunaan metode canggih dengan biaya tinggi, berupa pemeriksaan
laboratorium bio marker, teknik pencitraan dan akhirnya tindakan bedah
laparoskopi dengan atau tanpa disertai biopsi konfirmasi histopatologi. Saat
melakukan diagnosis dengan laparoskopi harus ditentukan tingkat keparahan
atau gradasi endometriosis memakai sistem kualifikasi American Society
for Reproductive Medicine (ASRM) yang ternyata hasilnya tidak konsisten.
Gradasi endometriosis berat tetapi ternyata tidak sesuai dengan gejala klinis,
yaitu hanya keluhan nyeri ringan. Keadaan tersebut membuat pengobatan
tidak efisien, keluhan nyeri mungkin bisa diatasi tetapi penyakit endometriosis
tetap tidak sembuh dan timbul kekambuhan.
Pada perjalanannya penyakit endometriosis banyak memberikan
masalah dan kerugian tidak hanya bagi penderita, namun juga bagi dokter
atau tenaga medis yang menangani. Telah banyak ahli menulis buku tentang
endometriosis berdasarkan teori dan pengalaman, namun masih banyak
petugas kesehatan kebingungan mengaplikasikan. Berbagai penelitian
dasar dan terapan dibidang endometriosis dilakukan sekaligus dipublikasi
namun seakan menambah daftar panjang masalah yang muncul sehingga
diangkat sebagai masalah pada buku ini yaitu sampai sejauh ini
keterkaitan patogenesis yang belum terungkap dengan gejala klinis
dan penanganan endometriosis yang belum optimal menimbulkan
kontroversi.
Oleh karena itu, pada buku ini dibahas tentang berbagai aspek
endometriosis baik dari segi keterkaitan teori patogenesis sampai klinis
praktis, diagnosis dan panduan penatalaksanaan endometriosis, dengan
ENDOMETRIOSIS2
cost menyebutkan biaya akibat endometriosis setiap penderita per tahun
adalah 9,579 euro dengan perincian rerata 6,298 euro untuk produktivitas
kerja yang hilang dan 3,113 euro untuk biaya perawatan langsung, berarti
biaya produktivitas kerja yang hilang akibat keluhan endometriosis dua kali
biaya perawatan (3).
Dampak ekonomi yang berat tersebut diduga salah satu disebabkan
karena penatalaksanaan yang belum efektif efisien, yaitu lebih pada
pengobatan mengatasi gejala klinis tanpa terapi khusus pada penyebab
endometriosis. Keadaan merugikan di atas disebabkan patogenesis
endometriosis belum jelas terungkap, banyak terori telah disampaikan
tetapi belum ada satupun penyebab pasti disepakati. Penegakan diagnosis
endometriosis menjadi sulit, perlu waktu lama dan dibutuhkan konfirmasi
dengan cara diagnosis lain. Kepastian diagnosis melalui beberapa tahap, mulai
cara sederhana dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sampai dengan
penggunaan metode canggih dengan biaya tinggi, berupa pemeriksaan
laboratorium bio marker, teknik pencitraan dan akhirnya tindakan bedah
laparoskopi dengan atau tanpa disertai biopsi konfirmasi histopatologi. Saat
melakukan diagnosis dengan laparoskopi harus ditentukan tingkat keparahan
atau gradasi endometriosis memakai sistem kualifikasi American Society
for Reproductive Medicine (ASRM) yang ternyata hasilnya tidak konsisten.
Gradasi endometriosis berat tetapi ternyata tidak sesuai dengan gejala klinis,
yaitu hanya keluhan nyeri ringan. Keadaan tersebut membuat pengobatan
tidak efisien, keluhan nyeri mungkin bisa diatasi tetapi penyakit endometriosis
tetap tidak sembuh dan timbul kekambuhan.
Pada perjalanannya penyakit endometriosis banyak memberikan
masalah dan kerugian tidak hanya bagi penderita, namun juga bagi dokter
atau tenaga medis yang menangani. Telah banyak ahli menulis buku tentang
endometriosis berdasarkan teori dan pengalaman, namun masih banyak
petugas kesehatan kebingungan mengaplikasikan. Berbagai penelitian
dasar dan terapan dibidang endometriosis dilakukan sekaligus dipublikasi
namun seakan menambah daftar panjang masalah yang muncul sehingga
diangkat sebagai masalah pada buku ini yaitu sampai sejauh ini
keterkaitan patogenesis yang belum terungkap dengan gejala klinis
dan penanganan endometriosis yang belum optimal menimbulkan
kontroversi.
Oleh karena itu, pada buku ini dibahas tentang berbagai aspek
endometriosis baik dari segi keterkaitan teori patogenesis sampai klinis
praktis, diagnosis dan panduan penatalaksanaan endometriosis, dengan
ENDOMETRIOSIS2
cost menyebutkan biaya akibat endometriosis setiap penderita per tahun
adalah 9,579 euro dengan perincian rerata 6,298 euro untuk produktivitas
kerja yang hilang dan 3,113 euro untuk biaya perawatan langsung, berarti
biaya produktivitas kerja yang hilang akibat keluhan endometriosis dua kali
biaya perawatan (3).
Dampak ekonomi yang berat tersebut diduga salah satu disebabkan
karena penatalaksanaan yang belum efektif efisien, yaitu lebih pada
pengobatan mengatasi gejala klinis tanpa terapi khusus pada penyebab
endometriosis. Keadaan merugikan di atas disebabkan patogenesis
endometriosis belum jelas terungkap, banyak terori telah disampaikan
tetapi belum ada satupun penyebab pasti disepakati. Penegakan diagnosis
endometriosis menjadi sulit, perlu waktu lama dan dibutuhkan konfirmasi
dengan cara diagnosis lain. Kepastian diagnosis melalui beberapa tahap, mulai
cara sederhana dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sampai dengan
penggunaan metode canggih dengan biaya tinggi, berupa pemeriksaan
laboratorium bio marker, teknik pencitraan dan akhirnya tindakan bedah
laparoskopi dengan atau tanpa disertai biopsi konfirmasi histopatologi. Saat
melakukan diagnosis dengan laparoskopi harus ditentukan tingkat keparahan
atau gradasi endometriosis memakai sistem kualifikasi American Society
for Reproductive Medicine (ASRM) yang ternyata hasilnya tidak konsisten.
Gradasi endometriosis berat tetapi ternyata tidak sesuai dengan gejala klinis,
yaitu hanya keluhan nyeri ringan. Keadaan tersebut membuat pengobatan
tidak efisien, keluhan nyeri mungkin bisa diatasi tetapi penyakit endometriosis
tetap tidak sembuh dan timbul kekambuhan.
Pada perjalanannya penyakit endometriosis banyak memberikan
masalah dan kerugian tidak hanya bagi penderita, namun juga bagi dokter
atau tenaga medis yang menangani. Telah banyak ahli menulis buku tentang
endometriosis berdasarkan teori dan pengalaman, namun masih banyak
petugas kesehatan kebingungan mengaplikasikan. Berbagai penelitian
dasar dan terapan dibidang endometriosis dilakukan sekaligus dipublikasi
namun seakan menambah daftar panjang masalah yang muncul sehingga
diangkat sebagai masalah pada buku ini yaitu sampai sejauh ini
keterkaitan patogenesis yang belum terungkap dengan gejala klinis
dan penanganan endometriosis yang belum optimal menimbulkan
kontroversi.
Oleh karena itu, pada buku ini dibahas tentang berbagai aspek
endometriosis baik dari segi keterkaitan teori patogenesis sampai klinis
praktis, diagnosis dan panduan penatalaksanaan endometriosis, dengan
ENDOMETRIOSIS2
cost menyebutkan biaya akibat endometriosis setiap penderita per tahun
adalah 9,579 euro dengan perincian rerata 6,298 euro untuk produktivitas
kerja yang hilang dan 3,113 euro untuk biaya perawatan langsung, berarti
biaya produktivitas kerja yang hilang akibat keluhan endometriosis dua kali
biaya perawatan (3).
Dampak ekonomi yang berat tersebut diduga salah satu disebabkan
karena penatalaksanaan yang belum efektif efisien, yaitu lebih pada
pengobatan mengatasi gejala klinis tanpa terapi khusus pada penyebab
endometriosis. Keadaan merugikan di atas disebabkan patogenesis
endometriosis belum jelas terungkap, banyak terori telah disampaikan
tetapi belum ada satupun penyebab pasti disepakati. Penegakan diagnosis
endometriosis menjadi sulit, perlu waktu lama dan dibutuhkan konfirmasi
dengan cara diagnosis lain. Kepastian diagnosis melalui beberapa tahap, mulai
cara sederhana dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sampai dengan
penggunaan metode canggih dengan biaya tinggi, berupa pemeriksaan
laboratorium bio marker, teknik pencitraan dan akhirnya tindakan bedah
laparoskopi dengan atau tanpa disertai biopsi konfirmasi histopatologi. Saat
melakukan diagnosis dengan laparoskopi harus ditentukan tingkat keparahan
atau gradasi endometriosis memakai sistem kualifikasi American Society
for Reproductive Medicine (ASRM) yang ternyata hasilnya tidak konsisten.
Gradasi endometriosis berat tetapi ternyata tidak sesuai dengan gejala klinis,
yaitu hanya keluhan nyeri ringan. Keadaan tersebut membuat pengobatan
tidak efisien, keluhan nyeri mungkin bisa diatasi tetapi penyakit endometriosis
tetap tidak sembuh dan timbul kekambuhan.
Pada perjalanannya penyakit endometriosis banyak memberikan
masalah dan kerugian tidak hanya bagi penderita, namun juga bagi dokter
atau tenaga medis yang menangani. Telah banyak ahli menulis buku tentang
endometriosis berdasarkan teori dan pengalaman, namun masih banyak
petugas kesehatan kebingungan mengaplikasikan. Berbagai penelitian
dasar dan terapan dibidang endometriosis dilakukan sekaligus dipublikasi
namun seakan menambah daftar panjang masalah yang muncul sehingga
diangkat sebagai masalah pada buku ini yaitu sampai sejauh ini
keterkaitan patogenesis yang belum terungkap dengan gejala klinis
dan penanganan endometriosis yang belum optimal menimbulkan
kontroversi.
Oleh karena itu, pada buku ini dibahas tentang berbagai aspek
endometriosis baik dari segi keterkaitan teori patogenesis sampai klinis
praktis, diagnosis dan panduan penatalaksanaan endometriosis, dengan
3Bab 1 Pendahuluan
harapan para pembaca mampu memahami dan mengatasi masalah dan
meminimalkan kontroversi endometriosis.
Materi bahasan pada buku ini tidak mencakup adenomiosis, suatu
penyakit yang mirip dengan endometriosis, ditandai dengan adanya infiltrasi
jaringan endometrium ke miometrium.
3Bab 1 Pendahuluan
harapan para pembaca mampu memahami dan mengatasi masalah dan
meminimalkan kontroversi endometriosis.
Materi bahasan pada buku ini tidak mencakup adenomiosis, suatu
penyakit yang mirip dengan endometriosis, ditandai dengan adanya infiltrasi
jaringan endometrium ke miometrium.
3Bab 1 Pendahuluan
harapan para pembaca mampu memahami dan mengatasi masalah dan
meminimalkan kontroversi endometriosis.
Materi bahasan pada buku ini tidak mencakup adenomiosis, suatu
penyakit yang mirip dengan endometriosis, ditandai dengan adanya infiltrasi
jaringan endometrium ke miometrium.
3Bab 1 Pendahuluan
harapan para pembaca mampu memahami dan mengatasi masalah dan
meminimalkan kontroversi endometriosis.
Materi bahasan pada buku ini tidak mencakup adenomiosis, suatu
penyakit yang mirip dengan endometriosis, ditandai dengan adanya infiltrasi
jaringan endometrium ke miometrium.
5
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 2 pembaca diharapkan memahami dan dapat
mengungkapkan batasan dan mampu memberi makna serta penjelasan tentang
endometriosis.
Secara klasik pada awal definisi endometriosis adalah terdapat jaringan
endometrium, baik kelenjar maupun stroma, di luar uterus. Pada dekade
berikutnya endometriosis digambarkan sebagai penyakit yang menyebabkan
nyeri dan membutuhkan tindakan operasi. Introduksi alat endoskopi pada
tahun 1960 membawa perubahan gambaran endometriosis dan kemudian
dikenal lesi endometriosis black-puckered yang banyak didapatkan pada
perempuan dengan keluhan nyeri dan/infertilitas. Di tahun 1980 istilah non-
pigmented atau subtle endometriosis diperkenalkan, yaitu lesi endometriosis
kecil, superfisial, tanpa warna hitam hemosiderin, tidak dikelilingi sklerosis
tetapi aktif, misal white vesicle, flame like lesion dan selanjutnya dikenal
istilah endometriosis mikroskopis. Tahun 1990 perhatian mulai tertuju pada
Deep Infiltrating Endometriosis yaitu lesi endometriosis yang infiltrasi masuk
dalam di bawah peritoneum dan tidak selalu ditemukan dengan laparoskopi.
Perubahan macam gambaran lesi dan definisi endometriosis tersebut di atas
berkontribusi terjadi bias literatur (4,5). Definisi akhir yang saat ini disepakati
adalah definisi menurut European Society for Human Reproduction and
Embriology (ESHRE), yaitu terdapat jaringan mirip endometrium berada di
luar kavum uteri yang menginduksi reaksi inflamasi kronis (1,3).
Definisi dan Pengertian
2
5
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 2 pembaca diharapkan memahami dan dapat
mengungkapkan batasan dan mampu memberi makna serta penjelasan tentang
endometriosis.
Secara klasik pada awal definisi endometriosis adalah terdapat jaringan
endometrium, baik kelenjar maupun stroma, di luar uterus. Pada dekade
berikutnya endometriosis digambarkan sebagai penyakit yang menyebabkan
nyeri dan membutuhkan tindakan operasi. Introduksi alat endoskopi pada
tahun 1960 membawa perubahan gambaran endometriosis dan kemudian
dikenal lesi endometriosis black-puckered yang banyak didapatkan pada
perempuan dengan keluhan nyeri dan/infertilitas. Di tahun 1980 istilah non-
pigmented atau subtle endometriosis diperkenalkan, yaitu lesi endometriosis
kecil, superfisial, tanpa warna hitam hemosiderin, tidak dikelilingi sklerosis
tetapi aktif, misal white vesicle, flame like lesion dan selanjutnya dikenal
istilah endometriosis mikroskopis. Tahun 1990 perhatian mulai tertuju pada
Deep Infiltrating Endometriosis yaitu lesi endometriosis yang infiltrasi masuk
dalam di bawah peritoneum dan tidak selalu ditemukan dengan laparoskopi.
Perubahan macam gambaran lesi dan definisi endometriosis tersebut di atas
berkontribusi terjadi bias literatur (4,5). Definisi akhir yang saat ini disepakati
adalah definisi menurut European Society for Human Reproduction and
Embriology (ESHRE), yaitu terdapat jaringan mirip endometrium berada di
luar kavum uteri yang menginduksi reaksi inflamasi kronis (1,3).
Definisi dan Pengertian
2
5
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 2 pembaca diharapkan memahami dan dapat
mengungkapkan batasan dan mampu memberi makna serta penjelasan tentang
endometriosis.
Secara klasik pada awal definisi endometriosis adalah terdapat jaringan
endometrium, baik kelenjar maupun stroma, di luar uterus. Pada dekade
berikutnya endometriosis digambarkan sebagai penyakit yang menyebabkan
nyeri dan membutuhkan tindakan operasi. Introduksi alat endoskopi pada
tahun 1960 membawa perubahan gambaran endometriosis dan kemudian
dikenal lesi endometriosis black-puckered yang banyak didapatkan pada
perempuan dengan keluhan nyeri dan/infertilitas. Di tahun 1980 istilah non-
pigmented atau subtle endometriosis diperkenalkan, yaitu lesi endometriosis
kecil, superfisial, tanpa warna hitam hemosiderin, tidak dikelilingi sklerosis
tetapi aktif, misal white vesicle, flame like lesion dan selanjutnya dikenal
istilah endometriosis mikroskopis. Tahun 1990 perhatian mulai tertuju pada
Deep Infiltrating Endometriosis yaitu lesi endometriosis yang infiltrasi masuk
dalam di bawah peritoneum dan tidak selalu ditemukan dengan laparoskopi.
Perubahan macam gambaran lesi dan definisi endometriosis tersebut di atas
berkontribusi terjadi bias literatur (4,5). Definisi akhir yang saat ini disepakati
adalah definisi menurut European Society for Human Reproduction and
Embriology (ESHRE), yaitu terdapat jaringan mirip endometrium berada di
luar kavum uteri yang menginduksi reaksi inflamasi kronis (1,3).
Definisi dan Pengertian
2
5
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 2 pembaca diharapkan memahami dan dapat
mengungkapkan batasan dan mampu memberi makna serta penjelasan tentang
endometriosis.
Secara klasik pada awal definisi endometriosis adalah terdapat jaringan
endometrium, baik kelenjar maupun stroma, di luar uterus. Pada dekade
berikutnya endometriosis digambarkan sebagai penyakit yang menyebabkan
nyeri dan membutuhkan tindakan operasi. Introduksi alat endoskopi pada
tahun 1960 membawa perubahan gambaran endometriosis dan kemudian
dikenal lesi endometriosis black-puckered yang banyak didapatkan pada
perempuan dengan keluhan nyeri dan/infertilitas. Di tahun 1980 istilah non-
pigmented atau subtle endometriosis diperkenalkan, yaitu lesi endometriosis
kecil, superfisial, tanpa warna hitam hemosiderin, tidak dikelilingi sklerosis
tetapi aktif, misal white vesicle, flame like lesion dan selanjutnya dikenal
istilah endometriosis mikroskopis. Tahun 1990 perhatian mulai tertuju pada
Deep Infiltrating Endometriosis yaitu lesi endometriosis yang infiltrasi masuk
dalam di bawah peritoneum dan tidak selalu ditemukan dengan laparoskopi.
Perubahan macam gambaran lesi dan definisi endometriosis tersebut di atas
berkontribusi terjadi bias literatur (4,5). Definisi akhir yang saat ini disepakati
adalah definisi menurut European Society for Human Reproduction and
Embriology (ESHRE), yaitu terdapat jaringan mirip endometrium berada di
luar kavum uteri yang menginduksi reaksi inflamasi kronis (1,3).
Definisi dan Pengertian
2
ENDOMETRIOSIS6
Pada definisi disebutkan bahwa didapatkan jaringan endometrium
berlokasi ektopik, di luar kavum uteri, lesi endometriosis tersebut dapat
ditemukan di beberapa tempat, yaitu peritoneum panggul, ovarium, dinding
uterus, kavum douglasi, septum rektovagina, ureter, vesica urinaria, bahkan
ditemukan lokasi jauh walaupun jarang didapat misalnya usus, apendik,
perikardium, pleura, dan sebagainya. Endometriosis disebut sebagai estrogen
dependent disease karena tumbuh dan perkembangan jaringan endometrium
ektopik tersebut membutuhkan stimulasi hormon estrogen (3).
Disebutkan pula terjadi reaksi inflamasi pada penderita endometriosis
yaitu, terbukti banyak ditemukan makrofag aktif dan peningkatan jumlah
sitokin proinflamasi di zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis. Beberapa sitokin,
molekul adesi dan faktor solubel yang meningkat, yaitu: Interleukin (IL)-1 β,
IL-6, IL-8, TNF-α, ICAM-1, dan RANTES serta didapatkan penumpukan Iron
di rongga panggul yang semua tersebut menjadi lingkungan mikro yang ideal
untuk pertumbuhan endometriosis (5,6,7). Penelitian penulis dan kawan-
kawan di Klinik Fertilitas Graha Amarta dengan menggunakan tindakan
laparoskopi menunjukkan bahwa bertambah berat stadium endometriosis
bertambah tinggi reaksi inflamasi, ditandai dengan konsentrasi TNF- ∝ di
zalir peritoneum penderita endometriosis stadium berat lebih tinggi dari
pada stadium ringan dan kontrol bukan endometriosis. Peningkatan TNF-∝
akan memicu peningkatan proses aromatisasi estrogen di lesi endometriosis
sehingga penyakit endometrosis semakin berkembang (8,9).
ENDOMETRIOSIS6
Pada definisi disebutkan bahwa didapatkan jaringan endometrium
berlokasi ektopik, di luar kavum uteri, lesi endometriosis tersebut dapat
ditemukan di beberapa tempat, yaitu peritoneum panggul, ovarium, dinding
uterus, kavum douglasi, septum rektovagina, ureter, vesica urinaria, bahkan
ditemukan lokasi jauh walaupun jarang didapat misalnya usus, apendik,
perikardium, pleura, dan sebagainya. Endometriosis disebut sebagai estrogen
dependent disease karena tumbuh dan perkembangan jaringan endometrium
ektopik tersebut membutuhkan stimulasi hormon estrogen (3).
Disebutkan pula terjadi reaksi inflamasi pada penderita endometriosis
yaitu, terbukti banyak ditemukan makrofag aktif dan peningkatan jumlah
sitokin proinflamasi di zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis. Beberapa sitokin,
molekul adesi dan faktor solubel yang meningkat, yaitu: Interleukin (IL)-1 β,
IL-6, IL-8, TNF-α, ICAM-1, dan RANTES serta didapatkan penumpukan Iron
di rongga panggul yang semua tersebut menjadi lingkungan mikro yang ideal
untuk pertumbuhan endometriosis (5,6,7). Penelitian penulis dan kawan-
kawan di Klinik Fertilitas Graha Amarta dengan menggunakan tindakan
laparoskopi menunjukkan bahwa bertambah berat stadium endometriosis
bertambah tinggi reaksi inflamasi, ditandai dengan konsentrasi TNF- ∝ di
zalir peritoneum penderita endometriosis stadium berat lebih tinggi dari
pada stadium ringan dan kontrol bukan endometriosis. Peningkatan TNF-∝
akan memicu peningkatan proses aromatisasi estrogen di lesi endometriosis
sehingga penyakit endometrosis semakin berkembang (8,9).
ENDOMETRIOSIS6
Pada definisi disebutkan bahwa didapatkan jaringan endometrium
berlokasi ektopik, di luar kavum uteri, lesi endometriosis tersebut dapat
ditemukan di beberapa tempat, yaitu peritoneum panggul, ovarium, dinding
uterus, kavum douglasi, septum rektovagina, ureter, vesica urinaria, bahkan
ditemukan lokasi jauh walaupun jarang didapat misalnya usus, apendik,
perikardium, pleura, dan sebagainya. Endometriosis disebut sebagai estrogen
dependent disease karena tumbuh dan perkembangan jaringan endometrium
ektopik tersebut membutuhkan stimulasi hormon estrogen (3).
Disebutkan pula terjadi reaksi inflamasi pada penderita endometriosis
yaitu, terbukti banyak ditemukan makrofag aktif dan peningkatan jumlah
sitokin proinflamasi di zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis. Beberapa sitokin,
molekul adesi dan faktor solubel yang meningkat, yaitu: Interleukin (IL)-1 β,
IL-6, IL-8, TNF-α, ICAM-1, dan RANTES serta didapatkan penumpukan Iron
di rongga panggul yang semua tersebut menjadi lingkungan mikro yang ideal
untuk pertumbuhan endometriosis (5,6,7). Penelitian penulis dan kawan-
kawan di Klinik Fertilitas Graha Amarta dengan menggunakan tindakan
laparoskopi menunjukkan bahwa bertambah berat stadium endometriosis
bertambah tinggi reaksi inflamasi, ditandai dengan konsentrasi TNF- ∝ di
zalir peritoneum penderita endometriosis stadium berat lebih tinggi dari
pada stadium ringan dan kontrol bukan endometriosis. Peningkatan TNF-∝
akan memicu peningkatan proses aromatisasi estrogen di lesi endometriosis
sehingga penyakit endometrosis semakin berkembang (8,9).
ENDOMETRIOSIS6
Pada definisi disebutkan bahwa didapatkan jaringan endometrium
berlokasi ektopik, di luar kavum uteri, lesi endometriosis tersebut dapat
ditemukan di beberapa tempat, yaitu peritoneum panggul, ovarium, dinding
uterus, kavum douglasi, septum rektovagina, ureter, vesica urinaria, bahkan
ditemukan lokasi jauh walaupun jarang didapat misalnya usus, apendik,
perikardium, pleura, dan sebagainya. Endometriosis disebut sebagai estrogen
dependent disease karena tumbuh dan perkembangan jaringan endometrium
ektopik tersebut membutuhkan stimulasi hormon estrogen (3).
Disebutkan pula terjadi reaksi inflamasi pada penderita endometriosis
yaitu, terbukti banyak ditemukan makrofag aktif dan peningkatan jumlah
sitokin proinflamasi di zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis. Beberapa sitokin,
molekul adesi dan faktor solubel yang meningkat, yaitu: Interleukin (IL)-1 β,
IL-6, IL-8, TNF-α, ICAM-1, dan RANTES serta didapatkan penumpukan Iron
di rongga panggul yang semua tersebut menjadi lingkungan mikro yang ideal
untuk pertumbuhan endometriosis (5,6,7). Penelitian penulis dan kawan-
kawan di Klinik Fertilitas Graha Amarta dengan menggunakan tindakan
laparoskopi menunjukkan bahwa bertambah berat stadium endometriosis
bertambah tinggi reaksi inflamasi, ditandai dengan konsentrasi TNF- ∝ di
zalir peritoneum penderita endometriosis stadium berat lebih tinggi dari
pada stadium ringan dan kontrol bukan endometriosis. Peningkatan TNF-∝
akan memicu peningkatan proses aromatisasi estrogen di lesi endometriosis
sehingga penyakit endometrosis semakin berkembang (8,9).
7
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 3 pembaca diharapkan memahami seberapa sering
penyakit endometriosis terjadi pada sekelompok orang serta berbagai aspek
penyebaran di masyarakat.
Secara pasti angka kejadian endometriosis sulit diketahui, namun
d i d u g a b e r k i s a r a n t a r a 2−10% pada populasi perempuan umum (3).
Penentuan secara kuantitas kejadian endometriosis sulit, hal ini disebabkan
beberapa faktor, yaitu didapatkan endometriosis yang asimtomatis, modalitas
pencitraan (imaging) mempunyai sensitivitas rendah dan diagnostik pasti
dilakukan memakai tindakan pembedahan laparoskopi (4). Telah dilaporkan
angka kejadian endometriosis per tahun berdasarkan penggunaan tindakan
pembedahan, yaitu 1,6 kasus per 1000 perempuan usia 15 −49 tahun.
Kejadian endometriosis pada perempuan dengan keluhan dismenorea (nyeri
haid) adalah 40−80%, sedangkan pada perempuan dengan infertilitas sekitar
20−50% (4). Data di Klinik Fertilitas Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo
Surabaya tahun 1987 sampai 1991 melalui tindakan laparoskopi diagnostik
didapatkan data bahwa infertilitas disertai endometriosis berkisar 23,8% dan
pada tahun 1992 sampai 1993 meningkat menjadi 37,2%, terakhir pada
tahun 2002 berkisar 50% (6). Speroff menyebutkan prevalensi endometriosis
tanpa gejala diperkirakan sebesar 4% didapat pada perempuan yang
menjalani sterilisasi elektif, sedangkan data yang lain menyatakan berkisar
2−50% terjadi pada perempuan asimtomatis didapatkan saat pemeriksaan
laparoskopi, tergantung pada kriteria diagnosis yang dipakai dan populasi
Prevalensi Endometriosis
3
7
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 3 pembaca diharapkan memahami seberapa sering
penyakit endometriosis terjadi pada sekelompok orang serta berbagai aspek
penyebaran di masyarakat.
Secara pasti angka kejadian endometriosis sulit diketahui, namun
d i d u g a b e r k i s a r a n t a r a 2−10% pada populasi perempuan umum (3).
Penentuan secara kuantitas kejadian endometriosis sulit, hal ini disebabkan
beberapa faktor, yaitu didapatkan endometriosis yang asimtomatis, modalitas
pencitraan (imaging) mempunyai sensitivitas rendah dan diagnostik pasti
dilakukan memakai tindakan pembedahan laparoskopi (4). Telah dilaporkan
angka kejadian endometriosis per tahun berdasarkan penggunaan tindakan
pembedahan, yaitu 1,6 kasus per 1000 perempuan usia 15 −49 tahun.
Kejadian endometriosis pada perempuan dengan keluhan dismenorea (nyeri
haid) adalah 40−80%, sedangkan pada perempuan dengan infertilitas sekitar
20−50% (4). Data di Klinik Fertilitas Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo
Surabaya tahun 1987 sampai 1991 melalui tindakan laparoskopi diagnostik
didapatkan data bahwa infertilitas disertai endometriosis berkisar 23,8% dan
pada tahun 1992 sampai 1993 meningkat menjadi 37,2%, terakhir pada
tahun 2002 berkisar 50% (6). Speroff menyebutkan prevalensi endometriosis
tanpa gejala diperkirakan sebesar 4% didapat pada perempuan yang
menjalani sterilisasi elektif, sedangkan data yang lain menyatakan berkisar
2−50% terjadi pada perempuan asimtomatis didapatkan saat pemeriksaan
laparoskopi, tergantung pada kriteria diagnosis yang dipakai dan populasi
Prevalensi Endometriosis
3
7
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 3 pembaca diharapkan memahami seberapa sering
penyakit endometriosis terjadi pada sekelompok orang serta berbagai aspek
penyebaran di masyarakat.
Secara pasti angka kejadian endometriosis sulit diketahui, namun
d i d u g a b e r k i s a r a n t a r a 2−10% pada populasi perempuan umum (3).
Penentuan secara kuantitas kejadian endometriosis sulit, hal ini disebabkan
beberapa faktor, yaitu didapatkan endometriosis yang asimtomatis, modalitas
pencitraan (imaging) mempunyai sensitivitas rendah dan diagnostik pasti
dilakukan memakai tindakan pembedahan laparoskopi (4). Telah dilaporkan
angka kejadian endometriosis per tahun berdasarkan penggunaan tindakan
pembedahan, yaitu 1,6 kasus per 1000 perempuan usia 15 −49 tahun.
Kejadian endometriosis pada perempuan dengan keluhan dismenorea (nyeri
haid) adalah 40−80%, sedangkan pada perempuan dengan infertilitas sekitar
20−50% (4). Data di Klinik Fertilitas Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo
Surabaya tahun 1987 sampai 1991 melalui tindakan laparoskopi diagnostik
didapatkan data bahwa infertilitas disertai endometriosis berkisar 23,8% dan
pada tahun 1992 sampai 1993 meningkat menjadi 37,2%, terakhir pada
tahun 2002 berkisar 50% (6). Speroff menyebutkan prevalensi endometriosis
tanpa gejala diperkirakan sebesar 4% didapat pada perempuan yang
menjalani sterilisasi elektif, sedangkan data yang lain menyatakan berkisar
2−50% terjadi pada perempuan asimtomatis didapatkan saat pemeriksaan
laparoskopi, tergantung pada kriteria diagnosis yang dipakai dan populasi
Prevalensi Endometriosis
3
7
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 3 pembaca diharapkan memahami seberapa sering
penyakit endometriosis terjadi pada sekelompok orang serta berbagai aspek
penyebaran di masyarakat.
Secara pasti angka kejadian endometriosis sulit diketahui, namun
d i d u g a b e r k i s a r a n t a r a 2−10% pada populasi perempuan umum (3).
Penentuan secara kuantitas kejadian endometriosis sulit, hal ini disebabkan
beberapa faktor, yaitu didapatkan endometriosis yang asimtomatis, modalitas
pencitraan (imaging) mempunyai sensitivitas rendah dan diagnostik pasti
dilakukan memakai tindakan pembedahan laparoskopi (4). Telah dilaporkan
angka kejadian endometriosis per tahun berdasarkan penggunaan tindakan
pembedahan, yaitu 1,6 kasus per 1000 perempuan usia 15 −49 tahun.
Kejadian endometriosis pada perempuan dengan keluhan dismenorea (nyeri
haid) adalah 40−80%, sedangkan pada perempuan dengan infertilitas sekitar
20−50% (4). Data di Klinik Fertilitas Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo
Surabaya tahun 1987 sampai 1991 melalui tindakan laparoskopi diagnostik
didapatkan data bahwa infertilitas disertai endometriosis berkisar 23,8% dan
pada tahun 1992 sampai 1993 meningkat menjadi 37,2%, terakhir pada
tahun 2002 berkisar 50% (6). Speroff menyebutkan prevalensi endometriosis
tanpa gejala diperkirakan sebesar 4% didapat pada perempuan yang
menjalani sterilisasi elektif, sedangkan data yang lain menyatakan berkisar
2−50% terjadi pada perempuan asimtomatis didapatkan saat pemeriksaan
laparoskopi, tergantung pada kriteria diagnosis yang dipakai dan populasi
Prevalensi Endometriosis
3
ENDOMETRIOSIS8
yang dipelajari. Pada remaja ditemukan berkisar 25−47% dengan keluhan
nyeri panggul (4,7).
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok perempuan yang telah
dipublikasi.
ENDOMETRIOSIS8
yang dipelajari. Pada remaja ditemukan berkisar 25−47% dengan keluhan
nyeri panggul (4,7).
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok perempuan yang telah
dipublikasi.
ENDOMETRIOSIS8
yang dipelajari. Pada remaja ditemukan berkisar 25−47% dengan keluhan
nyeri panggul (4,7).
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok perempuan yang telah
dipublikasi.
ENDOMETRIOSIS8
yang dipelajari. Pada remaja ditemukan berkisar 25−47% dengan keluhan
nyeri panggul (4,7).
Gambar 3.1 Prevalensi endometriosis pada beberapa kelompok perempuan yang telah
dipublikasi.
9
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 4 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
berbagai aspek mekanisme patologi endometriosis serta beberapa teori yang
dikembangkan untuk memahami bagaimana endometriosis terjadi.
Gambaran tentang penyakit endometriosis telah diketahui sejak lama,
yaitu tahun 1690 oleh sarjana Jerman bernama Daniel Shroen. Sejak saat itu
sampai sekarang telah didapatkan banyak teori yang menerangkan, namun
sebegitu jauh penyebab pasti endometriosis masih belum diketahui (4). Di
bawah ini akan dijelaskan berbagai faktor yang menerangkan patogenesis
endometriosis di antaranya berupa faktor predisposisi pada perkembangan
endometriosis, interkoneksi antara mekanisme patologi saat inisiasi dan
propagasi lesi endometriosis di tempat yang berbeda.
TEORI ALIRAN BALIK DARAH HAID (RETROGRADE
MENSTRUATION)
Dari berbagai teori yang ada teori aliran balik darah haid termasuk
teori paling tua menerangkan etiologi endometriosis. Pada teori tersebut
digambarkan bahwa terdapat aliran balik darah haid yang berisi jaringan
endometrium melalui saluran tuba falopii kemudian tumpah keluar dan
melakukan implantasi di rongga peritoneum. Teori yang dikembangkan
oleh Sampson pada tahun 1927 ini telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan
laparoskopi yang memang terbukti bahwa terdapat aliran balik darah haid
Patogenesis
4
9
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 4 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
berbagai aspek mekanisme patologi endometriosis serta beberapa teori yang
dikembangkan untuk memahami bagaimana endometriosis terjadi.
Gambaran tentang penyakit endometriosis telah diketahui sejak lama,
yaitu tahun 1690 oleh sarjana Jerman bernama Daniel Shroen. Sejak saat itu
sampai sekarang telah didapatkan banyak teori yang menerangkan, namun
sebegitu jauh penyebab pasti endometriosis masih belum diketahui (4). Di
bawah ini akan dijelaskan berbagai faktor yang menerangkan patogenesis
endometriosis di antaranya berupa faktor predisposisi pada perkembangan
endometriosis, interkoneksi antara mekanisme patologi saat inisiasi dan
propagasi lesi endometriosis di tempat yang berbeda.
TEORI ALIRAN BALIK DARAH HAID (RETROGRADE
MENSTRUATION)
Dari berbagai teori yang ada teori aliran balik darah haid termasuk
teori paling tua menerangkan etiologi endometriosis. Pada teori tersebut
digambarkan bahwa terdapat aliran balik darah haid yang berisi jaringan
endometrium melalui saluran tuba falopii kemudian tumpah keluar dan
melakukan implantasi di rongga peritoneum. Teori yang dikembangkan
oleh Sampson pada tahun 1927 ini telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan
laparoskopi yang memang terbukti bahwa terdapat aliran balik darah haid
Patogenesis
4
9
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 4 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
berbagai aspek mekanisme patologi endometriosis serta beberapa teori yang
dikembangkan untuk memahami bagaimana endometriosis terjadi.
Gambaran tentang penyakit endometriosis telah diketahui sejak lama,
yaitu tahun 1690 oleh sarjana Jerman bernama Daniel Shroen. Sejak saat itu
sampai sekarang telah didapatkan banyak teori yang menerangkan, namun
sebegitu jauh penyebab pasti endometriosis masih belum diketahui (4). Di
bawah ini akan dijelaskan berbagai faktor yang menerangkan patogenesis
endometriosis di antaranya berupa faktor predisposisi pada perkembangan
endometriosis, interkoneksi antara mekanisme patologi saat inisiasi dan
propagasi lesi endometriosis di tempat yang berbeda.
TEORI ALIRAN BALIK DARAH HAID (RETROGRADE
MENSTRUATION)
Dari berbagai teori yang ada teori aliran balik darah haid termasuk
teori paling tua menerangkan etiologi endometriosis. Pada teori tersebut
digambarkan bahwa terdapat aliran balik darah haid yang berisi jaringan
endometrium melalui saluran tuba falopii kemudian tumpah keluar dan
melakukan implantasi di rongga peritoneum. Teori yang dikembangkan
oleh Sampson pada tahun 1927 ini telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan
laparoskopi yang memang terbukti bahwa terdapat aliran balik darah haid
Patogenesis
4
9
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 4 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
berbagai aspek mekanisme patologi endometriosis serta beberapa teori yang
dikembangkan untuk memahami bagaimana endometriosis terjadi.
Gambaran tentang penyakit endometriosis telah diketahui sejak lama,
yaitu tahun 1690 oleh sarjana Jerman bernama Daniel Shroen. Sejak saat itu
sampai sekarang telah didapatkan banyak teori yang menerangkan, namun
sebegitu jauh penyebab pasti endometriosis masih belum diketahui (4). Di
bawah ini akan dijelaskan berbagai faktor yang menerangkan patogenesis
endometriosis di antaranya berupa faktor predisposisi pada perkembangan
endometriosis, interkoneksi antara mekanisme patologi saat inisiasi dan
propagasi lesi endometriosis di tempat yang berbeda.
TEORI ALIRAN BALIK DARAH HAID (RETROGRADE
MENSTRUATION)
Dari berbagai teori yang ada teori aliran balik darah haid termasuk
teori paling tua menerangkan etiologi endometriosis. Pada teori tersebut
digambarkan bahwa terdapat aliran balik darah haid yang berisi jaringan
endometrium melalui saluran tuba falopii kemudian tumpah keluar dan
melakukan implantasi di rongga peritoneum. Teori yang dikembangkan
oleh Sampson pada tahun 1927 ini telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan
laparoskopi yang memang terbukti bahwa terdapat aliran balik darah haid
Patogenesis
4
ENDOMETRIOSIS10
pada sebagian besar perempuan. Beberapa bukti mendukung teori Sampson,
yaitu meningkatnya kejadian endometriosis pada perempuan dengan anomali
duktus Mulleri berupa obstruksi pada kanalis serviks sehingga darah haid
tidak bisa keluar secara normal di uterus. Berdasarkan teori ini endometriosis
merupakan konsekuensi dari aliran balik darah haid melalui saluran telur
yang berlanjut dengan implantasi dan tumbuh di peritoneum dan ovarium
(7,10,11,12).
Dengan memakai dasar teori aliran balik darah haid telah dilakukan
beberapa pembuktian dengan penelitian pada hewan coba. Lesi endometriosis
dapat diinduksi dengan cara inokulasi produk darah haid otologus di rongga
peritoneum hewan babon dan macaca, dengan keberhasilan tumbuh
menjadi endometriosis dengan sekali inokulasi mencapai 47% (12). Kuswojo,
penulis dan kawan-kawan melakukan penelitian menginjeksikan kerokan
endometrium yang berasal dari uterus perempuan pasca operasi histerektomi
ke dalam rongga perut hewan coba mencit didapatkan hasil pertumbuhan
lesi endometriosis dengan tingkat keberhasilan sebesar 87,5% (13).
Beberapa bukti pendukung teori John Sampson di atas adalah sebagai
berikut.
Pada pemeriksaan laparoskopi saat haid terlihat aliran darah keluar dari
fimbria.
Endometriosis tampak di ovarium, kavum douglasi, ligamentum
sakrouterinum, dinding belakang uterus dan ligamentum latum.
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid ( retrograde menstruation ) melalui tuba falopii (Teori
Sampson)
ENDOMETRIOSIS10
pada sebagian besar perempuan. Beberapa bukti mendukung teori Sampson,
yaitu meningkatnya kejadian endometriosis pada perempuan dengan anomali
duktus Mulleri berupa obstruksi pada kanalis serviks sehingga darah haid
tidak bisa keluar secara normal di uterus. Berdasarkan teori ini endometriosis
merupakan konsekuensi dari aliran balik darah haid melalui saluran telur
yang berlanjut dengan implantasi dan tumbuh di peritoneum dan ovarium
(7,10,11,12).
Dengan memakai dasar teori aliran balik darah haid telah dilakukan
beberapa pembuktian dengan penelitian pada hewan coba. Lesi endometriosis
dapat diinduksi dengan cara inokulasi produk darah haid otologus di rongga
peritoneum hewan babon dan macaca, dengan keberhasilan tumbuh
menjadi endometriosis dengan sekali inokulasi mencapai 47% (12). Kuswojo,
penulis dan kawan-kawan melakukan penelitian menginjeksikan kerokan
endometrium yang berasal dari uterus perempuan pasca operasi histerektomi
ke dalam rongga perut hewan coba mencit didapatkan hasil pertumbuhan
lesi endometriosis dengan tingkat keberhasilan sebesar 87,5% (13).
Beberapa bukti pendukung teori John Sampson di atas adalah sebagai
berikut.
Pada pemeriksaan laparoskopi saat haid terlihat aliran darah keluar dari
fimbria.
Endometriosis tampak di ovarium, kavum douglasi, ligamentum
sakrouterinum, dinding belakang uterus dan ligamentum latum.
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid ( retrograde menstruation ) melalui tuba falopii (Teori
Sampson)
ENDOMETRIOSIS10
pada sebagian besar perempuan. Beberapa bukti mendukung teori Sampson,
yaitu meningkatnya kejadian endometriosis pada perempuan dengan anomali
duktus Mulleri berupa obstruksi pada kanalis serviks sehingga darah haid
tidak bisa keluar secara normal di uterus. Berdasarkan teori ini endometriosis
merupakan konsekuensi dari aliran balik darah haid melalui saluran telur
yang berlanjut dengan implantasi dan tumbuh di peritoneum dan ovarium
(7,10,11,12).
Dengan memakai dasar teori aliran balik darah haid telah dilakukan
beberapa pembuktian dengan penelitian pada hewan coba. Lesi endometriosis
dapat diinduksi dengan cara inokulasi produk darah haid otologus di rongga
peritoneum hewan babon dan macaca, dengan keberhasilan tumbuh
menjadi endometriosis dengan sekali inokulasi mencapai 47% (12). Kuswojo,
penulis dan kawan-kawan melakukan penelitian menginjeksikan kerokan
endometrium yang berasal dari uterus perempuan pasca operasi histerektomi
ke dalam rongga perut hewan coba mencit didapatkan hasil pertumbuhan
lesi endometriosis dengan tingkat keberhasilan sebesar 87,5% (13).
Beberapa bukti pendukung teori John Sampson di atas adalah sebagai
berikut.
Pada pemeriksaan laparoskopi saat haid terlihat aliran darah keluar dari
fimbria.
Endometriosis tampak di ovarium, kavum douglasi, ligamentum
sakrouterinum, dinding belakang uterus dan ligamentum latum.
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid ( retrograde menstruation ) melalui tuba falopii (Teori
Sampson)
ENDOMETRIOSIS10
pada sebagian besar perempuan. Beberapa bukti mendukung teori Sampson,
yaitu meningkatnya kejadian endometriosis pada perempuan dengan anomali
duktus Mulleri berupa obstruksi pada kanalis serviks sehingga darah haid
tidak bisa keluar secara normal di uterus. Berdasarkan teori ini endometriosis
merupakan konsekuensi dari aliran balik darah haid melalui saluran telur
yang berlanjut dengan implantasi dan tumbuh di peritoneum dan ovarium
(7,10,11,12).
Dengan memakai dasar teori aliran balik darah haid telah dilakukan
beberapa pembuktian dengan penelitian pada hewan coba. Lesi endometriosis
dapat diinduksi dengan cara inokulasi produk darah haid otologus di rongga
peritoneum hewan babon dan macaca, dengan keberhasilan tumbuh
menjadi endometriosis dengan sekali inokulasi mencapai 47% (12). Kuswojo,
penulis dan kawan-kawan melakukan penelitian menginjeksikan kerokan
endometrium yang berasal dari uterus perempuan pasca operasi histerektomi
ke dalam rongga perut hewan coba mencit didapatkan hasil pertumbuhan
lesi endometriosis dengan tingkat keberhasilan sebesar 87,5% (13).
Beberapa bukti pendukung teori John Sampson di atas adalah sebagai
berikut.
Pada pemeriksaan laparoskopi saat haid terlihat aliran darah keluar dari
fimbria.
Endometriosis tampak di ovarium, kavum douglasi, ligamentum
sakrouterinum, dinding belakang uterus dan ligamentum latum.
Gambar 4.1 Teori aliran balik darah haid ( retrograde menstruation ) melalui tuba falopii (Teori
Sampson)
11Bab 4 Patogenesis
Angka kejadian endometriosis meningkat pada perempuan yang
mengalami hambatan aliran darah haid melalui vagina.
Walaupun secara umum 76−90% perempuan mengalami aliran balik
darah haid, namun ternyata tidak semuanya menjadi endometriosis, hanya
sekitar 10% saja. Beberapa data menyimpulkan bahwa penyimpangan
respons imun yang tidak lazim di lingkungan zalir peritonum berperan besar
pada patogenesis endometriosis serta hubungan endometriosis dengan
infertilitas (7,10,12).
Disebutkan juga bahwa disfungsi uterus mempunyai peran krusial pada
kejadian endometriosis. Pada komponen darah haid ditemukan fragmen
lapisan basal endometrium, selanjutnya fragmen tersebut melakukan dislokasi
transtuba karena adanya disperistaltik tuba hingga terbentuk endometriosis
peritoneum (14).
Berdasarkan data yang ada sampai saat ini teori aliran balik darah
haid merupakan teori yang paling banyak dianut, walaupun demikian masih
terdapat beberapa hal yang tidak dapat diterangkan dengan teori ini, yaitu
misal kejadian endometriosis pada anak perempuan yang masih belum haid,
kejadian pada bayi dan pria.
TEORI METAPLASIA
Teori ini menyatakan bahwa endometriosis berasal dari sel ekstra uteri
yang secara abormal melakukan transdiferensiasi atau transformasi menjadi
sel endometriosis (12). Teori metaplasia c elomic mempostulasikan bahwa
endometriosis berasal dari metaplasia sel-sel yang sudah terspesialisasi di
lapisan mesotel di peritoneum dan organ visera abdomen. Diduga hormon
dan faktor imunologi yang berperan menstimuli sel-sel peritoneum tersebut
menjadi sel mirip endometrium (12,15).
Teori metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis
pada remaja putri prepubertas yang belum mendapat haid. Ternyata
endometriosis juga ditemukan pada fetus perempuan, keadaan ini diduga
merupakan hasil defek embriogenesis. Berdasarkan teori ini sel embrionik
residu dari duktus Wolf dan Mulleri tetap persisten dan karena pengaruh
hormon estrogen menjadi berkembang menjadi endometriosis (15). Teori
metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis pada
remaja bahkan selanjutnya berkembang menjadi endometriosis stadium berat
dan progresif.
11Bab 4 Patogenesis
Angka kejadian endometriosis meningkat pada perempuan yang
mengalami hambatan aliran darah haid melalui vagina.
Walaupun secara umum 76−90% perempuan mengalami aliran balik
darah haid, namun ternyata tidak semuanya menjadi endometriosis, hanya
sekitar 10% saja. Beberapa data menyimpulkan bahwa penyimpangan
respons imun yang tidak lazim di lingkungan zalir peritonum berperan besar
pada patogenesis endometriosis serta hubungan endometriosis dengan
infertilitas (7,10,12).
Disebutkan juga bahwa disfungsi uterus mempunyai peran krusial pada
kejadian endometriosis. Pada komponen darah haid ditemukan fragmen
lapisan basal endometrium, selanjutnya fragmen tersebut melakukan dislokasi
transtuba karena adanya disperistaltik tuba hingga terbentuk endometriosis
peritoneum (14).
Berdasarkan data yang ada sampai saat ini teori aliran balik darah
haid merupakan teori yang paling banyak dianut, walaupun demikian masih
terdapat beberapa hal yang tidak dapat diterangkan dengan teori ini, yaitu
misal kejadian endometriosis pada anak perempuan yang masih belum haid,
kejadian pada bayi dan pria.
TEORI METAPLASIA
Teori ini menyatakan bahwa endometriosis berasal dari sel ekstra uteri
yang secara abormal melakukan transdiferensiasi atau transformasi menjadi
sel endometriosis (12). Teori metaplasia c elomic mempostulasikan bahwa
endometriosis berasal dari metaplasia sel-sel yang sudah terspesialisasi di
lapisan mesotel di peritoneum dan organ visera abdomen. Diduga hormon
dan faktor imunologi yang berperan menstimuli sel-sel peritoneum tersebut
menjadi sel mirip endometrium (12,15).
Teori metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis
pada remaja putri prepubertas yang belum mendapat haid. Ternyata
endometriosis juga ditemukan pada fetus perempuan, keadaan ini diduga
merupakan hasil defek embriogenesis. Berdasarkan teori ini sel embrionik
residu dari duktus Wolf dan Mulleri tetap persisten dan karena pengaruh
hormon estrogen menjadi berkembang menjadi endometriosis (15). Teori
metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis pada
remaja bahkan selanjutnya berkembang menjadi endometriosis stadium berat
dan progresif.
11Bab 4 Patogenesis
Angka kejadian endometriosis meningkat pada perempuan yang
mengalami hambatan aliran darah haid melalui vagina.
Walaupun secara umum 76−90% perempuan mengalami aliran balik
darah haid, namun ternyata tidak semuanya menjadi endometriosis, hanya
sekitar 10% saja. Beberapa data menyimpulkan bahwa penyimpangan
respons imun yang tidak lazim di lingkungan zalir peritonum berperan besar
pada patogenesis endometriosis serta hubungan endometriosis dengan
infertilitas (7,10,12).
Disebutkan juga bahwa disfungsi uterus mempunyai peran krusial pada
kejadian endometriosis. Pada komponen darah haid ditemukan fragmen
lapisan basal endometrium, selanjutnya fragmen tersebut melakukan dislokasi
transtuba karena adanya disperistaltik tuba hingga terbentuk endometriosis
peritoneum (14).
Berdasarkan data yang ada sampai saat ini teori aliran balik darah
haid merupakan teori yang paling banyak dianut, walaupun demikian masih
terdapat beberapa hal yang tidak dapat diterangkan dengan teori ini, yaitu
misal kejadian endometriosis pada anak perempuan yang masih belum haid,
kejadian pada bayi dan pria.
TEORI METAPLASIA
Teori ini menyatakan bahwa endometriosis berasal dari sel ekstra uteri
yang secara abormal melakukan transdiferensiasi atau transformasi menjadi
sel endometriosis (12). Teori metaplasia c elomic mempostulasikan bahwa
endometriosis berasal dari metaplasia sel-sel yang sudah terspesialisasi di
lapisan mesotel di peritoneum dan organ visera abdomen. Diduga hormon
dan faktor imunologi yang berperan menstimuli sel-sel peritoneum tersebut
menjadi sel mirip endometrium (12,15).
Teori metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis
pada remaja putri prepubertas yang belum mendapat haid. Ternyata
endometriosis juga ditemukan pada fetus perempuan, keadaan ini diduga
merupakan hasil defek embriogenesis. Berdasarkan teori ini sel embrionik
residu dari duktus Wolf dan Mulleri tetap persisten dan karena pengaruh
hormon estrogen menjadi berkembang menjadi endometriosis (15). Teori
metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis pada
remaja bahkan selanjutnya berkembang menjadi endometriosis stadium berat
dan progresif.
11Bab 4 Patogenesis
Angka kejadian endometriosis meningkat pada perempuan yang
mengalami hambatan aliran darah haid melalui vagina.
Walaupun secara umum 76−90% perempuan mengalami aliran balik
darah haid, namun ternyata tidak semuanya menjadi endometriosis, hanya
sekitar 10% saja. Beberapa data menyimpulkan bahwa penyimpangan
respons imun yang tidak lazim di lingkungan zalir peritonum berperan besar
pada patogenesis endometriosis serta hubungan endometriosis dengan
infertilitas (7,10,12).
Disebutkan juga bahwa disfungsi uterus mempunyai peran krusial pada
kejadian endometriosis. Pada komponen darah haid ditemukan fragmen
lapisan basal endometrium, selanjutnya fragmen tersebut melakukan dislokasi
transtuba karena adanya disperistaltik tuba hingga terbentuk endometriosis
peritoneum (14).
Berdasarkan data yang ada sampai saat ini teori aliran balik darah
haid merupakan teori yang paling banyak dianut, walaupun demikian masih
terdapat beberapa hal yang tidak dapat diterangkan dengan teori ini, yaitu
misal kejadian endometriosis pada anak perempuan yang masih belum haid,
kejadian pada bayi dan pria.
TEORI METAPLASIA
Teori ini menyatakan bahwa endometriosis berasal dari sel ekstra uteri
yang secara abormal melakukan transdiferensiasi atau transformasi menjadi
sel endometriosis (12). Teori metaplasia c elomic mempostulasikan bahwa
endometriosis berasal dari metaplasia sel-sel yang sudah terspesialisasi di
lapisan mesotel di peritoneum dan organ visera abdomen. Diduga hormon
dan faktor imunologi yang berperan menstimuli sel-sel peritoneum tersebut
menjadi sel mirip endometrium (12,15).
Teori metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis
pada remaja putri prepubertas yang belum mendapat haid. Ternyata
endometriosis juga ditemukan pada fetus perempuan, keadaan ini diduga
merupakan hasil defek embriogenesis. Berdasarkan teori ini sel embrionik
residu dari duktus Wolf dan Mulleri tetap persisten dan karena pengaruh
hormon estrogen menjadi berkembang menjadi endometriosis (15). Teori
metaplasia coelomic ini dapat menerangkan kejadian endometriosis pada
remaja bahkan selanjutnya berkembang menjadi endometriosis stadium berat
dan progresif.
ENDOMETRIOSIS12
Faktor biokimia dan imunologi endogen berperan menginduksi sel-
sel undifferentiated berdiferensiasi menjadi sel mirip endometrium di
lokasi ektopik. Gambaran diatas didukung oleh studi Hormone-dependent
transformation dari sel peritoneum menjadi Mullerian-type cells (12).
Teori hormon
Terkait dengan teori sebelumnya bahwa kejadian endometriosis sebagian
besar didapatkan pada perempuan usia reproduksi dan tidak terjadi pada
perempuan usia pascamenopause yang sudah tidak mempunyai hormon
estrogen lagi. Tampak hormon seks steroid berperan sentral pada patogenesis
endometriosis. Pada siklus haid normal hormon estrogen berperan pada
proliferasi endometrium, keadaan ini sama dengan endometriosis dimana
hormon estrogen menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan
meningkatkan respon jaringan endometriosis terhadap estrogen (12).
Perubahan hormon tersebut berpengaruh pada proliferasi sel endometrium
ektopik, penempelan pada mesotelium dan penghindaran dari clearance
sistem imun tubuh. Keadaan di atas mendukung konsep bahwa endometriosis
adalah estrogen dependent disease (15).
Di dalam jaringan endometriosis didapatkan formasi estrogen yang
tinggi. Hormon estrogen yang berada di dalam jaringan endometriosis dapat
berasal dari tiga sumber, yaitu dari ovarium, jaringan ekstraovarium (jaringan
Gambar 4.2 Teori metaplasia pada patogenesis endometriosis
ENDOMETRIOSIS12
Faktor biokimia dan imunologi endogen berperan menginduksi sel-
sel undifferentiated berdiferensiasi menjadi sel mirip endometrium di
lokasi ektopik. Gambaran diatas didukung oleh studi Hormone-dependent
transformation dari sel peritoneum menjadi Mullerian-type cells (12).
Teori hormon
Terkait dengan teori sebelumnya bahwa kejadian endometriosis sebagian
besar didapatkan pada perempuan usia reproduksi dan tidak terjadi pada
perempuan usia pascamenopause yang sudah tidak mempunyai hormon
estrogen lagi. Tampak hormon seks steroid berperan sentral pada patogenesis
endometriosis. Pada siklus haid normal hormon estrogen berperan pada
proliferasi endometrium, keadaan ini sama dengan endometriosis dimana
hormon estrogen menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan
meningkatkan respon jaringan endometriosis terhadap estrogen (12).
Perubahan hormon tersebut berpengaruh pada proliferasi sel endometrium
ektopik, penempelan pada mesotelium dan penghindaran dari clearance
sistem imun tubuh. Keadaan di atas mendukung konsep bahwa endometriosis
adalah estrogen dependent disease (15).
Di dalam jaringan endometriosis didapatkan formasi estrogen yang
tinggi. Hormon estrogen yang berada di dalam jaringan endometriosis dapat
berasal dari tiga sumber, yaitu dari ovarium, jaringan ekstraovarium (jaringan
Gambar 4.2 Teori metaplasia pada patogenesis endometriosis
ENDOMETRIOSIS12
Faktor biokimia dan imunologi endogen berperan menginduksi sel-
sel undifferentiated berdiferensiasi menjadi sel mirip endometrium di
lokasi ektopik. Gambaran diatas didukung oleh studi Hormone-dependent
transformation dari sel peritoneum menjadi Mullerian-type cells (12).
Teori hormon
Terkait dengan teori sebelumnya bahwa kejadian endometriosis sebagian
besar didapatkan pada perempuan usia reproduksi dan tidak terjadi pada
perempuan usia pascamenopause yang sudah tidak mempunyai hormon
estrogen lagi. Tampak hormon seks steroid berperan sentral pada patogenesis
endometriosis. Pada siklus haid normal hormon estrogen berperan pada
proliferasi endometrium, keadaan ini sama dengan endometriosis dimana
hormon estrogen menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan
meningkatkan respon jaringan endometriosis terhadap estrogen (12).
Perubahan hormon tersebut berpengaruh pada proliferasi sel endometrium
ektopik, penempelan pada mesotelium dan penghindaran dari clearance
sistem imun tubuh. Keadaan di atas mendukung konsep bahwa endometriosis
adalah estrogen dependent disease (15).
Di dalam jaringan endometriosis didapatkan formasi estrogen yang
tinggi. Hormon estrogen yang berada di dalam jaringan endometriosis dapat
berasal dari tiga sumber, yaitu dari ovarium, jaringan ekstraovarium (jaringan
Gambar 4.2 Teori metaplasia pada patogenesis endometriosis
ENDOMETRIOSIS12
Faktor biokimia dan imunologi endogen berperan menginduksi sel-
sel undifferentiated berdiferensiasi menjadi sel mirip endometrium di
lokasi ektopik. Gambaran diatas didukung oleh studi Hormone-dependent
transformation dari sel peritoneum menjadi Mullerian-type cells (12).
Teori hormon
Terkait dengan teori sebelumnya bahwa kejadian endometriosis sebagian
besar didapatkan pada perempuan usia reproduksi dan tidak terjadi pada
perempuan usia pascamenopause yang sudah tidak mempunyai hormon
estrogen lagi. Tampak hormon seks steroid berperan sentral pada patogenesis
endometriosis. Pada siklus haid normal hormon estrogen berperan pada
proliferasi endometrium, keadaan ini sama dengan endometriosis dimana
hormon estrogen menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan
meningkatkan respon jaringan endometriosis terhadap estrogen (12).
Perubahan hormon tersebut berpengaruh pada proliferasi sel endometrium
ektopik, penempelan pada mesotelium dan penghindaran dari clearance
sistem imun tubuh. Keadaan di atas mendukung konsep bahwa endometriosis
adalah estrogen dependent disease (15).
Di dalam jaringan endometriosis didapatkan formasi estrogen yang
tinggi. Hormon estrogen yang berada di dalam jaringan endometriosis dapat
berasal dari tiga sumber, yaitu dari ovarium, jaringan ekstraovarium (jaringan
Gambar 4.2 Teori metaplasia pada patogenesis endometriosis
13Bab 4 Patogenesis
adiposa dan kulit) dan berasal dari produksi jaringan endometriosis itu sendiri.
Sumber utama estradiol adalah androstenedion (A) yang berasal dari adrenal
dan ovarium, kemudian dikonversi menjadi estron (E1) dan selanjutnya
menjadi estradiol (E2). Telah terbukti terdapat peningkatan ekspresi enzim
17b hidroksisteroid dehidrogenase tipe 1 di jaringan endometriosis yang
mengkatalisis konversi dari E1 ke E2. Didapatkan bukti pula bahwa estradiol
dan sitokin Interleukin (IL)-1 b dan Tumor Necrosis Factor (TNF)- a yang
meningkat pada endometriosis akan mengaktivasi enzim siklo-oksigenase-2
(COX-2) hingga akan meningkatkan prostaglandin E2 (PGE2). PGE2 ini
adalah stimulator paling poten untuk aktivitas aromatase di stroma jaringan
endometriosis (16).
Selain itu didapatkan perbedaan aktivitas enzim 17 b hidroksisteroid
dehidrogenase (17 b-HSD) antara di jaringan endometrium eutopik
(endometrium yang berada didalam kavum uteri) dan di jaringan endometrium
ektopik (endometriosis). Di jaringan endometrium eutopik terdapat
keseimbangan antara 17 b-HSD tipe 1 dan tipe 2. Perlu diketahui sebagai
respons adanya hormon progesteron pada siklus normal endometrium,
Gambar 4.3 Teori Hormon: Biosintesis hormon estrogen di jaringan endometriosis.
Androstenedion (A) di jaringan endometriosis berasal dari adrenal dan ovarium. A mengalami
proses aromatisasi menjadi estron dan selanjutnya dikonversi menjadi estradiol (E2). Kadar
IL-1b, TNF- a dan E2 yang tinggi di jaringan endometriosis akan mengaktivasi enzim COX-2
sehingga terjadi peningkatan PGE2 yang berasal dari asam arakhidonat. PGE2 merupakan
stimulator poten proses aromatisasi. Di jaringan endometriosis terjadi resistensi progesteron
sehingga terjadi penurunan enzim 17 b-HSD tipe 2(16).
Lesi/jaringan endometriosis
13Bab 4 Patogenesis
adiposa dan kulit) dan berasal dari produksi jaringan endometriosis itu sendiri.
Sumber utama estradiol adalah androstenedion (A) yang berasal dari adrenal
dan ovarium, kemudian dikonversi menjadi estron (E1) dan selanjutnya
menjadi estradiol (E2). Telah terbukti terdapat peningkatan ekspresi enzim
17b hidroksisteroid dehidrogenase tipe 1 di jaringan endometriosis yang
mengkatalisis konversi dari E1 ke E2. Didapatkan bukti pula bahwa estradiol
dan sitokin Interleukin (IL)-1 b dan Tumor Necrosis Factor (TNF)- a yang
meningkat pada endometriosis akan mengaktivasi enzim siklo-oksigenase-2
(COX-2) hingga akan meningkatkan prostaglandin E2 (PGE2). PGE2 ini
adalah stimulator paling poten untuk aktivitas aromatase di stroma jaringan
endometriosis (16).
Selain itu didapatkan perbedaan aktivitas enzim 17 b hidroksisteroid
dehidrogenase (17 b-HSD) antara di jaringan endometrium eutopik
(endometrium yang berada didalam kavum uteri) dan di jaringan endometrium
ektopik (endometriosis). Di jaringan endometrium eutopik terdapat
keseimbangan antara 17 b-HSD tipe 1 dan tipe 2. Perlu diketahui sebagai
respons adanya hormon progesteron pada siklus normal endometrium,
Gambar 4.3 Teori Hormon: Biosintesis hormon estrogen di jaringan endometriosis.
Androstenedion (A) di jaringan endometriosis berasal dari adrenal dan ovarium. A mengalami
proses aromatisasi menjadi estron dan selanjutnya dikonversi menjadi estradiol (E2). Kadar
IL-1b, TNF- a dan E2 yang tinggi di jaringan endometriosis akan mengaktivasi enzim COX-2
sehingga terjadi peningkatan PGE2 yang berasal dari asam arakhidonat. PGE2 merupakan
stimulator poten proses aromatisasi. Di jaringan endometriosis terjadi resistensi progesteron
sehingga terjadi penurunan enzim 17 b-HSD tipe 2(16).
Lesi/jaringan endometriosis
13Bab 4 Patogenesis
adiposa dan kulit) dan berasal dari produksi jaringan endometriosis itu sendiri.
Sumber utama estradiol adalah androstenedion (A) yang berasal dari adrenal
dan ovarium, kemudian dikonversi menjadi estron (E1) dan selanjutnya
menjadi estradiol (E2). Telah terbukti terdapat peningkatan ekspresi enzim
17b hidroksisteroid dehidrogenase tipe 1 di jaringan endometriosis yang
mengkatalisis konversi dari E1 ke E2. Didapatkan bukti pula bahwa estradiol
dan sitokin Interleukin (IL)-1 b dan Tumor Necrosis Factor (TNF)- a yang
meningkat pada endometriosis akan mengaktivasi enzim siklo-oksigenase-2
(COX-2) hingga akan meningkatkan prostaglandin E2 (PGE2). PGE2 ini
adalah stimulator paling poten untuk aktivitas aromatase di stroma jaringan
endometriosis (16).
Selain itu didapatkan perbedaan aktivitas enzim 17 b hidroksisteroid
dehidrogenase (17 b-HSD) antara di jaringan endometrium eutopik
(endometrium yang berada didalam kavum uteri) dan di jaringan endometrium
ektopik (endometriosis). Di jaringan endometrium eutopik terdapat
keseimbangan antara 17 b-HSD tipe 1 dan tipe 2. Perlu diketahui sebagai
respons adanya hormon progesteron pada siklus normal endometrium,
Gambar 4.3 Teori Hormon: Biosintesis hormon estrogen di jaringan endometriosis.
Androstenedion (A) di jaringan endometriosis berasal dari adrenal dan ovarium. A mengalami
proses aromatisasi menjadi estron dan selanjutnya dikonversi menjadi estradiol (E2). Kadar
IL-1b, TNF- a dan E2 yang tinggi di jaringan endometriosis akan mengaktivasi enzim COX-2
sehingga terjadi peningkatan PGE2 yang berasal dari asam arakhidonat. PGE2 merupakan
stimulator poten proses aromatisasi. Di jaringan endometriosis terjadi resistensi progesteron
sehingga terjadi penurunan enzim 17 b-HSD tipe 2(16).
Lesi/jaringan endometriosis
13Bab 4 Patogenesis
adiposa dan kulit) dan berasal dari produksi jaringan endometriosis itu sendiri.
Sumber utama estradiol adalah androstenedion (A) yang berasal dari adrenal
dan ovarium, kemudian dikonversi menjadi estron (E1) dan selanjutnya
menjadi estradiol (E2). Telah terbukti terdapat peningkatan ekspresi enzim
17b hidroksisteroid dehidrogenase tipe 1 di jaringan endometriosis yang
mengkatalisis konversi dari E1 ke E2. Didapatkan bukti pula bahwa estradiol
dan sitokin Interleukin (IL)-1 b dan Tumor Necrosis Factor (TNF)- a yang
meningkat pada endometriosis akan mengaktivasi enzim siklo-oksigenase-2
(COX-2) hingga akan meningkatkan prostaglandin E2 (PGE2). PGE2 ini
adalah stimulator paling poten untuk aktivitas aromatase di stroma jaringan
endometriosis (16).
Selain itu didapatkan perbedaan aktivitas enzim 17 b hidroksisteroid
dehidrogenase (17 b-HSD) antara di jaringan endometrium eutopik
(endometrium yang berada didalam kavum uteri) dan di jaringan endometrium
ektopik (endometriosis). Di jaringan endometrium eutopik terdapat
keseimbangan antara 17 b-HSD tipe 1 dan tipe 2. Perlu diketahui sebagai
respons adanya hormon progesteron pada siklus normal endometrium,
Gambar 4.3 Teori Hormon: Biosintesis hormon estrogen di jaringan endometriosis.
Androstenedion (A) di jaringan endometriosis berasal dari adrenal dan ovarium. A mengalami
proses aromatisasi menjadi estron dan selanjutnya dikonversi menjadi estradiol (E2). Kadar
IL-1b, TNF- a dan E2 yang tinggi di jaringan endometriosis akan mengaktivasi enzim COX-2
sehingga terjadi peningkatan PGE2 yang berasal dari asam arakhidonat. PGE2 merupakan
stimulator poten proses aromatisasi. Di jaringan endometriosis terjadi resistensi progesteron
sehingga terjadi penurunan enzim 17 b-HSD tipe 2(16).
Lesi/jaringan endometriosis
ENDOMETRIOSIS14
enzim 17β-HSD tipe 2 akan melakukan inaktivasi estradiol dengan cara
mengkonversi menjadi estron yang lebih tidak poten.
Berbeda dengan kejadian di jaringan endometriosis, yaitu terdapat
penurunan ekspresi enzim 17 β-HSD tipe 2 yang berakibat tidak mampu
melakukan konversi E2 ke E1 seperti pada siklus normal sehingga kadar
estradiol yang poten tetap tinggi pada jaringan endometriosis. Keadaan ini
karena terjadi resistensi progesteron di jaringan endometriosis. (16).
Bagaimana dengan peran progesteron? Seperti diketahui pada siklus
haid normal progesteron berfungsi untuk mengibangi peran proliferasi
estrogen di endometrium eutopik. Timbul pemikiran bahwa keterkaitan
progesteron dengan patogenesis endometriosis dalam bentuk terjadi resistensi
progesteron di endometrium ektopik. Peran keseimbangan kerja mitotik
dan proliferasi estrogen di endometrium oleh progesteron pada fase sekresi
siklus haid tidak terjadi di jaringan endometriosis dan aktivitas proliferasi
meningkat di endometrium eutopik pada fase sekresi perempuan penderita
endometriosis. Telah dibuktikan bahwa pada jaringan endometriosis terdapat
ekspresi reseptor progesteron yang rendah dan berfungsi abnormal sehingga
terjadi resistensi progesteron (15,16).
Aspek molekuler yang mendasari resistensi progesteron di endometriosis
adalah penurunan secara general kadar reseptor progesteron (RP) terutama
berkurangnya isoform RP-B sehingga menyebabkan sinyal parakrin
menghilang. Telah dibuktikan bahwa mekanisme transkripsi dan epigenetik
berupa hipermetilasi pada regio promoter RP-B berkontribusi pada proses
resistensi progesteron.
Jaringan endometriosis tidak mampu mengaktivasi enzim 17 β-HSD
tipe 2 karena terdapat “down-regulation” RP-B sehingga gagal melakukan
metabolisme estradiol menjadi estron yang lebih tidak poten. Konsekuensi
adalah pasien akan terpapar dengan Estradiol kadar tinggi terus-menerus.
Pemahaman terhadap mekanisme molekuler yang mendasari defisiensi
RP-B menjadi salah satu pemikiran penting pada patogenesis endometriosis
(15,17).
Konsep resistensi progesteron pada endometriosis melibatkan ekspresi
abnormal reseptor estrogen (RE) α dan reseptor estrogen (RE) β yang
berdampak pada penurunan ekspresi reseptor progesteron (RP). Suatu
mekanisme kompleks yang melibatkan regulasi promoter pada gen reseptor
estrogen bertanggung jawab terhadap keadaan patologis di stroma jaringan
endometriosis tersebut. Berbeda dengan kejadian di jaringan endometrium
normal, di jaringan endometriosis terjadi hipometilasi CpG island pada regio
promoter gen REβ. Selanjutnya daerah hipometilasi tersebut diduduki oleh
ENDOMETRIOSIS14
enzim 17β-HSD tipe 2 akan melakukan inaktivasi estradiol dengan cara
mengkonversi menjadi estron yang lebih tidak poten.
Berbeda dengan kejadian di jaringan endometriosis, yaitu terdapat
penurunan ekspresi enzim 17 β-HSD tipe 2 yang berakibat tidak mampu
melakukan konversi E2 ke E1 seperti pada siklus normal sehingga kadar
estradiol yang poten tetap tinggi pada jaringan endometriosis. Keadaan ini
karena terjadi resistensi progesteron di jaringan endometriosis. (16).
Bagaimana dengan peran progesteron? Seperti diketahui pada siklus
haid normal progesteron berfungsi untuk mengibangi peran proliferasi
estrogen di endometrium eutopik. Timbul pemikiran bahwa keterkaitan
progesteron dengan patogenesis endometriosis dalam bentuk terjadi resistensi
progesteron di endometrium ektopik. Peran keseimbangan kerja mitotik
dan proliferasi estrogen di endometrium oleh progesteron pada fase sekresi
siklus haid tidak terjadi di jaringan endometriosis dan aktivitas proliferasi
meningkat di endometrium eutopik pada fase sekresi perempuan penderita
endometriosis. Telah dibuktikan bahwa pada jaringan endometriosis terdapat
ekspresi reseptor progesteron yang rendah dan berfungsi abnormal sehingga
terjadi resistensi progesteron (15,16).
Aspek molekuler yang mendasari resistensi progesteron di endometriosis
adalah penurunan secara general kadar reseptor progesteron (RP) terutama
berkurangnya isoform RP-B sehingga menyebabkan sinyal parakrin
menghilang. Telah dibuktikan bahwa mekanisme transkripsi dan epigenetik
berupa hipermetilasi pada regio promoter RP-B berkontribusi pada proses
resistensi progesteron.
Jaringan endometriosis tidak mampu mengaktivasi enzim 17 β-HSD
tipe 2 karena terdapat “down-regulation” RP-B sehingga gagal melakukan
metabolisme estradiol menjadi estron yang lebih tidak poten. Konsekuensi
adalah pasien akan terpapar dengan Estradiol kadar tinggi terus-menerus.
Pemahaman terhadap mekanisme molekuler yang mendasari defisiensi
RP-B menjadi salah satu pemikiran penting pada patogenesis endometriosis
(15,17).
Konsep resistensi progesteron pada endometriosis melibatkan ekspresi
abnormal reseptor estrogen (RE) α dan reseptor estrogen (RE) β yang
berdampak pada penurunan ekspresi reseptor progesteron (RP). Suatu
mekanisme kompleks yang melibatkan regulasi promoter pada gen reseptor
estrogen bertanggung jawab terhadap keadaan patologis di stroma jaringan
endometriosis tersebut. Berbeda dengan kejadian di jaringan endometrium
normal, di jaringan endometriosis terjadi hipometilasi CpG island pada regio
promoter gen REβ. Selanjutnya daerah hipometilasi tersebut diduduki oleh
ENDOMETRIOSIS14
enzim 17β-HSD tipe 2 akan melakukan inaktivasi estradiol dengan cara
mengkonversi menjadi estron yang lebih tidak poten.
Berbeda dengan kejadian di jaringan endometriosis, yaitu terdapat
penurunan ekspresi enzim 17 β-HSD tipe 2 yang berakibat tidak mampu
melakukan konversi E2 ke E1 seperti pada siklus normal sehingga kadar
estradiol yang poten tetap tinggi pada jaringan endometriosis. Keadaan ini
karena terjadi resistensi progesteron di jaringan endometriosis. (16).
Bagaimana dengan peran progesteron? Seperti diketahui pada siklus
haid normal progesteron berfungsi untuk mengibangi peran proliferasi
estrogen di endometrium eutopik. Timbul pemikiran bahwa keterkaitan
progesteron dengan patogenesis endometriosis dalam bentuk terjadi resistensi
progesteron di endometrium ektopik. Peran keseimbangan kerja mitotik
dan proliferasi estrogen di endometrium oleh progesteron pada fase sekresi
siklus haid tidak terjadi di jaringan endometriosis dan aktivitas proliferasi
meningkat di endometrium eutopik pada fase sekresi perempuan penderita
endometriosis. Telah dibuktikan bahwa pada jaringan endometriosis terdapat
ekspresi reseptor progesteron yang rendah dan berfungsi abnormal sehingga
terjadi resistensi progesteron (15,16).
Aspek molekuler yang mendasari resistensi progesteron di endometriosis
adalah penurunan secara general kadar reseptor progesteron (RP) terutama
berkurangnya isoform RP-B sehingga menyebabkan sinyal parakrin
menghilang. Telah dibuktikan bahwa mekanisme transkripsi dan epigenetik
berupa hipermetilasi pada regio promoter RP-B berkontribusi pada proses
resistensi progesteron.
Jaringan endometriosis tidak mampu mengaktivasi enzim 17 β-HSD
tipe 2 karena terdapat “down-regulation” RP-B sehingga gagal melakukan
metabolisme estradiol menjadi estron yang lebih tidak poten. Konsekuensi
adalah pasien akan terpapar dengan Estradiol kadar tinggi terus-menerus.
Pemahaman terhadap mekanisme molekuler yang mendasari defisiensi
RP-B menjadi salah satu pemikiran penting pada patogenesis endometriosis
(15,17).
Konsep resistensi progesteron pada endometriosis melibatkan ekspresi
abnormal reseptor estrogen (RE) α dan reseptor estrogen (RE) β yang
berdampak pada penurunan ekspresi reseptor progesteron (RP). Suatu
mekanisme kompleks yang melibatkan regulasi promoter pada gen reseptor
estrogen bertanggung jawab terhadap keadaan patologis di stroma jaringan
endometriosis tersebut. Berbeda dengan kejadian di jaringan endometrium
normal, di jaringan endometriosis terjadi hipometilasi CpG island pada regio
promoter gen REβ. Selanjutnya daerah hipometilasi tersebut diduduki oleh
ENDOMETRIOSIS14
enzim 17β-HSD tipe 2 akan melakukan inaktivasi estradiol dengan cara
mengkonversi menjadi estron yang lebih tidak poten.
Berbeda dengan kejadian di jaringan endometriosis, yaitu terdapat
penurunan ekspresi enzim 17 β-HSD tipe 2 yang berakibat tidak mampu
melakukan konversi E2 ke E1 seperti pada siklus normal sehingga kadar
estradiol yang poten tetap tinggi pada jaringan endometriosis. Keadaan ini
karena terjadi resistensi progesteron di jaringan endometriosis. (16).
Bagaimana dengan peran progesteron? Seperti diketahui pada siklus
haid normal progesteron berfungsi untuk mengibangi peran proliferasi
estrogen di endometrium eutopik. Timbul pemikiran bahwa keterkaitan
progesteron dengan patogenesis endometriosis dalam bentuk terjadi resistensi
progesteron di endometrium ektopik. Peran keseimbangan kerja mitotik
dan proliferasi estrogen di endometrium oleh progesteron pada fase sekresi
siklus haid tidak terjadi di jaringan endometriosis dan aktivitas proliferasi
meningkat di endometrium eutopik pada fase sekresi perempuan penderita
endometriosis. Telah dibuktikan bahwa pada jaringan endometriosis terdapat
ekspresi reseptor progesteron yang rendah dan berfungsi abnormal sehingga
terjadi resistensi progesteron (15,16).
Aspek molekuler yang mendasari resistensi progesteron di endometriosis
adalah penurunan secara general kadar reseptor progesteron (RP) terutama
berkurangnya isoform RP-B sehingga menyebabkan sinyal parakrin
menghilang. Telah dibuktikan bahwa mekanisme transkripsi dan epigenetik
berupa hipermetilasi pada regio promoter RP-B berkontribusi pada proses
resistensi progesteron.
Jaringan endometriosis tidak mampu mengaktivasi enzim 17 β-HSD
tipe 2 karena terdapat “down-regulation” RP-B sehingga gagal melakukan
metabolisme estradiol menjadi estron yang lebih tidak poten. Konsekuensi
adalah pasien akan terpapar dengan Estradiol kadar tinggi terus-menerus.
Pemahaman terhadap mekanisme molekuler yang mendasari defisiensi
RP-B menjadi salah satu pemikiran penting pada patogenesis endometriosis
(15,17).
Konsep resistensi progesteron pada endometriosis melibatkan ekspresi
abnormal reseptor estrogen (RE) α dan reseptor estrogen (RE) β yang
berdampak pada penurunan ekspresi reseptor progesteron (RP). Suatu
mekanisme kompleks yang melibatkan regulasi promoter pada gen reseptor
estrogen bertanggung jawab terhadap keadaan patologis di stroma jaringan
endometriosis tersebut. Berbeda dengan kejadian di jaringan endometrium
normal, di jaringan endometriosis terjadi hipometilasi CpG island pada regio
promoter gen REβ. Selanjutnya daerah hipometilasi tersebut diduduki oleh
15Bab 4 Patogenesis
coactivator (Co-Act) berupa enhancer transcriptional complex, kemudian
akan mengaktivasi ekspresi RE b. Peningkatan ekpresi RE b akan menekan
ekspresi REa yang selanjutnya membuat terjadi penurunan ratio REa : REb.
Kondisi rasio REa : REb yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
memicu pergeseran dari estradiol stimulasi menjadi estradiol inhibisi ke
ekspresi reseptor progesteron.
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron. (A) Terjadi hipometilasi CpG island di regio
promoter gen REb di stroma jaringan endometriosis sehingga terjadi aktivasi dan peningkatan
ekspresi REb. (B) Peningkatan REb akan menekan REa. (C) Rasio REa: REb yang rendah akan
memicu inhibisi RP-B (17).
15Bab 4 Patogenesis
coactivator (Co-Act) berupa enhancer transcriptional complex, kemudian
akan mengaktivasi ekspresi RE b. Peningkatan ekpresi RE b akan menekan
ekspresi REa yang selanjutnya membuat terjadi penurunan ratio REa : REb.
Kondisi rasio REa : REb yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
memicu pergeseran dari estradiol stimulasi menjadi estradiol inhibisi ke
ekspresi reseptor progesteron.
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron. (A) Terjadi hipometilasi CpG island di regio
promoter gen REb di stroma jaringan endometriosis sehingga terjadi aktivasi dan peningkatan
ekspresi REb. (B) Peningkatan REb akan menekan REa. (C) Rasio REa: REb yang rendah akan
memicu inhibisi RP-B (17).
15Bab 4 Patogenesis
coactivator (Co-Act) berupa enhancer transcriptional complex, kemudian
akan mengaktivasi ekspresi RE b. Peningkatan ekpresi RE b akan menekan
ekspresi REa yang selanjutnya membuat terjadi penurunan ratio REa : REb.
Kondisi rasio REa : REb yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
memicu pergeseran dari estradiol stimulasi menjadi estradiol inhibisi ke
ekspresi reseptor progesteron.
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron. (A) Terjadi hipometilasi CpG island di regio
promoter gen REb di stroma jaringan endometriosis sehingga terjadi aktivasi dan peningkatan
ekspresi REb. (B) Peningkatan REb akan menekan REa. (C) Rasio REa: REb yang rendah akan
memicu inhibisi RP-B (17).
15Bab 4 Patogenesis
coactivator (Co-Act) berupa enhancer transcriptional complex, kemudian
akan mengaktivasi ekspresi RE b. Peningkatan ekpresi RE b akan menekan
ekspresi REa yang selanjutnya membuat terjadi penurunan ratio REa : REb.
Kondisi rasio REa : REb yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
memicu pergeseran dari estradiol stimulasi menjadi estradiol inhibisi ke
ekspresi reseptor progesteron.
Gambar 4.4 Teori hormon resistensi progesteron. (A) Terjadi hipometilasi CpG island di regio
promoter gen REb di stroma jaringan endometriosis sehingga terjadi aktivasi dan peningkatan
ekspresi REb. (B) Peningkatan REb akan menekan REa. (C) Rasio REa: REb yang rendah akan
memicu inhibisi RP-B (17).
ENDOMETRIOSIS16
Mekanisme ini yang menjadi jawaban etiologi penurunan RP-B di
stroma jaringan endometriosis yang berkontribusi pada patogenesis resistensi
progesteron pada perempuan dengan endometriosis (17).
Ekspresi RP -B yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
mengganggu interaksi epitel-stroma normal sehingga sel epitel akan rusak
dan selanjutnya terjadi defisiensi enzin 17β-HSD tipe 2 dan pada gilirannya
terjadi resistensi progesteron.
TEORI INFLAMASI DAN STRES OKSIDATIF
Beberapa studi membuktikan telah terjadi peningkatan penanda inflamasi
di serum dan zalir peritoneum perempuan penderita endometriosis. Selain
itu, keluhan nyeri pada penderita endometriosis dapat berkurang dengan
pemberian obat nonsteroid antiinflamasi. Bukti diatas mendukung inflamasi
kronis terlibat pada patogenesis endometriosis (16,18). Di zalir peritoneum
perempuan dengan endometriosis ditemukan banyak makrofag aktif dan
sejumlah sitokin. Suatu protein mirip haptoglobin ditemukan berikatan
dengan makrofag di zalir peritoneum sehingga membuat makrofag tersebut
kehilangan kemampuan fagositosis dan justru akan mengeluarkan beberapa
sitokin pro-inflamasi, yaitu interleukin (IL)-6, macrophage migration inhibitory
factor (MIF), TNF-α, IL-1β, IL-8, regulated on activation normal T expressed
and secreted (RANTES) dan monocyte chemotactic protein (MCP)-1. Di
jaringan endometriosis TNF- α memicu sel endometriosis memproduksi
prostaglandin (PG)F2α dan PGE2, sedangkan makrofag di zalir peritoneum
juga mensekresi enzim cyclo-oxigenase (COX)-2 yang memproduksi PGE2
dan selanjutnya akan mengaktivasi steroidogenic acute regulatory protein dan
aromatase. Aktivasi PGE2 akan menyebabkan terjadi peningkatan estradiol
lokal di jaringan endometriosis. Mekanisme di atas yang mendasari interaksi
estrogen-dependent dengan proses inflamasi di endometriosis (15).
Selain itu patogenesis endometriosis juga terkait dengan oksidasi
lipoprotein dan selanjutnya Reactive Oxygen Species (ROS) akan
menyebabkan peroksidasi lipid yang mengakibatkan kerusakan DNA sel
endometrium (12). Volume zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
meningkat lebih tinggi dari normal yang ditandai dengan peningkatan air dan
elektolit sebagai sumber ROS (18).
ROS akan menyebabkan terjadi pelepasan produk pro inflamasi dan stres
oksidatif sehingga menimbulkan reaksi inflamasi, selanjutnya mengakibatkan
penumpukan limfosit dan makrofag yang kaya dengan produksi sitokin.
ENDOMETRIOSIS16
Mekanisme ini yang menjadi jawaban etiologi penurunan RP-B di
stroma jaringan endometriosis yang berkontribusi pada patogenesis resistensi
progesteron pada perempuan dengan endometriosis (17).
Ekspresi RP -B yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
mengganggu interaksi epitel-stroma normal sehingga sel epitel akan rusak
dan selanjutnya terjadi defisiensi enzin 17β-HSD tipe 2 dan pada gilirannya
terjadi resistensi progesteron.
TEORI INFLAMASI DAN STRES OKSIDATIF
Beberapa studi membuktikan telah terjadi peningkatan penanda inflamasi
di serum dan zalir peritoneum perempuan penderita endometriosis. Selain
itu, keluhan nyeri pada penderita endometriosis dapat berkurang dengan
pemberian obat nonsteroid antiinflamasi. Bukti diatas mendukung inflamasi
kronis terlibat pada patogenesis endometriosis (16,18). Di zalir peritoneum
perempuan dengan endometriosis ditemukan banyak makrofag aktif dan
sejumlah sitokin. Suatu protein mirip haptoglobin ditemukan berikatan
dengan makrofag di zalir peritoneum sehingga membuat makrofag tersebut
kehilangan kemampuan fagositosis dan justru akan mengeluarkan beberapa
sitokin pro-inflamasi, yaitu interleukin (IL)-6, macrophage migration inhibitory
factor (MIF), TNF-α, IL-1β, IL-8, regulated on activation normal T expressed
and secreted (RANTES) dan monocyte chemotactic protein (MCP)-1. Di
jaringan endometriosis TNF- α memicu sel endometriosis memproduksi
prostaglandin (PG)F2α dan PGE2, sedangkan makrofag di zalir peritoneum
juga mensekresi enzim cyclo-oxigenase (COX)-2 yang memproduksi PGE2
dan selanjutnya akan mengaktivasi steroidogenic acute regulatory protein dan
aromatase. Aktivasi PGE2 akan menyebabkan terjadi peningkatan estradiol
lokal di jaringan endometriosis. Mekanisme di atas yang mendasari interaksi
estrogen-dependent dengan proses inflamasi di endometriosis (15).
Selain itu patogenesis endometriosis juga terkait dengan oksidasi
lipoprotein dan selanjutnya Reactive Oxygen Species (ROS) akan
menyebabkan peroksidasi lipid yang mengakibatkan kerusakan DNA sel
endometrium (12). Volume zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
meningkat lebih tinggi dari normal yang ditandai dengan peningkatan air dan
elektolit sebagai sumber ROS (18).
ROS akan menyebabkan terjadi pelepasan produk pro inflamasi dan stres
oksidatif sehingga menimbulkan reaksi inflamasi, selanjutnya mengakibatkan
penumpukan limfosit dan makrofag yang kaya dengan produksi sitokin.
ENDOMETRIOSIS16
Mekanisme ini yang menjadi jawaban etiologi penurunan RP-B di
stroma jaringan endometriosis yang berkontribusi pada patogenesis resistensi
progesteron pada perempuan dengan endometriosis (17).
Ekspresi RP -B yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
mengganggu interaksi epitel-stroma normal sehingga sel epitel akan rusak
dan selanjutnya terjadi defisiensi enzin 17β-HSD tipe 2 dan pada gilirannya
terjadi resistensi progesteron.
TEORI INFLAMASI DAN STRES OKSIDATIF
Beberapa studi membuktikan telah terjadi peningkatan penanda inflamasi
di serum dan zalir peritoneum perempuan penderita endometriosis. Selain
itu, keluhan nyeri pada penderita endometriosis dapat berkurang dengan
pemberian obat nonsteroid antiinflamasi. Bukti diatas mendukung inflamasi
kronis terlibat pada patogenesis endometriosis (16,18). Di zalir peritoneum
perempuan dengan endometriosis ditemukan banyak makrofag aktif dan
sejumlah sitokin. Suatu protein mirip haptoglobin ditemukan berikatan
dengan makrofag di zalir peritoneum sehingga membuat makrofag tersebut
kehilangan kemampuan fagositosis dan justru akan mengeluarkan beberapa
sitokin pro-inflamasi, yaitu interleukin (IL)-6, macrophage migration inhibitory
factor (MIF), TNF-α, IL-1β, IL-8, regulated on activation normal T expressed
and secreted (RANTES) dan monocyte chemotactic protein (MCP)-1. Di
jaringan endometriosis TNF- α memicu sel endometriosis memproduksi
prostaglandin (PG)F2α dan PGE2, sedangkan makrofag di zalir peritoneum
juga mensekresi enzim cyclo-oxigenase (COX)-2 yang memproduksi PGE2
dan selanjutnya akan mengaktivasi steroidogenic acute regulatory protein dan
aromatase. Aktivasi PGE2 akan menyebabkan terjadi peningkatan estradiol
lokal di jaringan endometriosis. Mekanisme di atas yang mendasari interaksi
estrogen-dependent dengan proses inflamasi di endometriosis (15).
Selain itu patogenesis endometriosis juga terkait dengan oksidasi
lipoprotein dan selanjutnya Reactive Oxygen Species (ROS) akan
menyebabkan peroksidasi lipid yang mengakibatkan kerusakan DNA sel
endometrium (12). Volume zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
meningkat lebih tinggi dari normal yang ditandai dengan peningkatan air dan
elektolit sebagai sumber ROS (18).
ROS akan menyebabkan terjadi pelepasan produk pro inflamasi dan stres
oksidatif sehingga menimbulkan reaksi inflamasi, selanjutnya mengakibatkan
penumpukan limfosit dan makrofag yang kaya dengan produksi sitokin.
ENDOMETRIOSIS16
Mekanisme ini yang menjadi jawaban etiologi penurunan RP-B di
stroma jaringan endometriosis yang berkontribusi pada patogenesis resistensi
progesteron pada perempuan dengan endometriosis (17).
Ekspresi RP -B yang rendah di stroma jaringan endometriosis akan
mengganggu interaksi epitel-stroma normal sehingga sel epitel akan rusak
dan selanjutnya terjadi defisiensi enzin 17β-HSD tipe 2 dan pada gilirannya
terjadi resistensi progesteron.
TEORI INFLAMASI DAN STRES OKSIDATIF
Beberapa studi membuktikan telah terjadi peningkatan penanda inflamasi
di serum dan zalir peritoneum perempuan penderita endometriosis. Selain
itu, keluhan nyeri pada penderita endometriosis dapat berkurang dengan
pemberian obat nonsteroid antiinflamasi. Bukti diatas mendukung inflamasi
kronis terlibat pada patogenesis endometriosis (16,18). Di zalir peritoneum
perempuan dengan endometriosis ditemukan banyak makrofag aktif dan
sejumlah sitokin. Suatu protein mirip haptoglobin ditemukan berikatan
dengan makrofag di zalir peritoneum sehingga membuat makrofag tersebut
kehilangan kemampuan fagositosis dan justru akan mengeluarkan beberapa
sitokin pro-inflamasi, yaitu interleukin (IL)-6, macrophage migration inhibitory
factor (MIF), TNF-α, IL-1β, IL-8, regulated on activation normal T expressed
and secreted (RANTES) dan monocyte chemotactic protein (MCP)-1. Di
jaringan endometriosis TNF- α memicu sel endometriosis memproduksi
prostaglandin (PG)F2α dan PGE2, sedangkan makrofag di zalir peritoneum
juga mensekresi enzim cyclo-oxigenase (COX)-2 yang memproduksi PGE2
dan selanjutnya akan mengaktivasi steroidogenic acute regulatory protein dan
aromatase. Aktivasi PGE2 akan menyebabkan terjadi peningkatan estradiol
lokal di jaringan endometriosis. Mekanisme di atas yang mendasari interaksi
estrogen-dependent dengan proses inflamasi di endometriosis (15).
Selain itu patogenesis endometriosis juga terkait dengan oksidasi
lipoprotein dan selanjutnya Reactive Oxygen Species (ROS) akan
menyebabkan peroksidasi lipid yang mengakibatkan kerusakan DNA sel
endometrium (12). Volume zalir peritoneum perempuan dengan endometriosis
meningkat lebih tinggi dari normal yang ditandai dengan peningkatan air dan
elektolit sebagai sumber ROS (18).
ROS akan menyebabkan terjadi pelepasan produk pro inflamasi dan stres
oksidatif sehingga menimbulkan reaksi inflamasi, selanjutnya mengakibatkan
penumpukan limfosit dan makrofag yang kaya dengan produksi sitokin.
17Bab 4 Patogenesis
Beberapa sitokin tersebut akan menginduksi oksidasi enzim dan mempromosi
pertumbuhan sel endotel. Akumulasi ROS berkontribusi pada perkembangan
penyakit endometriosis beserta keluhannya (12).
Teori defek sisTem imun
Kemampuan jaringan endometrium untuk mampu bertahan hidup di
lokasi ektopik diduga berhubungan dengan respons imun penderita yang
abnormal. Sampai sekarang belum diketahui imunitas abnormal ini sebagai
sebab atau akibat kejadian endometriosis (19). Telah diketahui terjadi
perubahan imunitas seluler maupun humoral pada penderita endometriosis
sehingga respons imun yang abnormal ini akan menghasilkan eleminasi
yang tidak efektif terhadap debris-debris aliran balik darah haid. Kondisi ini
menjadi faktor penyebab perkembangan penyakit endometriosis (7).
Regurgitasi jaringan endometrium kedalam rongga peritoneum
memicu respon inflamasi sehingga menyebakan penumpukan makrofag
dan leukosit lokal. Pada penderita endometriosis makrofag peritoneum akan
teraktivasi, sedangkan sel NK akan terepresi karena ada perubahan ekspresi
Gambar 4.5 Teori inflamasi pada patogenesis endometriosis. Makrofag di zalir peritoneum
menjadi aktif dan memproduksi berbagai sitokin proinflamasi untuk menstimuli lingkungan
mikro yang ideal bagi pertumbuhan jaringan endometriosis.
17Bab 4 Patogenesis
Beberapa sitokin tersebut akan menginduksi oksidasi enzim dan mempromosi
pertumbuhan sel endotel. Akumulasi ROS berkontribusi pada perkembangan
penyakit endometriosis beserta keluhannya (12).
Teori defek sisTem imun
Kemampuan jaringan endometrium untuk mampu bertahan hidup di
lokasi ektopik diduga berhubungan dengan respons imun penderita yang
abnormal. Sampai sekarang belum diketahui imunitas abnormal ini sebagai
sebab atau akibat kejadian endometriosis (19). Telah diketahui terjadi
perubahan imunitas seluler maupun humoral pada penderita endometriosis
sehingga respons imun yang abnormal ini akan menghasilkan eleminasi
yang tidak efektif terhadap debris-debris aliran balik darah haid. Kondisi ini
menjadi faktor penyebab perkembangan penyakit endometriosis (7).
Regurgitasi jaringan endometrium kedalam rongga peritoneum
memicu respon inflamasi sehingga menyebakan penumpukan makrofag
dan leukosit lokal. Pada penderita endometriosis makrofag peritoneum akan
teraktivasi, sedangkan sel NK akan terepresi karena ada perubahan ekspresi
Gambar 4.5 Teori inflamasi pada patogenesis endometriosis. Makrofag di zalir peritoneum
menjadi aktif dan memproduksi berbagai sitokin proinflamasi untuk menstimuli lingkungan
mikro yang ideal bagi pertumbuhan jaringan endometriosis.
17Bab 4 Patogenesis
Beberapa sitokin tersebut akan menginduksi oksidasi enzim dan mempromosi
pertumbuhan sel endotel. Akumulasi ROS berkontribusi pada perkembangan
penyakit endometriosis beserta keluhannya (12).
Teori defek sisTem imun
Kemampuan jaringan endometrium untuk mampu bertahan hidup di
lokasi ektopik diduga berhubungan dengan respons imun penderita yang
abnormal. Sampai sekarang belum diketahui imunitas abnormal ini sebagai
sebab atau akibat kejadian endometriosis (19). Telah diketahui terjadi
perubahan imunitas seluler maupun humoral pada penderita endometriosis
sehingga respons imun yang abnormal ini akan menghasilkan eleminasi
yang tidak efektif terhadap debris-debris aliran balik darah haid. Kondisi ini
menjadi faktor penyebab perkembangan penyakit endometriosis (7).
Regurgitasi jaringan endometrium kedalam rongga peritoneum
memicu respon inflamasi sehingga menyebakan penumpukan makrofag
dan leukosit lokal. Pada penderita endometriosis makrofag peritoneum akan
teraktivasi, sedangkan sel NK akan terepresi karena ada perubahan ekspresi
Gambar 4.5 Teori inflamasi pada patogenesis endometriosis. Makrofag di zalir peritoneum
menjadi aktif dan memproduksi berbagai sitokin proinflamasi untuk menstimuli lingkungan
mikro yang ideal bagi pertumbuhan jaringan endometriosis.
17Bab 4 Patogenesis
Beberapa sitokin tersebut akan menginduksi oksidasi enzim dan mempromosi
pertumbuhan sel endotel. Akumulasi ROS berkontribusi pada perkembangan
penyakit endometriosis beserta keluhannya (12).
Teori defek sisTem imun
Kemampuan jaringan endometrium untuk mampu bertahan hidup di
lokasi ektopik diduga berhubungan dengan respons imun penderita yang
abnormal. Sampai sekarang belum diketahui imunitas abnormal ini sebagai
sebab atau akibat kejadian endometriosis (19). Telah diketahui terjadi
perubahan imunitas seluler maupun humoral pada penderita endometriosis
sehingga respons imun yang abnormal ini akan menghasilkan eleminasi
yang tidak efektif terhadap debris-debris aliran balik darah haid. Kondisi ini
menjadi faktor penyebab perkembangan penyakit endometriosis (7).
Regurgitasi jaringan endometrium kedalam rongga peritoneum
memicu respon inflamasi sehingga menyebakan penumpukan makrofag
dan leukosit lokal. Pada penderita endometriosis makrofag peritoneum akan
teraktivasi, sedangkan sel NK akan terepresi karena ada perubahan ekspresi
Gambar 4.5 Teori inflamasi pada patogenesis endometriosis. Makrofag di zalir peritoneum
menjadi aktif dan memproduksi berbagai sitokin proinflamasi untuk menstimuli lingkungan
mikro yang ideal bagi pertumbuhan jaringan endometriosis.
ENDOMETRIOSIS18
reseptor killer. Keadaan ini menyebabkan penyakit endometriosis menjadi
berkembang melalui peningkatan produksi sitokin dan faktor pertumbuhan
yang menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan penghambatan fungsi
scavenger (20).
Respons inflamasi pada endometriosis akan menyebabkan defek
imunsurveilen sehingga menghambat eliminasi debris darah haid dan
memicu implantasi serta pertumbuhan sel endometrium di lokasi ektopik.
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. (A) Pada perempuan dengan endometriosis aktivitas
sitotoksik sel NK terrepresi (B) Sistem imunsurveilen tidak mampu mengenali sel endometriosis
karena terjadi peningkatan ekspresi sICAM-1 sehingga tidak terjadi interaksi LFA-1/ICAM-1
A
B
ENDOMETRIOSIS18
reseptor killer. Keadaan ini menyebabkan penyakit endometriosis menjadi
berkembang melalui peningkatan produksi sitokin dan faktor pertumbuhan
yang menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan penghambatan fungsi
scavenger (20).
Respons inflamasi pada endometriosis akan menyebabkan defek
imunsurveilen sehingga menghambat eliminasi debris darah haid dan
memicu implantasi serta pertumbuhan sel endometrium di lokasi ektopik.
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. (A) Pada perempuan dengan endometriosis aktivitas
sitotoksik sel NK terrepresi (B) Sistem imunsurveilen tidak mampu mengenali sel endometriosis
karena terjadi peningkatan ekspresi sICAM-1 sehingga tidak terjadi interaksi LFA-1/ICAM-1
A
B
ENDOMETRIOSIS18
reseptor killer. Keadaan ini menyebabkan penyakit endometriosis menjadi
berkembang melalui peningkatan produksi sitokin dan faktor pertumbuhan
yang menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan penghambatan fungsi
scavenger (20).
Respons inflamasi pada endometriosis akan menyebabkan defek
imunsurveilen sehingga menghambat eliminasi debris darah haid dan
memicu implantasi serta pertumbuhan sel endometrium di lokasi ektopik.
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. (A) Pada perempuan dengan endometriosis aktivitas
sitotoksik sel NK terrepresi (B) Sistem imunsurveilen tidak mampu mengenali sel endometriosis
karena terjadi peningkatan ekspresi sICAM-1 sehingga tidak terjadi interaksi LFA-1/ICAM-1
A
B
ENDOMETRIOSIS18
reseptor killer. Keadaan ini menyebabkan penyakit endometriosis menjadi
berkembang melalui peningkatan produksi sitokin dan faktor pertumbuhan
yang menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan penghambatan fungsi
scavenger (20).
Respons inflamasi pada endometriosis akan menyebabkan defek
imunsurveilen sehingga menghambat eliminasi debris darah haid dan
memicu implantasi serta pertumbuhan sel endometrium di lokasi ektopik.
Gambar 4.6 Teori defek sistem imun. (A) Pada perempuan dengan endometriosis aktivitas
sitotoksik sel NK terrepresi (B) Sistem imunsurveilen tidak mampu mengenali sel endometriosis
karena terjadi peningkatan ekspresi sICAM-1 sehingga tidak terjadi interaksi LFA-1/ICAM-1
A
B
19Bab 4 Patogenesis
Selain itu salah satu konsep menarik pada patogenesis endometriosis adalah
sel endometriotik ektopik mempunyai kemampuan menghindar terhadap
sistem imunosurveilen tubuh. Hal ini diterangkan dengan adanya ICAM-1
(intercelluler adhesion molecule-1) yang akan membangkitkan reseptor soluble
dan akan mengikat ligand leukosit serta berkompetisi dengan kemampuan
leukosit berpartisipasi pada interaksi sel-sel homotipik dan heterotipik. Pada
beberapa penelitian didapatkan ekspresi sICAM-1 mRNA dan protein yang
meningkat pada kultur sel endometriotik (20,21).
TEORI GENETIK
Dasar teori genetik pada patogenesis endometriosis adalah laporan
terkait agregasi famili dan risiko tinggi pada first degree relative serta kejadian
endometriosis pada saudara kembar. Dengan menggunakan linkage analysis
beberapa candidate genes yang mempunyai potensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis telah ditemukan. Beberapa gen tersebut
antara lain gen yang mengkode detoksifikasi enzim, polimorfisme reseptor
estrogen dan gen yang berhubungan dengan sistem imun tubuh. Polimorfisme
komponen reseptor dioksin bersama-sama dengan gen terkait detoksifikasi
berkontribusi pada kejadian endometriosis tingkat lanjut (12,18).
Endometriosis adalah penyakit yang sangat tergantung dengan hormon
estrogen. Sangat mungkin bahwa variasi genetik yang menghasilkan
peningkatan pengaruh estrogen pada lesi endometriosis akan memengaruhi
perkembangan endometriosis.
Telah terbukti bahwa perempuan dengan polimorfisme RE α allele
mempunyai prognosis buruk dibandingkan dengan perempuan dengan
wild-type genotype. Kondisi ini menunjukkan bahwa polimorfisme gen RE α
merupakan faktor risiko genetik untuk endometriosis dan terkait dengan
kekambuhan endometriosis (16). Selain itu polimorfisme gen yang mengkode
sitokin dan protein imunomodulator berimplikasi juga pada patogenesis
endometriosis. Predisposisi genetik ternyata meningkatkan kejadian
kerusakan seluler, misal mutasi genetik dapat menyebabkan kerusakan sel
yang berimplikasi pada progresivitas endometriosis. Hal ini tampak pada
penderita endometriosis berupa perubahan perilaku sel endometrium yang
memungkinkan dapat tumbuh di lingkungan ekstrauteri (12).
Genomewide association studies terakhir telah mengidentifikasi lokus
baru untuk endometriosis. Secara kolektif data tersebut menunjukkan bahwa
19Bab 4 Patogenesis
Selain itu salah satu konsep menarik pada patogenesis endometriosis adalah
sel endometriotik ektopik mempunyai kemampuan menghindar terhadap
sistem imunosurveilen tubuh. Hal ini diterangkan dengan adanya ICAM-1
(intercelluler adhesion molecule-1) yang akan membangkitkan reseptor soluble
dan akan mengikat ligand leukosit serta berkompetisi dengan kemampuan
leukosit berpartisipasi pada interaksi sel-sel homotipik dan heterotipik. Pada
beberapa penelitian didapatkan ekspresi sICAM-1 mRNA dan protein yang
meningkat pada kultur sel endometriotik (20,21).
TEORI GENETIK
Dasar teori genetik pada patogenesis endometriosis adalah laporan
terkait agregasi famili dan risiko tinggi pada first degree relative serta kejadian
endometriosis pada saudara kembar. Dengan menggunakan linkage analysis
beberapa candidate genes yang mempunyai potensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis telah ditemukan. Beberapa gen tersebut
antara lain gen yang mengkode detoksifikasi enzim, polimorfisme reseptor
estrogen dan gen yang berhubungan dengan sistem imun tubuh. Polimorfisme
komponen reseptor dioksin bersama-sama dengan gen terkait detoksifikasi
berkontribusi pada kejadian endometriosis tingkat lanjut (12,18).
Endometriosis adalah penyakit yang sangat tergantung dengan hormon
estrogen. Sangat mungkin bahwa variasi genetik yang menghasilkan
peningkatan pengaruh estrogen pada lesi endometriosis akan memengaruhi
perkembangan endometriosis.
Telah terbukti bahwa perempuan dengan polimorfisme RE α allele
mempunyai prognosis buruk dibandingkan dengan perempuan dengan
wild-type genotype. Kondisi ini menunjukkan bahwa polimorfisme gen RE α
merupakan faktor risiko genetik untuk endometriosis dan terkait dengan
kekambuhan endometriosis (16). Selain itu polimorfisme gen yang mengkode
sitokin dan protein imunomodulator berimplikasi juga pada patogenesis
endometriosis. Predisposisi genetik ternyata meningkatkan kejadian
kerusakan seluler, misal mutasi genetik dapat menyebabkan kerusakan sel
yang berimplikasi pada progresivitas endometriosis. Hal ini tampak pada
penderita endometriosis berupa perubahan perilaku sel endometrium yang
memungkinkan dapat tumbuh di lingkungan ekstrauteri (12).
Genomewide association studies terakhir telah mengidentifikasi lokus
baru untuk endometriosis. Secara kolektif data tersebut menunjukkan bahwa
19Bab 4 Patogenesis
Selain itu salah satu konsep menarik pada patogenesis endometriosis adalah
sel endometriotik ektopik mempunyai kemampuan menghindar terhadap
sistem imunosurveilen tubuh. Hal ini diterangkan dengan adanya ICAM-1
(intercelluler adhesion molecule-1) yang akan membangkitkan reseptor soluble
dan akan mengikat ligand leukosit serta berkompetisi dengan kemampuan
leukosit berpartisipasi pada interaksi sel-sel homotipik dan heterotipik. Pada
beberapa penelitian didapatkan ekspresi sICAM-1 mRNA dan protein yang
meningkat pada kultur sel endometriotik (20,21).
TEORI GENETIK
Dasar teori genetik pada patogenesis endometriosis adalah laporan
terkait agregasi famili dan risiko tinggi pada first degree relative serta kejadian
endometriosis pada saudara kembar. Dengan menggunakan linkage analysis
beberapa candidate genes yang mempunyai potensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis telah ditemukan. Beberapa gen tersebut
antara lain gen yang mengkode detoksifikasi enzim, polimorfisme reseptor
estrogen dan gen yang berhubungan dengan sistem imun tubuh. Polimorfisme
komponen reseptor dioksin bersama-sama dengan gen terkait detoksifikasi
berkontribusi pada kejadian endometriosis tingkat lanjut (12,18).
Endometriosis adalah penyakit yang sangat tergantung dengan hormon
estrogen. Sangat mungkin bahwa variasi genetik yang menghasilkan
peningkatan pengaruh estrogen pada lesi endometriosis akan memengaruhi
perkembangan endometriosis.
Telah terbukti bahwa perempuan dengan polimorfisme RE α allele
mempunyai prognosis buruk dibandingkan dengan perempuan dengan
wild-type genotype. Kondisi ini menunjukkan bahwa polimorfisme gen RE α
merupakan faktor risiko genetik untuk endometriosis dan terkait dengan
kekambuhan endometriosis (16). Selain itu polimorfisme gen yang mengkode
sitokin dan protein imunomodulator berimplikasi juga pada patogenesis
endometriosis. Predisposisi genetik ternyata meningkatkan kejadian
kerusakan seluler, misal mutasi genetik dapat menyebabkan kerusakan sel
yang berimplikasi pada progresivitas endometriosis. Hal ini tampak pada
penderita endometriosis berupa perubahan perilaku sel endometrium yang
memungkinkan dapat tumbuh di lingkungan ekstrauteri (12).
Genomewide association studies terakhir telah mengidentifikasi lokus
baru untuk endometriosis. Secara kolektif data tersebut menunjukkan bahwa
19Bab 4 Patogenesis
Selain itu salah satu konsep menarik pada patogenesis endometriosis adalah
sel endometriotik ektopik mempunyai kemampuan menghindar terhadap
sistem imunosurveilen tubuh. Hal ini diterangkan dengan adanya ICAM-1
(intercelluler adhesion molecule-1) yang akan membangkitkan reseptor soluble
dan akan mengikat ligand leukosit serta berkompetisi dengan kemampuan
leukosit berpartisipasi pada interaksi sel-sel homotipik dan heterotipik. Pada
beberapa penelitian didapatkan ekspresi sICAM-1 mRNA dan protein yang
meningkat pada kultur sel endometriotik (20,21).
TEORI GENETIK
Dasar teori genetik pada patogenesis endometriosis adalah laporan
terkait agregasi famili dan risiko tinggi pada first degree relative serta kejadian
endometriosis pada saudara kembar. Dengan menggunakan linkage analysis
beberapa candidate genes yang mempunyai potensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis telah ditemukan. Beberapa gen tersebut
antara lain gen yang mengkode detoksifikasi enzim, polimorfisme reseptor
estrogen dan gen yang berhubungan dengan sistem imun tubuh. Polimorfisme
komponen reseptor dioksin bersama-sama dengan gen terkait detoksifikasi
berkontribusi pada kejadian endometriosis tingkat lanjut (12,18).
Endometriosis adalah penyakit yang sangat tergantung dengan hormon
estrogen. Sangat mungkin bahwa variasi genetik yang menghasilkan
peningkatan pengaruh estrogen pada lesi endometriosis akan memengaruhi
perkembangan endometriosis.
Telah terbukti bahwa perempuan dengan polimorfisme RE α allele
mempunyai prognosis buruk dibandingkan dengan perempuan dengan
wild-type genotype. Kondisi ini menunjukkan bahwa polimorfisme gen RE α
merupakan faktor risiko genetik untuk endometriosis dan terkait dengan
kekambuhan endometriosis (16). Selain itu polimorfisme gen yang mengkode
sitokin dan protein imunomodulator berimplikasi juga pada patogenesis
endometriosis. Predisposisi genetik ternyata meningkatkan kejadian
kerusakan seluler, misal mutasi genetik dapat menyebabkan kerusakan sel
yang berimplikasi pada progresivitas endometriosis. Hal ini tampak pada
penderita endometriosis berupa perubahan perilaku sel endometrium yang
memungkinkan dapat tumbuh di lingkungan ekstrauteri (12).
Genomewide association studies terakhir telah mengidentifikasi lokus
baru untuk endometriosis. Secara kolektif data tersebut menunjukkan bahwa
ENDOMETRIOSIS20
endometriosis dengan tipe berbeda berhubungan dengan perubahan kluster
gen berbeda yang meregulasi aberasi fungsi sel secara spesifik (12).
Teori sTem Cell
Sejak teori Sampson dikemukakan telah banyak pendapat maupun
teori lain dikembangkan, namun penjelasan etiologi dan patogenesis
endometriosis tetap belum tuntas dan penuh teka-teki. Saat ini dikemukakan
teori stem cell yang membuka wacana lanjut terkini untuk mengetahui etiologi
endometriosis.
Stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai
dua sifat, yaitu mampu berdiferensiasi menjadi sel lain dan mampu
memperbarui atau meregenerasi diri sendiri ( self renewal). Secara spesifik
telah diketahui eksistensi stem cell pada regenerasi endometrium setiap bulan
setelah haid dan pada reepitelialisasi endometrium pascapersalinan dan kuret.
Stem cell tersebut ditemukan berada pada lapisan basalis endometrium. Saat
ini sel klonogenik yang merupakan representasi populasi stem cell pada
Gambar 4.7 Teori stem cell pada endometriosis. Sel progenitor ( stem cell) yang berasal dari
lapisan basalis endometrium refluks ke peritoneum dan dengan stimulasi dari lingkungan
mikro misal: sitokin dan faktor pertumbuhan akan memicu fungsi stem cell yaitu sel renewal,
invasi dan diferensiasi. Sel progenitor bone marrow melalui sirkulasi hematogen dan limfatik
ikut berkontribusi pada patogenesis endometriosis.
ENDOMETRIOSIS20
endometriosis dengan tipe berbeda berhubungan dengan perubahan kluster
gen berbeda yang meregulasi aberasi fungsi sel secara spesifik (12).
Teori sTem Cell
Sejak teori Sampson dikemukakan telah banyak pendapat maupun
teori lain dikembangkan, namun penjelasan etiologi dan patogenesis
endometriosis tetap belum tuntas dan penuh teka-teki. Saat ini dikemukakan
teori stem cell yang membuka wacana lanjut terkini untuk mengetahui etiologi
endometriosis.
Stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai
dua sifat, yaitu mampu berdiferensiasi menjadi sel lain dan mampu
memperbarui atau meregenerasi diri sendiri ( self renewal). Secara spesifik
telah diketahui eksistensi stem cell pada regenerasi endometrium setiap bulan
setelah haid dan pada reepitelialisasi endometrium pascapersalinan dan kuret.
Stem cell tersebut ditemukan berada pada lapisan basalis endometrium. Saat
ini sel klonogenik yang merupakan representasi populasi stem cell pada
Gambar 4.7 Teori stem cell pada endometriosis. Sel progenitor ( stem cell) yang berasal dari
lapisan basalis endometrium refluks ke peritoneum dan dengan stimulasi dari lingkungan
mikro misal: sitokin dan faktor pertumbuhan akan memicu fungsi stem cell yaitu sel renewal,
invasi dan diferensiasi. Sel progenitor bone marrow melalui sirkulasi hematogen dan limfatik
ikut berkontribusi pada patogenesis endometriosis.
ENDOMETRIOSIS20
endometriosis dengan tipe berbeda berhubungan dengan perubahan kluster
gen berbeda yang meregulasi aberasi fungsi sel secara spesifik (12).
Teori sTem Cell
Sejak teori Sampson dikemukakan telah banyak pendapat maupun
teori lain dikembangkan, namun penjelasan etiologi dan patogenesis
endometriosis tetap belum tuntas dan penuh teka-teki. Saat ini dikemukakan
teori stem cell yang membuka wacana lanjut terkini untuk mengetahui etiologi
endometriosis.
Stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai
dua sifat, yaitu mampu berdiferensiasi menjadi sel lain dan mampu
memperbarui atau meregenerasi diri sendiri ( self renewal). Secara spesifik
telah diketahui eksistensi stem cell pada regenerasi endometrium setiap bulan
setelah haid dan pada reepitelialisasi endometrium pascapersalinan dan kuret.
Stem cell tersebut ditemukan berada pada lapisan basalis endometrium. Saat
ini sel klonogenik yang merupakan representasi populasi stem cell pada
Gambar 4.7 Teori stem cell pada endometriosis. Sel progenitor ( stem cell) yang berasal dari
lapisan basalis endometrium refluks ke peritoneum dan dengan stimulasi dari lingkungan
mikro misal: sitokin dan faktor pertumbuhan akan memicu fungsi stem cell yaitu sel renewal,
invasi dan diferensiasi. Sel progenitor bone marrow melalui sirkulasi hematogen dan limfatik
ikut berkontribusi pada patogenesis endometriosis.
ENDOMETRIOSIS20
endometriosis dengan tipe berbeda berhubungan dengan perubahan kluster
gen berbeda yang meregulasi aberasi fungsi sel secara spesifik (12).
Teori sTem Cell
Sejak teori Sampson dikemukakan telah banyak pendapat maupun
teori lain dikembangkan, namun penjelasan etiologi dan patogenesis
endometriosis tetap belum tuntas dan penuh teka-teki. Saat ini dikemukakan
teori stem cell yang membuka wacana lanjut terkini untuk mengetahui etiologi
endometriosis.
Stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai
dua sifat, yaitu mampu berdiferensiasi menjadi sel lain dan mampu
memperbarui atau meregenerasi diri sendiri ( self renewal). Secara spesifik
telah diketahui eksistensi stem cell pada regenerasi endometrium setiap bulan
setelah haid dan pada reepitelialisasi endometrium pascapersalinan dan kuret.
Stem cell tersebut ditemukan berada pada lapisan basalis endometrium. Saat
ini sel klonogenik yang merupakan representasi populasi stem cell pada
Gambar 4.7 Teori stem cell pada endometriosis. Sel progenitor ( stem cell) yang berasal dari
lapisan basalis endometrium refluks ke peritoneum dan dengan stimulasi dari lingkungan
mikro misal: sitokin dan faktor pertumbuhan akan memicu fungsi stem cell yaitu sel renewal,
invasi dan diferensiasi. Sel progenitor bone marrow melalui sirkulasi hematogen dan limfatik
ikut berkontribusi pada patogenesis endometriosis.
21Bab 4 Patogenesis
endometrium manusia telah diidentifikasi dan diduga kuat berkaitan dengan
tumbuhnya formasi jaringan endometrium ektopik (12, 22).
Teori kombinasi lebih bisa diterima untuk patogenesis endometriosis,
yaitu eksistensi stem cell endometrium pluripoten dan kontribusi bone
marrow sebagai sumber lain stem cell endometrium. Stem cell endometrium
yang lepas melalui saluran tuba falopii saat menstruasi bertanggung jawab
terhadap terjadinya implan endometriosis dan juga stem cell yang bersirkulasi
berasal dari bone marrow dapat mencapai rongga peritoneum ikut berperan
pada patogenesis endometriosis (22).
Observasi dilakukan pada hewan baboon yang dilakukan induksi
pemberian jaringan endometrium lapisan basalis yang kaya stem cell ternyata
menghasilkan 100% jaringan endometriosis pada seluruh hewan coba.
Lapisan basalis endometrium yang berisi stem cell /sel progenitor mampu
bertahan tetap hidup menjadi deposit endometriosis karena kemampuan
untuk regenerasi dibandingkan dengan sel endometrium lapisan fungsional
(10,20). Ternyata saat terjadi aliran balik darah haid perempuan penderita
endometriosis melepaskan lebih banyak lamina basalis dibandingkan
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis (12)
Teori Mekanisme
Aliran balik darah haid Aliran balik darah haid berisi jaringan endometrium
menuju rongga panggul sehingga terjadi implantasi
menjadi jaringan endometriosis
Metaplasia Transformasi sel-sel peritoneum menjadi jaringan
endometriosis melalui stimulasi faktor hormon dan
imunologi
Hormon Proliferasi jaringan endometriosis distimulasi oleh
hormon estrogen dan dikontrol oleh resistensi
progesteron
Inflamasi dan stres
oksidatif
Produksi sel imun dan beberapa sitokin mempromosi
pertumbuhan jaringan endometriosis
Defek sistem imun Menghambat eliminasi debris menstruasi dan
mempromosi pertumbuhan dan implantasi jaringan
endometriosis
Genetik Penyakit poligenik/multifaktor melibatkan beberapa
gen kandidat yang berpotensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis
Stem cell Inisiasi deposit jaringan endometriosis oleh sel-sel
yang belum berdiferensiasi dengan kemampuan
melakukan regenerasi
21Bab 4 Patogenesis
endometrium manusia telah diidentifikasi dan diduga kuat berkaitan dengan
tumbuhnya formasi jaringan endometrium ektopik (12, 22).
Teori kombinasi lebih bisa diterima untuk patogenesis endometriosis,
yaitu eksistensi stem cell endometrium pluripoten dan kontribusi bone
marrow sebagai sumber lain stem cell endometrium. Stem cell endometrium
yang lepas melalui saluran tuba falopii saat menstruasi bertanggung jawab
terhadap terjadinya implan endometriosis dan juga stem cell yang bersirkulasi
berasal dari bone marrow dapat mencapai rongga peritoneum ikut berperan
pada patogenesis endometriosis (22).
Observasi dilakukan pada hewan baboon yang dilakukan induksi
pemberian jaringan endometrium lapisan basalis yang kaya stem cell ternyata
menghasilkan 100% jaringan endometriosis pada seluruh hewan coba.
Lapisan basalis endometrium yang berisi stem cell /sel progenitor mampu
bertahan tetap hidup menjadi deposit endometriosis karena kemampuan
untuk regenerasi dibandingkan dengan sel endometrium lapisan fungsional
(10,20). Ternyata saat terjadi aliran balik darah haid perempuan penderita
endometriosis melepaskan lebih banyak lamina basalis dibandingkan
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis (12)
Teori Mekanisme
Aliran balik darah haid Aliran balik darah haid berisi jaringan endometrium
menuju rongga panggul sehingga terjadi implantasi
menjadi jaringan endometriosis
Metaplasia Transformasi sel-sel peritoneum menjadi jaringan
endometriosis melalui stimulasi faktor hormon dan
imunologi
Hormon Proliferasi jaringan endometriosis distimulasi oleh
hormon estrogen dan dikontrol oleh resistensi
progesteron
Inflamasi dan stres
oksidatif
Produksi sel imun dan beberapa sitokin mempromosi
pertumbuhan jaringan endometriosis
Defek sistem imun Menghambat eliminasi debris menstruasi dan
mempromosi pertumbuhan dan implantasi jaringan
endometriosis
Genetik Penyakit poligenik/multifaktor melibatkan beberapa
gen kandidat yang berpotensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis
Stem cell Inisiasi deposit jaringan endometriosis oleh sel-sel
yang belum berdiferensiasi dengan kemampuan
melakukan regenerasi
21Bab 4 Patogenesis
endometrium manusia telah diidentifikasi dan diduga kuat berkaitan dengan
tumbuhnya formasi jaringan endometrium ektopik (12, 22).
Teori kombinasi lebih bisa diterima untuk patogenesis endometriosis,
yaitu eksistensi stem cell endometrium pluripoten dan kontribusi bone
marrow sebagai sumber lain stem cell endometrium. Stem cell endometrium
yang lepas melalui saluran tuba falopii saat menstruasi bertanggung jawab
terhadap terjadinya implan endometriosis dan juga stem cell yang bersirkulasi
berasal dari bone marrow dapat mencapai rongga peritoneum ikut berperan
pada patogenesis endometriosis (22).
Observasi dilakukan pada hewan baboon yang dilakukan induksi
pemberian jaringan endometrium lapisan basalis yang kaya stem cell ternyata
menghasilkan 100% jaringan endometriosis pada seluruh hewan coba.
Lapisan basalis endometrium yang berisi stem cell /sel progenitor mampu
bertahan tetap hidup menjadi deposit endometriosis karena kemampuan
untuk regenerasi dibandingkan dengan sel endometrium lapisan fungsional
(10,20). Ternyata saat terjadi aliran balik darah haid perempuan penderita
endometriosis melepaskan lebih banyak lamina basalis dibandingkan
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis (12)
Teori Mekanisme
Aliran balik darah haid Aliran balik darah haid berisi jaringan endometrium
menuju rongga panggul sehingga terjadi implantasi
menjadi jaringan endometriosis
Metaplasia Transformasi sel-sel peritoneum menjadi jaringan
endometriosis melalui stimulasi faktor hormon dan
imunologi
Hormon Proliferasi jaringan endometriosis distimulasi oleh
hormon estrogen dan dikontrol oleh resistensi
progesteron
Inflamasi dan stres
oksidatif
Produksi sel imun dan beberapa sitokin mempromosi
pertumbuhan jaringan endometriosis
Defek sistem imun Menghambat eliminasi debris menstruasi dan
mempromosi pertumbuhan dan implantasi jaringan
endometriosis
Genetik Penyakit poligenik/multifaktor melibatkan beberapa
gen kandidat yang berpotensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis
Stem cell Inisiasi deposit jaringan endometriosis oleh sel-sel
yang belum berdiferensiasi dengan kemampuan
melakukan regenerasi
21Bab 4 Patogenesis
endometrium manusia telah diidentifikasi dan diduga kuat berkaitan dengan
tumbuhnya formasi jaringan endometrium ektopik (12, 22).
Teori kombinasi lebih bisa diterima untuk patogenesis endometriosis,
yaitu eksistensi stem cell endometrium pluripoten dan kontribusi bone
marrow sebagai sumber lain stem cell endometrium. Stem cell endometrium
yang lepas melalui saluran tuba falopii saat menstruasi bertanggung jawab
terhadap terjadinya implan endometriosis dan juga stem cell yang bersirkulasi
berasal dari bone marrow dapat mencapai rongga peritoneum ikut berperan
pada patogenesis endometriosis (22).
Observasi dilakukan pada hewan baboon yang dilakukan induksi
pemberian jaringan endometrium lapisan basalis yang kaya stem cell ternyata
menghasilkan 100% jaringan endometriosis pada seluruh hewan coba.
Lapisan basalis endometrium yang berisi stem cell /sel progenitor mampu
bertahan tetap hidup menjadi deposit endometriosis karena kemampuan
untuk regenerasi dibandingkan dengan sel endometrium lapisan fungsional
(10,20). Ternyata saat terjadi aliran balik darah haid perempuan penderita
endometriosis melepaskan lebih banyak lamina basalis dibandingkan
Tabel 4.1 Teori patogenesis dan mekanisme endometriosis (12)
Teori Mekanisme
Aliran balik darah haid Aliran balik darah haid berisi jaringan endometrium
menuju rongga panggul sehingga terjadi implantasi
menjadi jaringan endometriosis
Metaplasia Transformasi sel-sel peritoneum menjadi jaringan
endometriosis melalui stimulasi faktor hormon dan
imunologi
Hormon Proliferasi jaringan endometriosis distimulasi oleh
hormon estrogen dan dikontrol oleh resistensi
progesteron
Inflamasi dan stres
oksidatif
Produksi sel imun dan beberapa sitokin mempromosi
pertumbuhan jaringan endometriosis
Defek sistem imun Menghambat eliminasi debris menstruasi dan
mempromosi pertumbuhan dan implantasi jaringan
endometriosis
Genetik Penyakit poligenik/multifaktor melibatkan beberapa
gen kandidat yang berpotensi keterkaitan biologis
dengan kejadian endometriosis
Stem cell Inisiasi deposit jaringan endometriosis oleh sel-sel
yang belum berdiferensiasi dengan kemampuan
melakukan regenerasi
ENDOMETRIOSIS22
perempuan sehat tanpa endometriosis. Stimulasi sitokin dan faktor
pertumbuhan pada sel endometrium lapisan basal ektopik akan terjadi
aktivasi renewal invasi, dan kemudian berdiferensiasi menjadi jaringan
endometriosis (12,22).
Sebagai alternatif lain stem cell yang berasal dari bone marrow akan
berkontribusi diseminasi hematogen melalui pembuluh darah atau secara
limpatik menuju lokasi ektopik.
Perlu diketahui bahwa stem cell tersebut agar dapat berdiferensiasi
menjadi sel matur harus dalam koordinasi dengan lingkungan niche untuk
memicu regenerasi menjadi jaringan endometriosis. Lingkungan niche
diperlukan sebagai pembuat sinyal kepada stem cell bone marrow homing
menuju lokasi ektopik (12,22).
ENDOMETRIOSIS22
perempuan sehat tanpa endometriosis. Stimulasi sitokin dan faktor
pertumbuhan pada sel endometrium lapisan basal ektopik akan terjadi
aktivasi renewal invasi, dan kemudian berdiferensiasi menjadi jaringan
endometriosis (12,22).
Sebagai alternatif lain stem cell yang berasal dari bone marrow akan
berkontribusi diseminasi hematogen melalui pembuluh darah atau secara
limpatik menuju lokasi ektopik.
Perlu diketahui bahwa stem cell tersebut agar dapat berdiferensiasi
menjadi sel matur harus dalam koordinasi dengan lingkungan niche untuk
memicu regenerasi menjadi jaringan endometriosis. Lingkungan niche
diperlukan sebagai pembuat sinyal kepada stem cell bone marrow homing
menuju lokasi ektopik (12,22).
ENDOMETRIOSIS22
perempuan sehat tanpa endometriosis. Stimulasi sitokin dan faktor
pertumbuhan pada sel endometrium lapisan basal ektopik akan terjadi
aktivasi renewal invasi, dan kemudian berdiferensiasi menjadi jaringan
endometriosis (12,22).
Sebagai alternatif lain stem cell yang berasal dari bone marrow akan
berkontribusi diseminasi hematogen melalui pembuluh darah atau secara
limpatik menuju lokasi ektopik.
Perlu diketahui bahwa stem cell tersebut agar dapat berdiferensiasi
menjadi sel matur harus dalam koordinasi dengan lingkungan niche untuk
memicu regenerasi menjadi jaringan endometriosis. Lingkungan niche
diperlukan sebagai pembuat sinyal kepada stem cell bone marrow homing
menuju lokasi ektopik (12,22).
ENDOMETRIOSIS22
perempuan sehat tanpa endometriosis. Stimulasi sitokin dan faktor
pertumbuhan pada sel endometrium lapisan basal ektopik akan terjadi
aktivasi renewal invasi, dan kemudian berdiferensiasi menjadi jaringan
endometriosis (12,22).
Sebagai alternatif lain stem cell yang berasal dari bone marrow akan
berkontribusi diseminasi hematogen melalui pembuluh darah atau secara
limpatik menuju lokasi ektopik.
Perlu diketahui bahwa stem cell tersebut agar dapat berdiferensiasi
menjadi sel matur harus dalam koordinasi dengan lingkungan niche untuk
memicu regenerasi menjadi jaringan endometriosis. Lingkungan niche
diperlukan sebagai pembuat sinyal kepada stem cell bone marrow homing
menuju lokasi ektopik (12,22).
23
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 5 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
gejala klinis endometriosis sebagai dasar untuk diagnosis dan penatalaksanaan.
Terdapat dua masalah yang sering menjadi keluhan perempuan dengan
endometriosis, yaitu nyeri dan infertilitas atau kesulitan punya anak. Berdasarkan
eksplorasi yang dilakukan beberapa studi pada penderita endometriosis
dihasilkan suatu daftar panjang keluhan dan tanda endometriosis antara
lain nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama, keluhan intestinal siklik,
capai/kelelahan dan infertilitas. Keluhan nyeri tersebut biasanya berhubungan
dengan siklus haid, tergantung pada lokasi lesi endometriosis tetapi tidak pada
stadium (1,3). Kadang kala keluhan diatas tidak spesifik karena tumpang
tindih dengan keadaan lain, misal penyakit radang panggul, irritable bowel
syndrome, interstitial cystitis dan gangguan otot-tulang (1,3).
Gejala Klinis
5
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis
1
2
3
4
5
6
7
Nyeri haid (dismenore)
Nyeri panggul
Nyeri sanggama (dispareuni)
Nyeri saat ovulasi
Nyeri berkemih
Nyeri defekasi terutama saat haid
Infertilitas/kesulitan punya anak
23
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 5 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
gejala klinis endometriosis sebagai dasar untuk diagnosis dan penatalaksanaan.
Terdapat dua masalah yang sering menjadi keluhan perempuan dengan
endometriosis, yaitu nyeri dan infertilitas atau kesulitan punya anak. Berdasarkan
eksplorasi yang dilakukan beberapa studi pada penderita endometriosis
dihasilkan suatu daftar panjang keluhan dan tanda endometriosis antara
lain nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama, keluhan intestinal siklik,
capai/kelelahan dan infertilitas. Keluhan nyeri tersebut biasanya berhubungan
dengan siklus haid, tergantung pada lokasi lesi endometriosis tetapi tidak pada
stadium (1,3). Kadang kala keluhan diatas tidak spesifik karena tumpang
tindih dengan keadaan lain, misal penyakit radang panggul, irritable bowel
syndrome, interstitial cystitis dan gangguan otot-tulang (1,3).
Gejala Klinis
5
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis
1
2
3
4
5
6
7
Nyeri haid (dismenore)
Nyeri panggul
Nyeri sanggama (dispareuni)
Nyeri saat ovulasi
Nyeri berkemih
Nyeri defekasi terutama saat haid
Infertilitas/kesulitan punya anak
23
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 5 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
gejala klinis endometriosis sebagai dasar untuk diagnosis dan penatalaksanaan.
Terdapat dua masalah yang sering menjadi keluhan perempuan dengan
endometriosis, yaitu nyeri dan infertilitas atau kesulitan punya anak. Berdasarkan
eksplorasi yang dilakukan beberapa studi pada penderita endometriosis
dihasilkan suatu daftar panjang keluhan dan tanda endometriosis antara
lain nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama, keluhan intestinal siklik,
capai/kelelahan dan infertilitas. Keluhan nyeri tersebut biasanya berhubungan
dengan siklus haid, tergantung pada lokasi lesi endometriosis tetapi tidak pada
stadium (1,3). Kadang kala keluhan diatas tidak spesifik karena tumpang
tindih dengan keadaan lain, misal penyakit radang panggul, irritable bowel
syndrome, interstitial cystitis dan gangguan otot-tulang (1,3).
Gejala Klinis
5
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis
1
2
3
4
5
6
7
Nyeri haid (dismenore)
Nyeri panggul
Nyeri sanggama (dispareuni)
Nyeri saat ovulasi
Nyeri berkemih
Nyeri defekasi terutama saat haid
Infertilitas/kesulitan punya anak
23
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 5 pembaca diharapkan mengenal dan memahami
gejala klinis endometriosis sebagai dasar untuk diagnosis dan penatalaksanaan.
Terdapat dua masalah yang sering menjadi keluhan perempuan dengan
endometriosis, yaitu nyeri dan infertilitas atau kesulitan punya anak. Berdasarkan
eksplorasi yang dilakukan beberapa studi pada penderita endometriosis
dihasilkan suatu daftar panjang keluhan dan tanda endometriosis antara
lain nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama, keluhan intestinal siklik,
capai/kelelahan dan infertilitas. Keluhan nyeri tersebut biasanya berhubungan
dengan siklus haid, tergantung pada lokasi lesi endometriosis tetapi tidak pada
stadium (1,3). Kadang kala keluhan diatas tidak spesifik karena tumpang
tindih dengan keadaan lain, misal penyakit radang panggul, irritable bowel
syndrome, interstitial cystitis dan gangguan otot-tulang (1,3).
Gejala Klinis
5
Tabel 5.1 Keluhan endometriosis
1
2
3
4
5
6
7
Nyeri haid (dismenore)
Nyeri panggul
Nyeri sanggama (dispareuni)
Nyeri saat ovulasi
Nyeri berkemih
Nyeri defekasi terutama saat haid
Infertilitas/kesulitan punya anak
ENDOMETRIOSIS24
Kesulitan dalam interpretasi keluhan di atas berkontribusi pada
keterlambatan deteksi yaitu sampai 7 −12 tahun dari awal muncul keluhan
sampai dilakukan diagnosis definitif dengan tindakan bedah. Beberapa
studi telah menyebutkan penyebab keterlambatan diagnosis endometriosis
antara lain: keluhan endometriosis muncul lebih awal, anggapan keluhan
nyeri haid adalah normal, penggunaan kontrasepsi untuk menekan hormon
pada keluhan nyeri, pemeriksaan yang tidak fokus, kesalahan diagnosis dan
sikap/perilaku terhadap pola haid itu sendiri (3).
Berdasarkan studi di Brasil didapatkan bahwa dismenore merupakan
keluhan utama endometriosis, yaitu didapatkan pada 62% perempuan
dengan endometriosis peritoneum, selanjutnya nyeri panggul kronis 57%,
nyeri sanggama 55%, keluhan intestinal siklik 48% dan infertilitas 40%
(1,3).
Lokasi endometriosis berpengaruh pada keluhan yang timbul.
Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) yang berlokasi di panggul posterior
berhubungan dengan peningkatan keparahan kesulitan defekasi (dyschezia),
sedangkan yang berlokasi di septum rektovagina berhubungan dengan
keparahan nyeri sanggama dan dyschezia (3).
P e n g a m a t a n d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a t a h u n 2 0 1 4 p a d a
pasien infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapatkan 43,34 % adalah
endometriosis dengan 58,1% adalah perempuan usia reproduksi dibawah 35
tahun. Penderita endometriosis tersebut sebagian besar (58%) masuk pada
stadium berat dengan didapatkan kista endometriosis. Keadaan infertilitas
diperberat dengan terdapat 56,86% disertai keluhan nyeri haid dan 21,56%
dengan nyeri sanggama (23).
Walaupun jarang endometriosis berlokasi jauh dari panggul dapat terjadi,
misal endometriosis umbilikus, paru, toraks dengan keluhan perdarahan di
umblikus saat haid, batuk darah, nyeri dada. Mengingat keluhan endometriosis
dapat bermacam-macam dan tumpang tindih dengan keluhan lain, maka
dibutuhkan kejelian dan fokus bagi tenaga kesehatan saat eksplorasi tanda
dan gejala klinis endometriosis.
ENDOMETRIOSIS24
Kesulitan dalam interpretasi keluhan di atas berkontribusi pada
keterlambatan deteksi yaitu sampai 7 −12 tahun dari awal muncul keluhan
sampai dilakukan diagnosis definitif dengan tindakan bedah. Beberapa
studi telah menyebutkan penyebab keterlambatan diagnosis endometriosis
antara lain: keluhan endometriosis muncul lebih awal, anggapan keluhan
nyeri haid adalah normal, penggunaan kontrasepsi untuk menekan hormon
pada keluhan nyeri, pemeriksaan yang tidak fokus, kesalahan diagnosis dan
sikap/perilaku terhadap pola haid itu sendiri (3).
Berdasarkan studi di Brasil didapatkan bahwa dismenore merupakan
keluhan utama endometriosis, yaitu didapatkan pada 62% perempuan
dengan endometriosis peritoneum, selanjutnya nyeri panggul kronis 57%,
nyeri sanggama 55%, keluhan intestinal siklik 48% dan infertilitas 40%
(1,3).
Lokasi endometriosis berpengaruh pada keluhan yang timbul.
Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) yang berlokasi di panggul posterior
berhubungan dengan peningkatan keparahan kesulitan defekasi (dyschezia),
sedangkan yang berlokasi di septum rektovagina berhubungan dengan
keparahan nyeri sanggama dan dyschezia (3).
P e n g a m a t a n d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a t a h u n 2 0 1 4 p a d a
pasien infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapatkan 43,34 % adalah
endometriosis dengan 58,1% adalah perempuan usia reproduksi dibawah 35
tahun. Penderita endometriosis tersebut sebagian besar (58%) masuk pada
stadium berat dengan didapatkan kista endometriosis. Keadaan infertilitas
diperberat dengan terdapat 56,86% disertai keluhan nyeri haid dan 21,56%
dengan nyeri sanggama (23).
Walaupun jarang endometriosis berlokasi jauh dari panggul dapat terjadi,
misal endometriosis umbilikus, paru, toraks dengan keluhan perdarahan di
umblikus saat haid, batuk darah, nyeri dada. Mengingat keluhan endometriosis
dapat bermacam-macam dan tumpang tindih dengan keluhan lain, maka
dibutuhkan kejelian dan fokus bagi tenaga kesehatan saat eksplorasi tanda
dan gejala klinis endometriosis.
ENDOMETRIOSIS24
Kesulitan dalam interpretasi keluhan di atas berkontribusi pada
keterlambatan deteksi yaitu sampai 7 −12 tahun dari awal muncul keluhan
sampai dilakukan diagnosis definitif dengan tindakan bedah. Beberapa
studi telah menyebutkan penyebab keterlambatan diagnosis endometriosis
antara lain: keluhan endometriosis muncul lebih awal, anggapan keluhan
nyeri haid adalah normal, penggunaan kontrasepsi untuk menekan hormon
pada keluhan nyeri, pemeriksaan yang tidak fokus, kesalahan diagnosis dan
sikap/perilaku terhadap pola haid itu sendiri (3).
Berdasarkan studi di Brasil didapatkan bahwa dismenore merupakan
keluhan utama endometriosis, yaitu didapatkan pada 62% perempuan
dengan endometriosis peritoneum, selanjutnya nyeri panggul kronis 57%,
nyeri sanggama 55%, keluhan intestinal siklik 48% dan infertilitas 40%
(1,3).
Lokasi endometriosis berpengaruh pada keluhan yang timbul.
Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) yang berlokasi di panggul posterior
berhubungan dengan peningkatan keparahan kesulitan defekasi (dyschezia),
sedangkan yang berlokasi di septum rektovagina berhubungan dengan
keparahan nyeri sanggama dan dyschezia (3).
P e n g a m a t a n d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a t a h u n 2 0 1 4 p a d a
pasien infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapatkan 43,34 % adalah
endometriosis dengan 58,1% adalah perempuan usia reproduksi dibawah 35
tahun. Penderita endometriosis tersebut sebagian besar (58%) masuk pada
stadium berat dengan didapatkan kista endometriosis. Keadaan infertilitas
diperberat dengan terdapat 56,86% disertai keluhan nyeri haid dan 21,56%
dengan nyeri sanggama (23).
Walaupun jarang endometriosis berlokasi jauh dari panggul dapat terjadi,
misal endometriosis umbilikus, paru, toraks dengan keluhan perdarahan di
umblikus saat haid, batuk darah, nyeri dada. Mengingat keluhan endometriosis
dapat bermacam-macam dan tumpang tindih dengan keluhan lain, maka
dibutuhkan kejelian dan fokus bagi tenaga kesehatan saat eksplorasi tanda
dan gejala klinis endometriosis.
ENDOMETRIOSIS24
Kesulitan dalam interpretasi keluhan di atas berkontribusi pada
keterlambatan deteksi yaitu sampai 7 −12 tahun dari awal muncul keluhan
sampai dilakukan diagnosis definitif dengan tindakan bedah. Beberapa
studi telah menyebutkan penyebab keterlambatan diagnosis endometriosis
antara lain: keluhan endometriosis muncul lebih awal, anggapan keluhan
nyeri haid adalah normal, penggunaan kontrasepsi untuk menekan hormon
pada keluhan nyeri, pemeriksaan yang tidak fokus, kesalahan diagnosis dan
sikap/perilaku terhadap pola haid itu sendiri (3).
Berdasarkan studi di Brasil didapatkan bahwa dismenore merupakan
keluhan utama endometriosis, yaitu didapatkan pada 62% perempuan
dengan endometriosis peritoneum, selanjutnya nyeri panggul kronis 57%,
nyeri sanggama 55%, keluhan intestinal siklik 48% dan infertilitas 40%
(1,3).
Lokasi endometriosis berpengaruh pada keluhan yang timbul.
Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) yang berlokasi di panggul posterior
berhubungan dengan peningkatan keparahan kesulitan defekasi (dyschezia),
sedangkan yang berlokasi di septum rektovagina berhubungan dengan
keparahan nyeri sanggama dan dyschezia (3).
P e n g a m a t a n d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a t a h u n 2 0 1 4 p a d a
pasien infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapatkan 43,34 % adalah
endometriosis dengan 58,1% adalah perempuan usia reproduksi dibawah 35
tahun. Penderita endometriosis tersebut sebagian besar (58%) masuk pada
stadium berat dengan didapatkan kista endometriosis. Keadaan infertilitas
diperberat dengan terdapat 56,86% disertai keluhan nyeri haid dan 21,56%
dengan nyeri sanggama (23).
Walaupun jarang endometriosis berlokasi jauh dari panggul dapat terjadi,
misal endometriosis umbilikus, paru, toraks dengan keluhan perdarahan di
umblikus saat haid, batuk darah, nyeri dada. Mengingat keluhan endometriosis
dapat bermacam-macam dan tumpang tindih dengan keluhan lain, maka
dibutuhkan kejelian dan fokus bagi tenaga kesehatan saat eksplorasi tanda
dan gejala klinis endometriosis.
25
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 6 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi nyeri pada endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit inflamasi kronis, berkembang secara
progresif dengan keluhan utama adalah nyeri. Sebagian besar penderita
endometriosis datang ke dokter atau ke rumah sakit dengan keluhan nyeri
yang berhubungan dengan haid, walaupun sebagian lagi keluhan nyeri
tersebut muncul tak terduga tidak terkait dengan haid. Berbagai teori telah
menerangkan bagaimana nyeri terjadi pada endometriosis, namun terdapat
dua penyebab yang diterima, yaitu: akibat aktivitas sitokin inflamasi pada
peritoneum dan iritasi serta infiltrasi saraf di sekitar lesi endometriosis (7).
Mekanisme biologi yang mendasari timbulnya nyeri panggul melibatkan
enam hal, yaitu nosiseptif, inflamasi, neurogenik, psikogenik, campuran dan
idiopatik. Nyeri nosiseptif terjadi akibat aktivasi nosiseptor oleh stimulus
berbahaya, misal distensi, iskemia, spasme atau stimulus mekanik di organ
panggul. Nyeri inflamasi terjadi karena trauma jaringan dan proses inlamasi
yang kemudian mengaktivasi silent nociceptor . Nyeri neurogenik timbul
akibat gangguan fungsi sistem saraf tanpa adanya penyakit, sedangkan nyeri
psikogenik karena manifestasi fisik terkait konflik emosi dan psikis (24).
Telah dibuktikan bahwa pada endometriosis terjadi proses inflamasi
di panggul dengan perubahan fungsi dan aktivitas sel imun. Didapatkan
peningkatan jumlah makrofag aktif di lingkungan mikro peritoneum yang
mensekresi berbagai produk lokal, misal faktor pertumbuhan dan sitokin
Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
6
25
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 6 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi nyeri pada endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit inflamasi kronis, berkembang secara
progresif dengan keluhan utama adalah nyeri. Sebagian besar penderita
endometriosis datang ke dokter atau ke rumah sakit dengan keluhan nyeri
yang berhubungan dengan haid, walaupun sebagian lagi keluhan nyeri
tersebut muncul tak terduga tidak terkait dengan haid. Berbagai teori telah
menerangkan bagaimana nyeri terjadi pada endometriosis, namun terdapat
dua penyebab yang diterima, yaitu: akibat aktivitas sitokin inflamasi pada
peritoneum dan iritasi serta infiltrasi saraf di sekitar lesi endometriosis (7).
Mekanisme biologi yang mendasari timbulnya nyeri panggul melibatkan
enam hal, yaitu nosiseptif, inflamasi, neurogenik, psikogenik, campuran dan
idiopatik. Nyeri nosiseptif terjadi akibat aktivasi nosiseptor oleh stimulus
berbahaya, misal distensi, iskemia, spasme atau stimulus mekanik di organ
panggul. Nyeri inflamasi terjadi karena trauma jaringan dan proses inlamasi
yang kemudian mengaktivasi silent nociceptor . Nyeri neurogenik timbul
akibat gangguan fungsi sistem saraf tanpa adanya penyakit, sedangkan nyeri
psikogenik karena manifestasi fisik terkait konflik emosi dan psikis (24).
Telah dibuktikan bahwa pada endometriosis terjadi proses inflamasi
di panggul dengan perubahan fungsi dan aktivitas sel imun. Didapatkan
peningkatan jumlah makrofag aktif di lingkungan mikro peritoneum yang
mensekresi berbagai produk lokal, misal faktor pertumbuhan dan sitokin
Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
6
25
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 6 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi nyeri pada endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit inflamasi kronis, berkembang secara
progresif dengan keluhan utama adalah nyeri. Sebagian besar penderita
endometriosis datang ke dokter atau ke rumah sakit dengan keluhan nyeri
yang berhubungan dengan haid, walaupun sebagian lagi keluhan nyeri
tersebut muncul tak terduga tidak terkait dengan haid. Berbagai teori telah
menerangkan bagaimana nyeri terjadi pada endometriosis, namun terdapat
dua penyebab yang diterima, yaitu: akibat aktivitas sitokin inflamasi pada
peritoneum dan iritasi serta infiltrasi saraf di sekitar lesi endometriosis (7).
Mekanisme biologi yang mendasari timbulnya nyeri panggul melibatkan
enam hal, yaitu nosiseptif, inflamasi, neurogenik, psikogenik, campuran dan
idiopatik. Nyeri nosiseptif terjadi akibat aktivasi nosiseptor oleh stimulus
berbahaya, misal distensi, iskemia, spasme atau stimulus mekanik di organ
panggul. Nyeri inflamasi terjadi karena trauma jaringan dan proses inlamasi
yang kemudian mengaktivasi silent nociceptor . Nyeri neurogenik timbul
akibat gangguan fungsi sistem saraf tanpa adanya penyakit, sedangkan nyeri
psikogenik karena manifestasi fisik terkait konflik emosi dan psikis (24).
Telah dibuktikan bahwa pada endometriosis terjadi proses inflamasi
di panggul dengan perubahan fungsi dan aktivitas sel imun. Didapatkan
peningkatan jumlah makrofag aktif di lingkungan mikro peritoneum yang
mensekresi berbagai produk lokal, misal faktor pertumbuhan dan sitokin
Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
6
25
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 6 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi nyeri pada endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit inflamasi kronis, berkembang secara
progresif dengan keluhan utama adalah nyeri. Sebagian besar penderita
endometriosis datang ke dokter atau ke rumah sakit dengan keluhan nyeri
yang berhubungan dengan haid, walaupun sebagian lagi keluhan nyeri
tersebut muncul tak terduga tidak terkait dengan haid. Berbagai teori telah
menerangkan bagaimana nyeri terjadi pada endometriosis, namun terdapat
dua penyebab yang diterima, yaitu: akibat aktivitas sitokin inflamasi pada
peritoneum dan iritasi serta infiltrasi saraf di sekitar lesi endometriosis (7).
Mekanisme biologi yang mendasari timbulnya nyeri panggul melibatkan
enam hal, yaitu nosiseptif, inflamasi, neurogenik, psikogenik, campuran dan
idiopatik. Nyeri nosiseptif terjadi akibat aktivasi nosiseptor oleh stimulus
berbahaya, misal distensi, iskemia, spasme atau stimulus mekanik di organ
panggul. Nyeri inflamasi terjadi karena trauma jaringan dan proses inlamasi
yang kemudian mengaktivasi silent nociceptor . Nyeri neurogenik timbul
akibat gangguan fungsi sistem saraf tanpa adanya penyakit, sedangkan nyeri
psikogenik karena manifestasi fisik terkait konflik emosi dan psikis (24).
Telah dibuktikan bahwa pada endometriosis terjadi proses inflamasi
di panggul dengan perubahan fungsi dan aktivitas sel imun. Didapatkan
peningkatan jumlah makrofag aktif di lingkungan mikro peritoneum yang
mensekresi berbagai produk lokal, misal faktor pertumbuhan dan sitokin
Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
6
ENDOMETRIOSIS26
(24). Lesi endometriosis mensekresi sitokin proinflamasi, misal IL-1, IL-6,
IL-8, TNF- a yang ikut mengaktivasi makrofag dan sel T di peritoneum dan
memfasilitasi respon inflamasi. Sel imun seperti sel mast, makrofag, faktor
pertumbuhan misal nerve growth factor (NGF) dan sitokin proinflamasi
berkontribusi terhadap nyeri persisten. Proses inflamasi dan trauma jaringan
akan mengaktivasi silent nociceptor dan selanjutnya timbul nyeri (25).
Seperti diketahui pada perempuan dengan endometriosis ditemukan
serabut saraf tanpa mielin di lapisan fungsional endometrium eutopik. Ternyata
pada lesi endometriosis serabut saraf sensori tersebut juga ditemukan. Serabut
saraf yang ditemukan itu merupakan nosiseptor yang tidak ditemukan
pada perempuan tanpa endometriosis. Nosiseptor tersebut menginvasi lesi
endometriosis yang berlokasi didaerah panggul. Telah dibuktikan NGF yang
ditemukan di sekitar kelenjar endometriosis akan meningkatkan jumlah
serabut saraf. Reaksi inflamasi yang meningkat karena jumlah mediator
inflamasi yang tinggi akan menyebabkan sensitisasi nosiseptor dan saraf
pusat sehingga memicu nyeri (26, 27).
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis. (A) Mediator inflamasi memicu nyeri.
(B) Serabut saraf menginervasi pembuluh darah yang memberi vaskularisasi kepada lesi
endometriosis saat tumbuh dan berkembang. (C) Lesi endometriosis menginfiltrasi serabut
saraf hingga terjadi sensitisasi perifer kemudian terjadi koneksi dua arah dan terjadi sensitisasi
sentral.
ENDOMETRIOSIS26
(24). Lesi endometriosis mensekresi sitokin proinflamasi, misal IL-1, IL-6,
IL-8, TNF- a yang ikut mengaktivasi makrofag dan sel T di peritoneum dan
memfasilitasi respon inflamasi. Sel imun seperti sel mast, makrofag, faktor
pertumbuhan misal nerve growth factor (NGF) dan sitokin proinflamasi
berkontribusi terhadap nyeri persisten. Proses inflamasi dan trauma jaringan
akan mengaktivasi silent nociceptor dan selanjutnya timbul nyeri (25).
Seperti diketahui pada perempuan dengan endometriosis ditemukan
serabut saraf tanpa mielin di lapisan fungsional endometrium eutopik. Ternyata
pada lesi endometriosis serabut saraf sensori tersebut juga ditemukan. Serabut
saraf yang ditemukan itu merupakan nosiseptor yang tidak ditemukan
pada perempuan tanpa endometriosis. Nosiseptor tersebut menginvasi lesi
endometriosis yang berlokasi didaerah panggul. Telah dibuktikan NGF yang
ditemukan di sekitar kelenjar endometriosis akan meningkatkan jumlah
serabut saraf. Reaksi inflamasi yang meningkat karena jumlah mediator
inflamasi yang tinggi akan menyebabkan sensitisasi nosiseptor dan saraf
pusat sehingga memicu nyeri (26, 27).
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis. (A) Mediator inflamasi memicu nyeri.
(B) Serabut saraf menginervasi pembuluh darah yang memberi vaskularisasi kepada lesi
endometriosis saat tumbuh dan berkembang. (C) Lesi endometriosis menginfiltrasi serabut
saraf hingga terjadi sensitisasi perifer kemudian terjadi koneksi dua arah dan terjadi sensitisasi
sentral.
ENDOMETRIOSIS26
(24). Lesi endometriosis mensekresi sitokin proinflamasi, misal IL-1, IL-6,
IL-8, TNF- a yang ikut mengaktivasi makrofag dan sel T di peritoneum dan
memfasilitasi respon inflamasi. Sel imun seperti sel mast, makrofag, faktor
pertumbuhan misal nerve growth factor (NGF) dan sitokin proinflamasi
berkontribusi terhadap nyeri persisten. Proses inflamasi dan trauma jaringan
akan mengaktivasi silent nociceptor dan selanjutnya timbul nyeri (25).
Seperti diketahui pada perempuan dengan endometriosis ditemukan
serabut saraf tanpa mielin di lapisan fungsional endometrium eutopik. Ternyata
pada lesi endometriosis serabut saraf sensori tersebut juga ditemukan. Serabut
saraf yang ditemukan itu merupakan nosiseptor yang tidak ditemukan
pada perempuan tanpa endometriosis. Nosiseptor tersebut menginvasi lesi
endometriosis yang berlokasi didaerah panggul. Telah dibuktikan NGF yang
ditemukan di sekitar kelenjar endometriosis akan meningkatkan jumlah
serabut saraf. Reaksi inflamasi yang meningkat karena jumlah mediator
inflamasi yang tinggi akan menyebabkan sensitisasi nosiseptor dan saraf
pusat sehingga memicu nyeri (26, 27).
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis. (A) Mediator inflamasi memicu nyeri.
(B) Serabut saraf menginervasi pembuluh darah yang memberi vaskularisasi kepada lesi
endometriosis saat tumbuh dan berkembang. (C) Lesi endometriosis menginfiltrasi serabut
saraf hingga terjadi sensitisasi perifer kemudian terjadi koneksi dua arah dan terjadi sensitisasi
sentral.
ENDOMETRIOSIS26
(24). Lesi endometriosis mensekresi sitokin proinflamasi, misal IL-1, IL-6,
IL-8, TNF- a yang ikut mengaktivasi makrofag dan sel T di peritoneum dan
memfasilitasi respon inflamasi. Sel imun seperti sel mast, makrofag, faktor
pertumbuhan misal nerve growth factor (NGF) dan sitokin proinflamasi
berkontribusi terhadap nyeri persisten. Proses inflamasi dan trauma jaringan
akan mengaktivasi silent nociceptor dan selanjutnya timbul nyeri (25).
Seperti diketahui pada perempuan dengan endometriosis ditemukan
serabut saraf tanpa mielin di lapisan fungsional endometrium eutopik. Ternyata
pada lesi endometriosis serabut saraf sensori tersebut juga ditemukan. Serabut
saraf yang ditemukan itu merupakan nosiseptor yang tidak ditemukan
pada perempuan tanpa endometriosis. Nosiseptor tersebut menginvasi lesi
endometriosis yang berlokasi didaerah panggul. Telah dibuktikan NGF yang
ditemukan di sekitar kelenjar endometriosis akan meningkatkan jumlah
serabut saraf. Reaksi inflamasi yang meningkat karena jumlah mediator
inflamasi yang tinggi akan menyebabkan sensitisasi nosiseptor dan saraf
pusat sehingga memicu nyeri (26, 27).
Gambar 6.1 Mekanisme nyeri pada endometriosis. (A) Mediator inflamasi memicu nyeri.
(B) Serabut saraf menginervasi pembuluh darah yang memberi vaskularisasi kepada lesi
endometriosis saat tumbuh dan berkembang. (C) Lesi endometriosis menginfiltrasi serabut
saraf hingga terjadi sensitisasi perifer kemudian terjadi koneksi dua arah dan terjadi sensitisasi
sentral.
27Bab 6 Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
Konsep fundamental timbul rasa nyeri sangat terkait dan melibatkan
aktivitas sistem saraf pusat. Tentunya perlu diketahui hubungan antara
nyeri dan endometriosis dengan memahami aktivitas sistem saraf. Lesi
endometriosis menimbulkan nyeri dengan cara menekan dan menginfiltrasi
saraf dekat lesi tersebut. Keberadaan NGF di lesi endometriosis ikut berperan
pada kejadian nyeri terutama pada nodul deep endometriosis. Sebagaimana
diketahui agar dapat menempel dan tumbuh, lesi endometriosis harus
mendapat vaskularisasi pembuluh darah. Pembuluh darah tersebut agar
dapat berfungsi memerlukan inervasi serabut saraf simpatis dan sensori serta
melibatkan aktivitas vascular endothelial growth factor (VEGF) dan NGF.
Lesi endometriosis yang terus tumbuh, berkembang dan invasi memerlukan
vaskularisasi pembuluh darah melalui proses angiogenesis. Pembuluh
darah yang semakin banyak jumlahnya digunakan untuk pertumbuhan lesi
endometriosis dan dibutuhkan juga inervasi serabut saraf yang sekaligus akan
menginvasi lesi endometriosis tersebut (27).
Infiltrasi lesi endometriosis dan pengaruh hormon pada serabut saraf
akan menyebabkan terjadi sensitisasi perifer. Saraf aferen yang berada
didaerah lesi endometriosis akan menyalurkan sinyal listrik ke sistem saraf
pusat (SSP) pada berbagai level, sakral, lumbar, toraks, servikal dan sampai
di otak. Sensitisasi sentral ini akan meningkatkan eksitabilitas SSP sehingga
memicu respon berlebihan rasa nyeri.
27Bab 6 Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
Konsep fundamental timbul rasa nyeri sangat terkait dan melibatkan
aktivitas sistem saraf pusat. Tentunya perlu diketahui hubungan antara
nyeri dan endometriosis dengan memahami aktivitas sistem saraf. Lesi
endometriosis menimbulkan nyeri dengan cara menekan dan menginfiltrasi
saraf dekat lesi tersebut. Keberadaan NGF di lesi endometriosis ikut berperan
pada kejadian nyeri terutama pada nodul deep endometriosis. Sebagaimana
diketahui agar dapat menempel dan tumbuh, lesi endometriosis harus
mendapat vaskularisasi pembuluh darah. Pembuluh darah tersebut agar
dapat berfungsi memerlukan inervasi serabut saraf simpatis dan sensori serta
melibatkan aktivitas vascular endothelial growth factor (VEGF) dan NGF.
Lesi endometriosis yang terus tumbuh, berkembang dan invasi memerlukan
vaskularisasi pembuluh darah melalui proses angiogenesis. Pembuluh
darah yang semakin banyak jumlahnya digunakan untuk pertumbuhan lesi
endometriosis dan dibutuhkan juga inervasi serabut saraf yang sekaligus akan
menginvasi lesi endometriosis tersebut (27).
Infiltrasi lesi endometriosis dan pengaruh hormon pada serabut saraf
akan menyebabkan terjadi sensitisasi perifer. Saraf aferen yang berada
didaerah lesi endometriosis akan menyalurkan sinyal listrik ke sistem saraf
pusat (SSP) pada berbagai level, sakral, lumbar, toraks, servikal dan sampai
di otak. Sensitisasi sentral ini akan meningkatkan eksitabilitas SSP sehingga
memicu respon berlebihan rasa nyeri.
27Bab 6 Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
Konsep fundamental timbul rasa nyeri sangat terkait dan melibatkan
aktivitas sistem saraf pusat. Tentunya perlu diketahui hubungan antara
nyeri dan endometriosis dengan memahami aktivitas sistem saraf. Lesi
endometriosis menimbulkan nyeri dengan cara menekan dan menginfiltrasi
saraf dekat lesi tersebut. Keberadaan NGF di lesi endometriosis ikut berperan
pada kejadian nyeri terutama pada nodul deep endometriosis. Sebagaimana
diketahui agar dapat menempel dan tumbuh, lesi endometriosis harus
mendapat vaskularisasi pembuluh darah. Pembuluh darah tersebut agar
dapat berfungsi memerlukan inervasi serabut saraf simpatis dan sensori serta
melibatkan aktivitas vascular endothelial growth factor (VEGF) dan NGF.
Lesi endometriosis yang terus tumbuh, berkembang dan invasi memerlukan
vaskularisasi pembuluh darah melalui proses angiogenesis. Pembuluh
darah yang semakin banyak jumlahnya digunakan untuk pertumbuhan lesi
endometriosis dan dibutuhkan juga inervasi serabut saraf yang sekaligus akan
menginvasi lesi endometriosis tersebut (27).
Infiltrasi lesi endometriosis dan pengaruh hormon pada serabut saraf
akan menyebabkan terjadi sensitisasi perifer. Saraf aferen yang berada
didaerah lesi endometriosis akan menyalurkan sinyal listrik ke sistem saraf
pusat (SSP) pada berbagai level, sakral, lumbar, toraks, servikal dan sampai
di otak. Sensitisasi sentral ini akan meningkatkan eksitabilitas SSP sehingga
memicu respon berlebihan rasa nyeri.
27Bab 6 Hubungan Endometriosis dengan Nyeri
Konsep fundamental timbul rasa nyeri sangat terkait dan melibatkan
aktivitas sistem saraf pusat. Tentunya perlu diketahui hubungan antara
nyeri dan endometriosis dengan memahami aktivitas sistem saraf. Lesi
endometriosis menimbulkan nyeri dengan cara menekan dan menginfiltrasi
saraf dekat lesi tersebut. Keberadaan NGF di lesi endometriosis ikut berperan
pada kejadian nyeri terutama pada nodul deep endometriosis. Sebagaimana
diketahui agar dapat menempel dan tumbuh, lesi endometriosis harus
mendapat vaskularisasi pembuluh darah. Pembuluh darah tersebut agar
dapat berfungsi memerlukan inervasi serabut saraf simpatis dan sensori serta
melibatkan aktivitas vascular endothelial growth factor (VEGF) dan NGF.
Lesi endometriosis yang terus tumbuh, berkembang dan invasi memerlukan
vaskularisasi pembuluh darah melalui proses angiogenesis. Pembuluh
darah yang semakin banyak jumlahnya digunakan untuk pertumbuhan lesi
endometriosis dan dibutuhkan juga inervasi serabut saraf yang sekaligus akan
menginvasi lesi endometriosis tersebut (27).
Infiltrasi lesi endometriosis dan pengaruh hormon pada serabut saraf
akan menyebabkan terjadi sensitisasi perifer. Saraf aferen yang berada
didaerah lesi endometriosis akan menyalurkan sinyal listrik ke sistem saraf
pusat (SSP) pada berbagai level, sakral, lumbar, toraks, servikal dan sampai
di otak. Sensitisasi sentral ini akan meningkatkan eksitabilitas SSP sehingga
memicu respon berlebihan rasa nyeri.
29
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 7 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi infertilitas pada endometriosis
Hubungan endometriosis dan infertilitas masih belum jelas terungkap
terutama pada endometriosis stadium ringan. Perlekatan organ reproduksi
pada endometriosis stadium berat bisa menerangkan terjadinya infertilitas,
namun mekanisme pada endometriosis stadium ringan tanpa perlekatan
masih kontroversi. Terdapat lima faktor diduga berperan pada terjadinya
infertilitas pada endometriosis, yaitu: perlekatan organ panggul, gangguan
folikulogenesis dan fungsi oosit, gangguan fungsi sperma, penurunan kualitas
embrio dan gangguan reseptivitas endometrium (7, 28, 29).
PERLEKATAN ORGAN PANGGUL
Formasi perlekatan melibatkan tiga komponen penting yaitu: respons
inflamasi, fibrinolosis dan metaloproteinase. Sitokin proinflamasi antara lain
Il-6, IL-8, TNF- α di lingkungan mikro peritoneum akan memicu perlekatan
di panggul perempuan dengan endometriosis (30). Formasi perlekatan organ
panggul tersebut mengandung reseptor estrogen dan progesteron serta
memproduksi faktor pertumbuhan fibroblas dan VEGF sehingga memungkinan
hormon steroid meregulasi formasi perlekatan. Pada endometriosis terutama
stadium berat perlekatan organ panggul akan menyebabkan distorsi anatomi
Hubungan Endometriosis
dengan Infertilitas
7
29
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 7 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi infertilitas pada endometriosis
Hubungan endometriosis dan infertilitas masih belum jelas terungkap
terutama pada endometriosis stadium ringan. Perlekatan organ reproduksi
pada endometriosis stadium berat bisa menerangkan terjadinya infertilitas,
namun mekanisme pada endometriosis stadium ringan tanpa perlekatan
masih kontroversi. Terdapat lima faktor diduga berperan pada terjadinya
infertilitas pada endometriosis, yaitu: perlekatan organ panggul, gangguan
folikulogenesis dan fungsi oosit, gangguan fungsi sperma, penurunan kualitas
embrio dan gangguan reseptivitas endometrium (7, 28, 29).
PERLEKATAN ORGAN PANGGUL
Formasi perlekatan melibatkan tiga komponen penting yaitu: respons
inflamasi, fibrinolosis dan metaloproteinase. Sitokin proinflamasi antara lain
Il-6, IL-8, TNF- α di lingkungan mikro peritoneum akan memicu perlekatan
di panggul perempuan dengan endometriosis (30). Formasi perlekatan organ
panggul tersebut mengandung reseptor estrogen dan progesteron serta
memproduksi faktor pertumbuhan fibroblas dan VEGF sehingga memungkinan
hormon steroid meregulasi formasi perlekatan. Pada endometriosis terutama
stadium berat perlekatan organ panggul akan menyebabkan distorsi anatomi
Hubungan Endometriosis
dengan Infertilitas
7
29
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 7 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi infertilitas pada endometriosis
Hubungan endometriosis dan infertilitas masih belum jelas terungkap
terutama pada endometriosis stadium ringan. Perlekatan organ reproduksi
pada endometriosis stadium berat bisa menerangkan terjadinya infertilitas,
namun mekanisme pada endometriosis stadium ringan tanpa perlekatan
masih kontroversi. Terdapat lima faktor diduga berperan pada terjadinya
infertilitas pada endometriosis, yaitu: perlekatan organ panggul, gangguan
folikulogenesis dan fungsi oosit, gangguan fungsi sperma, penurunan kualitas
embrio dan gangguan reseptivitas endometrium (7, 28, 29).
PERLEKATAN ORGAN PANGGUL
Formasi perlekatan melibatkan tiga komponen penting yaitu: respons
inflamasi, fibrinolosis dan metaloproteinase. Sitokin proinflamasi antara lain
Il-6, IL-8, TNF- α di lingkungan mikro peritoneum akan memicu perlekatan
di panggul perempuan dengan endometriosis (30). Formasi perlekatan organ
panggul tersebut mengandung reseptor estrogen dan progesteron serta
memproduksi faktor pertumbuhan fibroblas dan VEGF sehingga memungkinan
hormon steroid meregulasi formasi perlekatan. Pada endometriosis terutama
stadium berat perlekatan organ panggul akan menyebabkan distorsi anatomi
Hubungan Endometriosis
dengan Infertilitas
7
29
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 7 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
keterkaitan dan mekanisme terjadi infertilitas pada endometriosis
Hubungan endometriosis dan infertilitas masih belum jelas terungkap
terutama pada endometriosis stadium ringan. Perlekatan organ reproduksi
pada endometriosis stadium berat bisa menerangkan terjadinya infertilitas,
namun mekanisme pada endometriosis stadium ringan tanpa perlekatan
masih kontroversi. Terdapat lima faktor diduga berperan pada terjadinya
infertilitas pada endometriosis, yaitu: perlekatan organ panggul, gangguan
folikulogenesis dan fungsi oosit, gangguan fungsi sperma, penurunan kualitas
embrio dan gangguan reseptivitas endometrium (7, 28, 29).
PERLEKATAN ORGAN PANGGUL
Formasi perlekatan melibatkan tiga komponen penting yaitu: respons
inflamasi, fibrinolosis dan metaloproteinase. Sitokin proinflamasi antara lain
Il-6, IL-8, TNF- α di lingkungan mikro peritoneum akan memicu perlekatan
di panggul perempuan dengan endometriosis (30). Formasi perlekatan organ
panggul tersebut mengandung reseptor estrogen dan progesteron serta
memproduksi faktor pertumbuhan fibroblas dan VEGF sehingga memungkinan
hormon steroid meregulasi formasi perlekatan. Pada endometriosis terutama
stadium berat perlekatan organ panggul akan menyebabkan distorsi anatomi
Hubungan Endometriosis
dengan Infertilitas
7
ENDOMETRIOSIS30
sehingga terjadi hambatan motilitas tuba dan pengambilan oosit oleh tuba
sehingga berdampak infertilitas.
GANGGUAN FOLIKULOGENESIS DAN FUNGSI OOSIT
Zalir peritoneum di sekitar lesi endometriosis telah terbukti mengandung
makrofag aktif dengan jumlah dan konsentrasi tinggi serta memproduksi sitokin
proinflamasi IL-1, IL-6, IL-8 dan TNF- α. Selain itu jaringan endometriosis
sendiri aktif memproduksi mediator inflamasi, yaitu IL-1, IL-6, IL-8 dan
TNF-α sehingga membentuk lingkungan mikro peritoneum kaya inflamasi
yang dinamis. Karena ovarium selalu dibasahi oleh zalir peritoneum, maka
terjadi kontak langsung komponen inflamasi dengan ovarium dan komponen
inflamasi tersebut akan berdifusi atau melalui mekanisme parakrin masuk
ke folikel ovarium sehingga merusak fungsi sel granulosa dan maturasi
oosit. Gangguan fungsi dan perkembangan sel granulosa, teka dan oosit
serta gangguan komunikasi molekuler di folikel ovarium akan berdampak
pada gangguan folikulogenesis. Keadaan di atas diduga kuat terjadi pada
perempuan dengan endometriosis sehingga berakibat penurunan angka
fertilisasi (29,31).
Telah dibuktikan pada sel granulosa endometriosis terjadi gangguan
siklus sel dan didapatkan peningkatan kejadian apoptosis. Terbukti juga
ekspresi growth differentiation factor (GDF)-9 pada zalir folikel ovarium
lebih rendah pada perempuan infertil dengan endometriosis dibandingkan
kontrol. Semakin berat gradasi endometriosis semakin rendah ekspresi
GDF-9. Penurunan faktor pertumbuhan pada zalir folikel ovarium penderita
endometriosis tersebut berpengaruh pada folikulogenesis sehingga akan
terjadi penurunan kualitas oosit (29,32). Pemikiran yang muncul berdasarkan
hasil penelitian penulis tersebut adalah pada penderita endometriosis terjadi
gangguan komunikasi sel antara oosit dan sel granulosa. Seperti diketahui
terdapat interaksi antara oosit dan sel granulosa, yaitu oosit menyekresi
GDF-9 untuk proliferasi sel granulosa sedangkan sel granulosa menyekresi
Kit-ligand untuk pertumbuhan dan maturasi oosit. Akibat kondisi inflamasi
yang tinggi di lingkungan mikro peritoneum penderita endometriosis akan
menyebabkan terjadi apoptosis sel granulosa. Keadaan ini berdampak pada
nutrisi dari sel granulosa yang seharusnya disalurkan ke oosit akan terhambat
sehingga terjadi gangguan maturasi dan penurunan kualitas oosit (29,32).
Reactive Oxygens Species (ROS) telah dideteksi di zalir peritoneum
penderita endometriosis dan ternyata mempunyai efek merusak oosit
ENDOMETRIOSIS30
sehingga terjadi hambatan motilitas tuba dan pengambilan oosit oleh tuba
sehingga berdampak infertilitas.
GANGGUAN FOLIKULOGENESIS DAN FUNGSI OOSIT
Zalir peritoneum di sekitar lesi endometriosis telah terbukti mengandung
makrofag aktif dengan jumlah dan konsentrasi tinggi serta memproduksi sitokin
proinflamasi IL-1, IL-6, IL-8 dan TNF- α. Selain itu jaringan endometriosis
sendiri aktif memproduksi mediator inflamasi, yaitu IL-1, IL-6, IL-8 dan
TNF-α sehingga membentuk lingkungan mikro peritoneum kaya inflamasi
yang dinamis. Karena ovarium selalu dibasahi oleh zalir peritoneum, maka
terjadi kontak langsung komponen inflamasi dengan ovarium dan komponen
inflamasi tersebut akan berdifusi atau melalui mekanisme parakrin masuk
ke folikel ovarium sehingga merusak fungsi sel granulosa dan maturasi
oosit. Gangguan fungsi dan perkembangan sel granulosa, teka dan oosit
serta gangguan komunikasi molekuler di folikel ovarium akan berdampak
pada gangguan folikulogenesis. Keadaan di atas diduga kuat terjadi pada
perempuan dengan endometriosis sehingga berakibat penurunan angka
fertilisasi (29,31).
Telah dibuktikan pada sel granulosa endometriosis terjadi gangguan
siklus sel dan didapatkan peningkatan kejadian apoptosis. Terbukti juga
ekspresi growth differentiation factor (GDF)-9 pada zalir folikel ovarium
lebih rendah pada perempuan infertil dengan endometriosis dibandingkan
kontrol. Semakin berat gradasi endometriosis semakin rendah ekspresi
GDF-9. Penurunan faktor pertumbuhan pada zalir folikel ovarium penderita
endometriosis tersebut berpengaruh pada folikulogenesis sehingga akan
terjadi penurunan kualitas oosit (29,32). Pemikiran yang muncul berdasarkan
hasil penelitian penulis tersebut adalah pada penderita endometriosis terjadi
gangguan komunikasi sel antara oosit dan sel granulosa. Seperti diketahui
terdapat interaksi antara oosit dan sel granulosa, yaitu oosit menyekresi
GDF-9 untuk proliferasi sel granulosa sedangkan sel granulosa menyekresi
Kit-ligand untuk pertumbuhan dan maturasi oosit. Akibat kondisi inflamasi
yang tinggi di lingkungan mikro peritoneum penderita endometriosis akan
menyebabkan terjadi apoptosis sel granulosa. Keadaan ini berdampak pada
nutrisi dari sel granulosa yang seharusnya disalurkan ke oosit akan terhambat
sehingga terjadi gangguan maturasi dan penurunan kualitas oosit (29,32).
Reactive Oxygens Species (ROS) telah dideteksi di zalir peritoneum
penderita endometriosis dan ternyata mempunyai efek merusak oosit
ENDOMETRIOSIS30
sehingga terjadi hambatan motilitas tuba dan pengambilan oosit oleh tuba
sehingga berdampak infertilitas.
GANGGUAN FOLIKULOGENESIS DAN FUNGSI OOSIT
Zalir peritoneum di sekitar lesi endometriosis telah terbukti mengandung
makrofag aktif dengan jumlah dan konsentrasi tinggi serta memproduksi sitokin
proinflamasi IL-1, IL-6, IL-8 dan TNF- α. Selain itu jaringan endometriosis
sendiri aktif memproduksi mediator inflamasi, yaitu IL-1, IL-6, IL-8 dan
TNF-α sehingga membentuk lingkungan mikro peritoneum kaya inflamasi
yang dinamis. Karena ovarium selalu dibasahi oleh zalir peritoneum, maka
terjadi kontak langsung komponen inflamasi dengan ovarium dan komponen
inflamasi tersebut akan berdifusi atau melalui mekanisme parakrin masuk
ke folikel ovarium sehingga merusak fungsi sel granulosa dan maturasi
oosit. Gangguan fungsi dan perkembangan sel granulosa, teka dan oosit
serta gangguan komunikasi molekuler di folikel ovarium akan berdampak
pada gangguan folikulogenesis. Keadaan di atas diduga kuat terjadi pada
perempuan dengan endometriosis sehingga berakibat penurunan angka
fertilisasi (29,31).
Telah dibuktikan pada sel granulosa endometriosis terjadi gangguan
siklus sel dan didapatkan peningkatan kejadian apoptosis. Terbukti juga
ekspresi growth differentiation factor (GDF)-9 pada zalir folikel ovarium
lebih rendah pada perempuan infertil dengan endometriosis dibandingkan
kontrol. Semakin berat gradasi endometriosis semakin rendah ekspresi
GDF-9. Penurunan faktor pertumbuhan pada zalir folikel ovarium penderita
endometriosis tersebut berpengaruh pada folikulogenesis sehingga akan
terjadi penurunan kualitas oosit (29,32). Pemikiran yang muncul berdasarkan
hasil penelitian penulis tersebut adalah pada penderita endometriosis terjadi
gangguan komunikasi sel antara oosit dan sel granulosa. Seperti diketahui
terdapat interaksi antara oosit dan sel granulosa, yaitu oosit menyekresi
GDF-9 untuk proliferasi sel granulosa sedangkan sel granulosa menyekresi
Kit-ligand untuk pertumbuhan dan maturasi oosit. Akibat kondisi inflamasi
yang tinggi di lingkungan mikro peritoneum penderita endometriosis akan
menyebabkan terjadi apoptosis sel granulosa. Keadaan ini berdampak pada
nutrisi dari sel granulosa yang seharusnya disalurkan ke oosit akan terhambat
sehingga terjadi gangguan maturasi dan penurunan kualitas oosit (29,32).
Reactive Oxygens Species (ROS) telah dideteksi di zalir peritoneum
penderita endometriosis dan ternyata mempunyai efek merusak oosit
ENDOMETRIOSIS30
sehingga terjadi hambatan motilitas tuba dan pengambilan oosit oleh tuba
sehingga berdampak infertilitas.
GANGGUAN FOLIKULOGENESIS DAN FUNGSI OOSIT
Zalir peritoneum di sekitar lesi endometriosis telah terbukti mengandung
makrofag aktif dengan jumlah dan konsentrasi tinggi serta memproduksi sitokin
proinflamasi IL-1, IL-6, IL-8 dan TNF- α. Selain itu jaringan endometriosis
sendiri aktif memproduksi mediator inflamasi, yaitu IL-1, IL-6, IL-8 dan
TNF-α sehingga membentuk lingkungan mikro peritoneum kaya inflamasi
yang dinamis. Karena ovarium selalu dibasahi oleh zalir peritoneum, maka
terjadi kontak langsung komponen inflamasi dengan ovarium dan komponen
inflamasi tersebut akan berdifusi atau melalui mekanisme parakrin masuk
ke folikel ovarium sehingga merusak fungsi sel granulosa dan maturasi
oosit. Gangguan fungsi dan perkembangan sel granulosa, teka dan oosit
serta gangguan komunikasi molekuler di folikel ovarium akan berdampak
pada gangguan folikulogenesis. Keadaan di atas diduga kuat terjadi pada
perempuan dengan endometriosis sehingga berakibat penurunan angka
fertilisasi (29,31).
Telah dibuktikan pada sel granulosa endometriosis terjadi gangguan
siklus sel dan didapatkan peningkatan kejadian apoptosis. Terbukti juga
ekspresi growth differentiation factor (GDF)-9 pada zalir folikel ovarium
lebih rendah pada perempuan infertil dengan endometriosis dibandingkan
kontrol. Semakin berat gradasi endometriosis semakin rendah ekspresi
GDF-9. Penurunan faktor pertumbuhan pada zalir folikel ovarium penderita
endometriosis tersebut berpengaruh pada folikulogenesis sehingga akan
terjadi penurunan kualitas oosit (29,32). Pemikiran yang muncul berdasarkan
hasil penelitian penulis tersebut adalah pada penderita endometriosis terjadi
gangguan komunikasi sel antara oosit dan sel granulosa. Seperti diketahui
terdapat interaksi antara oosit dan sel granulosa, yaitu oosit menyekresi
GDF-9 untuk proliferasi sel granulosa sedangkan sel granulosa menyekresi
Kit-ligand untuk pertumbuhan dan maturasi oosit. Akibat kondisi inflamasi
yang tinggi di lingkungan mikro peritoneum penderita endometriosis akan
menyebabkan terjadi apoptosis sel granulosa. Keadaan ini berdampak pada
nutrisi dari sel granulosa yang seharusnya disalurkan ke oosit akan terhambat
sehingga terjadi gangguan maturasi dan penurunan kualitas oosit (29,32).
Reactive Oxygens Species (ROS) telah dideteksi di zalir peritoneum
penderita endometriosis dan ternyata mempunyai efek merusak oosit
31Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
dengan cara difusi atau melalui mekanisme parakrin memasuki membran
sel, kemudian merusak hampir semua sel termasuk lipid, protein dan asam
nukleat. ROS bersama mediator proinflamasi merusak komunikasi autokrin-
parakrin folikel ovarium sehingga menyebabkan terjadi gangguan siklus sel
dan apoptosis sel granulosa serta berdampak pada oosit berupa spindel
meiosis abnormal, misalignment kromosom dan penurunan produksi GDF-9
sehingga terjadi gangguan folikulogenesis dan berakhir dengan penurunan
kualitas oosit (33,34).
gangguan fungsi sperma
Lingkungan mikro dengan dominasi inflamasi di zalir peritoneum
penderita endometriosis ternyata dapat mengganggu fungsi sperma. TNF- a
di zalir peritoneum dengan konsentrasi sampai 800 U/ml secara signifikan
dapat menekan motilitas dan progresivitas sperma. Seperti diketahui sperma
berada beberapa saat di organ reproduksi perempuan untuk melakukan
kapasitasi sebelum terjadi fertilisasi sehingga pada periode ini dimungkinkan
terjadi gangguan fungsi sperma akibat inflamasi tersebut. Selain itu ROS di
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada endometriosis. Terjadi dominasi
inflamasi dan ROS di lingkungan mikro peritoneum dan berdampak pada folikel ovarium yang
terdiri dari sel granulosa, teka dan oosit sehingga mengganggu folikulogenesis (29).
31Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
dengan cara difusi atau melalui mekanisme parakrin memasuki membran
sel, kemudian merusak hampir semua sel termasuk lipid, protein dan asam
nukleat. ROS bersama mediator proinflamasi merusak komunikasi autokrin-
parakrin folikel ovarium sehingga menyebabkan terjadi gangguan siklus sel
dan apoptosis sel granulosa serta berdampak pada oosit berupa spindel
meiosis abnormal, misalignment kromosom dan penurunan produksi GDF-9
sehingga terjadi gangguan folikulogenesis dan berakhir dengan penurunan
kualitas oosit (33,34).
gangguan fungsi sperma
Lingkungan mikro dengan dominasi inflamasi di zalir peritoneum
penderita endometriosis ternyata dapat mengganggu fungsi sperma. TNF- a
di zalir peritoneum dengan konsentrasi sampai 800 U/ml secara signifikan
dapat menekan motilitas dan progresivitas sperma. Seperti diketahui sperma
berada beberapa saat di organ reproduksi perempuan untuk melakukan
kapasitasi sebelum terjadi fertilisasi sehingga pada periode ini dimungkinkan
terjadi gangguan fungsi sperma akibat inflamasi tersebut. Selain itu ROS di
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada endometriosis. Terjadi dominasi
inflamasi dan ROS di lingkungan mikro peritoneum dan berdampak pada folikel ovarium yang
terdiri dari sel granulosa, teka dan oosit sehingga mengganggu folikulogenesis (29).
31Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
dengan cara difusi atau melalui mekanisme parakrin memasuki membran
sel, kemudian merusak hampir semua sel termasuk lipid, protein dan asam
nukleat. ROS bersama mediator proinflamasi merusak komunikasi autokrin-
parakrin folikel ovarium sehingga menyebabkan terjadi gangguan siklus sel
dan apoptosis sel granulosa serta berdampak pada oosit berupa spindel
meiosis abnormal, misalignment kromosom dan penurunan produksi GDF-9
sehingga terjadi gangguan folikulogenesis dan berakhir dengan penurunan
kualitas oosit (33,34).
gangguan fungsi sperma
Lingkungan mikro dengan dominasi inflamasi di zalir peritoneum
penderita endometriosis ternyata dapat mengganggu fungsi sperma. TNF- a
di zalir peritoneum dengan konsentrasi sampai 800 U/ml secara signifikan
dapat menekan motilitas dan progresivitas sperma. Seperti diketahui sperma
berada beberapa saat di organ reproduksi perempuan untuk melakukan
kapasitasi sebelum terjadi fertilisasi sehingga pada periode ini dimungkinkan
terjadi gangguan fungsi sperma akibat inflamasi tersebut. Selain itu ROS di
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada endometriosis. Terjadi dominasi
inflamasi dan ROS di lingkungan mikro peritoneum dan berdampak pada folikel ovarium yang
terdiri dari sel granulosa, teka dan oosit sehingga mengganggu folikulogenesis (29).
31Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
dengan cara difusi atau melalui mekanisme parakrin memasuki membran
sel, kemudian merusak hampir semua sel termasuk lipid, protein dan asam
nukleat. ROS bersama mediator proinflamasi merusak komunikasi autokrin-
parakrin folikel ovarium sehingga menyebabkan terjadi gangguan siklus sel
dan apoptosis sel granulosa serta berdampak pada oosit berupa spindel
meiosis abnormal, misalignment kromosom dan penurunan produksi GDF-9
sehingga terjadi gangguan folikulogenesis dan berakhir dengan penurunan
kualitas oosit (33,34).
gangguan fungsi sperma
Lingkungan mikro dengan dominasi inflamasi di zalir peritoneum
penderita endometriosis ternyata dapat mengganggu fungsi sperma. TNF- a
di zalir peritoneum dengan konsentrasi sampai 800 U/ml secara signifikan
dapat menekan motilitas dan progresivitas sperma. Seperti diketahui sperma
berada beberapa saat di organ reproduksi perempuan untuk melakukan
kapasitasi sebelum terjadi fertilisasi sehingga pada periode ini dimungkinkan
terjadi gangguan fungsi sperma akibat inflamasi tersebut. Selain itu ROS di
Gambar 7.1 Mekanisme gangguan folikulogenesis pada endometriosis. Terjadi dominasi
inflamasi dan ROS di lingkungan mikro peritoneum dan berdampak pada folikel ovarium yang
terdiri dari sel granulosa, teka dan oosit sehingga mengganggu folikulogenesis (29).
ENDOMETRIOSIS32
zalir peritoneum mempunyai efek toksik pada sperma dengan merusak sel
membran sehingga terjadi kerusakan DNA dan apoptosis sperma (35,36).
PENURUNAN KUALITAS EMBRIO
Telah diketahui berdasarkan data yang ada bahwa pada embrio
penderita endometriosis didapatkan penurunan jumlah blastomer dan
didapatkan juga penurunan angka implantasi per transfer embrio pada
perempuan dengan endometriosis yang mengikuti program fertilisasi in vitro
(FIV). Selain itu pada program FIV pasien yang menerima embrio berasal
dari ovarium perempuan dengan endometriosis didapatkan angka implantasi
lebih rendah dibandingkan yang berasal dari ovarium perempuan sehat.
Hasil diatas menunjukkan bahwa infertilitas pada endometriosis disebabkan
karena gangguan pada oosit yang selanjutnya menyebabkan penurunan
kualitas embrio. Peningkatan mediator inflamasi pada lingkuangan mikro
peritoneum penderita endometriosis berkontribusi pada kerusakan folikel
ovarium sehingga pada gilirannya menyebabkan penurunan kualitas oosit
dan embrio (37, 38).
GANGGUAN RESEPTIVITAS ENDOMETRIUM
Terdapat tiga faktor penyebab kegagalan implantasi, yaitu gangguan
oosit/embrio, defek pada endometrium dan gangguan komunikasi embrio-
endometrium. Implantasi sangat tergantung pada interaksi antara trofoblas
dan epitel endometrium. Reseptivitas endometrium ditandai dengan ekspresi
αvβ3 integrin dan dilaporkan bahwa pada endometriosis didapatkan ekspresi
αvβ3 integrin abnormal. Surrey melaporkan hasil berbeda, yaitu pemberian
terapi agonis GnRH tiga bulan sebelum pelaksanaan FIV pada pasien
endometriosis memberikan angka kehamilan yang tidak berbeda bermakna
dibandingkan dengan pasien tanpa endometriosis walupun pada pasien
endometriosis ekspresi αvβ3 integrin abnormal (39).
Gangguan reseptivitas endometrium pada endometriosis masih
kontroversi. Garcia-Velasco melaporkan ekspresi pinopoda pada perempuan
dengan endometriosis tidak berbeda dibandingkan dengan perempuan tanpa
endometriosis. Seperti kita ketahui pinopoda merupakan salah satu penanda
reseptivitas endometrium. Walaupun lingkungan mikro peritoneum penderita
endometriosis yang dominan inflamasi dan menyebabkan gangguan
ENDOMETRIOSIS32
zalir peritoneum mempunyai efek toksik pada sperma dengan merusak sel
membran sehingga terjadi kerusakan DNA dan apoptosis sperma (35,36).
PENURUNAN KUALITAS EMBRIO
Telah diketahui berdasarkan data yang ada bahwa pada embrio
penderita endometriosis didapatkan penurunan jumlah blastomer dan
didapatkan juga penurunan angka implantasi per transfer embrio pada
perempuan dengan endometriosis yang mengikuti program fertilisasi in vitro
(FIV). Selain itu pada program FIV pasien yang menerima embrio berasal
dari ovarium perempuan dengan endometriosis didapatkan angka implantasi
lebih rendah dibandingkan yang berasal dari ovarium perempuan sehat.
Hasil diatas menunjukkan bahwa infertilitas pada endometriosis disebabkan
karena gangguan pada oosit yang selanjutnya menyebabkan penurunan
kualitas embrio. Peningkatan mediator inflamasi pada lingkuangan mikro
peritoneum penderita endometriosis berkontribusi pada kerusakan folikel
ovarium sehingga pada gilirannya menyebabkan penurunan kualitas oosit
dan embrio (37, 38).
GANGGUAN RESEPTIVITAS ENDOMETRIUM
Terdapat tiga faktor penyebab kegagalan implantasi, yaitu gangguan
oosit/embrio, defek pada endometrium dan gangguan komunikasi embrio-
endometrium. Implantasi sangat tergantung pada interaksi antara trofoblas
dan epitel endometrium. Reseptivitas endometrium ditandai dengan ekspresi
αvβ3 integrin dan dilaporkan bahwa pada endometriosis didapatkan ekspresi
αvβ3 integrin abnormal. Surrey melaporkan hasil berbeda, yaitu pemberian
terapi agonis GnRH tiga bulan sebelum pelaksanaan FIV pada pasien
endometriosis memberikan angka kehamilan yang tidak berbeda bermakna
dibandingkan dengan pasien tanpa endometriosis walupun pada pasien
endometriosis ekspresi αvβ3 integrin abnormal (39).
Gangguan reseptivitas endometrium pada endometriosis masih
kontroversi. Garcia-Velasco melaporkan ekspresi pinopoda pada perempuan
dengan endometriosis tidak berbeda dibandingkan dengan perempuan tanpa
endometriosis. Seperti kita ketahui pinopoda merupakan salah satu penanda
reseptivitas endometrium. Walaupun lingkungan mikro peritoneum penderita
endometriosis yang dominan inflamasi dan menyebabkan gangguan
ENDOMETRIOSIS32
zalir peritoneum mempunyai efek toksik pada sperma dengan merusak sel
membran sehingga terjadi kerusakan DNA dan apoptosis sperma (35,36).
PENURUNAN KUALITAS EMBRIO
Telah diketahui berdasarkan data yang ada bahwa pada embrio
penderita endometriosis didapatkan penurunan jumlah blastomer dan
didapatkan juga penurunan angka implantasi per transfer embrio pada
perempuan dengan endometriosis yang mengikuti program fertilisasi in vitro
(FIV). Selain itu pada program FIV pasien yang menerima embrio berasal
dari ovarium perempuan dengan endometriosis didapatkan angka implantasi
lebih rendah dibandingkan yang berasal dari ovarium perempuan sehat.
Hasil diatas menunjukkan bahwa infertilitas pada endometriosis disebabkan
karena gangguan pada oosit yang selanjutnya menyebabkan penurunan
kualitas embrio. Peningkatan mediator inflamasi pada lingkuangan mikro
peritoneum penderita endometriosis berkontribusi pada kerusakan folikel
ovarium sehingga pada gilirannya menyebabkan penurunan kualitas oosit
dan embrio (37, 38).
GANGGUAN RESEPTIVITAS ENDOMETRIUM
Terdapat tiga faktor penyebab kegagalan implantasi, yaitu gangguan
oosit/embrio, defek pada endometrium dan gangguan komunikasi embrio-
endometrium. Implantasi sangat tergantung pada interaksi antara trofoblas
dan epitel endometrium. Reseptivitas endometrium ditandai dengan ekspresi
αvβ3 integrin dan dilaporkan bahwa pada endometriosis didapatkan ekspresi
αvβ3 integrin abnormal. Surrey melaporkan hasil berbeda, yaitu pemberian
terapi agonis GnRH tiga bulan sebelum pelaksanaan FIV pada pasien
endometriosis memberikan angka kehamilan yang tidak berbeda bermakna
dibandingkan dengan pasien tanpa endometriosis walupun pada pasien
endometriosis ekspresi αvβ3 integrin abnormal (39).
Gangguan reseptivitas endometrium pada endometriosis masih
kontroversi. Garcia-Velasco melaporkan ekspresi pinopoda pada perempuan
dengan endometriosis tidak berbeda dibandingkan dengan perempuan tanpa
endometriosis. Seperti kita ketahui pinopoda merupakan salah satu penanda
reseptivitas endometrium. Walaupun lingkungan mikro peritoneum penderita
endometriosis yang dominan inflamasi dan menyebabkan gangguan
ENDOMETRIOSIS32
zalir peritoneum mempunyai efek toksik pada sperma dengan merusak sel
membran sehingga terjadi kerusakan DNA dan apoptosis sperma (35,36).
PENURUNAN KUALITAS EMBRIO
Telah diketahui berdasarkan data yang ada bahwa pada embrio
penderita endometriosis didapatkan penurunan jumlah blastomer dan
didapatkan juga penurunan angka implantasi per transfer embrio pada
perempuan dengan endometriosis yang mengikuti program fertilisasi in vitro
(FIV). Selain itu pada program FIV pasien yang menerima embrio berasal
dari ovarium perempuan dengan endometriosis didapatkan angka implantasi
lebih rendah dibandingkan yang berasal dari ovarium perempuan sehat.
Hasil diatas menunjukkan bahwa infertilitas pada endometriosis disebabkan
karena gangguan pada oosit yang selanjutnya menyebabkan penurunan
kualitas embrio. Peningkatan mediator inflamasi pada lingkuangan mikro
peritoneum penderita endometriosis berkontribusi pada kerusakan folikel
ovarium sehingga pada gilirannya menyebabkan penurunan kualitas oosit
dan embrio (37, 38).
GANGGUAN RESEPTIVITAS ENDOMETRIUM
Terdapat tiga faktor penyebab kegagalan implantasi, yaitu gangguan
oosit/embrio, defek pada endometrium dan gangguan komunikasi embrio-
endometrium. Implantasi sangat tergantung pada interaksi antara trofoblas
dan epitel endometrium. Reseptivitas endometrium ditandai dengan ekspresi
αvβ3 integrin dan dilaporkan bahwa pada endometriosis didapatkan ekspresi
αvβ3 integrin abnormal. Surrey melaporkan hasil berbeda, yaitu pemberian
terapi agonis GnRH tiga bulan sebelum pelaksanaan FIV pada pasien
endometriosis memberikan angka kehamilan yang tidak berbeda bermakna
dibandingkan dengan pasien tanpa endometriosis walupun pada pasien
endometriosis ekspresi αvβ3 integrin abnormal (39).
Gangguan reseptivitas endometrium pada endometriosis masih
kontroversi. Garcia-Velasco melaporkan ekspresi pinopoda pada perempuan
dengan endometriosis tidak berbeda dibandingkan dengan perempuan tanpa
endometriosis. Seperti kita ketahui pinopoda merupakan salah satu penanda
reseptivitas endometrium. Walaupun lingkungan mikro peritoneum penderita
endometriosis yang dominan inflamasi dan menyebabkan gangguan
33Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
folikulogenesis diduga berdampak pada gangguan implantasi, namun masih
didapatkan hasil yang tidak konsisten (40, 41).
Semua fakta diatas dapat dihipotesiskan bahwa pada endometriosis
terjadi dominasi inflamasi dan ROS dilingkungan mikro peritoneum. Keadaan
ini akan memicu perlekatan di organ panggul, selain itu akan menyebabkan
gangguan folikulogenesis dengan hasil akhir penurunan kualitas oosit.
Inflamasi dan ROS yang tinggi akan berdampak pada penurunan fungsi
sperma dan pada gilirannya bila terjadi fertilisasi akan menghasilkan
penurunan kualitas embrio. Walaupun kontroversi, terjadi gangguan
reseptivitas endometrium pada perempuan dengan endometriosis sehingga
berakibat kegagalan implantasi embrio. Semua keadaan patologis tersebut
menerangkan bagaimana terjadi infertilitas pada endometriosis (Gambar
7.2).
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis (29)
33Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
folikulogenesis diduga berdampak pada gangguan implantasi, namun masih
didapatkan hasil yang tidak konsisten (40, 41).
Semua fakta diatas dapat dihipotesiskan bahwa pada endometriosis
terjadi dominasi inflamasi dan ROS dilingkungan mikro peritoneum. Keadaan
ini akan memicu perlekatan di organ panggul, selain itu akan menyebabkan
gangguan folikulogenesis dengan hasil akhir penurunan kualitas oosit.
Inflamasi dan ROS yang tinggi akan berdampak pada penurunan fungsi
sperma dan pada gilirannya bila terjadi fertilisasi akan menghasilkan
penurunan kualitas embrio. Walaupun kontroversi, terjadi gangguan
reseptivitas endometrium pada perempuan dengan endometriosis sehingga
berakibat kegagalan implantasi embrio. Semua keadaan patologis tersebut
menerangkan bagaimana terjadi infertilitas pada endometriosis (Gambar
7.2).
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis (29)
33Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
folikulogenesis diduga berdampak pada gangguan implantasi, namun masih
didapatkan hasil yang tidak konsisten (40, 41).
Semua fakta diatas dapat dihipotesiskan bahwa pada endometriosis
terjadi dominasi inflamasi dan ROS dilingkungan mikro peritoneum. Keadaan
ini akan memicu perlekatan di organ panggul, selain itu akan menyebabkan
gangguan folikulogenesis dengan hasil akhir penurunan kualitas oosit.
Inflamasi dan ROS yang tinggi akan berdampak pada penurunan fungsi
sperma dan pada gilirannya bila terjadi fertilisasi akan menghasilkan
penurunan kualitas embrio. Walaupun kontroversi, terjadi gangguan
reseptivitas endometrium pada perempuan dengan endometriosis sehingga
berakibat kegagalan implantasi embrio. Semua keadaan patologis tersebut
menerangkan bagaimana terjadi infertilitas pada endometriosis (Gambar
7.2).
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis (29)
33Bab 7 Hubungan Endometriosis dengan Infertilitas
folikulogenesis diduga berdampak pada gangguan implantasi, namun masih
didapatkan hasil yang tidak konsisten (40, 41).
Semua fakta diatas dapat dihipotesiskan bahwa pada endometriosis
terjadi dominasi inflamasi dan ROS dilingkungan mikro peritoneum. Keadaan
ini akan memicu perlekatan di organ panggul, selain itu akan menyebabkan
gangguan folikulogenesis dengan hasil akhir penurunan kualitas oosit.
Inflamasi dan ROS yang tinggi akan berdampak pada penurunan fungsi
sperma dan pada gilirannya bila terjadi fertilisasi akan menghasilkan
penurunan kualitas embrio. Walaupun kontroversi, terjadi gangguan
reseptivitas endometrium pada perempuan dengan endometriosis sehingga
berakibat kegagalan implantasi embrio. Semua keadaan patologis tersebut
menerangkan bagaimana terjadi infertilitas pada endometriosis (Gambar
7.2).
Gambar 7.2 Mekanisme infertilitas pada endometriosis (29)
35
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 8 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara pemeriksaan dan mampu menegakkan diagnosis endometriosis.
Beberapa studi telah melaporkan terjadi keterlambatan diagnosis pada
endometriosis. Di negara Jerman dan Australia keterlambatan diagnosis sekitar
10,4 tahun. Di Inggris dan Spanyol terjadi keterlambatan diagnosis 8 tahun,
sedangkan di Irlandia dan Belgia keterlambatan sekitar 4-5 tahun. Terdapat
beberapa penyebab keterlambatan diagnosis tersebut antara lain melakukan
pemeriksaan yang tidak adekuat sehingga terjadi misdiagnosis, anggapan keluhan
nyeri haid sebagai hal yang normal baik oleh penderita, keluarga maupun tenaga
kesehatan dan penggunaan kontrasepsi sehingga mengaburkan diagnosis (1,3).
Persangkaan endometriosis harus dipikirkan apabila keluhan nyeri
terjadi pada perempuan usia reproduksi dan terutama bila keluhan tersebut
muncul secara siklik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan
panggul harus dikerjakan. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa
pelaksanaan pemeriksaan saat haid akan meningkatkan diagnosis walaupun
sering kali perempuan menolak diperiksa pada periode tersebut.
European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE)
melalui Guideline Development Group membuat rekomendasi utuk
managemen endometriosis dengan memakai dasar interpretasi gradasi
rekomendasi.
Pemeriksaan dan
Diagnosis Endometriosis
8
35
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 8 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara pemeriksaan dan mampu menegakkan diagnosis endometriosis.
Beberapa studi telah melaporkan terjadi keterlambatan diagnosis pada
endometriosis. Di negara Jerman dan Australia keterlambatan diagnosis sekitar
10,4 tahun. Di Inggris dan Spanyol terjadi keterlambatan diagnosis 8 tahun,
sedangkan di Irlandia dan Belgia keterlambatan sekitar 4-5 tahun. Terdapat
beberapa penyebab keterlambatan diagnosis tersebut antara lain melakukan
pemeriksaan yang tidak adekuat sehingga terjadi misdiagnosis, anggapan keluhan
nyeri haid sebagai hal yang normal baik oleh penderita, keluarga maupun tenaga
kesehatan dan penggunaan kontrasepsi sehingga mengaburkan diagnosis (1,3).
Persangkaan endometriosis harus dipikirkan apabila keluhan nyeri
terjadi pada perempuan usia reproduksi dan terutama bila keluhan tersebut
muncul secara siklik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan
panggul harus dikerjakan. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa
pelaksanaan pemeriksaan saat haid akan meningkatkan diagnosis walaupun
sering kali perempuan menolak diperiksa pada periode tersebut.
European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE)
melalui Guideline Development Group membuat rekomendasi utuk
managemen endometriosis dengan memakai dasar interpretasi gradasi
rekomendasi.
Pemeriksaan dan
Diagnosis Endometriosis
8
35
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 8 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara pemeriksaan dan mampu menegakkan diagnosis endometriosis.
Beberapa studi telah melaporkan terjadi keterlambatan diagnosis pada
endometriosis. Di negara Jerman dan Australia keterlambatan diagnosis sekitar
10,4 tahun. Di Inggris dan Spanyol terjadi keterlambatan diagnosis 8 tahun,
sedangkan di Irlandia dan Belgia keterlambatan sekitar 4-5 tahun. Terdapat
beberapa penyebab keterlambatan diagnosis tersebut antara lain melakukan
pemeriksaan yang tidak adekuat sehingga terjadi misdiagnosis, anggapan keluhan
nyeri haid sebagai hal yang normal baik oleh penderita, keluarga maupun tenaga
kesehatan dan penggunaan kontrasepsi sehingga mengaburkan diagnosis (1,3).
Persangkaan endometriosis harus dipikirkan apabila keluhan nyeri
terjadi pada perempuan usia reproduksi dan terutama bila keluhan tersebut
muncul secara siklik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan
panggul harus dikerjakan. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa
pelaksanaan pemeriksaan saat haid akan meningkatkan diagnosis walaupun
sering kali perempuan menolak diperiksa pada periode tersebut.
European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE)
melalui Guideline Development Group membuat rekomendasi utuk
managemen endometriosis dengan memakai dasar interpretasi gradasi
rekomendasi.
Pemeriksaan dan
Diagnosis Endometriosis
8
35
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 8 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara pemeriksaan dan mampu menegakkan diagnosis endometriosis.
Beberapa studi telah melaporkan terjadi keterlambatan diagnosis pada
endometriosis. Di negara Jerman dan Australia keterlambatan diagnosis sekitar
10,4 tahun. Di Inggris dan Spanyol terjadi keterlambatan diagnosis 8 tahun,
sedangkan di Irlandia dan Belgia keterlambatan sekitar 4-5 tahun. Terdapat
beberapa penyebab keterlambatan diagnosis tersebut antara lain melakukan
pemeriksaan yang tidak adekuat sehingga terjadi misdiagnosis, anggapan keluhan
nyeri haid sebagai hal yang normal baik oleh penderita, keluarga maupun tenaga
kesehatan dan penggunaan kontrasepsi sehingga mengaburkan diagnosis (1,3).
Persangkaan endometriosis harus dipikirkan apabila keluhan nyeri
terjadi pada perempuan usia reproduksi dan terutama bila keluhan tersebut
muncul secara siklik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan
panggul harus dikerjakan. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa
pelaksanaan pemeriksaan saat haid akan meningkatkan diagnosis walaupun
sering kali perempuan menolak diperiksa pada periode tersebut.
European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE)
melalui Guideline Development Group membuat rekomendasi utuk
managemen endometriosis dengan memakai dasar interpretasi gradasi
rekomendasi.
Pemeriksaan dan
Diagnosis Endometriosis
8
ENDOMETRIOSIS36
Anamnesis dan pemeriksaan untuk konfirmasi dugaan endometriosis adalah
sebagai berikut.
ANAMNESIS
Ditanyakan keluhan nyeri yang berhubungan dengan haid. Keluhan
panggul misal nyeri panggul, dismenore, dispareuni adalah keluhan klasik
endometriosis. Studi di Brasil mendapatkan dismenorea sebagai keluhan
utama pada 62% perempuan dengan endometriosis peritoneum. Keluhan
nyeri tergantung pada lokasi lesi endometriosis.
Remaja putri dengan endometriosis berdasarkan tindakan diagnostik
dengan laparoskopi didapatkan data 100% keluhan uterus nyeri kram, 67%
nyeri siklik, 39% nyeri nonsiklik, 67% konstipasi/diare dan 31% nyeri menjalar
ke kaki atau punggung. Ditanyakan juga keluhan infertilitas, termasuk sudah
berapa lama usia pernikahan tanpa anak. Pada perempuan dengan keluhan
infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapat keluhan dismenorea sebagai
prediktif utama diagnosis endometriosis.
Secara keseluruhan bukti yang mendukung keluhan sebagai dasar
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat dan tidak lengkap, namun walaupun
bukti terbatas eksplorasi diagnosis endometriosis pada perempuan dengan
keluhan di atas akan menghasilkan diagnosis lebih awal.
Berdasarkan berbagai data ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi sebagai berikut (1,3).
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung (3)
Gradasi
Rekomendasi Bukti Pendukung
A Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT ( High quality )
B Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT (moderate quality).
single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( high quality)
C Single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( moderate quality )
D Studi non-analitik, laporan kasus atau serial kasus ( high or moderate
quality)
GPP (Good
Practice
Point)
Opini pakar
ENDOMETRIOSIS36
Anamnesis dan pemeriksaan untuk konfirmasi dugaan endometriosis adalah
sebagai berikut.
ANAMNESIS
Ditanyakan keluhan nyeri yang berhubungan dengan haid. Keluhan
panggul misal nyeri panggul, dismenore, dispareuni adalah keluhan klasik
endometriosis. Studi di Brasil mendapatkan dismenorea sebagai keluhan
utama pada 62% perempuan dengan endometriosis peritoneum. Keluhan
nyeri tergantung pada lokasi lesi endometriosis.
Remaja putri dengan endometriosis berdasarkan tindakan diagnostik
dengan laparoskopi didapatkan data 100% keluhan uterus nyeri kram, 67%
nyeri siklik, 39% nyeri nonsiklik, 67% konstipasi/diare dan 31% nyeri menjalar
ke kaki atau punggung. Ditanyakan juga keluhan infertilitas, termasuk sudah
berapa lama usia pernikahan tanpa anak. Pada perempuan dengan keluhan
infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapat keluhan dismenorea sebagai
prediktif utama diagnosis endometriosis.
Secara keseluruhan bukti yang mendukung keluhan sebagai dasar
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat dan tidak lengkap, namun walaupun
bukti terbatas eksplorasi diagnosis endometriosis pada perempuan dengan
keluhan di atas akan menghasilkan diagnosis lebih awal.
Berdasarkan berbagai data ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi sebagai berikut (1,3).
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung (3)
Gradasi
Rekomendasi Bukti Pendukung
A Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT ( High quality )
B Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT (moderate quality).
single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( high quality)
C Single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( moderate quality )
D Studi non-analitik, laporan kasus atau serial kasus ( high or moderate
quality)
GPP (Good
Practice
Point)
Opini pakar
ENDOMETRIOSIS36
Anamnesis dan pemeriksaan untuk konfirmasi dugaan endometriosis adalah
sebagai berikut.
ANAMNESIS
Ditanyakan keluhan nyeri yang berhubungan dengan haid. Keluhan
panggul misal nyeri panggul, dismenore, dispareuni adalah keluhan klasik
endometriosis. Studi di Brasil mendapatkan dismenorea sebagai keluhan
utama pada 62% perempuan dengan endometriosis peritoneum. Keluhan
nyeri tergantung pada lokasi lesi endometriosis.
Remaja putri dengan endometriosis berdasarkan tindakan diagnostik
dengan laparoskopi didapatkan data 100% keluhan uterus nyeri kram, 67%
nyeri siklik, 39% nyeri nonsiklik, 67% konstipasi/diare dan 31% nyeri menjalar
ke kaki atau punggung. Ditanyakan juga keluhan infertilitas, termasuk sudah
berapa lama usia pernikahan tanpa anak. Pada perempuan dengan keluhan
infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapat keluhan dismenorea sebagai
prediktif utama diagnosis endometriosis.
Secara keseluruhan bukti yang mendukung keluhan sebagai dasar
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat dan tidak lengkap, namun walaupun
bukti terbatas eksplorasi diagnosis endometriosis pada perempuan dengan
keluhan di atas akan menghasilkan diagnosis lebih awal.
Berdasarkan berbagai data ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi sebagai berikut (1,3).
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung (3)
Gradasi
Rekomendasi Bukti Pendukung
A Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT ( High quality )
B Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT (moderate quality).
single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( high quality)
C Single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( moderate quality )
D Studi non-analitik, laporan kasus atau serial kasus ( high or moderate
quality)
GPP (Good
Practice
Point)
Opini pakar
ENDOMETRIOSIS36
Anamnesis dan pemeriksaan untuk konfirmasi dugaan endometriosis adalah
sebagai berikut.
ANAMNESIS
Ditanyakan keluhan nyeri yang berhubungan dengan haid. Keluhan
panggul misal nyeri panggul, dismenore, dispareuni adalah keluhan klasik
endometriosis. Studi di Brasil mendapatkan dismenorea sebagai keluhan
utama pada 62% perempuan dengan endometriosis peritoneum. Keluhan
nyeri tergantung pada lokasi lesi endometriosis.
Remaja putri dengan endometriosis berdasarkan tindakan diagnostik
dengan laparoskopi didapatkan data 100% keluhan uterus nyeri kram, 67%
nyeri siklik, 39% nyeri nonsiklik, 67% konstipasi/diare dan 31% nyeri menjalar
ke kaki atau punggung. Ditanyakan juga keluhan infertilitas, termasuk sudah
berapa lama usia pernikahan tanpa anak. Pada perempuan dengan keluhan
infertilitas yang dilakukan laparoskopi didapat keluhan dismenorea sebagai
prediktif utama diagnosis endometriosis.
Secara keseluruhan bukti yang mendukung keluhan sebagai dasar
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat dan tidak lengkap, namun walaupun
bukti terbatas eksplorasi diagnosis endometriosis pada perempuan dengan
keluhan di atas akan menghasilkan diagnosis lebih awal.
Berdasarkan berbagai data ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi sebagai berikut (1,3).
Tabel 8.1 Gradasi rekomendasi dan bukti pendukung (3)
Gradasi
Rekomendasi Bukti Pendukung
A Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT ( High quality )
B Meta analisis, review sistematis atau multipel RCT (moderate quality).
single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( high quality)
C Single RCT, kasus-kontrol atau studi kohort ( moderate quality )
D Studi non-analitik, laporan kasus atau serial kasus ( high or moderate
quality)
GPP (Good
Practice
Point)
Opini pakar
37Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
Para dokter atau klinisi sebaiknya mempertimbangkan
diagnosis endometriosis bila didapatkan keluhan ginekologi
misal: nyeri haid, nyeri panggul bukan saat haid, nyeri
sanggama, infertilitas dan kelelahan
Rekomendasi GPP
Sebaiknya dipertimbangkan juga diagnosis endometriosis
pada perempuan usia reproduksi dengan keluhan non
ginekologi, misal : dischezia, disuria, hematuria, perdarahan
rektum dan nyeri bahu.
Rekomendasi GPP
PEMERIKSAAN FISIK DAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan klinis pada perempuan dengan kecurigaan endometriosisis
meliputi pemeriksaan fisik panggul serta inspeksi dan palpasi abdomen.
Pemeriksaan vagina dilakukan dengan perabaan pembesaran ovarium/
e n d o m e t r i o m a / k i s t a d i a d n e k s a . P e m e r i k s a a n r e k t a l a t a u c o l o k d u b u r
mengevaluasi nodul di daerah kavum douglasi dan sakrouterina yang sering
disertai rasa nyeri. Didapatkan uterus fixed dan retrofleksi yang disebabkan
karena perlekatan organ panggul dan deeply infiltrating disease. Secara
keseluruhan bukti yang mendukung pemeriksaan klinis untuk penentuan
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat, karena sebagian besar didapatkan
dari studi kohort (1, 2, 3).
Dalam rangka prediksi keberadaan dan lokasi lesi endometriosis, ESHRE
Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat pemeriksaan
klinis sebagai berikut.
Para klinisi atau dokter sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik
pada semua perempuan dengan kecurigaan endometriosis.
Apabila pemeriksaan vagina tidak memungkinkan dilakukan
misal pada remaja yang belum menikah, pemeriksaan rektal
sebaiknya dilakukan untuk diagnosis endometriosis
Rekomendasi
GPP
Diagnosis deep endometriosis dipertimbangkan apabila pada
pemeriksaan klinis didapatkan indurasi atau nodul pada dinding
rektovagina atau pada fornik posterior vagina
Rekomendasi C
Diagnosis ovarian endometriosis dipertimbangkan apabila
didapatkan massa pada adneksa
Rekomendasi C
37Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
Para dokter atau klinisi sebaiknya mempertimbangkan
diagnosis endometriosis bila didapatkan keluhan ginekologi
misal: nyeri haid, nyeri panggul bukan saat haid, nyeri
sanggama, infertilitas dan kelelahan
Rekomendasi GPP
Sebaiknya dipertimbangkan juga diagnosis endometriosis
pada perempuan usia reproduksi dengan keluhan non
ginekologi, misal : dischezia, disuria, hematuria, perdarahan
rektum dan nyeri bahu.
Rekomendasi GPP
PEMERIKSAAN FISIK DAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan klinis pada perempuan dengan kecurigaan endometriosisis
meliputi pemeriksaan fisik panggul serta inspeksi dan palpasi abdomen.
Pemeriksaan vagina dilakukan dengan perabaan pembesaran ovarium/
e n d o m e t r i o m a / k i s t a d i a d n e k s a . P e m e r i k s a a n r e k t a l a t a u c o l o k d u b u r
mengevaluasi nodul di daerah kavum douglasi dan sakrouterina yang sering
disertai rasa nyeri. Didapatkan uterus fixed dan retrofleksi yang disebabkan
karena perlekatan organ panggul dan deeply infiltrating disease. Secara
keseluruhan bukti yang mendukung pemeriksaan klinis untuk penentuan
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat, karena sebagian besar didapatkan
dari studi kohort (1, 2, 3).
Dalam rangka prediksi keberadaan dan lokasi lesi endometriosis, ESHRE
Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat pemeriksaan
klinis sebagai berikut.
Para klinisi atau dokter sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik
pada semua perempuan dengan kecurigaan endometriosis.
Apabila pemeriksaan vagina tidak memungkinkan dilakukan
misal pada remaja yang belum menikah, pemeriksaan rektal
sebaiknya dilakukan untuk diagnosis endometriosis
Rekomendasi
GPP
Diagnosis deep endometriosis dipertimbangkan apabila pada
pemeriksaan klinis didapatkan indurasi atau nodul pada dinding
rektovagina atau pada fornik posterior vagina
Rekomendasi C
Diagnosis ovarian endometriosis dipertimbangkan apabila
didapatkan massa pada adneksa
Rekomendasi C
37Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
Para dokter atau klinisi sebaiknya mempertimbangkan
diagnosis endometriosis bila didapatkan keluhan ginekologi
misal: nyeri haid, nyeri panggul bukan saat haid, nyeri
sanggama, infertilitas dan kelelahan
Rekomendasi GPP
Sebaiknya dipertimbangkan juga diagnosis endometriosis
pada perempuan usia reproduksi dengan keluhan non
ginekologi, misal : dischezia, disuria, hematuria, perdarahan
rektum dan nyeri bahu.
Rekomendasi GPP
PEMERIKSAAN FISIK DAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan klinis pada perempuan dengan kecurigaan endometriosisis
meliputi pemeriksaan fisik panggul serta inspeksi dan palpasi abdomen.
Pemeriksaan vagina dilakukan dengan perabaan pembesaran ovarium/
e n d o m e t r i o m a / k i s t a d i a d n e k s a . P e m e r i k s a a n r e k t a l a t a u c o l o k d u b u r
mengevaluasi nodul di daerah kavum douglasi dan sakrouterina yang sering
disertai rasa nyeri. Didapatkan uterus fixed dan retrofleksi yang disebabkan
karena perlekatan organ panggul dan deeply infiltrating disease. Secara
keseluruhan bukti yang mendukung pemeriksaan klinis untuk penentuan
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat, karena sebagian besar didapatkan
dari studi kohort (1, 2, 3).
Dalam rangka prediksi keberadaan dan lokasi lesi endometriosis, ESHRE
Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat pemeriksaan
klinis sebagai berikut.
Para klinisi atau dokter sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik
pada semua perempuan dengan kecurigaan endometriosis.
Apabila pemeriksaan vagina tidak memungkinkan dilakukan
misal pada remaja yang belum menikah, pemeriksaan rektal
sebaiknya dilakukan untuk diagnosis endometriosis
Rekomendasi
GPP
Diagnosis deep endometriosis dipertimbangkan apabila pada
pemeriksaan klinis didapatkan indurasi atau nodul pada dinding
rektovagina atau pada fornik posterior vagina
Rekomendasi C
Diagnosis ovarian endometriosis dipertimbangkan apabila
didapatkan massa pada adneksa
Rekomendasi C
37Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
Para dokter atau klinisi sebaiknya mempertimbangkan
diagnosis endometriosis bila didapatkan keluhan ginekologi
misal: nyeri haid, nyeri panggul bukan saat haid, nyeri
sanggama, infertilitas dan kelelahan
Rekomendasi GPP
Sebaiknya dipertimbangkan juga diagnosis endometriosis
pada perempuan usia reproduksi dengan keluhan non
ginekologi, misal : dischezia, disuria, hematuria, perdarahan
rektum dan nyeri bahu.
Rekomendasi GPP
PEMERIKSAAN FISIK DAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan klinis pada perempuan dengan kecurigaan endometriosisis
meliputi pemeriksaan fisik panggul serta inspeksi dan palpasi abdomen.
Pemeriksaan vagina dilakukan dengan perabaan pembesaran ovarium/
e n d o m e t r i o m a / k i s t a d i a d n e k s a . P e m e r i k s a a n r e k t a l a t a u c o l o k d u b u r
mengevaluasi nodul di daerah kavum douglasi dan sakrouterina yang sering
disertai rasa nyeri. Didapatkan uterus fixed dan retrofleksi yang disebabkan
karena perlekatan organ panggul dan deeply infiltrating disease. Secara
keseluruhan bukti yang mendukung pemeriksaan klinis untuk penentuan
diagnosis endometriosis tidak cukup kuat, karena sebagian besar didapatkan
dari studi kohort (1, 2, 3).
Dalam rangka prediksi keberadaan dan lokasi lesi endometriosis, ESHRE
Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat pemeriksaan
klinis sebagai berikut.
Para klinisi atau dokter sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik
pada semua perempuan dengan kecurigaan endometriosis.
Apabila pemeriksaan vagina tidak memungkinkan dilakukan
misal pada remaja yang belum menikah, pemeriksaan rektal
sebaiknya dilakukan untuk diagnosis endometriosis
Rekomendasi
GPP
Diagnosis deep endometriosis dipertimbangkan apabila pada
pemeriksaan klinis didapatkan indurasi atau nodul pada dinding
rektovagina atau pada fornik posterior vagina
Rekomendasi C
Diagnosis ovarian endometriosis dipertimbangkan apabila
didapatkan massa pada adneksa
Rekomendasi C
ENDOMETRIOSIS38
LAPAROSKOPI UNTUK DIAGNOSIS ENDOMETRIOSIS
Sampai saat ini metode definitif untuk diagnosis endometriosis
termasuk penentuan stadium dan evaluasi kekambuhan pascaterapi adalah
visualisasi langsung dengan pembedahan. Sebagian besar tindakan visualisasi
tersebut menggunakan laparoskopi yaitu tindakan pembedahan di abdomen
atau panggul menggunakan insisi kecil 0,5 −1,5 cm dengan memasukkan
kamera kedalamnya. Laparoskopi dapat dilakukan untuk diagnostik dan
sekaligus dapat untuk tindakan operasi (1,2,3). Saat mengerjakan tindakan
laparoskopi sebaiknya melakukan pemeriksaan secara sistematis, meliputi
1) pemeriksaan uterus dan adneksa, 2) peritoneum dan fossa ovarium, plika
vesiko-uterina, kavum douglasi dan daerah pararektal, 3) rektum dan sigmoid,
4) apendiks dan caecum dan 5) diafragma. Pemeriksaan laparoskopi dengan
kualitas bagus seperti diatas dapat dilakukan hanya dengan memakai satu
lubang sekunder untuk memasukkan grasper guna menyingkirkan usus yang
menghalangi visualisasi atau fluid suction guna memastikan seluruh kavum
douglasi terevaluasi (1, 3).
Sampai saat ini tindakan laparoskopi dengan atau tanpa konfirmasi
histologi telah banyak digunakan untuk diagnosis atau menyingkirkan
keberadaan endometriosis. Jadi bila anamnesis dan pemeriksaan klinis telah
mengarah ke dugaan endometriosis, sebaiknya dilakukan laparoskopi untuk
inspeksi visualisasi lesi endometriosis yang sampai saat ini masih merupakan
cara penentuan diagnosis definitif. Saat laparoskopi ditentukan stadium
endometriosis, digunakan cara klasifikasi revised America Fertility Society.
Terdapat tiga tipe lesi endometriosis yang terlihat saat visualisasi dengan
laparoskopi, yaitu (42,43).
1. Lesi superfisial
Lesi berlokasi di peritoneum dan permukaan ovarium. Lesi dapat
berbentuk blue-black powder burn, subtle lesion: petechial, vesicular,
polypoid dan haemorrhagic lesion.
2. Kista endometriosis atau endometrioma
Lesi endometriosis berbentuk kista berisi cairan kecoklatan kental
yang mengelompok pada permukaan peritoneum (fossa ovarium).
Endometrioma terbentuk akibat invaginasi korteks ovarium setelah terjadi
akumulasi debris darah haid.
3. Deep infiltrating endometriosis atau lesi infiltrasi dalam
Lesi endometriosis melakukan infiltrasi lebih dari 5 mm di bawah
permukaan peritoneum, dapat juga penetrasi atau melekat pada struktur
lain, misalnya kandung kencing, usus, ureter dan vagina.
ENDOMETRIOSIS38
LAPAROSKOPI UNTUK DIAGNOSIS ENDOMETRIOSIS
Sampai saat ini metode definitif untuk diagnosis endometriosis
termasuk penentuan stadium dan evaluasi kekambuhan pascaterapi adalah
visualisasi langsung dengan pembedahan. Sebagian besar tindakan visualisasi
tersebut menggunakan laparoskopi yaitu tindakan pembedahan di abdomen
atau panggul menggunakan insisi kecil 0,5 −1,5 cm dengan memasukkan
kamera kedalamnya. Laparoskopi dapat dilakukan untuk diagnostik dan
sekaligus dapat untuk tindakan operasi (1,2,3). Saat mengerjakan tindakan
laparoskopi sebaiknya melakukan pemeriksaan secara sistematis, meliputi
1) pemeriksaan uterus dan adneksa, 2) peritoneum dan fossa ovarium, plika
vesiko-uterina, kavum douglasi dan daerah pararektal, 3) rektum dan sigmoid,
4) apendiks dan caecum dan 5) diafragma. Pemeriksaan laparoskopi dengan
kualitas bagus seperti diatas dapat dilakukan hanya dengan memakai satu
lubang sekunder untuk memasukkan grasper guna menyingkirkan usus yang
menghalangi visualisasi atau fluid suction guna memastikan seluruh kavum
douglasi terevaluasi (1, 3).
Sampai saat ini tindakan laparoskopi dengan atau tanpa konfirmasi
histologi telah banyak digunakan untuk diagnosis atau menyingkirkan
keberadaan endometriosis. Jadi bila anamnesis dan pemeriksaan klinis telah
mengarah ke dugaan endometriosis, sebaiknya dilakukan laparoskopi untuk
inspeksi visualisasi lesi endometriosis yang sampai saat ini masih merupakan
cara penentuan diagnosis definitif. Saat laparoskopi ditentukan stadium
endometriosis, digunakan cara klasifikasi revised America Fertility Society.
Terdapat tiga tipe lesi endometriosis yang terlihat saat visualisasi dengan
laparoskopi, yaitu (42,43).
1. Lesi superfisial
Lesi berlokasi di peritoneum dan permukaan ovarium. Lesi dapat
berbentuk blue-black powder burn, subtle lesion: petechial, vesicular,
polypoid dan haemorrhagic lesion.
2. Kista endometriosis atau endometrioma
Lesi endometriosis berbentuk kista berisi cairan kecoklatan kental
yang mengelompok pada permukaan peritoneum (fossa ovarium).
Endometrioma terbentuk akibat invaginasi korteks ovarium setelah terjadi
akumulasi debris darah haid.
3. Deep infiltrating endometriosis atau lesi infiltrasi dalam
Lesi endometriosis melakukan infiltrasi lebih dari 5 mm di bawah
permukaan peritoneum, dapat juga penetrasi atau melekat pada struktur
lain, misalnya kandung kencing, usus, ureter dan vagina.
ENDOMETRIOSIS38
LAPAROSKOPI UNTUK DIAGNOSIS ENDOMETRIOSIS
Sampai saat ini metode definitif untuk diagnosis endometriosis
termasuk penentuan stadium dan evaluasi kekambuhan pascaterapi adalah
visualisasi langsung dengan pembedahan. Sebagian besar tindakan visualisasi
tersebut menggunakan laparoskopi yaitu tindakan pembedahan di abdomen
atau panggul menggunakan insisi kecil 0,5 −1,5 cm dengan memasukkan
kamera kedalamnya. Laparoskopi dapat dilakukan untuk diagnostik dan
sekaligus dapat untuk tindakan operasi (1,2,3). Saat mengerjakan tindakan
laparoskopi sebaiknya melakukan pemeriksaan secara sistematis, meliputi
1) pemeriksaan uterus dan adneksa, 2) peritoneum dan fossa ovarium, plika
vesiko-uterina, kavum douglasi dan daerah pararektal, 3) rektum dan sigmoid,
4) apendiks dan caecum dan 5) diafragma. Pemeriksaan laparoskopi dengan
kualitas bagus seperti diatas dapat dilakukan hanya dengan memakai satu
lubang sekunder untuk memasukkan grasper guna menyingkirkan usus yang
menghalangi visualisasi atau fluid suction guna memastikan seluruh kavum
douglasi terevaluasi (1, 3).
Sampai saat ini tindakan laparoskopi dengan atau tanpa konfirmasi
histologi telah banyak digunakan untuk diagnosis atau menyingkirkan
keberadaan endometriosis. Jadi bila anamnesis dan pemeriksaan klinis telah
mengarah ke dugaan endometriosis, sebaiknya dilakukan laparoskopi untuk
inspeksi visualisasi lesi endometriosis yang sampai saat ini masih merupakan
cara penentuan diagnosis definitif. Saat laparoskopi ditentukan stadium
endometriosis, digunakan cara klasifikasi revised America Fertility Society.
Terdapat tiga tipe lesi endometriosis yang terlihat saat visualisasi dengan
laparoskopi, yaitu (42,43).
1. Lesi superfisial
Lesi berlokasi di peritoneum dan permukaan ovarium. Lesi dapat
berbentuk blue-black powder burn, subtle lesion: petechial, vesicular,
polypoid dan haemorrhagic lesion.
2. Kista endometriosis atau endometrioma
Lesi endometriosis berbentuk kista berisi cairan kecoklatan kental
yang mengelompok pada permukaan peritoneum (fossa ovarium).
Endometrioma terbentuk akibat invaginasi korteks ovarium setelah terjadi
akumulasi debris darah haid.
3. Deep infiltrating endometriosis atau lesi infiltrasi dalam
Lesi endometriosis melakukan infiltrasi lebih dari 5 mm di bawah
permukaan peritoneum, dapat juga penetrasi atau melekat pada struktur
lain, misalnya kandung kencing, usus, ureter dan vagina.
ENDOMETRIOSIS38
LAPAROSKOPI UNTUK DIAGNOSIS ENDOMETRIOSIS
Sampai saat ini metode definitif untuk diagnosis endometriosis
termasuk penentuan stadium dan evaluasi kekambuhan pascaterapi adalah
visualisasi langsung dengan pembedahan. Sebagian besar tindakan visualisasi
tersebut menggunakan laparoskopi yaitu tindakan pembedahan di abdomen
atau panggul menggunakan insisi kecil 0,5 −1,5 cm dengan memasukkan
kamera kedalamnya. Laparoskopi dapat dilakukan untuk diagnostik dan
sekaligus dapat untuk tindakan operasi (1,2,3). Saat mengerjakan tindakan
laparoskopi sebaiknya melakukan pemeriksaan secara sistematis, meliputi
1) pemeriksaan uterus dan adneksa, 2) peritoneum dan fossa ovarium, plika
vesiko-uterina, kavum douglasi dan daerah pararektal, 3) rektum dan sigmoid,
4) apendiks dan caecum dan 5) diafragma. Pemeriksaan laparoskopi dengan
kualitas bagus seperti diatas dapat dilakukan hanya dengan memakai satu
lubang sekunder untuk memasukkan grasper guna menyingkirkan usus yang
menghalangi visualisasi atau fluid suction guna memastikan seluruh kavum
douglasi terevaluasi (1, 3).
Sampai saat ini tindakan laparoskopi dengan atau tanpa konfirmasi
histologi telah banyak digunakan untuk diagnosis atau menyingkirkan
keberadaan endometriosis. Jadi bila anamnesis dan pemeriksaan klinis telah
mengarah ke dugaan endometriosis, sebaiknya dilakukan laparoskopi untuk
inspeksi visualisasi lesi endometriosis yang sampai saat ini masih merupakan
cara penentuan diagnosis definitif. Saat laparoskopi ditentukan stadium
endometriosis, digunakan cara klasifikasi revised America Fertility Society.
Terdapat tiga tipe lesi endometriosis yang terlihat saat visualisasi dengan
laparoskopi, yaitu (42,43).
1. Lesi superfisial
Lesi berlokasi di peritoneum dan permukaan ovarium. Lesi dapat
berbentuk blue-black powder burn, subtle lesion: petechial, vesicular,
polypoid dan haemorrhagic lesion.
2. Kista endometriosis atau endometrioma
Lesi endometriosis berbentuk kista berisi cairan kecoklatan kental
yang mengelompok pada permukaan peritoneum (fossa ovarium).
Endometrioma terbentuk akibat invaginasi korteks ovarium setelah terjadi
akumulasi debris darah haid.
3. Deep infiltrating endometriosis atau lesi infiltrasi dalam
Lesi endometriosis melakukan infiltrasi lebih dari 5 mm di bawah
permukaan peritoneum, dapat juga penetrasi atau melekat pada struktur
lain, misalnya kandung kencing, usus, ureter dan vagina.
39Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat
pemeriksaan laparoskopi sebagai berikut(1,3).
Para dokter atau klinisi sebaiknya melakukan laparoskopi untuk
diagnosis endometriosis, walaupun tidak ada bukti bahwa
positif endometriosis dengan laparoskopi tanpa pemeriksaan
histologi membuktikan keberadaan endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
R e k o m e n d a s i
GPP
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi merah
dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus. (3) Perlekatan
(adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium. (Dokumentasi Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
42
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
Rekomendasi
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
Rekomendasi
GPP
Gambar 8.1. Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi
merah dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus.
(3)Perlekatan (adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
USG transvagina untuk diagnosis kista endometriosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang terbanyak ditemukan
saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling banyak di bidang ginekologi.
Red lesion
Blue-black lesion
Uterus
Adesi
Endometrioma
Uterus
Perlekatan
Uterus
Hiperemi
1
3
2
4
39Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat
pemeriksaan laparoskopi sebagai berikut(1,3).
Para dokter atau klinisi sebaiknya melakukan laparoskopi untuk
diagnosis endometriosis, walaupun tidak ada bukti bahwa
positif endometriosis dengan laparoskopi tanpa pemeriksaan
histologi membuktikan keberadaan endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
R e k o m e n d a s i
GPP
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi merah
dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus. (3) Perlekatan
(adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium. (Dokumentasi Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
42
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
Rekomendasi
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
Rekomendasi
GPP
Gambar 8.1. Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi
merah dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus.
(3)Perlekatan (adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
USG transvagina untuk diagnosis kista endometriosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang terbanyak ditemukan
saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling banyak di bidang ginekologi.
Red lesion
Blue-black lesion
Uterus
Adesi
Endometrioma
Uterus
Perlekatan
Uterus
Hiperemi
1
3
2
4
39Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat
pemeriksaan laparoskopi sebagai berikut(1,3).
Para dokter atau klinisi sebaiknya melakukan laparoskopi untuk
diagnosis endometriosis, walaupun tidak ada bukti bahwa
positif endometriosis dengan laparoskopi tanpa pemeriksaan
histologi membuktikan keberadaan endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
R e k o m e n d a s i
GPP
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi merah
dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus. (3) Perlekatan
(adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium. (Dokumentasi Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
42
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
Rekomendasi
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
Rekomendasi
GPP
Gambar 8.1. Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi
merah dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus.
(3)Perlekatan (adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
USG transvagina untuk diagnosis kista endometriosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang terbanyak ditemukan
saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling banyak di bidang ginekologi.
Red lesion
Blue-black lesion
Uterus
Adesi
Endometrioma
Uterus
Perlekatan
Uterus
Hiperemi
1
3
2
4
39Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi saat
pemeriksaan laparoskopi sebagai berikut(1,3).
Para dokter atau klinisi sebaiknya melakukan laparoskopi untuk
diagnosis endometriosis, walaupun tidak ada bukti bahwa
positif endometriosis dengan laparoskopi tanpa pemeriksaan
histologi membuktikan keberadaan endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
R e k o m e n d a s i
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
R e k o m e n d a s i
GPP
Gambar 8.1 Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi merah
dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus. (3) Perlekatan
(adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium. (Dokumentasi Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
42
Sebaiknya dilakukan konfirmasi histologi pada kasus
laparoskopi dengan positif endometriosis, karena histologis
positif memperkuat diagnosis endometriosis walaupun hasil
histologis negatif tidak dapat mengeksklusi endometriosis
Rekomendasi
GPP
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan histologi pada kasus
endometrioma/kista endometriosis dan Deep Infiltrating
Endometriosis untuk mengeksklusi keganasan
Rekomendasi
GPP
Gambar 8.1. Lesi endometriosis di peritoneum, uterus dan ovarium. (1) Tampilan lesi
merah dan hiperemi di peritoneum. (2) Tampilan blue-black lesion dan adesi di uterus.
(3)Perlekatan (adesi) di uterus. (4) Kista endometriosis (endometrioma) di ovarium.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
USG transvagina untuk diagnosis kista endometriosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang terbanyak ditemukan
saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling banyak di bidang ginekologi.
Red lesion
Blue-black lesion
Uterus
Adesi
Endometrioma
Uterus
Perlekatan
Uterus
Hiperemi
1
3
2
4
ENDOMETRIOSIS40
usg Transvagina un Tuk diagnosis kisTa
endome Triosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang
terbanyak ditemukan saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling
banyak di bidang ginekologi. Endometrioma dideteksi menggunakan USG
transvagina dengan gambaran ground-glass, homogen, internal echo difus
dengan latar belakang hipoechoic (43).
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan
menggunakan USG transvagina didapatkan 13−38% adalah endometriosis.
Berdasarkan data tersebut penggunaan USG transvagina untuk deteksi
endometrioma mempunyai sensitivitas 64−89%, spesivisitas 89−100%,
likelihood ratio (LR)+ 7,6−29,8 dan LR- 0,1−0,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai
keuntungan, yaitu tidak tergantung pada operator dan dapat digunakan
secara lebih luas.
Gambar 8.2 Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
43
Endometrioma dideteksi menggunakan USG transvagina dengan gambaran ground-glass,
homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic (43).
Gambar 8.2 . Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus denga n latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan menggunaka n USG
transvagina didapatkan 13 38% adalah endometriosis. Berdasarkan data te rsebut penggunaan
USG transvagina untuk deteksi endomet rioma mempunyai sensitivitas 64 89%, spesivisitas
89100%, likelihood ratio (LR)+ 7,629,8 dan LR- 0,10,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai keuntungan , yaitu tidak
tergantung pada operator dan dapat digunakan secara lebih luas.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk diagnosis
endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina
untuk diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi
A
Endometrioma
Uterus
ENDOMETRIOSIS40
usg Transvagina un Tuk diagnosis kisTa
endome Triosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang
terbanyak ditemukan saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling
banyak di bidang ginekologi. Endometrioma dideteksi menggunakan USG
transvagina dengan gambaran ground-glass, homogen, internal echo difus
dengan latar belakang hipoechoic (43).
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan
menggunakan USG transvagina didapatkan 13−38% adalah endometriosis.
Berdasarkan data tersebut penggunaan USG transvagina untuk deteksi
endometrioma mempunyai sensitivitas 64−89%, spesivisitas 89−100%,
likelihood ratio (LR)+ 7,6−29,8 dan LR- 0,1−0,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai
keuntungan, yaitu tidak tergantung pada operator dan dapat digunakan
secara lebih luas.
Gambar 8.2 Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
43
Endometrioma dideteksi menggunakan USG transvagina dengan gambaran ground-glass,
homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic (43).
Gambar 8.2 . Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus denga n latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan menggunaka n USG
transvagina didapatkan 13 38% adalah endometriosis. Berdasarkan data te rsebut penggunaan
USG transvagina untuk deteksi endomet rioma mempunyai sensitivitas 64 89%, spesivisitas
89100%, likelihood ratio (LR)+ 7,629,8 dan LR- 0,10,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai keuntungan , yaitu tidak
tergantung pada operator dan dapat digunakan secara lebih luas.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk diagnosis
endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina
untuk diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi
A
Endometrioma
Uterus
ENDOMETRIOSIS40
usg Transvagina un Tuk diagnosis kisTa
endome Triosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang
terbanyak ditemukan saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling
banyak di bidang ginekologi. Endometrioma dideteksi menggunakan USG
transvagina dengan gambaran ground-glass, homogen, internal echo difus
dengan latar belakang hipoechoic (43).
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan
menggunakan USG transvagina didapatkan 13−38% adalah endometriosis.
Berdasarkan data tersebut penggunaan USG transvagina untuk deteksi
endometrioma mempunyai sensitivitas 64−89%, spesivisitas 89−100%,
likelihood ratio (LR)+ 7,6−29,8 dan LR- 0,1−0,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai
keuntungan, yaitu tidak tergantung pada operator dan dapat digunakan
secara lebih luas.
Gambar 8.2 Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
43
Endometrioma dideteksi menggunakan USG transvagina dengan gambaran ground-glass,
homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic (43).
Gambar 8.2 . Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus denga n latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan menggunaka n USG
transvagina didapatkan 13 38% adalah endometriosis. Berdasarkan data te rsebut penggunaan
USG transvagina untuk deteksi endomet rioma mempunyai sensitivitas 64 89%, spesivisitas
89100%, likelihood ratio (LR)+ 7,629,8 dan LR- 0,10,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai keuntungan , yaitu tidak
tergantung pada operator dan dapat digunakan secara lebih luas.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk diagnosis
endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina
untuk diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi
A
Endometrioma
Uterus
ENDOMETRIOSIS40
usg Transvagina un Tuk diagnosis kisTa
endome Triosis
Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang
terbanyak ditemukan saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling
banyak di bidang ginekologi. Endometrioma dideteksi menggunakan USG
transvagina dengan gambaran ground-glass, homogen, internal echo difus
dengan latar belakang hipoechoic (43).
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan
menggunakan USG transvagina didapatkan 13−38% adalah endometriosis.
Berdasarkan data tersebut penggunaan USG transvagina untuk deteksi
endometrioma mempunyai sensitivitas 64−89%, spesivisitas 89−100%,
likelihood ratio (LR)+ 7,6−29,8 dan LR- 0,1−0,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai
keuntungan, yaitu tidak tergantung pada operator dan dapat digunakan
secara lebih luas.
Gambar 8.2 Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
43
Endometrioma dideteksi menggunakan USG transvagina dengan gambaran ground-glass,
homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic (43).
Gambar 8.2 . Kista endometriosis (endometrioma) dengan pemeriksaan USG transvagina
dengan gambaran homogen, internal echo difus denga n latar belakang hipoechoic.
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
Suatu review sistematik melibatkan 1257 kasus tumor adneksa dengan menggunaka n USG
transvagina didapatkan 13 38% adalah endometriosis. Berdasarkan data te rsebut penggunaan
USG transvagina untuk deteksi endomet rioma mempunyai sensitivitas 64 89%, spesivisitas
89100%, likelihood ratio (LR)+ 7,629,8 dan LR- 0,10,4.
Penggunaan USG transvagina untuk deteksi endometrioma mempunyai keuntungan , yaitu tidak
tergantung pada operator dan dapat digunakan secara lebih luas.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk diagnosis
endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina
untuk diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi
A
Endometrioma
Uterus
41Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
diagnosis endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina untuk
diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi A
penggunaan m agne TiC resonan Ce imaging ( mri)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif
untuk pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan.
Telah dilakukan evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis
peritoneum pada 44 perempuan dengan kecurigaan endometriosis. Dengan
memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat mendeteksi
endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+
2,76 dan LR- 0,41. Hasil tersebut menunjukkan LR terlalu rendah untuk
menjastifikasi penggunaan MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum
(1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang lebih berat, yaitu deep endometriosis
didapatkan hasil LR+ 12,0−41,7 sehingga disimpulkan MRI merupakan
alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap
sebagai alat diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI (Dokumentasi Klinik Fertilitas
Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
44
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif untuk
pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan. Telah dilakukan
evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis peritoneum pada 44 perempuan dengan
kecurigaan endometriosis. Dengan memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat
mendeteksi endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+ 2,76
dan LR- 0,41. Hasil tersebut men unjukkan LR terlalu rendah untuk menjastifikasi penggunaan
MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum (1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang
lebih berat , yaitu deep endometriosis didapatkan hasil LR+ 12,0 41,7 sehingga disimpulka n
MRI merupakan alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap sebagai alat
diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3. Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi penggunaan MRI untuk
diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
41Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
diagnosis endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina untuk
diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi A
penggunaan m agne TiC resonan Ce imaging ( mri)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif
untuk pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan.
Telah dilakukan evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis
peritoneum pada 44 perempuan dengan kecurigaan endometriosis. Dengan
memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat mendeteksi
endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+
2,76 dan LR- 0,41. Hasil tersebut menunjukkan LR terlalu rendah untuk
menjastifikasi penggunaan MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum
(1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang lebih berat, yaitu deep endometriosis
didapatkan hasil LR+ 12,0−41,7 sehingga disimpulkan MRI merupakan
alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap
sebagai alat diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI (Dokumentasi Klinik Fertilitas
Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
44
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif untuk
pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan. Telah dilakukan
evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis peritoneum pada 44 perempuan dengan
kecurigaan endometriosis. Dengan memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat
mendeteksi endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+ 2,76
dan LR- 0,41. Hasil tersebut men unjukkan LR terlalu rendah untuk menjastifikasi penggunaan
MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum (1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang
lebih berat , yaitu deep endometriosis didapatkan hasil LR+ 12,0 41,7 sehingga disimpulka n
MRI merupakan alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap sebagai alat
diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3. Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi penggunaan MRI untuk
diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
41Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
diagnosis endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina untuk
diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi A
penggunaan m agne TiC resonan Ce imaging ( mri)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif
untuk pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan.
Telah dilakukan evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis
peritoneum pada 44 perempuan dengan kecurigaan endometriosis. Dengan
memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat mendeteksi
endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+
2,76 dan LR- 0,41. Hasil tersebut menunjukkan LR terlalu rendah untuk
menjastifikasi penggunaan MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum
(1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang lebih berat, yaitu deep endometriosis
didapatkan hasil LR+ 12,0−41,7 sehingga disimpulkan MRI merupakan
alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap
sebagai alat diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI (Dokumentasi Klinik Fertilitas
Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
44
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif untuk
pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan. Telah dilakukan
evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis peritoneum pada 44 perempuan dengan
kecurigaan endometriosis. Dengan memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat
mendeteksi endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+ 2,76
dan LR- 0,41. Hasil tersebut men unjukkan LR terlalu rendah untuk menjastifikasi penggunaan
MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum (1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang
lebih berat , yaitu deep endometriosis didapatkan hasil LR+ 12,0 41,7 sehingga disimpulka n
MRI merupakan alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap sebagai alat
diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3. Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi penggunaan MRI untuk
diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
41Bab 8 Pemeriksaan dan Diagnosis Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
diagnosis endometrioma sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan menggunakan USG transvagina untuk
diagnosis atau eksklusi endometrioma ovarium
Rekomendasi A
penggunaan m agne TiC resonan Ce imaging ( mri)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif
untuk pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan.
Telah dilakukan evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis
peritoneum pada 44 perempuan dengan kecurigaan endometriosis. Dengan
memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat mendeteksi
endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+
2,76 dan LR- 0,41. Hasil tersebut menunjukkan LR terlalu rendah untuk
menjastifikasi penggunaan MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum
(1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang lebih berat, yaitu deep endometriosis
didapatkan hasil LR+ 12,0−41,7 sehingga disimpulkan MRI merupakan
alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap
sebagai alat diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3 Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI (Dokumentasi Klinik Fertilitas
Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
44
Penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu modalitas pencitraan noninvasif untuk
pemeriksaan patologi di panggul yang saat ini mulai banyak digunakan. Telah dilakukan
evaluasi penggunaan MRI untuk deteksi endometriosis peritoneum pada 44 perempuan dengan
kecurigaan endometriosis. Dengan memakai laparoskopi sebagai alat baku emas, MRI dapat
mendeteksi endometriosis sebesar 86% sehingga sensitivitas 69%, spesivisitas 75%, LR+ 2,76
dan LR- 0,41. Hasil tersebut men unjukkan LR terlalu rendah untuk menjastifikasi penggunaan
MRI untuk diagnostik endometriosis peritoneum (1, 3). Penggunaan MRI pada kasus yang
lebih berat , yaitu deep endometriosis didapatkan hasil LR+ 12,0 41,7 sehingga disimpulka n
MRI merupakan alat diagnostik yang bagus untuk prediksi deep endometriosis. Perlu dicatat
bahwa penggunaan MRI membutuhkan biaya mahal sehingga tidak dianggap sebagai alat
diagnostik yang cost-effective (1,3).
Gambar 8.3. Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI
(Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya)
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi penggunaan MRI untuk
diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
ENDOMETRIOSIS42
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan MRI untuk diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan untuk berhati-hati menggunakan MRI
untuk diagnosis atau eksklusi endometriosis peritoneum karena
belum didapatkan bukti keuntungan yang cukup.
Rekomendasi D
PENGGUNAAN PENANDA TUMOR CA-125.
CA-125 (cancer antigen-125 atau carbohydrate antigen-125) adalah
protein yang pada manusia disandi oleh gen MUC( mucin)-16. MUC-16
merupakan anggota famili glikoprotein mucin. CA-125 serum diaplikasikan
sebagai penanda tumor (tumor marker) untuk deteksi kanker ovarium atau
penyakit jinak lain.
Pemeriksaan laboratorium menggunakan penanda CA-125 serum sering
dilakukan pada endometriosis, tetapi bila dibandingkan dengan laparoskopi
CA-125 tidak mempunyai nilai diagnostik. Panduan RCOG menyebutkan
CA-125 mempunyai nilai yang terbatas untuk penapisan maupun untuk
diagnostik.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
penggunaan CA-125 pada diagnosis endometrioma sebagai berikut (1,3).
Klinisi direkomendasikan tidak menggunakan penanda tumor
(biomarker ) imunologi termasuk CA-125 untuk diagnosis
endometriosis
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS42
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan MRI untuk diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan untuk berhati-hati menggunakan MRI
untuk diagnosis atau eksklusi endometriosis peritoneum karena
belum didapatkan bukti keuntungan yang cukup.
Rekomendasi D
PENGGUNAAN PENANDA TUMOR CA-125.
CA-125 (cancer antigen-125 atau carbohydrate antigen-125) adalah
protein yang pada manusia disandi oleh gen MUC( mucin)-16. MUC-16
merupakan anggota famili glikoprotein mucin. CA-125 serum diaplikasikan
sebagai penanda tumor (tumor marker) untuk deteksi kanker ovarium atau
penyakit jinak lain.
Pemeriksaan laboratorium menggunakan penanda CA-125 serum sering
dilakukan pada endometriosis, tetapi bila dibandingkan dengan laparoskopi
CA-125 tidak mempunyai nilai diagnostik. Panduan RCOG menyebutkan
CA-125 mempunyai nilai yang terbatas untuk penapisan maupun untuk
diagnostik.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
penggunaan CA-125 pada diagnosis endometrioma sebagai berikut (1,3).
Klinisi direkomendasikan tidak menggunakan penanda tumor
(biomarker ) imunologi termasuk CA-125 untuk diagnosis
endometriosis
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS42
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan MRI untuk diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan untuk berhati-hati menggunakan MRI
untuk diagnosis atau eksklusi endometriosis peritoneum karena
belum didapatkan bukti keuntungan yang cukup.
Rekomendasi D
PENGGUNAAN PENANDA TUMOR CA-125.
CA-125 (cancer antigen-125 atau carbohydrate antigen-125) adalah
protein yang pada manusia disandi oleh gen MUC( mucin)-16. MUC-16
merupakan anggota famili glikoprotein mucin. CA-125 serum diaplikasikan
sebagai penanda tumor (tumor marker) untuk deteksi kanker ovarium atau
penyakit jinak lain.
Pemeriksaan laboratorium menggunakan penanda CA-125 serum sering
dilakukan pada endometriosis, tetapi bila dibandingkan dengan laparoskopi
CA-125 tidak mempunyai nilai diagnostik. Panduan RCOG menyebutkan
CA-125 mempunyai nilai yang terbatas untuk penapisan maupun untuk
diagnostik.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
penggunaan CA-125 pada diagnosis endometrioma sebagai berikut (1,3).
Klinisi direkomendasikan tidak menggunakan penanda tumor
(biomarker ) imunologi termasuk CA-125 untuk diagnosis
endometriosis
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS42
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan MRI untuk diagnosis endometriosis sebagai berikut (3).
Klinisi direkomendasikan untuk berhati-hati menggunakan MRI
untuk diagnosis atau eksklusi endometriosis peritoneum karena
belum didapatkan bukti keuntungan yang cukup.
Rekomendasi D
PENGGUNAAN PENANDA TUMOR CA-125.
CA-125 (cancer antigen-125 atau carbohydrate antigen-125) adalah
protein yang pada manusia disandi oleh gen MUC( mucin)-16. MUC-16
merupakan anggota famili glikoprotein mucin. CA-125 serum diaplikasikan
sebagai penanda tumor (tumor marker) untuk deteksi kanker ovarium atau
penyakit jinak lain.
Pemeriksaan laboratorium menggunakan penanda CA-125 serum sering
dilakukan pada endometriosis, tetapi bila dibandingkan dengan laparoskopi
CA-125 tidak mempunyai nilai diagnostik. Panduan RCOG menyebutkan
CA-125 mempunyai nilai yang terbatas untuk penapisan maupun untuk
diagnostik.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
penggunaan CA-125 pada diagnosis endometrioma sebagai berikut (1,3).
Klinisi direkomendasikan tidak menggunakan penanda tumor
(biomarker ) imunologi termasuk CA-125 untuk diagnosis
endometriosis
Rekomendasi A
43
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 9 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara klasifikasi dan penentuan stadium endometriosis.
Berbagai macam usaha telah dilakukan dalam rangka mengklasifikasi
stadium yang berbeda pada endometriosis, dengan harapan dapat
membandingkan hasil pengobatan secara akurat. Saat ini terdapat beberapa
klasifikasi endometriosis yang telah dibuat oleh para ahli. Namun belum
ada satu klasifikasi pun yang dapat diterima dengan baik karena masing-
masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kemajuan sangat berarti
didapatkan dengan penggunaan laparoskopi untuk membuat klasifikasi.
Laparoskopi merupakan baku emas untuk diagnostik dan penentuan
stadium endometriosis. Konfirmasi histologi dan patologi anatomi merupakan
cara yang esensial untuk diagnostik endometriosis. American Society for
Reproductive Medicine (ASRM) telah mengembangkan klasifikasi untuk
menentukan stadium endometriosis saat laparoskopi. Berat ringan stadium
endometriosis ditentukan dengan keberadaan dan lokasi lesi serta keterlibatan
organ yang ditentukan dengan visualisasi saat laparoskopi. Terdapat empat
stadium, yaitu minimal, ringan, sedang dan berat (40).
American Fertility Society (AFS), saat ini dikenal sebagai ASRM membuat
klasifikasi sejak tahun 1979 dan telah banyak digunakan, namun dalam
perjalanan kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1996 menjadi revised
AFS berdasarkan hasil patologi yang didapat dan kelainan endometriosis
sebagai prediksi kemungkinan terjadi kehamilan sesudah pengobatan.
Klasifikasi Endometriosis
9
43
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 9 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara klasifikasi dan penentuan stadium endometriosis.
Berbagai macam usaha telah dilakukan dalam rangka mengklasifikasi
stadium yang berbeda pada endometriosis, dengan harapan dapat
membandingkan hasil pengobatan secara akurat. Saat ini terdapat beberapa
klasifikasi endometriosis yang telah dibuat oleh para ahli. Namun belum
ada satu klasifikasi pun yang dapat diterima dengan baik karena masing-
masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kemajuan sangat berarti
didapatkan dengan penggunaan laparoskopi untuk membuat klasifikasi.
Laparoskopi merupakan baku emas untuk diagnostik dan penentuan
stadium endometriosis. Konfirmasi histologi dan patologi anatomi merupakan
cara yang esensial untuk diagnostik endometriosis. American Society for
Reproductive Medicine (ASRM) telah mengembangkan klasifikasi untuk
menentukan stadium endometriosis saat laparoskopi. Berat ringan stadium
endometriosis ditentukan dengan keberadaan dan lokasi lesi serta keterlibatan
organ yang ditentukan dengan visualisasi saat laparoskopi. Terdapat empat
stadium, yaitu minimal, ringan, sedang dan berat (40).
American Fertility Society (AFS), saat ini dikenal sebagai ASRM membuat
klasifikasi sejak tahun 1979 dan telah banyak digunakan, namun dalam
perjalanan kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1996 menjadi revised
AFS berdasarkan hasil patologi yang didapat dan kelainan endometriosis
sebagai prediksi kemungkinan terjadi kehamilan sesudah pengobatan.
Klasifikasi Endometriosis
9
43
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 9 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara klasifikasi dan penentuan stadium endometriosis.
Berbagai macam usaha telah dilakukan dalam rangka mengklasifikasi
stadium yang berbeda pada endometriosis, dengan harapan dapat
membandingkan hasil pengobatan secara akurat. Saat ini terdapat beberapa
klasifikasi endometriosis yang telah dibuat oleh para ahli. Namun belum
ada satu klasifikasi pun yang dapat diterima dengan baik karena masing-
masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kemajuan sangat berarti
didapatkan dengan penggunaan laparoskopi untuk membuat klasifikasi.
Laparoskopi merupakan baku emas untuk diagnostik dan penentuan
stadium endometriosis. Konfirmasi histologi dan patologi anatomi merupakan
cara yang esensial untuk diagnostik endometriosis. American Society for
Reproductive Medicine (ASRM) telah mengembangkan klasifikasi untuk
menentukan stadium endometriosis saat laparoskopi. Berat ringan stadium
endometriosis ditentukan dengan keberadaan dan lokasi lesi serta keterlibatan
organ yang ditentukan dengan visualisasi saat laparoskopi. Terdapat empat
stadium, yaitu minimal, ringan, sedang dan berat (40).
American Fertility Society (AFS), saat ini dikenal sebagai ASRM membuat
klasifikasi sejak tahun 1979 dan telah banyak digunakan, namun dalam
perjalanan kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1996 menjadi revised
AFS berdasarkan hasil patologi yang didapat dan kelainan endometriosis
sebagai prediksi kemungkinan terjadi kehamilan sesudah pengobatan.
Klasifikasi Endometriosis
9
43
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 9 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
cara klasifikasi dan penentuan stadium endometriosis.
Berbagai macam usaha telah dilakukan dalam rangka mengklasifikasi
stadium yang berbeda pada endometriosis, dengan harapan dapat
membandingkan hasil pengobatan secara akurat. Saat ini terdapat beberapa
klasifikasi endometriosis yang telah dibuat oleh para ahli. Namun belum
ada satu klasifikasi pun yang dapat diterima dengan baik karena masing-
masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kemajuan sangat berarti
didapatkan dengan penggunaan laparoskopi untuk membuat klasifikasi.
Laparoskopi merupakan baku emas untuk diagnostik dan penentuan
stadium endometriosis. Konfirmasi histologi dan patologi anatomi merupakan
cara yang esensial untuk diagnostik endometriosis. American Society for
Reproductive Medicine (ASRM) telah mengembangkan klasifikasi untuk
menentukan stadium endometriosis saat laparoskopi. Berat ringan stadium
endometriosis ditentukan dengan keberadaan dan lokasi lesi serta keterlibatan
organ yang ditentukan dengan visualisasi saat laparoskopi. Terdapat empat
stadium, yaitu minimal, ringan, sedang dan berat (40).
American Fertility Society (AFS), saat ini dikenal sebagai ASRM membuat
klasifikasi sejak tahun 1979 dan telah banyak digunakan, namun dalam
perjalanan kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1996 menjadi revised
AFS berdasarkan hasil patologi yang didapat dan kelainan endometriosis
sebagai prediksi kemungkinan terjadi kehamilan sesudah pengobatan.
Klasifikasi Endometriosis
9
ENDOMETRIOSIS44
Klasifikasi ini lebih ditekankan pada hubungan berat ringan endometriosis
dengan infertilitas. Digunakan sistem skor dengan memperhatikan kelainan
berupa progresivitas implan endometriosis dan perlekatan pada peritoneum,
ovarium, tuba dan kavum douglasi. Klasifikasi AFS mempunyai keterbatasan
yaitu tidak mempunyai nilai prediksi untuk nyeri (44 ).
Berdasarkan skor pada klasifikasi AFS yang sudah direvisi ini
endometriosis dibagi menjadi empat stadium ( Tabel 9.1).
Ternyata pada penatalaksanaan klinis klasifikasi ASRM terbatas
kegunaannya karena stadium tersebut tidak berkorelasi dengan keluhan
pasien. Penting untuk diperhatikan bahwa diagnosis dan deskripsi penyakit
endometriosis sangat subyektif dan bervariasi antar klinisi, karena itu
dokumentasi dengan video saat laparoskopi akan membuat hasil klasifikasi
menjadi objektif.
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis (44)
Stadium Klasifikasi Skor
1E n d o m e t r i o s i s m i n i m a l 1 - 5
2 Endometriosis ringan 6-15
3E n d o m e t r i o s i s s e d a n g 1 6 - 4 0
4E n d o m e t r i o s i s b e r a t > 4 0
ENDOMETRIOSIS44
Klasifikasi ini lebih ditekankan pada hubungan berat ringan endometriosis
dengan infertilitas. Digunakan sistem skor dengan memperhatikan kelainan
berupa progresivitas implan endometriosis dan perlekatan pada peritoneum,
ovarium, tuba dan kavum douglasi. Klasifikasi AFS mempunyai keterbatasan
yaitu tidak mempunyai nilai prediksi untuk nyeri (44 ).
Berdasarkan skor pada klasifikasi AFS yang sudah direvisi ini
endometriosis dibagi menjadi empat stadium ( Tabel 9.1).
Ternyata pada penatalaksanaan klinis klasifikasi ASRM terbatas
kegunaannya karena stadium tersebut tidak berkorelasi dengan keluhan
pasien. Penting untuk diperhatikan bahwa diagnosis dan deskripsi penyakit
endometriosis sangat subyektif dan bervariasi antar klinisi, karena itu
dokumentasi dengan video saat laparoskopi akan membuat hasil klasifikasi
menjadi objektif.
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis (44)
Stadium Klasifikasi Skor
1E n d o m e t r i o s i s m i n i m a l 1 - 5
2 Endometriosis ringan 6-15
3E n d o m e t r i o s i s s e d a n g 1 6 - 4 0
4E n d o m e t r i o s i s b e r a t > 4 0
ENDOMETRIOSIS44
Klasifikasi ini lebih ditekankan pada hubungan berat ringan endometriosis
dengan infertilitas. Digunakan sistem skor dengan memperhatikan kelainan
berupa progresivitas implan endometriosis dan perlekatan pada peritoneum,
ovarium, tuba dan kavum douglasi. Klasifikasi AFS mempunyai keterbatasan
yaitu tidak mempunyai nilai prediksi untuk nyeri (44 ).
Berdasarkan skor pada klasifikasi AFS yang sudah direvisi ini
endometriosis dibagi menjadi empat stadium ( Tabel 9.1).
Ternyata pada penatalaksanaan klinis klasifikasi ASRM terbatas
kegunaannya karena stadium tersebut tidak berkorelasi dengan keluhan
pasien. Penting untuk diperhatikan bahwa diagnosis dan deskripsi penyakit
endometriosis sangat subyektif dan bervariasi antar klinisi, karena itu
dokumentasi dengan video saat laparoskopi akan membuat hasil klasifikasi
menjadi objektif.
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis (44)
Stadium Klasifikasi Skor
1E n d o m e t r i o s i s m i n i m a l 1 - 5
2 Endometriosis ringan 6-15
3E n d o m e t r i o s i s s e d a n g 1 6 - 4 0
4E n d o m e t r i o s i s b e r a t > 4 0
ENDOMETRIOSIS44
Klasifikasi ini lebih ditekankan pada hubungan berat ringan endometriosis
dengan infertilitas. Digunakan sistem skor dengan memperhatikan kelainan
berupa progresivitas implan endometriosis dan perlekatan pada peritoneum,
ovarium, tuba dan kavum douglasi. Klasifikasi AFS mempunyai keterbatasan
yaitu tidak mempunyai nilai prediksi untuk nyeri (44 ).
Berdasarkan skor pada klasifikasi AFS yang sudah direvisi ini
endometriosis dibagi menjadi empat stadium ( Tabel 9.1).
Ternyata pada penatalaksanaan klinis klasifikasi ASRM terbatas
kegunaannya karena stadium tersebut tidak berkorelasi dengan keluhan
pasien. Penting untuk diperhatikan bahwa diagnosis dan deskripsi penyakit
endometriosis sangat subyektif dan bervariasi antar klinisi, karena itu
dokumentasi dengan video saat laparoskopi akan membuat hasil klasifikasi
menjadi objektif.
Tabel 9.1 Stadium dan skor klasifikasi endometriosis (44)
Stadium Klasifikasi Skor
1E n d o m e t r i o s i s m i n i m a l 1 - 5
2 Endometriosis ringan 6-15
3E n d o m e t r i o s i s s e d a n g 1 6 - 4 0
4E n d o m e t r i o s i s b e r a t > 4 0
45Bab 9 Klasifikasi Endometriosis
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM 1996
45Bab 9 Klasifikasi Endometriosis
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM 1996
45Bab 9 Klasifikasi Endometriosis
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM 1996
45Bab 9 Klasifikasi Endometriosis
Gambar 9.1 Klasifikasi endometriosis menurut revisi AFS/ASRM 1996
47
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 10 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan klinis nyeri endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit kronis yang menyebabkan keluhan nyeri
dan/atau infertilitas dengan beban morbiditas yang tidak sama antarpenderita,
karena itu sebaiknya penanganan endometriosis bersifat individual dan
diarahkan untuk memperbaiki kualitas hidup. Pemilihan modalitas terapi
dilakukan berdasarkan banyak faktor, antara lain berat ringan penyakit,
macam dan berat keluhan, keinginan untuk hamil dan usia penderita. Berikut
akan dijelaskan penanganan mengatasi keluhan endometriosis dengan lebih
fokus pada keluhan nyeri (1, 3, 44).
PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis didapatkan pada 60 −80% penderita dengan nyeri
panggul yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan
penurunan kualitas hidup. T erapi medis yang melibatkan berbagai obat
hormon dan analgetika telah digunakan untuk mengatasi nyeri endometriosis,
selain itu pembedahan dengan beberapa teknik tindakan juga telah banyak
dipakai. Berikut akan didiskusikan penanganan nyeri endometriosis beserta
bukti dan rekomendasi (45).
Penanganan Nyeri Endometriosis
10
47
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 10 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan klinis nyeri endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit kronis yang menyebabkan keluhan nyeri
dan/atau infertilitas dengan beban morbiditas yang tidak sama antarpenderita,
karena itu sebaiknya penanganan endometriosis bersifat individual dan
diarahkan untuk memperbaiki kualitas hidup. Pemilihan modalitas terapi
dilakukan berdasarkan banyak faktor, antara lain berat ringan penyakit,
macam dan berat keluhan, keinginan untuk hamil dan usia penderita. Berikut
akan dijelaskan penanganan mengatasi keluhan endometriosis dengan lebih
fokus pada keluhan nyeri (1, 3, 44).
PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis didapatkan pada 60 −80% penderita dengan nyeri
panggul yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan
penurunan kualitas hidup. T erapi medis yang melibatkan berbagai obat
hormon dan analgetika telah digunakan untuk mengatasi nyeri endometriosis,
selain itu pembedahan dengan beberapa teknik tindakan juga telah banyak
dipakai. Berikut akan didiskusikan penanganan nyeri endometriosis beserta
bukti dan rekomendasi (45).
Penanganan Nyeri Endometriosis
10
47
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 10 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan klinis nyeri endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit kronis yang menyebabkan keluhan nyeri
dan/atau infertilitas dengan beban morbiditas yang tidak sama antarpenderita,
karena itu sebaiknya penanganan endometriosis bersifat individual dan
diarahkan untuk memperbaiki kualitas hidup. Pemilihan modalitas terapi
dilakukan berdasarkan banyak faktor, antara lain berat ringan penyakit,
macam dan berat keluhan, keinginan untuk hamil dan usia penderita. Berikut
akan dijelaskan penanganan mengatasi keluhan endometriosis dengan lebih
fokus pada keluhan nyeri (1, 3, 44).
PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis didapatkan pada 60 −80% penderita dengan nyeri
panggul yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan
penurunan kualitas hidup. T erapi medis yang melibatkan berbagai obat
hormon dan analgetika telah digunakan untuk mengatasi nyeri endometriosis,
selain itu pembedahan dengan beberapa teknik tindakan juga telah banyak
dipakai. Berikut akan didiskusikan penanganan nyeri endometriosis beserta
bukti dan rekomendasi (45).
Penanganan Nyeri Endometriosis
10
47
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 10 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan klinis nyeri endometriosis.
Endometriosis adalah penyakit kronis yang menyebabkan keluhan nyeri
dan/atau infertilitas dengan beban morbiditas yang tidak sama antarpenderita,
karena itu sebaiknya penanganan endometriosis bersifat individual dan
diarahkan untuk memperbaiki kualitas hidup. Pemilihan modalitas terapi
dilakukan berdasarkan banyak faktor, antara lain berat ringan penyakit,
macam dan berat keluhan, keinginan untuk hamil dan usia penderita. Berikut
akan dijelaskan penanganan mengatasi keluhan endometriosis dengan lebih
fokus pada keluhan nyeri (1, 3, 44).
PENANGANAN NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis didapatkan pada 60 −80% penderita dengan nyeri
panggul yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan
penurunan kualitas hidup. T erapi medis yang melibatkan berbagai obat
hormon dan analgetika telah digunakan untuk mengatasi nyeri endometriosis,
selain itu pembedahan dengan beberapa teknik tindakan juga telah banyak
dipakai. Berikut akan didiskusikan penanganan nyeri endometriosis beserta
bukti dan rekomendasi (45).
Penanganan Nyeri Endometriosis
10
ENDOMETRIOSIS48
TERAPI MEDIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Terapi medis telah disepakati dan diterima sebagai salah satu
pengobatan untuk endometriosis. Obat yang dipakai pada terapi medis
ditujukan untuk menekan hormon steroid ovarium yaitu estrogen, agar
terjadi kondisi hipoestrogen sehingga menyebabkan atrofi lesi endometrium
ektopik. Pemberian terapi medis akan memengaruhi kondisi keseimbangan
hormon pada siklus haid sehingga terjadi anovulasi kronis dan amenore
yang selanjutnya akan menginduksi desidualisasi endometrium hingga
menimbulkan keadaan pseudo-pregnancy . Selain itu akan memicu atrofi
endometrium hingga timbul pseudo-menopause. Keadaan patologis yang
terjadi di endometrium eutopik dan ektopik akan berdampak pada penekanan
sel endometrium, peningkatan apoptosis dan penurunan pertumbuhan
j a r i n g a n e n d o m e t r i u m . G a m b a r a n d i a t a s m e n j a d i d a s a r t e r a p i m e d i s
yang dipakai untuk menekan pertumbuhan sehingga terjadi regresi lesi
endometriosis (46, 47).
Beberapa obat telah dipakai untuk terapi medis endometriosis, yaitu
obat-obat hormon antara lain pil kontrasepsi kombinasi, progestogen,
danazol, agonis GnRH, aromatase inhibitor. Seperti diketahui endometriosis
merupakan penyakit estrogen-dependent disease sehingga supresi hormon
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis
ENDOMETRIOSIS48
TERAPI MEDIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Terapi medis telah disepakati dan diterima sebagai salah satu
pengobatan untuk endometriosis. Obat yang dipakai pada terapi medis
ditujukan untuk menekan hormon steroid ovarium yaitu estrogen, agar
terjadi kondisi hipoestrogen sehingga menyebabkan atrofi lesi endometrium
ektopik. Pemberian terapi medis akan memengaruhi kondisi keseimbangan
hormon pada siklus haid sehingga terjadi anovulasi kronis dan amenore
yang selanjutnya akan menginduksi desidualisasi endometrium hingga
menimbulkan keadaan pseudo-pregnancy . Selain itu akan memicu atrofi
endometrium hingga timbul pseudo-menopause. Keadaan patologis yang
terjadi di endometrium eutopik dan ektopik akan berdampak pada penekanan
sel endometrium, peningkatan apoptosis dan penurunan pertumbuhan
j a r i n g a n e n d o m e t r i u m . G a m b a r a n d i a t a s m e n j a d i d a s a r t e r a p i m e d i s
yang dipakai untuk menekan pertumbuhan sehingga terjadi regresi lesi
endometriosis (46, 47).
Beberapa obat telah dipakai untuk terapi medis endometriosis, yaitu
obat-obat hormon antara lain pil kontrasepsi kombinasi, progestogen,
danazol, agonis GnRH, aromatase inhibitor. Seperti diketahui endometriosis
merupakan penyakit estrogen-dependent disease sehingga supresi hormon
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis
ENDOMETRIOSIS48
TERAPI MEDIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Terapi medis telah disepakati dan diterima sebagai salah satu
pengobatan untuk endometriosis. Obat yang dipakai pada terapi medis
ditujukan untuk menekan hormon steroid ovarium yaitu estrogen, agar
terjadi kondisi hipoestrogen sehingga menyebabkan atrofi lesi endometrium
ektopik. Pemberian terapi medis akan memengaruhi kondisi keseimbangan
hormon pada siklus haid sehingga terjadi anovulasi kronis dan amenore
yang selanjutnya akan menginduksi desidualisasi endometrium hingga
menimbulkan keadaan pseudo-pregnancy . Selain itu akan memicu atrofi
endometrium hingga timbul pseudo-menopause. Keadaan patologis yang
terjadi di endometrium eutopik dan ektopik akan berdampak pada penekanan
sel endometrium, peningkatan apoptosis dan penurunan pertumbuhan
j a r i n g a n e n d o m e t r i u m . G a m b a r a n d i a t a s m e n j a d i d a s a r t e r a p i m e d i s
yang dipakai untuk menekan pertumbuhan sehingga terjadi regresi lesi
endometriosis (46, 47).
Beberapa obat telah dipakai untuk terapi medis endometriosis, yaitu
obat-obat hormon antara lain pil kontrasepsi kombinasi, progestogen,
danazol, agonis GnRH, aromatase inhibitor. Seperti diketahui endometriosis
merupakan penyakit estrogen-dependent disease sehingga supresi hormon
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis
ENDOMETRIOSIS48
TERAPI MEDIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Terapi medis telah disepakati dan diterima sebagai salah satu
pengobatan untuk endometriosis. Obat yang dipakai pada terapi medis
ditujukan untuk menekan hormon steroid ovarium yaitu estrogen, agar
terjadi kondisi hipoestrogen sehingga menyebabkan atrofi lesi endometrium
ektopik. Pemberian terapi medis akan memengaruhi kondisi keseimbangan
hormon pada siklus haid sehingga terjadi anovulasi kronis dan amenore
yang selanjutnya akan menginduksi desidualisasi endometrium hingga
menimbulkan keadaan pseudo-pregnancy . Selain itu akan memicu atrofi
endometrium hingga timbul pseudo-menopause. Keadaan patologis yang
terjadi di endometrium eutopik dan ektopik akan berdampak pada penekanan
sel endometrium, peningkatan apoptosis dan penurunan pertumbuhan
j a r i n g a n e n d o m e t r i u m . G a m b a r a n d i a t a s m e n j a d i d a s a r t e r a p i m e d i s
yang dipakai untuk menekan pertumbuhan sehingga terjadi regresi lesi
endometriosis (46, 47).
Beberapa obat telah dipakai untuk terapi medis endometriosis, yaitu
obat-obat hormon antara lain pil kontrasepsi kombinasi, progestogen,
danazol, agonis GnRH, aromatase inhibitor. Seperti diketahui endometriosis
merupakan penyakit estrogen-dependent disease sehingga supresi hormon
Gambar 10.1 Mekanisme kerja terapi medis endometriosis
49Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
estrogen menjadi dasar penting untuk pengobatan keluhan penyakit
endometriosis. Semua obat tersebut bertujuan menekan pertumbuhan dan
aktivitas lesi endometriosis (3,46,47).
PIL KONTRASEPSI KOMBINASI
Pil kontrasepsi kombinasi telah dipakai secara luas untuk mengatasi
keluhan dismenore dan nyeri panggul terkait dengan endometriosis.
Pengobatan ini menunjukkan hasil yang efektif, aman dan dapat diterima
untuk pengobatan dismenorea dan nyeri panggul terkait endometriosis pada
perempuan yang tidak meginginkan anak (47). Penelitian membandingkan
pil kontrasepsi kombinasi dosis rendah (etinil estradiol 20 ug dan desogestrel
150 ug) dengan agonis GnRH Goserelin selama enam bulan didapatkan
hasil tidak terdapat perbedaan untuk dismenore dan dispareuni atau nyeri
sanggama. Review Cochrane menyatakan bahwa pengobatan dengan pil
kontrasepsi kombinasi efektif untuk mengatasi keluhan endometriosis namun
disebutkan bahwa jumlah kasus terbatas dan data tersebut terbatas enam
bulan saja (3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis pil kontrasepsi kombinasi sebagai berikut (1,3).
Klinisi dapat mempertimbangkan menggunakan pil kontrasepsi
kombinasi untuk mengatasi keluhan endometriosis dismenore
dan dispareuni
Rekomendasi B
Klinisi dapat memberikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu untuk mengatasi dismenore
Rekomendasi C
PROGESTOGEN
Progestogen merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan
untuk terapi endometriosis termasuk di antaranya adalah medroksi
progesteron asetat (MPA) dan derivat nortestosteron (misal levonorgestrel,
noretindron asetat, dan dienogest). Pada dosis yang tepat progestogen
dapat menginduksi anovulasi dan keadaan hipoestrogen, selanjutnya akan
menyebabkan desidualisasi serta atrofi endometrium eutopik dan juga
ektopik. Mekanisme lain yang mendasari kerja progestogen untuk terapi
endometriosis, yaitu supresi Matrix metalioproteinase (MMP), suatu ezim
49Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
estrogen menjadi dasar penting untuk pengobatan keluhan penyakit
endometriosis. Semua obat tersebut bertujuan menekan pertumbuhan dan
aktivitas lesi endometriosis (3,46,47).
PIL KONTRASEPSI KOMBINASI
Pil kontrasepsi kombinasi telah dipakai secara luas untuk mengatasi
keluhan dismenore dan nyeri panggul terkait dengan endometriosis.
Pengobatan ini menunjukkan hasil yang efektif, aman dan dapat diterima
untuk pengobatan dismenorea dan nyeri panggul terkait endometriosis pada
perempuan yang tidak meginginkan anak (47). Penelitian membandingkan
pil kontrasepsi kombinasi dosis rendah (etinil estradiol 20 ug dan desogestrel
150 ug) dengan agonis GnRH Goserelin selama enam bulan didapatkan
hasil tidak terdapat perbedaan untuk dismenore dan dispareuni atau nyeri
sanggama. Review Cochrane menyatakan bahwa pengobatan dengan pil
kontrasepsi kombinasi efektif untuk mengatasi keluhan endometriosis namun
disebutkan bahwa jumlah kasus terbatas dan data tersebut terbatas enam
bulan saja (3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis pil kontrasepsi kombinasi sebagai berikut (1,3).
Klinisi dapat mempertimbangkan menggunakan pil kontrasepsi
kombinasi untuk mengatasi keluhan endometriosis dismenore
dan dispareuni
Rekomendasi B
Klinisi dapat memberikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu untuk mengatasi dismenore
Rekomendasi C
PROGESTOGEN
Progestogen merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan
untuk terapi endometriosis termasuk di antaranya adalah medroksi
progesteron asetat (MPA) dan derivat nortestosteron (misal levonorgestrel,
noretindron asetat, dan dienogest). Pada dosis yang tepat progestogen
dapat menginduksi anovulasi dan keadaan hipoestrogen, selanjutnya akan
menyebabkan desidualisasi serta atrofi endometrium eutopik dan juga
ektopik. Mekanisme lain yang mendasari kerja progestogen untuk terapi
endometriosis, yaitu supresi Matrix metalioproteinase (MMP), suatu ezim
49Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
estrogen menjadi dasar penting untuk pengobatan keluhan penyakit
endometriosis. Semua obat tersebut bertujuan menekan pertumbuhan dan
aktivitas lesi endometriosis (3,46,47).
PIL KONTRASEPSI KOMBINASI
Pil kontrasepsi kombinasi telah dipakai secara luas untuk mengatasi
keluhan dismenore dan nyeri panggul terkait dengan endometriosis.
Pengobatan ini menunjukkan hasil yang efektif, aman dan dapat diterima
untuk pengobatan dismenorea dan nyeri panggul terkait endometriosis pada
perempuan yang tidak meginginkan anak (47). Penelitian membandingkan
pil kontrasepsi kombinasi dosis rendah (etinil estradiol 20 ug dan desogestrel
150 ug) dengan agonis GnRH Goserelin selama enam bulan didapatkan
hasil tidak terdapat perbedaan untuk dismenore dan dispareuni atau nyeri
sanggama. Review Cochrane menyatakan bahwa pengobatan dengan pil
kontrasepsi kombinasi efektif untuk mengatasi keluhan endometriosis namun
disebutkan bahwa jumlah kasus terbatas dan data tersebut terbatas enam
bulan saja (3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis pil kontrasepsi kombinasi sebagai berikut (1,3).
Klinisi dapat mempertimbangkan menggunakan pil kontrasepsi
kombinasi untuk mengatasi keluhan endometriosis dismenore
dan dispareuni
Rekomendasi B
Klinisi dapat memberikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu untuk mengatasi dismenore
Rekomendasi C
PROGESTOGEN
Progestogen merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan
untuk terapi endometriosis termasuk di antaranya adalah medroksi
progesteron asetat (MPA) dan derivat nortestosteron (misal levonorgestrel,
noretindron asetat, dan dienogest). Pada dosis yang tepat progestogen
dapat menginduksi anovulasi dan keadaan hipoestrogen, selanjutnya akan
menyebabkan desidualisasi serta atrofi endometrium eutopik dan juga
ektopik. Mekanisme lain yang mendasari kerja progestogen untuk terapi
endometriosis, yaitu supresi Matrix metalioproteinase (MMP), suatu ezim
49Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
estrogen menjadi dasar penting untuk pengobatan keluhan penyakit
endometriosis. Semua obat tersebut bertujuan menekan pertumbuhan dan
aktivitas lesi endometriosis (3,46,47).
PIL KONTRASEPSI KOMBINASI
Pil kontrasepsi kombinasi telah dipakai secara luas untuk mengatasi
keluhan dismenore dan nyeri panggul terkait dengan endometriosis.
Pengobatan ini menunjukkan hasil yang efektif, aman dan dapat diterima
untuk pengobatan dismenorea dan nyeri panggul terkait endometriosis pada
perempuan yang tidak meginginkan anak (47). Penelitian membandingkan
pil kontrasepsi kombinasi dosis rendah (etinil estradiol 20 ug dan desogestrel
150 ug) dengan agonis GnRH Goserelin selama enam bulan didapatkan
hasil tidak terdapat perbedaan untuk dismenore dan dispareuni atau nyeri
sanggama. Review Cochrane menyatakan bahwa pengobatan dengan pil
kontrasepsi kombinasi efektif untuk mengatasi keluhan endometriosis namun
disebutkan bahwa jumlah kasus terbatas dan data tersebut terbatas enam
bulan saja (3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis pil kontrasepsi kombinasi sebagai berikut (1,3).
Klinisi dapat mempertimbangkan menggunakan pil kontrasepsi
kombinasi untuk mengatasi keluhan endometriosis dismenore
dan dispareuni
Rekomendasi B
Klinisi dapat memberikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu untuk mengatasi dismenore
Rekomendasi C
PROGESTOGEN
Progestogen merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan
untuk terapi endometriosis termasuk di antaranya adalah medroksi
progesteron asetat (MPA) dan derivat nortestosteron (misal levonorgestrel,
noretindron asetat, dan dienogest). Pada dosis yang tepat progestogen
dapat menginduksi anovulasi dan keadaan hipoestrogen, selanjutnya akan
menyebabkan desidualisasi serta atrofi endometrium eutopik dan juga
ektopik. Mekanisme lain yang mendasari kerja progestogen untuk terapi
endometriosis, yaitu supresi Matrix metalioproteinase (MMP), suatu ezim
ENDOMETRIOSIS50
yang berguna untuk pertumbuhan dan implantasi lesi endometriosis. Selain
itu progestogen juga mampu menekan proses angiogenesis (48).
Pada studi observasional pengobatan endometriosis didapatkan
hasil MPA 100 mg, didrogesteron 40 mg dan noretindron asetat dapat
mengatasi nyeri endometriosis sampai 70 −100%. Suatu meta-analisis
membandingkan MPA, danazol, kombinasi danazol+pil kontrasepsi, dan
agonis GnRH didapatkan hasil bahwa MPA sama efektif dengan terapi yang
lain dalam mengobati nyeri endometriosis. Di samping itu, suatu studi dengan
randomisasi menyimpulkan bahwa dienogest 2 mg lebih bagus dibandingkan
plasebo tetapi tidak berbeda dengan GnRH agonis dalam mengatasi nyeri
endometriosis (48). Dienogest, suatu hybrid progesterone yang merupakan
kombinasi derivat 19 nor-testosteron dan progesteron saat ini mulai banyak
dipakai untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan keuntungan tidak terjadi
efek hipoestrogen walaupun masih diperlukan bukti lebih lanjut.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis progestagen sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan progestogen (medroksi
progesteron asetat, dienogest, siproteron asetat, noretisteron
asetat atau danazol) atau anti progestogen (gestrinone) sebagai
salah satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi A
Direkomendasikan bahwa saat menggunakan progestogen
klinisi diharapkan memperhatikan efek samping terutama
trombosis dan androgenik
Rekomendasi
GPP
Klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan IUD-
Levonorgestrel untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi B
DANAZOL
Danazol adalah derivat 17-etiniltestosteron dan bekerja dengan cara
menghambat lonjakan LH dan steroidogenesis serta meningkatkan kadar free
testosteron. Pemakaian Danazol menimbulkan efek samping hiperandrogen
yang dapat berupa hirsutisme, jerawat, peningkatan berat badan dan
perubahan suara menjadi lebih berat seperti suara laki-laki (48).
Danazol 200 mg 3x1 diberikan secara oral, telah dipakai cukup lama
untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan hasil lebih efektif dibandingkan
ENDOMETRIOSIS50
yang berguna untuk pertumbuhan dan implantasi lesi endometriosis. Selain
itu progestogen juga mampu menekan proses angiogenesis (48).
Pada studi observasional pengobatan endometriosis didapatkan
hasil MPA 100 mg, didrogesteron 40 mg dan noretindron asetat dapat
mengatasi nyeri endometriosis sampai 70 −100%. Suatu meta-analisis
membandingkan MPA, danazol, kombinasi danazol+pil kontrasepsi, dan
agonis GnRH didapatkan hasil bahwa MPA sama efektif dengan terapi yang
lain dalam mengobati nyeri endometriosis. Di samping itu, suatu studi dengan
randomisasi menyimpulkan bahwa dienogest 2 mg lebih bagus dibandingkan
plasebo tetapi tidak berbeda dengan GnRH agonis dalam mengatasi nyeri
endometriosis (48). Dienogest, suatu hybrid progesterone yang merupakan
kombinasi derivat 19 nor-testosteron dan progesteron saat ini mulai banyak
dipakai untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan keuntungan tidak terjadi
efek hipoestrogen walaupun masih diperlukan bukti lebih lanjut.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis progestagen sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan progestogen (medroksi
progesteron asetat, dienogest, siproteron asetat, noretisteron
asetat atau danazol) atau anti progestogen (gestrinone) sebagai
salah satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi A
Direkomendasikan bahwa saat menggunakan progestogen
klinisi diharapkan memperhatikan efek samping terutama
trombosis dan androgenik
Rekomendasi
GPP
Klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan IUD-
Levonorgestrel untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi B
DANAZOL
Danazol adalah derivat 17-etiniltestosteron dan bekerja dengan cara
menghambat lonjakan LH dan steroidogenesis serta meningkatkan kadar free
testosteron. Pemakaian Danazol menimbulkan efek samping hiperandrogen
yang dapat berupa hirsutisme, jerawat, peningkatan berat badan dan
perubahan suara menjadi lebih berat seperti suara laki-laki (48).
Danazol 200 mg 3x1 diberikan secara oral, telah dipakai cukup lama
untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan hasil lebih efektif dibandingkan
ENDOMETRIOSIS50
yang berguna untuk pertumbuhan dan implantasi lesi endometriosis. Selain
itu progestogen juga mampu menekan proses angiogenesis (48).
Pada studi observasional pengobatan endometriosis didapatkan
hasil MPA 100 mg, didrogesteron 40 mg dan noretindron asetat dapat
mengatasi nyeri endometriosis sampai 70 −100%. Suatu meta-analisis
membandingkan MPA, danazol, kombinasi danazol+pil kontrasepsi, dan
agonis GnRH didapatkan hasil bahwa MPA sama efektif dengan terapi yang
lain dalam mengobati nyeri endometriosis. Di samping itu, suatu studi dengan
randomisasi menyimpulkan bahwa dienogest 2 mg lebih bagus dibandingkan
plasebo tetapi tidak berbeda dengan GnRH agonis dalam mengatasi nyeri
endometriosis (48). Dienogest, suatu hybrid progesterone yang merupakan
kombinasi derivat 19 nor-testosteron dan progesteron saat ini mulai banyak
dipakai untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan keuntungan tidak terjadi
efek hipoestrogen walaupun masih diperlukan bukti lebih lanjut.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis progestagen sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan progestogen (medroksi
progesteron asetat, dienogest, siproteron asetat, noretisteron
asetat atau danazol) atau anti progestogen (gestrinone) sebagai
salah satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi A
Direkomendasikan bahwa saat menggunakan progestogen
klinisi diharapkan memperhatikan efek samping terutama
trombosis dan androgenik
Rekomendasi
GPP
Klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan IUD-
Levonorgestrel untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi B
DANAZOL
Danazol adalah derivat 17-etiniltestosteron dan bekerja dengan cara
menghambat lonjakan LH dan steroidogenesis serta meningkatkan kadar free
testosteron. Pemakaian Danazol menimbulkan efek samping hiperandrogen
yang dapat berupa hirsutisme, jerawat, peningkatan berat badan dan
perubahan suara menjadi lebih berat seperti suara laki-laki (48).
Danazol 200 mg 3x1 diberikan secara oral, telah dipakai cukup lama
untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan hasil lebih efektif dibandingkan
ENDOMETRIOSIS50
yang berguna untuk pertumbuhan dan implantasi lesi endometriosis. Selain
itu progestogen juga mampu menekan proses angiogenesis (48).
Pada studi observasional pengobatan endometriosis didapatkan
hasil MPA 100 mg, didrogesteron 40 mg dan noretindron asetat dapat
mengatasi nyeri endometriosis sampai 70 −100%. Suatu meta-analisis
membandingkan MPA, danazol, kombinasi danazol+pil kontrasepsi, dan
agonis GnRH didapatkan hasil bahwa MPA sama efektif dengan terapi yang
lain dalam mengobati nyeri endometriosis. Di samping itu, suatu studi dengan
randomisasi menyimpulkan bahwa dienogest 2 mg lebih bagus dibandingkan
plasebo tetapi tidak berbeda dengan GnRH agonis dalam mengatasi nyeri
endometriosis (48). Dienogest, suatu hybrid progesterone yang merupakan
kombinasi derivat 19 nor-testosteron dan progesteron saat ini mulai banyak
dipakai untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan keuntungan tidak terjadi
efek hipoestrogen walaupun masih diperlukan bukti lebih lanjut.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis progestagen sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan progestogen (medroksi
progesteron asetat, dienogest, siproteron asetat, noretisteron
asetat atau danazol) atau anti progestogen (gestrinone) sebagai
salah satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi A
Direkomendasikan bahwa saat menggunakan progestogen
klinisi diharapkan memperhatikan efek samping terutama
trombosis dan androgenik
Rekomendasi
GPP
Klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan IUD-
Levonorgestrel untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi B
DANAZOL
Danazol adalah derivat 17-etiniltestosteron dan bekerja dengan cara
menghambat lonjakan LH dan steroidogenesis serta meningkatkan kadar free
testosteron. Pemakaian Danazol menimbulkan efek samping hiperandrogen
yang dapat berupa hirsutisme, jerawat, peningkatan berat badan dan
perubahan suara menjadi lebih berat seperti suara laki-laki (48).
Danazol 200 mg 3x1 diberikan secara oral, telah dipakai cukup lama
untuk mengatasi nyeri endometriosis dengan hasil lebih efektif dibandingkan
51Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
plasebo. Dalam mengatasi keluhan nyeri endometriosis tersebut ternyata
D a n a z o l s a m a b a i k d e n g a n G n R H a g o n i s t e t a p i k a r e n a e f e k s a m p i n g
hiperandrogen menyebabkan toleransi penerimaan penggunanya lebih
rendah (48). Bila tersedia terapi medis yang lain, sebaiknya pemakaian
Danazol dihindari.
ANALOG GNRH
Analog gonadotropin-releasing hormone (GnRH) tersedia dalam dua
bentuk, yaitu agonis GnRH dan antagonis GnRH. Kedua sediaan tersebut
telah digunakan untuk terapi nyeri endometriosis namun agonis GnRH lebih
lama dipakai dan memberikan hasil yang efektif untuk mengatasi nyeri.
Agonis GnRH merupakan bentuk modifikasi dari GnRH endogen yang
bekerja dengan menempati reseptor di hipofisis tapi mempunyai waktu paruh
lebih panjang dibandingkan GnRH native. Pada awal menempati reseptor di
hipofisis agonis GnRH akan memicu peningkatan produksi (flare-up) hormon
gonadotropin (FSH dan LH) dan bila pemberian berlanjut agonis GnRH
akan menyebabkan down-regulation poros hipofisis-ovarium sehingga terjadi
hipoestrogen (48).
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH. Pemberian agonis GnRH pada awal
akan tejadi peningkatan produksi gonadotropin (FSH/LH), peningkatan awal ini disebut flare-
up kemudian selanjutnya terjadi down-regulation. Pada pemberian antagonis GnRH akan
terjadi kompetisi di reseptor GnRH dan langsu ng timbul penekanan hingga segera terjadi
hipoestrogen.
51Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
plasebo. Dalam mengatasi keluhan nyeri endometriosis tersebut ternyata
D a n a z o l s a m a b a i k d e n g a n G n R H a g o n i s t e t a p i k a r e n a e f e k s a m p i n g
hiperandrogen menyebabkan toleransi penerimaan penggunanya lebih
rendah (48). Bila tersedia terapi medis yang lain, sebaiknya pemakaian
Danazol dihindari.
ANALOG GNRH
Analog gonadotropin-releasing hormone (GnRH) tersedia dalam dua
bentuk, yaitu agonis GnRH dan antagonis GnRH. Kedua sediaan tersebut
telah digunakan untuk terapi nyeri endometriosis namun agonis GnRH lebih
lama dipakai dan memberikan hasil yang efektif untuk mengatasi nyeri.
Agonis GnRH merupakan bentuk modifikasi dari GnRH endogen yang
bekerja dengan menempati reseptor di hipofisis tapi mempunyai waktu paruh
lebih panjang dibandingkan GnRH native. Pada awal menempati reseptor di
hipofisis agonis GnRH akan memicu peningkatan produksi (flare-up) hormon
gonadotropin (FSH dan LH) dan bila pemberian berlanjut agonis GnRH
akan menyebabkan down-regulation poros hipofisis-ovarium sehingga terjadi
hipoestrogen (48).
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH. Pemberian agonis GnRH pada awal
akan tejadi peningkatan produksi gonadotropin (FSH/LH), peningkatan awal ini disebut flare-
up kemudian selanjutnya terjadi down-regulation. Pada pemberian antagonis GnRH akan
terjadi kompetisi di reseptor GnRH dan langsu ng timbul penekanan hingga segera terjadi
hipoestrogen.
51Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
plasebo. Dalam mengatasi keluhan nyeri endometriosis tersebut ternyata
D a n a z o l s a m a b a i k d e n g a n G n R H a g o n i s t e t a p i k a r e n a e f e k s a m p i n g
hiperandrogen menyebabkan toleransi penerimaan penggunanya lebih
rendah (48). Bila tersedia terapi medis yang lain, sebaiknya pemakaian
Danazol dihindari.
ANALOG GNRH
Analog gonadotropin-releasing hormone (GnRH) tersedia dalam dua
bentuk, yaitu agonis GnRH dan antagonis GnRH. Kedua sediaan tersebut
telah digunakan untuk terapi nyeri endometriosis namun agonis GnRH lebih
lama dipakai dan memberikan hasil yang efektif untuk mengatasi nyeri.
Agonis GnRH merupakan bentuk modifikasi dari GnRH endogen yang
bekerja dengan menempati reseptor di hipofisis tapi mempunyai waktu paruh
lebih panjang dibandingkan GnRH native. Pada awal menempati reseptor di
hipofisis agonis GnRH akan memicu peningkatan produksi (flare-up) hormon
gonadotropin (FSH dan LH) dan bila pemberian berlanjut agonis GnRH
akan menyebabkan down-regulation poros hipofisis-ovarium sehingga terjadi
hipoestrogen (48).
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH. Pemberian agonis GnRH pada awal
akan tejadi peningkatan produksi gonadotropin (FSH/LH), peningkatan awal ini disebut flare-
up kemudian selanjutnya terjadi down-regulation. Pada pemberian antagonis GnRH akan
terjadi kompetisi di reseptor GnRH dan langsu ng timbul penekanan hingga segera terjadi
hipoestrogen.
51Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
plasebo. Dalam mengatasi keluhan nyeri endometriosis tersebut ternyata
D a n a z o l s a m a b a i k d e n g a n G n R H a g o n i s t e t a p i k a r e n a e f e k s a m p i n g
hiperandrogen menyebabkan toleransi penerimaan penggunanya lebih
rendah (48). Bila tersedia terapi medis yang lain, sebaiknya pemakaian
Danazol dihindari.
ANALOG GNRH
Analog gonadotropin-releasing hormone (GnRH) tersedia dalam dua
bentuk, yaitu agonis GnRH dan antagonis GnRH. Kedua sediaan tersebut
telah digunakan untuk terapi nyeri endometriosis namun agonis GnRH lebih
lama dipakai dan memberikan hasil yang efektif untuk mengatasi nyeri.
Agonis GnRH merupakan bentuk modifikasi dari GnRH endogen yang
bekerja dengan menempati reseptor di hipofisis tapi mempunyai waktu paruh
lebih panjang dibandingkan GnRH native. Pada awal menempati reseptor di
hipofisis agonis GnRH akan memicu peningkatan produksi (flare-up) hormon
gonadotropin (FSH dan LH) dan bila pemberian berlanjut agonis GnRH
akan menyebabkan down-regulation poros hipofisis-ovarium sehingga terjadi
hipoestrogen (48).
Gambar 10.2 Beda kerja agonis dan antagonis GnRH. Pemberian agonis GnRH pada awal
akan tejadi peningkatan produksi gonadotropin (FSH/LH), peningkatan awal ini disebut flare-
up kemudian selanjutnya terjadi down-regulation. Pada pemberian antagonis GnRH akan
terjadi kompetisi di reseptor GnRH dan langsu ng timbul penekanan hingga segera terjadi
hipoestrogen.
ENDOMETRIOSIS52
Untuk terapi mengatasi nyeri endometriosis pemberian agonis GnRH
akan menginduksi amenore dan atrofi endometrium ektopik secara progresif.
Pemberian agonis GnRH dapat dilakukan secara semprot hidung setiap
hari (nafarelin asetat 200 mcg) dan injeksi formula jangka pendek yang
disuntikkan setiap hari (Buserelin asetat 1 mg) atau injeksi formula jangka
panjang yang disuntikkan setiap 1 −3 bulan sekali (Leuprolide asetat 3,75
mg). Analisis Cochrane menyimpulkan bahwa hasil pemberian agonis
GnRH untuk mengatasi nyeri endometriosis lebih efektif dibandingkan
plasebo tetapi memberikan hasil yang sama dengan pemberian Danazol dan
IUD levonorgestrel. Pada analisis evaluasi jangka panjang selama 6 bulan
terhadap pemberian agonis GnRH didapatkan 53% kekambuhan setelah 2
tahun pemberian agonis GnRH.
Efek samping utama keadaan hipoestrogen akibat pemberian agonis
GnRH, yaitu hot-flushes, vagina kering, penurunan libido, perubahan mood,
nyeri kepala dan deplesi densitas tulang. Untuk menghindari efek hipoestrogen
terutama penurunan masa tulang dianjurkan pemberian agonis GnRH tidak
lebih dari 6 bulan. Selain itu agar jangka waktu pengobatan agonis GnRH
dapat lebih panjang dan tetap terhindar dari efek hipoestrogen sebaiknya
pengobatan agonis GnRH dilakukan bersama dengan pemberian terapi
add-back. Terapi add-back didasarkan pada estrogen threshold hypothesis,
yaitu pemberian estrogen dosis rendah ditujukan untuk mengatasi keluhan
hipoestrogen, tetapi tidak menstimulasi pertumbuhan endometriosis. Sediaan
yang sering digunakan adalah norethindrone asetat atau kombinasi estrogen
dan progesteron (48).
Antagonis GnRH dipakai juga untuk mengatasi nyeri endometriosis
walaupun jumlah kasus endometriosis yang dilibatkan belum banyak.
Antagonis GnRH akan menduduki reseptor GnRH di hipofisis secara
kompetisi dan selanjutnya akan langsung bekerja menekan produksi
gonadotropin sehingga segera tercapai kondisi hipoestrogen. Elagolix, salah
satu sediaan antagonis GnRH oral telah dicoba digunakan untuk mengurangi
nyeri endometriosis pada 137 perempuan yang positif endometriosis dengan
l a p a r o s k o p i . H a s i l p e n g g u n a a n E l a g o l i x 1 5 0 m g t i a p h a r i d i d a p a t k a n
penurunan skala dismenore, nyeri panggul dan dispareuni dibandingkan
dengan plasebo (49).
ENDOMETRIOSIS52
Untuk terapi mengatasi nyeri endometriosis pemberian agonis GnRH
akan menginduksi amenore dan atrofi endometrium ektopik secara progresif.
Pemberian agonis GnRH dapat dilakukan secara semprot hidung setiap
hari (nafarelin asetat 200 mcg) dan injeksi formula jangka pendek yang
disuntikkan setiap hari (Buserelin asetat 1 mg) atau injeksi formula jangka
panjang yang disuntikkan setiap 1 −3 bulan sekali (Leuprolide asetat 3,75
mg). Analisis Cochrane menyimpulkan bahwa hasil pemberian agonis
GnRH untuk mengatasi nyeri endometriosis lebih efektif dibandingkan
plasebo tetapi memberikan hasil yang sama dengan pemberian Danazol dan
IUD levonorgestrel. Pada analisis evaluasi jangka panjang selama 6 bulan
terhadap pemberian agonis GnRH didapatkan 53% kekambuhan setelah 2
tahun pemberian agonis GnRH.
Efek samping utama keadaan hipoestrogen akibat pemberian agonis
GnRH, yaitu hot-flushes, vagina kering, penurunan libido, perubahan mood,
nyeri kepala dan deplesi densitas tulang. Untuk menghindari efek hipoestrogen
terutama penurunan masa tulang dianjurkan pemberian agonis GnRH tidak
lebih dari 6 bulan. Selain itu agar jangka waktu pengobatan agonis GnRH
dapat lebih panjang dan tetap terhindar dari efek hipoestrogen sebaiknya
pengobatan agonis GnRH dilakukan bersama dengan pemberian terapi
add-back. Terapi add-back didasarkan pada estrogen threshold hypothesis,
yaitu pemberian estrogen dosis rendah ditujukan untuk mengatasi keluhan
hipoestrogen, tetapi tidak menstimulasi pertumbuhan endometriosis. Sediaan
yang sering digunakan adalah norethindrone asetat atau kombinasi estrogen
dan progesteron (48).
Antagonis GnRH dipakai juga untuk mengatasi nyeri endometriosis
walaupun jumlah kasus endometriosis yang dilibatkan belum banyak.
Antagonis GnRH akan menduduki reseptor GnRH di hipofisis secara
kompetisi dan selanjutnya akan langsung bekerja menekan produksi
gonadotropin sehingga segera tercapai kondisi hipoestrogen. Elagolix, salah
satu sediaan antagonis GnRH oral telah dicoba digunakan untuk mengurangi
nyeri endometriosis pada 137 perempuan yang positif endometriosis dengan
l a p a r o s k o p i . H a s i l p e n g g u n a a n E l a g o l i x 1 5 0 m g t i a p h a r i d i d a p a t k a n
penurunan skala dismenore, nyeri panggul dan dispareuni dibandingkan
dengan plasebo (49).
ENDOMETRIOSIS52
Untuk terapi mengatasi nyeri endometriosis pemberian agonis GnRH
akan menginduksi amenore dan atrofi endometrium ektopik secara progresif.
Pemberian agonis GnRH dapat dilakukan secara semprot hidung setiap
hari (nafarelin asetat 200 mcg) dan injeksi formula jangka pendek yang
disuntikkan setiap hari (Buserelin asetat 1 mg) atau injeksi formula jangka
panjang yang disuntikkan setiap 1 −3 bulan sekali (Leuprolide asetat 3,75
mg). Analisis Cochrane menyimpulkan bahwa hasil pemberian agonis
GnRH untuk mengatasi nyeri endometriosis lebih efektif dibandingkan
plasebo tetapi memberikan hasil yang sama dengan pemberian Danazol dan
IUD levonorgestrel. Pada analisis evaluasi jangka panjang selama 6 bulan
terhadap pemberian agonis GnRH didapatkan 53% kekambuhan setelah 2
tahun pemberian agonis GnRH.
Efek samping utama keadaan hipoestrogen akibat pemberian agonis
GnRH, yaitu hot-flushes, vagina kering, penurunan libido, perubahan mood,
nyeri kepala dan deplesi densitas tulang. Untuk menghindari efek hipoestrogen
terutama penurunan masa tulang dianjurkan pemberian agonis GnRH tidak
lebih dari 6 bulan. Selain itu agar jangka waktu pengobatan agonis GnRH
dapat lebih panjang dan tetap terhindar dari efek hipoestrogen sebaiknya
pengobatan agonis GnRH dilakukan bersama dengan pemberian terapi
add-back. Terapi add-back didasarkan pada estrogen threshold hypothesis,
yaitu pemberian estrogen dosis rendah ditujukan untuk mengatasi keluhan
hipoestrogen, tetapi tidak menstimulasi pertumbuhan endometriosis. Sediaan
yang sering digunakan adalah norethindrone asetat atau kombinasi estrogen
dan progesteron (48).
Antagonis GnRH dipakai juga untuk mengatasi nyeri endometriosis
walaupun jumlah kasus endometriosis yang dilibatkan belum banyak.
Antagonis GnRH akan menduduki reseptor GnRH di hipofisis secara
kompetisi dan selanjutnya akan langsung bekerja menekan produksi
gonadotropin sehingga segera tercapai kondisi hipoestrogen. Elagolix, salah
satu sediaan antagonis GnRH oral telah dicoba digunakan untuk mengurangi
nyeri endometriosis pada 137 perempuan yang positif endometriosis dengan
l a p a r o s k o p i . H a s i l p e n g g u n a a n E l a g o l i x 1 5 0 m g t i a p h a r i d i d a p a t k a n
penurunan skala dismenore, nyeri panggul dan dispareuni dibandingkan
dengan plasebo (49).
ENDOMETRIOSIS52
Untuk terapi mengatasi nyeri endometriosis pemberian agonis GnRH
akan menginduksi amenore dan atrofi endometrium ektopik secara progresif.
Pemberian agonis GnRH dapat dilakukan secara semprot hidung setiap
hari (nafarelin asetat 200 mcg) dan injeksi formula jangka pendek yang
disuntikkan setiap hari (Buserelin asetat 1 mg) atau injeksi formula jangka
panjang yang disuntikkan setiap 1 −3 bulan sekali (Leuprolide asetat 3,75
mg). Analisis Cochrane menyimpulkan bahwa hasil pemberian agonis
GnRH untuk mengatasi nyeri endometriosis lebih efektif dibandingkan
plasebo tetapi memberikan hasil yang sama dengan pemberian Danazol dan
IUD levonorgestrel. Pada analisis evaluasi jangka panjang selama 6 bulan
terhadap pemberian agonis GnRH didapatkan 53% kekambuhan setelah 2
tahun pemberian agonis GnRH.
Efek samping utama keadaan hipoestrogen akibat pemberian agonis
GnRH, yaitu hot-flushes, vagina kering, penurunan libido, perubahan mood,
nyeri kepala dan deplesi densitas tulang. Untuk menghindari efek hipoestrogen
terutama penurunan masa tulang dianjurkan pemberian agonis GnRH tidak
lebih dari 6 bulan. Selain itu agar jangka waktu pengobatan agonis GnRH
dapat lebih panjang dan tetap terhindar dari efek hipoestrogen sebaiknya
pengobatan agonis GnRH dilakukan bersama dengan pemberian terapi
add-back. Terapi add-back didasarkan pada estrogen threshold hypothesis,
yaitu pemberian estrogen dosis rendah ditujukan untuk mengatasi keluhan
hipoestrogen, tetapi tidak menstimulasi pertumbuhan endometriosis. Sediaan
yang sering digunakan adalah norethindrone asetat atau kombinasi estrogen
dan progesteron (48).
Antagonis GnRH dipakai juga untuk mengatasi nyeri endometriosis
walaupun jumlah kasus endometriosis yang dilibatkan belum banyak.
Antagonis GnRH akan menduduki reseptor GnRH di hipofisis secara
kompetisi dan selanjutnya akan langsung bekerja menekan produksi
gonadotropin sehingga segera tercapai kondisi hipoestrogen. Elagolix, salah
satu sediaan antagonis GnRH oral telah dicoba digunakan untuk mengurangi
nyeri endometriosis pada 137 perempuan yang positif endometriosis dengan
l a p a r o s k o p i . H a s i l p e n g g u n a a n E l a g o l i x 1 5 0 m g t i a p h a r i d i d a p a t k a n
penurunan skala dismenore, nyeri panggul dan dispareuni dibandingkan
dengan plasebo (49).
53Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis dengan agonis GnRH sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan agonis GnRH sebagai salah
satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis, walaupun
bukti terkait dosis dan lama waktu pemberian masih terbatas
Rekomendasi A
Direkomendasikan memberi terapi add-back bersamaan
dengan dimulai pengobatan agonis GnRH dengan tujuan
mencegah keluhan hipoestrogen dan berkurangnya massa
tulang selama terapi
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk mempertimbangkan dengan cermat
pemberian agonis GnRH pada perempuan usia muda dan
remaja karena belum tercapai densitas masa tulang maksimal
Rekomendasi
GPP
AROMATASE INHIBITOR
Aromatase inhibitor telah diteliti kegunaannya sebagai obat untuk
mengatasi nyeri endometriosis yaitu dengan cara menekan ekspresi enzim
aromatase P450 yang berfungsi sebagai kalatalisator konversi androgen
menjadi estrogen. Tidak di semua negara tersedia obat aromatase inhibitor,
yang paling sering ditemui adalah aromatase inhibitor generasi ketiga yaitu
letrozole dan anastrozole. Aromatase inhibitor berkompetisi dengan dengan
androgen untuk menduduki reseptor aromatase (48).
Pada review sistematik yang melibatkan tujuh studi tentang penggunaan
aromatase inhibitor untuk nyeri endometriosis didapatkan bahwa Letrozole
2,5 mg kombinasi dengan norethisteron asetat atau desogestrel, dan
Anastrozole 1 mg kombinasi dengan pil kontrasepsi mampu menurunkan nyeri
endometriosis secara bermakna. Efek samping pemberian aromatase inhibitor
adalah hipoestrogen berupa vagina kering, hot-flushes dan penurunan massa
tulang (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis aromatase inhibitor sebagai berikut (1,3).
Pada perempuan dengan keluhan nyeri endometriosis yang
refrakter dengan terapi medis lain atau dengan terapi bedah,
klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan aromatase
inhibitor yang dikombinasi dengan pil kontrasepsi kombinasi,
progestogen dan agonis GnRH untuk mengurangi keluhan
nyeri tersebut
Rekomendasi B
53Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis dengan agonis GnRH sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan agonis GnRH sebagai salah
satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis, walaupun
bukti terkait dosis dan lama waktu pemberian masih terbatas
Rekomendasi A
Direkomendasikan memberi terapi add-back bersamaan
dengan dimulai pengobatan agonis GnRH dengan tujuan
mencegah keluhan hipoestrogen dan berkurangnya massa
tulang selama terapi
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk mempertimbangkan dengan cermat
pemberian agonis GnRH pada perempuan usia muda dan
remaja karena belum tercapai densitas masa tulang maksimal
Rekomendasi
GPP
AROMATASE INHIBITOR
Aromatase inhibitor telah diteliti kegunaannya sebagai obat untuk
mengatasi nyeri endometriosis yaitu dengan cara menekan ekspresi enzim
aromatase P450 yang berfungsi sebagai kalatalisator konversi androgen
menjadi estrogen. Tidak di semua negara tersedia obat aromatase inhibitor,
yang paling sering ditemui adalah aromatase inhibitor generasi ketiga yaitu
letrozole dan anastrozole. Aromatase inhibitor berkompetisi dengan dengan
androgen untuk menduduki reseptor aromatase (48).
Pada review sistematik yang melibatkan tujuh studi tentang penggunaan
aromatase inhibitor untuk nyeri endometriosis didapatkan bahwa Letrozole
2,5 mg kombinasi dengan norethisteron asetat atau desogestrel, dan
Anastrozole 1 mg kombinasi dengan pil kontrasepsi mampu menurunkan nyeri
endometriosis secara bermakna. Efek samping pemberian aromatase inhibitor
adalah hipoestrogen berupa vagina kering, hot-flushes dan penurunan massa
tulang (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis aromatase inhibitor sebagai berikut (1,3).
Pada perempuan dengan keluhan nyeri endometriosis yang
refrakter dengan terapi medis lain atau dengan terapi bedah,
klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan aromatase
inhibitor yang dikombinasi dengan pil kontrasepsi kombinasi,
progestogen dan agonis GnRH untuk mengurangi keluhan
nyeri tersebut
Rekomendasi B
53Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis dengan agonis GnRH sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan agonis GnRH sebagai salah
satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis, walaupun
bukti terkait dosis dan lama waktu pemberian masih terbatas
Rekomendasi A
Direkomendasikan memberi terapi add-back bersamaan
dengan dimulai pengobatan agonis GnRH dengan tujuan
mencegah keluhan hipoestrogen dan berkurangnya massa
tulang selama terapi
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk mempertimbangkan dengan cermat
pemberian agonis GnRH pada perempuan usia muda dan
remaja karena belum tercapai densitas masa tulang maksimal
Rekomendasi
GPP
AROMATASE INHIBITOR
Aromatase inhibitor telah diteliti kegunaannya sebagai obat untuk
mengatasi nyeri endometriosis yaitu dengan cara menekan ekspresi enzim
aromatase P450 yang berfungsi sebagai kalatalisator konversi androgen
menjadi estrogen. Tidak di semua negara tersedia obat aromatase inhibitor,
yang paling sering ditemui adalah aromatase inhibitor generasi ketiga yaitu
letrozole dan anastrozole. Aromatase inhibitor berkompetisi dengan dengan
androgen untuk menduduki reseptor aromatase (48).
Pada review sistematik yang melibatkan tujuh studi tentang penggunaan
aromatase inhibitor untuk nyeri endometriosis didapatkan bahwa Letrozole
2,5 mg kombinasi dengan norethisteron asetat atau desogestrel, dan
Anastrozole 1 mg kombinasi dengan pil kontrasepsi mampu menurunkan nyeri
endometriosis secara bermakna. Efek samping pemberian aromatase inhibitor
adalah hipoestrogen berupa vagina kering, hot-flushes dan penurunan massa
tulang (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis aromatase inhibitor sebagai berikut (1,3).
Pada perempuan dengan keluhan nyeri endometriosis yang
refrakter dengan terapi medis lain atau dengan terapi bedah,
klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan aromatase
inhibitor yang dikombinasi dengan pil kontrasepsi kombinasi,
progestogen dan agonis GnRH untuk mengurangi keluhan
nyeri tersebut
Rekomendasi B
53Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis dengan agonis GnRH sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan menggunakan agonis GnRH sebagai salah
satu pilihan untuk mengatasi nyeri endometriosis, walaupun
bukti terkait dosis dan lama waktu pemberian masih terbatas
Rekomendasi A
Direkomendasikan memberi terapi add-back bersamaan
dengan dimulai pengobatan agonis GnRH dengan tujuan
mencegah keluhan hipoestrogen dan berkurangnya massa
tulang selama terapi
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk mempertimbangkan dengan cermat
pemberian agonis GnRH pada perempuan usia muda dan
remaja karena belum tercapai densitas masa tulang maksimal
Rekomendasi
GPP
AROMATASE INHIBITOR
Aromatase inhibitor telah diteliti kegunaannya sebagai obat untuk
mengatasi nyeri endometriosis yaitu dengan cara menekan ekspresi enzim
aromatase P450 yang berfungsi sebagai kalatalisator konversi androgen
menjadi estrogen. Tidak di semua negara tersedia obat aromatase inhibitor,
yang paling sering ditemui adalah aromatase inhibitor generasi ketiga yaitu
letrozole dan anastrozole. Aromatase inhibitor berkompetisi dengan dengan
androgen untuk menduduki reseptor aromatase (48).
Pada review sistematik yang melibatkan tujuh studi tentang penggunaan
aromatase inhibitor untuk nyeri endometriosis didapatkan bahwa Letrozole
2,5 mg kombinasi dengan norethisteron asetat atau desogestrel, dan
Anastrozole 1 mg kombinasi dengan pil kontrasepsi mampu menurunkan nyeri
endometriosis secara bermakna. Efek samping pemberian aromatase inhibitor
adalah hipoestrogen berupa vagina kering, hot-flushes dan penurunan massa
tulang (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi untuk
terapi medis aromatase inhibitor sebagai berikut (1,3).
Pada perempuan dengan keluhan nyeri endometriosis yang
refrakter dengan terapi medis lain atau dengan terapi bedah,
klinisi dapat mempertimbangkan penggunaan aromatase
inhibitor yang dikombinasi dengan pil kontrasepsi kombinasi,
progestogen dan agonis GnRH untuk mengurangi keluhan
nyeri tersebut
Rekomendasi B
ENDOMETRIOSIS54
ANALGETIKA
Telah diketahui bahwa nyeri merupakan keluhan utama endometriosis.
Telah terbukti pula bahwa kadar prostaglandin meningkat pada zalir
peritoneum dan jaringan endometriosis perempuan penderita endometriosis.
Karena itu tidak mengherankan bila obat antiprostaglandin, yaitu non-steroid
antiinflammation drug (NSAIDs) dipakai secara luas di lapangan sebagai
analgetika. Walaupun telah dipakai secara luas sebagai terapi lini pertama
nyeri endometriosis, namun tidak semua data mendukung penggunaan
NSAID untuk endometriosis. Terdapat satu bukti mendukung NSAID
mempunyai efek positif untuk mengatasi dismenore primer (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan analgetik untuk terapi medis endometriosis sebagai berikut
(1,3).
Direkomendasikan mempertimbangkan penggunaan NSAID
atau analgetik jenis lain untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi
GPP
TERAPI EMPIRIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Pada pembicaraan terapi medis untuk nyeri endometriosis semua
difokuskan pada kasus yang telah didiagnosis endometriosis, sedangkan
penelitian mengevaluasi terapi nyeri pada kasus yang belum terdiagnosis
endometriosis belum dilakukan. Diagnosis endometriosis membutuhkan
tindakan invasif laparoskopi sehingga tidak semua penderita menyetujui.
Selain itu kemudahan mendapatkan kontrasepsi hormon menyebabkan jalan
pintas untuk terapi endometriosis (1,3).
Terapi empiris adalah terapi medis yang diberikan kepada penderita
endometriosis berdasar observasi dan pengalaman dokter. Penegakan
diagnosis endometriosis membutuhkan beberapa tingkat yaitu anamnesis,
pemeriksan fisik/ginekologi, pemeriksaan pencitraan dengan USG/MRI,
tindakan laparoskopi dan histologi. Khusus untuk tindakan laparoskopi
membutuhkan pembiusan, memerlukan biaya yang tidak murah bahkan
berisiko morbiditas dan mortalitas serta mempunyai nilai prediksi positif
hanya 43−45%. Timbul pertanyaan apakah diagnosis endometriosis harus
mahal, invasif dan apakah keuntungan mengetahui diagnosis endometriosis.
Bila dilakukan terapi empiris akan lebih sederhana, aman, efek samping
minimal, efektif, dan murah.
ENDOMETRIOSIS54
ANALGETIKA
Telah diketahui bahwa nyeri merupakan keluhan utama endometriosis.
Telah terbukti pula bahwa kadar prostaglandin meningkat pada zalir
peritoneum dan jaringan endometriosis perempuan penderita endometriosis.
Karena itu tidak mengherankan bila obat antiprostaglandin, yaitu non-steroid
antiinflammation drug (NSAIDs) dipakai secara luas di lapangan sebagai
analgetika. Walaupun telah dipakai secara luas sebagai terapi lini pertama
nyeri endometriosis, namun tidak semua data mendukung penggunaan
NSAID untuk endometriosis. Terdapat satu bukti mendukung NSAID
mempunyai efek positif untuk mengatasi dismenore primer (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan analgetik untuk terapi medis endometriosis sebagai berikut
(1,3).
Direkomendasikan mempertimbangkan penggunaan NSAID
atau analgetik jenis lain untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi
GPP
TERAPI EMPIRIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Pada pembicaraan terapi medis untuk nyeri endometriosis semua
difokuskan pada kasus yang telah didiagnosis endometriosis, sedangkan
penelitian mengevaluasi terapi nyeri pada kasus yang belum terdiagnosis
endometriosis belum dilakukan. Diagnosis endometriosis membutuhkan
tindakan invasif laparoskopi sehingga tidak semua penderita menyetujui.
Selain itu kemudahan mendapatkan kontrasepsi hormon menyebabkan jalan
pintas untuk terapi endometriosis (1,3).
Terapi empiris adalah terapi medis yang diberikan kepada penderita
endometriosis berdasar observasi dan pengalaman dokter. Penegakan
diagnosis endometriosis membutuhkan beberapa tingkat yaitu anamnesis,
pemeriksan fisik/ginekologi, pemeriksaan pencitraan dengan USG/MRI,
tindakan laparoskopi dan histologi. Khusus untuk tindakan laparoskopi
membutuhkan pembiusan, memerlukan biaya yang tidak murah bahkan
berisiko morbiditas dan mortalitas serta mempunyai nilai prediksi positif
hanya 43−45%. Timbul pertanyaan apakah diagnosis endometriosis harus
mahal, invasif dan apakah keuntungan mengetahui diagnosis endometriosis.
Bila dilakukan terapi empiris akan lebih sederhana, aman, efek samping
minimal, efektif, dan murah.
ENDOMETRIOSIS54
ANALGETIKA
Telah diketahui bahwa nyeri merupakan keluhan utama endometriosis.
Telah terbukti pula bahwa kadar prostaglandin meningkat pada zalir
peritoneum dan jaringan endometriosis perempuan penderita endometriosis.
Karena itu tidak mengherankan bila obat antiprostaglandin, yaitu non-steroid
antiinflammation drug (NSAIDs) dipakai secara luas di lapangan sebagai
analgetika. Walaupun telah dipakai secara luas sebagai terapi lini pertama
nyeri endometriosis, namun tidak semua data mendukung penggunaan
NSAID untuk endometriosis. Terdapat satu bukti mendukung NSAID
mempunyai efek positif untuk mengatasi dismenore primer (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan analgetik untuk terapi medis endometriosis sebagai berikut
(1,3).
Direkomendasikan mempertimbangkan penggunaan NSAID
atau analgetik jenis lain untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi
GPP
TERAPI EMPIRIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Pada pembicaraan terapi medis untuk nyeri endometriosis semua
difokuskan pada kasus yang telah didiagnosis endometriosis, sedangkan
penelitian mengevaluasi terapi nyeri pada kasus yang belum terdiagnosis
endometriosis belum dilakukan. Diagnosis endometriosis membutuhkan
tindakan invasif laparoskopi sehingga tidak semua penderita menyetujui.
Selain itu kemudahan mendapatkan kontrasepsi hormon menyebabkan jalan
pintas untuk terapi endometriosis (1,3).
Terapi empiris adalah terapi medis yang diberikan kepada penderita
endometriosis berdasar observasi dan pengalaman dokter. Penegakan
diagnosis endometriosis membutuhkan beberapa tingkat yaitu anamnesis,
pemeriksan fisik/ginekologi, pemeriksaan pencitraan dengan USG/MRI,
tindakan laparoskopi dan histologi. Khusus untuk tindakan laparoskopi
membutuhkan pembiusan, memerlukan biaya yang tidak murah bahkan
berisiko morbiditas dan mortalitas serta mempunyai nilai prediksi positif
hanya 43−45%. Timbul pertanyaan apakah diagnosis endometriosis harus
mahal, invasif dan apakah keuntungan mengetahui diagnosis endometriosis.
Bila dilakukan terapi empiris akan lebih sederhana, aman, efek samping
minimal, efektif, dan murah.
ENDOMETRIOSIS54
ANALGETIKA
Telah diketahui bahwa nyeri merupakan keluhan utama endometriosis.
Telah terbukti pula bahwa kadar prostaglandin meningkat pada zalir
peritoneum dan jaringan endometriosis perempuan penderita endometriosis.
Karena itu tidak mengherankan bila obat antiprostaglandin, yaitu non-steroid
antiinflammation drug (NSAIDs) dipakai secara luas di lapangan sebagai
analgetika. Walaupun telah dipakai secara luas sebagai terapi lini pertama
nyeri endometriosis, namun tidak semua data mendukung penggunaan
NSAID untuk endometriosis. Terdapat satu bukti mendukung NSAID
mempunyai efek positif untuk mengatasi dismenore primer (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan analgetik untuk terapi medis endometriosis sebagai berikut
(1,3).
Direkomendasikan mempertimbangkan penggunaan NSAID
atau analgetik jenis lain untuk mengatasi nyeri endometriosis
Rekomendasi
GPP
TERAPI EMPIRIS UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Pada pembicaraan terapi medis untuk nyeri endometriosis semua
difokuskan pada kasus yang telah didiagnosis endometriosis, sedangkan
penelitian mengevaluasi terapi nyeri pada kasus yang belum terdiagnosis
endometriosis belum dilakukan. Diagnosis endometriosis membutuhkan
tindakan invasif laparoskopi sehingga tidak semua penderita menyetujui.
Selain itu kemudahan mendapatkan kontrasepsi hormon menyebabkan jalan
pintas untuk terapi endometriosis (1,3).
Terapi empiris adalah terapi medis yang diberikan kepada penderita
endometriosis berdasar observasi dan pengalaman dokter. Penegakan
diagnosis endometriosis membutuhkan beberapa tingkat yaitu anamnesis,
pemeriksan fisik/ginekologi, pemeriksaan pencitraan dengan USG/MRI,
tindakan laparoskopi dan histologi. Khusus untuk tindakan laparoskopi
membutuhkan pembiusan, memerlukan biaya yang tidak murah bahkan
berisiko morbiditas dan mortalitas serta mempunyai nilai prediksi positif
hanya 43−45%. Timbul pertanyaan apakah diagnosis endometriosis harus
mahal, invasif dan apakah keuntungan mengetahui diagnosis endometriosis.
Bila dilakukan terapi empiris akan lebih sederhana, aman, efek samping
minimal, efektif, dan murah.
55Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Sebelum memulai terapi empiris sebaiknya penyebab lain keluhan nyeri
panggul dievaluasi terlebih dahulu sehingga laparoskopi untuk diagnosis
sekaligus terapi endometriosis dilakukan setelah tidak didapatkan respons
penurunan keluhan nyeri dengan terapi medis atau terapi hormon. Namun
perlu diketahui bahwa respons terapi empirik dengan terapi hormon tidak
selalu mencerminkan ada atau tidaknya endometriosis. Perlu juga ditekankan
bahwa pemberian pil kontrasepsi kombinasi pada remaja dengan keluhan
nyeri panggul tanpa diagnosis definitif endometriosis berkontribusi pada
keterlambatan diagnosis endometriosis (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi empiris untuk nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Kepada perempuan dengan keluhan dicurigai disebabkan
endometriosis direkomendasikan untuk diberikan terapi empiris
berupa analgetik adekuat, pil kontrasepsi kombinasi atau
progestogen dan dikuti dengan pemberian penjelasan secara
menyeluruh.
Rekomendasi
GPP
TERAPI BEDAH UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis memiliki berbagai bentuk lesi dengan gambaran yang
unik, dapat menjadi kronis dan mudah kambuh sehingga walaupun telah
dilakukan tindakan pembedahan lesi mikroskopis dapat berlanjut menjadi
aktif. Keluhan penderita seringkali tidak berkorelasi dengan ukuran lesi
dan stadium endometriosis. Penanganan endometriosis ditujukan untuk 1)
mengatasi nyeri, 2) memperbaiki fertilitas, 3) mengatasi progresivitas penyakit
dan 4) mencegah kekambuhan (50).
Penanganan endometriosis bersifat individual, artinya apa yang
dikerjakan saat terapi bedah tidak sama antara penderita satu dengan
yang lain. Remaja dengan endometriosis stadium ringan dan masih belum
mengharapkan anak disarankan menggunakan terapi medis untuk supresi
dan kontrol nyeri dengan meminimalkan intervensi bedah. Untuk perempuan
usia reproduksi dengan endometriosis stadium berat dan mengharapkan
segera punya anak pilihan terapi yang tepat adalah pembedahan konservatif
dengan laparoskopi, kemudian dilanjutkan dengan terapi infertilitas spesifik
menggunakan fertilisasi in vitro (46). Secara umum tindakan bedah pada
endometriosis dibagi menjadi dua, yaitu secara radikal dan konservatif.
Tindakan radikal berupa histerektomi dilakukan bila sudah tidak berpikir
55Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Sebelum memulai terapi empiris sebaiknya penyebab lain keluhan nyeri
panggul dievaluasi terlebih dahulu sehingga laparoskopi untuk diagnosis
sekaligus terapi endometriosis dilakukan setelah tidak didapatkan respons
penurunan keluhan nyeri dengan terapi medis atau terapi hormon. Namun
perlu diketahui bahwa respons terapi empirik dengan terapi hormon tidak
selalu mencerminkan ada atau tidaknya endometriosis. Perlu juga ditekankan
bahwa pemberian pil kontrasepsi kombinasi pada remaja dengan keluhan
nyeri panggul tanpa diagnosis definitif endometriosis berkontribusi pada
keterlambatan diagnosis endometriosis (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi empiris untuk nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Kepada perempuan dengan keluhan dicurigai disebabkan
endometriosis direkomendasikan untuk diberikan terapi empiris
berupa analgetik adekuat, pil kontrasepsi kombinasi atau
progestogen dan dikuti dengan pemberian penjelasan secara
menyeluruh.
Rekomendasi
GPP
TERAPI BEDAH UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis memiliki berbagai bentuk lesi dengan gambaran yang
unik, dapat menjadi kronis dan mudah kambuh sehingga walaupun telah
dilakukan tindakan pembedahan lesi mikroskopis dapat berlanjut menjadi
aktif. Keluhan penderita seringkali tidak berkorelasi dengan ukuran lesi
dan stadium endometriosis. Penanganan endometriosis ditujukan untuk 1)
mengatasi nyeri, 2) memperbaiki fertilitas, 3) mengatasi progresivitas penyakit
dan 4) mencegah kekambuhan (50).
Penanganan endometriosis bersifat individual, artinya apa yang
dikerjakan saat terapi bedah tidak sama antara penderita satu dengan
yang lain. Remaja dengan endometriosis stadium ringan dan masih belum
mengharapkan anak disarankan menggunakan terapi medis untuk supresi
dan kontrol nyeri dengan meminimalkan intervensi bedah. Untuk perempuan
usia reproduksi dengan endometriosis stadium berat dan mengharapkan
segera punya anak pilihan terapi yang tepat adalah pembedahan konservatif
dengan laparoskopi, kemudian dilanjutkan dengan terapi infertilitas spesifik
menggunakan fertilisasi in vitro (46). Secara umum tindakan bedah pada
endometriosis dibagi menjadi dua, yaitu secara radikal dan konservatif.
Tindakan radikal berupa histerektomi dilakukan bila sudah tidak berpikir
55Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Sebelum memulai terapi empiris sebaiknya penyebab lain keluhan nyeri
panggul dievaluasi terlebih dahulu sehingga laparoskopi untuk diagnosis
sekaligus terapi endometriosis dilakukan setelah tidak didapatkan respons
penurunan keluhan nyeri dengan terapi medis atau terapi hormon. Namun
perlu diketahui bahwa respons terapi empirik dengan terapi hormon tidak
selalu mencerminkan ada atau tidaknya endometriosis. Perlu juga ditekankan
bahwa pemberian pil kontrasepsi kombinasi pada remaja dengan keluhan
nyeri panggul tanpa diagnosis definitif endometriosis berkontribusi pada
keterlambatan diagnosis endometriosis (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi empiris untuk nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Kepada perempuan dengan keluhan dicurigai disebabkan
endometriosis direkomendasikan untuk diberikan terapi empiris
berupa analgetik adekuat, pil kontrasepsi kombinasi atau
progestogen dan dikuti dengan pemberian penjelasan secara
menyeluruh.
Rekomendasi
GPP
TERAPI BEDAH UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis memiliki berbagai bentuk lesi dengan gambaran yang
unik, dapat menjadi kronis dan mudah kambuh sehingga walaupun telah
dilakukan tindakan pembedahan lesi mikroskopis dapat berlanjut menjadi
aktif. Keluhan penderita seringkali tidak berkorelasi dengan ukuran lesi
dan stadium endometriosis. Penanganan endometriosis ditujukan untuk 1)
mengatasi nyeri, 2) memperbaiki fertilitas, 3) mengatasi progresivitas penyakit
dan 4) mencegah kekambuhan (50).
Penanganan endometriosis bersifat individual, artinya apa yang
dikerjakan saat terapi bedah tidak sama antara penderita satu dengan
yang lain. Remaja dengan endometriosis stadium ringan dan masih belum
mengharapkan anak disarankan menggunakan terapi medis untuk supresi
dan kontrol nyeri dengan meminimalkan intervensi bedah. Untuk perempuan
usia reproduksi dengan endometriosis stadium berat dan mengharapkan
segera punya anak pilihan terapi yang tepat adalah pembedahan konservatif
dengan laparoskopi, kemudian dilanjutkan dengan terapi infertilitas spesifik
menggunakan fertilisasi in vitro (46). Secara umum tindakan bedah pada
endometriosis dibagi menjadi dua, yaitu secara radikal dan konservatif.
Tindakan radikal berupa histerektomi dilakukan bila sudah tidak berpikir
55Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Sebelum memulai terapi empiris sebaiknya penyebab lain keluhan nyeri
panggul dievaluasi terlebih dahulu sehingga laparoskopi untuk diagnosis
sekaligus terapi endometriosis dilakukan setelah tidak didapatkan respons
penurunan keluhan nyeri dengan terapi medis atau terapi hormon. Namun
perlu diketahui bahwa respons terapi empirik dengan terapi hormon tidak
selalu mencerminkan ada atau tidaknya endometriosis. Perlu juga ditekankan
bahwa pemberian pil kontrasepsi kombinasi pada remaja dengan keluhan
nyeri panggul tanpa diagnosis definitif endometriosis berkontribusi pada
keterlambatan diagnosis endometriosis (1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi empiris untuk nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Kepada perempuan dengan keluhan dicurigai disebabkan
endometriosis direkomendasikan untuk diberikan terapi empiris
berupa analgetik adekuat, pil kontrasepsi kombinasi atau
progestogen dan dikuti dengan pemberian penjelasan secara
menyeluruh.
Rekomendasi
GPP
TERAPI BEDAH UNTUK NYERI ENDOMETRIOSIS
Endometriosis memiliki berbagai bentuk lesi dengan gambaran yang
unik, dapat menjadi kronis dan mudah kambuh sehingga walaupun telah
dilakukan tindakan pembedahan lesi mikroskopis dapat berlanjut menjadi
aktif. Keluhan penderita seringkali tidak berkorelasi dengan ukuran lesi
dan stadium endometriosis. Penanganan endometriosis ditujukan untuk 1)
mengatasi nyeri, 2) memperbaiki fertilitas, 3) mengatasi progresivitas penyakit
dan 4) mencegah kekambuhan (50).
Penanganan endometriosis bersifat individual, artinya apa yang
dikerjakan saat terapi bedah tidak sama antara penderita satu dengan
yang lain. Remaja dengan endometriosis stadium ringan dan masih belum
mengharapkan anak disarankan menggunakan terapi medis untuk supresi
dan kontrol nyeri dengan meminimalkan intervensi bedah. Untuk perempuan
usia reproduksi dengan endometriosis stadium berat dan mengharapkan
segera punya anak pilihan terapi yang tepat adalah pembedahan konservatif
dengan laparoskopi, kemudian dilanjutkan dengan terapi infertilitas spesifik
menggunakan fertilisasi in vitro (46). Secara umum tindakan bedah pada
endometriosis dibagi menjadi dua, yaitu secara radikal dan konservatif.
Tindakan radikal berupa histerektomi dilakukan bila sudah tidak berpikir
ENDOMETRIOSIS56
untuk menambah anak, sedangkan tindakan konservatif bila kesuburan atau
keinginan mempunyai anak masih menjadi pertimbangan.
Jenis tindakan yang dilakukan pada pembedahan konservatif untuk
mengatasi nyeri endometriosis dapat berupa: eliminasi lesi endometriosis,
pembebasan perlekatan dengan preservasi uterus dan ovarium yang ditujukan
untuk restorasi anatomi organ genitalia dan yang terakhir dapat dilakukan
tindakan interupsi jalur saraf panggul yang berguna untuk kontrol nyeri.
Modalitas pembedahan awalnya dilakukan secara laparotomi terbuka, namun
dengan perkembangan teknologi endoskopi mulai berubah menggunakan
t e k n i k l a p a r o s k o p i . B e r d a s a r k a n d a t a y a n g a d a t i n d a k a n p e m b e d a h a n
laparoskopi dan laparotomi sama efektif untuk mengatasi nyeri endometriosis.
Laparoskopi operatif lebih efektif untuk mengatasi nyeri pada semua stadium
endometriosis dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik
saja. Keuntungan laparoskopi adalah kejadian nyeri pascatindakan lebih
sedikit, lama rawat lebih pendek dan waktu pemulihan lebih cepat (1,3).
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri endometriosis dibagi menjadi dua
yaitu radikal dan konservatif
ENDOMETRIOSIS56
untuk menambah anak, sedangkan tindakan konservatif bila kesuburan atau
keinginan mempunyai anak masih menjadi pertimbangan.
Jenis tindakan yang dilakukan pada pembedahan konservatif untuk
mengatasi nyeri endometriosis dapat berupa: eliminasi lesi endometriosis,
pembebasan perlekatan dengan preservasi uterus dan ovarium yang ditujukan
untuk restorasi anatomi organ genitalia dan yang terakhir dapat dilakukan
tindakan interupsi jalur saraf panggul yang berguna untuk kontrol nyeri.
Modalitas pembedahan awalnya dilakukan secara laparotomi terbuka, namun
dengan perkembangan teknologi endoskopi mulai berubah menggunakan
t e k n i k l a p a r o s k o p i . B e r d a s a r k a n d a t a y a n g a d a t i n d a k a n p e m b e d a h a n
laparoskopi dan laparotomi sama efektif untuk mengatasi nyeri endometriosis.
Laparoskopi operatif lebih efektif untuk mengatasi nyeri pada semua stadium
endometriosis dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik
saja. Keuntungan laparoskopi adalah kejadian nyeri pascatindakan lebih
sedikit, lama rawat lebih pendek dan waktu pemulihan lebih cepat (1,3).
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri endometriosis dibagi menjadi dua
yaitu radikal dan konservatif
ENDOMETRIOSIS56
untuk menambah anak, sedangkan tindakan konservatif bila kesuburan atau
keinginan mempunyai anak masih menjadi pertimbangan.
Jenis tindakan yang dilakukan pada pembedahan konservatif untuk
mengatasi nyeri endometriosis dapat berupa: eliminasi lesi endometriosis,
pembebasan perlekatan dengan preservasi uterus dan ovarium yang ditujukan
untuk restorasi anatomi organ genitalia dan yang terakhir dapat dilakukan
tindakan interupsi jalur saraf panggul yang berguna untuk kontrol nyeri.
Modalitas pembedahan awalnya dilakukan secara laparotomi terbuka, namun
dengan perkembangan teknologi endoskopi mulai berubah menggunakan
t e k n i k l a p a r o s k o p i . B e r d a s a r k a n d a t a y a n g a d a t i n d a k a n p e m b e d a h a n
laparoskopi dan laparotomi sama efektif untuk mengatasi nyeri endometriosis.
Laparoskopi operatif lebih efektif untuk mengatasi nyeri pada semua stadium
endometriosis dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik
saja. Keuntungan laparoskopi adalah kejadian nyeri pascatindakan lebih
sedikit, lama rawat lebih pendek dan waktu pemulihan lebih cepat (1,3).
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri endometriosis dibagi menjadi dua
yaitu radikal dan konservatif
ENDOMETRIOSIS56
untuk menambah anak, sedangkan tindakan konservatif bila kesuburan atau
keinginan mempunyai anak masih menjadi pertimbangan.
Jenis tindakan yang dilakukan pada pembedahan konservatif untuk
mengatasi nyeri endometriosis dapat berupa: eliminasi lesi endometriosis,
pembebasan perlekatan dengan preservasi uterus dan ovarium yang ditujukan
untuk restorasi anatomi organ genitalia dan yang terakhir dapat dilakukan
tindakan interupsi jalur saraf panggul yang berguna untuk kontrol nyeri.
Modalitas pembedahan awalnya dilakukan secara laparotomi terbuka, namun
dengan perkembangan teknologi endoskopi mulai berubah menggunakan
t e k n i k l a p a r o s k o p i . B e r d a s a r k a n d a t a y a n g a d a t i n d a k a n p e m b e d a h a n
laparoskopi dan laparotomi sama efektif untuk mengatasi nyeri endometriosis.
Laparoskopi operatif lebih efektif untuk mengatasi nyeri pada semua stadium
endometriosis dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik
saja. Keuntungan laparoskopi adalah kejadian nyeri pascatindakan lebih
sedikit, lama rawat lebih pendek dan waktu pemulihan lebih cepat (1,3).
Gambar 10.3 Teknik pembedahan untuk mengatasi nyeri endometriosis dibagi menjadi dua
yaitu radikal dan konservatif
57Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada endometriosis sebagai berikut (1,3).
Bila diagnosis endometriosis ditegakkan saat laparoskopi,
direkomendasikan langsung melakukan terapi bedah pada lesi
endometriosis, karena tindakan bedah ini sangat efektif untuk
mengurangi nyeri endometriosis ( see and treat)
Rekomendasi A
perbedaan T eknik ablasi dan eksisi
Eliminasi lesi endometriosis dengan laparoskopi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu teknik ablasi dan/atau eksisi (1,3). Teknik ablasi adalah tindakan
bedah destruksi lesi endometriosis dengan koagulasi menggunakan sumber
tenaga termal. Teknik ablasi juga dapat dilakukan memakai cara vaporisasi
dengan sumber tenaga laser. Destruksi akan merusak lesi sehingga tidak
tersedia spesimen untuk konfirmasi pemeriksaan histologi-patologi. Eksisi,
yaitu tindakan bedah mengangkat lesi endometriosis dengan cara memotong
dan memisahkan lesi dari jaringan sekitar menggunakan gunting dengan
sumber termal atau laser. Teknik eksisi tidak merusak lesi endometriosis
sehingga spesimen lesi dapat digunakan untuk konfirmasi pemeriksaan
histologi-patologi (1,3,50).
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi
57Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada endometriosis sebagai berikut (1,3).
Bila diagnosis endometriosis ditegakkan saat laparoskopi,
direkomendasikan langsung melakukan terapi bedah pada lesi
endometriosis, karena tindakan bedah ini sangat efektif untuk
mengurangi nyeri endometriosis ( see and treat)
Rekomendasi A
perbedaan T eknik ablasi dan eksisi
Eliminasi lesi endometriosis dengan laparoskopi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu teknik ablasi dan/atau eksisi (1,3). Teknik ablasi adalah tindakan
bedah destruksi lesi endometriosis dengan koagulasi menggunakan sumber
tenaga termal. Teknik ablasi juga dapat dilakukan memakai cara vaporisasi
dengan sumber tenaga laser. Destruksi akan merusak lesi sehingga tidak
tersedia spesimen untuk konfirmasi pemeriksaan histologi-patologi. Eksisi,
yaitu tindakan bedah mengangkat lesi endometriosis dengan cara memotong
dan memisahkan lesi dari jaringan sekitar menggunakan gunting dengan
sumber termal atau laser. Teknik eksisi tidak merusak lesi endometriosis
sehingga spesimen lesi dapat digunakan untuk konfirmasi pemeriksaan
histologi-patologi (1,3,50).
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi
57Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada endometriosis sebagai berikut (1,3).
Bila diagnosis endometriosis ditegakkan saat laparoskopi,
direkomendasikan langsung melakukan terapi bedah pada lesi
endometriosis, karena tindakan bedah ini sangat efektif untuk
mengurangi nyeri endometriosis ( see and treat)
Rekomendasi A
perbedaan T eknik ablasi dan eksisi
Eliminasi lesi endometriosis dengan laparoskopi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu teknik ablasi dan/atau eksisi (1,3). Teknik ablasi adalah tindakan
bedah destruksi lesi endometriosis dengan koagulasi menggunakan sumber
tenaga termal. Teknik ablasi juga dapat dilakukan memakai cara vaporisasi
dengan sumber tenaga laser. Destruksi akan merusak lesi sehingga tidak
tersedia spesimen untuk konfirmasi pemeriksaan histologi-patologi. Eksisi,
yaitu tindakan bedah mengangkat lesi endometriosis dengan cara memotong
dan memisahkan lesi dari jaringan sekitar menggunakan gunting dengan
sumber termal atau laser. Teknik eksisi tidak merusak lesi endometriosis
sehingga spesimen lesi dapat digunakan untuk konfirmasi pemeriksaan
histologi-patologi (1,3,50).
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi
57Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada endometriosis sebagai berikut (1,3).
Bila diagnosis endometriosis ditegakkan saat laparoskopi,
direkomendasikan langsung melakukan terapi bedah pada lesi
endometriosis, karena tindakan bedah ini sangat efektif untuk
mengurangi nyeri endometriosis ( see and treat)
Rekomendasi A
perbedaan T eknik ablasi dan eksisi
Eliminasi lesi endometriosis dengan laparoskopi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu teknik ablasi dan/atau eksisi (1,3). Teknik ablasi adalah tindakan
bedah destruksi lesi endometriosis dengan koagulasi menggunakan sumber
tenaga termal. Teknik ablasi juga dapat dilakukan memakai cara vaporisasi
dengan sumber tenaga laser. Destruksi akan merusak lesi sehingga tidak
tersedia spesimen untuk konfirmasi pemeriksaan histologi-patologi. Eksisi,
yaitu tindakan bedah mengangkat lesi endometriosis dengan cara memotong
dan memisahkan lesi dari jaringan sekitar menggunakan gunting dengan
sumber termal atau laser. Teknik eksisi tidak merusak lesi endometriosis
sehingga spesimen lesi dapat digunakan untuk konfirmasi pemeriksaan
histologi-patologi (1,3,50).
Gambar 10.4 Perbedaan teknik ablasi dan eksisi
ENDOMETRIOSIS58
Tindakan eksisi diperkirakan lebih efektif namun membutuhkan
keterampilan operator yang prima mengingat terdapat risiko trauma pada
organ vital misal usus, kandung kencing dan ureter di bawah lesi yang
dieksisi. Selain itu eksisi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan
tindakan ablasi.
Berdasarkan data hasil studi randomisasi disebutkan bahwa tindakan
ablasi dan eksisi sama efektif untuk mengatasi nyeri panggul pada perempuan
dengan endometriosis ringan, namun eksisi lebih dipilih dengan pemikiran
ketersediaan spesimen untuk konfirmasi histologi-patologi (1,3,50).
D a t a p e n e l i t i a n k a m i d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a S u r a b a y a
menunjukkan bahwa tindakan ablasi cukup efektif mengurangi keluhan nyeri
pada penderita endometriosis. Didapatkan perbedaan bermakna keluhan
nyeri setelah dilakukan ablasi dengan laparoskopi, yaitu 70% keluhan hilang,
23,5% keluhan berkurang dan 6,5% keluhan nyeri tetap tidak berubah
dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik saja, yaitu
32% keluhan hilang, 36% keluhan berkurang dan 32% keluhan nyeri tetap
tidak berubah (51).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah ablasi dan eksisi pada endometriosis sebagai
berikut (1,3).
Diharapkan mempertimbangkan untuk menggunakan teknik
ablasi dan eksisi saat melakukan terapi bedah untuk mengatasi
nyeri endometriosis
Rekomendasi C
TERAPI BEDAH PADA KISTA ENDOMETRIOSIS
Pembedahan masih tetap menjadi pilihan untuk penanganan kista
endometriosis. Beberapa data menunjukkan pengaruh terapi medis pada
kista endometriosis (endometrioma) tidak konsisten atau bahkan tidak
berpengaruh. T elah diketahui endometrioma dengan ukuran sama atau
lebih besar dari 3 cm tidak memberikan respons pada terapi medis. Berbeda
dengan itu didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan ukuran kista sampai
40-57% setelah pemberian terapi medis Danazol dan agonis GnRH. Perlu
diperhatikan bahwa didapatkan risiko kanker walaupun kecil pada kista
endometriosis yang tersisa (42).
Karena terapi medis tidak efektif sebaiknya endometrioma ditangani
dengan tindakan bedah. Tindakan bedah tidak hanya mampu mengatasi
keluhan nyeri tetapi juga akan meningkatkan angka kehamilan. Laparoskopi
ENDOMETRIOSIS58
Tindakan eksisi diperkirakan lebih efektif namun membutuhkan
keterampilan operator yang prima mengingat terdapat risiko trauma pada
organ vital misal usus, kandung kencing dan ureter di bawah lesi yang
dieksisi. Selain itu eksisi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan
tindakan ablasi.
Berdasarkan data hasil studi randomisasi disebutkan bahwa tindakan
ablasi dan eksisi sama efektif untuk mengatasi nyeri panggul pada perempuan
dengan endometriosis ringan, namun eksisi lebih dipilih dengan pemikiran
ketersediaan spesimen untuk konfirmasi histologi-patologi (1,3,50).
D a t a p e n e l i t i a n k a m i d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a S u r a b a y a
menunjukkan bahwa tindakan ablasi cukup efektif mengurangi keluhan nyeri
pada penderita endometriosis. Didapatkan perbedaan bermakna keluhan
nyeri setelah dilakukan ablasi dengan laparoskopi, yaitu 70% keluhan hilang,
23,5% keluhan berkurang dan 6,5% keluhan nyeri tetap tidak berubah
dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik saja, yaitu
32% keluhan hilang, 36% keluhan berkurang dan 32% keluhan nyeri tetap
tidak berubah (51).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah ablasi dan eksisi pada endometriosis sebagai
berikut (1,3).
Diharapkan mempertimbangkan untuk menggunakan teknik
ablasi dan eksisi saat melakukan terapi bedah untuk mengatasi
nyeri endometriosis
Rekomendasi C
TERAPI BEDAH PADA KISTA ENDOMETRIOSIS
Pembedahan masih tetap menjadi pilihan untuk penanganan kista
endometriosis. Beberapa data menunjukkan pengaruh terapi medis pada
kista endometriosis (endometrioma) tidak konsisten atau bahkan tidak
berpengaruh. T elah diketahui endometrioma dengan ukuran sama atau
lebih besar dari 3 cm tidak memberikan respons pada terapi medis. Berbeda
dengan itu didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan ukuran kista sampai
40-57% setelah pemberian terapi medis Danazol dan agonis GnRH. Perlu
diperhatikan bahwa didapatkan risiko kanker walaupun kecil pada kista
endometriosis yang tersisa (42).
Karena terapi medis tidak efektif sebaiknya endometrioma ditangani
dengan tindakan bedah. Tindakan bedah tidak hanya mampu mengatasi
keluhan nyeri tetapi juga akan meningkatkan angka kehamilan. Laparoskopi
ENDOMETRIOSIS58
Tindakan eksisi diperkirakan lebih efektif namun membutuhkan
keterampilan operator yang prima mengingat terdapat risiko trauma pada
organ vital misal usus, kandung kencing dan ureter di bawah lesi yang
dieksisi. Selain itu eksisi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan
tindakan ablasi.
Berdasarkan data hasil studi randomisasi disebutkan bahwa tindakan
ablasi dan eksisi sama efektif untuk mengatasi nyeri panggul pada perempuan
dengan endometriosis ringan, namun eksisi lebih dipilih dengan pemikiran
ketersediaan spesimen untuk konfirmasi histologi-patologi (1,3,50).
D a t a p e n e l i t i a n k a m i d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a S u r a b a y a
menunjukkan bahwa tindakan ablasi cukup efektif mengurangi keluhan nyeri
pada penderita endometriosis. Didapatkan perbedaan bermakna keluhan
nyeri setelah dilakukan ablasi dengan laparoskopi, yaitu 70% keluhan hilang,
23,5% keluhan berkurang dan 6,5% keluhan nyeri tetap tidak berubah
dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik saja, yaitu
32% keluhan hilang, 36% keluhan berkurang dan 32% keluhan nyeri tetap
tidak berubah (51).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah ablasi dan eksisi pada endometriosis sebagai
berikut (1,3).
Diharapkan mempertimbangkan untuk menggunakan teknik
ablasi dan eksisi saat melakukan terapi bedah untuk mengatasi
nyeri endometriosis
Rekomendasi C
TERAPI BEDAH PADA KISTA ENDOMETRIOSIS
Pembedahan masih tetap menjadi pilihan untuk penanganan kista
endometriosis. Beberapa data menunjukkan pengaruh terapi medis pada
kista endometriosis (endometrioma) tidak konsisten atau bahkan tidak
berpengaruh. T elah diketahui endometrioma dengan ukuran sama atau
lebih besar dari 3 cm tidak memberikan respons pada terapi medis. Berbeda
dengan itu didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan ukuran kista sampai
40-57% setelah pemberian terapi medis Danazol dan agonis GnRH. Perlu
diperhatikan bahwa didapatkan risiko kanker walaupun kecil pada kista
endometriosis yang tersisa (42).
Karena terapi medis tidak efektif sebaiknya endometrioma ditangani
dengan tindakan bedah. Tindakan bedah tidak hanya mampu mengatasi
keluhan nyeri tetapi juga akan meningkatkan angka kehamilan. Laparoskopi
ENDOMETRIOSIS58
Tindakan eksisi diperkirakan lebih efektif namun membutuhkan
keterampilan operator yang prima mengingat terdapat risiko trauma pada
organ vital misal usus, kandung kencing dan ureter di bawah lesi yang
dieksisi. Selain itu eksisi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan
tindakan ablasi.
Berdasarkan data hasil studi randomisasi disebutkan bahwa tindakan
ablasi dan eksisi sama efektif untuk mengatasi nyeri panggul pada perempuan
dengan endometriosis ringan, namun eksisi lebih dipilih dengan pemikiran
ketersediaan spesimen untuk konfirmasi histologi-patologi (1,3,50).
D a t a p e n e l i t i a n k a m i d i K l i n i k F e r t i l i t a s G r a h a A m e r t a S u r a b a y a
menunjukkan bahwa tindakan ablasi cukup efektif mengurangi keluhan nyeri
pada penderita endometriosis. Didapatkan perbedaan bermakna keluhan
nyeri setelah dilakukan ablasi dengan laparoskopi, yaitu 70% keluhan hilang,
23,5% keluhan berkurang dan 6,5% keluhan nyeri tetap tidak berubah
dibandingkan dengan hanya dilakukan laparoskopi diagnostik saja, yaitu
32% keluhan hilang, 36% keluhan berkurang dan 32% keluhan nyeri tetap
tidak berubah (51).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah ablasi dan eksisi pada endometriosis sebagai
berikut (1,3).
Diharapkan mempertimbangkan untuk menggunakan teknik
ablasi dan eksisi saat melakukan terapi bedah untuk mengatasi
nyeri endometriosis
Rekomendasi C
TERAPI BEDAH PADA KISTA ENDOMETRIOSIS
Pembedahan masih tetap menjadi pilihan untuk penanganan kista
endometriosis. Beberapa data menunjukkan pengaruh terapi medis pada
kista endometriosis (endometrioma) tidak konsisten atau bahkan tidak
berpengaruh. T elah diketahui endometrioma dengan ukuran sama atau
lebih besar dari 3 cm tidak memberikan respons pada terapi medis. Berbeda
dengan itu didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan ukuran kista sampai
40-57% setelah pemberian terapi medis Danazol dan agonis GnRH. Perlu
diperhatikan bahwa didapatkan risiko kanker walaupun kecil pada kista
endometriosis yang tersisa (42).
Karena terapi medis tidak efektif sebaiknya endometrioma ditangani
dengan tindakan bedah. Tindakan bedah tidak hanya mampu mengatasi
keluhan nyeri tetapi juga akan meningkatkan angka kehamilan. Laparoskopi
59Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
lebih menjadi pilihan dibandingkan laparotomi karena perdarahan
saat operasi, kebutuhan analgetika, lama rawat, dan waktu pemulihan
pascaoperasi lebih rendah.
Tindakan drainase dengan laparoskopi pada endometrioma memiliki
risiko tinggi kekambuhan hingga 80−100%. Pemberian agonis GnRH
pascatindakan drainase dengan laparoskopi akan menurunkan ukuran
kista hingga 50% tetapi tidak berpengaruh terhadap kekambuhan. Saat ini
tindakan aspirasi sederhana dengan laparoskopi tidak dianjurkan dikerjakan
pada kasus endometrioma.
Tindakan bedah kistektomi dengan laparoskopi menjadi pilihan pertama
untuk penanganan endometrioma. Pada prosedur ini dilakukan diseksi
lapisan dalam kista dari ovarium dengan menggunakan two atraumatic
grasping forcepses dan ditarik ke dua arah yang berlawanan hingga terlepas.
Selanjutnya lapisan dalam kista tersebut dikirim untuk pemeriksaan histologi
(42).
Ahli bedah perlu hati-hati saat melakukan tindakan bedah kistektomi
pada endometrioma karena dapat merusak cadangan ovarium berupa ikut
terlepasnya jaringan ovarium sehat yang banyak berisi folikel primordial.
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista endometriosis (endometrioma)
menggunakan two atraumatic grasping forcepses (Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr Soetomo Surabaya )
59Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
lebih menjadi pilihan dibandingkan laparotomi karena perdarahan
saat operasi, kebutuhan analgetika, lama rawat, dan waktu pemulihan
pascaoperasi lebih rendah.
Tindakan drainase dengan laparoskopi pada endometrioma memiliki
risiko tinggi kekambuhan hingga 80−100%. Pemberian agonis GnRH
pascatindakan drainase dengan laparoskopi akan menurunkan ukuran
kista hingga 50% tetapi tidak berpengaruh terhadap kekambuhan. Saat ini
tindakan aspirasi sederhana dengan laparoskopi tidak dianjurkan dikerjakan
pada kasus endometrioma.
Tindakan bedah kistektomi dengan laparoskopi menjadi pilihan pertama
untuk penanganan endometrioma. Pada prosedur ini dilakukan diseksi
lapisan dalam kista dari ovarium dengan menggunakan two atraumatic
grasping forcepses dan ditarik ke dua arah yang berlawanan hingga terlepas.
Selanjutnya lapisan dalam kista tersebut dikirim untuk pemeriksaan histologi
(42).
Ahli bedah perlu hati-hati saat melakukan tindakan bedah kistektomi
pada endometrioma karena dapat merusak cadangan ovarium berupa ikut
terlepasnya jaringan ovarium sehat yang banyak berisi folikel primordial.
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista endometriosis (endometrioma)
menggunakan two atraumatic grasping forcepses (Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr Soetomo Surabaya )
59Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
lebih menjadi pilihan dibandingkan laparotomi karena perdarahan
saat operasi, kebutuhan analgetika, lama rawat, dan waktu pemulihan
pascaoperasi lebih rendah.
Tindakan drainase dengan laparoskopi pada endometrioma memiliki
risiko tinggi kekambuhan hingga 80−100%. Pemberian agonis GnRH
pascatindakan drainase dengan laparoskopi akan menurunkan ukuran
kista hingga 50% tetapi tidak berpengaruh terhadap kekambuhan. Saat ini
tindakan aspirasi sederhana dengan laparoskopi tidak dianjurkan dikerjakan
pada kasus endometrioma.
Tindakan bedah kistektomi dengan laparoskopi menjadi pilihan pertama
untuk penanganan endometrioma. Pada prosedur ini dilakukan diseksi
lapisan dalam kista dari ovarium dengan menggunakan two atraumatic
grasping forcepses dan ditarik ke dua arah yang berlawanan hingga terlepas.
Selanjutnya lapisan dalam kista tersebut dikirim untuk pemeriksaan histologi
(42).
Ahli bedah perlu hati-hati saat melakukan tindakan bedah kistektomi
pada endometrioma karena dapat merusak cadangan ovarium berupa ikut
terlepasnya jaringan ovarium sehat yang banyak berisi folikel primordial.
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista endometriosis (endometrioma)
menggunakan two atraumatic grasping forcepses (Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr Soetomo Surabaya )
59Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
lebih menjadi pilihan dibandingkan laparotomi karena perdarahan
saat operasi, kebutuhan analgetika, lama rawat, dan waktu pemulihan
pascaoperasi lebih rendah.
Tindakan drainase dengan laparoskopi pada endometrioma memiliki
risiko tinggi kekambuhan hingga 80−100%. Pemberian agonis GnRH
pascatindakan drainase dengan laparoskopi akan menurunkan ukuran
kista hingga 50% tetapi tidak berpengaruh terhadap kekambuhan. Saat ini
tindakan aspirasi sederhana dengan laparoskopi tidak dianjurkan dikerjakan
pada kasus endometrioma.
Tindakan bedah kistektomi dengan laparoskopi menjadi pilihan pertama
untuk penanganan endometrioma. Pada prosedur ini dilakukan diseksi
lapisan dalam kista dari ovarium dengan menggunakan two atraumatic
grasping forcepses dan ditarik ke dua arah yang berlawanan hingga terlepas.
Selanjutnya lapisan dalam kista tersebut dikirim untuk pemeriksaan histologi
(42).
Ahli bedah perlu hati-hati saat melakukan tindakan bedah kistektomi
pada endometrioma karena dapat merusak cadangan ovarium berupa ikut
terlepasnya jaringan ovarium sehat yang banyak berisi folikel primordial.
Gambar 10.5 Tindakan bedah laparoskopi pada kista endometriosis (endometrioma)
menggunakan two atraumatic grasping forcepses (Dokumentasi Klinik Fertilitas Graha Amerta
RSUD Dr Soetomo Surabaya )
ENDOMETRIOSIS60
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kista endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengurangi nyeri, saat pembedahan pada kista
endometriosis sebaiknya melakukan kistektomi dari pada
drainase dan koagulasi.
Rekomendasi A
Angka kekambuhan pasca tindakan kistektomi pada
pembedahan kista endometriois lebih rendah dibandingkan
dengan pasca tindakan vaporisasi dengan laser CO2.
Rekomendasi B
TERAPI BEDAH PADA DEEP INFILTRATING ENDOMETRIOSIS
(DIE)
Diagnosis DIE ditegakkan bila terjadi infiltrasi lesi endometriosis ke
dalam peritoneum sejauh >5 mm, meluas dan sering mengenai ligamentun
sakrouterina, dinding dasar panggul, septum rektovagina, vagina, usus,
kandung kencing dan ureter. Keluhan nyeri berat didapatkan pada 95%
kasus DIE dan setelah dilakukan tindakan pembedahan 50% berhasil hamil
spontan yang menandakan terdapat hubungan sebab akibat antara DIE dan
infertilitas (52).
Diagnosis DIE harus dipikirkan bila ada perempuan dengan keluhan
nyeri perut bawah terutama dismenore hebat, keluhan dispareuni yang dalam,
nyeri kronis berat. Tanda patognomonis adalah dischezia berat, didapatkan
darah haid pada tinja dan diare setiap saat haid. Dugaan diagnosis DIE dapat
ditentukan secara klinis, selanjutnya dikonfirmasi dengan ultrasonografi dan
Magnetic Resonance Imaging. Penanganan pembedahan DIE membutuhkan
keahlian teknik bedah yang handal terutama untuk identifikasi lesi DIE. Jenis
tindakan bedah yang dilakukan dapat berupa eksisi, superficial shaving ,
reseksi discoid, reseksi segmental pada usus. Tingkat kesulitan pembedahan
akan meningkat sesuai dengan ukuran lesi. Eksisi lesi DIE dapat dikerjakan
namun sering membutuhkan penjahitan otot diding usus atau pada seluruh
ketebalan luka. Lesi atau nodul pada sigmoid sering membutuhkan tindakan
segmental bowel resection . Sebaiknya pembedahan pada DIE dilakukan
sebersih mungkin, artinya secara visual seluruh lesi DIE dapat diangkat
namun fibrosis pada daerah usus dapat ditinggalkan, seringkali operasi sulit
dan durasi memanjang. Komplikasi pembedahan dapat terjadi perforasi usus
atau ureter dan fistula rekto-vagina serta uretero-vagina (47).
ENDOMETRIOSIS60
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kista endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengurangi nyeri, saat pembedahan pada kista
endometriosis sebaiknya melakukan kistektomi dari pada
drainase dan koagulasi.
Rekomendasi A
Angka kekambuhan pasca tindakan kistektomi pada
pembedahan kista endometriois lebih rendah dibandingkan
dengan pasca tindakan vaporisasi dengan laser CO2.
Rekomendasi B
TERAPI BEDAH PADA DEEP INFILTRATING ENDOMETRIOSIS
(DIE)
Diagnosis DIE ditegakkan bila terjadi infiltrasi lesi endometriosis ke
dalam peritoneum sejauh >5 mm, meluas dan sering mengenai ligamentun
sakrouterina, dinding dasar panggul, septum rektovagina, vagina, usus,
kandung kencing dan ureter. Keluhan nyeri berat didapatkan pada 95%
kasus DIE dan setelah dilakukan tindakan pembedahan 50% berhasil hamil
spontan yang menandakan terdapat hubungan sebab akibat antara DIE dan
infertilitas (52).
Diagnosis DIE harus dipikirkan bila ada perempuan dengan keluhan
nyeri perut bawah terutama dismenore hebat, keluhan dispareuni yang dalam,
nyeri kronis berat. Tanda patognomonis adalah dischezia berat, didapatkan
darah haid pada tinja dan diare setiap saat haid. Dugaan diagnosis DIE dapat
ditentukan secara klinis, selanjutnya dikonfirmasi dengan ultrasonografi dan
Magnetic Resonance Imaging. Penanganan pembedahan DIE membutuhkan
keahlian teknik bedah yang handal terutama untuk identifikasi lesi DIE. Jenis
tindakan bedah yang dilakukan dapat berupa eksisi, superficial shaving ,
reseksi discoid, reseksi segmental pada usus. Tingkat kesulitan pembedahan
akan meningkat sesuai dengan ukuran lesi. Eksisi lesi DIE dapat dikerjakan
namun sering membutuhkan penjahitan otot diding usus atau pada seluruh
ketebalan luka. Lesi atau nodul pada sigmoid sering membutuhkan tindakan
segmental bowel resection . Sebaiknya pembedahan pada DIE dilakukan
sebersih mungkin, artinya secara visual seluruh lesi DIE dapat diangkat
namun fibrosis pada daerah usus dapat ditinggalkan, seringkali operasi sulit
dan durasi memanjang. Komplikasi pembedahan dapat terjadi perforasi usus
atau ureter dan fistula rekto-vagina serta uretero-vagina (47).
ENDOMETRIOSIS60
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kista endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengurangi nyeri, saat pembedahan pada kista
endometriosis sebaiknya melakukan kistektomi dari pada
drainase dan koagulasi.
Rekomendasi A
Angka kekambuhan pasca tindakan kistektomi pada
pembedahan kista endometriois lebih rendah dibandingkan
dengan pasca tindakan vaporisasi dengan laser CO2.
Rekomendasi B
TERAPI BEDAH PADA DEEP INFILTRATING ENDOMETRIOSIS
(DIE)
Diagnosis DIE ditegakkan bila terjadi infiltrasi lesi endometriosis ke
dalam peritoneum sejauh >5 mm, meluas dan sering mengenai ligamentun
sakrouterina, dinding dasar panggul, septum rektovagina, vagina, usus,
kandung kencing dan ureter. Keluhan nyeri berat didapatkan pada 95%
kasus DIE dan setelah dilakukan tindakan pembedahan 50% berhasil hamil
spontan yang menandakan terdapat hubungan sebab akibat antara DIE dan
infertilitas (52).
Diagnosis DIE harus dipikirkan bila ada perempuan dengan keluhan
nyeri perut bawah terutama dismenore hebat, keluhan dispareuni yang dalam,
nyeri kronis berat. Tanda patognomonis adalah dischezia berat, didapatkan
darah haid pada tinja dan diare setiap saat haid. Dugaan diagnosis DIE dapat
ditentukan secara klinis, selanjutnya dikonfirmasi dengan ultrasonografi dan
Magnetic Resonance Imaging. Penanganan pembedahan DIE membutuhkan
keahlian teknik bedah yang handal terutama untuk identifikasi lesi DIE. Jenis
tindakan bedah yang dilakukan dapat berupa eksisi, superficial shaving ,
reseksi discoid, reseksi segmental pada usus. Tingkat kesulitan pembedahan
akan meningkat sesuai dengan ukuran lesi. Eksisi lesi DIE dapat dikerjakan
namun sering membutuhkan penjahitan otot diding usus atau pada seluruh
ketebalan luka. Lesi atau nodul pada sigmoid sering membutuhkan tindakan
segmental bowel resection . Sebaiknya pembedahan pada DIE dilakukan
sebersih mungkin, artinya secara visual seluruh lesi DIE dapat diangkat
namun fibrosis pada daerah usus dapat ditinggalkan, seringkali operasi sulit
dan durasi memanjang. Komplikasi pembedahan dapat terjadi perforasi usus
atau ureter dan fistula rekto-vagina serta uretero-vagina (47).
ENDOMETRIOSIS60
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kista endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengurangi nyeri, saat pembedahan pada kista
endometriosis sebaiknya melakukan kistektomi dari pada
drainase dan koagulasi.
Rekomendasi A
Angka kekambuhan pasca tindakan kistektomi pada
pembedahan kista endometriois lebih rendah dibandingkan
dengan pasca tindakan vaporisasi dengan laser CO2.
Rekomendasi B
TERAPI BEDAH PADA DEEP INFILTRATING ENDOMETRIOSIS
(DIE)
Diagnosis DIE ditegakkan bila terjadi infiltrasi lesi endometriosis ke
dalam peritoneum sejauh >5 mm, meluas dan sering mengenai ligamentun
sakrouterina, dinding dasar panggul, septum rektovagina, vagina, usus,
kandung kencing dan ureter. Keluhan nyeri berat didapatkan pada 95%
kasus DIE dan setelah dilakukan tindakan pembedahan 50% berhasil hamil
spontan yang menandakan terdapat hubungan sebab akibat antara DIE dan
infertilitas (52).
Diagnosis DIE harus dipikirkan bila ada perempuan dengan keluhan
nyeri perut bawah terutama dismenore hebat, keluhan dispareuni yang dalam,
nyeri kronis berat. Tanda patognomonis adalah dischezia berat, didapatkan
darah haid pada tinja dan diare setiap saat haid. Dugaan diagnosis DIE dapat
ditentukan secara klinis, selanjutnya dikonfirmasi dengan ultrasonografi dan
Magnetic Resonance Imaging. Penanganan pembedahan DIE membutuhkan
keahlian teknik bedah yang handal terutama untuk identifikasi lesi DIE. Jenis
tindakan bedah yang dilakukan dapat berupa eksisi, superficial shaving ,
reseksi discoid, reseksi segmental pada usus. Tingkat kesulitan pembedahan
akan meningkat sesuai dengan ukuran lesi. Eksisi lesi DIE dapat dikerjakan
namun sering membutuhkan penjahitan otot diding usus atau pada seluruh
ketebalan luka. Lesi atau nodul pada sigmoid sering membutuhkan tindakan
segmental bowel resection . Sebaiknya pembedahan pada DIE dilakukan
sebersih mungkin, artinya secara visual seluruh lesi DIE dapat diangkat
namun fibrosis pada daerah usus dapat ditinggalkan, seringkali operasi sulit
dan durasi memanjang. Komplikasi pembedahan dapat terjadi perforasi usus
atau ureter dan fistula rekto-vagina serta uretero-vagina (47).
61Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Data review sistematik yang melibatkan 34 penelitian tindakan reseksi
usus pada endometriosis kolorektal mendapatkan hasil perbaikan nyeri secara
bermakna pada sebagian besar kasus. Pada review tersebut disimpulkan
bahwa tindakan reseksi segmental pada DIE yang melibatkan daerah
kolorektal menjadi pilihan terbaik. Pada studi klinik dengan randomisasi
didapatkan hasil tindakan laparoskopi sama efektif dengan laparotomi
untuk mengatasi nyeri dan perbaikan kualitas hidup pada kasus DIE, namun
kehamilan hanya terjadi pada kelompok laparoskopi saja(1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kasus DIE sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan melakukan tindakan pembedahan pada
kasus Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) untuk mengatasi
nyeri dan memperbaiki kualitas hidup.
Rekomendasi B
Sebaiknya merujuk penderita yang dicurigai atau telah
ditegakkan diagnosis DIE ke pusat pelayanan kesehatan tersier
dengan fasilitas memadai untuk mendapatkan penanganan
multidisiplin terpadu.
Rekomendasi
GPP
INTERUPSI LINTASAN SARAF PANGGUL PADA NYERI
ENDOMETRIOSIS
Telah diketahui sekitar 20 −25% penderita nyeri hebat akibat
endometriosis gagal dengan terapi konservatif. Bila terapi medis tidak mampu
mengatasi keluhan nyeri hebat tersebut, maka terapi bedah konservatif
sampai histerektomi sebaiknya dipikirkan. Tindakan pembedahan konservatif
yang dapat dilakukan adalah presacral neurectomy (PSN) dan laparoscopic
uterosacral nerve ablation (LUNA).
Laparoscopic electrosugical PSN dikerjakan melalui insisi di umbilikus
dan menggunakan laser CO
2. Pasien dalam posisi trandelenburg dan miring
kekiri sehingga sigmoid dapat tergeser ke lateral. Selain itu sigmoid ditarik ke
arah lateral dengan menggunakan probe tumpul agar menjauh dari lapangan
operasi. Presacral neurectomy dikerjakan pada daerah anterior vertebra L5
dan S1. Pleksus hipogastrika superior merupakan lintasan utama transmisi
saraf dari panggul. Saat dilakukan neurectomy pleksus tersebut ditampilkan
kemudian saraf dipotong agar terjadi interupsi inervasi simpatis uterus pada
level pleksus hipogastrika superior. Tindakan pembedahan PSN berisiko
61Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Data review sistematik yang melibatkan 34 penelitian tindakan reseksi
usus pada endometriosis kolorektal mendapatkan hasil perbaikan nyeri secara
bermakna pada sebagian besar kasus. Pada review tersebut disimpulkan
bahwa tindakan reseksi segmental pada DIE yang melibatkan daerah
kolorektal menjadi pilihan terbaik. Pada studi klinik dengan randomisasi
didapatkan hasil tindakan laparoskopi sama efektif dengan laparotomi
untuk mengatasi nyeri dan perbaikan kualitas hidup pada kasus DIE, namun
kehamilan hanya terjadi pada kelompok laparoskopi saja(1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kasus DIE sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan melakukan tindakan pembedahan pada
kasus Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) untuk mengatasi
nyeri dan memperbaiki kualitas hidup.
Rekomendasi B
Sebaiknya merujuk penderita yang dicurigai atau telah
ditegakkan diagnosis DIE ke pusat pelayanan kesehatan tersier
dengan fasilitas memadai untuk mendapatkan penanganan
multidisiplin terpadu.
Rekomendasi
GPP
INTERUPSI LINTASAN SARAF PANGGUL PADA NYERI
ENDOMETRIOSIS
Telah diketahui sekitar 20 −25% penderita nyeri hebat akibat
endometriosis gagal dengan terapi konservatif. Bila terapi medis tidak mampu
mengatasi keluhan nyeri hebat tersebut, maka terapi bedah konservatif
sampai histerektomi sebaiknya dipikirkan. Tindakan pembedahan konservatif
yang dapat dilakukan adalah presacral neurectomy (PSN) dan laparoscopic
uterosacral nerve ablation (LUNA).
Laparoscopic electrosugical PSN dikerjakan melalui insisi di umbilikus
dan menggunakan laser CO
2. Pasien dalam posisi trandelenburg dan miring
kekiri sehingga sigmoid dapat tergeser ke lateral. Selain itu sigmoid ditarik ke
arah lateral dengan menggunakan probe tumpul agar menjauh dari lapangan
operasi. Presacral neurectomy dikerjakan pada daerah anterior vertebra L5
dan S1. Pleksus hipogastrika superior merupakan lintasan utama transmisi
saraf dari panggul. Saat dilakukan neurectomy pleksus tersebut ditampilkan
kemudian saraf dipotong agar terjadi interupsi inervasi simpatis uterus pada
level pleksus hipogastrika superior. Tindakan pembedahan PSN berisiko
61Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Data review sistematik yang melibatkan 34 penelitian tindakan reseksi
usus pada endometriosis kolorektal mendapatkan hasil perbaikan nyeri secara
bermakna pada sebagian besar kasus. Pada review tersebut disimpulkan
bahwa tindakan reseksi segmental pada DIE yang melibatkan daerah
kolorektal menjadi pilihan terbaik. Pada studi klinik dengan randomisasi
didapatkan hasil tindakan laparoskopi sama efektif dengan laparotomi
untuk mengatasi nyeri dan perbaikan kualitas hidup pada kasus DIE, namun
kehamilan hanya terjadi pada kelompok laparoskopi saja(1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kasus DIE sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan melakukan tindakan pembedahan pada
kasus Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) untuk mengatasi
nyeri dan memperbaiki kualitas hidup.
Rekomendasi B
Sebaiknya merujuk penderita yang dicurigai atau telah
ditegakkan diagnosis DIE ke pusat pelayanan kesehatan tersier
dengan fasilitas memadai untuk mendapatkan penanganan
multidisiplin terpadu.
Rekomendasi
GPP
INTERUPSI LINTASAN SARAF PANGGUL PADA NYERI
ENDOMETRIOSIS
Telah diketahui sekitar 20 −25% penderita nyeri hebat akibat
endometriosis gagal dengan terapi konservatif. Bila terapi medis tidak mampu
mengatasi keluhan nyeri hebat tersebut, maka terapi bedah konservatif
sampai histerektomi sebaiknya dipikirkan. Tindakan pembedahan konservatif
yang dapat dilakukan adalah presacral neurectomy (PSN) dan laparoscopic
uterosacral nerve ablation (LUNA).
Laparoscopic electrosugical PSN dikerjakan melalui insisi di umbilikus
dan menggunakan laser CO
2. Pasien dalam posisi trandelenburg dan miring
kekiri sehingga sigmoid dapat tergeser ke lateral. Selain itu sigmoid ditarik ke
arah lateral dengan menggunakan probe tumpul agar menjauh dari lapangan
operasi. Presacral neurectomy dikerjakan pada daerah anterior vertebra L5
dan S1. Pleksus hipogastrika superior merupakan lintasan utama transmisi
saraf dari panggul. Saat dilakukan neurectomy pleksus tersebut ditampilkan
kemudian saraf dipotong agar terjadi interupsi inervasi simpatis uterus pada
level pleksus hipogastrika superior. Tindakan pembedahan PSN berisiko
61Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Data review sistematik yang melibatkan 34 penelitian tindakan reseksi
usus pada endometriosis kolorektal mendapatkan hasil perbaikan nyeri secara
bermakna pada sebagian besar kasus. Pada review tersebut disimpulkan
bahwa tindakan reseksi segmental pada DIE yang melibatkan daerah
kolorektal menjadi pilihan terbaik. Pada studi klinik dengan randomisasi
didapatkan hasil tindakan laparoskopi sama efektif dengan laparotomi
untuk mengatasi nyeri dan perbaikan kualitas hidup pada kasus DIE, namun
kehamilan hanya terjadi pada kelompok laparoskopi saja(1,3).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah pada kasus DIE sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan melakukan tindakan pembedahan pada
kasus Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) untuk mengatasi
nyeri dan memperbaiki kualitas hidup.
Rekomendasi B
Sebaiknya merujuk penderita yang dicurigai atau telah
ditegakkan diagnosis DIE ke pusat pelayanan kesehatan tersier
dengan fasilitas memadai untuk mendapatkan penanganan
multidisiplin terpadu.
Rekomendasi
GPP
INTERUPSI LINTASAN SARAF PANGGUL PADA NYERI
ENDOMETRIOSIS
Telah diketahui sekitar 20 −25% penderita nyeri hebat akibat
endometriosis gagal dengan terapi konservatif. Bila terapi medis tidak mampu
mengatasi keluhan nyeri hebat tersebut, maka terapi bedah konservatif
sampai histerektomi sebaiknya dipikirkan. Tindakan pembedahan konservatif
yang dapat dilakukan adalah presacral neurectomy (PSN) dan laparoscopic
uterosacral nerve ablation (LUNA).
Laparoscopic electrosugical PSN dikerjakan melalui insisi di umbilikus
dan menggunakan laser CO
2. Pasien dalam posisi trandelenburg dan miring
kekiri sehingga sigmoid dapat tergeser ke lateral. Selain itu sigmoid ditarik ke
arah lateral dengan menggunakan probe tumpul agar menjauh dari lapangan
operasi. Presacral neurectomy dikerjakan pada daerah anterior vertebra L5
dan S1. Pleksus hipogastrika superior merupakan lintasan utama transmisi
saraf dari panggul. Saat dilakukan neurectomy pleksus tersebut ditampilkan
kemudian saraf dipotong agar terjadi interupsi inervasi simpatis uterus pada
level pleksus hipogastrika superior. Tindakan pembedahan PSN berisiko
ENDOMETRIOSIS62
terjadi komplikasi trauma pada struktur vital di sekitar daerah operasi, misal
pada vena iliaka komunis, ureter dan mesenterium sigmoid (48).
Teknik lain mengatasi nyeri endometriosis, yaitu dengan melakukan
pembedahan laparoscopic uterosacral nerve ablation (LUNA). Tindakan
bedah ini berupa transeksi ligamentum sakro-uterina sedekat mungkin
dengan insersi di serviks posterior. Prosedur LUNA bertujuan untuk mengatasi
nyeri panggul dengan cara memotong atau menyebabkan interupsi serabut
saraf sensoris aferen pleksus Lee-Frankenhauser yang berjalan di bawah
ligamentum. Data studi anatomi menunjukkan bahwa sebagian besar serabut
saraf sakro-uterina didapatkan pada jarak 6,5-33 mm dan sedalam 3-5 mm
pada distal penempelan ligamentum sakro-uterina di serviks. Tindakan
pemotongan atau transeksi total ligamentum sakro-uterina dilakukan pada
jarak sekitar dua sentimeter atau lebih dari insersi di serviks (49).
Efektivitas mengatasi nyeri dengan tindakan interupsi lintasan saraf
panggul pada kasus dismenorea primer dan sekunder telah dianalisis oleh
review Cochrane dengan melibatkan 6 RCT pada penderita endometriosis.
Data terdiri dari 3 RCT mengevaluasi LUNA dan sisanya mengevaluasi PSN
sebagai terapi tambahan pada terapi bedah konservatif. Dari hasil review
tersebut didapatkan bahwa teknik LUNA tidak memberikan keuntungan
tambahan pada terapi bedah konservatif, sedangkan teknik PSN memberikan
keuntungan tambahan sampai 6−12 bulan pascatindakan tetapi terjadi
peningkatan risiko efek samping yaitu perdarahan, konstipasi dan urine
urgensi(1,3).
Gambar 10.6 Lokasi LUNA (A) dan PSN (B) beserta lintasan saraf panggul (Diambil dari
daftar pustaka 53)
A B
ENDOMETRIOSIS62
terjadi komplikasi trauma pada struktur vital di sekitar daerah operasi, misal
pada vena iliaka komunis, ureter dan mesenterium sigmoid (48).
Teknik lain mengatasi nyeri endometriosis, yaitu dengan melakukan
pembedahan laparoscopic uterosacral nerve ablation (LUNA). Tindakan
bedah ini berupa transeksi ligamentum sakro-uterina sedekat mungkin
dengan insersi di serviks posterior. Prosedur LUNA bertujuan untuk mengatasi
nyeri panggul dengan cara memotong atau menyebabkan interupsi serabut
saraf sensoris aferen pleksus Lee-Frankenhauser yang berjalan di bawah
ligamentum. Data studi anatomi menunjukkan bahwa sebagian besar serabut
saraf sakro-uterina didapatkan pada jarak 6,5-33 mm dan sedalam 3-5 mm
pada distal penempelan ligamentum sakro-uterina di serviks. Tindakan
pemotongan atau transeksi total ligamentum sakro-uterina dilakukan pada
jarak sekitar dua sentimeter atau lebih dari insersi di serviks (49).
Efektivitas mengatasi nyeri dengan tindakan interupsi lintasan saraf
panggul pada kasus dismenorea primer dan sekunder telah dianalisis oleh
review Cochrane dengan melibatkan 6 RCT pada penderita endometriosis.
Data terdiri dari 3 RCT mengevaluasi LUNA dan sisanya mengevaluasi PSN
sebagai terapi tambahan pada terapi bedah konservatif. Dari hasil review
tersebut didapatkan bahwa teknik LUNA tidak memberikan keuntungan
tambahan pada terapi bedah konservatif, sedangkan teknik PSN memberikan
keuntungan tambahan sampai 6−12 bulan pascatindakan tetapi terjadi
peningkatan risiko efek samping yaitu perdarahan, konstipasi dan urine
urgensi(1,3).
Gambar 10.6 Lokasi LUNA (A) dan PSN (B) beserta lintasan saraf panggul (Diambil dari
daftar pustaka 53)
A B
ENDOMETRIOSIS62
terjadi komplikasi trauma pada struktur vital di sekitar daerah operasi, misal
pada vena iliaka komunis, ureter dan mesenterium sigmoid (48).
Teknik lain mengatasi nyeri endometriosis, yaitu dengan melakukan
pembedahan laparoscopic uterosacral nerve ablation (LUNA). Tindakan
bedah ini berupa transeksi ligamentum sakro-uterina sedekat mungkin
dengan insersi di serviks posterior. Prosedur LUNA bertujuan untuk mengatasi
nyeri panggul dengan cara memotong atau menyebabkan interupsi serabut
saraf sensoris aferen pleksus Lee-Frankenhauser yang berjalan di bawah
ligamentum. Data studi anatomi menunjukkan bahwa sebagian besar serabut
saraf sakro-uterina didapatkan pada jarak 6,5-33 mm dan sedalam 3-5 mm
pada distal penempelan ligamentum sakro-uterina di serviks. Tindakan
pemotongan atau transeksi total ligamentum sakro-uterina dilakukan pada
jarak sekitar dua sentimeter atau lebih dari insersi di serviks (49).
Efektivitas mengatasi nyeri dengan tindakan interupsi lintasan saraf
panggul pada kasus dismenorea primer dan sekunder telah dianalisis oleh
review Cochrane dengan melibatkan 6 RCT pada penderita endometriosis.
Data terdiri dari 3 RCT mengevaluasi LUNA dan sisanya mengevaluasi PSN
sebagai terapi tambahan pada terapi bedah konservatif. Dari hasil review
tersebut didapatkan bahwa teknik LUNA tidak memberikan keuntungan
tambahan pada terapi bedah konservatif, sedangkan teknik PSN memberikan
keuntungan tambahan sampai 6−12 bulan pascatindakan tetapi terjadi
peningkatan risiko efek samping yaitu perdarahan, konstipasi dan urine
urgensi(1,3).
Gambar 10.6 Lokasi LUNA (A) dan PSN (B) beserta lintasan saraf panggul (Diambil dari
daftar pustaka 53)
A B
ENDOMETRIOSIS62
terjadi komplikasi trauma pada struktur vital di sekitar daerah operasi, misal
pada vena iliaka komunis, ureter dan mesenterium sigmoid (48).
Teknik lain mengatasi nyeri endometriosis, yaitu dengan melakukan
pembedahan laparoscopic uterosacral nerve ablation (LUNA). Tindakan
bedah ini berupa transeksi ligamentum sakro-uterina sedekat mungkin
dengan insersi di serviks posterior. Prosedur LUNA bertujuan untuk mengatasi
nyeri panggul dengan cara memotong atau menyebabkan interupsi serabut
saraf sensoris aferen pleksus Lee-Frankenhauser yang berjalan di bawah
ligamentum. Data studi anatomi menunjukkan bahwa sebagian besar serabut
saraf sakro-uterina didapatkan pada jarak 6,5-33 mm dan sedalam 3-5 mm
pada distal penempelan ligamentum sakro-uterina di serviks. Tindakan
pemotongan atau transeksi total ligamentum sakro-uterina dilakukan pada
jarak sekitar dua sentimeter atau lebih dari insersi di serviks (49).
Efektivitas mengatasi nyeri dengan tindakan interupsi lintasan saraf
panggul pada kasus dismenorea primer dan sekunder telah dianalisis oleh
review Cochrane dengan melibatkan 6 RCT pada penderita endometriosis.
Data terdiri dari 3 RCT mengevaluasi LUNA dan sisanya mengevaluasi PSN
sebagai terapi tambahan pada terapi bedah konservatif. Dari hasil review
tersebut didapatkan bahwa teknik LUNA tidak memberikan keuntungan
tambahan pada terapi bedah konservatif, sedangkan teknik PSN memberikan
keuntungan tambahan sampai 6−12 bulan pascatindakan tetapi terjadi
peningkatan risiko efek samping yaitu perdarahan, konstipasi dan urine
urgensi(1,3).
Gambar 10.6 Lokasi LUNA (A) dan PSN (B) beserta lintasan saraf panggul (Diambil dari
daftar pustaka 53)
A B
63Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi bedah interupsi lintasan saraf
panggul pada nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengatasi nyeri endometriosis sebaiknya tidak
melakukan tindakan LUNA sebagai prosedur tambahan pada
terapi bedah konsevatif.
Rekomendasi A
Perlu hati-hati saat mengerjakan teknik PSN sebagai terapi
ta m b a h a n p a d a t e r a p i b e d a h k o n s e rv a t i f , w a l a u p u n e f e kt i f
mengatasi nyeri endometriosis namun harus dilakukan oleh
operator dengan ketrampilan khusus karena berpotensi tinggi
terjadi komplikasi.
Rekomendasi A
TERAPI HORMON PRA DAN PASCABEDAH PADA
ENDOMETRIOSIS
Peran terapi hormon praterapi bedah pada endometriosis telah
dianalisis oleh Cochrane dan didapatkan kesimpulan bahwa tidak didapatkan
bukti keuntungan penggunaan terapi hormon pada hasil pembedahan
endometriosis. Walaupun telah diketahui hasilnya, namun GDG mengakui
bahwa pada praktek klinis para ahli bedah menggunakan terapi hormon
analog GnRH prapembedahan dengan tujuan mempermudah operasi karena
obat tersebut akan mengurangi inflamasi, vaskularisasi lesi endometriosis dan
perlekatan pada daerah operasi. Bukti tersebut masih belum akurat karena
tidak didukung studi dengan menggunakan kelompok kontrol.
Dari sisi pandangan penderita terapi hormon sebaiknya diberikan
sebelum pembedahan terutama pada perempuan dengan keluhan nyeri
dengan tujuan dapat mengurangi nyeri pra operasi bukan pascaoperasi.
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pra pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon prabedah
untuk tujuan meningkatkan hasil pembedahan pada perempuan
dengan keluhan nyeri endometriosis
Rekomendasi A
63Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi bedah interupsi lintasan saraf
panggul pada nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengatasi nyeri endometriosis sebaiknya tidak
melakukan tindakan LUNA sebagai prosedur tambahan pada
terapi bedah konsevatif.
Rekomendasi A
Perlu hati-hati saat mengerjakan teknik PSN sebagai terapi
ta m b a h a n p a d a t e r a p i b e d a h k o n s e rv a t i f , w a l a u p u n e f e kt i f
mengatasi nyeri endometriosis namun harus dilakukan oleh
operator dengan ketrampilan khusus karena berpotensi tinggi
terjadi komplikasi.
Rekomendasi A
TERAPI HORMON PRA DAN PASCABEDAH PADA
ENDOMETRIOSIS
Peran terapi hormon praterapi bedah pada endometriosis telah
dianalisis oleh Cochrane dan didapatkan kesimpulan bahwa tidak didapatkan
bukti keuntungan penggunaan terapi hormon pada hasil pembedahan
endometriosis. Walaupun telah diketahui hasilnya, namun GDG mengakui
bahwa pada praktek klinis para ahli bedah menggunakan terapi hormon
analog GnRH prapembedahan dengan tujuan mempermudah operasi karena
obat tersebut akan mengurangi inflamasi, vaskularisasi lesi endometriosis dan
perlekatan pada daerah operasi. Bukti tersebut masih belum akurat karena
tidak didukung studi dengan menggunakan kelompok kontrol.
Dari sisi pandangan penderita terapi hormon sebaiknya diberikan
sebelum pembedahan terutama pada perempuan dengan keluhan nyeri
dengan tujuan dapat mengurangi nyeri pra operasi bukan pascaoperasi.
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pra pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon prabedah
untuk tujuan meningkatkan hasil pembedahan pada perempuan
dengan keluhan nyeri endometriosis
Rekomendasi A
63Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi bedah interupsi lintasan saraf
panggul pada nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengatasi nyeri endometriosis sebaiknya tidak
melakukan tindakan LUNA sebagai prosedur tambahan pada
terapi bedah konsevatif.
Rekomendasi A
Perlu hati-hati saat mengerjakan teknik PSN sebagai terapi
ta m b a h a n p a d a t e r a p i b e d a h k o n s e rv a t i f , w a l a u p u n e f e kt i f
mengatasi nyeri endometriosis namun harus dilakukan oleh
operator dengan ketrampilan khusus karena berpotensi tinggi
terjadi komplikasi.
Rekomendasi A
TERAPI HORMON PRA DAN PASCABEDAH PADA
ENDOMETRIOSIS
Peran terapi hormon praterapi bedah pada endometriosis telah
dianalisis oleh Cochrane dan didapatkan kesimpulan bahwa tidak didapatkan
bukti keuntungan penggunaan terapi hormon pada hasil pembedahan
endometriosis. Walaupun telah diketahui hasilnya, namun GDG mengakui
bahwa pada praktek klinis para ahli bedah menggunakan terapi hormon
analog GnRH prapembedahan dengan tujuan mempermudah operasi karena
obat tersebut akan mengurangi inflamasi, vaskularisasi lesi endometriosis dan
perlekatan pada daerah operasi. Bukti tersebut masih belum akurat karena
tidak didukung studi dengan menggunakan kelompok kontrol.
Dari sisi pandangan penderita terapi hormon sebaiknya diberikan
sebelum pembedahan terutama pada perempuan dengan keluhan nyeri
dengan tujuan dapat mengurangi nyeri pra operasi bukan pascaoperasi.
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pra pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon prabedah
untuk tujuan meningkatkan hasil pembedahan pada perempuan
dengan keluhan nyeri endometriosis
Rekomendasi A
63Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi bedah interupsi lintasan saraf
panggul pada nyeri endometriosis sebagai berikut (1,3).
Untuk mengatasi nyeri endometriosis sebaiknya tidak
melakukan tindakan LUNA sebagai prosedur tambahan pada
terapi bedah konsevatif.
Rekomendasi A
Perlu hati-hati saat mengerjakan teknik PSN sebagai terapi
ta m b a h a n p a d a t e r a p i b e d a h k o n s e rv a t i f , w a l a u p u n e f e kt i f
mengatasi nyeri endometriosis namun harus dilakukan oleh
operator dengan ketrampilan khusus karena berpotensi tinggi
terjadi komplikasi.
Rekomendasi A
TERAPI HORMON PRA DAN PASCABEDAH PADA
ENDOMETRIOSIS
Peran terapi hormon praterapi bedah pada endometriosis telah
dianalisis oleh Cochrane dan didapatkan kesimpulan bahwa tidak didapatkan
bukti keuntungan penggunaan terapi hormon pada hasil pembedahan
endometriosis. Walaupun telah diketahui hasilnya, namun GDG mengakui
bahwa pada praktek klinis para ahli bedah menggunakan terapi hormon
analog GnRH prapembedahan dengan tujuan mempermudah operasi karena
obat tersebut akan mengurangi inflamasi, vaskularisasi lesi endometriosis dan
perlekatan pada daerah operasi. Bukti tersebut masih belum akurat karena
tidak didukung studi dengan menggunakan kelompok kontrol.
Dari sisi pandangan penderita terapi hormon sebaiknya diberikan
sebelum pembedahan terutama pada perempuan dengan keluhan nyeri
dengan tujuan dapat mengurangi nyeri pra operasi bukan pascaoperasi.
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pra pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon prabedah
untuk tujuan meningkatkan hasil pembedahan pada perempuan
dengan keluhan nyeri endometriosis
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS64
Selain pemberian prabedah, para klinisi sering juga memberikan terapi
hormon pascapembedahan. Pemberian terapi hormon pasca tindakan bedah
dapat dilihat dari dua sisi.
1. Keuntungan jangka pendek (dalam waktu enam bulan pascaoperasi)
bertujuan untuk meningkatkan hasil pembedahan yaitu mengurangi
nyeri.
2. Keuntungan jangka panjang (periode lebih enam bulan) bertujuan untuk
prevensi sekunder berupa pencegahan kekambuhan keluhan nyeri atau
mencegah kekambuhan penyakit endometriosis.
Dua belas penelitian tentang penggunaan terapi hormon pascabedah
telah dievaluasi oleh Cochrane namun keberagaman dalam penilaian nyeri
menyebabkan tidak dapat digabungkannya 12 penelitian tersebut dalam
meta-analisis. Menyimak hasil analisis review Cochrane tersebut, GDG
menyimpulkan bahwa tidak didapatkan bukti keuntungan penggunaan
terapi hormon pascabedah untuk perbaikan hasil operasi dalam 6 bulan
pada penderita nyeri endometriosis (1,3).
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pasca pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon pasca bedah
kepada penderita nyeri endometriosis, karena terapi hormon
tersebut tidak terbukti dapat meningkatkan hasil pembedahan
yaitu menurunkan keluhan nyeri setelah operasi.
Rekomendasi A
Intervensi untuk prevensi sekunder ditujukan untuk menghentikan atau
menurunkan perkembangan penyakit setelah diagnosis ditegakkan. Prevensi
sekunder endometriosis didefinisikan sebagai pencegahan terjadinya keluhan
nyeri (dismenore, dispareuni dan nyeri panggul nonhaid) atau kekambuhan
penyakit endometriosis (kekambuhan endometrioma yang diperiksa dengan
ultrasonografi atau dengan laparosopi untuk semua lesi endometriosis) untuk
jangka waktu panjang (lebih dari enam bulan).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi hormon pasca pembedahan endometriosis sebagai berikut
(1,3).
ENDOMETRIOSIS64
Selain pemberian prabedah, para klinisi sering juga memberikan terapi
hormon pascapembedahan. Pemberian terapi hormon pasca tindakan bedah
dapat dilihat dari dua sisi.
1. Keuntungan jangka pendek (dalam waktu enam bulan pascaoperasi)
bertujuan untuk meningkatkan hasil pembedahan yaitu mengurangi
nyeri.
2. Keuntungan jangka panjang (periode lebih enam bulan) bertujuan untuk
prevensi sekunder berupa pencegahan kekambuhan keluhan nyeri atau
mencegah kekambuhan penyakit endometriosis.
Dua belas penelitian tentang penggunaan terapi hormon pascabedah
telah dievaluasi oleh Cochrane namun keberagaman dalam penilaian nyeri
menyebabkan tidak dapat digabungkannya 12 penelitian tersebut dalam
meta-analisis. Menyimak hasil analisis review Cochrane tersebut, GDG
menyimpulkan bahwa tidak didapatkan bukti keuntungan penggunaan
terapi hormon pascabedah untuk perbaikan hasil operasi dalam 6 bulan
pada penderita nyeri endometriosis (1,3).
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pasca pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon pasca bedah
kepada penderita nyeri endometriosis, karena terapi hormon
tersebut tidak terbukti dapat meningkatkan hasil pembedahan
yaitu menurunkan keluhan nyeri setelah operasi.
Rekomendasi A
Intervensi untuk prevensi sekunder ditujukan untuk menghentikan atau
menurunkan perkembangan penyakit setelah diagnosis ditegakkan. Prevensi
sekunder endometriosis didefinisikan sebagai pencegahan terjadinya keluhan
nyeri (dismenore, dispareuni dan nyeri panggul nonhaid) atau kekambuhan
penyakit endometriosis (kekambuhan endometrioma yang diperiksa dengan
ultrasonografi atau dengan laparosopi untuk semua lesi endometriosis) untuk
jangka waktu panjang (lebih dari enam bulan).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi hormon pasca pembedahan endometriosis sebagai berikut
(1,3).
ENDOMETRIOSIS64
Selain pemberian prabedah, para klinisi sering juga memberikan terapi
hormon pascapembedahan. Pemberian terapi hormon pasca tindakan bedah
dapat dilihat dari dua sisi.
1. Keuntungan jangka pendek (dalam waktu enam bulan pascaoperasi)
bertujuan untuk meningkatkan hasil pembedahan yaitu mengurangi
nyeri.
2. Keuntungan jangka panjang (periode lebih enam bulan) bertujuan untuk
prevensi sekunder berupa pencegahan kekambuhan keluhan nyeri atau
mencegah kekambuhan penyakit endometriosis.
Dua belas penelitian tentang penggunaan terapi hormon pascabedah
telah dievaluasi oleh Cochrane namun keberagaman dalam penilaian nyeri
menyebabkan tidak dapat digabungkannya 12 penelitian tersebut dalam
meta-analisis. Menyimak hasil analisis review Cochrane tersebut, GDG
menyimpulkan bahwa tidak didapatkan bukti keuntungan penggunaan
terapi hormon pascabedah untuk perbaikan hasil operasi dalam 6 bulan
pada penderita nyeri endometriosis (1,3).
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pasca pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon pasca bedah
kepada penderita nyeri endometriosis, karena terapi hormon
tersebut tidak terbukti dapat meningkatkan hasil pembedahan
yaitu menurunkan keluhan nyeri setelah operasi.
Rekomendasi A
Intervensi untuk prevensi sekunder ditujukan untuk menghentikan atau
menurunkan perkembangan penyakit setelah diagnosis ditegakkan. Prevensi
sekunder endometriosis didefinisikan sebagai pencegahan terjadinya keluhan
nyeri (dismenore, dispareuni dan nyeri panggul nonhaid) atau kekambuhan
penyakit endometriosis (kekambuhan endometrioma yang diperiksa dengan
ultrasonografi atau dengan laparosopi untuk semua lesi endometriosis) untuk
jangka waktu panjang (lebih dari enam bulan).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi hormon pasca pembedahan endometriosis sebagai berikut
(1,3).
ENDOMETRIOSIS64
Selain pemberian prabedah, para klinisi sering juga memberikan terapi
hormon pascapembedahan. Pemberian terapi hormon pasca tindakan bedah
dapat dilihat dari dua sisi.
1. Keuntungan jangka pendek (dalam waktu enam bulan pascaoperasi)
bertujuan untuk meningkatkan hasil pembedahan yaitu mengurangi
nyeri.
2. Keuntungan jangka panjang (periode lebih enam bulan) bertujuan untuk
prevensi sekunder berupa pencegahan kekambuhan keluhan nyeri atau
mencegah kekambuhan penyakit endometriosis.
Dua belas penelitian tentang penggunaan terapi hormon pascabedah
telah dievaluasi oleh Cochrane namun keberagaman dalam penilaian nyeri
menyebabkan tidak dapat digabungkannya 12 penelitian tersebut dalam
meta-analisis. Menyimak hasil analisis review Cochrane tersebut, GDG
menyimpulkan bahwa tidak didapatkan bukti keuntungan penggunaan
terapi hormon pascabedah untuk perbaikan hasil operasi dalam 6 bulan
pada penderita nyeri endometriosis (1,3).
Berdasarkan data di atas ESHRE Guideline Development Groups
memberikan rekomendasi penggunaan terapi hormon pasca pembedahan
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Klinisi sebaiknya tidak memberikan terapi hormon pasca bedah
kepada penderita nyeri endometriosis, karena terapi hormon
tersebut tidak terbukti dapat meningkatkan hasil pembedahan
yaitu menurunkan keluhan nyeri setelah operasi.
Rekomendasi A
Intervensi untuk prevensi sekunder ditujukan untuk menghentikan atau
menurunkan perkembangan penyakit setelah diagnosis ditegakkan. Prevensi
sekunder endometriosis didefinisikan sebagai pencegahan terjadinya keluhan
nyeri (dismenore, dispareuni dan nyeri panggul nonhaid) atau kekambuhan
penyakit endometriosis (kekambuhan endometrioma yang diperiksa dengan
ultrasonografi atau dengan laparosopi untuk semua lesi endometriosis) untuk
jangka waktu panjang (lebih dari enam bulan).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi hormon pasca pembedahan endometriosis sebagai berikut
(1,3).
65Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Setelah tindakan bedah kistektomi kasus endometrioma pada
perempuan yang dalam waktu pendek tidak berencana untuk
hamil, direkomendasikan memberikan terapi hormon sebagai
prevensi sekunder terhadap kekambuhan endometrioma.
Rekomendasi A
Setelah tindakan bedah pada penderita endometriosis,
direkomendasikan memberikan Levonorgestrel-releasing
intrauterine system (LNG-IUS) atau kontrasepsi hormon
kombinasi sebagai prevensi sekunder terhadap kekambuhan
nyeri endometriosis / dismenorea tetapi tidak untuk dispareuni
dan nyeri panggul non haid
Rekomendasi A
65Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Setelah tindakan bedah kistektomi kasus endometrioma pada
perempuan yang dalam waktu pendek tidak berencana untuk
hamil, direkomendasikan memberikan terapi hormon sebagai
prevensi sekunder terhadap kekambuhan endometrioma.
Rekomendasi A
Setelah tindakan bedah pada penderita endometriosis,
direkomendasikan memberikan Levonorgestrel-releasing
intrauterine system (LNG-IUS) atau kontrasepsi hormon
kombinasi sebagai prevensi sekunder terhadap kekambuhan
nyeri endometriosis / dismenorea tetapi tidak untuk dispareuni
dan nyeri panggul non haid
Rekomendasi A
65Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Setelah tindakan bedah kistektomi kasus endometrioma pada
perempuan yang dalam waktu pendek tidak berencana untuk
hamil, direkomendasikan memberikan terapi hormon sebagai
prevensi sekunder terhadap kekambuhan endometrioma.
Rekomendasi A
Setelah tindakan bedah pada penderita endometriosis,
direkomendasikan memberikan Levonorgestrel-releasing
intrauterine system (LNG-IUS) atau kontrasepsi hormon
kombinasi sebagai prevensi sekunder terhadap kekambuhan
nyeri endometriosis / dismenorea tetapi tidak untuk dispareuni
dan nyeri panggul non haid
Rekomendasi A
65Bab 10 Penanganan Nyeri Endometriosis
Setelah tindakan bedah kistektomi kasus endometrioma pada
perempuan yang dalam waktu pendek tidak berencana untuk
hamil, direkomendasikan memberikan terapi hormon sebagai
prevensi sekunder terhadap kekambuhan endometrioma.
Rekomendasi A
Setelah tindakan bedah pada penderita endometriosis,
direkomendasikan memberikan Levonorgestrel-releasing
intrauterine system (LNG-IUS) atau kontrasepsi hormon
kombinasi sebagai prevensi sekunder terhadap kekambuhan
nyeri endometriosis / dismenorea tetapi tidak untuk dispareuni
dan nyeri panggul non haid
Rekomendasi A
67
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 11 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis.
Walaupun sulit dilakukan kuantifikasi, beberapa literatur menulis bahwa
angka fekunditas, yaitu probabilitas seorang perempuan mendapatkan
kelahiran hidup per bulan, penderita endometriosis yang belum diterapi
adalah 0,02−0,10 berarti lebih rendah dari pada perempuan normal yang
angka fekunditasnya 0,15−0,20. Sampai sejauh ini hubungan sebab akibat
endometriosis dan infetilitas masih kontroversi, namun demikian walau
masih belum jelas penyebabnya masalah infertilitas karena endometriosis
tetap harus ditangani. Berbagai opsi terapi yang telah dicoba antara lain
expectant management , terapi medis dan bedah baik tunggal atau dalam
bentuk kombinasi, serta teknologi reproduksi berbantu telah dilakukan namun
dengan hasil bervariasi. Di bawah ini akan dijelaskan penggunaan berbagai
cara terapi untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis (55).
EXPECTANT MANAGEMENT
Yang dimaksud dengan expectant management adalah tidak memberikan
pengobatan atau tindakan khusus dalam waktu tertentu dengan harapan
terjadi kehamilan spontan pada penderita infertilitas karena endometriosis.
Dasar dari expectant management adalah penderita endometriosis minimal
sampai ringan tanpa adanya perlekatan hebat pada organ reproduksi dapat
Penanganan Infertilitas
Karena Endometriosis
11
67
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 11 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis.
Walaupun sulit dilakukan kuantifikasi, beberapa literatur menulis bahwa
angka fekunditas, yaitu probabilitas seorang perempuan mendapatkan
kelahiran hidup per bulan, penderita endometriosis yang belum diterapi
adalah 0,02−0,10 berarti lebih rendah dari pada perempuan normal yang
angka fekunditasnya 0,15−0,20. Sampai sejauh ini hubungan sebab akibat
endometriosis dan infetilitas masih kontroversi, namun demikian walau
masih belum jelas penyebabnya masalah infertilitas karena endometriosis
tetap harus ditangani. Berbagai opsi terapi yang telah dicoba antara lain
expectant management , terapi medis dan bedah baik tunggal atau dalam
bentuk kombinasi, serta teknologi reproduksi berbantu telah dilakukan namun
dengan hasil bervariasi. Di bawah ini akan dijelaskan penggunaan berbagai
cara terapi untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis (55).
EXPECTANT MANAGEMENT
Yang dimaksud dengan expectant management adalah tidak memberikan
pengobatan atau tindakan khusus dalam waktu tertentu dengan harapan
terjadi kehamilan spontan pada penderita infertilitas karena endometriosis.
Dasar dari expectant management adalah penderita endometriosis minimal
sampai ringan tanpa adanya perlekatan hebat pada organ reproduksi dapat
Penanganan Infertilitas
Karena Endometriosis
11
67
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 11 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis.
Walaupun sulit dilakukan kuantifikasi, beberapa literatur menulis bahwa
angka fekunditas, yaitu probabilitas seorang perempuan mendapatkan
kelahiran hidup per bulan, penderita endometriosis yang belum diterapi
adalah 0,02−0,10 berarti lebih rendah dari pada perempuan normal yang
angka fekunditasnya 0,15−0,20. Sampai sejauh ini hubungan sebab akibat
endometriosis dan infetilitas masih kontroversi, namun demikian walau
masih belum jelas penyebabnya masalah infertilitas karena endometriosis
tetap harus ditangani. Berbagai opsi terapi yang telah dicoba antara lain
expectant management , terapi medis dan bedah baik tunggal atau dalam
bentuk kombinasi, serta teknologi reproduksi berbantu telah dilakukan namun
dengan hasil bervariasi. Di bawah ini akan dijelaskan penggunaan berbagai
cara terapi untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis (55).
EXPECTANT MANAGEMENT
Yang dimaksud dengan expectant management adalah tidak memberikan
pengobatan atau tindakan khusus dalam waktu tertentu dengan harapan
terjadi kehamilan spontan pada penderita infertilitas karena endometriosis.
Dasar dari expectant management adalah penderita endometriosis minimal
sampai ringan tanpa adanya perlekatan hebat pada organ reproduksi dapat
Penanganan Infertilitas
Karena Endometriosis
11
67
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 11 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis.
Walaupun sulit dilakukan kuantifikasi, beberapa literatur menulis bahwa
angka fekunditas, yaitu probabilitas seorang perempuan mendapatkan
kelahiran hidup per bulan, penderita endometriosis yang belum diterapi
adalah 0,02−0,10 berarti lebih rendah dari pada perempuan normal yang
angka fekunditasnya 0,15−0,20. Sampai sejauh ini hubungan sebab akibat
endometriosis dan infetilitas masih kontroversi, namun demikian walau
masih belum jelas penyebabnya masalah infertilitas karena endometriosis
tetap harus ditangani. Berbagai opsi terapi yang telah dicoba antara lain
expectant management , terapi medis dan bedah baik tunggal atau dalam
bentuk kombinasi, serta teknologi reproduksi berbantu telah dilakukan namun
dengan hasil bervariasi. Di bawah ini akan dijelaskan penggunaan berbagai
cara terapi untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis (55).
EXPECTANT MANAGEMENT
Yang dimaksud dengan expectant management adalah tidak memberikan
pengobatan atau tindakan khusus dalam waktu tertentu dengan harapan
terjadi kehamilan spontan pada penderita infertilitas karena endometriosis.
Dasar dari expectant management adalah penderita endometriosis minimal
sampai ringan tanpa adanya perlekatan hebat pada organ reproduksi dapat
Penanganan Infertilitas
Karena Endometriosis
11
ENDOMETRIOSIS68
berhasil hamil spontan. Studi kohort prospektif multisenter melibatkan 168
penderita endometriosis yang menjalani expectant management mendapatkan
angka fekunditas 2,52 per 100 orang per bulan yang berarti tidak berbeda
bermakna dengan angka fekunditas 263 perempuan dengan unexplained
infertility. Suatu penelitian lain mendapatkan angka kehamilan kumulatif
sebesar 55% pada 56 penderita endometriosis stadium minimal sampai ringan
setelah menjalani expectant management selama 18 bulan, sedangkan pada
kasus endometriosis berat dengan distorsi hebat anatomi panggul didapatkan
angka kehamilan mendekati 0% (55).
Pilihan memakai expectant management hanya bermanfaat bagi
penderita endometriosis minimal dan ringan, namun untuk endometriosis
stadium berat tidak bermanfaat bahkan akan menunda pemakaian terapi
yang efektif (56).
TERAPI MEDIS PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Terapi medis pada endometriosis ditujukan untuk manipulasi hormon
siklus haid agar terbentuk kondisi amenore sehingga menjadi lingkungan
yang tidak kondusif untuk pertumbuhan jaringan endometriosis. Secara
konvensional obat hormon yang digunakan untuk terapi medis mengatasi
infertilitas karena endometriosis sama dengan yang digunakan mengatasi
nyeri, yaitu danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan agonis
GnRH (55, 56).
Pertanyaan yang muncul pada hampir semua klinisi adalah apakah
terapi medis dengan obat hormon bermanfaat untuk mengatasi keluhan
infertilitas karena endometriosis. Data review sistematik lebih menekankan
peran supresi ovulasi dengan terapi hormon untuk perbaikan fertilitas karena
endometriosis. Review Cochrane pada tahun 2010 mengevaluasi 25 penelitian
obat supresi ovulasi (Danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan
agonis GnRH) pada penderita infertil karena endometriosis yang ingin hamil.
Hasil evaluasi adalah didapatkan rasio odds untuk kehamilan setelah diberi
obat supresi ovulasi dibandingkan plasebo atau tanpa pemberian obat adalah
0,97 (95% CI 0,68−1,34; p=0,8) untuk seluruh perempuan dan 1.02 (95%
CI 0,70−1,52, p=0.82) untuk pasangan infertil. Hasil di atas menunjukkan
bahwa selain tidak didapatkan keuntungan, pemberian obat supresi ovulasi
akan memperlambat waktu untuk mendapatkan kehamilan dengan kelahiran
hidup. Supresi fungsi ovarium menggunakan danazol, agonis GnRH dan pil
kontrasepsi kombinasi untuk perbaikan fertilitas pada perempuan dengan
ENDOMETRIOSIS68
berhasil hamil spontan. Studi kohort prospektif multisenter melibatkan 168
penderita endometriosis yang menjalani expectant management mendapatkan
angka fekunditas 2,52 per 100 orang per bulan yang berarti tidak berbeda
bermakna dengan angka fekunditas 263 perempuan dengan unexplained
infertility. Suatu penelitian lain mendapatkan angka kehamilan kumulatif
sebesar 55% pada 56 penderita endometriosis stadium minimal sampai ringan
setelah menjalani expectant management selama 18 bulan, sedangkan pada
kasus endometriosis berat dengan distorsi hebat anatomi panggul didapatkan
angka kehamilan mendekati 0% (55).
Pilihan memakai expectant management hanya bermanfaat bagi
penderita endometriosis minimal dan ringan, namun untuk endometriosis
stadium berat tidak bermanfaat bahkan akan menunda pemakaian terapi
yang efektif (56).
TERAPI MEDIS PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Terapi medis pada endometriosis ditujukan untuk manipulasi hormon
siklus haid agar terbentuk kondisi amenore sehingga menjadi lingkungan
yang tidak kondusif untuk pertumbuhan jaringan endometriosis. Secara
konvensional obat hormon yang digunakan untuk terapi medis mengatasi
infertilitas karena endometriosis sama dengan yang digunakan mengatasi
nyeri, yaitu danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan agonis
GnRH (55, 56).
Pertanyaan yang muncul pada hampir semua klinisi adalah apakah
terapi medis dengan obat hormon bermanfaat untuk mengatasi keluhan
infertilitas karena endometriosis. Data review sistematik lebih menekankan
peran supresi ovulasi dengan terapi hormon untuk perbaikan fertilitas karena
endometriosis. Review Cochrane pada tahun 2010 mengevaluasi 25 penelitian
obat supresi ovulasi (Danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan
agonis GnRH) pada penderita infertil karena endometriosis yang ingin hamil.
Hasil evaluasi adalah didapatkan rasio odds untuk kehamilan setelah diberi
obat supresi ovulasi dibandingkan plasebo atau tanpa pemberian obat adalah
0,97 (95% CI 0,68−1,34; p=0,8) untuk seluruh perempuan dan 1.02 (95%
CI 0,70−1,52, p=0.82) untuk pasangan infertil. Hasil di atas menunjukkan
bahwa selain tidak didapatkan keuntungan, pemberian obat supresi ovulasi
akan memperlambat waktu untuk mendapatkan kehamilan dengan kelahiran
hidup. Supresi fungsi ovarium menggunakan danazol, agonis GnRH dan pil
kontrasepsi kombinasi untuk perbaikan fertilitas pada perempuan dengan
ENDOMETRIOSIS68
berhasil hamil spontan. Studi kohort prospektif multisenter melibatkan 168
penderita endometriosis yang menjalani expectant management mendapatkan
angka fekunditas 2,52 per 100 orang per bulan yang berarti tidak berbeda
bermakna dengan angka fekunditas 263 perempuan dengan unexplained
infertility. Suatu penelitian lain mendapatkan angka kehamilan kumulatif
sebesar 55% pada 56 penderita endometriosis stadium minimal sampai ringan
setelah menjalani expectant management selama 18 bulan, sedangkan pada
kasus endometriosis berat dengan distorsi hebat anatomi panggul didapatkan
angka kehamilan mendekati 0% (55).
Pilihan memakai expectant management hanya bermanfaat bagi
penderita endometriosis minimal dan ringan, namun untuk endometriosis
stadium berat tidak bermanfaat bahkan akan menunda pemakaian terapi
yang efektif (56).
TERAPI MEDIS PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Terapi medis pada endometriosis ditujukan untuk manipulasi hormon
siklus haid agar terbentuk kondisi amenore sehingga menjadi lingkungan
yang tidak kondusif untuk pertumbuhan jaringan endometriosis. Secara
konvensional obat hormon yang digunakan untuk terapi medis mengatasi
infertilitas karena endometriosis sama dengan yang digunakan mengatasi
nyeri, yaitu danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan agonis
GnRH (55, 56).
Pertanyaan yang muncul pada hampir semua klinisi adalah apakah
terapi medis dengan obat hormon bermanfaat untuk mengatasi keluhan
infertilitas karena endometriosis. Data review sistematik lebih menekankan
peran supresi ovulasi dengan terapi hormon untuk perbaikan fertilitas karena
endometriosis. Review Cochrane pada tahun 2010 mengevaluasi 25 penelitian
obat supresi ovulasi (Danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan
agonis GnRH) pada penderita infertil karena endometriosis yang ingin hamil.
Hasil evaluasi adalah didapatkan rasio odds untuk kehamilan setelah diberi
obat supresi ovulasi dibandingkan plasebo atau tanpa pemberian obat adalah
0,97 (95% CI 0,68−1,34; p=0,8) untuk seluruh perempuan dan 1.02 (95%
CI 0,70−1,52, p=0.82) untuk pasangan infertil. Hasil di atas menunjukkan
bahwa selain tidak didapatkan keuntungan, pemberian obat supresi ovulasi
akan memperlambat waktu untuk mendapatkan kehamilan dengan kelahiran
hidup. Supresi fungsi ovarium menggunakan danazol, agonis GnRH dan pil
kontrasepsi kombinasi untuk perbaikan fertilitas pada perempuan dengan
ENDOMETRIOSIS68
berhasil hamil spontan. Studi kohort prospektif multisenter melibatkan 168
penderita endometriosis yang menjalani expectant management mendapatkan
angka fekunditas 2,52 per 100 orang per bulan yang berarti tidak berbeda
bermakna dengan angka fekunditas 263 perempuan dengan unexplained
infertility. Suatu penelitian lain mendapatkan angka kehamilan kumulatif
sebesar 55% pada 56 penderita endometriosis stadium minimal sampai ringan
setelah menjalani expectant management selama 18 bulan, sedangkan pada
kasus endometriosis berat dengan distorsi hebat anatomi panggul didapatkan
angka kehamilan mendekati 0% (55).
Pilihan memakai expectant management hanya bermanfaat bagi
penderita endometriosis minimal dan ringan, namun untuk endometriosis
stadium berat tidak bermanfaat bahkan akan menunda pemakaian terapi
yang efektif (56).
TERAPI MEDIS PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Terapi medis pada endometriosis ditujukan untuk manipulasi hormon
siklus haid agar terbentuk kondisi amenore sehingga menjadi lingkungan
yang tidak kondusif untuk pertumbuhan jaringan endometriosis. Secara
konvensional obat hormon yang digunakan untuk terapi medis mengatasi
infertilitas karena endometriosis sama dengan yang digunakan mengatasi
nyeri, yaitu danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan agonis
GnRH (55, 56).
Pertanyaan yang muncul pada hampir semua klinisi adalah apakah
terapi medis dengan obat hormon bermanfaat untuk mengatasi keluhan
infertilitas karena endometriosis. Data review sistematik lebih menekankan
peran supresi ovulasi dengan terapi hormon untuk perbaikan fertilitas karena
endometriosis. Review Cochrane pada tahun 2010 mengevaluasi 25 penelitian
obat supresi ovulasi (Danazol, progestogen, pil kontrasepsi kombinasi dan
agonis GnRH) pada penderita infertil karena endometriosis yang ingin hamil.
Hasil evaluasi adalah didapatkan rasio odds untuk kehamilan setelah diberi
obat supresi ovulasi dibandingkan plasebo atau tanpa pemberian obat adalah
0,97 (95% CI 0,68−1,34; p=0,8) untuk seluruh perempuan dan 1.02 (95%
CI 0,70−1,52, p=0.82) untuk pasangan infertil. Hasil di atas menunjukkan
bahwa selain tidak didapatkan keuntungan, pemberian obat supresi ovulasi
akan memperlambat waktu untuk mendapatkan kehamilan dengan kelahiran
hidup. Supresi fungsi ovarium menggunakan danazol, agonis GnRH dan pil
kontrasepsi kombinasi untuk perbaikan fertilitas pada perempuan dengan
69Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
endometriosis minimal sampai ringan hasilnya tidak efektif dan seharusnya
tidak ditawarkan sebagai indikasi tunggal (55, 56).
Selain itu sejumlah penelitian telah menganalisis beberapa obat tertentu
untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis antara lain selective estrogen
receptor modulators, selective progesterone receptor modulators, aromatase
inhibitors, antagonis GnRH, pentoxiphylline, tumor necrosis factor- α
inhibitors, angiogenesis inhibitors, and matrix metalloproteinase inhibitors
yang diharapkan mempunyai potensi meningkatkan efektivitas hasil terapi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan sebagian besar masih merupakan
penelitian eksperimental pada hewan coba sehingga masih diperlukan data
akurat yang berasal dari penelitian pada manusia (56).
Secara keseluruhan terapi medis tidak dianjurkan digunakan pada
penderita infertilitas karena endometriosis, namun terdapat perkecualian
pada pasien yang akan mengikuti program fertilisasi in vitro (FIV). Review
Cochrane pada 3 RCT menyimpulkan pemberian agonis GnRH selama
3−6 bulan sebelum pelaksanaan FIV pada penderita infertilitas karena
endometriosis stadium berat meningkatkan secara bermakna rasio odds
kehamilan klinis (OR 4,28; 95% CI 2,00−9,15) (56).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi medis/hormon untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan tidak memberikan terapi medis hormon untuk
supresi fungsi ovarium dalam rangka perbaikan fertilitas pada
perempuan dengan keluhan infertilitas karena endometriosis
Rekomendasi A
TERAPI BEDAH PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Seperti diketahui pembedahan pada endometriosis dapat digunakan
sekaligus untuk diagnostik dan terapi. Laparoskopi lebih dipilih dibandingkan
dengan laparotomi karena lama waktu perawatan dan waktu penyembuhan
lebih pendek serta biaya relatif cukup terjangkau. Pembedahan pada
endometriosis memberikan keuntungan baik untuk stadium berat maupun
ringan-sedang. Keuntungan tersebut dapat berupa restorasi anatomi panggul,
pengangkatan lesi dan endometrioma sehingga mengurangi reaksi inflamasi
(56).
Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan berbagai teknik bedah
pada penderita endometriosis minimal dan ringan yang ingin punya anak
saat dilakukan pembedahan. Angka kehamilan kumulatif setelah 36 bulan
69Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
endometriosis minimal sampai ringan hasilnya tidak efektif dan seharusnya
tidak ditawarkan sebagai indikasi tunggal (55, 56).
Selain itu sejumlah penelitian telah menganalisis beberapa obat tertentu
untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis antara lain selective estrogen
receptor modulators, selective progesterone receptor modulators, aromatase
inhibitors, antagonis GnRH, pentoxiphylline, tumor necrosis factor- α
inhibitors, angiogenesis inhibitors, and matrix metalloproteinase inhibitors
yang diharapkan mempunyai potensi meningkatkan efektivitas hasil terapi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan sebagian besar masih merupakan
penelitian eksperimental pada hewan coba sehingga masih diperlukan data
akurat yang berasal dari penelitian pada manusia (56).
Secara keseluruhan terapi medis tidak dianjurkan digunakan pada
penderita infertilitas karena endometriosis, namun terdapat perkecualian
pada pasien yang akan mengikuti program fertilisasi in vitro (FIV). Review
Cochrane pada 3 RCT menyimpulkan pemberian agonis GnRH selama
3−6 bulan sebelum pelaksanaan FIV pada penderita infertilitas karena
endometriosis stadium berat meningkatkan secara bermakna rasio odds
kehamilan klinis (OR 4,28; 95% CI 2,00−9,15) (56).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi medis/hormon untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan tidak memberikan terapi medis hormon untuk
supresi fungsi ovarium dalam rangka perbaikan fertilitas pada
perempuan dengan keluhan infertilitas karena endometriosis
Rekomendasi A
TERAPI BEDAH PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Seperti diketahui pembedahan pada endometriosis dapat digunakan
sekaligus untuk diagnostik dan terapi. Laparoskopi lebih dipilih dibandingkan
dengan laparotomi karena lama waktu perawatan dan waktu penyembuhan
lebih pendek serta biaya relatif cukup terjangkau. Pembedahan pada
endometriosis memberikan keuntungan baik untuk stadium berat maupun
ringan-sedang. Keuntungan tersebut dapat berupa restorasi anatomi panggul,
pengangkatan lesi dan endometrioma sehingga mengurangi reaksi inflamasi
(56).
Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan berbagai teknik bedah
pada penderita endometriosis minimal dan ringan yang ingin punya anak
saat dilakukan pembedahan. Angka kehamilan kumulatif setelah 36 bulan
69Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
endometriosis minimal sampai ringan hasilnya tidak efektif dan seharusnya
tidak ditawarkan sebagai indikasi tunggal (55, 56).
Selain itu sejumlah penelitian telah menganalisis beberapa obat tertentu
untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis antara lain selective estrogen
receptor modulators, selective progesterone receptor modulators, aromatase
inhibitors, antagonis GnRH, pentoxiphylline, tumor necrosis factor- α
inhibitors, angiogenesis inhibitors, and matrix metalloproteinase inhibitors
yang diharapkan mempunyai potensi meningkatkan efektivitas hasil terapi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan sebagian besar masih merupakan
penelitian eksperimental pada hewan coba sehingga masih diperlukan data
akurat yang berasal dari penelitian pada manusia (56).
Secara keseluruhan terapi medis tidak dianjurkan digunakan pada
penderita infertilitas karena endometriosis, namun terdapat perkecualian
pada pasien yang akan mengikuti program fertilisasi in vitro (FIV). Review
Cochrane pada 3 RCT menyimpulkan pemberian agonis GnRH selama
3−6 bulan sebelum pelaksanaan FIV pada penderita infertilitas karena
endometriosis stadium berat meningkatkan secara bermakna rasio odds
kehamilan klinis (OR 4,28; 95% CI 2,00−9,15) (56).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi medis/hormon untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan tidak memberikan terapi medis hormon untuk
supresi fungsi ovarium dalam rangka perbaikan fertilitas pada
perempuan dengan keluhan infertilitas karena endometriosis
Rekomendasi A
TERAPI BEDAH PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Seperti diketahui pembedahan pada endometriosis dapat digunakan
sekaligus untuk diagnostik dan terapi. Laparoskopi lebih dipilih dibandingkan
dengan laparotomi karena lama waktu perawatan dan waktu penyembuhan
lebih pendek serta biaya relatif cukup terjangkau. Pembedahan pada
endometriosis memberikan keuntungan baik untuk stadium berat maupun
ringan-sedang. Keuntungan tersebut dapat berupa restorasi anatomi panggul,
pengangkatan lesi dan endometrioma sehingga mengurangi reaksi inflamasi
(56).
Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan berbagai teknik bedah
pada penderita endometriosis minimal dan ringan yang ingin punya anak
saat dilakukan pembedahan. Angka kehamilan kumulatif setelah 36 bulan
69Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
endometriosis minimal sampai ringan hasilnya tidak efektif dan seharusnya
tidak ditawarkan sebagai indikasi tunggal (55, 56).
Selain itu sejumlah penelitian telah menganalisis beberapa obat tertentu
untuk mengatasi infertilitas karena endometriosis antara lain selective estrogen
receptor modulators, selective progesterone receptor modulators, aromatase
inhibitors, antagonis GnRH, pentoxiphylline, tumor necrosis factor- α
inhibitors, angiogenesis inhibitors, and matrix metalloproteinase inhibitors
yang diharapkan mempunyai potensi meningkatkan efektivitas hasil terapi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan sebagian besar masih merupakan
penelitian eksperimental pada hewan coba sehingga masih diperlukan data
akurat yang berasal dari penelitian pada manusia (56).
Secara keseluruhan terapi medis tidak dianjurkan digunakan pada
penderita infertilitas karena endometriosis, namun terdapat perkecualian
pada pasien yang akan mengikuti program fertilisasi in vitro (FIV). Review
Cochrane pada 3 RCT menyimpulkan pemberian agonis GnRH selama
3−6 bulan sebelum pelaksanaan FIV pada penderita infertilitas karena
endometriosis stadium berat meningkatkan secara bermakna rasio odds
kehamilan klinis (OR 4,28; 95% CI 2,00−9,15) (56).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi medis/hormon untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Direkomendasikan tidak memberikan terapi medis hormon untuk
supresi fungsi ovarium dalam rangka perbaikan fertilitas pada
perempuan dengan keluhan infertilitas karena endometriosis
Rekomendasi A
TERAPI BEDAH PADA INFERTILITAS KARENA ENDOMETRIOSIS
Seperti diketahui pembedahan pada endometriosis dapat digunakan
sekaligus untuk diagnostik dan terapi. Laparoskopi lebih dipilih dibandingkan
dengan laparotomi karena lama waktu perawatan dan waktu penyembuhan
lebih pendek serta biaya relatif cukup terjangkau. Pembedahan pada
endometriosis memberikan keuntungan baik untuk stadium berat maupun
ringan-sedang. Keuntungan tersebut dapat berupa restorasi anatomi panggul,
pengangkatan lesi dan endometrioma sehingga mengurangi reaksi inflamasi
(56).
Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan berbagai teknik bedah
pada penderita endometriosis minimal dan ringan yang ingin punya anak
saat dilakukan pembedahan. Angka kehamilan kumulatif setelah 36 bulan
ENDOMETRIOSIS70
pascapembedahan dengan teknik vaporisasi laser CO 2 cukup tinggi (87%)
dibandingkan dengan menggunakan teknik elektrokoagulasi monopolar
(71%), laparoskopi diagnostik saja (65%) dan laparoskopi diagnostik dengan
tambahan pemberian danazol 800 mg/hari selama 3 bulan pascaoperasi
(63%) (1,3).
Penelitian yang melibatkan 341 penderita endometriosis minimal
dan ringan yang mendapat tindakan bedah laparoskopi didapatkan hasil
bahwa tindakan reseksi maupun ablasi dapat meningkatkan fekunditas
secara bermakna bila dibandingkan dengan hanya melakukan laparoskopi
diagnostik saja (30,7% dan 17,7%, p=0,006), serta didapatkan hasil yang
berbeda dengan studi di Italia yang tidak didapatkan perbedaan angka
kehamilan. Meta-analisis Cochrane review menyimpulkan bahwa tindakan
bedah memberikan keuntungan pada penderita endometriosis minimal dan
ringan yang menginginkan mendapat anak. Didapatkan angka Number
Needed to Treat (NNT) 7,7 dan rasio odds 1,66 (95% CI 1,09−2,51) dengan
pilihan tindakan laparoskopi operatif lebih baik dari pada hanya laparoskopi
diagnostik saja (56).
Pada kasus kista endometriosis, data review Cochrane menyimpulkan
bahwa tindakan eksisi kapsul endometrioma akan meningkatkan angka
kehamilan spontan bila dibandingkan dengan tindakan ablasi (OR 5.21 CI
2,04−13,29), namun harus waspada kedua tindakan tersebut berpotensi
risiko penurunan cadangan ovarium.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah untuk keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
Pada endometriosis minimal dan ringan sebaiknya dilakukan
tindakan laparoskopi operatif (ablasi atau eksisi) termasuk juga
pembebasan perlekatan dengan tujuan untuk meningkatkan
angka kehamilan.
Rekomendasi A
Sebaiknya dipertimbangkan penggunakan teknik vaporisasi
laser CO 2 dibandingkan elektrokoagulasi monopolar karena
lebih meningkatkan angka kehamilan kumulatif.
Rekomendasi C
ENDOMETRIOSIS70
pascapembedahan dengan teknik vaporisasi laser CO 2 cukup tinggi (87%)
dibandingkan dengan menggunakan teknik elektrokoagulasi monopolar
(71%), laparoskopi diagnostik saja (65%) dan laparoskopi diagnostik dengan
tambahan pemberian danazol 800 mg/hari selama 3 bulan pascaoperasi
(63%) (1,3).
Penelitian yang melibatkan 341 penderita endometriosis minimal
dan ringan yang mendapat tindakan bedah laparoskopi didapatkan hasil
bahwa tindakan reseksi maupun ablasi dapat meningkatkan fekunditas
secara bermakna bila dibandingkan dengan hanya melakukan laparoskopi
diagnostik saja (30,7% dan 17,7%, p=0,006), serta didapatkan hasil yang
berbeda dengan studi di Italia yang tidak didapatkan perbedaan angka
kehamilan. Meta-analisis Cochrane review menyimpulkan bahwa tindakan
bedah memberikan keuntungan pada penderita endometriosis minimal dan
ringan yang menginginkan mendapat anak. Didapatkan angka Number
Needed to Treat (NNT) 7,7 dan rasio odds 1,66 (95% CI 1,09−2,51) dengan
pilihan tindakan laparoskopi operatif lebih baik dari pada hanya laparoskopi
diagnostik saja (56).
Pada kasus kista endometriosis, data review Cochrane menyimpulkan
bahwa tindakan eksisi kapsul endometrioma akan meningkatkan angka
kehamilan spontan bila dibandingkan dengan tindakan ablasi (OR 5.21 CI
2,04−13,29), namun harus waspada kedua tindakan tersebut berpotensi
risiko penurunan cadangan ovarium.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah untuk keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
Pada endometriosis minimal dan ringan sebaiknya dilakukan
tindakan laparoskopi operatif (ablasi atau eksisi) termasuk juga
pembebasan perlekatan dengan tujuan untuk meningkatkan
angka kehamilan.
Rekomendasi A
Sebaiknya dipertimbangkan penggunakan teknik vaporisasi
laser CO 2 dibandingkan elektrokoagulasi monopolar karena
lebih meningkatkan angka kehamilan kumulatif.
Rekomendasi C
ENDOMETRIOSIS70
pascapembedahan dengan teknik vaporisasi laser CO 2 cukup tinggi (87%)
dibandingkan dengan menggunakan teknik elektrokoagulasi monopolar
(71%), laparoskopi diagnostik saja (65%) dan laparoskopi diagnostik dengan
tambahan pemberian danazol 800 mg/hari selama 3 bulan pascaoperasi
(63%) (1,3).
Penelitian yang melibatkan 341 penderita endometriosis minimal
dan ringan yang mendapat tindakan bedah laparoskopi didapatkan hasil
bahwa tindakan reseksi maupun ablasi dapat meningkatkan fekunditas
secara bermakna bila dibandingkan dengan hanya melakukan laparoskopi
diagnostik saja (30,7% dan 17,7%, p=0,006), serta didapatkan hasil yang
berbeda dengan studi di Italia yang tidak didapatkan perbedaan angka
kehamilan. Meta-analisis Cochrane review menyimpulkan bahwa tindakan
bedah memberikan keuntungan pada penderita endometriosis minimal dan
ringan yang menginginkan mendapat anak. Didapatkan angka Number
Needed to Treat (NNT) 7,7 dan rasio odds 1,66 (95% CI 1,09−2,51) dengan
pilihan tindakan laparoskopi operatif lebih baik dari pada hanya laparoskopi
diagnostik saja (56).
Pada kasus kista endometriosis, data review Cochrane menyimpulkan
bahwa tindakan eksisi kapsul endometrioma akan meningkatkan angka
kehamilan spontan bila dibandingkan dengan tindakan ablasi (OR 5.21 CI
2,04−13,29), namun harus waspada kedua tindakan tersebut berpotensi
risiko penurunan cadangan ovarium.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah untuk keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
Pada endometriosis minimal dan ringan sebaiknya dilakukan
tindakan laparoskopi operatif (ablasi atau eksisi) termasuk juga
pembebasan perlekatan dengan tujuan untuk meningkatkan
angka kehamilan.
Rekomendasi A
Sebaiknya dipertimbangkan penggunakan teknik vaporisasi
laser CO 2 dibandingkan elektrokoagulasi monopolar karena
lebih meningkatkan angka kehamilan kumulatif.
Rekomendasi C
ENDOMETRIOSIS70
pascapembedahan dengan teknik vaporisasi laser CO 2 cukup tinggi (87%)
dibandingkan dengan menggunakan teknik elektrokoagulasi monopolar
(71%), laparoskopi diagnostik saja (65%) dan laparoskopi diagnostik dengan
tambahan pemberian danazol 800 mg/hari selama 3 bulan pascaoperasi
(63%) (1,3).
Penelitian yang melibatkan 341 penderita endometriosis minimal
dan ringan yang mendapat tindakan bedah laparoskopi didapatkan hasil
bahwa tindakan reseksi maupun ablasi dapat meningkatkan fekunditas
secara bermakna bila dibandingkan dengan hanya melakukan laparoskopi
diagnostik saja (30,7% dan 17,7%, p=0,006), serta didapatkan hasil yang
berbeda dengan studi di Italia yang tidak didapatkan perbedaan angka
kehamilan. Meta-analisis Cochrane review menyimpulkan bahwa tindakan
bedah memberikan keuntungan pada penderita endometriosis minimal dan
ringan yang menginginkan mendapat anak. Didapatkan angka Number
Needed to Treat (NNT) 7,7 dan rasio odds 1,66 (95% CI 1,09−2,51) dengan
pilihan tindakan laparoskopi operatif lebih baik dari pada hanya laparoskopi
diagnostik saja (56).
Pada kasus kista endometriosis, data review Cochrane menyimpulkan
bahwa tindakan eksisi kapsul endometrioma akan meningkatkan angka
kehamilan spontan bila dibandingkan dengan tindakan ablasi (OR 5.21 CI
2,04−13,29), namun harus waspada kedua tindakan tersebut berpotensi
risiko penurunan cadangan ovarium.
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi bedah untuk keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
Pada endometriosis minimal dan ringan sebaiknya dilakukan
tindakan laparoskopi operatif (ablasi atau eksisi) termasuk juga
pembebasan perlekatan dengan tujuan untuk meningkatkan
angka kehamilan.
Rekomendasi A
Sebaiknya dipertimbangkan penggunakan teknik vaporisasi
laser CO 2 dibandingkan elektrokoagulasi monopolar karena
lebih meningkatkan angka kehamilan kumulatif.
Rekomendasi C
71Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
Pada kista endometriosis sebaiknya dilakukan tindakan eksisi
kapsul endometrioma dibandingkan dengan hanya melakukan
drainase dan elektrokoagulasi pada dinding endometrioma
karena lebih meningkatkan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk menjelaskan lebih dahulu risiko
penurunan atau hilangnya fungsi ovarium pascapembedahan
endometrioma, terutama pada penderita endometriosis yang
mempunyai riwayat pembedahan ovarium sebelumnya.
Rekomendasi
GPP
Pada penderita infertilitas dengan endometriosis sedang dan
berat dipertimbangkan untuk melakukan tindakan laparoskopi
operatif dari pada hanya melakukan expectant management
agar terjadi peningkatan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi B
TERAPI KOMBINASI PADA INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS
Y ang dimaksud dengan terapi kombinasi adalah terapi medis yang
diberikan pra atau pasca pembedahan pada kasus infertilitas karena
endometriosis. Terapi medis prapembedahan ditujukan untuk mengurangi
tingkat keparahan penyakit endometriosis sehingga akan mengurangi risiko
penyulit dan meningkatkan hasil operasi. Penggunaan obat agonis GnRH
dapat menurunkan tingkat keparahan endometriosis namun belum terbukti
meningkatkan hasil operasi dan angka kehamilan (56).
Obat supresi ovulasi yang diberikan pascapembedahan telah banyak
digunakan dan telah dievaluasi pada beberapa penelitian. Tujuan terapi
medis pascapembedahan adalah meningkatkan resorpsi residu deposit
endometriosis dan menurunkan angka kekambuhan namun sejauh ini belum
ada laporan tentang peningkatan angka fertilitas. Review Cochrane tahun
2009 pada 16 penelitian penggunaan terapi medis pra dan pascapembedahan
menyimpulkan tidak didapatkan bukti keuntungan terapi kombinasi tersebut
t e r h a d a p a n g k a k e h a m i l a n . P a d a m e t a - a n a l i s i s y a n g m e l i b a t k a n 4 2 0
penderita endometriosis didapatkan hasil tidak ditemukan peningkatan angka
kehamilan setelah pemberian terapi medis pascapembedahan (RR 0,84 95%
CI 0,59–1,18). Berdasarkan data di atas disimpulkan bahwa terapi medis
ajuvan tidak direkomendasikan (1,3 ,56).
71Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
Pada kista endometriosis sebaiknya dilakukan tindakan eksisi
kapsul endometrioma dibandingkan dengan hanya melakukan
drainase dan elektrokoagulasi pada dinding endometrioma
karena lebih meningkatkan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk menjelaskan lebih dahulu risiko
penurunan atau hilangnya fungsi ovarium pascapembedahan
endometrioma, terutama pada penderita endometriosis yang
mempunyai riwayat pembedahan ovarium sebelumnya.
Rekomendasi
GPP
Pada penderita infertilitas dengan endometriosis sedang dan
berat dipertimbangkan untuk melakukan tindakan laparoskopi
operatif dari pada hanya melakukan expectant management
agar terjadi peningkatan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi B
TERAPI KOMBINASI PADA INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS
Y ang dimaksud dengan terapi kombinasi adalah terapi medis yang
diberikan pra atau pasca pembedahan pada kasus infertilitas karena
endometriosis. Terapi medis prapembedahan ditujukan untuk mengurangi
tingkat keparahan penyakit endometriosis sehingga akan mengurangi risiko
penyulit dan meningkatkan hasil operasi. Penggunaan obat agonis GnRH
dapat menurunkan tingkat keparahan endometriosis namun belum terbukti
meningkatkan hasil operasi dan angka kehamilan (56).
Obat supresi ovulasi yang diberikan pascapembedahan telah banyak
digunakan dan telah dievaluasi pada beberapa penelitian. Tujuan terapi
medis pascapembedahan adalah meningkatkan resorpsi residu deposit
endometriosis dan menurunkan angka kekambuhan namun sejauh ini belum
ada laporan tentang peningkatan angka fertilitas. Review Cochrane tahun
2009 pada 16 penelitian penggunaan terapi medis pra dan pascapembedahan
menyimpulkan tidak didapatkan bukti keuntungan terapi kombinasi tersebut
t e r h a d a p a n g k a k e h a m i l a n . P a d a m e t a - a n a l i s i s y a n g m e l i b a t k a n 4 2 0
penderita endometriosis didapatkan hasil tidak ditemukan peningkatan angka
kehamilan setelah pemberian terapi medis pascapembedahan (RR 0,84 95%
CI 0,59–1,18). Berdasarkan data di atas disimpulkan bahwa terapi medis
ajuvan tidak direkomendasikan (1,3 ,56).
71Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
Pada kista endometriosis sebaiknya dilakukan tindakan eksisi
kapsul endometrioma dibandingkan dengan hanya melakukan
drainase dan elektrokoagulasi pada dinding endometrioma
karena lebih meningkatkan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk menjelaskan lebih dahulu risiko
penurunan atau hilangnya fungsi ovarium pascapembedahan
endometrioma, terutama pada penderita endometriosis yang
mempunyai riwayat pembedahan ovarium sebelumnya.
Rekomendasi
GPP
Pada penderita infertilitas dengan endometriosis sedang dan
berat dipertimbangkan untuk melakukan tindakan laparoskopi
operatif dari pada hanya melakukan expectant management
agar terjadi peningkatan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi B
TERAPI KOMBINASI PADA INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS
Y ang dimaksud dengan terapi kombinasi adalah terapi medis yang
diberikan pra atau pasca pembedahan pada kasus infertilitas karena
endometriosis. Terapi medis prapembedahan ditujukan untuk mengurangi
tingkat keparahan penyakit endometriosis sehingga akan mengurangi risiko
penyulit dan meningkatkan hasil operasi. Penggunaan obat agonis GnRH
dapat menurunkan tingkat keparahan endometriosis namun belum terbukti
meningkatkan hasil operasi dan angka kehamilan (56).
Obat supresi ovulasi yang diberikan pascapembedahan telah banyak
digunakan dan telah dievaluasi pada beberapa penelitian. Tujuan terapi
medis pascapembedahan adalah meningkatkan resorpsi residu deposit
endometriosis dan menurunkan angka kekambuhan namun sejauh ini belum
ada laporan tentang peningkatan angka fertilitas. Review Cochrane tahun
2009 pada 16 penelitian penggunaan terapi medis pra dan pascapembedahan
menyimpulkan tidak didapatkan bukti keuntungan terapi kombinasi tersebut
t e r h a d a p a n g k a k e h a m i l a n . P a d a m e t a - a n a l i s i s y a n g m e l i b a t k a n 4 2 0
penderita endometriosis didapatkan hasil tidak ditemukan peningkatan angka
kehamilan setelah pemberian terapi medis pascapembedahan (RR 0,84 95%
CI 0,59–1,18). Berdasarkan data di atas disimpulkan bahwa terapi medis
ajuvan tidak direkomendasikan (1,3 ,56).
71Bab 11 Penanganan Infertilitas karena Endometriosis
Pada kista endometriosis sebaiknya dilakukan tindakan eksisi
kapsul endometrioma dibandingkan dengan hanya melakukan
drainase dan elektrokoagulasi pada dinding endometrioma
karena lebih meningkatkan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi A
Direkomendasikan untuk menjelaskan lebih dahulu risiko
penurunan atau hilangnya fungsi ovarium pascapembedahan
endometrioma, terutama pada penderita endometriosis yang
mempunyai riwayat pembedahan ovarium sebelumnya.
Rekomendasi
GPP
Pada penderita infertilitas dengan endometriosis sedang dan
berat dipertimbangkan untuk melakukan tindakan laparoskopi
operatif dari pada hanya melakukan expectant management
agar terjadi peningkatan angka kehamilan spontan.
Rekomendasi B
TERAPI KOMBINASI PADA INFERTILITAS KARENA
ENDOMETRIOSIS
Y ang dimaksud dengan terapi kombinasi adalah terapi medis yang
diberikan pra atau pasca pembedahan pada kasus infertilitas karena
endometriosis. Terapi medis prapembedahan ditujukan untuk mengurangi
tingkat keparahan penyakit endometriosis sehingga akan mengurangi risiko
penyulit dan meningkatkan hasil operasi. Penggunaan obat agonis GnRH
dapat menurunkan tingkat keparahan endometriosis namun belum terbukti
meningkatkan hasil operasi dan angka kehamilan (56).
Obat supresi ovulasi yang diberikan pascapembedahan telah banyak
digunakan dan telah dievaluasi pada beberapa penelitian. Tujuan terapi
medis pascapembedahan adalah meningkatkan resorpsi residu deposit
endometriosis dan menurunkan angka kekambuhan namun sejauh ini belum
ada laporan tentang peningkatan angka fertilitas. Review Cochrane tahun
2009 pada 16 penelitian penggunaan terapi medis pra dan pascapembedahan
menyimpulkan tidak didapatkan bukti keuntungan terapi kombinasi tersebut
t e r h a d a p a n g k a k e h a m i l a n . P a d a m e t a - a n a l i s i s y a n g m e l i b a t k a n 4 2 0
penderita endometriosis didapatkan hasil tidak ditemukan peningkatan angka
kehamilan setelah pemberian terapi medis pascapembedahan (RR 0,84 95%
CI 0,59–1,18). Berdasarkan data di atas disimpulkan bahwa terapi medis
ajuvan tidak direkomendasikan (1,3 ,56).
ENDOMETRIOSIS72
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi kombinasi medis pra dan pascapembedahan untuk
keluhan infertilitas karena endometriosis sebagai berikut (1,3).
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sebelum
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi
GPP
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sesudah
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS72
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi kombinasi medis pra dan pascapembedahan untuk
keluhan infertilitas karena endometriosis sebagai berikut (1,3).
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sebelum
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi
GPP
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sesudah
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS72
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi kombinasi medis pra dan pascapembedahan untuk
keluhan infertilitas karena endometriosis sebagai berikut (1,3).
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sebelum
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi
GPP
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sesudah
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi A
ENDOMETRIOSIS72
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan terapi kombinasi medis pra dan pascapembedahan untuk
keluhan infertilitas karena endometriosis sebagai berikut (1,3).
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sebelum
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi
GPP
Tidak dianjurkan pemberian terapi hormon ajuvan sesudah
pembedahan pada penderita infertil karena endometriosis
dengan tujuan untuk meningkatkan angka kehamilan.
Rekomendasi A
73
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 12 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis menggunakan terapi medis reproduksi
berbantu.
Seperti diketahui keterkaitan endometriosis dan infertilitas masih
kontroversi. Berbagai teori telah dicoba dibuktikan namun patogenesis masih
belum jelas dan kontroversi tetap berlanjut. Terapi spesifik infertilitas pada
endometriosis dilakukan ditujukan untuk meningkatkan angka kehamilan
dengan mengatasi pengaruh lingkungan inflamasi yang tinggi di daerah
panggul yang mengakibatkan terjadi gangguan folikulogenesis, disfungsi
ovulasi, gangguan maturasi oosit, embrio dan implantasi.
Menurut WHO definisi Medically Assisted Reproduction (MAR) adalah
melakukan tindakan bantuan reproduksi melalui cara induksi ovulasi, stimulasi
ovarium, pemicuan ovulasi, inseminasi intrauteri dan teknologi reproduksi
berbantu, sedangkan istilah Assisted Reproductive Technology atau teknologi
reproduksi berbantu didefinisikan sebagai seluruh prosedur penanganan
terhadap sperma, oosit dan embrio manusia dengan tujuan membuat terjadi
kehamilan. Pada materi kali ini akan dibahas tentang prosedur MAR untuk
mengatasi masalah infertilitas karena endometriosis melalui dua teknik, yaitu
inseminasi intra uteri dan teknologi reproduksi berbantu (57).
Perlu diingat bahwa keberhasilan penanganan infertilitas karena
endometriosis tergantung juga pada usia pasangan perempuan, lama
infertilitas, stadium endometriosis, keterlibatan ovarium dan tuba, pengobatan
Terapi Medis Reproduksi Berbantu
pada Infertilitas Karena Endometriosis
12
73
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 12 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis menggunakan terapi medis reproduksi
berbantu.
Seperti diketahui keterkaitan endometriosis dan infertilitas masih
kontroversi. Berbagai teori telah dicoba dibuktikan namun patogenesis masih
belum jelas dan kontroversi tetap berlanjut. Terapi spesifik infertilitas pada
endometriosis dilakukan ditujukan untuk meningkatkan angka kehamilan
dengan mengatasi pengaruh lingkungan inflamasi yang tinggi di daerah
panggul yang mengakibatkan terjadi gangguan folikulogenesis, disfungsi
ovulasi, gangguan maturasi oosit, embrio dan implantasi.
Menurut WHO definisi Medically Assisted Reproduction (MAR) adalah
melakukan tindakan bantuan reproduksi melalui cara induksi ovulasi, stimulasi
ovarium, pemicuan ovulasi, inseminasi intrauteri dan teknologi reproduksi
berbantu, sedangkan istilah Assisted Reproductive Technology atau teknologi
reproduksi berbantu didefinisikan sebagai seluruh prosedur penanganan
terhadap sperma, oosit dan embrio manusia dengan tujuan membuat terjadi
kehamilan. Pada materi kali ini akan dibahas tentang prosedur MAR untuk
mengatasi masalah infertilitas karena endometriosis melalui dua teknik, yaitu
inseminasi intra uteri dan teknologi reproduksi berbantu (57).
Perlu diingat bahwa keberhasilan penanganan infertilitas karena
endometriosis tergantung juga pada usia pasangan perempuan, lama
infertilitas, stadium endometriosis, keterlibatan ovarium dan tuba, pengobatan
Terapi Medis Reproduksi Berbantu
pada Infertilitas Karena Endometriosis
12
73
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 12 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis menggunakan terapi medis reproduksi
berbantu.
Seperti diketahui keterkaitan endometriosis dan infertilitas masih
kontroversi. Berbagai teori telah dicoba dibuktikan namun patogenesis masih
belum jelas dan kontroversi tetap berlanjut. Terapi spesifik infertilitas pada
endometriosis dilakukan ditujukan untuk meningkatkan angka kehamilan
dengan mengatasi pengaruh lingkungan inflamasi yang tinggi di daerah
panggul yang mengakibatkan terjadi gangguan folikulogenesis, disfungsi
ovulasi, gangguan maturasi oosit, embrio dan implantasi.
Menurut WHO definisi Medically Assisted Reproduction (MAR) adalah
melakukan tindakan bantuan reproduksi melalui cara induksi ovulasi, stimulasi
ovarium, pemicuan ovulasi, inseminasi intrauteri dan teknologi reproduksi
berbantu, sedangkan istilah Assisted Reproductive Technology atau teknologi
reproduksi berbantu didefinisikan sebagai seluruh prosedur penanganan
terhadap sperma, oosit dan embrio manusia dengan tujuan membuat terjadi
kehamilan. Pada materi kali ini akan dibahas tentang prosedur MAR untuk
mengatasi masalah infertilitas karena endometriosis melalui dua teknik, yaitu
inseminasi intra uteri dan teknologi reproduksi berbantu (57).
Perlu diingat bahwa keberhasilan penanganan infertilitas karena
endometriosis tergantung juga pada usia pasangan perempuan, lama
infertilitas, stadium endometriosis, keterlibatan ovarium dan tuba, pengobatan
Terapi Medis Reproduksi Berbantu
pada Infertilitas Karena Endometriosis
12
73
Tujuan:
Setelah membaca materi Bab 12 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
penanganan infertilitas karena endometriosis menggunakan terapi medis reproduksi
berbantu.
Seperti diketahui keterkaitan endometriosis dan infertilitas masih
kontroversi. Berbagai teori telah dicoba dibuktikan namun patogenesis masih
belum jelas dan kontroversi tetap berlanjut. Terapi spesifik infertilitas pada
endometriosis dilakukan ditujukan untuk meningkatkan angka kehamilan
dengan mengatasi pengaruh lingkungan inflamasi yang tinggi di daerah
panggul yang mengakibatkan terjadi gangguan folikulogenesis, disfungsi
ovulasi, gangguan maturasi oosit, embrio dan implantasi.
Menurut WHO definisi Medically Assisted Reproduction (MAR) adalah
melakukan tindakan bantuan reproduksi melalui cara induksi ovulasi, stimulasi
ovarium, pemicuan ovulasi, inseminasi intrauteri dan teknologi reproduksi
berbantu, sedangkan istilah Assisted Reproductive Technology atau teknologi
reproduksi berbantu didefinisikan sebagai seluruh prosedur penanganan
terhadap sperma, oosit dan embrio manusia dengan tujuan membuat terjadi
kehamilan. Pada materi kali ini akan dibahas tentang prosedur MAR untuk
mengatasi masalah infertilitas karena endometriosis melalui dua teknik, yaitu
inseminasi intra uteri dan teknologi reproduksi berbantu (57).
Perlu diingat bahwa keberhasilan penanganan infertilitas karena
endometriosis tergantung juga pada usia pasangan perempuan, lama
infertilitas, stadium endometriosis, keterlibatan ovarium dan tuba, pengobatan
Terapi Medis Reproduksi Berbantu
pada Infertilitas Karena Endometriosis
12
ENDOMETRIOSIS74
sebelumnya serta keinginan penderita. Inseminasi intrauteri dan fertilisasi
in vitro dilakukan pada penanganan endometriosis untuk meningkatkan
keberhasilan kehamilan.
INSEMINASI INTRA UTERI
Inseminasi Intra Uteri (IIU) adalah salah satu prosedur Medically Assisted
Reproduction untuk mengatasi masalah infertilitas yang dilakukan dengan
cara memasukkan dan menempatkan sperma yang sudah dipersiapkan
dan diproses sebelumnya ke dalam uterus pada saat diperkirakan terjadi
ovulasi. Walaupun fertilisasi in vitro sudah dikenal luas mempunyai banyak
keuntungan untuk mengatasi masalah infertilitas, namun para ahli masih
banyak mengerjakan IIU. Berbagai keuntungan yang didapat dari prosedur
IIU, antara lain : relatif mudah dikerjakan, murah dan tidak invasif (57).
Beberapa indikasi IIU yang sampai saat ini digunakan termasuk
didalamnya tertera pada tabel 12.1.
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri
No Indikasi
1 Infertilitas karena faktor sperma
2 Unexplained infertility
3 Infertilitas karena faktor serviks
4 Endometriosis minimal dan ringan
5 Infertilitas karena faktor imunologi
6 Gangguan ovulasi
7 Kegagalan ejakulasi
Terdapat lima langkah dalam pelaksanaan IIU, yaitu: 1) Stimulasi
ovarium/induksi ovulasi, 2) Pemantauan pertumbuhan folikel dan
perkembangan endometrium, 3) Penentuan saat inseminasi, 4) Preparasi
sperma, dan 5) Pelaksanaan IIU dengan sperma yang sudah di preparasi.
Prosedur IIU dapat dilaksanakan dengan stimulasi ovarium (stimulated
cycle) maupun tanpa stimulasi ovarium ( natural cycle ) tergantung pada
umur dan faktor penyebab infertilitas. Rasionalisasi penggunaan stimulasi
ovarium pada IIU ada dua hal, yaitu meningkatkan jumlah oosit yang tersedia
untuk IIU dan meningkatkan produksi hormon steroid yang berguna untuk
meningkatkan kemungkinan terjadinya fertilisasi dan implantasi. Obat-obat
yang digunakan untuk stimulasi ovarium dapat diberikan dalam bentuk oral
yaitu klomifen sitrat (KS) dan aromatase inhibitor (AI), dapat pula secara
ENDOMETRIOSIS74
sebelumnya serta keinginan penderita. Inseminasi intrauteri dan fertilisasi
in vitro dilakukan pada penanganan endometriosis untuk meningkatkan
keberhasilan kehamilan.
INSEMINASI INTRA UTERI
Inseminasi Intra Uteri (IIU) adalah salah satu prosedur Medically Assisted
Reproduction untuk mengatasi masalah infertilitas yang dilakukan dengan
cara memasukkan dan menempatkan sperma yang sudah dipersiapkan
dan diproses sebelumnya ke dalam uterus pada saat diperkirakan terjadi
ovulasi. Walaupun fertilisasi in vitro sudah dikenal luas mempunyai banyak
keuntungan untuk mengatasi masalah infertilitas, namun para ahli masih
banyak mengerjakan IIU. Berbagai keuntungan yang didapat dari prosedur
IIU, antara lain : relatif mudah dikerjakan, murah dan tidak invasif (57).
Beberapa indikasi IIU yang sampai saat ini digunakan termasuk
didalamnya tertera pada tabel 12.1.
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri
No Indikasi
1 Infertilitas karena faktor sperma
2 Unexplained infertility
3 Infertilitas karena faktor serviks
4 Endometriosis minimal dan ringan
5 Infertilitas karena faktor imunologi
6 Gangguan ovulasi
7 Kegagalan ejakulasi
Terdapat lima langkah dalam pelaksanaan IIU, yaitu: 1) Stimulasi
ovarium/induksi ovulasi, 2) Pemantauan pertumbuhan folikel dan
perkembangan endometrium, 3) Penentuan saat inseminasi, 4) Preparasi
sperma, dan 5) Pelaksanaan IIU dengan sperma yang sudah di preparasi.
Prosedur IIU dapat dilaksanakan dengan stimulasi ovarium (stimulated
cycle) maupun tanpa stimulasi ovarium ( natural cycle ) tergantung pada
umur dan faktor penyebab infertilitas. Rasionalisasi penggunaan stimulasi
ovarium pada IIU ada dua hal, yaitu meningkatkan jumlah oosit yang tersedia
untuk IIU dan meningkatkan produksi hormon steroid yang berguna untuk
meningkatkan kemungkinan terjadinya fertilisasi dan implantasi. Obat-obat
yang digunakan untuk stimulasi ovarium dapat diberikan dalam bentuk oral
yaitu klomifen sitrat (KS) dan aromatase inhibitor (AI), dapat pula secara
ENDOMETRIOSIS74
sebelumnya serta keinginan penderita. Inseminasi intrauteri dan fertilisasi
in vitro dilakukan pada penanganan endometriosis untuk meningkatkan
keberhasilan kehamilan.
INSEMINASI INTRA UTERI
Inseminasi Intra Uteri (IIU) adalah salah satu prosedur Medically Assisted
Reproduction untuk mengatasi masalah infertilitas yang dilakukan dengan
cara memasukkan dan menempatkan sperma yang sudah dipersiapkan
dan diproses sebelumnya ke dalam uterus pada saat diperkirakan terjadi
ovulasi. Walaupun fertilisasi in vitro sudah dikenal luas mempunyai banyak
keuntungan untuk mengatasi masalah infertilitas, namun para ahli masih
banyak mengerjakan IIU. Berbagai keuntungan yang didapat dari prosedur
IIU, antara lain : relatif mudah dikerjakan, murah dan tidak invasif (57).
Beberapa indikasi IIU yang sampai saat ini digunakan termasuk
didalamnya tertera pada tabel 12.1.
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri
No Indikasi
1 Infertilitas karena faktor sperma
2 Unexplained infertility
3 Infertilitas karena faktor serviks
4 Endometriosis minimal dan ringan
5 Infertilitas karena faktor imunologi
6 Gangguan ovulasi
7 Kegagalan ejakulasi
Terdapat lima langkah dalam pelaksanaan IIU, yaitu: 1) Stimulasi
ovarium/induksi ovulasi, 2) Pemantauan pertumbuhan folikel dan
perkembangan endometrium, 3) Penentuan saat inseminasi, 4) Preparasi
sperma, dan 5) Pelaksanaan IIU dengan sperma yang sudah di preparasi.
Prosedur IIU dapat dilaksanakan dengan stimulasi ovarium (stimulated
cycle) maupun tanpa stimulasi ovarium ( natural cycle ) tergantung pada
umur dan faktor penyebab infertilitas. Rasionalisasi penggunaan stimulasi
ovarium pada IIU ada dua hal, yaitu meningkatkan jumlah oosit yang tersedia
untuk IIU dan meningkatkan produksi hormon steroid yang berguna untuk
meningkatkan kemungkinan terjadinya fertilisasi dan implantasi. Obat-obat
yang digunakan untuk stimulasi ovarium dapat diberikan dalam bentuk oral
yaitu klomifen sitrat (KS) dan aromatase inhibitor (AI), dapat pula secara
ENDOMETRIOSIS74
sebelumnya serta keinginan penderita. Inseminasi intrauteri dan fertilisasi
in vitro dilakukan pada penanganan endometriosis untuk meningkatkan
keberhasilan kehamilan.
INSEMINASI INTRA UTERI
Inseminasi Intra Uteri (IIU) adalah salah satu prosedur Medically Assisted
Reproduction untuk mengatasi masalah infertilitas yang dilakukan dengan
cara memasukkan dan menempatkan sperma yang sudah dipersiapkan
dan diproses sebelumnya ke dalam uterus pada saat diperkirakan terjadi
ovulasi. Walaupun fertilisasi in vitro sudah dikenal luas mempunyai banyak
keuntungan untuk mengatasi masalah infertilitas, namun para ahli masih
banyak mengerjakan IIU. Berbagai keuntungan yang didapat dari prosedur
IIU, antara lain : relatif mudah dikerjakan, murah dan tidak invasif (57).
Beberapa indikasi IIU yang sampai saat ini digunakan termasuk
didalamnya tertera pada tabel 12.1.
Tabel 12.1 Indikasi inseminasi intrauteri
No Indikasi
1 Infertilitas karena faktor sperma
2 Unexplained infertility
3 Infertilitas karena faktor serviks
4 Endometriosis minimal dan ringan
5 Infertilitas karena faktor imunologi
6 Gangguan ovulasi
7 Kegagalan ejakulasi
Terdapat lima langkah dalam pelaksanaan IIU, yaitu: 1) Stimulasi
ovarium/induksi ovulasi, 2) Pemantauan pertumbuhan folikel dan
perkembangan endometrium, 3) Penentuan saat inseminasi, 4) Preparasi
sperma, dan 5) Pelaksanaan IIU dengan sperma yang sudah di preparasi.
Prosedur IIU dapat dilaksanakan dengan stimulasi ovarium (stimulated
cycle) maupun tanpa stimulasi ovarium ( natural cycle ) tergantung pada
umur dan faktor penyebab infertilitas. Rasionalisasi penggunaan stimulasi
ovarium pada IIU ada dua hal, yaitu meningkatkan jumlah oosit yang tersedia
untuk IIU dan meningkatkan produksi hormon steroid yang berguna untuk
meningkatkan kemungkinan terjadinya fertilisasi dan implantasi. Obat-obat
yang digunakan untuk stimulasi ovarium dapat diberikan dalam bentuk oral
yaitu klomifen sitrat (KS) dan aromatase inhibitor (AI), dapat pula secara
75Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
injeksi misal gonadotropin, dalam bentuk hMG, u-FSH (FSH urine) atau
r-FSH (FSH rekombinan) (58).
Beberapa hasil penelitian pemakaian IIU pada endometriosis tertulis di
bawah ini. Hasil IIU dengan stimulasi ovarium menggunaan gonadotropin
pada 103 pasangan penderita endometriosis minimal dan ringan didapatkan
angka kelahiran hidup 5,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol dengan expectant management (95% CI 1,18 −17,4). Penelitian
lain IIU dengan stimulasi ovarium memakai gonadotropin pada penderita
endometriosis minimal dan ringan dibandingkan dengan IIU tunggal tanpa
stimulasi, didapatkan hasil bahwa angka kehamilan 5,1 kali lebih tinggi pada
kelompok memakai IIU dengan stimulasi ovarium (95% CI 1,1–22,5).
Suatu studi kasus kontrol pada penderita endometriosis minimal
dan ringan yang dilakukan IIU dalam waktu 6 bulan pasca pembedahan
didapatkan angka kehamilan per siklus (20%) tidak berbeda bermakna
dengan angka kehamilan perempuan dengan unexplained infertility (20,5%).
Berdasarkan berbagai data dari penelitian yang sudah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa terdapat bukti keuntungan yang mendukung penggunaan
stimulasi ovarium saat Inseminasi Intra Uteri pada penderita endometriosis
minimal dan ringan terutama yang sebelumnya dilakukan laparoskopi
diagnostik dan ditemukan tidak ada distorsi anatomi organ genitalia. Selain
itu tidak didapatkan bukti yang mendukung penggunaan stimulasi ovarium
dan IIU pada endometriosis berat (1,3,57).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan Inseminasi Intra Uteri untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan ringan
sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan stimulasi
ovarium karena akan meningkatkan angka kehamilan, bila
dibandingkan dengan melakukan expectant management .
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium karena akan meningkatkan
angka kehamilan, bila diband ingkan dengan melakukan IIU
tanpa stimulasi ovarium.
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium dalam waktu 6 bulan pasca
tindakan bedah, karena angka kehamilan sama dengan kasus
unexplained infertility .
Rekomendasi C
75Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
injeksi misal gonadotropin, dalam bentuk hMG, u-FSH (FSH urine) atau
r-FSH (FSH rekombinan) (58).
Beberapa hasil penelitian pemakaian IIU pada endometriosis tertulis di
bawah ini. Hasil IIU dengan stimulasi ovarium menggunaan gonadotropin
pada 103 pasangan penderita endometriosis minimal dan ringan didapatkan
angka kelahiran hidup 5,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol dengan expectant management (95% CI 1,18 −17,4). Penelitian
lain IIU dengan stimulasi ovarium memakai gonadotropin pada penderita
endometriosis minimal dan ringan dibandingkan dengan IIU tunggal tanpa
stimulasi, didapatkan hasil bahwa angka kehamilan 5,1 kali lebih tinggi pada
kelompok memakai IIU dengan stimulasi ovarium (95% CI 1,1–22,5).
Suatu studi kasus kontrol pada penderita endometriosis minimal
dan ringan yang dilakukan IIU dalam waktu 6 bulan pasca pembedahan
didapatkan angka kehamilan per siklus (20%) tidak berbeda bermakna
dengan angka kehamilan perempuan dengan unexplained infertility (20,5%).
Berdasarkan berbagai data dari penelitian yang sudah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa terdapat bukti keuntungan yang mendukung penggunaan
stimulasi ovarium saat Inseminasi Intra Uteri pada penderita endometriosis
minimal dan ringan terutama yang sebelumnya dilakukan laparoskopi
diagnostik dan ditemukan tidak ada distorsi anatomi organ genitalia. Selain
itu tidak didapatkan bukti yang mendukung penggunaan stimulasi ovarium
dan IIU pada endometriosis berat (1,3,57).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan Inseminasi Intra Uteri untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan ringan
sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan stimulasi
ovarium karena akan meningkatkan angka kehamilan, bila
dibandingkan dengan melakukan expectant management .
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium karena akan meningkatkan
angka kehamilan, bila diband ingkan dengan melakukan IIU
tanpa stimulasi ovarium.
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium dalam waktu 6 bulan pasca
tindakan bedah, karena angka kehamilan sama dengan kasus
unexplained infertility .
Rekomendasi C
75Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
injeksi misal gonadotropin, dalam bentuk hMG, u-FSH (FSH urine) atau
r-FSH (FSH rekombinan) (58).
Beberapa hasil penelitian pemakaian IIU pada endometriosis tertulis di
bawah ini. Hasil IIU dengan stimulasi ovarium menggunaan gonadotropin
pada 103 pasangan penderita endometriosis minimal dan ringan didapatkan
angka kelahiran hidup 5,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol dengan expectant management (95% CI 1,18 −17,4). Penelitian
lain IIU dengan stimulasi ovarium memakai gonadotropin pada penderita
endometriosis minimal dan ringan dibandingkan dengan IIU tunggal tanpa
stimulasi, didapatkan hasil bahwa angka kehamilan 5,1 kali lebih tinggi pada
kelompok memakai IIU dengan stimulasi ovarium (95% CI 1,1–22,5).
Suatu studi kasus kontrol pada penderita endometriosis minimal
dan ringan yang dilakukan IIU dalam waktu 6 bulan pasca pembedahan
didapatkan angka kehamilan per siklus (20%) tidak berbeda bermakna
dengan angka kehamilan perempuan dengan unexplained infertility (20,5%).
Berdasarkan berbagai data dari penelitian yang sudah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa terdapat bukti keuntungan yang mendukung penggunaan
stimulasi ovarium saat Inseminasi Intra Uteri pada penderita endometriosis
minimal dan ringan terutama yang sebelumnya dilakukan laparoskopi
diagnostik dan ditemukan tidak ada distorsi anatomi organ genitalia. Selain
itu tidak didapatkan bukti yang mendukung penggunaan stimulasi ovarium
dan IIU pada endometriosis berat (1,3,57).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan Inseminasi Intra Uteri untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan ringan
sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan stimulasi
ovarium karena akan meningkatkan angka kehamilan, bila
dibandingkan dengan melakukan expectant management .
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium karena akan meningkatkan
angka kehamilan, bila diband ingkan dengan melakukan IIU
tanpa stimulasi ovarium.
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium dalam waktu 6 bulan pasca
tindakan bedah, karena angka kehamilan sama dengan kasus
unexplained infertility .
Rekomendasi C
75Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
injeksi misal gonadotropin, dalam bentuk hMG, u-FSH (FSH urine) atau
r-FSH (FSH rekombinan) (58).
Beberapa hasil penelitian pemakaian IIU pada endometriosis tertulis di
bawah ini. Hasil IIU dengan stimulasi ovarium menggunaan gonadotropin
pada 103 pasangan penderita endometriosis minimal dan ringan didapatkan
angka kelahiran hidup 5,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol dengan expectant management (95% CI 1,18 −17,4). Penelitian
lain IIU dengan stimulasi ovarium memakai gonadotropin pada penderita
endometriosis minimal dan ringan dibandingkan dengan IIU tunggal tanpa
stimulasi, didapatkan hasil bahwa angka kehamilan 5,1 kali lebih tinggi pada
kelompok memakai IIU dengan stimulasi ovarium (95% CI 1,1–22,5).
Suatu studi kasus kontrol pada penderita endometriosis minimal
dan ringan yang dilakukan IIU dalam waktu 6 bulan pasca pembedahan
didapatkan angka kehamilan per siklus (20%) tidak berbeda bermakna
dengan angka kehamilan perempuan dengan unexplained infertility (20,5%).
Berdasarkan berbagai data dari penelitian yang sudah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa terdapat bukti keuntungan yang mendukung penggunaan
stimulasi ovarium saat Inseminasi Intra Uteri pada penderita endometriosis
minimal dan ringan terutama yang sebelumnya dilakukan laparoskopi
diagnostik dan ditemukan tidak ada distorsi anatomi organ genitalia. Selain
itu tidak didapatkan bukti yang mendukung penggunaan stimulasi ovarium
dan IIU pada endometriosis berat (1,3,57).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan Inseminasi Intra Uteri untuk keluhan infertilitas karena
endometriosis sebagai berikut (1,3).
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan ringan
sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan stimulasi
ovarium karena akan meningkatkan angka kehamilan, bila
dibandingkan dengan melakukan expectant management .
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium karena akan meningkatkan
angka kehamilan, bila diband ingkan dengan melakukan IIU
tanpa stimulasi ovarium.
Rekomendasi C
Pada penderita infertil dengan endometriosis minimal dan
ringan sebaiknya dilakukan Inseminasi Intra Uteri dengan
menggunakan stimulasi ovarium dalam waktu 6 bulan pasca
tindakan bedah, karena angka kehamilan sama dengan kasus
unexplained infertility .
Rekomendasi C
ENDOMETRIOSIS76
ferTilisasi in viTro pada inferTiliTas karena
endome Triosis
Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) adalah rangkaian tindakan atau
prosedur berupa penanganan oosit, sperma dan embrio manusia secara
in vitro dengan tujuan mendapatkan kehamilan. Termasuk di dalam TRB
adalah fertilisasi in vitro dan transfer embrio, gamete intrafallopian transfer,
zygote intrafallopian transfer, tubal embryo transfer, gamete and embryo
cryopreservation, donor oosit dan embrio serta gestational surrogacy.
Inseminasi intrauteri tidak termasuk dalam TRB (57).
Terdapat enam langkah dasar pada prosedur fertilisasi in vitro yang
semuanya saling terkait, yaitu: 1) Stimulasi ovarium dan monitor pertumbuhan
folikel, 2) Maturasi final oosit, 3) Panen oosit/ovum pick-up, 4) Fertilisasi dan
kultur embrio, 5) Transfer embrio dan 6) Penunjang fase luteum.
Pada stimulasi ovarium digunakan medikasi tertentu untuk melakukan
maturasi folikel dengan jumlah banyak agar mendapatkan oosit dengan
jumlah lebih dari satu (59).
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri pada infertilitas karena endometriosis. Menempatkan
sebanyak mungkin sperma yang sudah dipreparasi masuk ke dalam uterus dan melalui saluran
tuba untuk meningkatkan kejadian fertilisasi.
ENDOMETRIOSIS76
ferTilisasi in viTro pada inferTiliTas karena
endome Triosis
Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) adalah rangkaian tindakan atau
prosedur berupa penanganan oosit, sperma dan embrio manusia secara
in vitro dengan tujuan mendapatkan kehamilan. Termasuk di dalam TRB
adalah fertilisasi in vitro dan transfer embrio, gamete intrafallopian transfer,
zygote intrafallopian transfer, tubal embryo transfer, gamete and embryo
cryopreservation, donor oosit dan embrio serta gestational surrogacy.
Inseminasi intrauteri tidak termasuk dalam TRB (57).
Terdapat enam langkah dasar pada prosedur fertilisasi in vitro yang
semuanya saling terkait, yaitu: 1) Stimulasi ovarium dan monitor pertumbuhan
folikel, 2) Maturasi final oosit, 3) Panen oosit/ovum pick-up, 4) Fertilisasi dan
kultur embrio, 5) Transfer embrio dan 6) Penunjang fase luteum.
Pada stimulasi ovarium digunakan medikasi tertentu untuk melakukan
maturasi folikel dengan jumlah banyak agar mendapatkan oosit dengan
jumlah lebih dari satu (59).
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri pada infertilitas karena endometriosis. Menempatkan
sebanyak mungkin sperma yang sudah dipreparasi masuk ke dalam uterus dan melalui saluran
tuba untuk meningkatkan kejadian fertilisasi.
ENDOMETRIOSIS76
ferTilisasi in viTro pada inferTiliTas karena
endome Triosis
Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) adalah rangkaian tindakan atau
prosedur berupa penanganan oosit, sperma dan embrio manusia secara
in vitro dengan tujuan mendapatkan kehamilan. Termasuk di dalam TRB
adalah fertilisasi in vitro dan transfer embrio, gamete intrafallopian transfer,
zygote intrafallopian transfer, tubal embryo transfer, gamete and embryo
cryopreservation, donor oosit dan embrio serta gestational surrogacy.
Inseminasi intrauteri tidak termasuk dalam TRB (57).
Terdapat enam langkah dasar pada prosedur fertilisasi in vitro yang
semuanya saling terkait, yaitu: 1) Stimulasi ovarium dan monitor pertumbuhan
folikel, 2) Maturasi final oosit, 3) Panen oosit/ovum pick-up, 4) Fertilisasi dan
kultur embrio, 5) Transfer embrio dan 6) Penunjang fase luteum.
Pada stimulasi ovarium digunakan medikasi tertentu untuk melakukan
maturasi folikel dengan jumlah banyak agar mendapatkan oosit dengan
jumlah lebih dari satu (59).
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri pada infertilitas karena endometriosis. Menempatkan
sebanyak mungkin sperma yang sudah dipreparasi masuk ke dalam uterus dan melalui saluran
tuba untuk meningkatkan kejadian fertilisasi.
ENDOMETRIOSIS76
ferTilisasi in viTro pada inferTiliTas karena
endome Triosis
Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) adalah rangkaian tindakan atau
prosedur berupa penanganan oosit, sperma dan embrio manusia secara
in vitro dengan tujuan mendapatkan kehamilan. Termasuk di dalam TRB
adalah fertilisasi in vitro dan transfer embrio, gamete intrafallopian transfer,
zygote intrafallopian transfer, tubal embryo transfer, gamete and embryo
cryopreservation, donor oosit dan embrio serta gestational surrogacy.
Inseminasi intrauteri tidak termasuk dalam TRB (57).
Terdapat enam langkah dasar pada prosedur fertilisasi in vitro yang
semuanya saling terkait, yaitu: 1) Stimulasi ovarium dan monitor pertumbuhan
folikel, 2) Maturasi final oosit, 3) Panen oosit/ovum pick-up, 4) Fertilisasi dan
kultur embrio, 5) Transfer embrio dan 6) Penunjang fase luteum.
Pada stimulasi ovarium digunakan medikasi tertentu untuk melakukan
maturasi folikel dengan jumlah banyak agar mendapatkan oosit dengan
jumlah lebih dari satu (59).
Gambar 12.1 Inseminasi intrauteri pada infertilitas karena endometriosis. Menempatkan
sebanyak mungkin sperma yang sudah dipreparasi masuk ke dalam uterus dan melalui saluran
tuba untuk meningkatkan kejadian fertilisasi.
77Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Ovum pick-up adalah tindakan bedah minor yang dilakukan untuk
mengambil oosit secara aspirasi dengan tuntunan USG transvagina. Oosit
yang berlokasi di dalam folikel diaspirasi dengan menggunakan jarum yang
terhubung dengan alat penghisap. Oosit yang didapat selanjutnya diperiksa
tingkat maturasi dan kualitasnya di laboratorium. Oosit matur diletakkan di
medium kultur dan ditransfer ke inkubator untuk menunggu proses fertilisasi
dengan sperma. Sperma didapat dengan cara masturbasi atau dengan teknik
pengambilan langsung dari testis, epididimis atau vas deferen. Fertilisasi dapat
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro
Medikasi stimulasi ovarium mempunyai dua tujuan
I Medikasi untuk stimulasi ovarium :
Human menopausal gonadotropin ( hMG)
Follicle stimulating hormone ( FSH)
Luteinizing hormone ( LH) (digunakan bersama FSH )
Human chorionic gonadotropin ( hCG)
Klomifen sitrat
II Medikasi untuk pencegahan ovulasi prematur
Agonist gonadotropine releasing hormone (GnRH)
Antagonis GnRH
77Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Ovum pick-up adalah tindakan bedah minor yang dilakukan untuk
mengambil oosit secara aspirasi dengan tuntunan USG transvagina. Oosit
yang berlokasi di dalam folikel diaspirasi dengan menggunakan jarum yang
terhubung dengan alat penghisap. Oosit yang didapat selanjutnya diperiksa
tingkat maturasi dan kualitasnya di laboratorium. Oosit matur diletakkan di
medium kultur dan ditransfer ke inkubator untuk menunggu proses fertilisasi
dengan sperma. Sperma didapat dengan cara masturbasi atau dengan teknik
pengambilan langsung dari testis, epididimis atau vas deferen. Fertilisasi dapat
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro
Medikasi stimulasi ovarium mempunyai dua tujuan
I Medikasi untuk stimulasi ovarium :
Human menopausal gonadotropin ( hMG)
Follicle stimulating hormone ( FSH)
Luteinizing hormone ( LH) (digunakan bersama FSH )
Human chorionic gonadotropin ( hCG)
Klomifen sitrat
II Medikasi untuk pencegahan ovulasi prematur
Agonist gonadotropine releasing hormone (GnRH)
Antagonis GnRH
77Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Ovum pick-up adalah tindakan bedah minor yang dilakukan untuk
mengambil oosit secara aspirasi dengan tuntunan USG transvagina. Oosit
yang berlokasi di dalam folikel diaspirasi dengan menggunakan jarum yang
terhubung dengan alat penghisap. Oosit yang didapat selanjutnya diperiksa
tingkat maturasi dan kualitasnya di laboratorium. Oosit matur diletakkan di
medium kultur dan ditransfer ke inkubator untuk menunggu proses fertilisasi
dengan sperma. Sperma didapat dengan cara masturbasi atau dengan teknik
pengambilan langsung dari testis, epididimis atau vas deferen. Fertilisasi dapat
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro
Medikasi stimulasi ovarium mempunyai dua tujuan
I Medikasi untuk stimulasi ovarium :
Human menopausal gonadotropin ( hMG)
Follicle stimulating hormone ( FSH)
Luteinizing hormone ( LH) (digunakan bersama FSH )
Human chorionic gonadotropin ( hCG)
Klomifen sitrat
II Medikasi untuk pencegahan ovulasi prematur
Agonist gonadotropine releasing hormone (GnRH)
Antagonis GnRH
77Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Ovum pick-up adalah tindakan bedah minor yang dilakukan untuk
mengambil oosit secara aspirasi dengan tuntunan USG transvagina. Oosit
yang berlokasi di dalam folikel diaspirasi dengan menggunakan jarum yang
terhubung dengan alat penghisap. Oosit yang didapat selanjutnya diperiksa
tingkat maturasi dan kualitasnya di laboratorium. Oosit matur diletakkan di
medium kultur dan ditransfer ke inkubator untuk menunggu proses fertilisasi
dengan sperma. Sperma didapat dengan cara masturbasi atau dengan teknik
pengambilan langsung dari testis, epididimis atau vas deferen. Fertilisasi dapat
Gambar 12.2 Enam langkah dasar fertilisasi in vitro
Tabel 12.2 Medikasi untuk stimulasi ovarium pada fertilisasi in vitro
Medikasi stimulasi ovarium mempunyai dua tujuan
I Medikasi untuk stimulasi ovarium :
Human menopausal gonadotropin ( hMG)
Follicle stimulating hormone ( FSH)
Luteinizing hormone ( LH) (digunakan bersama FSH )
Human chorionic gonadotropin ( hCG)
Klomifen sitrat
II Medikasi untuk pencegahan ovulasi prematur
Agonist gonadotropine releasing hormone (GnRH)
Antagonis GnRH
ENDOMETRIOSIS78
dilakukan dengan dua cara, yaitu inseminasi atau Intracytoplasmic Sperm
Injection (ICSI). Inseminasi dilakukan dengan cara mempertemukan sperma
motil dengan oosit kemudian diikubasi semalam. ICSI dilakukan dengan cara
satu sperma motil diinjeksikan langsung ke dalam oosit matur. Konfirmasi
fertilisasi ditandai dengan gambaran 2 pronuclei (2Pn) (59).
Pada hari ketiga embrio berkembang menjadi 6−10 sel dan selanjutnya
pada hari kelima embrio menjadi blastosit. Transfer embrio ke dalam uterus
dapat dilakukan dalam periode waktu tertentu, yaitu mulai hari pertama
sampai kelima pasca OPU tergantung pada kondisi embrio (59).
Telah diketahui bahwa endometriosis akan memberikan dampak negatif
pada fekunditas dan angka kehamilan, namun sampai saat ini masih terdapat
kontroversi pengaruh endometriosis terhadap hasil kehamilan pada fertilisasi
in vitro.
Suatu review sistematik yang terdiri dari 22 studi dengan melibatkan
2.377 perempuan penderita endometriosis dan 4.383 perempuan tanpa
endometriosis mendapatkan angka kehamilan setelah mengikuti fertilisasi
in vitro lebih rendah pada penderita endometriosis dari pada pada penderita
infertil karena faktor tuba. Setelah dilakukan penyesuaian beberapa variabel
didapatkan hasil angka kehamilan pada endometriosis minimal dan ringan
tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan penderita infertil karena faktor
tuba (OR 0,79 CI 95% 0,60–1,03) sedangkan angka kehamilan pada penderita
infertil karena endometriosis sedang-berat lebih rendah secara bermakna
dibandingkan karena faktor tuba (OR 0,46 CI 95% 0,28–0,74) (1,3).
Penggunaan stimulasi ovarium dengan menggunakan gonadotropin
pada fertilisasi in vitro ternyata tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis. Selain itu, didapatkan data bahwa tidak tercatat kejadian
abses panggul pada penderita endometrioma yang dilakukan ovum pick-up
dan diberi profilaksis antibiotika (1, 3).
Pengamatan kami di Klinik Fertilitas Graha Amerta pada pelaksanaan
fertilisasi in vitro didapatkan angka kehamilan per OPU penderita
endometriosis sebesar 33,5% sedangkan penderita bukan endometriosis
sebesar 36,7%, dengan rasio Oods 1,16, 95% CI 0,77−1,76. Keadaan ini
berarti peluang terjadinya kehamilan dengan fertilisasi in vitro pada penderita
endometriosis dan bukan endometriosis tidak berbeda (23).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan fertilisasi in vitro pada keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
ENDOMETRIOSIS78
dilakukan dengan dua cara, yaitu inseminasi atau Intracytoplasmic Sperm
Injection (ICSI). Inseminasi dilakukan dengan cara mempertemukan sperma
motil dengan oosit kemudian diikubasi semalam. ICSI dilakukan dengan cara
satu sperma motil diinjeksikan langsung ke dalam oosit matur. Konfirmasi
fertilisasi ditandai dengan gambaran 2 pronuclei (2Pn) (59).
Pada hari ketiga embrio berkembang menjadi 6−10 sel dan selanjutnya
pada hari kelima embrio menjadi blastosit. Transfer embrio ke dalam uterus
dapat dilakukan dalam periode waktu tertentu, yaitu mulai hari pertama
sampai kelima pasca OPU tergantung pada kondisi embrio (59).
Telah diketahui bahwa endometriosis akan memberikan dampak negatif
pada fekunditas dan angka kehamilan, namun sampai saat ini masih terdapat
kontroversi pengaruh endometriosis terhadap hasil kehamilan pada fertilisasi
in vitro.
Suatu review sistematik yang terdiri dari 22 studi dengan melibatkan
2.377 perempuan penderita endometriosis dan 4.383 perempuan tanpa
endometriosis mendapatkan angka kehamilan setelah mengikuti fertilisasi
in vitro lebih rendah pada penderita endometriosis dari pada pada penderita
infertil karena faktor tuba. Setelah dilakukan penyesuaian beberapa variabel
didapatkan hasil angka kehamilan pada endometriosis minimal dan ringan
tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan penderita infertil karena faktor
tuba (OR 0,79 CI 95% 0,60–1,03) sedangkan angka kehamilan pada penderita
infertil karena endometriosis sedang-berat lebih rendah secara bermakna
dibandingkan karena faktor tuba (OR 0,46 CI 95% 0,28–0,74) (1,3).
Penggunaan stimulasi ovarium dengan menggunakan gonadotropin
pada fertilisasi in vitro ternyata tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis. Selain itu, didapatkan data bahwa tidak tercatat kejadian
abses panggul pada penderita endometrioma yang dilakukan ovum pick-up
dan diberi profilaksis antibiotika (1, 3).
Pengamatan kami di Klinik Fertilitas Graha Amerta pada pelaksanaan
fertilisasi in vitro didapatkan angka kehamilan per OPU penderita
endometriosis sebesar 33,5% sedangkan penderita bukan endometriosis
sebesar 36,7%, dengan rasio Oods 1,16, 95% CI 0,77−1,76. Keadaan ini
berarti peluang terjadinya kehamilan dengan fertilisasi in vitro pada penderita
endometriosis dan bukan endometriosis tidak berbeda (23).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan fertilisasi in vitro pada keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
ENDOMETRIOSIS78
dilakukan dengan dua cara, yaitu inseminasi atau Intracytoplasmic Sperm
Injection (ICSI). Inseminasi dilakukan dengan cara mempertemukan sperma
motil dengan oosit kemudian diikubasi semalam. ICSI dilakukan dengan cara
satu sperma motil diinjeksikan langsung ke dalam oosit matur. Konfirmasi
fertilisasi ditandai dengan gambaran 2 pronuclei (2Pn) (59).
Pada hari ketiga embrio berkembang menjadi 6−10 sel dan selanjutnya
pada hari kelima embrio menjadi blastosit. Transfer embrio ke dalam uterus
dapat dilakukan dalam periode waktu tertentu, yaitu mulai hari pertama
sampai kelima pasca OPU tergantung pada kondisi embrio (59).
Telah diketahui bahwa endometriosis akan memberikan dampak negatif
pada fekunditas dan angka kehamilan, namun sampai saat ini masih terdapat
kontroversi pengaruh endometriosis terhadap hasil kehamilan pada fertilisasi
in vitro.
Suatu review sistematik yang terdiri dari 22 studi dengan melibatkan
2.377 perempuan penderita endometriosis dan 4.383 perempuan tanpa
endometriosis mendapatkan angka kehamilan setelah mengikuti fertilisasi
in vitro lebih rendah pada penderita endometriosis dari pada pada penderita
infertil karena faktor tuba. Setelah dilakukan penyesuaian beberapa variabel
didapatkan hasil angka kehamilan pada endometriosis minimal dan ringan
tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan penderita infertil karena faktor
tuba (OR 0,79 CI 95% 0,60–1,03) sedangkan angka kehamilan pada penderita
infertil karena endometriosis sedang-berat lebih rendah secara bermakna
dibandingkan karena faktor tuba (OR 0,46 CI 95% 0,28–0,74) (1,3).
Penggunaan stimulasi ovarium dengan menggunakan gonadotropin
pada fertilisasi in vitro ternyata tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis. Selain itu, didapatkan data bahwa tidak tercatat kejadian
abses panggul pada penderita endometrioma yang dilakukan ovum pick-up
dan diberi profilaksis antibiotika (1, 3).
Pengamatan kami di Klinik Fertilitas Graha Amerta pada pelaksanaan
fertilisasi in vitro didapatkan angka kehamilan per OPU penderita
endometriosis sebesar 33,5% sedangkan penderita bukan endometriosis
sebesar 36,7%, dengan rasio Oods 1,16, 95% CI 0,77−1,76. Keadaan ini
berarti peluang terjadinya kehamilan dengan fertilisasi in vitro pada penderita
endometriosis dan bukan endometriosis tidak berbeda (23).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan fertilisasi in vitro pada keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
ENDOMETRIOSIS78
dilakukan dengan dua cara, yaitu inseminasi atau Intracytoplasmic Sperm
Injection (ICSI). Inseminasi dilakukan dengan cara mempertemukan sperma
motil dengan oosit kemudian diikubasi semalam. ICSI dilakukan dengan cara
satu sperma motil diinjeksikan langsung ke dalam oosit matur. Konfirmasi
fertilisasi ditandai dengan gambaran 2 pronuclei (2Pn) (59).
Pada hari ketiga embrio berkembang menjadi 6−10 sel dan selanjutnya
pada hari kelima embrio menjadi blastosit. Transfer embrio ke dalam uterus
dapat dilakukan dalam periode waktu tertentu, yaitu mulai hari pertama
sampai kelima pasca OPU tergantung pada kondisi embrio (59).
Telah diketahui bahwa endometriosis akan memberikan dampak negatif
pada fekunditas dan angka kehamilan, namun sampai saat ini masih terdapat
kontroversi pengaruh endometriosis terhadap hasil kehamilan pada fertilisasi
in vitro.
Suatu review sistematik yang terdiri dari 22 studi dengan melibatkan
2.377 perempuan penderita endometriosis dan 4.383 perempuan tanpa
endometriosis mendapatkan angka kehamilan setelah mengikuti fertilisasi
in vitro lebih rendah pada penderita endometriosis dari pada pada penderita
infertil karena faktor tuba. Setelah dilakukan penyesuaian beberapa variabel
didapatkan hasil angka kehamilan pada endometriosis minimal dan ringan
tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan penderita infertil karena faktor
tuba (OR 0,79 CI 95% 0,60–1,03) sedangkan angka kehamilan pada penderita
infertil karena endometriosis sedang-berat lebih rendah secara bermakna
dibandingkan karena faktor tuba (OR 0,46 CI 95% 0,28–0,74) (1,3).
Penggunaan stimulasi ovarium dengan menggunakan gonadotropin
pada fertilisasi in vitro ternyata tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis. Selain itu, didapatkan data bahwa tidak tercatat kejadian
abses panggul pada penderita endometrioma yang dilakukan ovum pick-up
dan diberi profilaksis antibiotika (1, 3).
Pengamatan kami di Klinik Fertilitas Graha Amerta pada pelaksanaan
fertilisasi in vitro didapatkan angka kehamilan per OPU penderita
endometriosis sebesar 33,5% sedangkan penderita bukan endometriosis
sebesar 36,7%, dengan rasio Oods 1,16, 95% CI 0,77−1,76. Keadaan ini
berarti peluang terjadinya kehamilan dengan fertilisasi in vitro pada penderita
endometriosis dan bukan endometriosis tidak berbeda (23).
ESHRE Guideline Development Groups memberikan rekomendasi
penggunaan fertilisasi in vitro pada keluhan infertilitas karena endometriosis
sebagai berikut (1,3).
79Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Direkomendasikan menggunakan teknologi reproduksi
berbantu/fertilisasi in vitro pada penderta infertilitas karena
endometriosis, terutama bila didapatkan gangguan faktor tuba,
masalah sperma dan kegagalan terapi infertilitas lain pada
endometriosis.
Rekomendasi
GPP
Tindakan fertilisasi in vitro dapat digunakan pada penderita
endometriosis pascaoperasi, karena prosedur stimulasi ovarium
pada fertilisasi in vitro tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis.
Rekomendasi C
Walaupun kejadian abses pascaaspirasi folikel rendah, pada
penderita endometrioma sebaiknya diberi profilaksis antibiotika
saat melakukan ovum pick-up pada fertilisasi in vitro.
Rekomendasi D
79Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Direkomendasikan menggunakan teknologi reproduksi
berbantu/fertilisasi in vitro pada penderta infertilitas karena
endometriosis, terutama bila didapatkan gangguan faktor tuba,
masalah sperma dan kegagalan terapi infertilitas lain pada
endometriosis.
Rekomendasi
GPP
Tindakan fertilisasi in vitro dapat digunakan pada penderita
endometriosis pascaoperasi, karena prosedur stimulasi ovarium
pada fertilisasi in vitro tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis.
Rekomendasi C
Walaupun kejadian abses pascaaspirasi folikel rendah, pada
penderita endometrioma sebaiknya diberi profilaksis antibiotika
saat melakukan ovum pick-up pada fertilisasi in vitro.
Rekomendasi D
79Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Direkomendasikan menggunakan teknologi reproduksi
berbantu/fertilisasi in vitro pada penderta infertilitas karena
endometriosis, terutama bila didapatkan gangguan faktor tuba,
masalah sperma dan kegagalan terapi infertilitas lain pada
endometriosis.
Rekomendasi
GPP
Tindakan fertilisasi in vitro dapat digunakan pada penderita
endometriosis pascaoperasi, karena prosedur stimulasi ovarium
pada fertilisasi in vitro tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis.
Rekomendasi C
Walaupun kejadian abses pascaaspirasi folikel rendah, pada
penderita endometrioma sebaiknya diberi profilaksis antibiotika
saat melakukan ovum pick-up pada fertilisasi in vitro.
Rekomendasi D
79Bab 12 Terapi Medis Reproduksi Berbantu pada Infertilitas karena Endometriosis
Direkomendasikan menggunakan teknologi reproduksi
berbantu/fertilisasi in vitro pada penderta infertilitas karena
endometriosis, terutama bila didapatkan gangguan faktor tuba,
masalah sperma dan kegagalan terapi infertilitas lain pada
endometriosis.
Rekomendasi
GPP
Tindakan fertilisasi in vitro dapat digunakan pada penderita
endometriosis pascaoperasi, karena prosedur stimulasi ovarium
pada fertilisasi in vitro tidak meningkatkan angka kekambuhan
endometriosis.
Rekomendasi C
Walaupun kejadian abses pascaaspirasi folikel rendah, pada
penderita endometrioma sebaiknya diberi profilaksis antibiotika
saat melakukan ovum pick-up pada fertilisasi in vitro.
Rekomendasi D
81
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 13 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
alur penanganan endometriosis berdasarkan keluhan nyeri dan infertilitas.
Keluhan utama endometriosis adalah nyeri dan infertilitas. Berikut
di bawah ini dibahas langkah-langkah penanganan endometriosis yang
dilakukan berdasarkan keluhan dan tanda klinis sesuai dengan panduan
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Indonesia dan yang
dilaksanakan di Klinik Fertilitas Graha Amerta (23,45).
A. Bila keluhan nyeri
1. Pada perempuan belum menikah/usia remaja Tentukan terdapat
massa (endometrioma) atau tidak dengan colok dubur atau USG
transabdomen
a. Bila tidak ada massa
Berikan terapi empiris.
Analgetika (NSAID)
Misal: Ibuprofen 3x400 mg/Naproxen 3x550 mg/asam
mefenamat 3x500 mg.
Mulai satu hari menjelang haid sampai hari ke lima haid.
Pil kontrasepsi kombinasi (PKK) 1 −3 siklus.
a1. Bila nyeri hilang: lanjutkan dengan pemberian pil kontrasepsi
kombinasi selama tiga bulan secara kontinu atau progestogen
selama tiga bulan, misal: medroksi progesteron asetat 100 mg/
hari.
Algoritma
Penanganan Endometriosis
13
81
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 13 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
alur penanganan endometriosis berdasarkan keluhan nyeri dan infertilitas.
Keluhan utama endometriosis adalah nyeri dan infertilitas. Berikut
di bawah ini dibahas langkah-langkah penanganan endometriosis yang
dilakukan berdasarkan keluhan dan tanda klinis sesuai dengan panduan
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Indonesia dan yang
dilaksanakan di Klinik Fertilitas Graha Amerta (23,45).
A. Bila keluhan nyeri
1. Pada perempuan belum menikah/usia remaja Tentukan terdapat
massa (endometrioma) atau tidak dengan colok dubur atau USG
transabdomen
a. Bila tidak ada massa
Berikan terapi empiris.
Analgetika (NSAID)
Misal: Ibuprofen 3x400 mg/Naproxen 3x550 mg/asam
mefenamat 3x500 mg.
Mulai satu hari menjelang haid sampai hari ke lima haid.
Pil kontrasepsi kombinasi (PKK) 1 −3 siklus.
a1. Bila nyeri hilang: lanjutkan dengan pemberian pil kontrasepsi
kombinasi selama tiga bulan secara kontinu atau progestogen
selama tiga bulan, misal: medroksi progesteron asetat 100 mg/
hari.
Algoritma
Penanganan Endometriosis
13
81
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 13 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
alur penanganan endometriosis berdasarkan keluhan nyeri dan infertilitas.
Keluhan utama endometriosis adalah nyeri dan infertilitas. Berikut
di bawah ini dibahas langkah-langkah penanganan endometriosis yang
dilakukan berdasarkan keluhan dan tanda klinis sesuai dengan panduan
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Indonesia dan yang
dilaksanakan di Klinik Fertilitas Graha Amerta (23,45).
A. Bila keluhan nyeri
1. Pada perempuan belum menikah/usia remaja Tentukan terdapat
massa (endometrioma) atau tidak dengan colok dubur atau USG
transabdomen
a. Bila tidak ada massa
Berikan terapi empiris.
Analgetika (NSAID)
Misal: Ibuprofen 3x400 mg/Naproxen 3x550 mg/asam
mefenamat 3x500 mg.
Mulai satu hari menjelang haid sampai hari ke lima haid.
Pil kontrasepsi kombinasi (PKK) 1 −3 siklus.
a1. Bila nyeri hilang: lanjutkan dengan pemberian pil kontrasepsi
kombinasi selama tiga bulan secara kontinu atau progestogen
selama tiga bulan, misal: medroksi progesteron asetat 100 mg/
hari.
Algoritma
Penanganan Endometriosis
13
81
Tujuan :
Setelah membaca materi Bab 13 pembaca diharapkan mengetahui dan memahami
alur penanganan endometriosis berdasarkan keluhan nyeri dan infertilitas.
Keluhan utama endometriosis adalah nyeri dan infertilitas. Berikut
di bawah ini dibahas langkah-langkah penanganan endometriosis yang
dilakukan berdasarkan keluhan dan tanda klinis sesuai dengan panduan
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Indonesia dan yang
dilaksanakan di Klinik Fertilitas Graha Amerta (23,45).
A. Bila keluhan nyeri
1. Pada perempuan belum menikah/usia remaja Tentukan terdapat
massa (endometrioma) atau tidak dengan colok dubur atau USG
transabdomen
a. Bila tidak ada massa
Berikan terapi empiris.
Analgetika (NSAID)
Misal: Ibuprofen 3x400 mg/Naproxen 3x550 mg/asam
mefenamat 3x500 mg.
Mulai satu hari menjelang haid sampai hari ke lima haid.
Pil kontrasepsi kombinasi (PKK) 1 −3 siklus.
a1. Bila nyeri hilang: lanjutkan dengan pemberian pil kontrasepsi
kombinasi selama tiga bulan secara kontinu atau progestogen
selama tiga bulan, misal: medroksi progesteron asetat 100 mg/
hari.
Algoritma
Penanganan Endometriosis
13
ENDOMETRIOSIS82
a2. Bila nyeri tidak hilang: lakukan laparoskopi, kerjakan ablasi atau
eksisi lesi endometriosis serta biopsi. Pengobatan dilanjutkan
dengan memperhatikan usia penderita:
• Usia ≤18 tahun: berikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu.
• Usia > 18 tahun: berikan injeksi agonis GnRH dengan terapi
add-back selama 3−6 bulan.
Bila gagal atau tetap nyeri, pertimbangkan untuk dirujuk ke
klinik spesialis/ subspesialis untuk mengatasi nyeri.
b. Bila ada massa (endometrioma), perhatikan ukurannya:
b1. Ukuran < 4 cm:
lakukan perawatan konservatif, tidak perlu tindakan operasi.
Berikan pil kontrasepsi kombinasi selama tiga bulan secara
kontinu atau berikan Progestogen selama tiga bulan. Bila nyeri
tetap tidak hilang, lanjutkan seperti pada a2.
b2. Ukuran ≥ 4 cm:
Lakukan tindakan terapi bedah konservatif, yaitu kistektomi
atau ablasi- eksisi. Dilanjutkan dengan pemberian injeksi agonis
GnRH dan terapi add- back selama 3−6 bulan.
2. Pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina. Selanjutnya
penatalaksanaan sama dengan pada perempuan belum menikah/usia
remaja.
3. Pada perempuan perimenopause
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina sama seperti
pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak.
a. Bila tidak terdapat massa
Berikan terapi empiris sama seperti penatalaksanaan pada
perempuan belum menikah/usia remaja.
a1. Bila nyeri hilang:
lanjutkan terapi PKK atau progestogen selama tiga siklus.
a2. Bila nyeri tidak hilang:
pertimbangkan untuk dilakukan terapi bedah konservatif atau
histerektomi total dan salpingoooforektomi bilateral dengan
tambahan terapi hormon estrogen dan progesteron.
b. Bila terdapat massa
Lakukan terapi bedah konservatif atau radikal.
ENDOMETRIOSIS82
a2. Bila nyeri tidak hilang: lakukan laparoskopi, kerjakan ablasi atau
eksisi lesi endometriosis serta biopsi. Pengobatan dilanjutkan
dengan memperhatikan usia penderita:
• Usia ≤18 tahun: berikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu.
• Usia > 18 tahun: berikan injeksi agonis GnRH dengan terapi
add-back selama 3−6 bulan.
Bila gagal atau tetap nyeri, pertimbangkan untuk dirujuk ke
klinik spesialis/ subspesialis untuk mengatasi nyeri.
b. Bila ada massa (endometrioma), perhatikan ukurannya:
b1. Ukuran < 4 cm:
lakukan perawatan konservatif, tidak perlu tindakan operasi.
Berikan pil kontrasepsi kombinasi selama tiga bulan secara
kontinu atau berikan Progestogen selama tiga bulan. Bila nyeri
tetap tidak hilang, lanjutkan seperti pada a2.
b2. Ukuran ≥ 4 cm:
Lakukan tindakan terapi bedah konservatif, yaitu kistektomi
atau ablasi- eksisi. Dilanjutkan dengan pemberian injeksi agonis
GnRH dan terapi add- back selama 3−6 bulan.
2. Pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina. Selanjutnya
penatalaksanaan sama dengan pada perempuan belum menikah/usia
remaja.
3. Pada perempuan perimenopause
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina sama seperti
pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak.
a. Bila tidak terdapat massa
Berikan terapi empiris sama seperti penatalaksanaan pada
perempuan belum menikah/usia remaja.
a1. Bila nyeri hilang:
lanjutkan terapi PKK atau progestogen selama tiga siklus.
a2. Bila nyeri tidak hilang:
pertimbangkan untuk dilakukan terapi bedah konservatif atau
histerektomi total dan salpingoooforektomi bilateral dengan
tambahan terapi hormon estrogen dan progesteron.
b. Bila terdapat massa
Lakukan terapi bedah konservatif atau radikal.
ENDOMETRIOSIS82
a2. Bila nyeri tidak hilang: lakukan laparoskopi, kerjakan ablasi atau
eksisi lesi endometriosis serta biopsi. Pengobatan dilanjutkan
dengan memperhatikan usia penderita:
• Usia ≤18 tahun: berikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu.
• Usia > 18 tahun: berikan injeksi agonis GnRH dengan terapi
add-back selama 3−6 bulan.
Bila gagal atau tetap nyeri, pertimbangkan untuk dirujuk ke
klinik spesialis/ subspesialis untuk mengatasi nyeri.
b. Bila ada massa (endometrioma), perhatikan ukurannya:
b1. Ukuran < 4 cm:
lakukan perawatan konservatif, tidak perlu tindakan operasi.
Berikan pil kontrasepsi kombinasi selama tiga bulan secara
kontinu atau berikan Progestogen selama tiga bulan. Bila nyeri
tetap tidak hilang, lanjutkan seperti pada a2.
b2. Ukuran ≥ 4 cm:
Lakukan tindakan terapi bedah konservatif, yaitu kistektomi
atau ablasi- eksisi. Dilanjutkan dengan pemberian injeksi agonis
GnRH dan terapi add- back selama 3−6 bulan.
2. Pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina. Selanjutnya
penatalaksanaan sama dengan pada perempuan belum menikah/usia
remaja.
3. Pada perempuan perimenopause
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina sama seperti
pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak.
a. Bila tidak terdapat massa
Berikan terapi empiris sama seperti penatalaksanaan pada
perempuan belum menikah/usia remaja.
a1. Bila nyeri hilang:
lanjutkan terapi PKK atau progestogen selama tiga siklus.
a2. Bila nyeri tidak hilang:
pertimbangkan untuk dilakukan terapi bedah konservatif atau
histerektomi total dan salpingoooforektomi bilateral dengan
tambahan terapi hormon estrogen dan progesteron.
b. Bila terdapat massa
Lakukan terapi bedah konservatif atau radikal.
ENDOMETRIOSIS82
a2. Bila nyeri tidak hilang: lakukan laparoskopi, kerjakan ablasi atau
eksisi lesi endometriosis serta biopsi. Pengobatan dilanjutkan
dengan memperhatikan usia penderita:
• Usia ≤18 tahun: berikan pil kontrasepsi kombinasi secara
kontinu.
• Usia > 18 tahun: berikan injeksi agonis GnRH dengan terapi
add-back selama 3−6 bulan.
Bila gagal atau tetap nyeri, pertimbangkan untuk dirujuk ke
klinik spesialis/ subspesialis untuk mengatasi nyeri.
b. Bila ada massa (endometrioma), perhatikan ukurannya:
b1. Ukuran < 4 cm:
lakukan perawatan konservatif, tidak perlu tindakan operasi.
Berikan pil kontrasepsi kombinasi selama tiga bulan secara
kontinu atau berikan Progestogen selama tiga bulan. Bila nyeri
tetap tidak hilang, lanjutkan seperti pada a2.
b2. Ukuran ≥ 4 cm:
Lakukan tindakan terapi bedah konservatif, yaitu kistektomi
atau ablasi- eksisi. Dilanjutkan dengan pemberian injeksi agonis
GnRH dan terapi add- back selama 3−6 bulan.
2. Pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina. Selanjutnya
penatalaksanaan sama dengan pada perempuan belum menikah/usia
remaja.
3. Pada perempuan perimenopause
Tentukan terdapat massa (endometrioma) atau tidak dengan
menggunakan pemeriksaan dalam atau USG transvagina sama seperti
pada perempuan sudah menikah tetapi belum ingin anak.
a. Bila tidak terdapat massa
Berikan terapi empiris sama seperti penatalaksanaan pada
perempuan belum menikah/usia remaja.
a1. Bila nyeri hilang:
lanjutkan terapi PKK atau progestogen selama tiga siklus.
a2. Bila nyeri tidak hilang:
pertimbangkan untuk dilakukan terapi bedah konservatif atau
histerektomi total dan salpingoooforektomi bilateral dengan
tambahan terapi hormon estrogen dan progesteron.
b. Bila terdapat massa
Lakukan terapi bedah konservatif atau radikal.
83Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
B. Bila keluhan ingin punya anak/infertilitas
Lakukan laparoskopi untuk visualisasi stadium endometriosis berdasarkan
klasifikasi menurut revised American Fertility Society sekarang menjadi
American Society for Reproductive Medicine.
1. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 1 atau 2
Lakukan tindakan ablasi atau eksisi dan selanjutnya perhatikan usia
penderita
a. Bila usia < 35 tahun
Lakukan tindakan expectant selama 3−6 bulan.
Bila setelah 3 −6 bulan belum terjadi kehamilan lakukan stimulasi
ovarium dan inseminasi intrauteri. Bila tetap masih belum terjadi
kehamilan pertimbangkan untuk dilakukan fertilisasi in vitro.
b. Bila usia ≥ 35 tahun
Pertimbangkan untuk langsung dilakukan terapi medis reproduksi
berbantu yaitu inseminasi intra uteri atau fertilisasi in vitro. Bila
inseminasi intra uteri gagal disiapkan untuk beralih menggunakan
fertilisasi in vitro. Dengan pertimbangan usia ≥ 35 tahun sebaiknya
dilakukan dahulu pemeriksaan cadangan ovarium. Pemeriksaan
yang dipilih adalah anti mullerian hormone( AMH), antral follicle
count(AFC), follicle stimulating hormone (FSH) dan estradiol. Bila
hasil pemeriksaan menunjukkan abnormal yang berarti terjadi
penurunan cadangan ovarium, penderita harus dijelaskan untung
rugi pelaksanaan fertilisasi in vitro atau dipilih menggunakan
stimulasi ovarium minimal.
2. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 3 atau 4
Lakukan tindakan laparoskopi ablasi atau eksisi dan restorasi organ
reproduksi. Periksa cadangan ovarium dan lakukan fertilisasi in
vitro. Pertimbangkan pemberian injeksi agonis GnRH selama tiga
bulan sebelum fertilisasi in vitro untuk meningkatkan kemungkinan
mendapatkan kehamilan.
83Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
B. Bila keluhan ingin punya anak/infertilitas
Lakukan laparoskopi untuk visualisasi stadium endometriosis berdasarkan
klasifikasi menurut revised American Fertility Society sekarang menjadi
American Society for Reproductive Medicine.
1. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 1 atau 2
Lakukan tindakan ablasi atau eksisi dan selanjutnya perhatikan usia
penderita
a. Bila usia < 35 tahun
Lakukan tindakan expectant selama 3−6 bulan.
Bila setelah 3 −6 bulan belum terjadi kehamilan lakukan stimulasi
ovarium dan inseminasi intrauteri. Bila tetap masih belum terjadi
kehamilan pertimbangkan untuk dilakukan fertilisasi in vitro.
b. Bila usia ≥ 35 tahun
Pertimbangkan untuk langsung dilakukan terapi medis reproduksi
berbantu yaitu inseminasi intra uteri atau fertilisasi in vitro. Bila
inseminasi intra uteri gagal disiapkan untuk beralih menggunakan
fertilisasi in vitro. Dengan pertimbangan usia ≥ 35 tahun sebaiknya
dilakukan dahulu pemeriksaan cadangan ovarium. Pemeriksaan
yang dipilih adalah anti mullerian hormone( AMH), antral follicle
count(AFC), follicle stimulating hormone (FSH) dan estradiol. Bila
hasil pemeriksaan menunjukkan abnormal yang berarti terjadi
penurunan cadangan ovarium, penderita harus dijelaskan untung
rugi pelaksanaan fertilisasi in vitro atau dipilih menggunakan
stimulasi ovarium minimal.
2. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 3 atau 4
Lakukan tindakan laparoskopi ablasi atau eksisi dan restorasi organ
reproduksi. Periksa cadangan ovarium dan lakukan fertilisasi in
vitro. Pertimbangkan pemberian injeksi agonis GnRH selama tiga
bulan sebelum fertilisasi in vitro untuk meningkatkan kemungkinan
mendapatkan kehamilan.
83Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
B. Bila keluhan ingin punya anak/infertilitas
Lakukan laparoskopi untuk visualisasi stadium endometriosis berdasarkan
klasifikasi menurut revised American Fertility Society sekarang menjadi
American Society for Reproductive Medicine.
1. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 1 atau 2
Lakukan tindakan ablasi atau eksisi dan selanjutnya perhatikan usia
penderita
a. Bila usia < 35 tahun
Lakukan tindakan expectant selama 3−6 bulan.
Bila setelah 3 −6 bulan belum terjadi kehamilan lakukan stimulasi
ovarium dan inseminasi intrauteri. Bila tetap masih belum terjadi
kehamilan pertimbangkan untuk dilakukan fertilisasi in vitro.
b. Bila usia ≥ 35 tahun
Pertimbangkan untuk langsung dilakukan terapi medis reproduksi
berbantu yaitu inseminasi intra uteri atau fertilisasi in vitro. Bila
inseminasi intra uteri gagal disiapkan untuk beralih menggunakan
fertilisasi in vitro. Dengan pertimbangan usia ≥ 35 tahun sebaiknya
dilakukan dahulu pemeriksaan cadangan ovarium. Pemeriksaan
yang dipilih adalah anti mullerian hormone( AMH), antral follicle
count(AFC), follicle stimulating hormone (FSH) dan estradiol. Bila
hasil pemeriksaan menunjukkan abnormal yang berarti terjadi
penurunan cadangan ovarium, penderita harus dijelaskan untung
rugi pelaksanaan fertilisasi in vitro atau dipilih menggunakan
stimulasi ovarium minimal.
2. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 3 atau 4
Lakukan tindakan laparoskopi ablasi atau eksisi dan restorasi organ
reproduksi. Periksa cadangan ovarium dan lakukan fertilisasi in
vitro. Pertimbangkan pemberian injeksi agonis GnRH selama tiga
bulan sebelum fertilisasi in vitro untuk meningkatkan kemungkinan
mendapatkan kehamilan.
83Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
B. Bila keluhan ingin punya anak/infertilitas
Lakukan laparoskopi untuk visualisasi stadium endometriosis berdasarkan
klasifikasi menurut revised American Fertility Society sekarang menjadi
American Society for Reproductive Medicine.
1. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 1 atau 2
Lakukan tindakan ablasi atau eksisi dan selanjutnya perhatikan usia
penderita
a. Bila usia < 35 tahun
Lakukan tindakan expectant selama 3−6 bulan.
Bila setelah 3 −6 bulan belum terjadi kehamilan lakukan stimulasi
ovarium dan inseminasi intrauteri. Bila tetap masih belum terjadi
kehamilan pertimbangkan untuk dilakukan fertilisasi in vitro.
b. Bila usia ≥ 35 tahun
Pertimbangkan untuk langsung dilakukan terapi medis reproduksi
berbantu yaitu inseminasi intra uteri atau fertilisasi in vitro. Bila
inseminasi intra uteri gagal disiapkan untuk beralih menggunakan
fertilisasi in vitro. Dengan pertimbangan usia ≥ 35 tahun sebaiknya
dilakukan dahulu pemeriksaan cadangan ovarium. Pemeriksaan
yang dipilih adalah anti mullerian hormone( AMH), antral follicle
count(AFC), follicle stimulating hormone (FSH) dan estradiol. Bila
hasil pemeriksaan menunjukkan abnormal yang berarti terjadi
penurunan cadangan ovarium, penderita harus dijelaskan untung
rugi pelaksanaan fertilisasi in vitro atau dipilih menggunakan
stimulasi ovarium minimal.
2. Bila saat laparoskopi ditemukan endometriosis stadium 3 atau 4
Lakukan tindakan laparoskopi ablasi atau eksisi dan restorasi organ
reproduksi. Periksa cadangan ovarium dan lakukan fertilisasi in
vitro. Pertimbangkan pemberian injeksi agonis GnRH selama tiga
bulan sebelum fertilisasi in vitro untuk meningkatkan kemungkinan
mendapatkan kehamilan.
ENDOMETRIOSIS84
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang belum
menikah/usia remaja. NSAID: non-steroid anti-inflammation drugs, PKK: pil kontrasepsi
kombinasi
ENDOMETRIOSIS84
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang belum
menikah/usia remaja. NSAID: non-steroid anti-inflammation drugs, PKK: pil kontrasepsi
kombinasi
ENDOMETRIOSIS84
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang belum
menikah/usia remaja. NSAID: non-steroid anti-inflammation drugs, PKK: pil kontrasepsi
kombinasi
ENDOMETRIOSIS84
Gambar 13.1 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang belum
menikah/usia remaja. NSAID: non-steroid anti-inflammation drugs, PKK: pil kontrasepsi
kombinasi
85Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang sudah
menikah/belum ingin punya anak dan usia perimenopause
85Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang sudah
menikah/belum ingin punya anak dan usia perimenopause
85Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang sudah
menikah/belum ingin punya anak dan usia perimenopause
85Bab 13 Algoritma Penanganan Endometriosis
Gambar 13.2 Algoritma penanganan nyeri karena endo metriosis pada penderita yang sudah
menikah/belum ingin punya anak dan usia perimenopause
ENDOMETRIOSIS86
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas karena endometriosis
ENDOMETRIOSIS86
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas karena endometriosis
ENDOMETRIOSIS86
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas karena endometriosis
ENDOMETRIOSIS86
Gambar 13.3 Algoritma penanganan infertilitas karena endometriosis
87
DAFTAR PUSTAKA
1. Dunselman GAJ, Vermeulen N, Becker C, Calhaz-Jorge C, D’Hooghe
T, De Bie B, Heikineheimo O et al. ESHRE guideline : Management
women with endometriosis. Hum Reprod 2014; 0:1-13.
2. Giudice LC. Clinical practice: endometriosis. N Engl J Med 2010;
362:2389–2398.
3. European Society of Human Reproduction and Embriology (ESHRE).
Management of women with endometriosis. Guideline of the European
Society of Human Reproduction ad Embriology. ESHRE Endometriosis
Guideline Development Group. 2013.
4. Razzaghi MZ, Mazloomfard MM and Jafari AA. Endometriosis in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 3-30.
5. Koninckx PR, Ussia A. Epidemiology of endometriosis. Book chapter.
University Hospital Gasthuisberg, and Center for Surgical Technologies,
Catholic University Leuven and University of Oxford, Oxford, United
Kingdom, 2013.
6. Samsulhadi, Endometriosis: Dari biomolekuler sampai masalah klinis.
Majalah Obstetri dan Ginekologi 2002.10(1): 43-50.
7. Speroff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic
Endocrinology and Infertility. 7
th ed. Philadephia: Lippincott Wlliam &
Wilkins 2005, pp 1103-1133.
8. Hendarto H. Profil kadar TNF- α, GDF-9 dan hyaluronan pada gangguan
folikulogenesis sebagai gambaran penurunan kualitas oosit pasien
endometriosis yang infertil, Universitas Airlangga; 2007.
9. Hetharia FP , Hendarto H. Gambatan kadar TNF- α dan estradiol cairan
peritoneum penderita infertil dengan endometriosis. Dep/SMF Obstetri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2008.
10. Annemiek WN, Groothuis PG, Demir AY, Evers J, Dunselman GA, 2004.
Pathogenesis of endometriosis. Best Practice & Research Clin Obstet
Gynecol 2004; 18(2): 233-244.
11. Rizk B, Abdalla H. Endometriosis. Fast Facts 2
nd ed. Health Press 2003,
7-20.
87
DAFTAR PUSTAKA
1. Dunselman GAJ, Vermeulen N, Becker C, Calhaz-Jorge C, D’Hooghe
T, De Bie B, Heikineheimo O et al. ESHRE guideline : Management
women with endometriosis. Hum Reprod 2014; 0:1-13.
2. Giudice LC. Clinical practice: endometriosis. N Engl J Med 2010;
362:2389–2398.
3. European Society of Human Reproduction and Embriology (ESHRE).
Management of women with endometriosis. Guideline of the European
Society of Human Reproduction ad Embriology. ESHRE Endometriosis
Guideline Development Group. 2013.
4. Razzaghi MZ, Mazloomfard MM and Jafari AA. Endometriosis in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 3-30.
5. Koninckx PR, Ussia A. Epidemiology of endometriosis. Book chapter.
University Hospital Gasthuisberg, and Center for Surgical Technologies,
Catholic University Leuven and University of Oxford, Oxford, United
Kingdom, 2013.
6. Samsulhadi, Endometriosis: Dari biomolekuler sampai masalah klinis.
Majalah Obstetri dan Ginekologi 2002.10(1): 43-50.
7. Speroff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic
Endocrinology and Infertility. 7
th ed. Philadephia: Lippincott Wlliam &
Wilkins 2005, pp 1103-1133.
8. Hendarto H. Profil kadar TNF- α, GDF-9 dan hyaluronan pada gangguan
folikulogenesis sebagai gambaran penurunan kualitas oosit pasien
endometriosis yang infertil, Universitas Airlangga; 2007.
9. Hetharia FP , Hendarto H. Gambatan kadar TNF- α dan estradiol cairan
peritoneum penderita infertil dengan endometriosis. Dep/SMF Obstetri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2008.
10. Annemiek WN, Groothuis PG, Demir AY, Evers J, Dunselman GA, 2004.
Pathogenesis of endometriosis. Best Practice & Research Clin Obstet
Gynecol 2004; 18(2): 233-244.
11. Rizk B, Abdalla H. Endometriosis. Fast Facts 2
nd ed. Health Press 2003,
7-20.
87
DAFTAR PUSTAKA
1. Dunselman GAJ, Vermeulen N, Becker C, Calhaz-Jorge C, D’Hooghe
T, De Bie B, Heikineheimo O et al. ESHRE guideline : Management
women with endometriosis. Hum Reprod 2014; 0:1-13.
2. Giudice LC. Clinical practice: endometriosis. N Engl J Med 2010;
362:2389–2398.
3. European Society of Human Reproduction and Embriology (ESHRE).
Management of women with endometriosis. Guideline of the European
Society of Human Reproduction ad Embriology. ESHRE Endometriosis
Guideline Development Group. 2013.
4. Razzaghi MZ, Mazloomfard MM and Jafari AA. Endometriosis in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 3-30.
5. Koninckx PR, Ussia A. Epidemiology of endometriosis. Book chapter.
University Hospital Gasthuisberg, and Center for Surgical Technologies,
Catholic University Leuven and University of Oxford, Oxford, United
Kingdom, 2013.
6. Samsulhadi, Endometriosis: Dari biomolekuler sampai masalah klinis.
Majalah Obstetri dan Ginekologi 2002.10(1): 43-50.
7. Speroff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic
Endocrinology and Infertility. 7
th ed. Philadephia: Lippincott Wlliam &
Wilkins 2005, pp 1103-1133.
8. Hendarto H. Profil kadar TNF- α, GDF-9 dan hyaluronan pada gangguan
folikulogenesis sebagai gambaran penurunan kualitas oosit pasien
endometriosis yang infertil, Universitas Airlangga; 2007.
9. Hetharia FP , Hendarto H. Gambatan kadar TNF- α dan estradiol cairan
peritoneum penderita infertil dengan endometriosis. Dep/SMF Obstetri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2008.
10. Annemiek WN, Groothuis PG, Demir AY, Evers J, Dunselman GA, 2004.
Pathogenesis of endometriosis. Best Practice & Research Clin Obstet
Gynecol 2004; 18(2): 233-244.
11. Rizk B, Abdalla H. Endometriosis. Fast Facts 2
nd ed. Health Press 2003,
7-20.
87
DAFTAR PUSTAKA
1. Dunselman GAJ, Vermeulen N, Becker C, Calhaz-Jorge C, D’Hooghe
T, De Bie B, Heikineheimo O et al. ESHRE guideline : Management
women with endometriosis. Hum Reprod 2014; 0:1-13.
2. Giudice LC. Clinical practice: endometriosis. N Engl J Med 2010;
362:2389–2398.
3. European Society of Human Reproduction and Embriology (ESHRE).
Management of women with endometriosis. Guideline of the European
Society of Human Reproduction ad Embriology. ESHRE Endometriosis
Guideline Development Group. 2013.
4. Razzaghi MZ, Mazloomfard MM and Jafari AA. Endometriosis in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 3-30.
5. Koninckx PR, Ussia A. Epidemiology of endometriosis. Book chapter.
University Hospital Gasthuisberg, and Center for Surgical Technologies,
Catholic University Leuven and University of Oxford, Oxford, United
Kingdom, 2013.
6. Samsulhadi, Endometriosis: Dari biomolekuler sampai masalah klinis.
Majalah Obstetri dan Ginekologi 2002.10(1): 43-50.
7. Speroff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic
Endocrinology and Infertility. 7
th ed. Philadephia: Lippincott Wlliam &
Wilkins 2005, pp 1103-1133.
8. Hendarto H. Profil kadar TNF- α, GDF-9 dan hyaluronan pada gangguan
folikulogenesis sebagai gambaran penurunan kualitas oosit pasien
endometriosis yang infertil, Universitas Airlangga; 2007.
9. Hetharia FP , Hendarto H. Gambatan kadar TNF- α dan estradiol cairan
peritoneum penderita infertil dengan endometriosis. Dep/SMF Obstetri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2008.
10. Annemiek WN, Groothuis PG, Demir AY, Evers J, Dunselman GA, 2004.
Pathogenesis of endometriosis. Best Practice & Research Clin Obstet
Gynecol 2004; 18(2): 233-244.
11. Rizk B, Abdalla H. Endometriosis. Fast Facts 2
nd ed. Health Press 2003,
7-20.
ENDOMETRIOSIS88
12. Sourial S, Tempest N, Hapangama DK. Theories on the Pathogenesis
of Endometriosis. International J of Reprod Medicine 2014.
13. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi, Widjiati. Pengaruh
curcumin terhadap ekspresi VEGF dan luas implant endometriosis.
Penelitian departemen/SMF Kebidanan dan Penyakit Kandungan FK
Unair /RSUD dr Soetomo Surabaya, 2009.
14. Suresh PS, Venkatesh T, Rajan T and Tsutsumi R. Molecular Pathology
and Therapy of Endometriosis: Revisited. Androl Gynecol: Curr Res
2013,3: 1-7.
15. Burney RO and Giudice LC. Pathogenesis and pathophysiology of
endometriosis. Fertil Steril 2012;98:511–9.
16. Bulun SE, Zeitoun KM, Takayama K and Sasano H. Estrogen biosynthesis
in endometriosis: molecular basis and clinical relevance. J of Molecular
Endocrinology 2000, 25, 35–42.
17. Bulun SE, You-Hong Cheng, Pavone ME, Qing Xue, Attar E, Trukhacheva
E, Tokunaga H et al. Estrogen Receptor- β, Estrogen Receptor- α, and
Progesterone Resistance in Endometriosis. Semin Reprod Med 2010;
28(1): 36–43.
18. Augoulea A, Alexandrou A, Creatsa M, Vrachnis N, Lambrinoudaki I.
Pathogenesis of endometriosis: the role of genetics, inflammation and
oxidative stress. Arch Gynecol Obstet 2012, 286:99–103.
19. Berkkanoglu M, Arici A. Immunology and Endometriosis. Am J Reprod
Immunol 2003, 50(1): 48-59.
20. Lebovic DI, Mueller M, Taylor RN. Immunobiology of endometriosis.
Fertil Steril 2001, 75(1): 1-10.
21. Vigano P , Gaffuri B, Somigliana E, Busacca M, Di Blasio AM, Vignali
M. Expression of intercellular adhesion molecule (ICAM)-1 mRNA and
protein is enhanced in endometriosis versus endometrial stromal cell in
culture. Mol Hum Reprod 1998, 4,12: 1150-1156.
22. Eing MT. Stem Cell as the Novel Pathogenesis of Endometriosis. in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 263-277.
23. Klinik Fertilitas Graha Amerta. Unique and friendly clinic, Laporan
Tahunan. Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2014.
24. Origoni M, Maggiore ULR, Salvatore S, and Candiani M.Neurobiological
M e c h a n i s m s o f P e l v i c P a i n : R e v i e w A r t i c l e . B i o M e d R e s e a r c h
International 2014, 9
25. Evans S, Moalem-Taylor G, Tracey DJ. Pain and endometriosis. Topical
review. Pain 2007, 132: S22–S25.
ENDOMETRIOSIS88
12. Sourial S, Tempest N, Hapangama DK. Theories on the Pathogenesis
of Endometriosis. International J of Reprod Medicine 2014.
13. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi, Widjiati. Pengaruh
curcumin terhadap ekspresi VEGF dan luas implant endometriosis.
Penelitian departemen/SMF Kebidanan dan Penyakit Kandungan FK
Unair /RSUD dr Soetomo Surabaya, 2009.
14. Suresh PS, Venkatesh T, Rajan T and Tsutsumi R. Molecular Pathology
and Therapy of Endometriosis: Revisited. Androl Gynecol: Curr Res
2013,3: 1-7.
15. Burney RO and Giudice LC. Pathogenesis and pathophysiology of
endometriosis. Fertil Steril 2012;98:511–9.
16. Bulun SE, Zeitoun KM, Takayama K and Sasano H. Estrogen biosynthesis
in endometriosis: molecular basis and clinical relevance. J of Molecular
Endocrinology 2000, 25, 35–42.
17. Bulun SE, You-Hong Cheng, Pavone ME, Qing Xue, Attar E, Trukhacheva
E, Tokunaga H et al. Estrogen Receptor- β, Estrogen Receptor- α, and
Progesterone Resistance in Endometriosis. Semin Reprod Med 2010;
28(1): 36–43.
18. Augoulea A, Alexandrou A, Creatsa M, Vrachnis N, Lambrinoudaki I.
Pathogenesis of endometriosis: the role of genetics, inflammation and
oxidative stress. Arch Gynecol Obstet 2012, 286:99–103.
19. Berkkanoglu M, Arici A. Immunology and Endometriosis. Am J Reprod
Immunol 2003, 50(1): 48-59.
20. Lebovic DI, Mueller M, Taylor RN. Immunobiology of endometriosis.
Fertil Steril 2001, 75(1): 1-10.
21. Vigano P , Gaffuri B, Somigliana E, Busacca M, Di Blasio AM, Vignali
M. Expression of intercellular adhesion molecule (ICAM)-1 mRNA and
protein is enhanced in endometriosis versus endometrial stromal cell in
culture. Mol Hum Reprod 1998, 4,12: 1150-1156.
22. Eing MT. Stem Cell as the Novel Pathogenesis of Endometriosis. in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 263-277.
23. Klinik Fertilitas Graha Amerta. Unique and friendly clinic, Laporan
Tahunan. Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2014.
24. Origoni M, Maggiore ULR, Salvatore S, and Candiani M.Neurobiological
M e c h a n i s m s o f P e l v i c P a i n : R e v i e w A r t i c l e . B i o M e d R e s e a r c h
International 2014, 9
25. Evans S, Moalem-Taylor G, Tracey DJ. Pain and endometriosis. Topical
review. Pain 2007, 132: S22–S25.
ENDOMETRIOSIS88
12. Sourial S, Tempest N, Hapangama DK. Theories on the Pathogenesis
of Endometriosis. International J of Reprod Medicine 2014.
13. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi, Widjiati. Pengaruh
curcumin terhadap ekspresi VEGF dan luas implant endometriosis.
Penelitian departemen/SMF Kebidanan dan Penyakit Kandungan FK
Unair /RSUD dr Soetomo Surabaya, 2009.
14. Suresh PS, Venkatesh T, Rajan T and Tsutsumi R. Molecular Pathology
and Therapy of Endometriosis: Revisited. Androl Gynecol: Curr Res
2013,3: 1-7.
15. Burney RO and Giudice LC. Pathogenesis and pathophysiology of
endometriosis. Fertil Steril 2012;98:511–9.
16. Bulun SE, Zeitoun KM, Takayama K and Sasano H. Estrogen biosynthesis
in endometriosis: molecular basis and clinical relevance. J of Molecular
Endocrinology 2000, 25, 35–42.
17. Bulun SE, You-Hong Cheng, Pavone ME, Qing Xue, Attar E, Trukhacheva
E, Tokunaga H et al. Estrogen Receptor- β, Estrogen Receptor- α, and
Progesterone Resistance in Endometriosis. Semin Reprod Med 2010;
28(1): 36–43.
18. Augoulea A, Alexandrou A, Creatsa M, Vrachnis N, Lambrinoudaki I.
Pathogenesis of endometriosis: the role of genetics, inflammation and
oxidative stress. Arch Gynecol Obstet 2012, 286:99–103.
19. Berkkanoglu M, Arici A. Immunology and Endometriosis. Am J Reprod
Immunol 2003, 50(1): 48-59.
20. Lebovic DI, Mueller M, Taylor RN. Immunobiology of endometriosis.
Fertil Steril 2001, 75(1): 1-10.
21. Vigano P , Gaffuri B, Somigliana E, Busacca M, Di Blasio AM, Vignali
M. Expression of intercellular adhesion molecule (ICAM)-1 mRNA and
protein is enhanced in endometriosis versus endometrial stromal cell in
culture. Mol Hum Reprod 1998, 4,12: 1150-1156.
22. Eing MT. Stem Cell as the Novel Pathogenesis of Endometriosis. in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 263-277.
23. Klinik Fertilitas Graha Amerta. Unique and friendly clinic, Laporan
Tahunan. Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2014.
24. Origoni M, Maggiore ULR, Salvatore S, and Candiani M.Neurobiological
M e c h a n i s m s o f P e l v i c P a i n : R e v i e w A r t i c l e . B i o M e d R e s e a r c h
International 2014, 9
25. Evans S, Moalem-Taylor G, Tracey DJ. Pain and endometriosis. Topical
review. Pain 2007, 132: S22–S25.
ENDOMETRIOSIS88
12. Sourial S, Tempest N, Hapangama DK. Theories on the Pathogenesis
of Endometriosis. International J of Reprod Medicine 2014.
13. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi, Widjiati. Pengaruh
curcumin terhadap ekspresi VEGF dan luas implant endometriosis.
Penelitian departemen/SMF Kebidanan dan Penyakit Kandungan FK
Unair /RSUD dr Soetomo Surabaya, 2009.
14. Suresh PS, Venkatesh T, Rajan T and Tsutsumi R. Molecular Pathology
and Therapy of Endometriosis: Revisited. Androl Gynecol: Curr Res
2013,3: 1-7.
15. Burney RO and Giudice LC. Pathogenesis and pathophysiology of
endometriosis. Fertil Steril 2012;98:511–9.
16. Bulun SE, Zeitoun KM, Takayama K and Sasano H. Estrogen biosynthesis
in endometriosis: molecular basis and clinical relevance. J of Molecular
Endocrinology 2000, 25, 35–42.
17. Bulun SE, You-Hong Cheng, Pavone ME, Qing Xue, Attar E, Trukhacheva
E, Tokunaga H et al. Estrogen Receptor- β, Estrogen Receptor- α, and
Progesterone Resistance in Endometriosis. Semin Reprod Med 2010;
28(1): 36–43.
18. Augoulea A, Alexandrou A, Creatsa M, Vrachnis N, Lambrinoudaki I.
Pathogenesis of endometriosis: the role of genetics, inflammation and
oxidative stress. Arch Gynecol Obstet 2012, 286:99–103.
19. Berkkanoglu M, Arici A. Immunology and Endometriosis. Am J Reprod
Immunol 2003, 50(1): 48-59.
20. Lebovic DI, Mueller M, Taylor RN. Immunobiology of endometriosis.
Fertil Steril 2001, 75(1): 1-10.
21. Vigano P , Gaffuri B, Somigliana E, Busacca M, Di Blasio AM, Vignali
M. Expression of intercellular adhesion molecule (ICAM)-1 mRNA and
protein is enhanced in endometriosis versus endometrial stromal cell in
culture. Mol Hum Reprod 1998, 4,12: 1150-1156.
22. Eing MT. Stem Cell as the Novel Pathogenesis of Endometriosis. in :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 263-277.
23. Klinik Fertilitas Graha Amerta. Unique and friendly clinic, Laporan
Tahunan. Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2014.
24. Origoni M, Maggiore ULR, Salvatore S, and Candiani M.Neurobiological
M e c h a n i s m s o f P e l v i c P a i n : R e v i e w A r t i c l e . B i o M e d R e s e a r c h
International 2014, 9
25. Evans S, Moalem-Taylor G, Tracey DJ. Pain and endometriosis. Topical
review. Pain 2007, 132: S22–S25.
89Daftar Pustaka
26. Tokushige N, Moamar al-Jefout, Salih H, I Fraser IS. Endometrial nerve
fibres in endometriosis. Ir anian J of Reprod Med 2007, 5, 3: 81-88.
27. Stratton P , and Berkley JK. Chronic pelvic pain and endometriosis:
translational evidence of the relationship and implications. Hum Reprod
Update 2010, 0:1-21.
28. American Society for Reproductive Medicine. Endometriosis and
infertility: a committee opinion, The Practice Committee of the American
Society for Reproductive Medicine. Fertil Steril 2012; 98: 591–8.
2 9 . H e n d a r t o H . P a t h o m e c h a n i s m o f I n f e r t i l i t y i n E n d o m e t r i o s i s i n :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 343-354.
30. D’hooghe, T.M., Debrock, S. Endometriosis, retrograde menstruation
and peritoneal inflammation in women and in baboons. Hum. Reprod.
Update 2012, 8: 84-88
31. Carlberg M, Nejaty J, Froysa B, Guan Y, Soder O, Bergqvist A. Elevated
expression of TNF α in cultured granulosa cells from women with
endometriosis. Hum. Reprod 2000,15: 1250-5.
32. Hendarto H, Prabowo P , Moeloek FA, Soetjipto. Growth differentiation
factor 9 concentration in the follicular fluid of infertile women with
endometriosis. Fertil Steril 2010, 94, 2: 758-760
33. Bedaiwy MA, Falcone T, Sharma RK, Goldberg JM, Attaran M, Nelson
DR, et al., Prediction of endometriosis with serum and peritoneal fluid
markers: a prospective controlled trial. Hum. Reprod 2002, 17: 426–
431.
34. Guerin P, El Mouatassim S, Menezo Y. Oxidative stress and protection
against reactive oxygen species in the pre-implantation embryo and its
surroundings. Hum. Reprod. Update 2001, 7: 175–89.
35. Eisermann J, Register KB, Strickler RC, Collins JL. The Effect of Tumor
Necrosis Factor on Human Sperm Motility In Vifro. J. of Andrology 1989,
10 : 270-2744.
36. Agarwal A, Sharma RK, Nallella KP , Thomas AJ Jr, Alvarez JG, Sikka
SC. Reactive oxygen species as an independent marker of male factor
infertility. Fertil. Steril 2006, 86 : 878–85.
3 7 . P e l l i c e r A , O l i v e i r a N , R u i z A , R e m o h í J , S i m ó n C . E x p l o r i n g t h e
mechanism(s) of endometriosis-related infertility: an analysis of embryo
development and implantation in assisted reproduction. Hum. Reprod
1995, 10 : 91-97.
89Daftar Pustaka
26. Tokushige N, Moamar al-Jefout, Salih H, I Fraser IS. Endometrial nerve
fibres in endometriosis. Ir anian J of Reprod Med 2007, 5, 3: 81-88.
27. Stratton P , and Berkley JK. Chronic pelvic pain and endometriosis:
translational evidence of the relationship and implications. Hum Reprod
Update 2010, 0:1-21.
28. American Society for Reproductive Medicine. Endometriosis and
infertility: a committee opinion, The Practice Committee of the American
Society for Reproductive Medicine. Fertil Steril 2012; 98: 591–8.
2 9 . H e n d a r t o H . P a t h o m e c h a n i s m o f I n f e r t i l i t y i n E n d o m e t r i o s i s i n :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 343-354.
30. D’hooghe, T.M., Debrock, S. Endometriosis, retrograde menstruation
and peritoneal inflammation in women and in baboons. Hum. Reprod.
Update 2012, 8: 84-88
31. Carlberg M, Nejaty J, Froysa B, Guan Y, Soder O, Bergqvist A. Elevated
expression of TNF α in cultured granulosa cells from women with
endometriosis. Hum. Reprod 2000,15: 1250-5.
32. Hendarto H, Prabowo P , Moeloek FA, Soetjipto. Growth differentiation
factor 9 concentration in the follicular fluid of infertile women with
endometriosis. Fertil Steril 2010, 94, 2: 758-760
33. Bedaiwy MA, Falcone T, Sharma RK, Goldberg JM, Attaran M, Nelson
DR, et al., Prediction of endometriosis with serum and peritoneal fluid
markers: a prospective controlled trial. Hum. Reprod 2002, 17: 426–
431.
34. Guerin P, El Mouatassim S, Menezo Y. Oxidative stress and protection
against reactive oxygen species in the pre-implantation embryo and its
surroundings. Hum. Reprod. Update 2001, 7: 175–89.
35. Eisermann J, Register KB, Strickler RC, Collins JL. The Effect of Tumor
Necrosis Factor on Human Sperm Motility In Vifro. J. of Andrology 1989,
10 : 270-2744.
36. Agarwal A, Sharma RK, Nallella KP , Thomas AJ Jr, Alvarez JG, Sikka
SC. Reactive oxygen species as an independent marker of male factor
infertility. Fertil. Steril 2006, 86 : 878–85.
3 7 . P e l l i c e r A , O l i v e i r a N , R u i z A , R e m o h í J , S i m ó n C . E x p l o r i n g t h e
mechanism(s) of endometriosis-related infertility: an analysis of embryo
development and implantation in assisted reproduction. Hum. Reprod
1995, 10 : 91-97.
89Daftar Pustaka
26. Tokushige N, Moamar al-Jefout, Salih H, I Fraser IS. Endometrial nerve
fibres in endometriosis. Ir anian J of Reprod Med 2007, 5, 3: 81-88.
27. Stratton P , and Berkley JK. Chronic pelvic pain and endometriosis:
translational evidence of the relationship and implications. Hum Reprod
Update 2010, 0:1-21.
28. American Society for Reproductive Medicine. Endometriosis and
infertility: a committee opinion, The Practice Committee of the American
Society for Reproductive Medicine. Fertil Steril 2012; 98: 591–8.
2 9 . H e n d a r t o H . P a t h o m e c h a n i s m o f I n f e r t i l i t y i n E n d o m e t r i o s i s i n :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 343-354.
30. D’hooghe, T.M., Debrock, S. Endometriosis, retrograde menstruation
and peritoneal inflammation in women and in baboons. Hum. Reprod.
Update 2012, 8: 84-88
31. Carlberg M, Nejaty J, Froysa B, Guan Y, Soder O, Bergqvist A. Elevated
expression of TNF α in cultured granulosa cells from women with
endometriosis. Hum. Reprod 2000,15: 1250-5.
32. Hendarto H, Prabowo P , Moeloek FA, Soetjipto. Growth differentiation
factor 9 concentration in the follicular fluid of infertile women with
endometriosis. Fertil Steril 2010, 94, 2: 758-760
33. Bedaiwy MA, Falcone T, Sharma RK, Goldberg JM, Attaran M, Nelson
DR, et al., Prediction of endometriosis with serum and peritoneal fluid
markers: a prospective controlled trial. Hum. Reprod 2002, 17: 426–
431.
34. Guerin P, El Mouatassim S, Menezo Y. Oxidative stress and protection
against reactive oxygen species in the pre-implantation embryo and its
surroundings. Hum. Reprod. Update 2001, 7: 175–89.
35. Eisermann J, Register KB, Strickler RC, Collins JL. The Effect of Tumor
Necrosis Factor on Human Sperm Motility In Vifro. J. of Andrology 1989,
10 : 270-2744.
36. Agarwal A, Sharma RK, Nallella KP , Thomas AJ Jr, Alvarez JG, Sikka
SC. Reactive oxygen species as an independent marker of male factor
infertility. Fertil. Steril 2006, 86 : 878–85.
3 7 . P e l l i c e r A , O l i v e i r a N , R u i z A , R e m o h í J , S i m ó n C . E x p l o r i n g t h e
mechanism(s) of endometriosis-related infertility: an analysis of embryo
development and implantation in assisted reproduction. Hum. Reprod
1995, 10 : 91-97.
89Daftar Pustaka
26. Tokushige N, Moamar al-Jefout, Salih H, I Fraser IS. Endometrial nerve
fibres in endometriosis. Ir anian J of Reprod Med 2007, 5, 3: 81-88.
27. Stratton P , and Berkley JK. Chronic pelvic pain and endometriosis:
translational evidence of the relationship and implications. Hum Reprod
Update 2010, 0:1-21.
28. American Society for Reproductive Medicine. Endometriosis and
infertility: a committee opinion, The Practice Committee of the American
Society for Reproductive Medicine. Fertil Steril 2012; 98: 591–8.
2 9 . H e n d a r t o H . P a t h o m e c h a n i s m o f I n f e r t i l i t y i n E n d o m e t r i o s i s i n :
Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and
Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 343-354.
30. D’hooghe, T.M., Debrock, S. Endometriosis, retrograde menstruation
and peritoneal inflammation in women and in baboons. Hum. Reprod.
Update 2012, 8: 84-88
31. Carlberg M, Nejaty J, Froysa B, Guan Y, Soder O, Bergqvist A. Elevated
expression of TNF α in cultured granulosa cells from women with
endometriosis. Hum. Reprod 2000,15: 1250-5.
32. Hendarto H, Prabowo P , Moeloek FA, Soetjipto. Growth differentiation
factor 9 concentration in the follicular fluid of infertile women with
endometriosis. Fertil Steril 2010, 94, 2: 758-760
33. Bedaiwy MA, Falcone T, Sharma RK, Goldberg JM, Attaran M, Nelson
DR, et al., Prediction of endometriosis with serum and peritoneal fluid
markers: a prospective controlled trial. Hum. Reprod 2002, 17: 426–
431.
34. Guerin P, El Mouatassim S, Menezo Y. Oxidative stress and protection
against reactive oxygen species in the pre-implantation embryo and its
surroundings. Hum. Reprod. Update 2001, 7: 175–89.
35. Eisermann J, Register KB, Strickler RC, Collins JL. The Effect of Tumor
Necrosis Factor on Human Sperm Motility In Vifro. J. of Andrology 1989,
10 : 270-2744.
36. Agarwal A, Sharma RK, Nallella KP , Thomas AJ Jr, Alvarez JG, Sikka
SC. Reactive oxygen species as an independent marker of male factor
infertility. Fertil. Steril 2006, 86 : 878–85.
3 7 . P e l l i c e r A , O l i v e i r a N , R u i z A , R e m o h í J , S i m ó n C . E x p l o r i n g t h e
mechanism(s) of endometriosis-related infertility: an analysis of embryo
development and implantation in assisted reproduction. Hum. Reprod
1995, 10 : 91-97.
ENDOMETRIOSIS90
38. Gupta S, Goldberg JM, Aziz N, Goldberg E, Krajcir N, Agarwal A.
Pathogenic mechanisms in endometriosis-associated infertility. Fertil.
Steril 2008, 90: 247–257.
39. Surrey ES, Lietz AK, Gustofson R.L, Minjarez DA, Schoolcraft WB.
Does endometrial integrin expression in endometriosis patients predict
enhanced in vitro fertilization cycle outcomes after prolonged GnRH
agonist therapy? Fertil. Steril 2010, 93 : 646–51.
40. Garcia-Velasco JA, Nikas G, Remohı J, Pellicer JA, Simon C. Endometrial
receptivity in terms of pinopode expression is not impaired in women
with endometriosis in artificially prepared cycles. Fertil. Steril 2001, 75
: 1231–3.
41. Garrido N, Navarro J, Garcia-Velasco J, Remohi J, Pellicer A, Simon
C. The endometrium versus embryonic quality in endometriosis-related
infertility. Hum. Reprod. Update 2002, 8 : 95-103
42. Alborzi S, Zarei A, Alborzi S, Alborzi M. Management of Ovarian
Endometrioma. Clin Obstetrics and Gynecol 2006, 49, 3: 480–491.
43. Bagaria SJ, Rasalkar DD and Paunipagar BK. Imaging Tools for
Endometriosis: Role of Ultrasound, MRI and Other Imaging Modalities in
Diagnosis and Planning Intervention in : Chaudhury K and Chakravarty
B. Endometriosis–Basic Concepts and Current Research Trends. Intech,
Croatia 2012: 437-446.
44. American Society for Reproductive Medicine. Revised American Society
for Reproductive Medicine classification of endometriosis . Fertil Steril
1997; 67, 5: 817-21
45. Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Konsensus Penanganan
Endometriosis. HIFERI 2012.
46. Huang HY. Medical Treatment of Endometriosis. Chang Gung Med J
2008;31:431-40
47. Frontino G, Fedele L. Curent Medical Treatment for Endometriosis.
European Special Population. Woman health Endometriosis 2006 : 47-
48.
48. American Society for Reproductive Medicine. Treatment of Pelvic Pain
associated with Endometriosis: a committee opinion, The Practice
Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Fertil
Steril 2014; 101, 9:927-35–8
49. Carr B, Giudice L, Dmowski WP , O’Brien C, Jiang P , Burke J,Jimenez
R, Hass S, Fuldeore M, Chwalisz K. Elagolix, an oral GnRH antagonist
for endometriosisassociated pain: a randomized controlled study. J of
Endometriosis and Pelvic Pain Disorders 2013; 5(3): 105-115
ENDOMETRIOSIS90
38. Gupta S, Goldberg JM, Aziz N, Goldberg E, Krajcir N, Agarwal A.
Pathogenic mechanisms in endometriosis-associated infertility. Fertil.
Steril 2008, 90: 247–257.
39. Surrey ES, Lietz AK, Gustofson R.L, Minjarez DA, Schoolcraft WB.
Does endometrial integrin expression in endometriosis patients predict
enhanced in vitro fertilization cycle outcomes after prolonged GnRH
agonist therapy? Fertil. Steril 2010, 93 : 646–51.
40. Garcia-Velasco JA, Nikas G, Remohı J, Pellicer JA, Simon C. Endometrial
receptivity in terms of pinopode expression is not impaired in women
with endometriosis in artificially prepared cycles. Fertil. Steril 2001, 75
: 1231–3.
41. Garrido N, Navarro J, Garcia-Velasco J, Remohi J, Pellicer A, Simon
C. The endometrium versus embryonic quality in endometriosis-related
infertility. Hum. Reprod. Update 2002, 8 : 95-103
42. Alborzi S, Zarei A, Alborzi S, Alborzi M. Management of Ovarian
Endometrioma. Clin Obstetrics and Gynecol 2006, 49, 3: 480–491.
43. Bagaria SJ, Rasalkar DD and Paunipagar BK. Imaging Tools for
Endometriosis: Role of Ultrasound, MRI and Other Imaging Modalities in
Diagnosis and Planning Intervention in : Chaudhury K and Chakravarty
B. Endometriosis–Basic Concepts and Current Research Trends. Intech,
Croatia 2012: 437-446.
44. American Society for Reproductive Medicine. Revised American Society
for Reproductive Medicine classification of endometriosis . Fertil Steril
1997; 67, 5: 817-21
45. Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Konsensus Penanganan
Endometriosis. HIFERI 2012.
46. Huang HY. Medical Treatment of Endometriosis. Chang Gung Med J
2008;31:431-40
47. Frontino G, Fedele L. Curent Medical Treatment for Endometriosis.
European Special Population. Woman health Endometriosis 2006 : 47-
48.
48. American Society for Reproductive Medicine. Treatment of Pelvic Pain
associated with Endometriosis: a committee opinion, The Practice
Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Fertil
Steril 2014; 101, 9:927-35–8
49. Carr B, Giudice L, Dmowski WP , O’Brien C, Jiang P , Burke J,Jimenez
R, Hass S, Fuldeore M, Chwalisz K. Elagolix, an oral GnRH antagonist
for endometriosisassociated pain: a randomized controlled study. J of
Endometriosis and Pelvic Pain Disorders 2013; 5(3): 105-115
ENDOMETRIOSIS90
38. Gupta S, Goldberg JM, Aziz N, Goldberg E, Krajcir N, Agarwal A.
Pathogenic mechanisms in endometriosis-associated infertility. Fertil.
Steril 2008, 90: 247–257.
39. Surrey ES, Lietz AK, Gustofson R.L, Minjarez DA, Schoolcraft WB.
Does endometrial integrin expression in endometriosis patients predict
enhanced in vitro fertilization cycle outcomes after prolonged GnRH
agonist therapy? Fertil. Steril 2010, 93 : 646–51.
40. Garcia-Velasco JA, Nikas G, Remohı J, Pellicer JA, Simon C. Endometrial
receptivity in terms of pinopode expression is not impaired in women
with endometriosis in artificially prepared cycles. Fertil. Steril 2001, 75
: 1231–3.
41. Garrido N, Navarro J, Garcia-Velasco J, Remohi J, Pellicer A, Simon
C. The endometrium versus embryonic quality in endometriosis-related
infertility. Hum. Reprod. Update 2002, 8 : 95-103
42. Alborzi S, Zarei A, Alborzi S, Alborzi M. Management of Ovarian
Endometrioma. Clin Obstetrics and Gynecol 2006, 49, 3: 480–491.
43. Bagaria SJ, Rasalkar DD and Paunipagar BK. Imaging Tools for
Endometriosis: Role of Ultrasound, MRI and Other Imaging Modalities in
Diagnosis and Planning Intervention in : Chaudhury K and Chakravarty
B. Endometriosis–Basic Concepts and Current Research Trends. Intech,
Croatia 2012: 437-446.
44. American Society for Reproductive Medicine. Revised American Society
for Reproductive Medicine classification of endometriosis . Fertil Steril
1997; 67, 5: 817-21
45. Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Konsensus Penanganan
Endometriosis. HIFERI 2012.
46. Huang HY. Medical Treatment of Endometriosis. Chang Gung Med J
2008;31:431-40
47. Frontino G, Fedele L. Curent Medical Treatment for Endometriosis.
European Special Population. Woman health Endometriosis 2006 : 47-
48.
48. American Society for Reproductive Medicine. Treatment of Pelvic Pain
associated with Endometriosis: a committee opinion, The Practice
Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Fertil
Steril 2014; 101, 9:927-35–8
49. Carr B, Giudice L, Dmowski WP , O’Brien C, Jiang P , Burke J,Jimenez
R, Hass S, Fuldeore M, Chwalisz K. Elagolix, an oral GnRH antagonist
for endometriosisassociated pain: a randomized controlled study. J of
Endometriosis and Pelvic Pain Disorders 2013; 5(3): 105-115
ENDOMETRIOSIS90
38. Gupta S, Goldberg JM, Aziz N, Goldberg E, Krajcir N, Agarwal A.
Pathogenic mechanisms in endometriosis-associated infertility. Fertil.
Steril 2008, 90: 247–257.
39. Surrey ES, Lietz AK, Gustofson R.L, Minjarez DA, Schoolcraft WB.
Does endometrial integrin expression in endometriosis patients predict
enhanced in vitro fertilization cycle outcomes after prolonged GnRH
agonist therapy? Fertil. Steril 2010, 93 : 646–51.
40. Garcia-Velasco JA, Nikas G, Remohı J, Pellicer JA, Simon C. Endometrial
receptivity in terms of pinopode expression is not impaired in women
with endometriosis in artificially prepared cycles. Fertil. Steril 2001, 75
: 1231–3.
41. Garrido N, Navarro J, Garcia-Velasco J, Remohi J, Pellicer A, Simon
C. The endometrium versus embryonic quality in endometriosis-related
infertility. Hum. Reprod. Update 2002, 8 : 95-103
42. Alborzi S, Zarei A, Alborzi S, Alborzi M. Management of Ovarian
Endometrioma. Clin Obstetrics and Gynecol 2006, 49, 3: 480–491.
43. Bagaria SJ, Rasalkar DD and Paunipagar BK. Imaging Tools for
Endometriosis: Role of Ultrasound, MRI and Other Imaging Modalities in
Diagnosis and Planning Intervention in : Chaudhury K and Chakravarty
B. Endometriosis–Basic Concepts and Current Research Trends. Intech,
Croatia 2012: 437-446.
44. American Society for Reproductive Medicine. Revised American Society
for Reproductive Medicine classification of endometriosis . Fertil Steril
1997; 67, 5: 817-21
45. Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Konsensus Penanganan
Endometriosis. HIFERI 2012.
46. Huang HY. Medical Treatment of Endometriosis. Chang Gung Med J
2008;31:431-40
47. Frontino G, Fedele L. Curent Medical Treatment for Endometriosis.
European Special Population. Woman health Endometriosis 2006 : 47-
48.
48. American Society for Reproductive Medicine. Treatment of Pelvic Pain
associated with Endometriosis: a committee opinion, The Practice
Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Fertil
Steril 2014; 101, 9:927-35–8
49. Carr B, Giudice L, Dmowski WP , O’Brien C, Jiang P , Burke J,Jimenez
R, Hass S, Fuldeore M, Chwalisz K. Elagolix, an oral GnRH antagonist
for endometriosisassociated pain: a randomized controlled study. J of
Endometriosis and Pelvic Pain Disorders 2013; 5(3): 105-115
91Daftar Pustaka
50. Bedaiwy MA, Barker NM. Evidence based surgical management of
endometriosis. Evidence Based Medicine Corner. Middle East Fertility
Society Journal 2012, 17: 57-60
51. Hendarto H. Penanganan medis dan bedah pada endometriosis. Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2007.
52. Koninckx PR, Ussia A, Adamyan L, Wattiez A, Jacques Donnez J. Deep
endometriosis: definition, diagnosis, and treatment. Fertil Steril 2012;
98: 564–71
53. Ashon Sa’adi. The role of Laparoscopic Uterine Nerve Ablation (LUNA)
and Presacral Neurectomy (PSN) of pelvic pain management. World
Journal of Laparoscopic Surgery 2008, 1, 3: 39-45.
54. Chiou-Chung Yuan. Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation and
Chronic Pelvic Pain. J Chin Med Assoc 2006; 69, 3: 101-103
55. Ozkan S, Murk W, Arici A. Endometriosis and Infertility Epidemiology
and Evidence-based Treatments. Ann. N.Y. Acad. Sci 2008, 1127: 92–
100
56. Macer ML, Taylor HS. Endometriosis and Infertility: A review of the
pathogenesis and treatment of endometriosis-associated infertility.
Obstet Gynecol Clin North Am. 2012, 39(4): 535–549
57. Zegers-Hochschild F, Adamson GD, Mouzon J, Ishihara O , Mansour R,
Nygren K, Sullivan E dan Vanderpoel S. International Committee for
Monitoring Assisted Reproductive Technology (ICMART) and the World
Health Organization (WHO) revised glossary of ART Terminology. Fertil
Steril 2009; 92:1520–4
5 8 . H e n d a r t o H . I n s e m i n a s i I n t r a U t e r i , d a l a m : S a m s u l h a d i , H e n d y
Hendarto. Aplikasi klinis Induksi Ovulasi dan Stimulasi Ovarium,
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Sagung Seto, 2009.
59. American Society for Reproductive Medicine. Assisted Reproductive
Technologies, A Guide for Patients Revised 2011.
91Daftar Pustaka
50. Bedaiwy MA, Barker NM. Evidence based surgical management of
endometriosis. Evidence Based Medicine Corner. Middle East Fertility
Society Journal 2012, 17: 57-60
51. Hendarto H. Penanganan medis dan bedah pada endometriosis. Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2007.
52. Koninckx PR, Ussia A, Adamyan L, Wattiez A, Jacques Donnez J. Deep
endometriosis: definition, diagnosis, and treatment. Fertil Steril 2012;
98: 564–71
53. Ashon Sa’adi. The role of Laparoscopic Uterine Nerve Ablation (LUNA)
and Presacral Neurectomy (PSN) of pelvic pain management. World
Journal of Laparoscopic Surgery 2008, 1, 3: 39-45.
54. Chiou-Chung Yuan. Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation and
Chronic Pelvic Pain. J Chin Med Assoc 2006; 69, 3: 101-103
55. Ozkan S, Murk W, Arici A. Endometriosis and Infertility Epidemiology
and Evidence-based Treatments. Ann. N.Y. Acad. Sci 2008, 1127: 92–
100
56. Macer ML, Taylor HS. Endometriosis and Infertility: A review of the
pathogenesis and treatment of endometriosis-associated infertility.
Obstet Gynecol Clin North Am. 2012, 39(4): 535–549
57. Zegers-Hochschild F, Adamson GD, Mouzon J, Ishihara O , Mansour R,
Nygren K, Sullivan E dan Vanderpoel S. International Committee for
Monitoring Assisted Reproductive Technology (ICMART) and the World
Health Organization (WHO) revised glossary of ART Terminology. Fertil
Steril 2009; 92:1520–4
5 8 . H e n d a r t o H . I n s e m i n a s i I n t r a U t e r i , d a l a m : S a m s u l h a d i , H e n d y
Hendarto. Aplikasi klinis Induksi Ovulasi dan Stimulasi Ovarium,
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Sagung Seto, 2009.
59. American Society for Reproductive Medicine. Assisted Reproductive
Technologies, A Guide for Patients Revised 2011.
91Daftar Pustaka
50. Bedaiwy MA, Barker NM. Evidence based surgical management of
endometriosis. Evidence Based Medicine Corner. Middle East Fertility
Society Journal 2012, 17: 57-60
51. Hendarto H. Penanganan medis dan bedah pada endometriosis. Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2007.
52. Koninckx PR, Ussia A, Adamyan L, Wattiez A, Jacques Donnez J. Deep
endometriosis: definition, diagnosis, and treatment. Fertil Steril 2012;
98: 564–71
53. Ashon Sa’adi. The role of Laparoscopic Uterine Nerve Ablation (LUNA)
and Presacral Neurectomy (PSN) of pelvic pain management. World
Journal of Laparoscopic Surgery 2008, 1, 3: 39-45.
54. Chiou-Chung Yuan. Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation and
Chronic Pelvic Pain. J Chin Med Assoc 2006; 69, 3: 101-103
55. Ozkan S, Murk W, Arici A. Endometriosis and Infertility Epidemiology
and Evidence-based Treatments. Ann. N.Y. Acad. Sci 2008, 1127: 92–
100
56. Macer ML, Taylor HS. Endometriosis and Infertility: A review of the
pathogenesis and treatment of endometriosis-associated infertility.
Obstet Gynecol Clin North Am. 2012, 39(4): 535–549
57. Zegers-Hochschild F, Adamson GD, Mouzon J, Ishihara O , Mansour R,
Nygren K, Sullivan E dan Vanderpoel S. International Committee for
Monitoring Assisted Reproductive Technology (ICMART) and the World
Health Organization (WHO) revised glossary of ART Terminology. Fertil
Steril 2009; 92:1520–4
5 8 . H e n d a r t o H . I n s e m i n a s i I n t r a U t e r i , d a l a m : S a m s u l h a d i , H e n d y
Hendarto. Aplikasi klinis Induksi Ovulasi dan Stimulasi Ovarium,
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Sagung Seto, 2009.
59. American Society for Reproductive Medicine. Assisted Reproductive
Technologies, A Guide for Patients Revised 2011.
91Daftar Pustaka
50. Bedaiwy MA, Barker NM. Evidence based surgical management of
endometriosis. Evidence Based Medicine Corner. Middle East Fertility
Society Journal 2012, 17: 57-60
51. Hendarto H. Penanganan medis dan bedah pada endometriosis. Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya, 2007.
52. Koninckx PR, Ussia A, Adamyan L, Wattiez A, Jacques Donnez J. Deep
endometriosis: definition, diagnosis, and treatment. Fertil Steril 2012;
98: 564–71
53. Ashon Sa’adi. The role of Laparoscopic Uterine Nerve Ablation (LUNA)
and Presacral Neurectomy (PSN) of pelvic pain management. World
Journal of Laparoscopic Surgery 2008, 1, 3: 39-45.
54. Chiou-Chung Yuan. Laparoscopic Uterosacral Nerve Ablation and
Chronic Pelvic Pain. J Chin Med Assoc 2006; 69, 3: 101-103
55. Ozkan S, Murk W, Arici A. Endometriosis and Infertility Epidemiology
and Evidence-based Treatments. Ann. N.Y. Acad. Sci 2008, 1127: 92–
100
56. Macer ML, Taylor HS. Endometriosis and Infertility: A review of the
pathogenesis and treatment of endometriosis-associated infertility.
Obstet Gynecol Clin North Am. 2012, 39(4): 535–549
57. Zegers-Hochschild F, Adamson GD, Mouzon J, Ishihara O , Mansour R,
Nygren K, Sullivan E dan Vanderpoel S. International Committee for
Monitoring Assisted Reproductive Technology (ICMART) and the World
Health Organization (WHO) revised glossary of ART Terminology. Fertil
Steril 2009; 92:1520–4
5 8 . H e n d a r t o H . I n s e m i n a s i I n t r a U t e r i , d a l a m : S a m s u l h a d i , H e n d y
Hendarto. Aplikasi klinis Induksi Ovulasi dan Stimulasi Ovarium,
Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Sagung Seto, 2009.
59. American Society for Reproductive Medicine. Assisted Reproductive
Technologies, A Guide for Patients Revised 2011.
93
INDEKS
A
Ablasi, 60, 75
Add-back, 55, 56
Agonis GnRH, 53, 54
American Society for Reproductive Medicine, 46, 47
Androstenedion, 13-14
Antagonis GnRH, 53-64
Anti Mullerian Hormone, 89
Apoptosis, 33, 50
Aromatase Inhibitor, 56
B
Bone marrow, 22, 23
Blue-black powder burn, 41, 42
C
CA-125, 45
Cochrane, 54, 65
D
Danazol, 53
Deep Infiltrating Endometriosis, 4, 41
Dienogest, 52
Dismenore, 26
Dispareuni, 26
Down-regulation, 54
Drainage, 63
Duktus Wolf, 11
Duktus Mulleri, 11
Dyschezia, 26
93
INDEKS
A
Ablasi, 60, 75
Add-back, 55, 56
Agonis GnRH, 53, 54
American Society for Reproductive Medicine, 46, 47
Androstenedion, 13-14
Antagonis GnRH, 53-64
Anti Mullerian Hormone, 89
Apoptosis, 33, 50
Aromatase Inhibitor, 56
B
Bone marrow, 22, 23
Blue-black powder burn, 41, 42
C
CA-125, 45
Cochrane, 54, 65
D
Danazol, 53
Deep Infiltrating Endometriosis, 4, 41
Dienogest, 52
Dismenore, 26
Dispareuni, 26
Down-regulation, 54
Drainage, 63
Duktus Wolf, 11
Duktus Mulleri, 11
Dyschezia, 26
93
INDEKS
A
Ablasi, 60, 75
Add-back, 55, 56
Agonis GnRH, 53, 54
American Society for Reproductive Medicine, 46, 47
Androstenedion, 13-14
Antagonis GnRH, 53-64
Anti Mullerian Hormone, 89
Apoptosis, 33, 50
Aromatase Inhibitor, 56
B
Bone marrow, 22, 23
Blue-black powder burn, 41, 42
C
CA-125, 45
Cochrane, 54, 65
D
Danazol, 53
Deep Infiltrating Endometriosis, 4, 41
Dienogest, 52
Dismenore, 26
Dispareuni, 26
Down-regulation, 54
Drainage, 63
Duktus Wolf, 11
Duktus Mulleri, 11
Dyschezia, 26
93
INDEKS
A
Ablasi, 60, 75
Add-back, 55, 56
Agonis GnRH, 53, 54
American Society for Reproductive Medicine, 46, 47
Androstenedion, 13-14
Antagonis GnRH, 53-64
Anti Mullerian Hormone, 89
Apoptosis, 33, 50
Aromatase Inhibitor, 56
B
Bone marrow, 22, 23
Blue-black powder burn, 41, 42
C
CA-125, 45
Cochrane, 54, 65
D
Danazol, 53
Deep Infiltrating Endometriosis, 4, 41
Dienogest, 52
Dismenore, 26
Dispareuni, 26
Down-regulation, 54
Drainage, 63
Duktus Wolf, 11
Duktus Mulleri, 11
Dyschezia, 26
ENDOMETRIOSIS94
E
Eksisi, 60, 75
Embrio, 34, 84
Empiris, 57
Endometrioma, 41, 43, 44, 62
Endometriosis, 4, 6, 25
Estradiol, 13
Estron, 13
Expectant, 72, 89
F
Fertilisasi in vitro, 82
Flare-up, 54
Folikulogenesis, 32, 33
FSH, 54
G
Genetik, 21
Growth Differentiation Factor-9, 32
H
Hipoestrogen, 55
Hipometilasi CpG island, 15, 16
Hormon, 12
Hot-flushes, 55
Human chorionic gonadotropin, 83
Human menopausal gonadotropin, 83
I
Ibuprofen, 87
ICAM-1, 19, 20
Inflamasi, 5, 19
Inseminasi Intra Uteri, 79, 80
Integrin αvβ3, 35
ENDOMETRIOSIS94
E
Eksisi, 60, 75
Embrio, 34, 84
Empiris, 57
Endometrioma, 41, 43, 44, 62
Endometriosis, 4, 6, 25
Estradiol, 13
Estron, 13
Expectant, 72, 89
F
Fertilisasi in vitro, 82
Flare-up, 54
Folikulogenesis, 32, 33
FSH, 54
G
Genetik, 21
Growth Differentiation Factor-9, 32
H
Hipoestrogen, 55
Hipometilasi CpG island, 15, 16
Hormon, 12
Hot-flushes, 55
Human chorionic gonadotropin, 83
Human menopausal gonadotropin, 83
I
Ibuprofen, 87
ICAM-1, 19, 20
Inflamasi, 5, 19
Inseminasi Intra Uteri, 79, 80
Integrin αvβ3, 35
ENDOMETRIOSIS94
E
Eksisi, 60, 75
Embrio, 34, 84
Empiris, 57
Endometrioma, 41, 43, 44, 62
Endometriosis, 4, 6, 25
Estradiol, 13
Estron, 13
Expectant, 72, 89
F
Fertilisasi in vitro, 82
Flare-up, 54
Folikulogenesis, 32, 33
FSH, 54
G
Genetik, 21
Growth Differentiation Factor-9, 32
H
Hipoestrogen, 55
Hipometilasi CpG island, 15, 16
Hormon, 12
Hot-flushes, 55
Human chorionic gonadotropin, 83
Human menopausal gonadotropin, 83
I
Ibuprofen, 87
ICAM-1, 19, 20
Inflamasi, 5, 19
Inseminasi Intra Uteri, 79, 80
Integrin αvβ3, 35
ENDOMETRIOSIS94
E
Eksisi, 60, 75
Embrio, 34, 84
Empiris, 57
Endometrioma, 41, 43, 44, 62
Endometriosis, 4, 6, 25
Estradiol, 13
Estron, 13
Expectant, 72, 89
F
Fertilisasi in vitro, 82
Flare-up, 54
Folikulogenesis, 32, 33
FSH, 54
G
Genetik, 21
Growth Differentiation Factor-9, 32
H
Hipoestrogen, 55
Hipometilasi CpG island, 15, 16
Hormon, 12
Hot-flushes, 55
Human chorionic gonadotropin, 83
Human menopausal gonadotropin, 83
I
Ibuprofen, 87
ICAM-1, 19, 20
Inflamasi, 5, 19
Inseminasi Intra Uteri, 79, 80
Integrin αvβ3, 35
95Indeks
Interstitial cystitis, 25
Intracytoplasmic Sperm Injection, 84
Irritable bowel syndrome, 25
K
Kistektomi, 60, 64
Klomifen sitrat, 80
L
Laparoskopi, 40
Letrozole, 56
Leuprolide asetat, 54
LNG-IUS, 70
LUNA, 66, 67
M
Magnetic Resonance Imaging, 44
Medroksi progesteron asetat, 52
Matrix metalioproteinase, 52
Medically Assisted Reproduction, 79
Metaplasia, 11
N
Nerve Growth Factor, 29
NK sel, 19
NSAID, 57
O
Ovum pick-up, 83, 84
P
Pentoxifylline, 73
Pil kontrasepsi kombinasi, 51, 58
Presacral Neurectomy, 66, 67
Progestogen, 52
95Indeks
Interstitial cystitis, 25
Intracytoplasmic Sperm Injection, 84
Irritable bowel syndrome, 25
K
Kistektomi, 60, 64
Klomifen sitrat, 80
L
Laparoskopi, 40
Letrozole, 56
Leuprolide asetat, 54
LNG-IUS, 70
LUNA, 66, 67
M
Magnetic Resonance Imaging, 44
Medroksi progesteron asetat, 52
Matrix metalioproteinase, 52
Medically Assisted Reproduction, 79
Metaplasia, 11
N
Nerve Growth Factor, 29
NK sel, 19
NSAID, 57
O
Ovum pick-up, 83, 84
P
Pentoxifylline, 73
Pil kontrasepsi kombinasi, 51, 58
Presacral Neurectomy, 66, 67
Progestogen, 52
95Indeks
Interstitial cystitis, 25
Intracytoplasmic Sperm Injection, 84
Irritable bowel syndrome, 25
K
Kistektomi, 60, 64
Klomifen sitrat, 80
L
Laparoskopi, 40
Letrozole, 56
Leuprolide asetat, 54
LNG-IUS, 70
LUNA, 66, 67
M
Magnetic Resonance Imaging, 44
Medroksi progesteron asetat, 52
Matrix metalioproteinase, 52
Medically Assisted Reproduction, 79
Metaplasia, 11
N
Nerve Growth Factor, 29
NK sel, 19
NSAID, 57
O
Ovum pick-up, 83, 84
P
Pentoxifylline, 73
Pil kontrasepsi kombinasi, 51, 58
Presacral Neurectomy, 66, 67
Progestogen, 52
95Indeks
Interstitial cystitis, 25
Intracytoplasmic Sperm Injection, 84
Irritable bowel syndrome, 25
K
Kistektomi, 60, 64
Klomifen sitrat, 80
L
Laparoskopi, 40
Letrozole, 56
Leuprolide asetat, 54
LNG-IUS, 70
LUNA, 66, 67
M
Magnetic Resonance Imaging, 44
Medroksi progesteron asetat, 52
Matrix metalioproteinase, 52
Medically Assisted Reproduction, 79
Metaplasia, 11
N
Nerve Growth Factor, 29
NK sel, 19
NSAID, 57
O
Ovum pick-up, 83, 84
P
Pentoxifylline, 73
Pil kontrasepsi kombinasi, 51, 58
Presacral Neurectomy, 66, 67
Progestogen, 52
ENDOMETRIOSIS96
Pronuclei, 84
Pseudo-menopause, 50
Pseudo-pregnancy, 50
R
RANTES, 1 7
Reactive Oxygen Species, 33
Resistensi progeteron, 14, 15
S
Sampson, 9
Segmental bowel resection, 65
Self renewal, 23
Sperma, 34
Stem Cell, 23
Stimulasi ovarium, 83, 85
Subtle lesion, 41
Superficial shaving, 65
T
Teknologi Reproduksi Berbantu, 79
TNF-α, 17, 30
U
Unexplained infertility, 80
V
Vascular Endothelial Growth Factor, 30
Z
Zalir peritoneum, 17, 18
ENDOMETRIOSIS96
Pronuclei, 84
Pseudo-menopause, 50
Pseudo-pregnancy, 50
R
RANTES, 1 7
Reactive Oxygen Species, 33
Resistensi progeteron, 14, 15
S
Sampson, 9
Segmental bowel resection, 65
Self renewal, 23
Sperma, 34
Stem Cell, 23
Stimulasi ovarium, 83, 85
Subtle lesion, 41
Superficial shaving, 65
T
Teknologi Reproduksi Berbantu, 79
TNF-α, 17, 30
U
Unexplained infertility, 80
V
Vascular Endothelial Growth Factor, 30
Z
Zalir peritoneum, 17, 18
ENDOMETRIOSIS96
Pronuclei, 84
Pseudo-menopause, 50
Pseudo-pregnancy, 50
R
RANTES, 1 7
Reactive Oxygen Species, 33
Resistensi progeteron, 14, 15
S
Sampson, 9
Segmental bowel resection, 65
Self renewal, 23
Sperma, 34
Stem Cell, 23
Stimulasi ovarium, 83, 85
Subtle lesion, 41
Superficial shaving, 65
T
Teknologi Reproduksi Berbantu, 79
TNF-α, 17, 30
U
Unexplained infertility, 80
V
Vascular Endothelial Growth Factor, 30
Z
Zalir peritoneum, 17, 18
ENDOMETRIOSIS96
Pronuclei, 84
Pseudo-menopause, 50
Pseudo-pregnancy, 50
R
RANTES, 1 7
Reactive Oxygen Species, 33
Resistensi progeteron, 14, 15
S
Sampson, 9
Segmental bowel resection, 65
Self renewal, 23
Sperma, 34
Stem Cell, 23
Stimulasi ovarium, 83, 85
Subtle lesion, 41
Superficial shaving, 65
T
Teknologi Reproduksi Berbantu, 79
TNF-α, 17, 30
U
Unexplained infertility, 80
V
Vascular Endothelial Growth Factor, 30
Z
Zalir peritoneum, 17, 18
Riwayat Hidup Penulis
Hendy Hendarto
Lahir di Surabaya, 17 Agustus 1961. Mengawali
pendidikan dasar di Surabaya, kemudian
masuk pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga tahun 1980 sampai lulus
tahun 1987. Selanjutnya bekerja sebagai dokter
umum di RSU Ulin Banjarmasin selama 4 tahun,
kemudian mengikuti pendidikan dokter spesialis
Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga selama 4 tahun (1991-
1995).
Setelah lulus bekerja sebagai dokter spesialis Obstetri Ginekologi di RSU
Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (1995-1997), kemudian
kembali ke Surabaya bekerja sebagai tenaga pengajar di Dep/SMF Obsteri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya. Pada tahun 2003
memperoleh gelar Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dengan
nilai terbaik dan pada tahun 2007 meraih gelar Doktor dengan predikat
cum laude dan terbaik di Program Pascasarjana Universitas Airlangga.
Pendidikan tambahan yang diikuti antara lain operasi laparoskopi tingkat
lanjut di Centre for Advanced Reproductive Endosurgery (CARE) Sydney
Australia, penanganan infertilitas dan fertilisasi in vitro di Sydney Australia,
Radboud University Medical Centre Nijmegen Belanda dan Ghent University
Hospital Belgia.
Saat ini penulis bekerja dan memegang jabatan sebagai Ketua Dept/SMF
Obstetri Ginekologi FK Unair, Ketua Tim Bayi Tabung dan Kepala Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya. Ketua Perkumpulan
Menopause Indonesia serta Koordinator Pendidikan Konsultan/Subspesialis
Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Kolegium Obstetri Ginekologi.
Riwayat Hidup Penulis
Hendy Hendarto
Lahir di Surabaya, 17 Agustus 1961. Mengawali
pendidikan dasar di Surabaya, kemudian
masuk pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga tahun 1980 sampai lulus
tahun 1987. Selanjutnya bekerja sebagai dokter
umum di RSU Ulin Banjarmasin selama 4 tahun,
kemudian mengikuti pendidikan dokter spesialis
Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga selama 4 tahun (1991-
1995).
Setelah lulus bekerja sebagai dokter spesialis Obstetri Ginekologi di RSU
Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (1995-1997), kemudian
kembali ke Surabaya bekerja sebagai tenaga pengajar di Dep/SMF Obsteri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya. Pada tahun 2003
memperoleh gelar Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dengan
nilai terbaik dan pada tahun 2007 meraih gelar Doktor dengan predikat
cum laude dan terbaik di Program Pascasarjana Universitas Airlangga.
Pendidikan tambahan yang diikuti antara lain operasi laparoskopi tingkat
lanjut di Centre for Advanced Reproductive Endosurgery (CARE) Sydney
Australia, penanganan infertilitas dan fertilisasi in vitro di Sydney Australia,
Radboud University Medical Centre Nijmegen Belanda dan Ghent University
Hospital Belgia.
Saat ini penulis bekerja dan memegang jabatan sebagai Ketua Dept/SMF
Obstetri Ginekologi FK Unair, Ketua Tim Bayi Tabung dan Kepala Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya. Ketua Perkumpulan
Menopause Indonesia serta Koordinator Pendidikan Konsultan/Subspesialis
Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Kolegium Obstetri Ginekologi.
Riwayat Hidup Penulis
Hendy Hendarto
Lahir di Surabaya, 17 Agustus 1961. Mengawali
pendidikan dasar di Surabaya, kemudian
masuk pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga tahun 1980 sampai lulus
tahun 1987. Selanjutnya bekerja sebagai dokter
umum di RSU Ulin Banjarmasin selama 4 tahun,
kemudian mengikuti pendidikan dokter spesialis
Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga selama 4 tahun (1991-
1995).
Setelah lulus bekerja sebagai dokter spesialis Obstetri Ginekologi di RSU
Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (1995-1997), kemudian
kembali ke Surabaya bekerja sebagai tenaga pengajar di Dep/SMF Obsteri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya. Pada tahun 2003
memperoleh gelar Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dengan
nilai terbaik dan pada tahun 2007 meraih gelar Doktor dengan predikat
cum laude dan terbaik di Program Pascasarjana Universitas Airlangga.
Pendidikan tambahan yang diikuti antara lain operasi laparoskopi tingkat
lanjut di Centre for Advanced Reproductive Endosurgery (CARE) Sydney
Australia, penanganan infertilitas dan fertilisasi in vitro di Sydney Australia,
Radboud University Medical Centre Nijmegen Belanda dan Ghent University
Hospital Belgia.
Saat ini penulis bekerja dan memegang jabatan sebagai Ketua Dept/SMF
Obstetri Ginekologi FK Unair, Ketua Tim Bayi Tabung dan Kepala Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya. Ketua Perkumpulan
Menopause Indonesia serta Koordinator Pendidikan Konsultan/Subspesialis
Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Kolegium Obstetri Ginekologi.
Riwayat Hidup Penulis
Hendy Hendarto
Lahir di Surabaya, 17 Agustus 1961. Mengawali
pendidikan dasar di Surabaya, kemudian
masuk pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga tahun 1980 sampai lulus
tahun 1987. Selanjutnya bekerja sebagai dokter
umum di RSU Ulin Banjarmasin selama 4 tahun,
kemudian mengikuti pendidikan dokter spesialis
Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga selama 4 tahun (1991-
1995).
Setelah lulus bekerja sebagai dokter spesialis Obstetri Ginekologi di RSU
Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (1995-1997), kemudian
kembali ke Surabaya bekerja sebagai tenaga pengajar di Dep/SMF Obsteri
dan Ginekologi FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya. Pada tahun 2003
memperoleh gelar Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dengan
nilai terbaik dan pada tahun 2007 meraih gelar Doktor dengan predikat
cum laude dan terbaik di Program Pascasarjana Universitas Airlangga.
Pendidikan tambahan yang diikuti antara lain operasi laparoskopi tingkat
lanjut di Centre for Advanced Reproductive Endosurgery (CARE) Sydney
Australia, penanganan infertilitas dan fertilisasi in vitro di Sydney Australia,
Radboud University Medical Centre Nijmegen Belanda dan Ghent University
Hospital Belgia.
Saat ini penulis bekerja dan memegang jabatan sebagai Ketua Dept/SMF
Obstetri Ginekologi FK Unair, Ketua Tim Bayi Tabung dan Kepala Klinik
Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya. Ketua Perkumpulan
Menopause Indonesia serta Koordinator Pendidikan Konsultan/Subspesialis
Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Kolegium Obstetri Ginekologi.
Text is read by the "Ask this paper" AI Q&A widget below.
Extraction quality varies by source — PMC NXML preserves structure
cleanly, OA-HTML may include some navigation residue, and OA-PDF can
have broken hyphenation. The publisher copy
is the canonical version.