Full text
11,895 characters
· extracted from
oa-pdf
· click to expand
1
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
1 BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1.1
Kanker ovarium adalah kanker yang terbentuk dari jaringan kelenjar
reproduksi penghasil sel ovum pada wanita. 1 Kanker ovarium adalah keganasan
ginekologi yang mematikan dengan angka kejadian dan kematian yang cukup
tinggi.2 Secara global kanker ovarium menempati urutan ke -7 dari seluruh jenis
kanker dengan perkiraan 239.000 kasus baru tiap tahun. 3 Kanker ovarium
merupakan satu dari tujuh penyebab utama kematian kanker di kalangan
perempuan yang bertanggungjawab untuk sekitar 140.000 kematian tiap tahun.4
Tingginya angka kematian akibat kanker ovarium disebabkan oleh karena
sebagian besar kasus kan ker ovarium sudah bermetasasis ke luar ovarium pada
saat diagnosis. Deteksi yang terlambat sebagian besar disebabkan karena tanda
dan gejala yang tidak spesifik pada fase awal pertumbuhan kanker .5 Sehingga
kanker ovarium sulit untuk didiagnosis atau diagno sisnya sering tertunda yang
menyebabkan pasien dengan kanker ovarium sering ditemukan sudah stadium
lanjut, oleh sebab itu kanker ini sering disebut silent killer.6,7
Insidensi kematian akibat kanker lebih tinggi di negara berkembang
dibandingkan negara m aju. Hal ini disebabkan karena rendahnya pengetahuan
masyarakat akan faktor risiko kanker dan kurangnya deteksi dini terhadap
kanker.8 Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Saed Razi et al yang
mengkaji tentang insidensi kanker ovarium di Asia, didapatkan jumlah kejadian
kanker ovarium di Asia pada tahun 2012 sebanyak 110.526 kasus. Dari penelitian
tersebut didapatkan 5 negara dengan jumlah kasus kanker ovarium terbanyak pada
tahun 2012 yaitu Cina (34.575 kasus), India (26.834 kasus), Indonesia ( 10.238
kasus), Jepang (8.921 kasus), dan Pakistan (3.703 kasus).9
Di Indonesia kanker ovarium merupakan satu dari sepuluh kanker yang
paling sering diderita oleh wanita.10,11 Data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2007
menunjukkan bahwa kanker ovarium bers ama dengan kanker serviks selalu
menempati posisi 3 besar di 10 provinsi yang menduduki urutan teratas distribusi
kanker di Indonesia. 12 Hal ini juga didukung oleh data dari beberapa rumah sakit
di Indonesia seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais dari tahun 2 010-2013 kanker
2
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
ovarium menempati urutan ke 4 penyakit kanker terbanyak selama 4 tahun
berturut-turut.10 Rumah sakit Umum Pusat Sanglah yang melakukan penelitian
dari Juli 2013 - Juni 2014 dengan jumlah kasus sebanyak 73 kasus dari 476 kasus
kanker ginekologis (15,33%).13
Berdasarkan tipe sel tumor ovarium terbagi atas tiga tipe utama yaitu
ephitelial ovarium tumor , sex cord -stromal ovarium tumor, germ cell ovarium
tumor.1 Kanker ovarium yang paling sering ditemukan adalah tipe epitel yang
menyumbang lebih dari 85% dari semua tumor ovarium bila dibandingkan dengan
tipe tumor yang lain.14 Tipe epitelial terbagi lagi menjadi 4 subtipe yaitu serosum,
musinosum, endometrioid, dan clear cell. Masing- masing subtipe memiliki faktor
risiko, sifat biologis, dan respon terapi yang berbeda-beda.15
Meskipun etiologi kanker ovarium secara umum belum diketahui secara
pasti, namun ada beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan kemungkin an
kejadian yang lebih tinggi pada kanker ovarium. Salah satu faktor risiko kanker
ovarium adalah endometriosis. 16,17,18 Endometriosis adalah suatu gangguan klinis
jinak yang ditandai dengan adanya proliferasi kelenjar endometrium dan stroma di
luar uterus, terutama terdapat di ovarium dan cavum douglas. 19,20,21, 22
Meskipun endometriosis belum diklasifikasikan sebagai kondisi
premaligna, namun terdapat penelitian yang menunjukkan hubungan antara
endometriosis dengan kanker ovarium. Endometriosis menunjukkan karakteristik
yang menyerupai keganasan, diantaranya penyebaran lokal dan jauh, kehilangan
kontrol proliferasi sel, dan invasi. 5 Brinton et al. pada tahun 2004 melaporkan
bahwa pasien yang menderita endometriosis memiliki standard incidence ratio
(SIR) sebesar 4,19 ( confidence interval 95%, 2,0-7,7) untuk berkembang menjadi
kanker ovarium, bila dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki riwayat
endometriosis.23 Peneliti lain melaporkan risiko kanker ovarium jauh lebih tinggi
pada wanita dengan endometriosis, seperti yang digambarkan oleh penelitian
Kobayashi et al pada 2007 di mana standard incidence ratio (SIR) adalah 8,95
(confidence interval 95%, 4,12-15,3).24
Endometriosis merupakan penyakit ginekologi yang umum terjadi dan
sering pada wanita usia produktif. 13 Endometriosis mempengaruhi sekitar 3 -10%
wanita dalam kelompok usia reproduksi, 2 -5% wanita pascamenopause, dan 25 -
3
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
80% wanita tidak subur.5 Endometriosis jarang terjadi sebelum wanita mengalami
menstruasi dan akan membaik setelah m enopause.22 Hal ini disebabkan karena
endometriosis merupakan penyakit yang berhubungan dengan hormon estrogen. 25
Berbeda dengan endometriosis, secara umum kanker ovarium sering terjadi pada
wanita yang telah menopause, risiko kejadian kanker ovarium semak in tinggi
seiring bertambahnya usia terutama pada wanita usia >40 tahun.13 Namun terdapat
perbedaan karakteristik usia pada kanker ovarium dengan endometriosis,
penelitian menunjukkan pasien yang didiagnosis kanker ovarium dengan
endometriosis 6 tahun lebi h muda dibandingkan dengan pasien kanker ovarium
tanpa endometriosis.26
Kanker ovarium subtipe endometrioid dan clear cell diketahui
berhubungan erat dengan endometriosis. 27 Dari beberapa penelitian menyatakan
bahwa endometriosis terutama endometriosis ovarium kistik merupakan lesi
prekursor dari kanker ovarium epitelial clear cell dan endometrioid. 28,29 Kanker
ovarium yang berhubungan dengan endometriosis disebut Endometriosis-
Associated Ovarian Cancer (EAOC).25
Beberapa penelitian menemukan adanya perkembangan endometriosis dari
lesi histopatologi jinak ke jaringan ganas yang invasif. Namun, mekanisme yang
tepat untuk transformasi dari endometriosis ke kanker ovarium masih belum
diketahui secara pasti. 5 Menurut Somigliana et al. terdapat dua mekanisme yang
dapat menjelaskan hubungan antara endometriosis dengan kanker ovarium,
mekanisme pertama yaitu sel endometriosis mengalami mutasi genetik yang
memicu perubahan karakteristik menjadi keganasan. Teori ini mendukung bahwa
endometriosis merupakan prekur sor dari beberapa tipe histopatologi kanker
ovarium terutama subtipe endometrioid dan clear cell.30
Mekanisme yang kedua yaitu endometriosis dan kanker ovarium memiliki
beberapa faktor risiko yang sama. 30 Diantaranya menarche dini, late menopause,
terdapatnya paparan estrogen, dan nulliparitas, sedangkan untuk faktor protektif
salah satunya adalah kontrasepsi oral. 17,31,32,33 Faktor risiko tersebut diduga
merupakan faktor risiko kanker ovarium dengan endometriosis. Faktor risiko
tersebut berkaitan erat deng an teori incessant ovulation dan hormonal terutama
hormon estrogen dan progesteron.25,32,34
4
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Kehamilan dan penggunaan kontrasepsi oral dikaitkan dengan penurunan
risiko kejadian kanker ovarium dengan endometriosis. 35,36 Kanker ovarium lebih
berisiko tinggi pada wanita nullipara dan tidak menggunakan kontrasepsi
oral.34,36,37 Kehamilan dan penggunaan kontrasepsi oral menyebabkan
berkurangnya siklus ovulasi hal ini dikaitkan dengan teori incessant o vulation.
Pada teori incessant ovulation keganasan ovarium terjadi karena kegagalan proses
penyembuhan sel-sel epitel ovarium yang rusak akibat ovulasi. Penyembuhan luka
yang sempurna memerlukan waktu, bila terjadi ovulasi atau trauma baru sebelum
penyembuhan tercapai akan menyebabkan proses penyembuhan terganggu da n
kacau sehingga dapat menimbulkan proses transformasi menjadi keganasan. 38 Ini
sejalan dengan penelitian y ang dilakukan Ko -Hui Tung et al dan Modugno et
al.35,39 Namun berkebalikan dengan hasil penelitian Melin et al dan zanetta et
al.40,41
Wanita dengan riwayat usia menarche dini ( <12tahun) dan
pascamenopause berisiko lebih tinggi untuk kanker ovarium dengan
endometriosis.25,32 Usia menarche dini menyebabkan usia menopause yang lebih
lama, sehingga keterpaparan estrogen lebih lama dan angka ovulasi seora ng
wanita dengan menarche dini lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang
memiliki menarche normal.42 Endometriosis dan kanker ovarium bersifat estrogen
dependent, dimana perkembangannya di stimulasi oleh peningkatan kadar
estrogen dan penurunan kadar progesteron.25 Bila terjadi peningkatan kadar
estrogen pada lingkungan endometriosis yang terdapat di ovarium dapat
menyebabkan proliferasi dan peningkatan kemungkinan kerusakan dan mutasi
DNA, yang memungkinkan untuk terjadinya kanker ovarium.43 Teori ini didukung
oleh penelitian yang dilakukan Andi Faizal Fachlevy et al dan Kobayashi et
al.24,42 Namun berkebalikan dengan hasil penelitian Tsilidis et al dan Kadan et
al.44,45
Adanya pro dan kontra faktor risiko kejadian kanker ovarium dengan
endometriosis dan belum terdapat penelitian mengenai faktor risiko kanker
ovarium dengan endometriosis di Padang. Penulis tertarik untuk meneliti analisis
faktor risiko kanker ovarium subtipe clear cell dan endometrioid dengan
endometriosis di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
5
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Rumusan Masalah 1.2
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana karakteristik pasien kanker ovarium clear cell dan
endometrioid di RSUP Dr. M. Djamil Padang ?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi kejadian kanker ovarium subtipe
clear cell dan endometrioid di RSUP Dr. M. Djamil Padang ?
Tujuan Penelitian 1.3
Tujuan Umum 1.3.1
Mengetahui karakteristik dan faktor risiko yang mempengaruhi kejadian
kanker ovarium subtipe clear cell dan endometrioid.
Tujuan khusus 1.3.2
1. Mengetahui karakteristik kanker ovarium subtipe clear cell dan
endometrioid.
2. Mengetahui hubungan usia dengan kejadian kanker ovarium subtipe
clear cell dan endometrioid.
3. Mengetahui hubungan menopause dengan kejadian kanke r ovarium
subtipe clear cell dan endometrioid.
4. Mengetahui hubungan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker ovarium
subtipe clear cell dan endometrioid.
5. Mengetahui hubungan paritas dengan kejadian kanker ovarium subtipe
clear cell dan endometrioid.
6. Mengetahui hubungan usia menarche dengan kejadian kanker ovarium
subtipe clear cell dan endometrioid.
7. Mengetahui hubungan riwayat kanker keluarga dengan kejadian kanker
ovarium subtipe clear cell dan endometrioid.
Manfaat Penelitian 1.4
Penelitian ini memilik i beberapa manfaat terhadap berbagai pihak
diantaranya sebagai berikut.
6
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
1. Manfaat bagi penulis
Penelitian ini tidak hanya bermanfaat sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gel ar sarjana k edokteran di Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Padang, ak an tetapi yang terpenting bagi penulis
adalah penulis dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai faktor
risiko yang mempengaruhi terjadinya kanker ovarium dengan
endometriosis.
2. Manfaat bagi praktisi kesehatan
Manfaat bagi praktisi kesehatan penelitian ini d apat memberikan
informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
kanker ovarium terkait endometriosis. Sehingga diharapkan dapat
membantu identifikasi awal atau skrining wanita yang berisiko tinggi
terhadap kanker ovarium yang memiliki riw ayat endometriosis. Selain
itu dapat membuka peluang penelitian lebih lanjut sehingga bisa
mencegah kompikasi yang mungkin muncul
3. Manfaat bagi masyarakat
Manfaat bagi masyarakat adalah sebagai bahan edukasi bahwa banyak
faktor yang mempengaruhi kejadian kanker ovarium salah satunya
adalah endomeriosis.
Text is read by the "Ask this paper" AI Q&A widget below.
Extraction quality varies by source — PMC NXML preserves structure
cleanly, OA-HTML may include some navigation residue, and OA-PDF can
have broken hyphenation. The publisher copy
is the canonical version.