{"paper_id":"f491ffe8-c31e-4a25-8c8b-2a24250e8423","body_text":"Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125  \n  118  \nKhasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis  di \nHewan Coba Mencit  \n  \nJimmy Yanuar Annas1, Hendy Hendarto1, Widjiati2  \n1Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD Dr Soetomo, Surabaya  \n2Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya   \n  \n  \nABSTRAK  \n  \nEndometriosis merupakan penyakit progresif dengan angka kekambuhan tinggi. Kurkumin dapat menekan progresivitas endometriosis \nserta luas implan lesi endometriosis di endometrium. Belum diketahui besar dosis kurkumin yang optimal yang dapat menekan \nprogresivitas endometriosis. Penelitian ini bertujuan mempelajari berbagai dosis suplementasi kurkumin pada progresivitas \nendometriosis pada hewan coba mencit. Penelitian ini merupakan eksperimen pada hewan coba di laboratorium (Post testonly). Dua \npuluh delapan ekor mencit (Mus musculus) yang telah dirandomisasi, di injeksi cyclospori n A, estrogen intramuskuler, Kerokan \nEndometrium manusia diberikan secara intraperitoneal pada hari ke 1 untuk menginduksi terjadinya endometriosis likelession. Pada \nhari ke 14, mencit dibagi menjadi 4 kelompk yakni mencit A diberi plasebo, mencit B diberi kurkumin 240mg/kgBB, 500mg/kgBB dan \n1000mg/kgBB. Suplementasi tersebut diberi selama 7 hari dan pada hari ke 28, mencit di korbankan kemudian dievaluasi berat li ver \ndan ginjal untuk melihat efek samping, luas area implan endometriosis, pengecatan imunohis tologi untuk ekspresi Prostaglandin E2 \n(PGE2) dan Matrixmetalloproteinase (MMP -9). Luas area implan endometriosis pada mencit A,B,C, D 348.43±185.1 mm2, \n140.14±75.59 mm2, 79.43±26.98 mm2, 31,71±7.02 mm2 (p= <0.001). Ekspresi PGE2 pada mencit A,B,C,D 5.14±1 .95, 4.28±1.38, \n3.43±1.62, 2±0.58(p= 0.003), ekspresi MMP -9 pada mencit A,B,C,D 3.71±1.89, 2.25±1.97, 1.43±0.78, 1.28±0.49 (p= 0.034). Kami \ndapatkan korelasi positif antara PGE2 (r=0,375) dan MMP -9 (r=0,561) dengan luas area implan endometriosis. Tidak did apatkan \nperbedaan bermakna berat hepar dan ginjal antar kelompok perlakuan. Simpulan, pada mencit model endometriosis, pemberian \nsuplementasi kurkumin berbagai dosis dapat menekan progresivitas endometriosis secara dose dependen. PGE2 mempunyai korelasi \nyang lebih kuat terhadap endometriosis dibanding MMP-9. (MOG 2014;22:118-125)   \n  \nKata kunci: curcumin, endometriosis progresivity, cyclooxygenase2, prostaglandin e2, matrixmetalloproteinase 9  \n  \n  \nABSTRACT  \n  \nEndometriosis is a progressive disease with high recurrence rate. Curcumin may suppress endometriotic progress as well as the  size \nof endometriotic lesion implant in the endometrium. However, optimum curcumin dose that is able to suppress such progress remained \nunknown. Thiw study was to evaluate increasing dose of curcuminsupplementationon experimentalendometriosis progresivity in mice. \nThis was an animal laboratory experimental study (Post test only) involving 28 randomized mice(musmusculus) were given \ncyclophosphorin A and estrogen injection intramusculary and human endometrium intraperitonealy on day 1 to induce endometriosis \nlike lession. On day 14 mice were divided into 4 groups, group A had placebo and group B,C,D had curcumin 240 gr/kgbb, 500gr/kgbb \nand 1000gr/kgbb respectively. treatments were given for 7 days. On day 28 mice were sacrificed and evaluated side effect of curcumin \nin liver and renal, sum of area of endometriosis like implant, immunohystological staining of Prostaglandin E2 (PGE2) and M atrix \nmetalloproteinase 9 (MMP9) in peritoneum. Sum of area of endometriosis like implant on peritoneum on Group A,B,C,D were \n348.43±185.1 mm2, 140.14±75.59 mm2, 79.43±26.98 mm2, 31,71±7.02 mm2 (p= <0.001). PGE2 staining on group A,B,C,D were \n5.14±1.95, 4. 28±1.38, 3.43±1.62, 2±0.58 respectively (p= 0.003), MMP9 staining on group A,B,C,D were 3.71±1.89, 2.25±1.97, \n1.43±0.78, 1.28±0.49 respectively (p= 0.034). We found a significant positive correlation between PGE2 (r=0.735) and MMP9 (r=  \n0.561) with sum of a rea of endometriosis like implant. There was no significant difference of liver and renal weight between groups. \nIn conclusion, on experimental endomentriosis in mice, endometriosis implant progresivity responded to increasing dose of curcuminin \ndose dependend manner. PGE2 had better correlation with endometriosis than MMP9. Further study is needed. (MOG 2014;22:118-\n125)  \n  \nKeywords: curcumin, endometriosis progresivity, cyclooxygenase2, prostaglandin e2, matrixmetalloproteinase 9  \n  \nCorrespondence: Jimmy Yanuar Annas, Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD  \nDr Soetomo, Jl. Mayjen Prof dr Moestopo 6-8, Surabaya 60286, email: jimmyyanuar@gmail.com  \n  \n  \nPENDAHULUAN  \n  \n\nAnnas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis  \n  119  \nEndometriosis adalah didapatkannya jaringan epitel \nmaupun stroma diluar rongga uterus dan menimbulkan \nreaksi inflamasi kronis. Keluhan terbanyak endometriosis \ndiantaranya adalah nyeri panggul kronis, baik berupa \ndysmenorhea maupun dyspareunia. Angka kejadian \nendometriosis pada remaja dengan dysmenorhea cukup \ntinggi, yakni 50 –80%. Endometriosis merupakan \npenyakit yang progresif dan angka kekambuhannya tinggi \nsehingga memerlu kan pengobatan jangka panjang. 1 \nTerapi endometriosis saat ini masih bersifat simptomatis \nyang bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri. \nPemberian terapi hormonal seperti progestin, pil \nkontrasepsi kombinasi, GnRH agonis dan Aromatase \ninhibitor dapat mengurangi keluhan nyeri dan \nprogresivitas endometriosis. Na mun Obat tersebut \nmemiliki efek samping yang merugikan bila digunakan \ndalam jangka panjang, selain itu pemberian obat \nhormonal dapat menekan ovulasi sehingga sulit \ndigunakan bersamaan dengan penanganan infertilitas.1,2,3  \n  \nKurkumin merupakan pengobatan he rbal yang \nmempunyai sifat anti inflamasi dan anti oksidan. \nKurkumin merupakan ekstrak curcuma longa yang \nmempunyai khasiat anti Nuclear Factor Kappa B (NFkB) \nyang telah banyak diamati khasiatnya untuk terapi \nendometriosis.4 Kurkumin dengan dosis 240 mg/Kg BB \ndapat menekan progresivitas endometriosis serta luas \nimplan lesi endometriosis di endometrium.5,6 Keuntungan \ndari kurkumin ini adalah efek samping yang rendah serta \nrentang dosis yang luas sehingga aman digunakan dalam \njangka panjang. 2,4 Selain itu kurk umin tidak menekan \novulasi sehingga dapat digunakan bersama obat stiulasi \npada penanganan wanita endometriosis dan infertilitas. \nRustam E 2007 mendapatkan bahwa khasiat anti \ninflamasi kurkumin pada mencit coba semakin meningkat \ndari dosis 100mg/kg BB, 500mg/Kg BB dan 1000mg/ Kg \nBB, serta tidak ditemukan efek samping. Belum ada data \nberapa dosis kurkumin yang optimal yang dapat menekan \nprogresivitas endometriosis.  \n  \nEndometriosis merupakan penyakit yang progresif dan \nangka kekambuhannya tinggi, penyebabnya masih belum \njelas. Cairan peritoneum wanita endometriosis kaya akan \nsitokin proinflamasi seperti TNFα mendukung \nprogresivitas endometriosis. Sarjana Wu dkk 2010 \nmendapatkan bahwa pada sel endometrium ektopik di lesi \nendometriosis didapatkan peningkatan aktivitas \nCyclooxygenase-2 (COX-2) dan mengakibatkan ekspresi \nProstaglandin E2 tinggi. Peningkatan PGE2 ini dapat \nmemberikan umpan balik positif pada aktivitas NFkB \nyang merupakan faktor transkripsi sitokin proinflamasi \ndan Matrix Metalloproteinase terutama Matrix \nmetalloproteinase 9 (MMP -9) yang sangat berperan \nterhadap implantasi sel endometrium ektopik di \nperitoneum.4,7,8 Bulun E dkk 2009 mengatakan bahwa \nPGE2 ini juga dapat menstimulasi aktivitas aromatisasi di \nlesi endometriosis peritoneum sehingga terjadi \npeningkatan kadar Estrogen lokal yang semakin \nmendukung progresivitas endometriosis. Oleh karena itu \nPGE2 dan MMP-9 ini diduga dapat menjadi target terapi \nendometriosis dimasa depan. 7,9 Kami menduga bahwa \npemberian kurkumin dengan dosis 240mg/kg BB, 500 \nmg/kg BB dan 1000 mg/kg BB dapat memberikan khasiat \nyang semakin baik dalam menekan ekspresi PGE2, \nMMP-9 dan luas implan lesi endometriosis di peritoneum \nmencit coba.   \n  \n  \nBAHAN DAN METODE   \n  \nPenelitian ini merupakan eksperimental laboratorium \npada mencit coba dengan randomisasi secara buta \nberganda. Hewan coba yang digunakan pada penelitian \nini adalah mus musculus. Penelitian ini dilakukan pada \nbulan November 2012  hingga Januari 2013 di Fakultas \nKedokteran Hewan Universitas Airlangga. Kriteria \ninklusi penelitian ini adalah mencit betina berusia 3 bulan \nberat 30 gr, belum pernah kawin dan belum pernah \ndigunakan untuk penelitian. Kriteria eksklusi  \ndiantara-nya mencit betina cacat   \n  \nMencit betina usia 3 bulan dengan berat 30g yang telah \ndiadaptasikan selama 1 minggu kemudian di induksi agar \nterjadi endometriosis di peritoneum dengan cara:injeksi \nsiklosporin A 0,2cc secara intra muskuler pada hari 1, \ninjeksi ethynil estradiol 20.000 IU sebanyak 0,095cc pada \nhari ke 1 dan 5, Hasil biopsi kerokan endometrium wanita \nyang menjalani histerektomi di haluskan, ditambahkan \npenicilin dan streptomicin kemudian diinjeksikan \nsebanyak 0,1cc ke intraperitoneal. Mencit kemudian \ndibagi menjadi 5 kelompok yaitu mencit A adalah mencit \nyang mendapatkan plasebo selama 14 hari, mencit B \nadalah mencit yang mendapat suplementasi kurkumin \ndosis 240 mg/kg BB selama 14 hari, mencit C adalah \nmencit yang mendapat suplementasi kurkumin dosis 500 \nmg/kg BB selama 14 hari, Mencit D adalah mencit yang \nmendapat suplementasi kurkumin 1000 mg/kg BB selama \n14 hari.   \n  \nMencit dikorbankan dengan cara dislokasio servikalis, \nkemudian dilakukan pembedahan di perut untuk \nmelakukan evaluasi luas implan endometri os di \nperitoneum dan pengecatan imunohistokimia untuk \nevaluasi ekspresi PGE2 dan MMP -9. Gambaran \nendometriosis diketahui dengan melihat adanya stroma \nmaupun jaringan endometrium pada pemeriksaan \nmikroskop dengan pengecatan Hematoksilin Eosin (HE). \n\nMajalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125  \n  120  \nPemeriksaan Ekspresi PGE2 dan MMP -9 dilihat dari \nbiopsi lesi yang paling hiperemi kemudian dievaluasi \ndengan metoda Kaemmer dkk 2012 yakni melihat \nprosentase perlapangan pada pemeriksaan mikroskop \npembesaran 400x kemudian dinilai dengan skor. \nkemudian dinilai skor , 0 bila tidak da sel positif, 1 bila \nluas < 10%, 2 bila 11% -50%, 3 bila 51% -80%, 4 bila \n>80%. Intensitas warna (B) dinilai 0 bila tidak ada reaksi \nwarna, 1 bila intensitas warna rendah, 2 intensitas warna \nsedang, 3 intensitas warna kuat. Lalu Skala \nImmunoreactive Score  dihitung dengan AxB. Untuk \nmelihat normalitas data digunakan uji Kolmogorov \nSmirnov. Bila data berdistribusi normal dilanjutkan \ndengna uji Anova dan uji korelasi pearson. Bila data tidak \nberdistribusi normal akan dilanjutkan dengan uji Mann \nWhitney, Uji Kruskal wallis dan uji korelasi spearman. \nPenelitian ini menggunakan tingkat kemaknaan sebesar \n0,05.  \n  \n  \nHASIL DAN PEMBAHASAN  \n  \nDari hasil penelitian yang telah dilakukan di kandang \nhewan coba dan Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas \nKedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya, \ndengan sampel/mencit model endometriosis yang dapat \ndiolah sebagai data yang telah memenuhi kriteria inklusi \ndan eksklusi hingga akhir penelitian adalah 28 ekor \nmencit. Mencit model endometriosis tersebut terbagi  \ndalam 4 perlakuan yang terdiri dari : Mencit A (n=7), \nMencit B (n=7), Mencit C (n=7) serta Mencit D (n=7). 2 \nekor mencit kami korbankan pada hari ke 13 untuk \nmembuktikan adanya pertumbuhan endometriosis \nsebelum perlakuan, dan ternyata didapatkan pertumbuhan \nendometriosis pada mencit tersebut. Hasil Uji \nKolmogorov Smirnov didapatkan bahwa variabel berat \nhepar, berat ginjal, ekspresi MMP9 dan luas implan \nendometriosis didapatkan nilai kemaknaan p > 0,005 \nyang artinya distribusinya normal sehingga uji \nstatistiknya menggunakan uji anova, sedangkan variabel \nberat mencit, endometriosis dan ekspresi PGE2 \ndidapatkan nilai kemaknaan P<0,005 yang artinya \ndistribusi tidak normal sehingga menggunakan uji \nKruskal Wallis.  \n  \n  \nMencit model endometriosis   \n  \nPengecatan He matoxilin Eosin (HE) pada biopsi \nperitonuem yang didapatkan kejadian endometriosis pada \nMencit A 7 ekor (100%), kemudian menurun pada Mencit \nB 3 ekor (42,8%), Mencit C 2 ekor (28,5%) dan Mencit \nD 1 ekor (1,4%) dan secara statistik perbedaan tersebut \nsignifikan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.  \n  \nPeneliti memilih menggunakan metoda hewan coba \nmencit model endometriosis heterolog. Keuntungan \nhewan coba model heterolog adalah kita menggunakan \njaringan kerokan endometrium manusia, sehingga \nstruktur histopa tologis dan interaksi dengan sel \nimunitasnya diharapkan menyerupai lesi endometriosis \nyang sebenarnya. Selain itu, metoda heterolog ini lebih \nefisien dari segi biaya. Hasil pada penelitian ini sesuai \ndengan penelitian sebelumnya yang menggunakan \nmetoda ser upa.5,10 Selain angka kejadian yang tinggi, \nstruktur histologis endometrium masih dapat \ndipertahankan dengan baik. Metoda ini hampir sama \nefektifnya seperti metoda Severe Combined \nImmunodeficiency (SCID).11 Pemberian Siklosporin A \njangka pendek mampu menekan proliferasi dan aktivitas \nsel Limfosit T, B dan Sel NK sehingga berinteraksi \ndengan jaringan endometrium mirip seperti yang terjadi \npada lesi endometriosis manusia. Oleh karena lesi ini \ndisebut endometriosis-like lession . Pemberian \nsuplementasi kurkumin  berbagai dosis ternyata dapat \nmemberikan respon penurunan kejadian endometriosis \npada mencit secara dose dependent. Hal ini kemungkinan \ndisebabkan karena kurkumin memiliki efek anti inflamasi \ndan anti oksidan sehingga mampu menekan aktivitas \nNFkB di perit oneum mencit model endometriosis, dan \nefek  \ntersebut meningkat sesuai dosis kurkumin .4,6,5,12  \n\nAnnas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis  \n  121  \n  \n  \n  \nGambar 1. Kelenjar endometrium pada \ndinding peritoneum mencit, disebut sebagai Endometriosis like lession Perbandingan khasiat berbagai dosis \nkurkumin terhadap progresivitas endometriosis  \n  \nTabel 1. Perbandingan ekspresi PGE2 antar kelompok perlakuan  \n  \n   n  Rata-rata  Mean Rank  Nilai  Nilai  Kemaknaan  \n Minimum  Maksimum  \nMencit A  7  5,14±1,95  20,36  4  8   0,003  \n Mencit D  7 \n 2±0,58  6  1 \n 3  \n \n  \n  \nTabel 2. Perbandingan Ekspresi MMP-9 antar kelompok perlakuan  \n    \n   n  Rata-rata  Mean  Nilai  Nilai  Kemaknaan  \n rank  Minimum  Maksimum  \nMencit A  7  3,71±1,89   21,36  1  6   0,034  \n Mencit D  7 \n 1,28±0,49  10,86 \n 1  2  \n \n  \n  \nTabel 3. Perbandingan luas implan endometriosis antar kelompok perlakukan  \n  \n   n  Rata-rata  Nilai  Nilai  Kemaknaan  \n (mm2)  Minimum  Maksimum  \nMencit A  7  348,43±185,01   123  545   <0,0001  \n Mencit D  7 \n 31,71±7,02  24  41  \n  \n  \nTabel 4.  Perbandingan kemaknaan luas implan \nendometriosis antar kelompok perlakukan  \n(Tabel Tamhene)  \n  \nKelomopok \nperlakuan  \nKelompok \nPembanding  \nPerbedaan \nrata rata  \nKemaknaan  \n  \nMencit B  7  4,28±1,38  18  2  6  \nMencit C  7  3,43±1,62  13,64  1  6  \nMencit B  7  2,25±1,97  14,43  1  6  \nMencit C  7  1,43±0,78  11,36  1  3  \nMencit B  7  140,14±75,59  71  240  \nMencit C  7  79,43±26,98  40  107  \n\n\nMajalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125  \n  122  \nMencit A  Mencit B  \nMencit C  \nMencit D  \n208,29  \n269*  \n316*  \n0,141  \n0,048  \n0,024  \nMencit B  Mencit A  \nMencit C  \nMencitD  \n208,29 \n60,71  \n108,43  \n0,141  \n0,404  \n0,052  \nMencit C  Mencit A  269*  0,048  \n Mencit B  60,71  0,404  \n Mencit D   0,017  \n(*= bermakna)  \n  \nLesi pada peritoneum yang telah terbukti endometriosis \nlike lession secara histopatologis kemudian dilakukan \npengecatan imunohistokimia untuk melihat ekspresi \nPGE2 dan MMP -9 dan dihitung luas implan \nendometriosis pada masing masing kelompok.   \nRata-rata ek spresi PGE2 didapatkan perbedaan yang \nmenurun dari Mencit A, Mencit B, Mencit C dan Mencit \nD dan setelah di uji statistik Kruskal Walis didapatkan \nkemaknaan p<0,05 yang artinya signifikan. Mean rank \nekspresi PGE2 pada mencit D adalah yang paling tinggi \ndibanding Mencit C, B dan A. Pada Mencit A didapatkan \nskor intensitas ekspresi PGE2 yang kuat, Mencit B \nmenunjukkan skor yang sedang, mencit C menunjukan \nskor yang ringan dan mencit D tak nampak sel \nimunoreaktif (negatif). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.  \n  \nMencit A menunjukkan skor intensitas dan rerata ekspresi \nPGE2 yang paling tinggi dibanding kelompok \nperlakukan, hal ini sesuai dengan yang dikatakan Wu dkk \n2010 bahwa lesi endometriosis di peritoneum memiliki \naktivitas COX2 yang tinggi. Hal ini kemungkinan  \ndisebabkan oleh sitokin proinflamasi yang dikeluarkan \nmakrofag yang dapat menstimulasi COX2, namun selain \nitu lesi endometriosis didapatkan ekspresi gen cox2 yang \ntinggi sehingga lebih peka terhadap rangsangan. \nKurkumin yang mempunyai khasiat anti inflama si dan \nanti NFkB mampu menekan pertumbuhan lesi \nendometriosis di peritonium mencit model endometriosis. \nEfek penekanan ini dicapai salah satunya melalui supresi \naktivitas NFkB di lesi endometriosis, kurkumin \nmenghambat aktivasi IkB kinase sehingga NFkB tet ap \ndalam kondisi inaktif. Dengan khasiat anti NFkB ini maka \nsecara tidak langsung dapat menghambat peningkatan \nprotein lain yang berada dalam pengaruh ( downstream) \ndari protein faktor transkripsi NFkB tersebut diantaranya \nCOX2, sitokin proinflamasi  \ndan MMP-9.13,14,15,16  \n  \nSelain jalur penekanan melalui NFkB, kurkumin juga \nmenekan ekspresi PGE2 secara langsung melalui \npenekanan COX2 pada tingkat molekuler yakni dengan \nmeregulasi COX2 dan LOX. COX2 adalah enzim yang \nmerubah asam arakhidonat menjadi Pr ostaglandin H2 \nyang merupakan protein inaktif yang siap dirubah \nmenjadi PGE2 (protein aktif), dengan dihambatnya \nCOX2 oleh kurkumin maka PGE2 akan menurun pula. \nDemikian pula efek kurkumin terhadap 5 -LOX yang \nmerupaka enzim yang mengkatalisasi terbentuknya  \nLeukotrines (LT) yang sangat berperan terhadap \ninflamasi. Respon khasiat kurkumin terhadap NFkB, \nCOX2 dan LOX ini ternyata meningkat sesuai \ndosis.13,14,15,17 Hal ini terbukti pula pada penelitian ini, \nseperti yang tampak pada Mencit B, C dan D, didapatkan \nekspresi PGE2 menurun secara signifikan sejalan dengan \nmeningkatnya dosis kurkumin. Dengan PGE2 yang \nmenurun diharapkan dapat menekan pula lingkar umpan \nbalik positif dengan sitokin proinflamasi dan aktivitas \naromatase sehingga dapat efektif menekan progr esifitas \nendometriosis.  \n  \nRata-rata ekspresi MMP -9 didapatkan perbedaan yang \nsemakin menurun dari MencitA, B, C,D dan setelah di uji \nsecara statistik Kruskal Walis didapatkan kemaknaan \np<0,05 yang artinya signifikan. Mean rank ekspresi \nMMP-9 pada Mencit D  adalah yang paling tinggi \ndibanding MencitC, B dan A. Pada Mencit A didapatkan \nskor intensitas ekspresi PGE2 yang kuat, Mencit B \nmenunjukkan skor yang sedang, Mencit C menunjukan \nskor yang ringan dan Mencit D tak nampak sel \nimunoreaktif (negatif). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.  \n  \nHasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan \ndosis kurkumin mampu menekan ekspresi MMP -9 yang \nberfungsi untuk degradasi Ekstraseluler Matrix (ECM) \nsehingga memudahkan sel endometrium ekotpik \nmelakukan implanasi di peri toneum model endo -\nmetriosis. Hal serupa juga didapatkan pada pengamatan \nlesi endometriosis pada mencit model endometriosis yang \ndilakukan oleh Swarnakar S dkk 2009, MMP -9 semakin \nmenurun sejalan dengan ditingkatkannya dosis kurkumin \nyang diberikan secara intraperitoneal.  \n  \nAktivitas MMP -9 ini dipengaruhi oleh TIMP -1 dimana \npada lesi endometriosis peritoneum meningkat dibanding \nsel endometrium eutopik. Peningkatan MMP -9 tersebut \nmemudahkan sel endometrium ektopi untuk berimplanasi \ndi peritoneum, hal ini bel um diketahui sebabnya. \nKurkumin menekan MMP -9 secara tidak langsung \nmelalui penekanan COX2, NFkB, sitokin  \nproinflamasi serta peningkatan TIMP-1.4,8  \n  \nMencit D  Mencit A  \nMencit B  \nMencit C  \n108,43  \n41,71*  \n0,024  \n0,052  \n0,017  \n\nAnnas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis  \n  123  \nRata-rata luas implan lesi endometriosis di peritoneum \ndidapatkan perbedaan yang semakin menurun dari Mencit \nA, B, C dan D dan setelah di uji statistik Anova \ndidapatkan kemaknaan p<0,05 yang artinya signifikan. \nKemudian kami melakukan uji Post Hoc untuk \nmengetahui suplementasi kurkumin dosis mana yang \nmempunyai dampak penurunan yang paling efektif. \nSebelumnya, terlebih dahulu kami lakukan test \nhomogeneity of variances , ternyata didapatkan \nkemaknaan <0,0001 artinya variabel tidak homogen, \nsehingga pada uji Post Hoc menggunakan tabel dari \nTamhene. Dari tabel 4 didapatkan perbedaan kemaknaan \nluas implan lesi end ometriosis di peritonium yang \nsemakin meningkat pada kelompok perlakuan, \nkemaknaan antara Mencit A dengan Mencit D dalah yang \npaling besar dibanding kemaknaan kelompok lainnya. \nHal ini menunjukkan bahwa Mencit D atau dosis \nkurkumin 1000 mg/kgBB memiliki da mpak yang paling \ntinggi pada progresivitas endometriosis. Hal ini dapat \ndilihat pada Tabel 3.  \n  \nPenurunan luas implan lesi endometriosis ini sejalan \ndengan peningkatan dosis kurkumin. Hal ini sesuai \ndengan yang didapatkan oleh Rustam E 2007 yang \nmengamati khasiat berbagai dosis kurkumin terhadap \nedema pada tungkai tikus, dengan semakin tinggi dosis \nkurkumin hingga 1000 mg/KgBB dapat menekan \npembentukan edema pada penelitian tersebut tanpa \nmenunjukkan adanya efek samping. Penurunan luas \nimplan endometriosis  di peritoneum ini kemungkinan \ndisebabkan oleh dampak dari menurunnya ekspresi PGE2 \ndan MMP-9. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.  \n  \nTampak simpang baku standar dan nilai maksimum dan \nminimum dari luas implan lesi endometriosis yang \ntumpang tindih antar k elompok perlakuan dan kontrol. \nHal ini kemungkinan dikarenakan metoda untuk \nmengukur luas implan lesi endometriosis di peritoneum \nmencit model endometriosis ini menggunakan cara \nmanual yaitu dengan kertas skala. Belum ada metoda \nyang tepat untuk mengukur l uas implan endometriosis \nsecara teliti. Kelemahan lain dari penelitian ini adalah \ndistribusi berat mencit saat mulai penelitian tidak normal \nsehingga saat dilakukan uji normalitas didapatkan \nperbedaan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan \nkarena cadangan mencit pada saat itu yang terbatas. Hal \nini dapat dilihat pada Tabel 3. Pada tabel 1,2 dan 3 \ndidapatkan penurunan eskpresi PGE2, MMP -9 dan luas \nimplan lesi endometriosis yang sejalan dengan \npeningkatan dosis kurkumin. Namun apakah penurunan \nekspresi PGE2 mempunyai pengaruh terhadap penurunan \nekspresi MMP-9 dan luas implan lesi endometriosis pada \nmencit model endometriosis ini? Pada penelitian ini kami \nmelakukan uji korelasi spearman untuk mengetahui \npengaruh penurunan PGE2 dan MMP -9 terhadap \npenurunan lua s implan endo -metriosis di peritoneum \nmencit model endometriosis ini. Hal ini dapat dilihat pada \nTabel 5.  \n  \nAdanya korelasi positif yang bermakna (p<0,05) antara \nPGE2–MMP9, PGE2 –luas implan endometriosis dan \nMMP9- Luas implan endometriosis, dengan keoefis ien \nkorelasi secara berturut turut, 0,532, 0, 561 dan 0,735.  \nHal ini dapat dilihat pada Tabel 5.  \n  \nMelalui uji korelasi Spearman kami dapatkan korelasi \npositif antara PGE2 dan luas implan lesi endometriosis \nyang bermakna secara statistic (r=0.532), ini a rtinya \nperubahan PGE2 mempengaruhi perubahan pada luas \nimplan lesi endometriosis. Sarjana Wu dkk 2010 \nmengatakan bahwa aktivitas COX2 dan ekspresi PGE2 \nyang tinggi ini mempunyai dampak yang luas terhadap \nprogresivitas endometriosis. PGE2 yang dihasilkan ol eh \nlesi endometriosis ini dapat menekan aktivitas scavenger \ndari makrofag peritoneum melalui penekanan CD36 di \nmakrofag, akibatnya imunitas tubuh tidak mampu \nmengeliminasi sel endometrium ektopik di peritoneum. \nPGE2 juga mampu mempengaruhi aktivitas aromat ase \nmelalui steroidogenic factor 1 (sf-1) yang akhirnya terjadi \npeningkatan estrogen lokal yang mampu mendukung \nproliferasi dan survivablitiy dari sel endometrium \nektopik. (Bulun SE 2009)1,7,18,19  \n  \nMMP-9 berperan dalam metastasis sel kanker, ternyata \npada endometriosis ekspresi MMP-9 ini juga tinggi. Pada \npenelitian ini kami dapatkan korelasi positif yang \nbermakna (r=0.735) antara penurunan ekspresi PGE2 \ndengan penurunan ekspresi MMP -9 pada lesi \nendometriosis diperitonium. Ini arti nya COX2 \nmempengaruhi perubahan luas implan lesi endometriosis \nsalah satunya melalui jalur MMP-9, hal ini sesuai dengan \nyang didapatkan oleh sarjana Itatsu K 2009 yang \nmempelajari pengaruh COX2 terhadap MMP -9 pada \nproses metastase cholangiocarcinoma, didug a COX2 \nmelalui PGE2 meningkatkan MMP -9 melalui reseptor \nEP2/4. NFkB yang teraktivasi terus menerus oleh sitokin \nproinflamasi juga turut berperan dalam peningkatan \nMMP-9.16,20  \n  \n  \n  \n  \n  \n  \n  \nDari tabel 5 juga tampak bahwa ternyata MMP -9 juga \nmempunyai korel asi yang positif terhadap luas implan \n\nMajalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125  \n  124  \n28 \n  \n ,3±0, \n1 \n 4 \n  \nlesi endometriosis. Hal ini mendukung bahwa MMP -9 \nikut bertanggung jawab atas implantasi sel endometrium \nektopik di peritoneum. Collete T dkk 2007 mendapatkan \nbahwa MMP -9 memang lazim didapatkan pada sel \nendometrium eu topik wanita normal namun pada sel \nendometrium ektopik wanita penderita endometriosis \nekspresi MMP -9 ini tinggi secara terus menerus tanpa \ndipengaruhi siklus haid. Ada beberapa kemungkinan, \nyang pertama kemungkinan ada pengaruh dari defisiensi \n17β-hydroxysteroid dehydrogenase 2 pada endometriosis \nsehingga terjadi konversi estradiol menjadi estrone \nterganggu atau kemungkinan ke dua ada pengaruh dari \nlingkungan peritoneum yang kaya akan sitokin \nproinflamasi.1,8,18 Yang menarik dari penelitian ini adalah \nkoefisien korelasi ekspresi PGE2 dan luas implan lesi \nendometriosis lebih besar dibanding koefisien korelasi \nekspresi MMP-9 dan luas implan lesi endometriosis, ini \nberarti PGE2 lebih berpengaruh terhadap luas implan lesi \nendometriosis dibanding MMP -9. Kemungkinan hal ini \ndikarenakan PGE2 selain mempengaruhi luas implan lesi \nendometriosis melalui MMP -9, juga dapat melalui \npenekanan kemampuan scavenger makrofag peritoneum \nsehingga sel endometrium semakin banyak makrofag \nyang teraktivasi yang pada akhirnya justru m endukung \nkelangsungan  \nendometriosis di peritoneum.1,19  \n  \nLingkungan cairan peritoneium yang tinggi akan sitokin \nproinflamasi merupakan kondisi yang optimal bagi \npertumbuhan lesi endometriosis. Pada penelitian ini \nmembuktikan bahwa PGE2 mempunyai peran ya ng \ncukup besar dalam progresivitas endometriosis dan \ndengan pemberian kurkumin sebagai anti inflamasi dan \nanti NFkB mampu menekan PGE2 yang diikuti dengan \npenurunan MMP -9 dan luas implan lesi endometriosis. \nMelihat peran PGE2 yang cukup besar pada patogene sis \nendometriosis maka dapat digunakan sebagai target terapi \nuntuk menekan progresivitas endometriosis.1,7  \n  \nTabel 5. Kemaknaan dan koefisien korelasi PGE2, \nMMP-9 dan luas implan endometriosis  \n  \nVariabel  Kemaknaan  \n(p)  \nKoefisian \nkorelasi (r)  \nPGE2 dan MMP-9  0,004  0,532  \nMMP9 dan Luas implan \nendometriosis  \n0,002  0,561  \nPGE2 dan luas implan \nendometriosis  \n<0,0001  0,735  \n  \n  \nPerbandingan efek samping pada mencit yang \ndiberi suplementasi berbagai dosis kurkumin   \n  \nKami melakukan pengamatan terhadap berat ginjal dan \nhepar untuk evaluasi efek samping pemberian \nsuplementasi berbagai dosis kurkumin pada mencit model \nendometriosis. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 6.  \n  \nSetelah dilakukan uji statistik pada perbandingan b erat \nhepar dan ginjal antar kelompok dosis kurkumin ternyata \ntidak didapatkan perbedaan bermakna antar kelompok \ndosis kurkumin dengan tingkat kemaknaan 0,55 dan \n0,326. Hal ini menujukkan bahwa ditemukan efek \nsamping yang berbahaya antar kelompok perlakuan.  \n  \nSwarnakar S dkk 2009 mendapatkan penurunan MMP -9 \npada peritoneum mencit model endometriosis sejalan \ndengan meningkatnya dosis kurkumin dari 16 mg/kg, 32 \nmg/kg dan 48 mg/kg yang diberikan secara \nintraperitoneal. Rustam E dkk 2007 mendapatkan \nperbaikan klinis yang sejalan ditingkatkannya dosis \nkurkumin dari 100 mg/kg bb, 250 mg/kg bb, 500mg/kg \nbb dan 1000 mg/kg bb tanpa ditemukan efek samping. \nDari data penelitian kami yang juga didukung oleh \npenelitian lainnya, ternyata khasiat kurkumin ini sangat \ntergantung dengan dosisnya ( dose dependent ). Selain \ndipengaruhi dosis, bioaktivitas kurkumin juga \ndipengaruhi oleh jenis kurkumin yang digunakan, \ncurcumin mix yang merupakan gabungan dari Cur, DMC \ndan BDMC yan g masing -masing mempunyai efek anti \ninflamasi mampu  \nbersinergi meningkatkan khasiatnya.21,22  \n  \nFood and Drug Administration  atau FDA telah \nmenyatakan bahwa kurkumin merupakan obat alternatif \nyang cukup aman baik bagi hewan coba maupun manusia. \nNational T oxicity Program (NTP) melakukan \npengamatan terhadap efek samping kurkumin pada \nhewan coba yang diberi makan kurkumin dengan \nberbagai dosis mulai dari 50 mg/kgbb hingga \n2600mg/kgbb selama 13 minggu atau 2 tahun ternyata \ntidak didapatkan kematian yang diseba bkan oleh \npemberian kurkumin. Efek samping yang didapatkan \nbiasanya berupa peningkatan berat hepar, ginjal, dan \nperubahan warna feses dan bulu.21,22 Pada penelitian kami \ntidak ditemukan adanya perubahan berat hepar, ginjal dan \nTabel 6. Perbandingan berat hepar dan ginjal antar kelompok perlakukan  \n  \n   n  Mencit A  Mencit B  Mencit C  Mencit D  Kemaknaan  \n Ginjal(gr)  28  0,2±0,13  0,19±0,021  0,19±0,035  0,16±0,21  0,55  \n Hepar(gr)  1,54±0,23  1,57±0,21  1,51±0,28  0,326  \n\nAnnas et al. : Khasiat Berbagai Dosis Suplementasi Kurkumin pada Progresivitas Endometriosis  \n  125  \nperubahan warna. Hal ini kemungkinan karena pemberian \nkurkumin hanya selama 14 hari atau 2 minggu saja.  \nSIMPULAN  \n  \nPada penelitian ini kami dapatkan perbedaan ekspresi \nPGE2, ekspresi MMP -9 dan luas implan endometriosis \nyang semakin rendah pada mencit model endometriosis \nyang mendapa t plasebo, suplementasi kurkumin dosis \n240 mg/kg BB, 500 mg/kg BB, dan 1000 mg/kg BB. \nDidapatkan korelasi positif yang bermakna antara \nekspresi PGE2, ekspresi MMP -9 dan luas implan \nendometriosis diperitoneum. Pemberiam suplementasi \nkurkumin dosis 240 mg/kg BB, 500 mg/kg BB dan 1000 \nmg/kg BB selama 14 hari tidak ditemukan perbedaan efek \nsamping yang bermakna.  \n  \n  \nDAFTAR PUSTAKA  \n  \n1. Speroff L, Fritz MA. Endometriosis, Clinical \ngynecology and infertility. 8th Eds. 2011. p. 122247.  \n2. Vigano P, Parazzini F, Somigliana E, Vercellini P. \nEndometriosis: epidomiology & aetiological factors. \nBest practices & research clinical obstetrics & \nGinecology. 2004;18(2):177-200.  \n3. Surrey ES. Medical therapy for endometriosis: an \noverview in Toladi T ad vances and controversy of \nendometriosis. Marcel Dekker inc. 2004. p. 167-81.  \n4. Swarnakar S, Paul S. Curcumin arrests endometriosis \nby downregulation of Matrix Metalloproteinase 9 \nactivity. Indian journal of biochemistry & \nBiophysics. 2009;46:59-65.  \n5. Saadi A , Hendarto H. Perbandingan khasiat \nkurkumin dengan medroxy progesteron acetate \n(MPA) terhadap ekpresi VEGF dan luas implan \nendometriosis (studi eksperimental mencit model \nendometriosis). 2010.  \n6. Kuswojo H, Sa’adi A, Hendarto H, Samsulhadi, \nWidjiati. Pengaru h curcumin terhadap ekspresi \nVEGF dan luas implan endometriosis. Penelitian \nDept/SMF Kebidanan dan penyakit kandungan FK \nUnair, RSUD Dr Soetomo Surabaya. 2009.  \n7. Wu M, Lu C, Chuang P, Tsai S. Prostaglandin E2: \nThe master of endometriosis? Experimental Biology \nand Medicine. 2010;235:668-77.  \n8. Collete T, Maheux R, Mailloux J, Akoum A. \nIncreased expression of matrix Metalloproteinase -9 \nin the eutopic endometrial tissue of women with \nendometriosis. Human reproduction. 2006;21(12):  \n3059-67.  \n9. Bulun SE MD. Mechanisme of Endometriosis. The  \nNew England Journal of Medicine. 2009;360:26879.  \n10. Vika SP, Hendarto H, Suhartono DS. Pengaruh \npemberian siklosporin A sebagai penurun jumlah \nlimfosit serum terhadap terjadinya implant \nendometriosis pada mencit. Penelitian Dept/SMF  \nKebidanan dan kandungan FK Unair RSUD Dr \nSoetomo Surabaya. 2006.  \n11. Grummer R. Animal Model in Endometriosis \nResearch. Human reproduction. 2006;12(5):641-49.  \n12. Rustam E, Atmasari I, Yanwirasti. Efek anti \ninflamasi ekstrak etanol kunyit (Curcuma domestica \nval) pada tikus putih galur wistar. Jurnal sains dan \nteknologi farmasi. 2007;12(2):112-5.  \n13. Shishodia S, Singh T, Chaturvedi MM. Modulation \nof transcription factor by curcumin in The molecular \ntargets and therapeutic uses of curcumin in health \nand disease. Springer. 2006:127-47.  \n14. Menon S. Anti oxidant and anti inflamatory \nproperties of Curcumin in The molecular targets and \ntherapeutic uses of curcumin in health and disease. \nSpringer. 2006:127-147.  \n15. Rao C. Regulation of COX and LOX by curcumin in \nThe molecular t argets and therapeutic uses of \ncurcumin in health and disease. Springer. 2006:127 -\n47.  \n16. Gonzales R, Langendonckt AV, Defrere S, Lousse \nJP, Colette S, Devoto L, Donnez J. Involvement of \nNuclear factor kB pathway in the pathogenesis of \nendometriosis. Fertility sterility. 2010;5:34-45.  \n17. Murakami M, Nakatani Y, Tanioka T, Kudo I. \nProstaglandin E Synthase. Prostaglandin & Other \nlipid mediators. 2002;8(69):383-99.  \n  \n18. Bulun SE, Utsonomiya H, Lin Z, Cheng Y, Pavone \nME, Tokunaga H, Elena T, Attar E, Gurates B, Milad \nMP, Confino E, Su E, Reiestard S, Xue Q. \nSteroidogenic Factor -1 and Endometriosis. \nMolecular and Cellular Endocrinology. 2009:104-8.  \n19. Taylor RN, Lebovic I. Endometriosis in Yen & \nJaffe's Reproduc tive endocrinology: Physiology, \npatophysiology and clinical management. Sixth \nedition. Saunders. 2009. p. 577-95.  \n20. Itatsu K, Sasaki M, Yamaguchi J, Ohira S, Ishikawa \nA, Ikeda H, Sato Y, Harada K, Zen Y, Sato H, Ohta \nT, Nagino M, Nimura Y, Nakanuma Y. \nCyclooxygenase 2 is Involved in the up regulation of \nmatrix metalloproteinase 9 in Cholangiocarcinoma \ninduced by Tumor Necrosis Factor Alpha. The \nAmerican Journal of pathology. 2009;174(3):829-41.  \n21. Sandur SK, Pandey MK, Sung B, Ahn KS, \nMurakami A, Sethi G, Limt rakul P, Badmaev V, \nAggarwal B. Curcumin Demethoxycurcumin, \nBisdemethoxycurcumin, Tetrahydrocurcumin and \nturmerones differentially regulate anti inflamatory \nand anti proliferative response through a ROS \nindependent mechanism. Carcinogenesis. 2007;28 \n(8):1765-73.  \n\nMajalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 22 No. 3 September - Desember 2014 : 118-125  \n  126  \n22. Aggarwal BB, Harikumar KB. Potential therapeutic \neffect of curcumin, the anti inflammatory agent, \nagainst neurodegenerative, cardiovascular, \npulmonary, metabolic, autoimmune and neoplastic \ndisease. The International Journal of Biochemistry & \nCell Biology. 2009;41:40-56.","source_license":"CC0","license_restricted":false}